cover
Contact Name
Eko Agus Cahyono
Contact Email
ekoagusdianhusada@gmail.com
Phone
+6282230035535
Journal Mail Official
jurnaldianhusada.jpipk@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Teras No.4 Tambakagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto
Location
Kab. mojokerto,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan
ISSN : 28305116     EISSN : 28304594     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan : memuat tentang hasil penelitian atau pemikiran di bidang kesehatan (keperawatan, kebidanan, public health, farmasi dan lain sebagainya) yang dilakukan oleh civitas akademika internal STIKES Dian Husada Mojokerto, civitas akademika lain dan stakeholder kesehatan.
Articles 120 Documents
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT KELASI BESI TERHADAP PASIEN THALASEMIA MAYOR DI RSU PRASETYA BUNDA KOTA TASIKMALAYA PERIODE BULAN JANUARI - JUNI 2022 Nia Kurniasih; Nurhidayati Harun; Della Nur Alpiani; Marlina Indriastuti; Ita Purwati
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025): Volume 4, Nomor 2, April 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i2.452

Abstract

Thalasemia mayor merupakan penyakit yang ditandai dengan kekurangan rantai globin pada hemoglobin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian penggunaan obat kelasi besi berdasarkan nama obat, dosis, bentuk sediaan dan frekuensi pemberian obat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif retrospektif dengan mengambil dan melihat data rekam medis pasien thalasemia mayor di RS Prasetya Bunda Tasikmalaya yang menggunakan obat kelasi besi pada periode Januari-Juni 2022. Analisis data pada penelitian ini bersifat univariat yaitu menghitung kesesuaian penggunaan obat kelasi besi di RS Prasetya Bunda Tasikmalaya dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK. 01.07/Kementerian Kesehatan/1/2018. Obat kelasi besi yang digunakan di RS Prasetya Bunda Tasikmalaya adalah deferasirox sebanyak 69 pasien menggunakannya (53,08%) dan deferipron sebanyak 61 pasien menggunakannya (46,92%). Obat kelasi besi digunakan 100% dalam bentuk oral. Kesesuaian penggunaan obat kelasi besi berdasarkan dosis dan frekuensi penggunaan sebesar 96,15% dan ketidaksesuaian sebesar 3,85%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat kelasi besi pada pasien thalasemia di RS Prasetya Bunda Tasikmalaya berdasarkan nama obat, bentuk sediaan, dosis dan frekuensi penggunaan sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Kementerian Kesehatan/1/2018 dengan tingkat kesesuaian sebesar 96,15%.
UJI AKTIVITAS ANALGETIK KOMBINASI EKSTRAK DAUN KITOLOD (ISOTOMA LONGIFLORA) DAN MINYAK CENGKEH (SYZYGIUM AROMATICUM) MENGGUNAKAN METODE GELIAT Harun, Nurhidayati; Kurniasih, Nia; Nurmaulawati, Rina; Aeni, Hilmi Nurul; Silfia, Risa; Novianty, Elisa
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025): Volume 4, Nomor 2, April 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i2.454

Abstract

Nyeri adalah mekanisme protektif apabila terjadi kerusakan jaringan. Secara empiris di masyarakat Ciamis menggunakan daun kitolod dan minyak cengkeh untuk menghilangkan nyeri, terutama akibat benturan baik pada kulit atau mata. Pada penelitian ini kelompok uji dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif diberikan aquadest, kelompok kontrol positif diberikan asam mefenamat, kelompok kitolod dengan dosis 200 mg/KgBB dan minyak cengkeh 200 mg/KgBB diberikan dalam single dan kombinasi. Seluruh kelompok uji sesudah pemberian dosis uji di induksi asam asetat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas analgetik terhadap mencit dengan metode geliat. Hasil uji analgetik menunjukan bahwa seluruh kelompok uji memberikan kemampuan analgetik terhadap hewan uji yang di induksi dan terdapat perbedaan signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak kitolod dan minyak cengkeh memiliki daya aktivitas analgetik, akan tetapi baik secara single dan kombinasi efektivitas kitolod memiliki kemampuan analgetik yang signifikan karena semakin sedikit geliat rata-rata yang dihasilkan, maka aktivitas analgetik semakin baik
ROBOTIC TELESURGERY SEBAGAI UPAYA TRANSFORMASI SISTEM PELAYANAN KESEHATAN DALAM PENCAPAIAN MUTU PELAYANAN DAN PATIENT SAFETY; LITERATUR REVIEW Yulianto, Yulianto; Cahyono, Eko Agus
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025): Volume 4, Nomor 2, April 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i2.455

Abstract

Transformasi sistem pelayanan kesehatan merupakan langkah krusial dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan pencapaian patient safety yang berkelanjutan. Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat akan layanan yang cepat, tepat, dan aman, sistem kesehatan dituntut untuk terus beradaptasi dan berinovasi. Transformasi ini mencakup perbaikan manajemen layanan, pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta pembaruan regulasi yang mendukung efisiensi dan transparansi. Dengan melakukan transformasi, fasilitas pelayanan kesehatan dapat menciptakan standar mutu yang konsisten, mengurangi risiko kesalahan medis, serta memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi robotic telesurgery sebagai bentuk transformasi sistem pelayanan kesehatan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien (patient safety). Dengan pendekatan literature review, studi ini menganalisis berbagai artikel ilmiah, laporan penelitian, serta dokumen resmi yang diterbitkan dalam kurun waktu 2015–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi robotic telesurgery mampu meningkatkan presisi tindakan bedah, meminimalisir risiko komplikasi, serta mempercepat proses pemulihan pasien. Selain itu, sistem ini memungkinkan pelayanan bedah jarak jauh, sehingga dapat menjangkau daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap tenaga spesialis. Dari sisi keselamatan pasien, robotic telesurgery mampu mengurangi kesalahan manusia dan meningkatkan kontrol dalam pelaksanaan prosedur medis. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan dalam implementasinya, seperti kebutuhan infrastruktur teknologi informasi yang stabil, pelatihan intensif bagi tenaga medis, serta perlunya regulasi dan standar operasional yang jelas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Oleh karena itu, robotic telesurgery dinilai sebagai sebuah inovasi yang memiliki prospek menjanjikan dalam meningkatkan kualitas dan keamanan pelayanan kesehatan
PENGGUNAAN QR CODE DALAM AKSES DAN PELAYANAN KESEHATAN GUNA PENCAPAIAN TARGET PATIENT SAFETY; LITERATUR REVIEW Agustiningsih, Ida; Wijayanti, Endry
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025): Volume 4, Nomor 2, April 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i2.456

Abstract

Keselamatan pasien (patient safety) merupakan indikator utama dalam sistem pelayanan kesehatan yang berkualitas. Seiring berkembangnya teknologi digital, inovasi seperti penggunaan QR Code mulai diterapkan dalam berbagai aspek pelayanan kesehatan sebagai strategi untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif penggunaan QR Code dalam akses dan pelayanan kesehatan serta dampaknya terhadap pencapaian target patient safety melalui pendekatan literatur review. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka sistematis terhadap artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2014–2024 dan diambil dari basis data terpercaya seperti PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar. Dari total 6.525 artikel yang diseleksi, 10 di antaranya memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa QR Code dapat digunakan dalam beberapa aspek penting, seperti registrasi pasien, identifikasi pasien, peresepan obat oleh dokter, akses rekam medis, manajemen logistik farmasi, serta penjadwalan kontrol pasien. Implementasi QR Code terbukti mampu menurunkan kesalahan pemberian obat, mengurangi duplikasi data, mempercepat proses administrasi, dan meningkatkan partisipasi pasien dalam pengambilan keputusan. Meskipun memberikan manfaat signifikan, tantangan seperti keamanan data, literasi digital tenaga kesehatan, dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi hambatan dalam penerapannya. Kesimpulan dari kajian ini menunjukkan bahwa QR Code merupakan solusi inovatif yang berpotensi besar dalam mendukung tercapainya target patient safety jika didukung oleh kebijakan dan sistem yang terintegrasi
STUDI KORELASI STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KEPARAHAN ISPA PADA BALITA Widyandika, Rischa; Suwanti, Iis
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025): Volume 4, Nomor 2, April 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i2.457

Abstract

ISPA merupakan masalah kesehatan yang utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA yang menyebabkan tingginya kesakitan pada anak-anak balita. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA bahkan serangannya lebih lama dibandingkan dengan balita gizi normal karena daya tahan tubuh yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tingkat keparahan ISPA pada balita di Poli Anak RS Emma Kota Mojokerto. Desain penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien balita ISPA di Poli Anak Rumah Sakit Emma Kota Mojokerto pada bulan Juni 2024 sebanyak 38 anak. Teknik sampling penelitian ini adalah accidental sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 33 anak. Variabel bebas adalah perilaku status gizi dan variabel tergantung adalah tingkat keparahan ISPA. Instrument yang digunakan adalah timbangan berat badan dan akta kelahiran untuk status gizi dan lembar observasi untuk tingkat keparahan ISPA. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar status gizi balita baik yaitu 24 responden (72,7%), dan sebagian besar balita mengalami tingkat keparahan ISPA sedang yaitu 19 responden (57,6%). Beda prosentase ISPA pada status gizi baik dengan status gizi lainnya 58,3% (> 10%) sehingga ada hubungan status gizi dengan keparahan ISPA pada balita di Poli Anak RS Emma Kota Mojokerto. Semakin baik gizi balita maka ISPA yang dialami ringan. Hal ini disebabkan karena keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap penyakit infeksi sehingga hanya mengalami ISPA ringan
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU DAGUSIBU ANTIBIOTIK PADA PENGUNJUNG APOTEK X Hartini, Indah Sri; Prasetyo, Eko Yudha; Seran, Krisogonus Ephrino; Marhenta, Yogi Bhakti; Rimanti, Ikfina Maulidatur
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025): Volume 4, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i3.464

Abstract

Antibiotik sebagai obat yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Program edukasi DAGUSIBU yang diprakarsai oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dalam rangka Gerakan Rumah Sadar Obat (GKSO) untuk meningkatkan pengetahuan serta sikap masyarakat dalam pengelolaan obat dengan tepat, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pengetahuan, perilaku DAGUSIBU serta hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku DAGUSIBU antibiotik pada pengunjung Apotek X. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan metode cross sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling. Metode analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji gamma. Hasil penelitian menunjukkan dari 175 responden (100%), sebanyak 92 responden (52,6%) memiliki pengetahuan baik, dan yang memiliki perilaku baik sebanyak 23 responden (13,1%), perilaku cukup sebanyak 69 responden (39,4%). Kemudian sebanyak 70 responden (40%) memiliki pengetahuan cukup, dimana dari 70 responden memiliki perilaku baik sebanyak 2 responden (1,1%), perilaku cukup sebanyak 68 responden (38,9%). Selanjutnya sebanyak 13 responden (7,4%) memiliki pengetahuan kurang, dengan perincian sebanyak 0 perilaku baik dan perilaku cukup sebanyak 13 responden (7,4%). Tingkat pengetahuan dan perilaku DAGUSIBU antibiotik pada pengunjung Apotek X memiliki kategori baik 52,6% dan perilaku memiliki kategori cukup 85,7%. Hasil uji gamma nilai R sebesar 0,864 yang artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku DAGUSIBU antibiotik pada pengunjung apotek X dengan arah hubungan yang positif (+) atau searah.
FAKTOR-FAKTOR RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR: ARTIKEL REVIEW Handayani, Widya
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025): Volume 4, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i3.465

Abstract

Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia dan memberikan beban besar terhadap sistem kesehatan nasional. Untuk itu, identifikasi terhadap berbagai faktor risiko sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini. Artikel ini bertujuan untuk megidentifikasi terkait faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular. Tinjauan dilakukan terhadap delapan artikel nasional yang diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2025 dan membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan perilaku, kondisi klinis, serta faktor sosial dan demografis. Hasil telaah menunjukkan bahwa faktor risiko yang paling umum meliputi kebiasaan merokok, pola makan yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, serta kondisi klinis seperti hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia. Selain itu, usia lanjut, obesitas, tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah, serta riwayat keluarga dengan penyakit jantung juga menjadi faktor yang berkontribusi. Beberapa faktor risiko bersifat dapat dimodifikasi, sehingga intervensi melalui penyuluhan kesehatan, perubahan gaya hidup, dan penatalaksanaan farmakologis yang tepat sangat diperlukan untuk menekan angka kejadian dan dampak jangka panjang penyakit kardiovaskular.
GAMBARAN PENERAPAN PEMBERIAN INFORMASI PADA PROSES DISPENSING OBAT DI APOTEK PHARMASI X KECAMATAN BATANG-BATANG DI KABUPATEN SUMENEP Ahrori, Ravi; Trisno, Zetiawan; Asyim, Raden Bagus
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025): Volume 4, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i3.468

Abstract

Salah satu langkah paling penting dan krusial dalam rangkaian proses pemberian obat adalah tahap informasi obat. Informasi yang tidak akurat tentang pengobatan atau salah tafsir pasien terhadap informasi tersebut dapat berakibat medication error dan mampu berakibat fatal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pemberian informasi obat pada proses dispensing di Apotek Pharmasix Batang-batang Kabupaten Sumenep. Metode penelitian ini berjenis deskriptif-kuantitatif. Sampel penelitian ini dipilih menggunakan total populasi yaitu 67 orang. Hasil: Terdapat 42 orang (62,69%) responden yang berkunjung ke Apotek Pharmasix mengaku bahwa tidak mendapatkan informasi obat secara lengkap. Sebagian besar responden mendapatkan materi tentang manfaat (88,08%), namun materi informasi obat yang memiliki prosentase rendah adalah kemungkinan efek samping (47,76%) dan cara penggunaan obat (49,25%). Kesimpulan: Penerapan pemberian informasi obat pada proses dispensing tidak berjalan optimal. Diharapkan petugas apotek diharapkan dapat menetapkan standar prosedur yang baku pemberian informasi obat secara lengkap untuk mencegah kesalahan obat meliputi cara penggunaan obat, penyimpanan, manfaat, kemungkinan efeksamping dan makanan minuman yang perlu dihindari
PENGARUH RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP TEKANAN DARAH LANSIA PENDERITA HIPERTENSI Yusriana, Yusriana; Kontesa, Meria; Afrizal, Afrizal; Lestari, Ratna
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025): Volume 4, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i3.470

Abstract

Tekanan darah lansia cenderung tinggi sehingga lansia lebih besar beresiko terkena hipertensi. Hasil Riskesdas (2018) jumlah kasus hipertensi di Indonesia 63.309.620, Sumatera Barat 25,16% dan Kota Padang 44.330. Angka hipertensi pada lansia terdapat di Puskesmas Andalas Kota Padang urutan pertama 14.161 dan lansia yang mendapat pelayanan Kesehatan terbanyak 2.947 pada tahun 2023. Relaksasi autogenik merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasakan bebas mental dan fisik dari ketegangan serta stres. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh relaksasi autogenik terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di Kelurahan Andalas Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Padang. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimen menggunakan pendekatan One-Group Pretest-Posttest design untuk mengetahui tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan relaksasi autogenik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2023- Agustus 2024, dengan pengambilan data dilakukan pada 1-6 Agustus 2024. Populasi penelitian adalah 92 orang lansia yang mengalami hipertensi di Kelurahan Andalas. Sampel diambil secara purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang di tetapkan sebanyak 11 sampel. Hasil penelitian diperoleh tekanan darah MAP (Mean Arterial Pressure) sebelum diberikan relaksasi autogenik 117,73 (SD=5,533), sesudah diberikan relaksasi autogenik 101,55 (SD=2,162). Uji T-Test menunjukan p value=0,000, yang mengidentifikasikan adanya pengaruh relaksasi autogenik terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di RW.05 Kelurahan Andalas Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Padang. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh relaksasi autogenik terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di RW.05 Kelurahan Andalas Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Padang. Diharapkan bagi Kelurahan Andalas dalam pemberian pelayanan kesehatan, khususnya penanganan hipertensi pada lansia, relaksasi autogenik dapat dijadikan pengobatan nonfarmakologi untuk menurunkan tekanan darah
GAMBARAN TEKANAN DARAH PADA PENGGUNA KONTRASEPSI HORMONAL DI PUSKESMAS KUNDI TAHUN 2024 Mariska, Refi; Purba, Eva Dewi Rosmawati
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025): Volume 4, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i3.473

Abstract

Pengguna aktif KB hormonal Desa Kundi pada Tahun 2024 secara berurutan sebanyak 106 orang pengguna kontrasepsi oral, 237 orang pengguna kontrasepsi suntikan, dan 50 orang pengguna kontrasepsi implan. Selain itu didapatkan juga data dari Puskesmas Kundi pada pengguna kontrasepsi hormonal yaitu seringkali mengalami keluhan hipertensi. Mengetahui gambaran tekanan darah pada penggunaan kontrasepsi hormonal di Puskesmas Kundi. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif observasional yaitu mengetahui gambaran tekanan darah pada pengguna kontrasepsi hormonal di Puskesmas Kundi Tahun 2024. Kelompok umur pengguna kontrasepsi hormonal yang terbanyak adalah kelompok umur 20-35 tahun sebanyak 39 responden (70,9%) sebanyak 16 responden (29,1%) kelompok umur >35 tahun, responden yang memiliki jumlah anak 1 dan 2 orang sebanyak 18 responden (32,7%), sebanyak 15 responden (27,3%) menggunakan kontrasepsi hormonal <2 tahun, 40 responden (72,7%) menggunakan kontrasepsi hormonal ≥2 tahun, sebanyak 49 responden (89,1%) tidak mengalami hipertensi, dan 6 responden (10,9%) mengalami hipertensi. Persentase tetinggi dari hasil distribusi kejadian hipertensi di wilayah Puskesmas Kundi sebanyak 49 responden (89,1%) tidak mengalami hipertensi membuktikan bahwa kontrasepsi tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah pada pengguna kontrasepsi hormonal.

Page 11 of 12 | Total Record : 120