cover
Contact Name
Bobby Putrawan
Contact Email
sttwa.malang@gmail.com
Phone
+628176907033
Journal Mail Official
jurnalservire@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape Cut Nyak Dien Street, Rt.06, Nunukan Barat, Nunukan, North Kalimantan, Indonesia 77482
Location
Kab. nunukan,
Kalimantan utara
INDONESIA
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian
ISSN : -     EISSN : 2809137X     DOI : 10.46362/servire
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian (SERVIRE: Journal of Research and Service), is a peer-reviewed, open-access journal that provides an international scholarly platform for advancing impact-driven, evidence-based, and interdisciplinary research on community engagement and service. The journal is published by the Research and Community Service Department (LPPM) of the Widya Agape College, in collaboration with the Indonesian Association (ICTA), and is a member of the Indonesian Journal Volunteer Network (Relawan Jurnal Indonesia – RJI). SERVIRE integrates diverse fields—including the social sciences, humanities, education, religion, science and technology, health, and environmental studies—to address complex and interconnected community challenges. The journal emphasizes the application of academic knowledge to real-world contexts through research-based community engagement and service. While rooted in the Indonesian context as a primary site of inquiry, SERVIRE actively engages with global perspectives and comparative insights, positioning local experiences within broader international discourses on community engagement and social transformation. The journal particularly values contributions that demonstrate participatory, context-sensitive, and sustainable approaches, highlighting collaborative knowledge production between academics and communities.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 50 Documents
Pelatihan Referensi Mendeley: Langkah Optimalisasi peningkatan Skor SINTA STAKPN Sentani Kabanga, Lewi; Tasijawa, Riski; Malatuny, Yakob G.; Bu’tu, Dorce; Layan, Santy; Pentury, Jolanty W.; Rumkabu, Seprianti; Kapojos, Shintia M.; Syafaat, Daniel
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Oktober 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i2.317

Abstract

This community service program aims to enhance the competence of academic writers at STAKPN Sentani in using Mendeley reference management software. The training was designed to help lecturers and writers meet current regulations for producing and publishing scientific works. Participants were grouped into novice writers and those with low SINTA scores. Using an On-the-Job Training (OJT) approach, the sessions were held directly in the participants’ workplace. twenty writers from the departments of Christian Religious Education, Church Music, Theology, and Early Childhood Education took part. The program included initial coordination, core training, and outcome evaluation. Results showed that all participants successfully mastered the use of Mendeley, enabling them to improve the quality and quantity of scientific publications and thereby contribute to increasing the overall SINTA score of STAKPN Sentani.Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi penulis akademik di STAKPN Sentani dalam menggunakan perangkat lunak manajemen referensi Mendeley. Pelatihan ini dirancang untuk membantu dosen dan penulis memenuhi ketentuan terkini dalam penyusunan dan publikasi karya ilmiah. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penulis pemula dan penulis dengan skor SINTA rendah. Dengan menggunakan pendekatan On-the-Job Training (OJT), sesi pelatihan dilaksanakan langsung di lingkungan kerja peserta. Sebanyak dua puluh penulis yang berasal dari Program Studi Pendidikan Agama Kristen, Musik Gereja, Teologi, dan Pendidikan Anak Usia Dini mengikuti kegiatan ini. Program meliputi tiga tahapan yakni koordinasi awal, pelatihan inti, dan evaluasi hasil. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh peserta berhasil menguasai penggunaan Mendeley, sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah serta berkontribusi pada peningkatan skor SINTA STAKPN Sentani secara keseluruhan.
Bantuan Sosial Bagi Anak-Anak Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma Bandung Situmorang, Sitor Mulawari; Callista, Sarah; Paulus, Yanto Hermanto
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Oktober 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i2.220

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma Bandung sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan anak-anak panti melalui pemberian bantuan sosial berupa sembako serta membangun interaksi positif antara pemuda, remaja, dan anak-anak panti. Metode pelaksanaan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan observasi, penggalangan dana, perencanaan kegiatan, hingga pelaksanaan berupa permainan edukatif, motivasi, penyerahan bantuan, dan doa bersama. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa interaksi sosial yang dibangun selama kegiatan mampu memperkuat nilai-nilai empati, solidaritas, dan kasih di antara peserta maupun anak-anak panti. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat berbagi dan pelayanan sosial yang berkelanjutan.
Pemuridan Pria Sejati Bandung: Upaya Pemulihan Spiritualitas dan Kepemimpinan Pria dalam Keluarga Kristen Darmawan, Darmawan; Benjamin, Theophilus
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Oktober 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i2.160

Abstract

The crisis of fatherhood and the weakening of male leadership within families have become key factors contributing to the dysfunction of Christian households in Indonesia. Through the True Men Bandung Discipleship Program, this community service initiative aims to restore men’s spirituality and leadership responsibility in accordance with biblical principles. The program was conducted through a two-day discipleship camp followed by continuous mentoring using the 4M method (praying, reading, reflecting, and sharing). The results indicate a significant improvement in participants’ spiritual commitment, the restoration of marital relationships, and the strengthening of male involvement in family leadership roles. This project demonstrates that discipleship can serve as an effective model of faith-based community service that fosters family resilience and spiritual transformation within the church community.
Efektivitas Bantuan Sosial terhadap Pemerataan Ekonomi: Studi Kasus Gerakan Circunomy Pangayow, Laura Meirien Olivia; Lieberth, Ricard; Tanjung, Vicia Manuela; Tanjung, Vicsel Imanuel; Hermanto, Yanto Paulus
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i1.345

Abstract

Socio-economic inequality remains a major challenge in Indonesia despite various social assistance programs. Many initiatives face issues of distribution and long-term dependency. At the same time, economic equity is essential for social stability and sustainable development. This study analyzes the effectiveness of the Circunomy Movement, a community-based model that integrates social assistance with local MSME empowerment through economic circulation. Circunomy involves micro-enterprise product purchases, which are redistributed as social assistance while ensuring transparency via a digital platform. Results show the participation of more than 300 MSMEs and benefits for around 1,000–1,500 individuals in Jakarta and its surroundings. The findings indicate that Circunomy is not only a mechanism of social assistance but also a tool for strengthening community-based economic equity. This bottom-up approach highlights the potential of social solidarity in achieving both social welfare and inclusive economic development.
Penyuluhan Partisipatif Sebagai Upaya Perubahan Perilaku Penerapan Pertanian Organik di Kelompok Tani Kartika Grup Desa Oenbit Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara Eduardus Yosef Neonbeni; Faustinus Kadha; Marselinus Banu; Ture Simamora; Wolfhardus Vinansius Feka; Jefrianus Neonnub; I Made Wahyu Wijaya; Ni Gst Ag. Gde Eka Martiningsih; Putu Eka Pasmidi Ariati
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 6 No 1 (2026): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2026)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v6i1.360

Abstract

Praktik pertanian di wilayah lahan kering Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) masih didominasi sistem konvensional berbasis input kimia yang berdampak pada degradasi tanah dan rendahnya kesadaran ekologis petani. Kesenjangan antara penyuluhan dan adopsi pertanian organik menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih partisipatif. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kosabangsa ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani melalui penyuluhan partisipatif. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, Focus Group Discussion (FGD), pelatihan, praktik lapangan, serta evaluasi pre-test dan post-test yang dianalisis secara kuantitatif komparatif. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan (48,5%), keterampilan teknis pembuatan kompos blok (56,2%), dan kesadaran ekologis (52,3%). Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan partisipatif efektif dalam mendorong perubahan perilaku menuju pertanian organik. Selain meningkatkan kapasitas individu, kegiatan ini juga memperkuat kelembagaan kelompok tani.
Three Decks, One Spirit: A Comparative Study of Mental Health, Spiritual Coping, and Wellbeing across Nautical, Engineering, and Port-Shipping Management Cadets: Tiga Geladak, Satu Semangat: Studi Komparatif tentang Kesehatan Mental, Koping Spiritual, dan Kesejahteraan Psikologis pada Taruna Nautika, Teknika, dan Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan April Gunawan Malau; Maurtiz HM Sibarani
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 6 No 1 (2026): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2026)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v6i1.451

Abstract

Pendidikan maritim sering kali berlangsung dengan asumsi bahwa taruna yang dipersiapkan untuk karier di bidang nautika, teknika, serta ketatalaksanaan angkutan laut dan kepelabuhanan merupakan satu kelompok profesi yang homogen, meskipun ketiga program studi tersebut sesungguhnya mengarahkan mahasiswa pada jalur karier yang sangat berbeda. Studi eksploratif dengan dominasi pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk menelaah apakah kesehatan mental, koping spiritual, dan kesejahteraan psikologis menunjukkan pola perbedaan tertentu di antara ketiga subdisiplin tersebut pada taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain yang mengombinasikan wawancara semi-terstruktur, dan diskusi kelompok terarah, yang dilengkapi dengan penilaian diri numerik sederhana yang digunakan secara deskriptif dan bukan sebagai komponen kuantitatif yang memiliki kekuatan statistik. Partisipan penelitian terdiri atas tiga puluh taruna yang dipilih secara seimbang dari tiga program studi, lima dosen, tiga pelaut senior, dan dua syahbandar senior. Data dianalisis melalui analisis tematik, perbandingan antar kelompok, dan sintesis naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat stres dan kesejahteraan yang dinilai sendiri secara umum relatif serupa di antara ketiga kelompok, para taruna menggambarkan adanya perbedaan penekanan dalam jenis stresor yang mereka alami, praktik koping spiritual yang mereka gunakan, serta dimensi kesejahteraan yang mereka kaitkan dengan kehidupan yang berkembang secara optimal (flourishing). Temuan-temuan ini disajikan sebagai indikasi awal yang bersifat eksploratif, bukan sebagai bukti pasti mengenai pengaruh bidang studi atau profesi tertentu, karena desain penelitian yang bersifat cross-sectional dan hanya dilakukan pada satu institusi tidak dapat menyingkirkan kemungkinan adanya faktor-faktor lain, seperti kecenderungan pemilihan program studi oleh mahasiswa maupun faktor institusional lainnya yang dapat memengaruhi hasil penelitian. Maritime education has often proceeded as though cadets preparing for nautical, engineering, and port and shipping management careers constitute a single occupational population, despite the substantially different career trajectories these three programmes prepare students for. This exploratory qualitative-dominant study examines whether mental health, spiritual coping, and psychological wellbeing differ in patterned ways across these three sub-disciplines among cadets at Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. The design combines semi-structured interviews and focus group discussions, supplemented by simple numerical self-ratings used descriptively rather than as a statistically powered quantitative component, with thirty cadets drawn equally from the three majors, five lecturers, three veteran seafarers, and two veteran port masters. Data were analysed through thematic analysis, cross-group comparison, and narrative synthesis. The findings suggest that while overall self-rated stress and wellbeing levels are broadly similar across the three groups, cadets describe somewhat different emphases in the stressors they report, the spiritual coping practices they draw upon, and the dimensions of wellbeing they associate with flourishing. These patterns are presented as suggestive and exploratory rather than as demonstrated occupational effects, since the cross-sectional, single-institution design cannot rule out self-selection into majors or other confounding institutional factors as alternative explanations.
From Cadet to Captain: Christian Faith, Happiness, and Moral Resilience Across the Maritime Career Lifespan: Dari Taruna hingga Kapten: Iman Kristen, Kebahagiaan, dan Ketahanan Moral Sepanjang Perjalanan Karier Maritim Marihot Simanjuntak; Brenhard Mangatur Tampubolon
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 6 No 1 (2026): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2026)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v6i1.452

Abstract

The maritime profession demands one of the longest sustained engagements with high-demand work that any career requires, yet the inner architecture by which maritime professionals sustain themselves across this lifespan has remained almost entirely unstudied. This qualitative study, employing a phenomenologically informed thematic approach within the transcendental phenomenological tradition associated with Moustakas, examined how Christian faith, happiness, and moral resilience are described across the maritime career lifespan, drawing on the testimony of thirty cadets at Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta together with five lecturers, three veteran seafarers, and two veteran port masters. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and life-history conversations and analysed through a procedure combining epoché, horizonalisation, thematic clustering, and the construction of textural-structural descriptions, supplemented by cross-group comparison and narrative synthesis. The findings suggest that faith is generally described as a stable orientation that participants associate with deepening through difficult experience, although a minority of participants also described periods of doubt, spiritual struggle, or distancing that complicate any uniformly positive account. Happiness is described by many participants as an inner orientation distinct from momentary affect, and veterans' retrospective accounts suggest a pattern resembling a U-shaped trajectory across the career, a pattern we present as a hypothesis grounded in retrospective testimony from five veterans rather than as longitudinally confirmed evidence. Moral resilience is described as developing through repeated encounters with ethical challenge.
Between Pulpit and Bridge: Lecturers as Pastoral Mentors in Indonesian Maritime Education: A Case Study of Spiritual-Vocational Transmission: Di Antara Mimbar dan Anjungan Kapal: Dosen sebagai Mentor Pastoral dalam Pendidikan Maritim Indonesia: Studi Kasus tentang Transmisi Spiritual dan Vokasional Larsen Barasa
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 6 No 1 (2026): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2026)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v6i1.457

Abstract

Dosen maritim kerap menjalankan peran sebagai mentor pastoral secara informal di samping tugas utamanya sebagai pengajar teknis. Namun, fenomena ini belum pernah memperoleh perhatian empiris dalam literatur mengenai agama dan kesejahteraan maupun dalam penelitian pendidikan maritim. Studi kasus kualitatif ini mengkaji bagaimana lima dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta memahami dan mengimplementasikan peran gandanya sebagai instruktur teknis sekaligus mentor pastoral. Temuan tersebut ditriangulasi dengan perspektif tiga puluh taruna dan lima profesional maritim senior. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan diskusi kelompok terarah (focus group discussions), kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik, perbandingan lintas kelompok, dan sintesis naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para dosen mentransmisikan kebijaksanaan spiritual-vokasional melalui empat mekanisme yang saling terintegrasi, yaitu keteladanan, ketersediaan yang tenang (quiet availability), kesaksian berdasarkan pengalaman berlayar (sea-service testimony), serta bimbingan moral yang responsif. Keempat mekanisme tersebut menghasilkan dampak yang diakui oleh para taruna selama proses pembentukan diri dan oleh para profesional maritim senior sebagai nilai yang terus mereka bawa sepanjang perjalanan karier mereka. Penelitian ini juga menemukan adanya efek multiplikasi, yaitu taruna yang memperoleh pendampingan pastoral cenderung mereplikasi perilaku pastoral tersebut kepada perwira junior selama menjalani penugasan di laut. Selain itu, penelitian ini menempatkan temuan-temuan tersebut dalam konteks dimensi psikologis pembentukan taruna maritim, yang meliputi beban kognitif (cognitive load), perkembangan identitas profesional (professional identity development), dan kesiapan pasca-praktik laut (post-internship readiness), yang secara keseluruhan membentuk lingkungan formasional tempat mentoring pastoral berlangsung. Maritime lecturers frequently function as informal pastoral mentors alongside their technical instructional role, yet this phenomenon has received no empirical attention in the religion-and-wellbeing literature or in maritime education research. This qualitative case study examined how five lecturers at Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta understand and enact their dual role as technical instructors and pastoral mentors, triangulated with the perspectives of thirty cadets and five veteran maritime professionals. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and focus group discussions and analysed through thematic analysis, cross-group comparison, and narrative synthesis. The findings show that lecturers transmit spiritual-vocational wisdom through four integrated mechanisms — modelling, quiet availability, sea-service testimony, and responsive moral guidance — producing effects that cadets recognise during formation and that veterans identify as having carried across their careers. A multiplier effect was documented, with mentored cadets replicating pastoral behaviour with junior officers during sea service. The study situates these findings within the psychological dimensions of maritime cadet formation — cognitive load, professional identity development, and post-internship readiness — that characterise the broader formational environment in which pastoral mentoring occurs.
The Storm Within: Anxiety, Depression, and Spiritual Help-Seeking among Indonesian Maritime Cadets in the Shadow of Post-Pandemic Seafarer Mental Health Crises: Badai di Dalam Diri: Kecemasan, Depresi, dan Upaya Mencari Bantuan Spiritual di Kalangan Kadet Maritim Indonesia di Tengah Krisis Kesehatan Mental Awak Kapal Pasca-Pandemi Nathanael Suranta; Renta Novaliana Siahaan
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 6 No 1 (2026): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2026)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v6i1.458

Abstract

Kesehatan mental pelaut telah menjadi prioritas global sejak pandemi COVID-19, namun pertanyaan hulu mengenai bagaimana calon perwira belajar mencari bantuan untuk mengatasi distres psikologis selama masa pembentukan mereka masih kurang mendapat perhatian penelitian. Studi eksploratif dengan metode campuran (mixed-methods) ini mengkaji tingkat gejala kecemasan dan depresi serta jalur pencarian bantuan pada tiga puluh taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang dipilih secara seimbang dari program studi Nautika, Teknika, serta Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan, bersama lima dosen, tiga pelaut senior, dan dua syahbandar senior. Data kuantitatif dikumpulkan menggunakan GAD-7 dan PHQ-9, dua instrumen skrining yang telah tervalidasi secara luas dan tersedia secara bebas, yang diberikan bersamaan dengan butir-butir mengenai frekuensi koping spiritual dan riwayat perilaku pencarian bantuan; data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan diskusi kelompok terarah. Mengingat ukuran sampel yang kecil, temuan kuantitatif disajikan secara deskriptif dan bukan diuji melalui statistik inferensial, sehingga harus dibaca sebagai temuan eksploratif dan bukan sebagai estimasi prevalensi yang representatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar taruna melaporkan gejala pada tingkat minimal hingga ringan, meskipun sebagian kecil yang cukup berarti melaporkan distres pada tingkat sedang atau cenderung berat; bahwa koping spiritual, khususnya doa dan pembacaan Kitab Suci, merupakan respons pertama terhadap distres yang paling sering dilaporkan, sementara dukungan kesehatan mental profesional merupakan respons yang paling jarang dilaporkan; dan bahwa hubungan antara koping spiritual dan pencarian bantuan profesional tampak mengikuti tiga pola - komplementer, substitutif, dan tertunda - yang disajikan di sini sebagai tipologi yang bersifat menghasilkan hipotesis, bukan sebagai klasifikasi yang telah dikonfirmasi secara statistik. Dosen yang dipercaya oleh taruna muncul sebagai jembatan yang dihargai, meskipun tidak sepenuhnya tanpa perdebatan, antara koping spiritual dan dukungan profesional. Penelitian ini juga mendokumentasikan adanya bentuk-bentuk koping spiritual yang negatif, serta mengakui bahwa sampel penelitian yang didominasi partisipan Kristen membatasi keberlakuan temuan ini terhadap keberagaman keagamaan Indonesia yang lebih luas. Penelitian ini menawarkan bukti awal yang bersifat eksploratif serta arah-arah spesifik untuk penelitian konfirmatif yang relevan bagi penyediaan kesejahteraan (welfare) maritim. Seafarer mental health has become a global priority following the COVID-19 pandemic, yet the upstream question of how future officers learn to seek help for psychological distress during their formation years remains underexplored. This exploratory mixed-methods study examined anxiety and depressive symptom levels and help-seeking pathways among thirty cadets at Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, drawn equally from the nautical, engineering, and port and shipping management majors, together with five lecturers, three veteran seafarers, and two veteran port masters. Quantitative data were collected using the GAD-7 and PHQ-9, two widely validated and freely available screening instruments, administered alongside items on spiritual coping frequency and prior help-seeking behaviour; qualitative data were collected through semi-structured interviews and focus groups. Given the small sample size, quantitative findings are presented descriptively rather than subjected to inferential statistical testing and should be read as exploratory rather than as representative prevalence estimates. The findings suggest that most cadets report minimal to mild symptoms, although a notable minority report moderate or moderately severe distress; that spiritual coping, particularly prayer and Scripture reading, is the most frequently described first response to distress, while professional mental health support is the least frequently described; and that the relationship between spiritual coping and professional help-seeking appears to follow three patterns - complementary, substitutive, and delayed - offered here as a hypothesis-generating typology rather than a statistically confirmed classification. Trusted lecturers emerge as a valued, though not uncontested, bridge between spiritual coping and professional support. The study also documents instances of negative spiritual coping and acknowledges that its predominantly Christian sample limits the applicability of its findings to Indonesia's broader religious diversity. The study offers exploratory evidence and specific directions for confirmatory research relevant to maritime welfare provision.
Faith in Formation: A Longitudinal-Design Protocol for Tracking Christian Spirituality, Stress, and Psychological Wellbeing across the STIP Jakarta Cadet Journey: Iman dalam Pembentukan: Protokol Penelitian Longitudinal untuk Melacak Spiritualitas Kristen, Stres, dan Kesejahteraan Psikologis Sepanjang Perjalanan Taruna STIP Jakarta Marudut Bernadtua Simanjuntak
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 6 No 1 (2026): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2026)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v6i1.459

Abstract

Literatur mengenai agama dan kesejahteraan psikologis masih didominasi oleh penelitian potong lintang (cross-sectional), dengan keterbatasan yang paling sering dikemukakan adalah ketidakmampuan untuk menetapkan urutan temporal dalam hubungan antara spiritualitas dan hasil-hasil psikologis. Artikel protokol ini menyajikan desain penelitian, instrumen, data dasar (baseline), serta validasi oleh para ahli dari suatu studi longitudinal multi-gelombang yang melacak perkembangan spiritualitas Kristen, tingkat stres, dan kesejahteraan psikologis sepanjang perjalanan pendidikan taruna di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Penelitian ini melibatkan tiga puluh taruna yang dipilih secara seimbang dari program studi Nautika, Teknika, serta Manajemen Transportasi Laut dan Kepelabuhanan, dengan pengukuran dilakukan dalam empat gelombang yang disesuaikan dengan fase-fase transisi utama, mulai dari awal pembentukan taruna hingga memasuki masa kerja profesional. Data dasar menunjukkan tingkat kesejahteraan spiritual dan kesejahteraan psikologis yang berada pada kategori sedang hingga tinggi, disertai tingkat stres pada kategori sedang, sehingga menyediakan nilai acuan untuk pemantauan pada tahap-tahap berikutnya. Validasi oleh lima dosen dan lima praktisi maritim senior menegaskan validitas tampang (face validity) serta kesesuaian budaya dari instrumen yang digunakan. Protokol penelitian ini menjawab kesenjangan metodologis yang paling mendesak dalam bidang tersebut sekaligus menempatkan STIP Jakarta sebagai lokasi penelitian yang memiliki potensi untuk menghasilkan bukti longitudinal mengenai hubungan antara spiritualitas dan kesehatan mental. The religion-and-wellbeing literature is overwhelmingly cross-sectional, and its most frequently cited limitation is the inability to establish temporal precedence in the relationship between spirituality and psychological outcomes. This protocol paper presents the design, instruments, baseline data, and expert validation of a multi-wave longitudinal study tracking Christian spirituality, stress, and psychological wellbeing across the cadet journey at Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. The study follows thirty cadets drawn equally from the nautical, engineering, and port and shipping management majors across four measurement waves timed to coincide with major phase transitions, from the beginning of formation through early professional employment. Baseline data confirm moderate-to-high spiritual wellbeing and psychological wellbeing alongside moderate stress, establishing reference values for subsequent tracking. Expert validation by five lecturers and five veteran maritime professionals confirms the instruments' face validity and cultural appropriateness. The protocol addresses the field's most pressing methodological gap and positions STIP Jakarta as a site for temporally ambitious research on spirituality and mental health.