Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL CARICA Permadi, Adi
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 8, No 1 (2015): March 2015
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v8i1.3853

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana profil industri kecil carica di Kabupaten Wonosobo serta untuk mengetahui strategi pengembangan apa yang bisa digunakan. Variabel yang diteliti adalah profil industri yang meliputi sumber daya manusia, permodalan, teknologi, dan pemasaran. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis SWOT. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa profil industri kecil carica di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2014 ada 15 unit usaha. Ada beberapa prioritas strategi pengembangan yaang dilakukaan yaitu strategi SO dengan meningkatkan kualitas SDM, memanfaatkan tenaga kerja dari daerah sekitar, dan mengoptimalkan lokasi industri yang strategis. Strategi WO menyiapkan stok produk carica, mengoptimalkan produk carica, dan mengoptimalkan pelatihan dari dinas terkait. Strategi ST dengan meningkatkan kualitas ciri khas produk carica,peranan pemerintah dalam hal mengantisipasi bencana longsor di Dieng, dan melakukan inovasi produk carica. Strategi WT dengan meningkatkan kemampuan manajerial pengusaha, menaikkan harga jual produk carica, dan pada musim kemarau diganti dengan produk makanan komoditas Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan hasil penelitian, strategi yang diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan yang agresif, yaitu industri kecil carica di Kabupaten Wonosobo dapat bersaing dengan produk olahan makanan jenis lainnya dari berbagai daerah dengan cara menjaga dan meningkatkan kualitas produk carica yang dihasilkan.The purpose of this study to find out the profiles of carica industries in Wonosobo regency and to determine what is the development strategy can be used. The variables in this research belongs to human resources, capital, technology, and marketing. Data analysis method used is descriptive analysis method and SWOT analysis. Based on the results of this study showed that small industrial profiles carica in Wonosobo regency in 2014 there were 15 business units. There are several priority development strategies did, those are SO strategy to improve the quality of human resources to improve product quality of carica, utilizing the labor of the surrounding area to increase carica industry, and optimize strategic industrial location. WO strategy to prepare the inventory in the form of stock products carica, carica optimize product to meet consumer demand, and optimize the training of relevant agencies. ST strategies to improve the quality and characteristics of products carica, requires the role of government in terms of anticipating landslides in Dieng, and carica product innovation to improve consumer tastes. WT strategy to improve the managerial capacity of employers, raise the price of products carica, and in the dry season production carica replaced with other processed food products act. Based on the research results can be concluded, the strategy adopted in this condition is to support an aggressive policy.
PERANCANGAN ALAT BANTU PENGUJIAN KONEKTOR DAN ADAPTOR BERBASIS OPEN LOOP PADA KOMUNIKASI OPTIK Rullyansyach, Mochammad; Hidayat, Iswahyudi; Permadi, Adi
eProceedings of Engineering Vol. 10 No. 5 (2023): Oktober 2023
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Hampir setiap aktivitas atau pekerjaan di dunia ini dimudahkan oleh teknologi. Kegiatan dan pekerjaan yang semula dilakukan secara manual kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Dunia terus berkembang, terutama di bidang industri. Meskipun telah mengalami perkembangan teknologi yang pesat, namun masih ada beberapa kegiatan atau pekerjaan yang masih dilakukan secara manual oleh manusia. Salah satu perusahaan yang masih melakukan pengujian secara manual adalah PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk – Direktorat Digital Business bergerak di bidang pengujian perangkat komunikasi optik. Di perusahaan ini, proses pengujian konektor dan adaptor masih dilakukan secara manual. Dari permasalahan diatas, dalam Tugas Akhir ini penulis akan merancang alat pengujian untuk mempersingkat waktu, mempermudah proses pengujian, dan menjadikan proses pengujian semi otomatis. Pendekatan yang digunakan dalam perancangan alat ini adalah open loop. Saat pengujian konektor dan adaptor, beberapa pengujian masih dilakukan secara manual, salah satunya adalah pengujian ketahanan. Alat ini dirancang untuk menyesuaikan spesifikasi pengujian yang ada dengan prosedur pengujian semi otomatis. Dengan alat ini diharapkan waktu yang diperlukan untuk setiap proses pengujian dapat dipersingkat, energi yang dibutuhkan dapat dikurangi, dan proses pengujian di atas juga dapat dipermudah. Hasil pengujian dengan alat ini akan lebih akurat dan stabil dibanding pengujian manual.Kata kunci: Konektor, Adaptor, Uji Ketahanan, Open Loop, Komunikasi Optik.
Analisis Das Sollen dan Das Sein dalam Penerapan Prinsip Good Corporate Governance pada Perseroan Terbatas di Indonesia. Permadi, Adi; Aolia, Alfi Muhammad; Shahibul Hikam, Muhammad Athaillah; Husni, Asep; Najmudin, Nandang
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 5, No 1 (2026): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v5i1.2498

Abstract

The principle of Good Corporate Governance (GCG) serves as a fundamental pillar in the management of Limited Liability Companies in ensuring transparency, accountability, and alignment with the interests of shareholders and stakeholders. In practice, however, the implementation of GCG often encounters a gap between das sollen the normative standards stipulated in the Company Law and GCG guidelines and das sein, which reflects the actual behavior of corporate organs, particularly the board of directors. This study aims to examine legally how the discrepancy between das sollen and das sein emerges in the application of GCG principles, and how such discrepancies affect the legal accountability of directors. This research employs a normative juridical method using a statutory approach, a conceptual approach, and case analysis based on relevant Supreme Court decisions. The analysis of decisions such as Supreme Court Decisions No. 374 K/Pdt/2012, No. 297 K/Pdt.Sus/2012, and No. 39 PK/Pdt.Sus-Pailit/2013 shows that directors may be held liable when proven to have exceeded their authority, acted negligently, or failed to fulfill their fiduciary duties as mandated under Article 97(3) and Article 98 of the Company Law. The findings indicate that deviations from GCG implementation arise due to weak internal oversight mechanisms, a lack of transparency in managerial decisions, and the persistent occurrence of conflicts of interest in corporate decision-making processes. These discrepancies lead to an increased risk of corporate losses and may result in personal liability for directors, whether through civil lawsuits or corporate legal accountability. Judicial enforcement through court decisions reinforces that GCG is not merely ethical guidance, but a binding normative standard with legal consequences. Thus, this study emphasizes that harmonizing das sollen and das sein is essential for the effective implementation of GCG in Indonesia. Strengthening regulations, improving oversight by corporate organs, and ensuring consistent law enforcement are crucial to achieving governance practices that comply with the prevailing legal standards.ABSTRAKPenelitian ini menganalisis efektivitas Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam memberikan akses keadilan bagi konsumen melalui pendekatan yuridis-empiris yang memadukan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan BPSK Kota Bandung, observasi proses penyelesaian, serta kajian regulasi yang mendasari berdirinya lembaga tersebut. Berdasarkan Perpres Nomor 90 Tahun 2001, BPSK berperan sebagai lembaga non-litigasi yang menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha melalui konsiliasi, mediasi, dan arbitrase, serta berwenang menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar. Temuan menunjukkan bahwa struktur keanggotaan majelis yang terdiri atas unsur pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen dengan proporsi seimbang merupakan instrumen imparsialitas dalam proses ajudikasi sengketa. Namun, efektivitas layanan BPSK masih menghadapi sejumlah tantangan: keterbatasan cakupan kelembagaan karena belum seluruh kabupaten/ kota memiliki BPSK sehingga menimbulkan beban perkara terpusat serta potensi hambatan akses bagi konsumen dari wilayah pinggiran; prosedur pembuktian yang masih konvensional; dan ketergantungan penyelesaian pada itikad baik pelaku usaha dalam menjalankan putusan. Meski demikian, BPSK berhasil berperan sebagai garda awal perlindungan hukum sebelum sengketa meningkat ke ranah litigasi, dengan mekanisme mediasi tetap menjadi pilihan dominan dan memperkuat asas keadilan prosedural bagi para pihak. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam memahami posisi BPSK sebagai bagian dari arsitektur alternatif penyelesaian sengketa di Indonesia serta membuka ruang evaluasi terhadap urgensi peningkatan digitalisasi proses dan perluasan kelembagaan menuju efektivitas yang lebih optimal di masa mendatang.