cover
Contact Name
Erni Yusnita Lalusu
Contact Email
lemassehat@gmail.com
Phone
+6285298735414
Journal Mail Official
lemassehat@gmail.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol, No. 101, Kelurahan Bungi, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Kode Post 94712
Location
Kab. banggai,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Buletin Kesehatan MAHASISWA
ISSN : -     EISSN : 29647630     DOI : https://doi.org/10.51888/jpmeo
Core Subject : Health,
Buletin Kesehatan MAHASISWA adalah media publikasi ilmiah yang menyajikan hasil penelitian (research paper) ataupun laporan kasus (case report) di bidang kesehatan masyarakat yang meliputi kajian Epidemiologi, Kesehatan Lingkungan, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku, Gizi Kesmas, Kesehatan & Keselamatan Kerja, Biostatistik dan Kependudukan, serta kajian ilmiah lainnya bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan.
Articles 56 Documents
Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Wanita Prakonsepsi di Kabupaten Banggai : The Relationship of Dietary Patterns and Preconceptional Nutritional Status of Women in Banggai District Ta'ati, Nadia; Lanyumba, Fitrianty Sutadi; Sattu, Marselina
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.330

Abstract

Wanita prakonsepsi adalah wanita usia subur yang sedang dalam masa yang sudah siap menjadi seorang ibu. Masa prakonsepsi sangat perlu diperhatikan status kesehatan serta status gizinya karena sedang dalam masa mempersiapkan kehamilannya. Status gizi pada masa prakonsepsi merupakan faktor utama yang mempengaruhi kondisi ibu dan bayi dalam kehamilan dengan terpenuhinya gizi seimbang. Penyebab dari timbulnya masalah kesehatan tersebut biasanya disebabkan pula oleh pola hidup yang tidak sehat seperti aktifitas fisik yang kurang, kebiasaan merokok, faktor pola makan yang kurang sehat, kesehatan lingkungan dan lain-lain Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pola makan dengan status gizi pada wanita prakonsepsi di kabupaten banggai. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan desain pendekatan cross sectional. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah peserta posyandu prakonsepsi. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan penentuan besar sampel yaitu sebanyak 165 orang. Pengumpulan data berdasarkan data primer dan dan sekunder. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Analisis data menggunakan uji  chi square. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa variabel jenis makanan di kategori status gizi normal paling banyak itu memiliki jenis makanan beragam yaitu sebanyak 68 orang (87,2%) dibandingkan jenis makanan tidak beragam. Sedangkan variabel frekuensi makan di kategori status gizi normal paling banyak yaitu sebanyak 56 orang (19,8%) di bandingkan frekuensi makan kurang dan frekuensi makan lebih. Selanjutnya untuk variabel porsi makan di kategori status gizi paling banyak memilki porsi makan tidak sesuai yaitu sebanyak 156 orang (94,5%) dibandingkan porsi makan yang sesuai. Hasil analisis bivariat chi square menunjukan nilai P value untuk jenis makanan (p=0,001) dan frekuensi makan (p=0,001) Sedangkan porsi makan (p=0,014), artinya nilai P-value < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan pada status gizi wanita prakonsepsi di kabupaten banggai. Disarankan kepada masyarakat kabupaten banggai khususnya wanita prakonsepsi untuk lebih memperhatikan pola makan dan meningkatkan konsumsi makan bergizi seimbang dan dapat mengurangi asupan makanan yang berlebihan agar dapat membantu menjaga berat badan ideal.                   Preconception women are women of childbearing age who are in a stage where they are ready to become mothers. The preconception period is critical for monitoring health and nutritional status because it is a time of preparation for pregnancy. Nutritional status during this period is a key factor that affects the condition of both the mother and the baby during pregnancy, provided that balanced nutrition is met. Health issues that arise are often caused by unhealthy lifestyles such as lack of physical activity, smoking habits, poor dietary patterns, environmental health, and more. The aim of this study is to analyze the relationship between dietary patterns and nutritional status in preconception women in Banggai Regency. This study uses an analytic research type with a cross-sectional design approach. The population in this study consists of participants from the preconception posyandu (maternal and child health service). The sample size determination was set at 165 people. Data collection was based on primary and secondary data. Data processing was conducted using the SPSS program. Data analysis utilized the chi-square test. The bivariate analysis results showed that, in the normal nutritional status category, the most common variable was a diverse diet, with 68 people (87.2%) having a varied diet compared to those with a non-varied diet. Meanwhile, for the meal frequency variable, the normal nutritional status category had 56 people (19.8%) with an adequate meal frequency compared to those with less frequent or more frequent meals. For the meal portion variable, the majority in the normal nutritional status category had inappropriate portion sizes, with 156 people (94.5%) compared to those with appropriate portion sizes. The bivariate chi-square analysis showed P-values for diet variety (p = 0.001) and meal frequency (p = 0.001), while the portion size (p = 0.014), meaning the P-value is < 0.05. Therefore, it can be concluded that there is a significant relationship between dietary patterns and the nutritional status of preconception women in Banggai Regency. It is recommended that the community, especially preconception women in Banggai Regency, pay more attention to their dietary patterns, increase the consumption of balanced nutritious food, and reduce excessive food intake to help maintain an ideal body weight.
Gambaran Kepadatan Larva Aedes sp. di Kelurahan Maahas: Overview of Aedes sp. Larvae Density in Maahas Village Dwicahya, Bambang; Bujana, I Kadek Sinta; Sakati, Sandy Novriyanto; Syahrir, Muhammad; Kanan, Maria
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.338

Abstract

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai jumlah kasus DBD di kelurahan Maahas Februari 2019 – Juli 2024 sebanyak 11 kasus. Kelurahan Maahas merupakan salah satu wilayah yang sepanjang 4 tahun terakhir selalu memiliki kasus DBD. Tujuan kami adalah untuk mengetahui gambaran kepadatan larva nyamuk Aedes sp. di Kelurahan Maahas. Metode penelitian ini menggambarkan kepadatan larva Aedes sp. dengan Jenis penelitian Observasional Deskriptif yang dilakukan di Kelurahan Maahas pada bulan Juni-Juli 2024. Populasi dalam penelitian ini sebanyak  1.268 rumah dengan sampel 295 rumah dan metode pengambilan data  menggunakan teknik Random Sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan Nilai House Index (HI) 25% dengan tingkat kepadatan sedang, Container Index (CI) 7,96% dengan tingkap kepadatan sedang, Breteau Index (BI) 4,8% dengan tingkat kepadatan rendah, ABJ 75% ≥ 95% dengan status tidak bebas jentik dan nilai HRI 0,17 dan BRI 0,83 maka nilai Maya Indeks (MI) berada pada kategori tinggi. Kesimpulan penelitian ini memberikan wawasan tentang kontribusi kepadatan larva Aedes sp terhadap kejaadian DBD di suatu wilayah. Penelitian di masa mendatang harus membahas terkait hubungan antara variabel (HI, CI, BI, ABJ dan MI) denga kejadian DBD yang pada akhirnya memajukan pengetahuan di bidang kesehatan internasional. Based on data from the Banggai Regency Health Office, the number of DHF cases in Maahas Village from February 2019 to July 2024 was 11 cases. Maahas Village is one of the areas that has always had DHF cases in the last 4 years. Our goal is to determine the density of Aedes sp. mosquito larvae in Maahas Village. This research method describes the density of Aedes sp. larvae with the type of Descriptive Observational research conducted in Maahas Village in June-July 2024. The population in this study was 1,268 houses with a sample of 295 houses and the data collection method used the Random Sampling technique. The analysis used is univariate analysis. The results of the study showed that the House Index (HI) value was 25% with a moderate density level, Container Index (CI) 7.96% with a moderate density window, Breteau Index (BI) 4.8% with a low density level, ABJ 75% ≥ 95% with a status of not free from larvae and HRI values ​​​​of 0.17 and BRI 0.83, so the Maya Index (MI) value is in the high category. The conclusion of this study provides insight into the contribution of Aedes sp larval density to the incidence of dengue fever in an area. Future research should discuss the relationship between variables (HI, CI, BI, ABJ and MI) with the incidence of dengue fever which ultimately advances knowledge in the field of international health.
Gambaran Kepadatan Larva Aedes sp. di Kelurahan Hanga-hanga Permai: Overview of Aedes sp. Larvae Density in Hanga-hanga Permai Village Ardiata, Ketut; Dwicahya, Bambang; Kanan, Maria
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.339

Abstract

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai jumlah kasus DBD di kelurahan Maahas Februari 2019 – Juli 2024 sebanyak 11 kasus. Kelurahan Hanga-Hanga Permai merupakan salah satu wilayah yang sepanjang 4 tahun terakhir selalu memiliki kasus DBD. Tujuan kami adalah untuk mengetahui gambaran kepadatan larva nyamuk Aedes sp. di Kelurahan Hanga-Hanga Permai. Metode Penelitian ini menggambarkan kepadatan larva Aedes sp. dengan Jenis penelitian Observasional Deskriptif yang dilakukan di Kelurahan Hanga-Hanga Permai pada bulan Juni-Juli 2024. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 400 rumah dengan sampel penelitian 400 rumah dan metode pengambilan data menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil: Nilai House Index (HI) 27% dengan tingkat kepadatan sedang, Container Index (CI) 16% dengan tingkat kepadatan sedang, Breteau Index (BI) 94% dengan tingkat kepadatan tinggi, ABJ 73% ≥ 95% dengan status tidak bebas jentik dan nilai HRI 0,28 dan BRI 0,71 maka nilai Maya Indeks (MI) berada pada kategori tinggi. Sebagai kesimpulan, penelitian ini memberikan wawasan tentang kontribusi kepadatan larva Aedes sp. terhadap kejadian DBD di suatu wilayah. Penelitian di masa mendatang harus membahas terkait hubungan antara variabel (HI, CI, BI, ABJ dan MI) denga kejadian DBD yang pada akhirnya memajukan pengetahuan di bidang kesehatan internasional. Based on data from the Banggai Regency Health Office, the number of DHF cases in Maahas Village from February 2019 to July 2024 was 11 cases. Hanga-Hanga Permai Village is one of the areas that has always had DHF cases in the last 4 years. Our aim was to determine the density of Aedes sp. mosquito larvae in Hanga-Hanga Permai Village. Method: This study describes the density of Aedes sp. larvae with a Descriptive Observational research type conducted in Hanga-Hanga Permai Village in June-July 2024. The population in this study was 400 houses with a research sample of 400 houses and the data collection method used inclusion and exclusion criteria. The analysis used was univariate analysis. Results: House Index (HI) value of 27% with moderate density, Container Index (CI) 16% with moderate density, Breteau Index (BI) 94% with high density, ABJ 73% ≥ 95% with status not free of larvae and HRI value of 0.28 and BRI 0.71 then the Maya Index (MI) value is in the high category. Conclusion: In conclusion, this study provides insight into the contribution of Aedes sp larval density to the incidence of dengue fever in an area. Future research should discuss the relationship between variables (HI, CI, BI, ABJ and MI) with the incidence of dengue fever which ultimately advances knowledge in the field of international health.
Gambaran Penyelenggaraan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit X, Kabupaten Banggai Kepulauan : Overview of the Implementation of Liquid Waste Management at Hospital X, Banggai Islands Regency Bauntal, Severianus; Kanan, Maria; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.340

Abstract

Kegiatan rumah sakit menghasilkan limbah cair memiliki beban cemaran yang dapat menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan hidup yang dapat mengakibatkan penyakit pada manusia. Oleh karena itu, air limbah perlu dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan agar kualitasnya memenuhi baku mutu air limbah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran Penyelenggaraan Pengelolaan Limbah Cair di Rumah Sakit X. Jenis penelitian adalah survei yang bersifat deskriptif dengan ruang lingkup berupa Unit Pengolahan Air Limbah (IPAL), Fasilitas Penunjang, Penaatan Frekuensi, Penaatan Kualitas Limbah dan Penaatan Pelaporan. Objek dalam penelitian ini adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan petugas pengelola limbah cair. Data diperoleh dengan cara wawancara, observasi dengan menggunakan lembar observasi yang berpedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dan dianalisa secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa Rumah Sakit Xsudah memiliki Unit Pengolahan Air Limbah dan ditempatkan pada lokasi yang tepat, namun saat ini tidak berfungsi karena mengalami kerusakan. Berdasarkan fasilitas penunjang IPAL, dimana sudah dilengkapi dengan bak pengambilan air limbah, alat ukur debit air limbah, tetapi tidak terdapat pagar pengaman IPAL, titik koordinat IPAL, dan fasilitas keselamatan IPAL. Penataan frekuensi, penataan kualitas limbah, dan penataan pelaporan semuanya tidak dilakukan karena IPAL dalam keadaan rusak, sehingga tidak beroperasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan pengelolaan limbah cair Rumah Sakit Xsaat tidak memenuhi syarat karena tidak sesuai dengan Permenkes Nomor 7 Tahun 2019. Hospital activities that produce liquid waste have a pollution load that can cause pollution to the environment that can cause disease in humans. As a result, waste water must be treated before being released into the environment to ensure that it meets the waste water quality criteria established by the applicable laws and regulations. The goal of this study is to gain an overview of the Liquid Waste Management Implementation at the X Hospital. This is a descriptive survey with a scope that includes Waste Water Treatment Units, Supporting Facilities, Frequency Compliance, Waste Quality Compliance, and Reporting Compliance. The Waste Water Treatment Plant (WWTP) and the liquid waste management officer are the subjects of this study. Data was collected through interviews and observations utilizing observation sheets in accordance with the Minister of Health's Regulation No. 7 of 2019 on Hospital Environmental Health Requirements, and was analyzed descriptively. Based on WWTP supporting facilities, which include waste water collection tanks and waste water discharge monitoring instruments, but no WWTP safety fence, WWTP coordinate points, or WWTP safety facilities. Because the WWTP is in disrepair and hence not operational, the frequency arrangement, waste quality management, and reporting system do not match the criteria.The study's findings show that the implementation of liquid waste management at the X Hospital does not satisfy the standards because it does not comply with the Permenkes No. 7 of 2019.
Hubungan Menstruasi dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri SMA di Kota Luwuk Tahun 2025: The Relationship Between Menstrual and Hemoglobin Levels in High School Female Adolescents in Luwuk City in 2025 Handayani, Lisa; Lalusu, Erni Yusnita; Evriwanda, Indah; Ramli, Ramli; Balebu, Dwi Wahyu; Otoluwa, Anang S.; Sudarsa, Caca
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.362

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami remaja putri akibat kehilangan darah saat menstruasi, yang berisiko menurunkan kadar hemoglobin (Hb) dalam tubuh. Kondisi ini penting untuk diteliti karena kadar Hb yang rendah dapat mengganggu fungsi fisiologis, termasuk keteraturan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara siklus menstruasi, lama menstruasi, dan gangguan menstruasi dengan kadar hemoglobin pada remaja putri SMA di Kota Luwuk tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross- sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri SMA 1, 2, dan 3 di Kota Luwuk, dengan total sampel sebanyak 154 responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran kadar hemoglobin menggunakan alat Easy Touch GCHb. Kategori anemia ditentukan berdasarkan kadar Hb, yaitu dinyatakan anemia apabila kadar Hb < 12 g/dl. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari total responden, sebagian remaja putri mengalami anemia dengan presentase sebesar 9,7%, sedangkan yang tidak anemia sebanyak 90,3%. Analisis data menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara siklus haid (p=0,000) dan lama menstruasi (p=0,000) dengan kadar hemoglobin. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara gangguan menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,426). Disimpulkan bahwa keteraturan siklus h dan lama menstruasi berpengaruh terhadap kadar Hb remaja putri. Diharapkan para remaja lebih memperhatikan pola menstruasi dan faktor-faktor atau determinan yang mempengaruhi pola menstruasi, serta mengikuti edukasi kesehatan melalui posyandu remaja untuk mencegah anemia. Anemia is a health problem commonly experienced by adolescent girls due to blood loss during menstruation, which can lower hemoglobin (Hb) levels. This condition is important to study because low Hb levels can disrupt physiological functions, including menstrual cycle regularity. This study aims to determine the relationship between the menstrual cycle, menstrual duration, and menstrual disorders with hemoglobin levels in high school female adolescents in Luwuk City in 2025. This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study population was all female adolescents in grades 1, 2, and 3 of high school in Luwuk City, with a total sample of 154 respondents selected using a random sampling technique. Data were collected through questionnaires and hemoglobin level measurements using the Easy Touch GCHb device. The anemia category was determined based on Hb levels, with anemia defined as Hb < 12 g/dl. Data were analyzed using univariate and bivariate methods using the chi-square test. The results of the study showed that of the total respondents, some adolescent girls experienced anemia with a percentage of 9.7%, while those who were not anemic were 90.3%. Data analysis showed a significant relationship between the menstrual cycle (p = 0.000) and the duration of menstruation (p = 0.000) with hemoglobin levels. However, no significant relationship was found between menstrual disorders and hemoglobin levels (p = 0.426). It was concluded that the regularity of the menstrual cycle and the duration of menstruation affect the Hb levels of adolescent girls. It is hoped that adolescents will pay more attention to menstrual patterns and the factors or determinants that influence menstrual patterns, and participate in health education through adolescent posyandu to prevent anemia.
Hubungan Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Lipulalongo Kabupaten Banggai Laut Tahun 2023: The Relationship between Basic Sanitation and Stunting Incidents in the Lipulalongo Community Health Center Working Area, Banggai Laut Regency in 2023 Yusuf, Andi Muhammad; Sakati, Sandy Novriyanto; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.234

Abstract

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan salah satu masalah Kesehatan yang angka kejadiannya cukup tinggi didunia. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karenaISPA khususnya pneumonia. Kurangnya perhatian terhadap penyakit ini menyebabkan pneumonia menjadi pembunuh utama khususnya pada anak dibawah usia lima tahun (balita). Penelitian bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi rumah berupa luas ventilasi, kepemilikan lubang asap, jenis lantai, jenis dinding dan hunian rumah pada rumah penderita ISPA di Kabupaten Banggai Laut. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif untuk menggambarkan kondisi fisik rumah balita penderita ISPA di Kabupaten Banggai Laut. Luas ventilasi rumah di Kabupaten Banggai Laut memenuhi syarat sebanyak 1 (1,2%) dan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 82 (98,8%), jenis lantai rumah di Kabupaten Banggai Laut yang memenuhi syarat sebanyak 74 (89,2%) dan tidak memenuhi syarat yaitu 9 (10.8%). jenis dinding yang memenuhi syarat sebanyak 78 (94.0%) rumah dan tidak memenuhi syarat yaitu 5 (6.0%), kepadatan hunian rumah di Kabupaten Banggai Laut yang memenuhi syarat 77 (93%) rumah, Kepemilikan lubang asap rumah di Kabupaten Banggai Laut yang memiliki sebanyak 1(1.2%) rumah dan tidak memeiliki sebanyak 82 (98.8%) rumah.  Acute respiratory tract infection (ARI) is a health problem whose incidence rate is quite high in the world. This is due to the still high morbidity and mortality rates due to ISPA, especially pneumonia. Lack of attention to this disease causes pneumonia to become the main killer, especially in children under five years of age (toddlers). The research aims to get an overview of house conditions in the form of ventilation area, smoke hole ownership, floor type, wall type and house occupancy in houses of ISPA sufferers in Banggai Laut Regency. The type of research used in this research is descriptive to describe the physical condition of the homes of toddlers suffering from ISPA in Banggai Laut Regency. The ventilation area of houses in Banggai Laut Regency that meets the requirements is 1 (1.2%) and that does not meet the requirements is 82 (98.8%), the type of house floor in Banggai Laut Regency that meets the requirements is 74 (89.2%) and did not meet the requirements, namely 9 (10.8%). The types of walls that meet the requirements are 78 (94.0%) houses and those that do not meet the requirements are 5 (6.0%), the residential density of houses in Banggai Laut Regency that meets the requirements is 77 (93%) houses, Ownership of house smoke holes in Banggai Laut Regency that has 1 (1.2%) house and 82 (98.8%) houses do not own it.
Perilaku Penderita dalam Pencegahan dan Penularan Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Raya Kabupaten Banggai: Patient Behavior in the Prevention and Transmission of Tuberculosis in the Working Area of Simpang Raya Public Health Center, Banggai Regency Kalsum, Siti Umi; Herawati, Herawati; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.235

Abstract

Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia dan tetap menjadi beban kesehatan masyarakat yang besar dibanyak negara berkembang. Hasil riset Kementrian Kesehatan Repubik Indonesia 2018, menyebutkan bahwa jumlah prevalensi Tuberkulosis paru klinis yang tersebar di seluruh indonesia yaitu 1,0%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku penderita tuberkulosis dalam pencegahan penularan TB paru di Wilayah kerja Puskesmas Simpang Raya Kabupaten Banggai Tahun 2023. Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Subyek penelitian yaitu penderita TB, keluarga penderita TB, dan pemegang program penyakit menular Puskesmas Simpang Raya. Metode yang digunakan ialah teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa telah ada pencegahan TB Paru di Wilayah kerja Puskesmas Simpang Raya Kabupaten Banggai, meliputi; menyediakan tempat dahak bagi penderita, membuka jendela setiap hari, menutup mulut saat bersin atau batuk, dan tidak merokok. Namun belum semua penderita melakukan pencegahan tersebut, dengan alasan tidak mengetahui pencegahan terhadap TB Paru. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa; Penderita TB Paru di Wilayah kerja Puskesmas Simpang Raya telah melakukan pencegahan penularan TB Paru dengan menyediakan tempat dahak, membuka jendela tiap hari, tidak menutup mulut saat bersin atau batuk, dan tidak merokok. Meskipun dalam penelitian ini, belum dilakukan sepenuhnya oleh semua penderita TB. Tuberculosis is one of the leading causes of death worldwide and remains a major public health burden in many developing countries. The results of research by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2018 stated that the prevalence of clinical pulmonary tuberculosis spread throughout Indonesia was 1.0%. The aim of this research is to determine the behavior of tuberculosis sufferers in preventing transmission of pulmonary TB in the work area of the Simpang Raya Public Health Center, Banggai Regency in 2023. This type of research uses qualitative research with a phenomenological approach. The research subjects were TB sufferers, families of TB sufferers, and holders of the Simpang Raya Community Health Center's infectious disease program. The method used is a purposive sampling technique. The data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results showed that there had been prevention of pulmonary TB in the Simpang Raya Public Health Center working area, Banggai Regency, including; provide a place for phlegm for sufferers, open windows every day, cover your mouth when sneezing or coughing, and don't smoke. However, not all sufferers take this precaution, because they do not know how to prevent pulmonary TB. The conclusion from this research is that; Pulmonary TB sufferers in the Simpang Raya Community Health Center work area have prevented the transmission of pulmonary TB by providing phlegm containers, opening windows every day, not covering their mouths when sneezing or coughing, and not smoking. Although this research was not carried out completely on all TB sufferers.
Gambaran Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Rumah pada Penderita TB Paru di Desa Sayambongn Kecamatan Nambo : Description of Individual Characteristics and Home Environmental Conditions of Pulmonary TB Sufferers in Sayambongn Village, Nambo District Ibrahim, Alisafira; Balebu, Dwi Wahyu; Syahrir, Muhammad
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.236

Abstract

Tuberkulosis (TB Paru) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh mycobacterium Tuberculosis, yang dapat menyerang paru dan organ lainnya. Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan kesakita, kecatatan, dan kematian yang tinggi sehingga perlu dilakukan upaya penaggulangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambar karakteristik individu dan kondisi lingkungan rumah dengan TB paru di Desa Sayambongin Kecamatan Nambo Tahun 2023. Jenis penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian deskriptif dengan jenis data kuantitaif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh atau teknik penentuan sampel yaitu sebanyak 43 penderita. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsungatau observasih serta dokumentasi dan wawancara. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat. Hasil penlitian yang di dapatkan bahwa riwayat pengobatan yang rutin 43 orang (100%), pencehayaan rumah yaitu paling banyak yaitu 43 (100%) dan jenis lantai lantai rumah 31 (72,1%). Saran pemerintah lebih memperhatikan lagi derajat kesehatan masyarakat khsusnya pada pada penderita TB Paru.  Tuberculosis (pulmonary TB) is an infectious disease caused by the mycobacterium Tuberculosis, which can attack the lungs and other organs. Tuberculosis is still a public health problem that causes high levels of illness, disability and death, so efforts to control it need to be made. The aim of this research is to determine the characteristics of individuals and the conditions of the home environment with pulmonary TB in Sayambongin Village, Nambo District in 2023. This type of research was carried out with a descriptive research design with quantitative data types. The sampling technique in this research was a saturated sampling technique or sample determination technique, namely 43 patients. The data collection method is carried out through direct observation or observation as well as documentation and interviews. The analytical method in this research uses univariate analysis. The results of the research showed that 43 people (100%) had a history of routine treatment, 43 (100%) had the most house lighting and 31 (72.1%) house floor types. The government's advice is to pay more attention to the health status of the community, especially pulmonary TB sufferers.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kepemilikan Jamban di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai Tahun 2021: Factors influencing latrine ownership in Bunta II Village, Bunta District, Banggai Regency in 2021 Tiak, Agnesria Ningsi; Kanan, Maria; Dwicahya, Bambang; Sudarsa, Caca
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.237

Abstract

Jamban keluarga merupakan sarana sanitasi dasar untuk menjaga kesehatan lingkungan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Masalah penyakit lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas. Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan salah satu bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetik. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya kepemilikan jamban di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasinal Analitik dengan pendekatan Cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta. Populasi penelitian adalah semua rumah yang ada di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta. Pengolahan dan analisis data hasil observasi kemudian diolah secara manual dan dikelompokan berdasarkan variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada pengaruh antara pendapatan dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,235 (>0,05), tidak ada pengaruh antara ketersediaan air bersih dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,223 (>0,05), tidak ada pengaruh antara peran petugas kesehatan dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,723 (>0,05) dan ada pengaruh antara peran pemerintah kelurahan dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,029 (<0,05). Diharapkan dapat bergotong-royong dalam membantu masyarakat dengan memberikan bantuan dana dalam pembuatan Jamban dan masyarakat dapat mengusulkan program bantuan jamban kepada pemerintah kelurahan dalam upaya untuk membantu pembuatan jamban. Family latrines are basic sanitation facilities to maintain environmental health in order to improve community health. The problem of disease in the residential environment, especially in the disposal of feces, is one of the various health problems that needs to be prioritized. Disposal of feces needs special attention because it is one of the waste materials that causes many problems in the health sector and acts as a breeding ground for diseases, such as diarrhea, typhus, vomiting, dysentery, worms and itching. Apart from that, it can cause environmental pollution in water sources and cause bad odors and aesthetics. The aim of the research is to get an idea of the factors that influence the low level of latrine ownership in Bunta II Village, Bunta District, Banggai Regency. The type of research used is analytical observational with a cross-sectional approach. The research was carried out in Bunta II Village, Bunta District. The research population was all houses in Bunta II Village, Bunta District. Processing and analysis of observation data is then processed manually and grouped based on research variables. The research results show that there is no influence between income and latrine ownership with a value of p=0.235 (>0.05), there is no influence between the availability of clean water and latrine ownership with a value of p=0.223 (>0.05), there is no influence between the role of health workers with latrine ownership with a value of p=0.723 (>0.05) and there is an influence between the role of sub-district government and latrine ownership with a value of p=0.029 (<0.05). It is hoped that we can work together to help the community by providing financial assistance in building latrines and the community can propose a latrine assistance program to the sub-district government in an effort to help build latrines.
Gambaran Penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Puskesmas Biak : Overview of the Implementation of the Occupational Safety and Health Program at the Biak Community Health Center Nur’aini, Intan; Balebu, Dwi Wahyu; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.238

Abstract

Data dari International Labour Organization, terdapat sebanyak 2,78 juta pekerja meninggal setiap tahun karena kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja Tahun 2018. Puskesmas merupakan suatu institusi yang mempunyai risiko berasal dari fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial. Untuk meminimalisir risiko akibat kerja maka perlu penerapan K3 di puskesmas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penerapan K3 di puskesmas Biak. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kuantitaf. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan di puskesmas Biak sebanyak 71 orang yang ada di area puskesmas Biak, dengan teknik sampel menggunakan total sampling, dengan mengambil seluruh populasi. Instrumen yang digunakan yaitu kuisioner, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 11 indikator standar K3 indikator yang telah diterapkan sebesar 5 indikator yaitu pemeriksaan kesehatan berkala, pemberian imunisasi, pembudayaan PHBS, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan peralatan medis. Dan tidak terpenuhi sebesar 6 indikator yaitu pengenalan potensi bahaya dan pengendalian risiko, penerapan kewaspadaan standar, penerapan prinsip ergonomi, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat bencana termasuk kebakaran, pengelolaan B3 dan limbah B3, pengelolaan limbah domestik. Simpulan dalam penelitian ini penerapan K3 pada petugas kesehatan di wilayah kerja puskesmas Biak masuk dalam kriteria penilaian penerapan cukup baik. Saran bagi pihak puskesmas Biak wajib menyelenggarakan pemenuhan standar K3 sesuai Permenkes No 52 Tahun 2018 disemua fasyankes wajib menyelenggarakan standar K3.  Data from the International Labor Organization shows that 2.78 million workers died every year due to work accidents and work-related diseases in 2018. Community health centers are institutions that have risks originating from physical, chemical, biological, ergonomic and psychosocial factors. To minimize work-related risks, it is necessary to implement K3 in community health centers. The aim of this research is to determine the implementation of K3 in the Biak health center. This type of research is quantitative descriptive. The population in this study was all 71 health workers at the Biak health center in the Biak health center area, with a sampling technique using total sampling, taking the entire population. The instruments used were questionnaires, interviews and documentation. The results of this research show that of the 11 standard K3 indicators, 5 indicators have been implemented, namely periodic health checks, provision of immunizations, PHBS culture, management of facilities and infrastructure, management of medical equipment. And 6 indicators were not met, namely recognition of potential hazards and risk control, application of standard precautions, application of ergonomic principles, preparedness for emergency disaster conditions including fire, management of B3 and B3 waste, management of domestic waste. The conclusion in this research is that the application of K3 to health workers in the work area of ​​the Biak Community Health Center falls within the assessment criteria for fairly good implementation. Suggestions for Biak health centers are that they are required to fulfill K3 standards in accordance with Minister of Health Regulation No. 52 of 2018. All health facilities are required to implement K3 standards.