cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA PEREMPUAN YANG BERHUBUNGAN SEKS DENGAN PEREMPUAN Halim, Melissa; Krisanti, Roro Inge Ade; Indriatmi, Wresti; Nilasari, Hanny; Irawan, Yudo
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 1 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i1.426

Abstract

ABSTRAK Sebagian perempuan menunjukkan orientasi atau ketertarikan seksual, identitas gender, dan perilaku seksual yang berbeda. Infeksi menular seksual (IMS) pada perempuan yang berhubungan seks dengan perempuan (PSP), perempuan yang berhubungan seks dengan perempuan dan laki-laki (PSPL) baik riwayat lampau atau saat ini, maupun transgender laki-laki, jarang mendapat perhatian. Terdapat beragam faktor risiko penularan IMS pada kelompok PSP, PSPL, dan transgender laki-laki. IMS yang dialami dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau pun protozoa. Strategi pencegahan IMS termasuk pemeriksaan penapisan perlu disesuaikan dengan anatomi dan aktivitas seks setiap orang. Prinsip tata laksana IMS pada kelompok minoritas seksual tersebut sama dengan tata laksana IMS secara umum. Keterbatasan studi mengenai IMS pada kelompok ini menyebabkan belum tersedia data epidemiologi yang representatif. Pemahaman mengenai IMS pada PSP, PSPL, dan transgender laki-laki dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada kelompok minoritas ini.
KASUS SERIAL: EFEKTIVITAS TERAPI DERMATITIS SEBOROIK BERDASARKAN PANDUAN PENGOBATAN 2017 Rhida Sarly Amalia; Dini Daniaty; Sandra Widaty
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.430

Abstract

Dermatitis seboroik (DS) merupakan penyakit kulit inflamasi di area seboroik dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, antara lain interaksi flora normal dan kerentanan individu. Perjalanan penyakit DS kronis dan rekuren, sehingga penting mengetahui efektivitas terapi yang diberikan. Laporan kasus ini bertujuan mengetahui efektivitas terapi DS dengan modalitas baru berdasarkan Konsensus Asia 2016 dan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) DS 2017, dengan pilihan pengobatan lini pertama yaitu obat topikal anti jamur golongan azol, diikuti kortikosteroid topikal. Dilaporkan lima kasus pasien DS dewasa dengan lesi di area skalp yang berobat di poliklinik Dermatologi dan Venereologi RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) periode tahun 2017-2020 yang terdokumentasi pada rekam medis. Keparahan DS dinilai dengan skor Seborrheic Dermatitis Area Severity Index (SDASI) dan pilihan terapi diberikan sesuai dengan skor SDASI. Didapatkan hasil bahwa seluruh pasien telah ditatalaksana sesuai dengan Konsensus Asia 2016 dan PNPK 2017. Disimpulkan bahwa Konsensus Asia 2016 dan PNPK 2017 dapat digunakan sebagai algoritama terapi DS, dengan hasil sembuh atau perbaikan. Pengobatan DS ringan dengan menggunakan Obat Anti Jamur (OAJ) topikal dan DS sedang dengan kortikosteroid topikal menunjukkan hasil yang baik. Beberapa pasien mengalami rekurensi, hal ini dapat dikarenakan adanya faktor pencetus serta komorbid pada pasien yang belum teratasi.
KUTIL ANOGENITAL YANG MENYERUPAI LESI KARSINOMA SEL SKUAMOSA DAN BERESPONS DENGAN KRIM PODOFILOKS 0,5% Rivanzah, Yovan; Achdiat, Pati Aji; Maharani, Retno Hesty
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.433

Abstract

Kutil anogenital (KAG) merupakan salah satu infeksi menular seksual berupa lesi proliferatif jinak yang disebabkan oleh Human papillomavirus (HPV). Karsinoma sel skuamosa (KSS) ad regio anogenital sering menjadi diagnosis banding dari KAG. Krim podofiloks menjadi salah satu terapi pilihan untuk pengobatan KAG. Dilaporkan satu kasus KAG ad regio penis dan perianal pada pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV), seorang laki-laki berusia 31 tahun. Pada pemeriksaan fisis ditemukan lesi papul sewarna kulit dengan permukaan papilomatosa dan verukosa pada penis dan perianal. Pemeriksaan penunjang acetowhitedidapatkan hasil positif. Gambaran histopatologis menunjukkan gambaran hiperplastis, hiperkeratosis, akantosis, dan papilomatosa. Berdasarkan hasil polymerase chain reaction (PCR) HPV tipe 6, 11, 16, dan 18 didapatkan hasil negatif. Pasien mendapatkan terapi krim podofiloks 0,5% selama tiga siklus dengan hasil yang signifikan. Diagnosis KAG ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, histopatologis, dan PCR. Sampai saat ini belum ada terapi yang ideal dan spesifik untuk pengobatan KAG. Podofiloks merupakan salah satu pilihan pengobatan topikal yang diaplikasikan sendiri oleh pasien dua kali sehari selama tiga hari diikuti dengan empat hari tanpa terapi diulang sebanyak empat siklus. Diperlukan pemeriksaan yang komprehensif untuk dapat menegakkan KAG dan menyingkirkan diagnosis banding dengan KSS. Terapi podofiloks dapat menjadi pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk terapi pada KAG.
HUBUNGAN KADAR UREUM DAN KREATININ TERHADAP TINGKAT KEPARAHAN PSORIASIS VULGARIS Zilpa - Widyastuti; Arie Kusumawardani; Nurrachmat Mulianto; Muhammad Eko Irawanto
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.434

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Psoriasis vulgaris merupakan inflamasi kulit kronis residif yang diperantarai oleh sistem imun dan berhubungan dengan beberapa komorbiditas seperti aterosklerosis, penyakit kardiovaskular, gangguan fungsi ginjal, sindrom metabolik, dan diabetes melitus. Terdapat hubungan antara respon imun Th-17 pada gangguan fungsi ginjal terutama pasien dengan riwayat infeksi ginjal dengan psoriasis vulgaris. Tujuan: Mengetahui hubungan kadar ureum dan kreatinin terhadap tingkat keparahan psoriasis vulgaris. Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional yang dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dari bulan Maret-Mei 2022. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik incidental sampling dengan subjek penelitian diambil dari pasien psoriasis vulgaris yang berkunjung ke Poli Kulit-Kelamin sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Subjek penelitian mendapatkan hasil usia pasien rata-rata 46.95±15.85 tahun dengan median 46.00 (16.00- 70.00) tahun. Rerata kadar ureum dan kreatinin masing-masing adalah 20.30±7.83 dan 0.79±0.21. Kadar kreatinin memiliki hubungan yang bermakna terhadap skor PASI (r=0.53; p=0.016) dan DLQI (r=0.57; p=0.009), kadar ureum tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan skor PASI maupun DLQI (r=0.114; p=0.663 dan r=0.037; p=0.876). Kesimpulan: Kadar kreatinin memiliki hubungan yang bermakna terhadap tingkat keparahan psoriasis berdasarkan skor PASI dan DLQI. Kata kunci: DLQI, kreatinin, PASI, psoriasis, ureum
INJEKSI INTRADERMAL VS APLIKASI MICRONEEDLING DARI POLIDEOKSIRIBONUKLEOTIDA, ASAM HIALURONAT CROSS-LINKED, DAN GLUTATHIONE SEBAGAI TERAPI KOMBINASI UNTUK HIPERPIGMENTASI PERIORBITAL Chandra, Rudi; Norawati, Lilik
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.440

Abstract

Pendahuluan: Hiperpigmentasi periorbital (HPO) merupakan kondisi yang mengganggu secara kosme- tik, ditandai dengan pigmentasi yang terutama pada kelopak mata bagian bawah. Hiperpigmentasi periorbital sulit untuk diobati dan terbatasnya pilihan terapi yang dapat diandalkan karena patogenesis dan etiologinya yang kompleks. Ilustrasi Kasus: Kami melaporkan dua orang wanita dengan hiperpigmentasi infraorbital yang diterapi dengan kombinasi polideoksiribonukleotida (PDRN), asam hialuronat cross-linked, dan glu- tathione melalui injeksi intradermal di area infraorbital kanan dan aplikasi menggunakan microneedling di area infraorbital kiri, total dua sesi perawatan dengan interval satu minggu. Diskusi: Pengobatan HPO ha- rus dimodifikasi sesuai dengan etiologinya, seperti pigmentasi, vaskular, perubahan kulit, dan tipe campuran. Polideoksiribonukleotida menyebabkan induksi dari sekresi faktor pertumbuhan, sitokin anti-inflamasi, per- baikan jaringan, penyembuhan luka, dan anti-melanogenik. Asam hialuronat cross-linked bekerja sebagai an- tioksidan, pelembab, penginduksi kolagen, dan biomaterial untuk penyembuhan luka. Sedangkan glutathione merupakan bahan pencerah kulit yang bekerja dengan mengurangi produksi melanin, sebagai antioksidan, dan anti-keriput. Kesimpulan: Kombinasi PDRN, asam hialuronat cross-linked, dan glutathione efektif mengobati HPO tipe pigmentasi. Penggunaan injeksi intradermal dan aplikasi jarum mikro sama efektifnya dengan peng- hantaran obat intradermal.
RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT DAN RASIO TROMBOSIT LIMFOSIT DENGAN DERAJAT KEPARAHAN PSORIASIS TIPE PLAK Yefta Yefta; Agnes Sri Siswati; Niken Trisnowati; Fajar Waskito; Niken Indriastuti; Sunardi Radiono; Dwi Retno Adi Winarni
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 3 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i3.441

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Psoriasis merupakan gangguan inflamasi sistemik kronis dan rekuren yang mempengaruhi 2-3% populasi. Patogenesis psoriasis melibatkan neutrofil, limfosit, trombosit, sitokin dan kemokin. Penentuan derajat keparahan psoriasis tipe plak yang sering digunakan adalah Psoriasis Area Severity Index (PASI) memiliki kelemahan yaitu subyektivitas antar pemeriksa. Rasio neutrofil limfosit (N/L) dan rasio trombosit limfosit (T/L) adalah penanda sederhana respon inflamasi sistemik yang mudah diukur dan murah sebagai bagian dari pemeriksaan darah rutin dan umum digunakan dalam penyakit inflamasi kronis. Tujuan: mengetahui perbedaan dan hubungan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak berdasarkan PASI. Metode: Penelitian menggunakan rancangan potong lintang dengan subyek telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis komparatif dan korelatif digunakan untuk menilai perbedaan dan hubungan kedua rasio dengan skor PASI. Hasil: Jumlah subyek penelitian 48 orang dibagi menjadi 3 kelompok psoriasis (derajat ringan, sedang dan berat). Terdapat perbedaan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak (p<0,05). Terdapat hubungan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak berdasarkan PASI (p<0,05 dan r: 0,550, r: 0,314). Kesimpulan: terdapat perbedaan dan hubungan antara rasio N/L dan rasio T/L dengan derajat keparahan psoriasis tipe plak berdasarkan PASI. Kata Kunci: rasio neutrofil limfosit, rasio trombosit limfosit, psoriasis tipe plak, psoriasis area severity index (PASI)
PERAN MIKROBIOMA KULIT PADA AKNE Sari, Ninda; Adriman, Zikri; Pradistha, Aldilla
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.445

Abstract

Kulit adalah permukaan terluar tubuh, yang berfungsi untuk membentuk barier pelindung antara tubuh dan lingkungan eksternal. Kulit terdiri dari populasi mikroorganisme yang berbeda yang berada di lapisan epidermis dan dermis. Mikrobioma kulit berpartisipasi secara fisik, kimia, mikroba dan jalur imunologi bawaan serta adaptif dalam perannya sebagai barier kulit. Hilangnya keragaman mikrobioma kulit, serta perubahan komposisi alami, mendorong perkembangan penyakit inflamasi di kulit, seperti akne. Akne vulgaris adalah peradangan folikel sebaseus manusia yang paling sering. Beberapa mekanisme telah diusulkan dimana Cutibacterium acnes memperberat akne, termasuk aktivitas kelenjar sebaseus, pembentukan komedo, dan respon inflamasi pejamu. Meskipun peran C.acnes dalam patofisiologi akne tidak sepenuhnya dipahami, hilangnya keseimbangan antara filotipe C.acnes tampaknya berperan dalam memicu akne. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari distribusi strain C.acnes pada akne ringan dan berat. Staphylococcus epidermidis dapat mengontrol proliferasi C.acnes melalui fermentasi gliserol menjadi asam lemak rantai pendek dan melepaskan asam suksinat. Mallasezia juga jenis fungal yang hidup berdampingan dengan C.acnes dan dianggap potensial untuk menginduksi akne refrakter. Interaksi mikroorganisme di usus dan sistem kekebalan tubuh pejamu penting untuk menjaga homeostasis kulit melalui aksis usus-kulit.
PENGGUNAAN FILLER DAN SKIN BOOSTER PADA PEREMAJAAN KULIT: Penggunaan Filler pada Peremajaan kulit Setio Wati, Sri Karunia; Jusuf, Nelva Karmila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.447

Abstract

Filler adalah produk yang disuntikkan melalui jarum tajam atau kanula ke dalam kulit pada kedalaman yang berbeda, untuk memberikan volume pada dermis dan lemak subkutan. Filler banyak digunakan untuk indikasi estetika, karena dapat memperbaiki penampilan dengan menghaluskan atau menyamarkan garis-garis, tanda penuaan, dan kerutan di wajah dan tubuh. Selain itu, terdapat partikel kecil asam hialuronat (HA) yang dikenal sebagai skinbooster, yang merupakan metode baru dalam peremajaan kulit. Penyuntikan skinbooster berbeda dari filler, dimana penyuntikan dilakukan secara serial micropuncture intradermal dengan sejumlah kecil produk yang tidak memiliki fungsi untuk menciptakan volume (efek "volumizing") tetapi untuk melembabkan, mengencangkan dan menutrisi kulit secara mendalam dan tahan lama untuk melawan efek penuaan kulit. Tindakan filler dan skinbooster ini dapat dilakukan sesuai indikasi, dengan tetap memperhatikan kontraindikasinya. Selain itu juga harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang direkomendasikan, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi.
PERKEMBANGAN KEJADIAN LUAR BIASA PADA PENYAKIT MONKEYPOX TAHUN 2022: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS Dwiyana, Reiva Farah; Arrum, Ravika Khaila; Trifitriana, Monica; Agustin, Maulidina; Khairani, Fatima Aulia
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.449

Abstract

Pendahuluan: Monkeypox (MPX) adalah virus zoonosis (virus yang ditransfer ke manusia dari monyet) dengan gejala yang mirip dengan dengan variola. Sebelumnya, waktu inkubasi MPXV dilaporkan 4 - 14 hari bahkan sampai 17 hari setelah paparan. Pelaporan Wabah MPX 2022 dari berbagai negara non-endemis menimbulkan kecurigaan adanya jalur penularan antar manusia yang sebelumnya jarang ditemukan. Tujuan:. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan yang mungkin muncul dalam manifestasi klinis dan epidemiologis wabah MPX 2022 dibandingkan dengan penelitian sebelumnya mengenai wabah MPX tahun 2018. Metode: Dilakukan pencarian secara komprehensif pada topik yang meneliti wabah MPX pada tahun 2022 berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dari awal muncul kasus pertama hingga September 2022. Hasil: Wabah MPX pada tahun 2022 berbeda dari wabah MPX yang sebelumnya da. Perbedaan terlihat pada epidemiologi kasus, bentuk dan lokasi lesi kulit, dan yang paling penting, kemungkinan rute penularan. Diperlukan lebih banyak penelitian skala besar untuk mempelajari lebih lanjut tentang munculnya wabah MPX 2022 secara rinci. Kesimpulan: Wabah MPX pada tahun 2022 memiliki aspek yang berbeda dalam epidemiologi, jenis dan lokasi lesi kulit, dan khususnya pada jalur penularan (LSL) daripada wabah sebelumnya. Studi skala besar lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui lebih banyak tentang wabah MPX secara detail.
MANIFESTASI KULIT SETELAH VAKSIN COVID-19: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS DAN METAANALISIS Monica Trifitriana; Rido Mulawarman; Hari Darmawan
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.450

Abstract

Pendahuluan: Penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang telah terjadi hingga saat ini mendorong pemerintah dan berbagai negara untuk melakukan vaksinasi sebagai cara untuk melawan virus COVID-19. Hingga akhir Mei 2021, lebih dari 1,5 miliar dosis vaksin telah diberikan di seluruh dunia diikuti dengan bukti nyata adanya efek samping pada kulit terkait dengan penggunaan vaksin COVID-19. Tujuan: Mengetahui bukti terbaru dan pengetahuan dari manifestasi kulit yang terkait dengan kejadian setelah vaksinasi COVID-19 selama vaksinasi massal dapat membantu tenaga kesehatan dalam edukasi pasien. Metode: Pencarian dilakukan secara komprehensif pada topik yang menilai manifestasi kulit setelah vaksinasi covid-19 dari awal hingga mei 2022. Hasil: Terdapat 15 penelitian dari total 917 pasien yang menunjukan reaksi kulit yang paling sering terjadi setelah vaksin covid-19 adalah COVID-ARM (58,2%), urtika (22,3%), morbilliform eruption (10,6%), pitiriasis like rosea (6,1%), dan VZV Reactivation (2,6%). Dari hasil systematic review dan metaanalisis juga menunjukkan reaksi kulit yang dialami paling banyak terjadi pada wanita, middle-aged, setelah vaksin pertama (vaccine based mRNA)  dengan onset 1-21 hari setelah vaksinasi. Kesimpulan: Manifestasi kulit yang didapat setelah vaksin covid-19 terutama vaksin berbasis mRNA hampir sebagian besar hanya terbatas pada area tempat suntikan (COVID-ARM), dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, dan tidak ada gejala sistemik yang berbahaya.