cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 452 Documents
Analisis Determinan Kejadian Hipoglikemia Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Pengguna Obat Antidiabetes Oral Di Apotek M Kota Bandung Amanda; Veny Usviany
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1503

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang menggunakan obat antidiabetes oral. Penggunaan terapi tersebut dapat meningkatkan risiko hipoglikemia yang berpotensi menimbulkan komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan lama menderita diabetes melitus dengan risiko hipoglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 pengguna obat antidiabetes oral di Apotek M Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 yang memperoleh terapi obat antidiabetes oral di Apotek M Kota Bandung. Sampel penelitian berjumlah 63 pasien yang dipilih dari populasi menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p=0,799), tingkat pendidikan (p=0,716), usia (p=0,124), maupun lama menderita diabetes melitus (p=0,836) dengan risiko hipoglikemia. Disimpulkan bahwa karakteristik sosiodemografi yang diteliti tidak berhubungan dengan risiko hipoglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 pengguna obat antidiabetes oral.
Model Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Meningkatkan Recovery Pasien Skizofrenia: Studi Cross-Sectional Rahmat Pannyiwi; Cakrawati R Cakrawati R; Rezqiqah Aulia Rahmat; Maelia Unayah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1504

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memengaruhi fungsi kognitif, emosional, sosial, dan okupasional pasien. Proses pemulihan (recovery) tidak hanya ditentukan oleh pengobatan farmakologis, tetapi juga oleh kualitas hubungan terapeutik antara pasien dan tenaga kesehatan, khususnya perawat. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu intervensi keperawatan yang berperan dalam membangun kepercayaan, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi, memperkuat harapan, dan mendukung kemandirian pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara model komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat recovery pasien skizofrenia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 80 pasien skizofrenia yang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Data komunikasi terapeutik perawat dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi pasien, sedangkan recovery diukur menggunakan instrumen pemulihan psikososial. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menilai komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik (67,5%). Pasien yang menerima komunikasi terapeutik kategori baik lebih banyak menunjukkan tingkat recovery tinggi dibandingkan pasien yang menilai komunikasi terapeutik kurang baik. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi terapeutik perawat dan recovery pasien skizofrenia (p<0,05). Komunikasi terapeutik yang efektif dapat memperkuat hubungan saling percaya, meningkatkan partisipasi pasien dalam perawatan, dan mendukung proses pemulihan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi komunikasi terapeutik perlu menjadi bagian penting dalam pelayanan keperawatan jiwa.
Hubungan Dukungan Petugas Dan Akses Pelayanan Kesehatan Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TBC Di Puskesmas Cluwak Yetti Indarwati; Yeni Rusyani; Luluk Dermawan
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis menjadi masalah kesehatan di masyarakat, baik Indonesia maupun Internasional. Sekitar ¼ populasi penduduk dunia terinfeksi dan 89% TBC diderita oleh orang dewasa, sisanya 11% anak. Angka kesembuhan kasus TB terkonfirmasi di Pati tahun 2024 sebesar 72,1%, angka keberhasilan pengobatan sebesar 85,7%. Pasien merasa malas melanjutkan proses pengobatannya sampai dinyatakan sembuh, kebanyakan kasus ditemukan penderita TB merasa sembuh setelah minum OAT selama 2 bulan, karena gejala penyakitnya sudah dirasa berkurang. Untuk mewujudkan kepatuhan minum OAT perlu adanya faktor pendukung, salah satunya dukungan petugas dan akses pelayanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan petugas dan akses pelayanan kesehatan dengan kepatuhan minum obat pada pasien TBC diPuskesmas Cluwak. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif desain cross-sectional. Sampel sebanyak 30 pasien. Pengumpulan data dengan kuisioner terstruktur, mencakup kuesioner dukungan petugas, akses pelayanan kesehatan dan MMAS. Analisis data menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics, menggunakan uji korelasi Spearman (Rho). Hasil: Menunjukan hubungan antara dukungan petugas (p=0,003 koefisien korelasi 0,524) dan akses pelayanan kesehatan (p=0,004 koefisien korelasi 0,513) dengan kepatuhan berobat pada pasien TBC. Hasil keduanya menunjukan arah korelasi positif (searah) dengan kategori kuat.Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara dukungan petugas dan akses pelayanan kesehatan dengan kepatuhan minum obat pasien TBC di Puskesmas Cluwak.
Hubungan Komunikasi Tenaga Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya Nova Isdania; Dwi Puji Susanti; Sony Factarun
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1506

Abstract

Latar Belakang: Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan. Salah satu faktor yang memengaruhi kepuasan pasien adalah komunikasi tenaga kesehatan. Studi pendahuluan di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya menunjukkan masih terdapat pasien yang mengeluhkan kurang jelasnya informasi, minimnya kesempatan bertanya, dan kurang optimalnya sikap empati tenaga kesehatan. Tujuan: Mengetahui hubungan komunikasi tenaga kesehatan dengan kepuasan pasien di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat jalan sebanyak 120 orang. Teknik sampling menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden menilai komunikasi tenaga kesehatan dalam kategori baik dan tingkat kepuasan pasien dalam kategori puas. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value = 0,000 (<0,05) dan koefisien korelasi r = 0,721 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan hubungan kuat dan arah positif antara komunikasi tenaga kesehatan dan kepuasan pasien. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi tenaga kesehatan dengan kepuasan pasien di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya. Semakin baik komunikasi yang diberikan tenaga kesehatan, semakin tinggi tingkat kepuasan pasien.
Hubungan Kompetensi Digital Dan Beban Kerja Dengan Kualitas Dokumentasi Asuhan Kebidanan Elektronik Sahalia Sahalia
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1507

Abstract

Penerapan dokumentasi asuhan kebidanan elektronik menuntut bidan memiliki kompetensi digital yang memadai serta beban kerja yang dapat dikelola dengan baik. Kompetensi digital yang rendah dan beban kerja yang tinggi dapat memengaruhi kelengkapan, ketepatan, dan ketepatan waktu dokumentasi asuhan kebidanan elektronik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kompetensi digital dan beban kerja dengan kualitas dokumentasi asuhan kebidanan elektronik. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Responden penelitian berjumlah 80 bidan yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan yang telah menerapkan dokumentasi asuhan kebidanan elektronik. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur dan instrumen penilaian dokumentasi. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38 responden (47,5%) memiliki kompetensi digital baik, 29 responden (36,3%) memiliki kompetensi digital sedang, dan 13 responden (16,2%) memiliki kompetensi digital rendah. Berdasarkan beban kerja, sebanyak 31 responden (38,8%) memiliki beban kerja rendah, 35 responden (43,7%) memiliki beban kerja sedang, dan 14 responden (17,5%) memiliki beban kerja tinggi. Kualitas dokumentasi elektronik berada pada kategori baik pada 45 responden (56,3%), sedang pada 25 responden (31,2%), dan kurang pada 10 responden (12,5%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kompetensi digital dengan kualitas dokumentasi asuhan kebidanan elektronik (p<0,05). Beban kerja juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kualitas dokumentasi asuhan kebidanan elektronik (p<0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi digital dan pengelolaan beban kerja merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas dokumentasi asuhan kebidanan elektronik
Analisis Kebutuhan Sumber Daya Manusia Farmasi Sebagai Dasar Perencanaan Pelayanan Kefarmasian Yang Optimal Puti Mandasari; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1508

Abstract

Sumber daya manusia farmasi memiliki peran penting dalam menjamin mutu, keamanan, efektivitas, dan kesinambungan pelayanan kefarmasian. Ketidakseimbangan antara beban kerja dan ketersediaan tenaga farmasi dapat menyebabkan keterlambatan pelayanan, peningkatan beban kerja, penurunan mutu pelayanan, serta peningkatan risiko kesalahan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan sumber daya manusia farmasi sebagai dasar perencanaan pelayanan kefarmasian yang optimal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode analisis beban kerja. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan pengukuran kegiatan pelayanan kefarmasian yang meliputi skrining resep, penyiapan dan penyerahan obat, pelayanan informasi obat, pengelolaan persediaan, kegiatan administrasi, serta kegiatan kefarmasian lainnya. Analisis mempertimbangkan jumlah tenaga yang tersedia, waktu kerja efektif, volume kegiatan, dan waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. Hasil analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan tenaga farmasi. Perencanaan kebutuhan sumber daya manusia berbasis beban kerja diharapkan memberikan dasar yang lebih objektif dalam menentukan kebutuhan tenaga dibandingkan hanya menggunakan rasio normatif. Ketersediaan tenaga farmasi yang sesuai dengan beban kerja dapat mendukung efisiensi pelayanan, meningkatkan keselamatan pasien, dan memperkuat mutu pelayanan kefarmasian. Oleh karena itu, analisis beban kerja perlu diintegrasikan dalam perencanaan dan evaluasi sumber daya manusia secara berkala.
Efektivitas Akupresur Berbasis Pemberdayaan Keluarga terhadap Penurunan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Emi Yuliza; Solehudin Solehudin
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1509

Abstract

Hypertension is a major public health problem associated with an increased risk of cardiovascular disease, stroke, kidney disease, and other complications. The 2023 Indonesian Health Survey reported that the prevalence of hypertension based on blood pressure measurements among adults aged ≥18 years was 30.8%. Hypertension management requires a sustainable approach that includes not only pharmacological treatment but also behavioral modification and family empowerment. Acupressure is a complementary intervention that may contribute to blood pressure control. This study aimed to analyze the effectiveness of family empowerment-based acupressure in reducing blood pressure among patients with hypertension in the working area of Pasar Minggu District Public Health Center. A pre-experimental one-group pretest-posttest design was used. The study involved 12 patients with hypertension who received family empowerment-based acupressure intervention. Systolic and diastolic blood pressure were measured before and after the intervention. Descriptive and inferential analyses were performed using a paired t-test for systolic blood pressure and the Wilcoxon signed-rank test for diastolic blood pressure, with a significance level of α=0.05. The mean systolic blood pressure decreased from 146.67±28.31 mmHg before intervention to 126.83±14.06 mmHg after intervention, representing a mean reduction of 19.83 mmHg. The paired t-test demonstrated a statistically significant difference in systolic blood pressure (p=0.006). The mean diastolic blood pressure decreased from 90.25±17.47 mmHg to 82.42±8.43 mmHg, with a mean reduction of 7.83 mmHg. However, the change in diastolic blood pressure was not statistically significant (p=0.241, Wilcoxon test). Family empowerment-based acupressure showed potential for reducing blood pressure, particularly systolic blood pressure, among patients with hypertension. This approach may be considered as a complementary intervention in family nursing; however, larger studies with control groups are needed to establish stronger evidence of effectiveness.
Analisis Indeks Eritrosit Dan Kadar Serum Feritin Sebagai Indikator Risiko Anemia Dalam Mendukung Pengembangan Program Promosi Kesehatan Di Rs Dr.Tadjuddin Chalid Makassar Rezqiqah Aulia Rahmat; Rahmawati Azis; Muh. Ilyas Nur
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1511

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih memiliki prevalensi tinggi dan berdampak terhadap kualitas hidup serta produktivitas. Indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC) serta kadar serum feritin merupakan parameter laboratorium yang berperan dalam deteksi dini anemia. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran indeks eritrosit dan kadar serum feritin, hubungannya dengan kejadian anemia, serta pemanfaatannya dalam mendukung pengembangan Program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) di RS Dr. Tadjuddin Chalid Makassar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain crosssectional menggunakan data sekunder rekam medis 1.500 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki nilai indeks eritrosit dan kadar serum feritin normal. Uji Chi-Square menunjukkan bahwa MCV, MCH, MCHC, dan kadar serum feritin berhubungan signifikan dengan kejadian anemia (p<0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa MCV rendah merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian anemia (OR=5,31; 95% CI=3,95–7,21), diikuti MCH rendah (OR=3,31), kadar serum feritin rendah (OR=2,32), dan MCHC rendah (OR=1,84). Disimpulkan bahwa indeks eritrosit dan kadar serum feritin merupakan indikator yang berhubungan dengan kejadian anemia dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar deteksi dini serta pengembangan PKRS melalui skrining, edukasi kesehatan, konseling gizi, dan intervensi promotive bagi kelompok berisiko
Hubungan Antara Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Sunyaragi Kota Cirebon Hasya Hauna Aulia Mutaqin; Ignatius Hapsoro Wirandoko; Menik Herdiyanti
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1514

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels resulting from impaired insulin secretion, insulin resistance, or a combination of both. Dietary management is an important component of glycemic control in patients with T2DM. Dietary patterns include the type, frequency, and amount of food consumed. This study aimed to determine the association between dietary patterns and blood glucose levels among patients with type 2 Diabetes Mellitus at Sunyaragi Community Health Center, Cirebon City. This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach. The study was conducted at Sunyaragi Community Health Center, Cirebon City, from April to June 2026. The study population consisted of 100 registered patients with type 2 Diabetes Mellitus who underwent routine examinations. A total of 80 respondents were selected using consecutive sampling. Dietary patterns were assessed using a Food Frequency Questionnaire (FFQ), while blood glucose levels were measured using a glucometer. Data were analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test. Most respondents had poor dietary patterns, consisting of 66 respondents (82.5%), followed by moderate dietary patterns in 9 respondents (11.3%) and good dietary patterns in 5 respondents (6.2%). A total of 56 respondents (70.0%) had abnormal blood glucose levels, while 24 respondents (30.0%) had normal blood glucose levels. Among respondents with poor dietary patterns, 50 (75.8%) had abnormal blood glucose levels. In contrast, 4 respondents (80.0%) with good dietary patterns had normal blood glucose levels. The Chi-Square test demonstrated a significant association between dietary patterns and blood glucose levels (p=0.019). There was a significant association between dietary patterns and blood glucose levels among patients with type 2 Diabetes Mellitus at Sunyaragi Community Health Center, Cirebon City. Improving dietary patterns should be an important component of education and management for patients with type 2 Diabetes Mellitus in primary healthcare settings.
Efektivitas Hipnoterapi terhadap Tingkat Anxietas dan Tekanan Darah pada Ibu Rumah Tangga dengan Penyakit Hipertensi Indri Sarwili; Solehudin Solehudin; Maya Dwi Lestari; Inas Syabanasyah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1515

Abstract

Hypertension is a major chronic health problem associated with an increased risk of cardiovascular, cerebrovascular, and renal diseases. Psychological conditions, including anxiety, may be associated with increased sympathetic activity and cardiovascular responses, potentially affecting blood pressure. Hypnotherapy is a complementary approach that may promote relaxation, reduce anxiety, and potentially influence physiological responses. This study aimed to analyze the effectiveness of hypnotherapy on anxiety levels and blood pressure among housewives with hypertension. A quantitative pre-experimental study with a one-group pretest-posttest design was conducted. Nineteen participants received hypnotherapy intervention. Anxiety levels and blood pressure were measured before and after the intervention. Descriptive statistics and the Wilcoxon signed-rank test were used because the distribution of differences did not consistently meet normality assumptions. The mean anxiety score decreased from 24.26 ± 2.70 before the intervention to 12.58 ± 2.39 after the intervention, representing a mean reduction of 11.68 points. The Wilcoxon test demonstrated a statistically significant difference in anxiety scores before and after hypnotherapy (p<0.001). Mean systolic blood pressure decreased from 144.58 ± 19.05 mmHg to 136.58 ± 20.64 mmHg, although the difference was not statistically significant (p=0.052). Mean diastolic blood pressure decreased from 91.21 ± 12.03 mmHg to 80.89 ± 10.99 mmHg, with a statistically significant difference (p=0.011). Hypnotherapy demonstrated a substantial effect on reducing anxiety and was associated with a significant reduction in diastolic blood pressure. Although systolic blood pressure decreased descriptively, the change did not reach statistical significance. Hypnotherapy may be considered a complementary intervention for anxiety management among patients with hypertension, but it should not replace standard antihypertensive treatment and risk-factor management.