cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
EFEKTIVITAS MINOSIKLIN SEBAGAI TERAPI AJUVAN PREDNISON UNTUK PENGOBATAN ERITEMA NODOSUM LEPROSUM NEKROTIKANS: SUATU LAPORAN KASUS Rianty, Fathia; Gunawan, Hendra; Usman, Hermin Aminah
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.454

Abstract

Pendahuluan: Manifestasi klinis reaksi kusta tipe 2, selain berupa eritema nodosum leprosum (ENL) klasik, dapat ditemukan bentuk klinis atipikal, salah satunya ENL nekrotikans. Pada reaksi kusta tipe 2 yang berat dan kronis, serta sudah tidak responsif terhadap terapi kortikosteroid tunggal, dapat diberikan minosiklin sebagai terapi ajuvan. Tujuan laporan kasus ini untuk menunjukkan efektivitas minosiklin sebagai terapi ajuvan prednison untuk pengobatan ENL nekrotikans. Kasus: Dilaporkan satu kasus kusta tipe borderline lepromatous disertai ENL nekrotikans pada seorang laki-laki berusia 23 tahun. Berdasarkan anamnesis diketahui pasien telah mengalami ENL berat lebih dari enam bulan dan tidak membaik dengan terapi kortikosteroid tunggal. Pada pemeriksaan fisis ditemukan ulkus multipel yang nyeri, dengan tepi meninggi, disertai black eschars di lengan dan tungkai. Gambaran histopatologis menunjukkan ulserasi epidermis, nekrosis di dermis, disertai gambaran vaskulitis leukositoklastik, infiltrat sel radang, dan panikulitis, yang menunjang diagnosis ENL nekrotikans. Pasien mendapat multidrug therapy-multibacillary, serta kombinasi prednison dan minosiklin 100 mg/hari. Perbaikan klinis terjadi setelah pengobatan bulan pertama. Diskusi: Lesi kulit awal ENL nekrotikans berupa plak atau nodul eritem, kemudian menjadi ulkus yang dalam dan nyeri, disertai black eschar. Minosiklin, selain memiliki efek anti-inflamasi, juga memiliki efek neuroprotektif dan sifat imunomodulasi, sehingga dapat digunakan dalam pengobatan reaksi kusta. Pada kasus ini, setelah enam bulan tidak berespons terhadap terapi prednison tunggal, terjadi perbaikan klinis setelah satu bulan mengonsumsi terapi kombinasi prednison dan minosiklin. Kesimpulan: Minosiklin efektif sebagai terapi ajuvan prednison untuk pengobatan ENL nekrotikans.
VAGINOSIS BAKTERIAL DENGAN KOINFEKSI KANDIDIASIS VULVOVAGINALIS PADA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS: SATU LAPORAN KASUS Heryadi, Fanny Fauziyyah; Mawardi, Prasetyadi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 1 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i1.455

Abstract

Vaginosis bakterial (VB) paling sering menyebabkan keputihan pada wanita berusia 14-49 tahun. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan flora normal yang digantikan oleh mikroorganisme patogen lainnya. Laporan kasus ini mendeskripsikan VB dengan koinfeksi kandidiasis vulvovaginal (KVV) pada pasien systemic lupus erythematosus (SLE). Seorang wanita, 23 tahun dengan riwayat SLE dan rutin mengkonsumsi metilprednisolon 4 mg, mengalami keputihan 3 bulan yang lalu, berwarna putih susu, banyak, terutama setelah senggama dan terasa gatal. Pemeriksaan vagina mendapatkan keputihan putih kekuningan, berbau tidak sedap, pH 6,5, dan tes amin positif. Pewarnaan gram menunjukkan clue cell >50%. Pasien didiagnosis VB, diberikan metronidazol 2x500 mg selama 7 hari. Pada evaluasi ditemukan keputihan putih kekuningan seperti keju di vaginanya. Pada pemeriksaan KOH ditemukan budding cells dan pseudohifa dan pemeriksaan kultur jamur ditemukan kolonisasi candida albican. Pasien mengalami koinfeksi VB-KVV, kemudian mendapat terapi flukonazol 150 mg dan doksisiklin 2x100 mg selama 7 hari. Vaginosis bakterial merupakan infeksi akibat pertumbuhan organisme anaerob yang menyebabkan morbiditas tinggi karena tingkat rekurensinya. Infeksi ini sering disertai dengan infeksi lain, seperti infeksi jamur dan bakteri atau virus lainnya. Diagnosis pasti VB bersama dengan KVV berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan mikroskopis dan kultur. Antibiotik dan obat antijamur merupakan terapi andalan untuk koinfeksi VB dengan KVV.
PERBANDINGAN PEMBERIAN KRIM SERAMID DAN SHEA BUTTER PADA PENURUNAN TRANSEPIDERMAL WATER LOSS Novriana, Dita Eka; Kusumawardani, Arie
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.457

Abstract

Pendahuluan: Kulit merupakan organ pelindung tubuh dari mikroorganisme dan bahan-bahan berba- haya lainnya. Kulit terdiri dari beberapa lapisan yaitu epidermis, demis, dan subkutan. Stratum korneum pada epidermis berperan untuk mencegah transepidermal waterloss (TEWL). Seramid dan shea butter merupakan bahan yang dapat berguna untuk membantu memperbaiki fungsi sawar kulit dengan mencegah TEWL. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pemberian krim seramid dan shea butter terhadap penurunan TEWL. Metode: Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Moewardi pada Februari – Maret 2020 terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan berusia 20–30 tahun. Nilai TEWL diperiksa terlebih dahulu sebelum pemberian perlakuan. Krim seramid dioleskan pada sisi volar lengan bawah kanan dan shea butter dioles- kan pada sisi volar lengan bawah kiri, masing-masing sebanyak dua kali sehari selama empat minggu. Uji normalitas data menggunakan Saphiro Wilk dan uji statistik dengan Independent T-Test. Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya perubahan nilai TEWL yang signifikan secara statistik pada penggunaan krim seramid dibandingkan shea butter dengan nilai p=0.000 (p<0.05). Kesimpulan: Penurunan nilai TEWL pada krim seramid lebih bermakna secara statistik dibandingkan dengan shea butter.
PIODERMA GANGRENOSUM PASCA INFEKSI HERPES ZOSTER PADA PASIEN KANKER PAYUDARA Jaclyn, Adeline; Mughni, Fadhli Aulia; Sutarjo, Agassi Suseno; Wahyudi, Danang Tri; Hoemardani, Aida SD
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.461

Abstract

Pendahuluan: Pioderma gangrenosum (PG) adalah dermatosis inflamasi neutrofilik langka yang ditandai dengan gambaran klasik berupa ulkus kulit yang khas, berkembang dengan cepat dan menyakitkan. Lebih dari 50% lesi berkembang karena fenomena patergi, yaitu timbulnya lesi PG di lokasi kulit yang mengalami trauma. Sebanyak 50-75% kasus memiliki penyakit sistemik yang mendasari, misalnya keganasan organ padat. Diagnosis PG biasanya sulit ditegakkan secara dini. Kasus: Wanita 68 tahun dengan riwayat kanker payudara menunjukkan lesi ulseratif progresif di area perut hingga punggung, yang muncul setelah infeksi herpes zoster (HZ). Biopsi dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan suatu keganasan, infeksi, atau vaskulitis, dan mendukung diagnosis PG. Terapi kortikosteroid sistemik dosis tinggi menunjukkan respons yang baik dalam 1 minggu. Diskusi: PG ulseratif adalah varian yang paling sering ditemui, termasuk pada PG yang terkait paraneoplastik. Terdapat dua kriteria diagnostik yang dapat membantu penegakkan diagnosis PG, yaitu kriteria diagnostik PG ulseratif dan sistem penilaian PARACELSUS. Kesimpulan: PG perlu menjadi pertimbangan diagnosis pada kasus ulseratif dengan kemungkinan adanya fenomena patergi dan penyakit sistemik yang mendasari. Pemeriksaan histopatologis perlu dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding dan pengobatan dengan agen imunosupresif dianjurkan untuk PG.
TERAPI KOMBINASI BEDAH KIMIA ASAM LAKTAT DAN ASAM FITIK PADA MELASMA DENGAN FITZPATRICK'S SKIN TYPE IV Tazakka, Achmad Aidil; Murlistyarini, Sinta; Ekasari, Dhany Prafita
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.464

Abstract

Terapi baku emas melasma hingga saat ini adalah hidrokuinon. Berbagai terapi adjuvan telah dikembangkan diantaranya bedah kimia a-hydroxy acid (AHA). Terapi bedah kimia asam laktat (LA) dan asam fitik (PA) merupakan AHA yang masih jarang digunakan pada melasma. Dilaporkan dua pasien perempuan dengan keluhan bercak kecoklatan pada kedua pipi. Pemeriksaan dermatologis regio malar didapatkan makula dan patch hiperpigmentasi multipel dengan Fitzpatrick's skin type IV. Pemeriksaan lampu Wood pasien pertama dididagnosis melasma tipe epidermal dan pasien kedua melasma tipe campuran. Kedua pasien diberikan krim tretinoin 0,05% setiap malam, tabir surya SPF 45 dua kali/hari, tindakan bedah kimia kombinasi LA dan PA setiap empat minggu sebanyak empat kali. Tidak didapatkan efek samping seperti rasa terbakar, kulit kemerahan, atau rasa nyeri. Observasi secara klinis terdapat perbaikan pada lesi epidermal. Kemampuan penetrasi kombinasi LA dan PA yang dangkal menyebabkan penurunan kontras lesi epidermis pada kedua pasien. Hal ini disebabkan LA dan PA memiliki molekul besar sehingga memiliki efek pada lesi superfisial dibandingkan lesi yang lebih dalam. Kombinasi LA dan PA pada kedua pasien memiliki keamanan dan kenyamanan yang baik. Terapi bedah kimia kombinasi LA dan PA dapat menjadi pilihan terapi adjuvan melasma dengan Fitzpatrick's skin type IV.
VITAMIN D SEBAGAI TERAPI ADJUVAN UNTUK PASIEN DERMATITIS ATOPIK ANAK Hutasuhut, Magna Fitriani; Hapsari, Windy Atika; Nilasari, Hanny; Agustin, Triana
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.465

Abstract

Pendahuluan: Vitamin D berperan penting dalam kesehatan kulit. Vitamin D diketahui terlibat dalam patogenesis dan pengobatan berbagai penyakit kulit salah satunya dermatitis atopik. Saat ini masih belum diketahui secara pasti apakah pemberian vitamin D peroral pasien dermatitis atopik memberikan hasil yang baik. Kasus: Laporan kasus berbasis bukti ini untuk menelaah akurasi apakah pemberian vitamin D suplementasi dapat disarankan pada pasien dermatitis atopik. Metode: Metode yang dilakukan adalah pencarian literatur secara sistematis menggunakan database PubMed/MEDLINE, EMBASE, ProQuest, Cochrane, dan Scopus. Studi yang terpilih akan diseleksi terkait duplikasi, judul, dan abstrak. Setelah itu dilakukan telaah kritis berdasarkan critical appraisal sheet dari Centre of Evidence-Based Medicine (CEBM) University of Oxford. Hasil: Tiga studi telaah sistematis dan 1 uji klinis acak tersamar ditemukan dari pencarian literatur secara sistematik untuk menilai performa pemberian vitamin D pada pasien DA berat pada anak dan dewasa. Keempat studi menunjukkan bahwa pemberian vitamin D memiliki efek yang baik dalam perbaikan klinis penyakit dermatitis atopik. Kesimpulan: Tambahan pemberian vitamin D pada pasien DA anak dapat memperbaiki lesi klinis pasien. Perlu penelitian lebih lanjut, mengenai jenis vitamin D, dosis dan durasi pemberiannya.
VARIASI HASIL ANOSKOPI DAN PERANNYA UNTUK DETEKSI KUTIL INTRA-ANUS: SERIAL KASUS Halim, Melissa; Adisasmito, Ayutika Saraswati; Azizah, Anggita Nur; Irawan, Yudo; Nilasari, Hanny; Marissa, Melani
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 2 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i2.478

Abstract

Pendahuluan: Kutil intra-anus, yang disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV), meningkat insidennya terutama pada kelompok risiko tertentu seperti laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) dan individu dengan infeksi HIV. Laporan kasus: Dilaporkan empat kasus kutil intra-anus yang mendasari pemeriksaan anoskopi sebagai alat diagnostik utama, diikuti dengan pemeriksaan tes asam asetat dan aplikasi asam trikloroasetat (TCA) 90%. Hasil pemeriksaan menunjukkan variasi dalam presentasi klinis kutil intra-anus, dengan satu kasus mengarah pada diagnosis lesi subklinis. Kesimpulan: Variasi dalam presentasi klinis kutil intra-anus menekankan pentingnya pemantauan berkala dengan anoskopi disertai evaluasi dari terapi yang telah diberikan.
Tarik Benang Menggunakan Asam Polilaktat / Polikaprolakton yang Diperkaya Asam Hialuronat pada Penuaan Wajah Sepertiga Tengah dan Bawah: Benang Polilaktat/Polikaprolakton Yang Diperkaya Asam Hialuronat pada Penuaan Wajah Chandra, Rudi; Norawati, Lilik
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.380

Abstract

Pendahuluan: Tarik benang merupakan suatu prosedur di mana benang bioabsorbable dimasukkan di bawah kulit yang bertujuan untuk melawan ptosis gravitasional dan mengangkat jaringan ke atas secara invasif minimal. Inovasi terbaru menggunakan benang yang terbuat dari poly-L-lactic-acid/polycaprolactone (PLLA/PCL) yang diperkaya hyaluronic acid (PLLA/PCL/HA) telah banyak diminati. Penambahan HA berperan sebagai antioksidan, pelembap, dan biomaterial untuk penyembuhan luka. Laporan kasus ini disusun untuk menggambarkan efektivitas yang signifikan dari tarik benang yang menggunakan PLLA/PCL/HA pada penuaan wajah. Ilustrasi kasus: Terdapat dua orang pasien, seorang wanita (40 tahun) dan seorang pria (48 tahun) dengan fototipe kulit Fitzpatrick III-IV, yang mengalami penuaan wajah sepertiga tengah dan bawah dengan pengenduran sedang hingga sangat berat menurut skala penilaian fotografik Ezure. Kedua pasien menjalani prosedur tarik benang menggunakan empat benang PLLA/PCL/HA pada masing-masing sisi wajah. Tindak lanjut dilakukan setelah tiga bulan dengan hasil perbaikan klinis yang sangat baik. Kesimpulan: Benang PLLA/PCL generasi baru yang diperkaya HA memberikan efek pengangkatan kulit yang lebih bertahan lama, efek peremajaan yang lebih baik dalam perbaikan tekstur, kerutan, skar, dan perubahan volumetrik wajah sehingga efektif dalam penanganan penuaan wajah sepertiga tengah dan bawah. 
Diagnosis and Treatment for Pityriasis Rosea Prayogo, Keyko Putri; Anggraini, Ika Dwi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.389

Abstract

Pitiriasis rosea (PR) merupakan kelainan kulit jinak akut papuloskuamosa yang swasirna. Kejadian PR di seluruh dunia dilaporkan sebanyak 0,3 - 1,2%. Infeksi human herpes virus (HHV) 6, 7, dan beberapa obat diduga sebagai pencetus PR. Gejala klinis diawali lesi primer berupa herald patch, diikuti lesi sekunder berukuran lebih kecil yang tersebar pada garis Langer (lipatan tubuh), dapat meluas ke lengan dan paha atas. Klasifikasi PR terbagi menjadi tipikal dan atipikal berdasarkan keberadaan herald patch, lokasi lesi, morfologi lesi, dan perjalan penyakit. Diagnosis PR dapat ditegakkan berdasarkan tiga kriteria, yaitu: kriteria esensial, opsional, dan eksklusi. Derajat keparahan PR ditentukan dengan Pityriasis Rosea Severity Score (PRSS). Pemeriksaan dermoskopi dan histopatologis dapat membantu dalam mendiagnosis PR. Gambaran dermoskopi yang dilihat di antaranya: background, warna skuama, susunan skuama, dan pola pembuluh darah. Pemeriksaan histopatologis merupakan baku emas. Terapi PR di antaranya antihistamin, kortikosteroid, asiklovir, makrolida, dan narrowband UVB (NB UVB) phototerapy. Berdasarkan studi dengan Level of Evidence (LoE) tertinggi asiklovir dianggap aman dan efektif dalam mengobati PR pada fase awal dengan cara meredakan eritema pada lesi lama dan mengurangi jumlah lesi baru.
Tata Laksana Hiperpgmentasi pada Area Lipatan Lubis, Nabila Adani; Jusuf, Nelva Karmila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.393

Abstract

Hiperpigmentasi pada area lipatan merupakan salah satu gangguan pigmentasi kulit yang menyebabkan seseorang melakukan konsultasi dermatologis, karena hiperpigmentasi ini menjadi masalah kosmetik yang memengaruhi seseorang baik secara emosional maupun psikologis. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hiperpigmentasi pada area lipatan, seperti hiperpigmentasi pasca inflamasi, acanthosis nigricans, lichen planus pigmentosus, prurigo pigmentosa, gangguan endokrin, dan kondisi lainnya. Tata laksana hiperpigmentasi pada area lipatan memerlukan banyak modalitas dan waktu pengobatan yang berkepanjangan sehingga membutuhkan kesabaran. Tata laksana meliputi tindakan pencegahan, terapi medikal, pengelupasan kimiawi, serta terapi laser. Pencegahan dapat dilakukan dengan menghilangkan kemungkinan penyebab timbulnya hiperpigmentasi. Pengobatan topikal termasuk hidrokuinon (sendiri atau dalam kombinasi dengan agen lain), desonide, retinoid, asam azaleat, asam kojik, arbutin, dan niacinamide. Pengelupasan kimiawi menggunakan asam glikolat, asam salisilat, asam trikloroasetat (TCA), asam laktat, tretinoin, dan resorsinol. Pengobatan berupa terapi laser efektif untuk hiperpigmentasi dengan menunjukkan perbaikan klinis yang bertahan lebih lama. Makalah ini memaparkan tata laksana yang tepat pada hiperpigmentasi area lipatan.