cover
Contact Name
Adinda Juwita Sari
Contact Email
adindajuwitasari@poltekkes-tjk.ac.id
Phone
+6281369445898
Journal Mail Official
jkm@poltekkes-tjk.ac.id
Editorial Address
Jl. Brigjend. Soetiyoso No. 1 Kota Metro
Location
Kab. lampung selatan,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
ISSN : 1979469X     EISSN : 26571390     DOI : https://doi.org/10.26630
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai E-ISSN 2657-1390 and P-ISSN 19779-469X is published by the Midwifery Department, Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Metro City, Indonesia. The Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai was first published in December 2008 as print media. Since 2016, the Journal has been published in print and online twice a year (June and December). All manuscripts submitted will go through double-blind peer review and editorial before being given acceptance for publication. The scope is midwifery, public health, nursing, nutrition, complementary and alternative medicine (CAM), and education in health.
Articles 185 Documents
Effects of Stunting on the Decreased Cardiorespiratory Fitness of Children Aged 9 to 11 Years in Bandar Lampung, Indonesia Nurmalasari, Yesi; Anggunan, Anggunan; Putri, Devita Febriani; Siagian, Ellys Tahnia
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v16i2.1900

Abstract

Introduction: The impact of low cardiorespiratory fitness levels can increase cardiovascular disease and other degenerative diseases. Children with stunting need attention to cardiorespiratory fitness levels. Purpose: This study aims to determine the effect of stunting on cardiorespiratory fitness in children aged 9-11 years. Methods: This type of research is observational analytic with a cross-sectional design. The sample of this study was 77 elementary school children who were taken using consecutive sampling techniques. Measurement of the research variable cardiorespiratory fitness level using the modified Harvard step test and the stunting variable measured using the child's Body Length/Height measurement index, stunting if the measurement is at the threshold of -3SD to < -2SD. Data were analyzed by the Spearman test. Results: A total of 77 children were found to be stunted, with a cardiorespiratory fitness level of 92.3% and a poor level of 7.7%. Meanwhile, children in the non-stunting category had 23.7% less cardiorespiratory fitness and no poor fitness. The analysis results show a relationship between stunting and cardiorespiratory fitness in children (p=0.000), which is a very strong relationship (r=0.917). Conclusion: Stunting in children has a chronic effect on cardiorespiratory fitness. It is necessary to improve cardiorespiratory fitness in children with measurable physical exercise and improved micronutrients to prevent early impact on adulthood.   Latar Belakang: Dampak tingkat kebugaran kardiorespirasi yang rendah dapat meningkatkan penyakit kardiovaskular dan penyakit degenerative lain. Anak dengan stunting perlu mendapatkan perhatian tingkat kebugaran kardiorespirasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek stunting dengan kebugaran kardiorespirasi pada anak usia 9-11 tahun. Metode: Jenis penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain cross sectional. Sample penelitian ini adalah anak SD berjumlah 77 orang yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Pengukuran variabel penelitian tingkat kebugaran kardiorespirasi mengunakan Harvard step test yang dimodifikasi dan variabel stunting diukur menggunakan indeks pengukuran PB/ TB anak, stunting jika pengukuran berada pada ambang batas -3SD sd < -2SD. Data dianalisis dengan uji Spearman. Hasil: Partisipan total 77 anak menemukan dengan kategori stunting yang mengalami kebugaran kardiorespirasi level kurang 92,3% dan level buruk 7,7%. Sedangkan, anak kategori tidak stunting terdapat anak dengan kebugaran kardiorespirasi kurang 23,7% dan kebugaran buruk tidak ditemukan. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan stunting dengan kebugaran kardiorepirasi pada anak (p=0,000) dengan hubungan sangat kuat (r=0,917). Simpulan: Stunting pada anak memberikan pengaruh yang kronis pada kebugaran kardiorespirasi. Perlu meningkatkan tingkat kebugaran kardiorespirasi pada anak dengan latihan fisik yang terukur maupun peningkatan gizi mikro untuk mencegah sejak dini dampak pada masa dewasa.
Karakteristik, Asupan Protein, Kadar Protein Total dan Kejadian Kekurangan Energi Kronis pada Ibu Hamil: Studi Cross Sectional Dwifitri, Uthu; Zulkarnain, Mohammad; Flora, Rostika; Purnama, Yetti; Slamet, Samwilson
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v15i2.3497

Abstract

Latar Belakang: Penanggulangan masalah gizi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang paling baik adalah pada periode kehamilan. Ibu hamil merupakan kelompok yang kritis dan rentan terhadap kekurangan gizi, diantaranya kekurangan energi kronik (KEK). KEK mempunyai dampak buruk terhadap janin pada saat hamil dan sebagian besar tidak dapat dikoreksi setelah bayi lahir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan KEK pada ibu hamil. Kajian faktor risiko atau penyebab KEK sebagai rekomendasi intervensi menurunkan kejadian KEK. Metode: Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2022 dengan desain cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah 107 ibu hamil berusia 20-35 tahun di Kabupaten Seluma yang dipilih secara random sampling. Asupan protein diperoleh dengan food recall 3x24 jam, kemudian dihitung dengan menggunakan nutri survey, kadar protein total diperoleh dengan pemeriksaan serum darah (20 µl) dengan metode biuret, status gizi ibu berdasarkan kategori KEK dan tidak KEK. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan paritas dengan kejadian KEK. Sedangkan, variabel usia, usia kehamilan, pendapatan keluarga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan jumlah keluarga tidak menunjukkan ada hubungan (p > 0,05). Simpulan: Studi ini terbukti paritas sebagai faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian KEK. Perlu edukasi untuk menurunkan dan mencegah KEK pada ibu hamil yang mempunyai anak > 1 orang saat ibu hamil melakukan kunjungan ke pelayanan kesehatan. Abstract: Characteristic, Protein Intake, Total Protein Levels and The Incidence of Chronic Energy Deficiency in Pregnant Women: Cross-sectional Study Background: The best way to deal with nutritional problems to improve the quality of human resources is during pregnancy. Pregnant women are a group that is critical and vulnerable to malnutrition, including chronic energy deficiency (CED). KEK has a negative impact on the fetus during pregnancy and most of it cannot be corrected after the baby is born. Purpose: This study aims to evaluate faktors associated with CED in pregnant women. Study of risk faktors or causes of CED as an intervention recommendation to reduce the incidence of CED. Methods: This study was conducted in June 2022 with a cross-sectional design. The sample used was 107 pregnant women aged 20-35 years in Seluma Regency who were selected by random sampling. Protein intake was obtained by food recall 3x24 hours, then calculated using a nutritional survey. Total protein levels were obtained by examining blood serum (20 µl) using the Biuret method. Maternal nutritional status was based on CED and non-SEZ categories. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. Results: The results of the chi-square test showed that there was a relationship between parity and the incidence of CED. Meanwhile, the variables age, gestational age, family income, mother's education, mother's occupation, and family size did not show any relationship (p> 0.05). Conclusion: This study proved parity is a risk faktor that can increase the incidence of CED. Education is needed to reduce and prevent KEK in pregnant women who have children > 1 person when pregnant women make visits to health services.
Studi Fenomenologi: Pengalaman Psikologis Pasien Diabetes Melitus dengan DFU (Diabetic Foot Ulcer) Pasca Amputasi Harissya, Zulaika; Malini, Hema; Oktarina, Elvi
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v15i2.3565

Abstract

Latar Belakang: Pasien DFU sering menghadapi masalah psikologis akibat kehilangan anggota tubuh pasca menjalani amputasi, pasien melaporkan merasa depresi, frustrasi, dan merasa tidak berdaya saat mereka berusaha untuk sembuh pasca amputasi yang berdampak pada kesejahteraan hidup pasien. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang yang merupakan pasien DFU yang telah menjalani amputasi di 3 rumah sakit di Kota Padang yaitu RSUP M. Djamil Padang, RSI Ibnu Sina, dan RST Reksodiwiryo, dan salah satu Pusat Perawatan Luka dan Stoma Padang. Hasil: Hasil analisis data menghasilkan tiga tema, yaitu dampak emosional, gangguan citra tubuh dan harga diri rendah, dan adaptasi diri terhadap kehilangan. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa amputasi ekstremitas bawah memberikan dampak psikologis yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi setelah amputasi. Partisipan menggambarkan hal tersebut dengan mengungkapkan kesedihan, perasaan cemas, takut, marah, penyesalan, harga diri rendah, gangguan citra tubuh dan kaget dengan kondisi mereka pasca amputasi, sehingga berdampak pada penurunan kesejahteraan hidup partisipan. Abstract: Phenomenology Study: Psychological Experiences of DFU (Diabetic Foot Ulcer) Patients Following Amputation Background: DFU patients often face problems due to the loss of limbs after treatment, patients report experiencing depression, and feeling helpless when they try to recover after amputation which has an impact on the patient's well-being. Methods: This study uses a qualitative method with a phenomenological approach. The participants in this study were seven people who were DFU patients who had undergone amputation at 3 hospitals in the city of Padang, namely M. Djamil Hospital Padang, Ibnu Sina Hospital, and Reksodiwiryo RST, and one of the Padang Wound and Stoma Treatment Centers. Results: The results of data analysis produced three themes, namely emotional impact, impaired body image, low self-esteem, and self-defeat to loss. Conclusion: This study shows that lower extremity amputation has a psychological impact related to changes that occur after amputation. Participants described this by expressing anxiety, fear, anger, regret, body image disturbance, and surprise with their condition after living well-being so that it impacted their welfare.
Aktivitas Fisik, Pola Makan, dan Konsumsi Makanan Glikemik Tinggi Meningkatkan Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Zulkarnaini, Aryaldy; Mahatma, Gangga; Puspita, Dian; Vani, Ade Teti; Abdullah, Dessy
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v15i2.3585

Abstract

Tren prevalensi diabetes melitus (DM) setiap tahun terus menunjukkan peningkatan dengan berbagai komplikasi. Ia disebabkan gaya hidup masyarakat yang tidak sehat dan termasuk silent killer disease. Perlu kajian faktor gaya hidup yang berhubungan DM tipe 2 dari waktu ke waktu. Tujuan: Studi ini untuk mengevaluasi pengaruh aktivitas fisik, pola makan, dan konsumsi makanan glikemik tinggi terhadap kejadian DM tipe 2, sehingga dapat menjadi pertimbangan rekomendasi penurunan dan pencegahan kasus Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah studi case control. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 400 responden. Diambil menggunakan teknik systematik random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: Penelitian ini memperoleh temuan variabel yang mempunyai pengaruh terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2 adalah aktivitas fisik (p=0,001 dan OR=5,7), pola makan (p=0,001 dan OR=2,0), dan konsumsi tinggi gula (hiperglikemia tinggi) (p=0,001 dan OR=2,0). Kesimpulan: Peningkatan risiko kejadian diabetes melitus tipe 2 dipengaruhi oleh kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, dan konsumsi makanan tinggi gula (hiperglikemia tinggi). Edukasi pola hidup sehat seperti rutin melakukan aktivitas fisik, mengatur pola makan dan mengurangi konsumsi gula secara rutin perlu dilakukan untuk mencegah dan menurunkan DM tipe 2 kepada masyarakat. Abstrac. Physical Activity, Diet, and High Consumption of Glycemic Foods Increase the Risk of Incidence of Type 2 Diabetes Mellitus Background: The prevalence of diabetes mellitus continues to increase every year with various complications. It is caused by the unhealthy lifestyle of society and is a silent killer disease. It is necessary to study lifestyle faktors related to type 2 diabetes mellitus from time to time. Purpose: This study was to evaluate the effect of physical activity, diet, and consumption of high glycemic foods on the incidence of type 2 diabetes mellitus, so that it becomes a consideration for recommendations for case reduction and prevention. Methods: The study design used was case-control. The number of samples in this study was 400 respondents. Taken using a systematic random sampling technique. The instrument used is a questionnaire. Data analysis used the chi-square test. Results: This study found that the variables that had an influence on the incidence of type 2 diabetes mellitus were physical activity (p=0.000 and OR=5.7), diet (p=0.000 and OR=2.0), and high sugar consumption (high hyperglycemia) (p=0.000 and OR=2.0). Conclusion: The increased risk of developing type 2 diabetes mellitus is influenced by a lack of physical activity, an unbalanced diet, and consumption of foods high in sugar (high hyperglycemia). Education about adopting a healthy lifestyle such as doing regular physical activity, managing diet and reducing sugar consumption on a regular basis needs to be done to prevent and reduce type 2 DM in the community.
Efek Pelatihan dengan Metode Pembelajaran Discovery Learing Meningkatkan Kemampuan Kader tentang Pemberian Makanan Bayi dan Anak Balita Sudarmi, Sudarmi
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v15i2.3650

Abstract

Latar Belakang: Upaya agar kader dapat menyampaikan informasi pada masyarakat tentang pentinynya Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) secara maksimal. Perlu diberikan pelatihan pada kader dengan metode pembelajaran yang aktif, yaitu discovery learning yang dapat mempercepat pemahaman atau peningkatan pengetahuan dan ketrampilan. Tujuan: Untuk mengkaji efektivitas pelatihan dengan metode discovery learning terhadap pengetahuan dan keterampilan penyuluhan kader tentang PMBA. Metode: Penelitian menggunakan rancangan quasi eksperimen dengan nonequivalent control group design dan pos test -only control group design. Penelitian dilakukan dengan memberikan pelatihan pada kader dengan menggunakan metode discovery learning pada bulan Juni-Oktober 2022 di Puskesmas Karang anyar Kabupaten Lampung Selatan. Jumlah sampel 60 kader. Analisis data bivariat menggunakan uji T-Test Independen. Hasil: Hasil analisis uji statistik menunjukkan ada perbedaan (lebih efektif) metode discovery learning dibandingkan metode konvensional dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penyuluhan kader tentang PMBA (p-value 0,001). Simpulan: Percepatan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan memberikan penyuluhan kader tentang PMBA dengan metode discovery learning dapat menjadi pilihan bagi tenaga kesehatan, karena lebih efektif. Abstrac. The Effect of Training with the Discovery Learning Learning Method Increases Health Worker' (Kader) in Abilities about feeding Infants and Toddlers Background: Efforts for health worker to convey information to the public about the importance of optimal feeding of infants and children. It is necessary to provide training to health worker with active learning methods, namely discovery learning which can accelerate understanding or increase knowledge and skills. Purpose: To examine the effectiveness of training using the discovery learning method on knowledge and counseling skills regarding feeding infants and children. Methods: The study used a quasi-experimental design with a nonequivalent control group design and post-test -only control group design. The research was conducted by providing training to health worker using the discovery learning method in June-October 2022 at the Karang Anyar Community Health Center, South Lampung Regency. The number of samples is 60 health worker. Bivariate data analysis used the Independent T-Test. Results: Statistical test analysis showed that there was a difference (more effective) with the discovery learning method compared to conventional methods in increasing the knowledge and skills of health worker in counseling about feeding infants and children (p-value 0,001). Conclusion: Accelerating the increase in knowledge and skills in providing counseling to health worker about IYCF with the discovery learning method can be an option for health workers, because it is more effective.
Sistem Informasi Pemantauan Pengobatan Pasien TB Paru (SISFOTBPARU) Berbasis Android Gateway Trigunarso, Sri Indra; Muslim, Zainal; Helmy, Helina; Riyanto, Riyanto
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v15i2.3654

Abstract

Latar Belakang: Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanganani TB sampai menghilangkan angka kejadian TB melalui berbagai macam kebijakan dan berbagai program belum mampu menjawab permasalahan yang ada. Sebuah program inovasi aplikasi berbasis teknologi informasi perlu dikembangkan untuk pemberdayaan dan pengembangan masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan disertai upaya pemantauan dari petugas kesehatan setempat. Tujuan: Mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Pemantauan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru (SISFOTBPARU) berbasis Android Gateway di Puskesmas Kampung Sawah kota Bandar Lampung. Metode: Jenis penelitian adalah actions research berupa pengembangan sistem (sistem development) aplikasi SISFOTBPARU. Subjek penelitian terdiri atas 5 responden yang terdiri atas kepala seksi penanggulangan penyakit menular, pengelola TB Paru di Dinas Kesehatan dan 3 orang petugas TB Paru Puskemas. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam serta menggunakan kuesioner. Tahapan pengembangan aplikasi menggunakan FAST (Framework for application of sistem tehnique) menggunakan metode aplikasi SISFOTBPARU Android Gaetway. Hasil: Studi memperoleh hasil pengembangan aplikasi sitem informasi berbasis web dengan fitur Android Gateway dengan lebel aplikasi SISFOTTBPARU. Dalam aplikasi SISFOTBPARU pasien dapat dilihat jadwal pengobatan, jadwal minum obat dan jadwal ambil obat berdasarkan tanggal yang diinginkan oleh petugas. Pengiriman pesan pengingat (SMS) lebih mudah dilakukan ke handphone pasien, dan terdapat rekapitulasi laporan pengobatan pasien TB Paru, dan grafik pengobatan pasien. Simpulan: Pengukuran aplikasi SISFOTBPARU dengan 4 jenis sistem diperoleh sistem usefulness, information quality, dan interface quality termasuk kategori Layak. Pengukuran secara keseluruhan overall satisfaction menunjukkan bahwa sistem informasi Overall satisfaction Pemantauan Pengobatan Pasien TB Paru termasuk kategori Layak. Sehingga, aplikasi SISFOTPARU dapat dilanutkan ke tahap uji coba. Abstract. Information Sistem for Pulmonary TB Patient Treatment Monitoring (SISFOTBPARU) Based on Android Gateway. Background: The efforts made by the government to deal with TB to eliminate the incidence of TB through various policies and various programs have not been able to answer the existing problems. An information technology-based application innovation program needs to be developed for sustainable community empowerment and development accompanied by monitoring efforts from local health workers. Purpose: This study is to develop an Android Gateway-Based Pulmonary Tuberculosis Patient Treatment Monitoring Information System (SISFOTBPARU) application in the Health Center of Kampung Sawah Bandar Lampung City. Methods: The type of reaction is action research in the form of the system development of the SISFOTBPARU application. The research subjects consisted of 5 respondents consisting of the head of the infectious disease control section, the management of pulmonary TB at the Health Office, and 3 officers of pulmonary TB at the Public Health Center. Data collection was carried out by observation, in-depth, interviews, and using a questionnaire. The stages of application development use FAST (Framework for application of system engineering) using the SISFOTBPARU Android Gateway application method. Results: The study obtained the results of developing a web-based information system application with the Android Gateway feature with the SISFOTTBPARU application label. In the SISFOTBPARU application, patients can see their treatment schedule, schedule for taking, medication, and schedule for taking medication based on the date desired by the officer. Sending reminder messages (SMS) is easier to do to the patient's cellphone, and there is a recapitulation of pulmonary TB patient treatment reports and patient treatment charts. Conclusion: Measurement of the SISFOTBPARU application with 4 types of systems obtained system usefulness, information quality, and interface quality including the Eligible category. The overall measurement of overall satisfaction shows that the Overall satisfaction information system for Monitoring Pulmonary TB Patient Treatment is in the Eligible category. So that, the SISFOTPARU application can be continued to the trial stage.
Prediktor Faktor Menstruasi dan Asupan Fe terhadap Peningkatan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Riyanto, Riyanto; Lestari, Gangsar Indah; Dayani, Tiara Rica; Herbawani, Chahya Kharin
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v16i1.3879

Abstract

Introduction: Anaemia in adolescent girls is a major public health problem. Menstruation is the main cause. Fe tablet programmes have been introduced, but the incidence of anaemia is still high. Purpose: This study was to determine the prevalence of anemia and estimate the relationship between major menstrual factors and other covariate variables: BMI, knowledge, tea drinking patterns and Fe tablet intake with the incidence of anemia in adolescent girls. Methods: A cross sectional study was conducted on 69 adolescent girls from 3 schools in an Islamic boarding school in the Metro city area to analyse menstrual patterns by involving other confounding variables. Questionnaires were used to measure menstrual pattern, knowledge level, iron intake, and drinking the after meal. Anthropometry of respondents was measured to determine their BMI and nutrition and haemoblobin was checked using Hb Digital (easy touch) to determine anaemia status. Data analysis used multivariate analysis with multiple logistic regression test estimation model with a significance level (α) of 0.05. Results: We found the incidence of anaemia in adolescents was 68.1%. The results of bivariate analysis showed there was a significant association of the incidence of anaemia among adolescent girls with menstrual pattern disorder (p-value 0.001; OR 6.250 CI 95% 2.057-18.987), nutritional status (BMI) with p-value 0.032 (OR 3.960; CI 95% 1.163-13.488), knowledge (p-value 0.050; OR 3.083 CI 95%: 1.035-9.188), while the tea drinking factor showed no association. Multivariate analysis obtained a large factor of menstrual pattern disorder with ORadjusted 6.679) and lack of Fe tablet intake with ORadjusted 3.025. Conclusion: The incidence of anaemia in adolescent girls is at risk of increasing six times, when experiencing abnormal menstrual patterns. Fe intake, lack of knowledge and poor nutritional status are other triggering factors for adolescent girls to experience anaemia. It is importance to reduce and prevent anaemia in adolescents by eliminating these factors. Latar Belakang: Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan masyarakat utama. Menstruasi menjadi penyebab utamanya. Program pemberian tablet Fe sudah diberikan, Namun kejadian anemia masih tinggi. Tujuan: Studi ini untuk mengetahui prevalensi anemia dan mengestimasi hubungan faktor utama menstruasi dan variabel kovariat lain: IMT, pengetahuan, pola minum teh dan asupan tablet Fe dengan kejadian anemia pada remaja putri. Metode: Studi cross sectional study dilakukan pada 69 remaja putri dari 3 sekolah di pondok pesantren islam di wilayah kota Metro untuk menganalisis pola menstruasi dengan melibatkan variabel confounding lainnya. Kuesioner digunakan untuk mengukur pola menstruasi, tingkat pengetahuan, asupan zat besi, dan minum the setelah makan. Antropometri responden diukur menentukan dan gizi (IMT) mereka dan haemoblobin diperiksa menggunakan alat Hb Digital (easy touch) untuk menentukan status anemia. Analisis data digunakan analisis multivariat dengan uji multiple regresi logistik model estimasi dengan tingkat kemaknaan (α) 0,05. Hasil: Kami menemukan kejadian anemia pada remaja berjumlah 68,1%. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan signifikan kejadian kejadian anemia remaja putri dengan gangguan pola menstruasi (p-value 0,001; OR 6,250 CI 95% 2,057-18,987), status gizi (IMT) dengan p-value 0,032 (OR 3,960; CI 95% 1,163-13,488), pengetahuan (p-value 0,050; OR 3,083 CI 95%: 1,035-9,188), sedangkan faktor minum teh tidak menunjukkan ada hubungan. Analisis multivariat diperoleh hasil besar faktor gangguan pola menstruasi dengan ORadjusted 6,679) dan kurang asupan tablet Fe dengan ORadjusted 3,025. Simpulan: Kejadian anemia remaja putri berisiko meningkat enam kali, bila mengalami pola menstruasi yang tidak normal. Asupan zat fe, pengetahuan kurang dan status gizi tidak baik menjadi faktor pemicu lain remaja putri mengalami anemia. Pentingnya upaya menurunkan dan encegah anemia pada remaja dengan mengelinasi faktor-faktor tersebut.
Increased Incidence of Influenza: Effects of Dense Housing Occupancy, Behaviour and Demographic Factors in Coastal Areas Heltty, Heltty; Nazaruddin, Nazaruddin; Ningtias, Dwi Wulandari; Lestari, Sari Ari; Apriyanti, Apriyanti; Krismiadi, Dedi
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v16i2.4082

Abstract

Introduction: Influenza is an acute respiratory infection that is a seasonal pandemic and can be prevented by healthy behaviors. However, the fact is that influenza cases are still often outbreaks, even epidemics, both nationally and globally. Purpose: To assess demographic determinants, occupancy density, and preventive behavior with influenza incidence in the coastal area of Bungkutoko sub-district of Kendari city, in one of the islands of Southeast Sulawesi, Indonesia. Methods: A cross-sectional study involving 95 respondents selected by simple random sampling was used as a research design. Structured interviews used valid and reliable questionnaires to obtain data on age, sex, preventive behavior, and occupancy density. The chi-square test was used to analyze bivariates with a significant value of 0.05. Results: More than half (53.7%) of influenza cases were found out of 95 respondents. Age (p=0.002; OR= 3.251), gender (p=0.041; OR=2.133), preventive behavior (p=0.047; OR=2.163), and dense housing occupancy (p=0.000; OR= 5.775) was significantly associated with influenza (p-value < 0.05). Conclusion: Influenza cases increased associated with risk factors for age, sex, preventive behavior, and dense housing occupancy in coastal areas in this study. Thus, indicating increased education on influenza prevention by paying attention to risk factors by community and interprofessional nurses is needed as early awareness of the potential for an epidemic. Latar belakang: Influenza merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang pandemic musiman dan dapat dicegah dengan prilaku hidup sehat. Namun, kenyataanya kasus influenza masih sering menjadi outbreak, bahkan epidemic baik nasional maupun global. Tujuan: Untuk menilai determinan demografi, kepadatan hunian, dan prilaku pencegahan dengan kejadian influenza di wilayah pesisir kelurahan Bungkutoko kota Kendari, di salah satu kepulauan Sulawesi Tenggara, Indonesia. Metode: Studi cross-sectional digunakan sebagai desain penelitian, melibatkan 95 responden yang dipilih dengan simple random sampling. Wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang valid dan reable untuk memperoleh data usia, jenis kelamin, perilaku sehat, dan kepadatan hunian. Uji chi squre digunakan untuk menganalisis bivariat dengan nilai signifikan 0,05. Hasil: Ditemukan setengah lebih (53,7%) kasus influenza dari 95 responden. Usia (p=0,002; OR= 3,251), jenis kelamin (p=0,041; OR=2,133), perilaku hidup sehat (p=0,047; OR=2,163), dan kepadatan hunian (p=0,000; OR= 5,775) berhubungan secara signifikan terhadap kejadian inluenza (α < 0,05). Simpulan: Kasus influenza terjadi peningkatan berhubungan dengan faktor risiko usia, jenis kelamin, perilaku pencegahan, dan kepadatan hunian di daerah pesisir pada studi ini. Sehingga, mengindikasikan peningkatan edukasi pencegahan kejadian influenza dengan memperhatikan faktor risiko oleh perawat komunitas dan interprofessional sangat diperlukan sebagai kewaspadaan dini potensi terjadi epidemic.
Prevalence and Behavior of Nutrition Aware Families Related with the Incidence of Stunting in Todller Siswanto, Gytta Affrilia; Kamila, Lia
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v16i2.4213

Abstract

Introduction: Although the Government of Indonesia has implemented behavior of nutrition-aware family programs for a long time. However, it is still the most dominant factor in stunting cases in toddlers. Purpose: To evaluate the effect of Nutrition-aware family behavior on the incidence of stunting in toddlers aged 24-59 months in the working area of Citeureup Community Health Center, North Cimahi District, Cimahi City, Indonesia. Methods: A cross-sectional study was chosen as the study design with a sample of 76 children aged 24-59. Samples were selected using the cluster random sampling technique. The questionnaire is a research instrument to obtain data on five indicators of nutrition-aware behavior, while the book on maternal and child health is to obtain stunting data. The data were analyzed using the chi-square test. Results: Of the children aged 24-59 months who were stunted  (14.5%), nearly half did not belong to Nutrition-aware families (36.8%). The study found a relationship between the behavior of nutrition-aware families and the incidence of stunting in toddlers (p-value 0.000; OR 3,824; CI 95%: 2.541-5.753). Conclusion: Behavior of nutrition-aware family programs has not been able to reduce the incidence of stunting in toddlers. The results of this study provide information for consideration in planning intervention strategies to reduce stunting through increasing the role of nutrition-conscious families.Latar Belakang: Walaupun program perilaku keluarga sadar gizi telah diimplementasikan oleh Pemerintah Indonesia sejak lama. Namun, Ia masih sebagai faktor paling dominan terhadap terjadinya kasus stunting pada anak. Tujuan: Untuk mengevaluasi efek perilaku keluarga sadar gizi terhadap kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Citeureup Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Indonesia. Metode: Cross-sectional study dipilih sebagai desain penelitian dan melibatkan 76 anak berusia 24-59 bulan sebagai sampel. Sampel diseleksi menggunakan teknik cluster random sampling. Kuesioner sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data lima indikator perilaku sadar gizi serta buku Kesehatan ibu dan anak untuk memperoleh data stunting. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebagian anak yang mengalami stunting (14,5%), hampir setengahnya tidak termasuk keluarga sadar gizi (36,8%). Studi ini menemukan terdapat hubungan perilaku keluarga sadar gizi dengan kejadian stunting pada anak (p-value 0,001; OR 3,824; CI 95%: 2,541-5,753). Simpulan: Program keluarga sadar gizi belum mampu menurunkan kejadian stunting pada balita. Hasil studi ini memberikan informasi untuk pertimbangan dalam membuat perencanaan strategi intervensi penurunan stunting melalui peningkatan peran keluarga sadar gizi.
The Effect of Education Using Video Learning Multimedia on Increasing Knowledge of Early Breastfeeding Initiation and Breastfeeding Techniques in Postpartum Sectio Caesarean Mothers at the Hospital Rizki, Fathia; Dhini, Wahyuni Novitasari
Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 17 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkmsaw.v17i1.4348

Abstract

Introduction: Excusive breastfeeding begins as early as possible from birth through the implementation of maternal compassionate care and join care. However, due to the impact of the COVID-19 pandemic, there is no joint care between babies and mothers after normal or section secaria deliveries in hospitals. It is important to increase knowledge of breastfeeding techniques to mothers, especially mothers giving birth by section secaria to prevent babies from not being breastfed early. Purpose: This study to evaluate the effect of education using video learning multimedia on increasing knowledge about breastfeeding and breastfeeding techniques in mothers who give birth sectio secaria. Methods: One group pretest posttest quasi experiment design was chosen as the research design. The study involved 58 participants selected using consecutive sampling technique. The treatment group was given an educational intervention on lactation management utilising multimedia videos that had been developed with eligible validity and reliability. Statistical analysis to test the hypothesis used the Wilcoxon test with a significance level (α) of 0.05. Results: A total of 57 out of 58 participants showed an increase in knowledge about breastfeeding and breastfeeding techniques with an average score of 67.97 (pretest) increasing to 82.34 (posttest). There was an effect on the level of knowledge before and after being given education using multimedia video learning media on participants (p=0,0001). Conclusion: The use of multimedia video learning media as education can improve knowledge about breastfeeding and breastfeeding techniques in postpartum SC mothers during the COVID-19 pandemic. Clinical midwives and health supervisors can utilise this media which is easy to use both online and offline for education, so that maternity mothers are motivated to carry out early breastfeeding of newborns to continue to provide exclusive breastfeeding. Latar Belakang: Pemberian ASI ekskusif dimulai sedini mungkin sejak lahir melalui implementasi asuhan sayang ibu dan rawat gabung. Namun, dampak pandemi COVID-19 tidak dilakukan rawat gabung antara bayi dan ibu pasca bersalin normal maupun section secaria di rumah sakit. Pentingnya peningkatan pengetahuan teknik menyusui kepada ibu, khususnya ibu melahirkan secara section secaria untuk mencegah bayi tidak diberikan ASI sejak dini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh edukasi menggunakan video learning multimedia terhadap peningkatan pengetahuan tentang pemberian ASI dan teknik menyusui pada ibu bersalin sectio secaria. Metode: Studi quasi experiment design one group pretest posttest dipilih sebagai rancangan penelitian. Penelitian melibatkan 58 partispan diseleksi menggunakan teknik consecutive sampling. Kelompok perlakuan diberikan intervensi edukasi menggunakan video multimedia dan yang telah diuji validitas dan reabilitasnya eligible. Analisis statistic untuk menguji hipotesis menggunakan wilcoxon test dengan tingkat kemaknaan (α) 0,05. Hasil: Sebanyak 98,28% dari 58 partisipan menunjukkan peningkatan pengetahuan mengenai pemberian ASI dan teknik menyusui dengan skor rata-rata 67,97 (pretest) meningkat menjadi 82,34 (posttest). Ada pengaruh level pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukai menggunakan media video learning multimedia pada partisipan (p=0.0001). Simpulan: Pemanfaatan media video learning multimedia Sebagai edukasi mampu meningkatkan pengetahuan mengenai pemberian ASI dan teknik menyusui pada ibu pascabersalin SC pada masa pandemic COVID-19. Bidan klinik maupun Penyelia Kesehatan dapat memanfaatkan media ini yang mudah digunakan baik online maupun offline untuk edukasi, sehingga ibu bersalin termotivasi melaksanaan pemberian ASI dini pada bayi baru lahir hingga berlanjut memberikan ASI ekskluasif.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 18 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 17 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 16 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 15, No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 14, No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 14, No 1 (2021): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 13, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 13, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 12, No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 12, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 11, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 11, No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 10, No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 10, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 9, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol. 9 No. 1 (2016): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 8, No 2 (2015): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 8, No 1 (2015): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 7, No 2 (2014): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI Vol 7, No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 6, No 2 (2013): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 6, No 1 (2013): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 5, No 2 (2012): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 5, No 1 (2012): Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KESEHATAN METRO SAI WAWAI More Issue