cover
Contact Name
Rahmat Sewa Suraya
Contact Email
mhat_suraya@yahoo.co.id
Phone
+6285395828765
Journal Mail Official
lisani.tradisilisan@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Universitas Halu Oleo, Gedung Fakultas Ilmu Budaya Lantai II, Jl. H.E.A. Mokodompit, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
LISANI : Jurnal Kelisanan Sastra dan Budaya
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 26139006     EISSN : 26224909     DOI : https://doi.org/10.33772/lisani
Jurnal ini berisi tentang hasil penelitian, artikel ilmiah, makalah ilmiah dalam bidang kelisanan dalam bidang sastra dan budaya di Indonesia. Jurnal ini terbuka untuk para peneliti dan para penulis yang berminat dalam kajian tradisi lisan khususnya kelisanan dalam budaya dan sastra di Indonesia.
Articles 145 Documents
Tradisi Mepupuri di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan Agustina Eka Ningrum; Nurtikawati; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sqt16y22

Abstract

Tradisi mepupuri merupakan pengobatan yang digunakan oleh masyarakat Desa Langkowala untuk mengobati penyakit cacar yang ada dalam tubuh dengan cara di tiup-tiup. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi mepupuri yang ada di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan, untuk menjelaskan bagaimanakah fungsi dari tradisi mepupuri yang ada di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan, untuk mengetahui pola pewarisan di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan. Metode  penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini adalah deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive,data di analisis dengan teknik pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pelaksanaan tradisi mepupuri terdiri dari beberapa tahap  yaitu tahap persiapan, tahap ini adalah tahap untuk menyiapkan gelas yang berisi air putih, tahap proses pelaksanaan dan  tahap akhir proses pengobatan. Adapun fungsi tradisi mepupuri pada suku Wawonii  diDesa Langkowala  Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan yaitu  untuk pengobatan, untuk mengurangi biaya pengeluaran dan untuk mempertahankan pola tradisi. Pola pewarisan dalam tradisi mepupuri pada suku Wawonii di Desa Langkowala  Kecamatan Wawonii BaratKabupaten Konawe Kepulauan yaitu proses pewarisan tradisi mepupuri melalui keluarga dan pola pewarisan melalui lingkungan keluarga.  
Ritual Maduai Lepa  Pada Suku Bajo di Desa Tondasi Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat Sartika Ningsih; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/d1rd0n61

Abstract

Ritual maduai lepa adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat suku Bajo untuk memohon keselamatan dan keberkahan kapal yang akan di turunkan. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan prosesi Ritual maduai lepa dan menganalisis fungsi  Ritual maduai lepa  Pada Suku Bajo di Desa Tondasi Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual maduai lepa memiliki beberapa tahapan yaitu: Proses Ritual Maduai Lepa, Penentuan Waktu dan Tempat (keluarga bermusyawarah, Persiapan Kehadiran Pelaku Ritual (Sando), Persiapan Alat dan Bahan, Tahap Pelaksanaan Ritual Maduai Lepa, Penataan Bahan-Bahan Ritual Oleh Pelaku Ritual (Sando), Pembacaan Doa dan Mantra Khusus Oleh Pelaku Ritual (Sando), Mendorong Kapal Kelaut Pemilik Kapal dan Masyarakat Mendorong Kapal Yang Diarahkan Ke Laut Secara Bersama-sama, Adapun fungsi dari ritual maduai lepa ini terlihat pada fungsi yang ada pada materi atau benda-benda ritual seperti Fungsi Telur Mentah ( antillo), Fungsi Air (boe), Fungsi Rokok, Fungsi Daun Sirih (luppi), Fungsi Daun lebar (daong bagal/muware), Fungsi Tali (ingka) ,dan Fungsi Kayu (pilara). Dari benda-benda tersebut memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat suku Bajo
Ritual Kaghotino Buku Pada Masyarakat Desa Fongkinawa Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna Mira Kasmawati; Wa Kuasa Baka; Agus Rihu; Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/5stey008

Abstract

Ritual kaghotino buku merupakan ungkapan rasa syukur keluarga kepada Tuhan yang diyakini ikut mengatur kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan, fungsi, dan makna simbolik dari ritual kaghotino buku  di Desa Fongkaniwa  Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritual Kaghotino Buku terdiri atas tahapan persiapan dan pelaksanaan ritual. Ritual ini memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi sosial-psikologi, fungsi personal, fungsi kesehatan, dan fungsi religi.Fungsi sosial-psikologi mencerminkan keyakinan masyarakat sebagai bentuk reaksi positif terhadap asimilasi antara pikiran dan kepercayaan tradisional. Ritual ini berperan sebagai sarana permohonan dukungan spiritual melalui hubungan batin antara anggota masyarakat. Fungsi personal bersifat individual, yang ditujukan untuk kesejahteraan pribadi pelaksana ritual. Fungsi kesehatan tercermin dalam penyajian makanan bergizi seperti daging ayam kampung, telur rebus, nasi, dan pisang, yang menjadi bagian penting dari ritual sebagai media pemenuhan kebutuhan biologis.Fungsi religi menjadi dasar utama pembentukan budaya, termasuk dalam pelaksanaan ritual Kaghotino Buku di Desa Fongkaniwa. Ritual ini berakar pada ajaran Islam dan mencerminkan hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai religi diwujudkan melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam mantra, sebagai bentuk doa, syukur, serta harapan akan kekuatan, kesehatan, dan kelancaran rezeki. Makna simbolik dalam Haroa ritual Kaghotino Buku , berupa nasi, ayam, telur, pisang, dan air minum, dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan atas kekuatan fisik untuk keselamatan dan kemudahan dalam memperoleh rezeki.Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lokal sebagai identitas budaya dan spiritual masyarakat Muna
Ritual Mo’oli dalam Mencari Orang Hilang  Pada Masyarakat Tolaki Desa Tabanggele Kecamatan Anggalomoare Kabupaten Konawe Alvira Olivia Saputri; Rahmat Sewa Suraya; Irma Magara; La Ode Muhammad Sardin Sardin; Taufiq Said
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/eca90j61

Abstract

Ritual Mo’oli secara etimologi dalam Bahasa Tolaki “Mo’oli” berati membeli. Namun secara Bahasa dapat diartikan sebagai “upaya kompromistis dengan makhluk-mahluk astral penguasaan wilayah gaib”. Ritual Mo’oli dilakukan ketika ada korban hilang. Seperti orang tenggelam dikali, korban kecelakaan yang dimana tempat korban kecelakaan itu dianggap sangat keramat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana proses ritual Mo’oli dalam mencari orang hilang   dan untuk mengetahui bagaimana makna ritual Mo’oli dalam mencari orang hilang Pada Masyarakat Tolaki di Desa Tabanggele Kecamatan Anggalomoare Kabupaten Konawe. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif  kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik Purposive. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual Mo’oli dalam mencari orang hilang memiliki beberapa tahapan yaitu: Memberi informasi kepada Sando (dukun), persiapan material/bahan ritual, tahap pelaksaan ritual Mo’oli, kunjungan ke tempat orang hilang, pelepasan bahan, tahap akhir. Adapun makna dari ritual Mo’oli yaitu : Makna telur sebagai bentuk permohonan izin kepada penghuni gaib yang diyakini mendiami perairan, dengan harapan agar proses pencarian dapat berjalan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan, Makna Pisang sebagai gigi buaya dalam pelaksanaanya, Makna Uang sebagai pembelinya kebutuhan penghuni seperti kita manusia kita pergi belanja, Makna daun sirih (Obite), pinang (Ineya), kapur sirih (Ineri), rokok (Po’ombiya) sebagai mengambut tamu, Makna Ayam sebagai pengganti orang yang hilang, dan Makna Beras Ketan sebagai makanan penghuni di air.
Pewarisan Pandai Besi di Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat Mariani; La Niampe; Hasdairta Laniampe
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/j4rqvz63

Abstract

Pandai besi adalah orang yang bekerja membuat benda-benda dari besi atau baja. Benda-benda yang dibuatnya bisa berupa alat-alat pertanian, perabot rumah tangga dan senjata. Tujuan penelitian ini yaitu Untuk menganalisis proses pembuatan keterampilan pandai besi dan Untuk mengetahui proses pewarisan dan upaya pelestarian keterampilan pandai besi di Desa Walelei Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualiatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik Purposive sampling. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan parang oleh pandai besi di Desa Walelei terdiri atas beberapa tahapan, yaitu pembelahan besi (kaewengkaha ghuti), pemipihan besi (dopepe’e), pengasahan mata parang (dowintoe), serta proses sepuhan dan pemasangan hulu parang (pangko). Setiap tahapan membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan pengalaman yang tinggi, serta memadukan teknik tradisional dengan penggunaan alat sederhana yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Selain itu, pewarisan keterampilan pandai besi dilakukan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga melalui pembelajaran langsung dan keterlibatan anak-anak sejak usia dini. Upaya pelestarian dilakukan dengan menjaga kualitas produk, mempertahankan teknik tradisional, serta menanamkan nilai-nilai budaya dan etos kerja kepada generasi penerus.
Makanan Tradisonal Sokko Pada Suku Bugis di Kelurahan Punggaluku Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan Muhktia Nur Fadilla; Rahmat Sewa Suraya; Shinta Arjunita Saputri; Wahyu Rustiani Komang
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pnyp7r74

Abstract

Sokko adalah makanan tradisional khas Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis, yang terbuat dari beras ketan.. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan proses pembuatan makanan tradisional Sokko dan untuk menganalisis makna simbolik makanan tradisional Sokko pada pernikahan Suku Bugis di Kelurahan Punggaluku Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualiatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional dibuat dengan proses sebagai berikut: proses perendaman, proses pemerasan santan kelapa, proses membuat bumbu dari bahan alami, proses pengukusan dan proses penyajian makanan tradisional sokko pada pernikahan. Makanan tradisional sokko juga bukan hanya sebagai proses teknis, tetapi juga memiliki makna sebagai simbol pembersihan diri dan niat sebelum menjalani kehidupan berumah tangga. Selain itu, makaan ini juga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur yang dapat mempererat hubungan kekeluargaan menjaga nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat.
TRADISI KALOSARA DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH DI KECAMATAN BAITO KABUPATEN KONAWE SELATAN shinta arjunita saputri; La Ode Dirman; La Ode Ta'alami; Arie Toursino Hadi
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1112

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana tradisi Kalosara digunakan dalam penyelesaian sengketa tanah pada masyarakat kecamatan Baito dengan fokus pada makna dan fungsinya. Penelitian ini merupakan tipe penelitian kualitatif dengan metode wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Kalosara dalam penyelesaian sengketa tersebut dilihat dalam hubungan analogi antara makna benda-benda penyusun Kalosara (anyaman segiempat, rotan, kain putih, daun sirih, dan buah pinang) dengan realitas yang ada, dalam hal ini sengketa tanah. Makna benda-benda tersebut merepresentasikan gagasan ideal dalam kehidupan masyarakat Tolaki termasuk dalam mencari resolusi dalam sengketa tanah. Adapun fungsi yang ditemukan adalah media pemaksa, media pemersatu, dan media perdamaian.
Tradisi Mangaro Pada Etnik Muna di Desa Wale-Ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna Fitrah Ramadan Kahar; Nurtikawati Nurtikawati; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/ge4ew246

Abstract

Mangaro adalah seni ketangkasan yang dilakukan dengan kekuatan tenaga atau hal yang dikenal dengan ilmu kanuragan. Hal yang sangat menarik dalam pertunjukan kesenian ini bahwa atribut yang digunakan atau Keris yang digunakan bukan merupakan Keris tiruan tetapi merupakan Keris asli yang dimiliki oleh masing-masing pesilatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahap dari tradisi Mangaro, untuk mengetahui fungsi dari tradisi Mangaro dan untuk mengetahui bagaimana Pola Pewarisan dalam tradisi Mangaro di Desa Wale-ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukan bahwa proses tradisi Mangaro sendiri itu terdiri dari beberapa bagian diantaranya: Kamafaka atau musyawarah mufakat, Dehambi Ganda atau memukul gendang, Dehunsa Kampanaha atau meletakan siri, Defofinda Anahi Kahubu atau Menginjakan kaki Anak Kecil Ditanah, Doehe syaha moane bhe syaha hobinesyaha laki-laki dan syaha perempuan berdiri ,Do Mangaro Haeati atau Pelaksanaan Mangaro Untuk Masyarakat. Doeheheo Linda Pelaksanaan Tari Linda. Dalam fungsinya sendiri tradisi mangaro ini memiliki beberapa fungsi dintaranya adalah sebagai sarana pemersatu, sebagai sarana tolaka bala, sebagai ilmu bela diri, dan sebagaiidentitas. Sedangakan untuk pola pewarisanya sendiri yaitu tradisi Mangaro sendiri memiliki 2 jenis pola pewarisan yaitu enkulturasi dan sosialisasi, yang dimana tradisi mangaro sendiri diwariskan dari garis keturunan dan juga bukan garis keturunan
Tradisi Pengobatan Kasighurambe Pada Bayi dan Balita Etnis Muna di Desa Lailangga Kecamatan Wadaga Kabupaten Barat Irma Dayanti; Wa Kuasa Baka; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/89x6gp43

Abstract

Pengobatan Kasighurambe dalam bahasa Muna merujuk pada kondisi salah urat yang umumnya terjadi pada bayi berusia 0–12 bulan dan balita usia 1–5 tahun. Kasighurambe biasanya disebabkan oleh bayi atau balita yang sering terjatuh, sehingga mengakibatkan gangguan urat. Gejala yang muncul pada anak yang mengalami Kasighurambe antara lain demam dan batuk, yang diyakini sebagai akibat darigangguan urat tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi pengobatan Kasighurambe serta menjelaskanmakna mantra yang terkandung di dalamnya pada masyarakat Suku Muna di Desa Lailangga, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Muna Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pengobatan Kasighurambe memiliki tahapan-tahapan tertentu, antara lain penentuan waktu dan tempat pelaksanaan, serta keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam proses pengobatan. Proses pelaksanaan pengobatan dimulai dengan tahapan diagnosis penyakit oleh dukun, kemudian dilanjutkan dengan tahappengobatan. Langkah awal dalam proses ini adalah mempersiapkan minyak gosok, yang kemudian dituangkan dan dioleskan oleh dukun ke seluruh tubuh bayi sambil membacakan mantra. Setelah itu, dukun akan melakukan pengurutan pada kaki kiri dan kanan secara berulang, dilanjutkan dengan mengurut seluruh tubuh untuk mencari bagian urat yang dianggap sakit. Sebagai penutup, dukun membacakan mantra ke dalam air minum yang kemudian diberikan kepada bayi untuk diminum. Dalam proses ini, mantra yang digunakan memiliki makna tersendiri yang menjadi bagian penting dari tradisi pengobatan Kasighurambe.
Fotala: Penyajian Makanan Pada Tradisi Pesta Adat Masyarakat Muna di Desa Parida Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Melisa; La Niampe La Niampe; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/mbqqth33

Abstract

Fotala merupakan salah satu bentuk penyajian makanan dalam tradisi makan bersama yang lazim dilakukan oleh masyarakat Munadalam berbagai upacara adat, seperti kagaa (perkawinan), katoba (pengislaman anak), dan kampua (pengislaman orang dewasa). Dalam upacara adat perkawinan, tradisi fotala dilaksanakan sebagai upaya untuk memudahkan para orang tua adat, khususnya kaum perempuan yang mengenakan pakaian adat (kabhantapi), dalam mengambil makanan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan pelaksanaan fotala serta menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaannya di Desa Parida, Kecamatan Lasalepa, KabupatenMuna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan fotala terdiri atas tiga tahapan, yaitu: Tahap persiapan, yakni mempersiapkan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan fotala, Tahap pelaksanaan, yang dimulai dengan penyampaian dari tokoh adat bahwa makanan akan disajikan. Setelah itu, pihak yang bertugas menyajikan makanan akan masuk danduduk di tengah-tengah para orang tua adat, kemudian memulai proses penyajian secara berurutan, dimulai dari oe kawanu (air cucitangan), lauk-pauk, kadada (sayur), oghoti (nasi), hingga yang terakhir yaitu opiri kafumaha (piring untuk makan), Tahap akhir, yaitu proses pembersihan area makan setelah acara selesai, Dalam pelaksanaan fotala terkandung berbagai nilai, antara lain nilai gotong royong,nilai etika, nilai kebersamaan, dan nilai komunikatif.