cover
Contact Name
Hilwan Yuda Teruna
Contact Email
hilwan@iai.id
Phone
+6221-56962581
Journal Mail Official
info@jfi-online.org
Editorial Address
Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia Jalan Wijayakusuma No. 17 Tomang, Jakarta Barat Jakarta 11430
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Farmasi Indonesia
ISSN : 14121107     EISSN : 2355696X     DOI : https://doi.org/10.35617/jfionline
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Indonesia adalah jurnal nasional (peer-reviewed) yang diterbitkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia dua kali dalam setahun sebagai sarana diseminasi ilmu pengetahuan di bidang farmasi, yaitu: farmasi klinis, farmasi masyarakat/komunitas, kimia farmasi, biologi farmasi/famakognosi, farmakologi, pengembangan obat/kimia medisinal, formulasi dan bidang terkait. Artikel yang dipublikasi berupa hasil penelitian dan mini-review. JFIOnline telah mulai diterbitkan sejak tahun 2009 dalam edisi cetak. Pada tahun 2014 mulai dibuat edisi online. Akses artikel pada jurnal tidak berbayar, tetapi dikenakan biaya proses publikasi untuk penulis (open access journal). Mulai bulan Juli 2019 jurnal ini dapat diakses di alamat yang baru yaitu www.jfi-online.org dari alamat sebelumnya www.jfionline.org.
Articles 162 Documents
Analisis Komparatif Sosiodemografi Terhadap Kepatuhan Penggunaan Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi RSUD Puri Husada Tembilahan Husnawati, Husnawati; Pratiwi, Erniza; Syafitri, Yellia; Laia, Cindy Oktaviana; Zulfitri, Reni
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension is a condition where systolic blood pressure increases to more than 140 mmHg and diastolic blood pressure to more than 90 mmHg. Compliance with antihypertensive medication is crucial. Hypertension cannot be cured and must be consistently monitored to prevent complications that can lead to death. One of the factors that can affect the level of medication adherence in patients is the patient's sociodemographics including age, gender, educational level and employment status. The purpose of this study was to analyze the effect of sociodemography on compliance with antihypertensive use in hypertensive patients at Puri Husada Tembilahan Hospital. This research is an observational study with a cross-sectional research design with analytic descriptive method. The sample in this study were patients with a primary diagnosis of hypertension with or without comorbidities who went to the Puri Husada Tembilahan Hospital at the time of the study and met the inclusion criteria. Based on the results of the study it was found that of the 4 sociodemographic aspects studied, namely age, gender, education level and employment status, only education level affected the level of adherence to taking medication in hypertensive patients (P value = 0.000), where respondents with higher education levels had higher levels of higher adherence than respondents with low levels of education.
Analisis Cost of Illness Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta Barat Arrang, Sherly Tandi; Fira Rosa, Irene; Notario, Dion
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

COVID-19 merupakan penyakit yang muncul pertama kali ota Wuhan, China pada tahun 2019 dan kasus pertama di Indonesia terdeteksi pada Maret 2020. Peningkatan kasus terjadi dengan cepat dan memerlukan penanganan yang serius sehingga menimbulkan beban ekonomi. Analisis beban ekonomi penyakit COVID-19 perlu dilakukan. Analisa biaya pada penelitian ini menggunakan metode Cost Of Illness (COI). Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif, dengan data periode Desember 2020- Juli 2021 dari Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Jakarta Barat. COI dihitung dari biaya medis langsung pasien. Metode analisis yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda menggunakan aplikasi Rstudio. Jumlah responden adalah 138 pasien. Pada hasil analisa didapatkan total rata-rata biaya medis langsung pasien rawat inap COVID-19 berdasarkan usia yaitu Rp. 6.580.657 (0-5 tahun), Rp. 8.317.592 (6-18 tahun), Rp. 8.595.254 (19-30 tahun), Rp. 11.787.268 (31-45 tahun), Rp. 12.537.695 (46-59 tahun), dan Rp. 16.250.460 (>60 tahun). Berdasarkan jenis kelamin Rp. 12.416.202 (perempuan) dan Rp. 11.285.017 (laki-laki). Berdasarkan lama rawat inap yaitu Rp. 7.881.911 (<7 hari), Rp. 12.721.150 (7-14 hari), dan Rp. 26.282.724 (>14 hari). Berdasarkan tingkat keparahan yaitu Rp. 10.096.730 (ringan), Rp. 10.633.881 (sedang), dan Rp. 16.597.570 (berat). Berdasarkan penyakit komorbid yaitu Rp. 16.981.774 (tanpa komorbid), Rp. 19.670.640 (1 komorbid), Rp. 22.990.759 (2 komorbid), dan Rp. 30.231.603 (>2 komorbid). Berdasarkan hasil uji pengaruh, terdapat pengaruh signifikan antara lama rawat inap, tingkat keparahan, dan penyakit komorbid terhadap biaya medis langsung (P<0,05), sedangkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara usia dan jenis kelamin terhadap biaya medis langsung perawatan pasien rawat inap COVID-19 (P>0,05).
Kepuasan Pasien Covid-19 terhadap Layanan Konseling Obat Jarak Jauh oleh Apoteker: Sebuah Studi Lintas Sektoral Cokro, Fonny; Ferlia, Yenni; Usman, Hadiyanto
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telemedicine has been used extensively since the COVID-19 pandemic. However, the non-face-to-face interactions make telemedicine services more challenging. This study was conducted to determine the satisfaction of drug counseling services provided by pharmacists through telemedicine in Jakarta, Indonesia, and to assess the correlation between the type of telemedicine and the provision of pharmacists’ drug counseling. This investigation is cross-sectional, and data were collected from February to May 2022 through Cluster and Snowball sampling methods. Chi-Square was used to measure the relationship between telemedicine models and the provision of drug counseling. Of the 448 respondents, 85.71% received counseling, giving the pharmacist's counseling performance a good value of 64.06-98.18%. More than 80% of respondents were satisfied in all aspects of satisfaction. The bivariate analysis shows a significant relationship between the type of telemedicine and drug counseling services (p=0.032). This research highlights the importance of optimizing telemedicine approaches to enhance patient care in pharmaceutical services.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Melalui Metode FRAP dan Penambatan Molekuler Sadik, Fahmi; Marwati, Eri
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v16i2.294

Abstract

This study evaluated the antioxidant activity of Jatropha curcas L. leaf ethanol extract via Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) assay and molecular docking against Superoxide Dismutase 1 (SOD1) enzyme. Extraction was performed by maceration using 96% ethanol. In vitro results showed the extract possessed moderate antioxidant capacity of 3.52 mg TE/g and contained flavonoids and tannins. In silico analysis revealed that Naringenin-7-O-β-D-glucopyranoside exhibited the highest binding affinity towards SOD1 with a Gibbs free energy of -10.41 kcal/mol, surpassing the co-crystal ligand (-9.05 kcal/mol). Stable interactions were formed through hydrogen bonds at key residues LYS175 and TRP109. This study concludes that J. curcas leaves have dual potential as electron donors and modulators of body defense enzymes for combating oxidative stress.
Gambaran Pola Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien Skizofrenia Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Sutrisno, Entris; Mulyani, Yani; Sodik, Jajang Japar
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v18i1.344

Abstract

Indonesia mengalami peningkatan kasus gangguan mental yang mengkhawatirkan setiap tahunnya. Pada tahun 2019, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Obat antipsikotik merupakan pilihan pengobatan utama untuk skizofrenia, karena membantu mengurangi gejala psikotik dan menurunkan kemungkinan berkembangnya gangguan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia di bangsal rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data retrospektif. Data sekunder digunakan untuk analisis. Penelitian ini memfokuskan pada 194 rekam medis pasien yang menerima pengobatan antipsikotik antara Januari hingga Desember 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,19% obat antipsikotik yang diresepkan adalah obat kombinasi, sementara 43,81% adalah obat tunggal. Kombinasi obat antipsikotik yang paling umum adalah haloperidol-klosapin, yang mencapai 36,60% dari resep, dan risperidon, sebagai obat tunggal, mencapai 19,67% dari resep
Aktivitas Antioksidan Krim Hidrofilik Ekstrak Metanol Bunga Cempaka Putih (Magnolia alba) Mendra, Ni Nyoman Yudianti; Pratiwi, Dewa Ayu Yunika; Juliadi, Debby
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The white champaca flower (Magnolia alba) holds cultural significance for the Balinese society, being employed in religious ceremonies, adorning bridal setting, and enriching the aroma of incense. Moreover, white champaca flowers contain alkaloids, steroids, terpenoids, flavonoids, and phenols that have antioxidant activity. Therefore, it is interesting to determine the antioxidant activity of methanol extract of white champaca flowers and formulated it into an oil in water cream in this study. The extract was formulated into three cream formulas, FI, FII, and FIII with concentrations of 4, 8, and 12%, respectively.  Antioxidant activity was assessed using DPPH (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl) assay with UV-Vis spectrophotometer at a wavelength of 516 nm. The antioxidant activity based on IC50 values for FI, FII, and FIII were 29.72, 25.50, and 25.05 µg/ml, respectively, with IC50 value of vitamin C was 2.93 µg/ml as a standard comparison. The research findings indicate that the methanol extract of white champaca flower o/w cream exhibit a very strong antioxidant activity in vitro. Further research is imperative to investigate the ability of the formulations to delaying the photoaging mechanism through in vivo studies.
Aktivitas Antioksidan dan Profil Fitokimia Ekstrak Metanol Daun Bauhinia purpurea L. dari Pekanbaru Fadhli, Haiyul; Putri, Hefriza
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antioksidan merupakan komponen bioaktif penting yang berperan dalam menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan oksidatif pada sel. Tanaman Bauhinia purpurea L., yang dikenal secara lokal sebagai daun kupu-kupu, telah dilaporkan mengandung berbagai senyawa fenolik dan flavonoid dengan potensi aktivitas antioksidan yang menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun Bauhinia purpurea L. yang dikumpulkan dari Pekanbaru. Skrining fitokimia menunjukkan keberadaan flavonoid, fenolik, terpenoid, steroid, dan alkaloid. Kadar total fenolik dan flavonoid masing-masing sebesar 50,79 ± 1,82 mg GAE/g dan 59,10 ± 13,03 mg QE/g ekstrak. Aktivitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH menghasilkan nilai IC₅₀ sebesar 67,58 µg/mL, menunjukkan aktivitas antioksidan sedang. Hasil ini mengindikasikan bahwa daun Bauhinia purpurea dari Pekanbaru memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk herbal dan farmasi. Faktor geografis dan metode ekstraksi berperan penting dalam menentukan kandungan bioaktif dan aktivitas antioksidan ekstrak.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kale Hijau dan Ungu (Brassica oleracea L.) Nurfarida, Umiyuliatul; Rohmah, Martina Kurnia; Ambari, Yani
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kale (Brassica oleracea L.) is a plant from the Brassicaceae family that is often consumed by the public. Kale leaves contain vitamin C, phenolic compounds, and pigments that have the potential as antioxidants. Kale leaves that are often consumed by the public are green kale and purple kale. This study aims to determine the comparison of antioxidants between green kale and purple kale using the DPPH method. Green and purple kale leaf Simplicial powder was macerated using 96% ethanol solvent. The extraction results were then tested qualitatively for their phytochemical content using phytochemical screening. Antioxidant activity was tested qualitatively and quantitatively (DPPH method). The results showed that the antioxidant activity (IC50) of Vitamin C, purple kale, and green kale leaves extract successively are 3.19 µg/ml (very strong), 100.03 µg/ml (strong), and 144,35 µg/ml (moderate). The antioxidant activity of purple kale leaves is stronger than green kale. leaves.
17-2 EVALUASI PENGELOLAAN OBAT DAN PERBAIKAN BERDASARKAN DIAGRAM FISHBONE DI DINAS KESEHATAN KOTA X TAHUN 2024 Yunartika Puspitasari; Jason Merari Peranginangin; Tri Wijayanti
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan obat yang efektif dan efisien merupakan komponen penting dalam mendukung layanan kesehatan yang berkualitas, khususnya di tingkat pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota X berdasarkan indikator standar, mengidentifikasi indikator yang tidak sesuai, menetapkan prioritas masalah menggunakan metode Hanlon. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif evaluatif dengan metode pengumpulan data melalui studi retrospektif terhadap dokumen pengelolaan obat tahun 2024, dokumentasi dan observasi data tahun 2025, serta wawancara mendalam dengan pihak terkait. Data dianalisis berdasarkan standar indikator nasional pengelolaan obat dan analisis isi (content analysis). Skala prioritas masalah ditentukan menggunakan metode Hanlon. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 30 indikator yang dianalisis, sebanyak 60% tidak memenuhi standar. Masalah dengan prioritas tertinggi adalah ketidaksesuaian item obat dengan Formularium Nasional (FORNAS), yang berdampak sistemik terhadap indikator lainnya. Penyebab utama masalah meliputi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan pelatihan mengenai FORNAS, belum adanya seleksi dan validasi FORNAS yang terstandar di tingkat kota, ketidaksesuaian alokasi anggaran dengan kebutuhan, belum optimalnya sistem informasi, tekanan dari penulis resep untuk pengadaan obat non-FORNAS, serta tidak adanya sistem monitoring dan evaluasi secara berkala. Tindak lanjut yang dirumuskan antara lain pengusulan penambahan SDM, pelatihan teknis, peningkatan koordinasi lintas sektor, pengembangan sistem aplikasi yang ada, optimalisasi anggaran, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara rutin.
Kaitan Sosio-demografi dan Luaran Klinis pada Pasien Diabetes Melitus TIpe 2 (DMT2) di Rumah Sakit X di Pekanbaru Reza Laila Najmi; Novtafia Endri; Ahmad Muhaimin Rosyadi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic disease with a high global prevalence and is one of the leading causes of morbidity and mortality worldwide. Several sociodemographic factors, including age, sex, disease duration, educational level, and comorbidities, are believed to influence clinical outcomes in diabetic patients. This study aimed to analyze the association between sociodemographic characteristics and clinical outcomes among patients with T2DM. A cross-sectional study was conducted at Hospital X in Pekanbaru. The inclusion criteria were patients aged ≥18 years diagnosed with T2DM, receiving oral antidiabetic therapy for at least six months, and having complete medical records. Sociodemographic data were analyzed descriptively, and clinical outcomes were assessed based on HbA1c levels, categorized as “achieved” if HbA1c <7% and “not achieved” if ≥7%. The Chi-square test was used for statistical analysis. Of 95 patients, the majority were aged ≥45 years (84.2%), female (69.5%), and had a disease duration of ≥6 years (83.2%). Target HbA1c was more frequently achieved among female patients (60.6%), those aged ≥45 years (60%), with disease duration <6 years (75%), general educational level (60.2%), and without comorbidities (59.7%). However, no significant association was found between sociodemographic characteristics and achievement of HbA1c targets (p>0.05). Although certain sociodemographic groups tended to achieve better clinical outcomes, the study found no significant relationship between sociodemographic factors and clinical outcomes in T2DM patients. Further research considering lifestyle factors and pharmacological therapy is recommended.