cover
Contact Name
Ike Dian Puspta Sari
Contact Email
ikedianps@gmail.com
Phone
+6281330211770
Journal Mail Official
jurnalparadigma.budiutomo@gmail.com
Editorial Address
https://ejurnal.uibu.ac.id/index.php/paradigma/EditorialTeam
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
ISSN : 26571803     EISSN : 26571803     DOI : https://doi.org/10.33503/paradigma
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya is a reputable scientific journal that has been recognized by SINTA with a ranking of 5. Published two times a year (January-June and July-December), the journal accommodates a variety of scientific articles that explore contemporary issues in philosophy, science, technology, and socio-culture. With its broad scope, Paradigma has become an important reference for researchers, academics, and practitioners interested in the intersections of various disciplines. Equipped with PISSN: 08523185 and EISSN: 2657-1803, the journal ensures the quality and accessibility of its publications. Paradigma accepts articles in the form of original research, literature reviews, and critical essays that fall within interdisciplinary scope: philosophy, science, technology, socio-culture.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 322 Documents
Prospek Media Relations Dalam Pengelolaan Webometrics Untuk Peningkatan Reputasi Universitas Jenderal Soedirman Lutfi, Ahmad Arijal; Widjanarko, Wisnu; Santoso, Edi
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.3200

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana strategi media relations dapat mendukung peningkatan kinerja Webometrics sebagai instrumen reputasi digital Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Berangkat dari teori Relationship Management Ledingham & Bruning, penelitian ini menelaah kualitas hubungan UNSOED dengan media, dinamika pengelolaan konten digital, serta kontribusinya terhadap indikator Webometrics yang meliputi Visibility, Excellence, dan Openness. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi website, serta analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi media relations UNSOED telah berjalan, namun belum terintegrasi secara sistemik dengan kebutuhan peningkatan backlink, eksposur tridharma, dan kolaborasi jangka panjang dengan media nasional. Fragmentasi informasi antarunit, keterbatasan SDM teknis, serta minimnya strategi konten berbasis riset menjadi faktor utama stagnasi indikator Visibility yang memiliki bobot terbesar (50%) dalam Webometrics. Temuan penelitian menegaskan pentingnya model integratif media relations berbasis Webometrics yang memadukan koordinasi kelembagaan, optimalisasi konten tridharma, penguatan jejaring media, serta peningkatan kapasitas teknis kehumasan. Model ini direkomendasikan sebagai
Fenomena Perilaku Konsumtif: Eksplorasi Faktor-faktor pada Kondisi Finansial Mahasiswa Penerima KIP-K yang Merantau Armalid, Ikhwanul Ihsan; Purwito, Anatya; Aulia , Rizqa Hijjul; Lazuardi , Shinta Auliya Pusfitasari
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.2729

Abstract

Perilaku konsumtif pada mahasiswa merupakan sebuah fenomena umum yang sering terjadi, dimana perilaku ini dapat muncul terlebih pada mahasiswa yang sedang merantau karena telah memiliki otoritas dalam melakukan pengaturan keuangan secara mandiri. Kondisi financial pada mahasiswa rantau dapat mengalami dampak negatif bila perilaku konsumtif muncul tidak terkendali terutama jika sumber dana yang dimiliki terbatas, sehingga perlu adanya tindak pengendalian dengan langkah awal mengenali faktor-faktor yang terlibat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang terlibat dalam kondisi financial pada mahasiswa rantau penerima KIP-K dengan kecenderungan perilaku konsumtif. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan jenis pendekatan eksploratif melalui observasi terbuka dan wawancara semi terstruktur kepada 3 mahasiswa yang berstatus penerima KIP-K dan sedang merantau juga memiliki kecenderungan perilaku konsumtif, serta dalam proses analisis data penelitian ini menggunakan analisis tematik dan analisis konten. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa faktor-faktor yang terlibat dalam kondisi financial mahasiswa ditentukan berdasarkan latar belakang subjek dan berdasarkan 3 aspek yang terlibat yaitu aspek sosiologis aspek psikologis, serta aspek perilaku. Selain itu, ditemukan juga hubungan antar faktor yang bersifat timbal balik, mempengaruhi secara langsung dan mempengaruhi secara tidak langsung. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menunjukan tidak hanya terbatas dari segi hadirnya faktor saja namun juga bagaimana faktor yang terlibat dapat berinteraksi dengan faktor lainnya yang dari keterhubungannya mampu memberikan kejelasan bentuk keterlibatan pada kondisi financial mahasiswa.
Peran Kecerdasan Spiritual Dalam Memediasi Hubungan Antara Kesiapan Teknologi Dan Kepuasan Belajar Mahasiswa Pada Era Kampus Merdeka Ayu Tasya', Dinar; Munirul Abidin; Mudjia Rahardjo
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.2838

Abstract

This study aims to analyze the role of Spiritual Intelligence as a mediator in the relationship between Technology Readiness and Student Learning Satisfaction in the Era of Merdeka Campus. The method used was PLS-SEM analysis with data from 162 respondents. The measurement model test results showed that all indicators met the convergent validity criteria (loading > 0.7; AVE > 0.5) and reliability (Composite Reliability > 0.7). Discriminant validity was also fulfilled based on the Fornell-Larcker criterion. In the structural model test, it was found that Technology Readiness had a positive and significant effect on Learning Satisfaction (β = 0.799; p < 0.05). However, Spiritual Intelligence did not act as a mediator in this relationship, because the tested model only showed direct effects of Spiritual Intelligence on Learning Satisfaction (β = 0.758; p < 0.05) and Technology Readiness (β = 0.728; p < 0.05), with no significant indirect path. Technology Readiness and Spiritual Intelligence together were able to explain 57.5% of the variation in Learning Satisfaction (R² = 0.575). The implication of this research indicates that although Spiritual Intelligence is an important factor that directly improves Learning Satisfaction and Technology Readiness, it does not function as a mediator in this model context. Strategies to enhance learning satisfaction are suggested to focus on strengthening Technology Readiness and Spiritual Intelligence in parallel.
Landasan Pendidikan: Menjaga Esensi Karakter Bangsa Dalam Transformasi Digital Nisa, Fahrun; Rahayu Fitriyah Nengsih; Agus Tinus
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.3228

Abstract

Adanya transformasi digital yang telah hadir dengan berbagai aspek dalam sistem pendidikan telah membuat perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan, dan algoritma pembelajaran berubah secara fundamental dalam cara manusia mengakses dan mengolah informasi tentang pengetahuan. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga merupakan alat dalam membentuk identitas, nilai, dan karakter peserta didik. Pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan fundamental berupa ketegangan antara tuntutan akselerasi digital dan kebutuhan untuk mempertahankan nilai-nilai karakter bangsa. Oleh karena itu, bagaimana pendidikan tetap mampu menjaga esensi karakter bangsa di tengah gempuran transformasi digital yang bersifat disruptif ini? Jadi, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana landasan pendidikan yang menurut Ki Hadjar Dewantara dapat dikonstruksi ulang guna menjaga esensi kemanusiaan peserta didik di tengah dominasi kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kepustakaan (library research). Artikel ini menelaah berbagai literatur relevan untuk mendeskripsikan pergeseran peran guru serta fenomena pragmatisme teknologi yang berisiko mengancam nilai-nilai luhur seperti gotong royong, tepa selira, dan musyawarah. Artikel ini menyimpulkan bahwa transformasi digital di sekolah harus diimbangi dengan penguatan landasan sosiokultural agar teknologi berfungsi sebagai alat pendukung, bukan penentu tujuan pendidikan yang mendangkalkan karakter bangsa.
Analisis Filosofis Tokoh Eren Yeager dalam Pandangan Filsafat Eksistensialisme Sartre antara Kebebasan dan Moralitas Dea Asti Widia
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.3253

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tindakan tokoh Eren Yeager dalam anime Attack on Titan melalui perspektif eksistensialismeJean-Paul Sartre. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana konsep kebebasan, tanggung jawab, dan dilema moral tercermindalam pilihan-pilihan ekstrem yang diambil tokoh tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif-kualitatifdengan menelaah adegan, dialog, serta dinamika naratif yang relevan dengan gagasan eksistensialisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Eren menggambarkan subjek eksistensialis yang berupaya menentukan makna hidupnya sendiri, namun kebebasan radikal yang ia perjuangkan berujung pada konflik moral ketika pilihan tersebut meniadakan kebebasan dan hak hidup orang lain. Analisis ini juga menemukan bahwa Eren tidak hanya digerakkan oleh keinginan kebebasan personal, tetapi juga oleh tekanan balas dendam dan rasa tanggung jawab terhadap bangsanya. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa tindakan Eren mencerminkan ketegangan antara kebebasan individu dan tanggung jawab universal, sehingga menggambarkan paradoks mendasar dalam eksistensialisme Sartre. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian filsafat pada media populer serta memberi pemahaman praktis mengenai konflik moral dalam karya audiovisual.
Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Pola Interaksi Sosial Remaja Perkotaan Nurcholis Sunuyeko; Sari, Ike Dian Puspita
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 5 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v30i5.3255

Abstract

This study explores the shift in social interaction patterns among urban adolescents in Surabaya due to the massive penetration and domination of social media use. Employing a qualitative approach with an exploratory case study design, primary data collection was conducted through semi-structured in-depth interviews and non-participant observation involving 15 adolescents aged 15 to 18 years. The data were then analyzed using thematic analysis techniques. The results reveal four main findings. First, the disruption of the communal essence in the local tradition of "cangkrukan", which is now reduced to a mere physical gathering without deep verbal interaction. Second, the high frequency of computer-mediated communication is proven to only create a superficial illusion of connectivity. Third, the habituation of phubbingbehavior significantly erodes non-verbal communication elements, directly impacting the decline of interpersonal empathy. Fourth, social anxiety in the form of Fear of Missing Out (FoMO) triggers a strong fixation on gadgets, giving rise to the paradoxical condition of being "alone together" in public spaces. This study concludes that the dominance of cyberspace has triggered a crisis of social presence, where adolescents fail to fully allocate their attention and emotions in the real world. Therefore, digital literacy interventions must not merely focus on limiting screen time, but rather be directed towards digital mindfulness practices to restore the emotional and interpersonal communication skills of the younger generation.
Peran Meme Internet dalam Membentuk Wacana Politik Generasi Z: Antara Aktivisme Digital dan Apatisme Nurcholis Sunuyeko; Rizky Agung Novariyanto
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 5 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v29i5.3256

Abstract

This research explores the paradoxical role of internet memes in shaping political discourse among Generation Z in Indonesia. Employing a qualitative approach through virtual ethnography and in-depth interviews with 20 first-time voter informants, this study dissects how these digital cultural artifacts influence patterns of political participation. The results indicate that memes serve as a primary "entry point" for adolescents to understand complex policy issues through intuitive visual language. Memes are proven to democratize political discourse by breaking down elite communication barriers and acting as effective counter-narrative instruments for citizens. However, the study also identifies significant risks in the form of issue substance reduction and the slacktivism phenomenon, where the digital satisfaction of sharing satirical content replaces tangible action in the physical world. Furthermore, memes are often used merely as a coping mechanism against corrupt political realities, which potentially fosters permanent cynicism and apathy. This study concludes that while memes expand public engagement, they also trigger a shallowing of discourse that necessitates critical digital political literacy interventions. The focus of literacy must be directed towards bridging creative expression in cyberspace into substantial and accountable civic engagement in the real world.
Cancel Culture di Media Sosial: Dampaknya terhadap Kebebasan Berpendapat dan Resiliensi Psikologis Mahasiswa Ike Dian Puspita Sari; Nurcholis Sunuyeko; Anita Kurnia Rachman
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.3257

Abstract

This study explores the phenomenon of cancel culture and its impact on freedom of speech and the psychological resilience of university students in Indonesia. Employing a qualitative approach with an existential phenomenological design, data were collected through in-depth interviews with 15 students who had been involved in the digital cancellation ecosystem as perpetrators, victims, or passive bystanders. The results reveal that cancel culture has mutated from an accountability instrument into a repressive form of digital vigilantism. Key findings indicate a massive chilling effect, where students obsessively practice self-censorship of their opinions due to the fear of destructive social exclusion. Furthermore, the study identifies severe psychological impacts on "cancelled" subjects, including panic attacks, depression, and social isolation that threatens academic motivation. The boundary between ethical enforcement and cyberbullying is found to be increasingly blurred due to the amplification of collective rage by social media algorithms. This study concludes that the dominance of this horizontal judgment culture has created a crisis of intellectual courage within the campus environment. Therefore, a paradigm shift toward restorative justice and the strengthening of digital emotional literacy is required to restore a safe dialectical space where differing opinions are no longer perceived as social threats that must be permanently eradicated.
Negosiasi Identitas Budaya: Resistensi dan Hibriditas Mahasiswa di Tengah Dominasi Budaya Populer Global Nurcholis Sunuyeko; Ike Dian Puspita Sari
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 31 No. 2 (2025): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v31i2.3258

Abstract

This research analyzes cultural identity negotiation strategies among university students in Indonesia amidst the dominance of global popular culture, specifically the influence of Hallyu and Westernization. Employing a qualitative approach with an intrinsic case study design, data were collected through in-depth interviews and digital observations of 12 students in urban environments. The results indicate that students do not passively adopt foreign cultures; instead, they undergo a "glocalization" process through selective hybridity. The findings identify three main typologies: adaptive hybridity, symbolic resistance through digital indigeneity, and aesthetic assimilation. While global elements are utilized as social capital for a modern self-image, local religious and moral values remain fundamental filters in the adoption process. However, the study also reveals significant risks of cultural alienation in the form of authenticity crises and cultural inferiority due to dominant transnational aesthetic standards on social media. This study concludes that contemporary student identity manifests as a dynamic "cultural mosaic." It suggests a repositioning of character education to foster critical cultural negotiation skills, enabling the younger generation to become global actors without losing their national identity roots.
Analisis Kurikulum Deep Learning di SMA Islam Shafta Surabaya Rachel Hamdan Al Kahfi; Atta Yusli Salsabil; Diva Aprinita Hardiyanti; Saskia Erliana Fitiawanti; Ima Widiyanah
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.2560

Abstract

Kurikulum menjadi suatu hal yang penting dalam pendidikan, sehingga harus menyesuaikan dengan kondisi zaman agar lulusan nantinya mampu menjawab dan memenuhi kebutuhan zaman yang ada. Namun, di sisi lain pendidikan juga mempunyai permasalahan mulai dari sumber daya guru, sarana prasarana yang belum merata padahal secara sistem kebijakan sama dari pusat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kurikulum Deep Learning di SMA Islam Shafta Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi, serta analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMA Islam Shafta Surabaya telah menerapkan kurikulum Deep Learning yang berfokus pada tiga aspek utama, yaitu joyful learning, meaningful learning, dan mindful learning. Aspek joyful learning terlihat dari kegiatan belajar yang menyenangkan dan mendorong keaktifan siswa, meaningful learning tampak dari pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan nyata, sedangkan mindful learning tercermin dari upaya sekolah menumbuhkan pola pikir kritis dan kesadaran diri siswa. Meskipun penerapannya sudah berjalan, implementasi kurikulum Deep Learning belum merata di seluruh mata pelajaran, sehingga perlu pengembangan lebih lanjut agar dapat dioptimalkan secara menyeluruh.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 31 No. 2 (2025): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 31 No. 1 (2025): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 5 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 4 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 3 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 2 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 1 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 3 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 5 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 4 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 2 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 1 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 28 No. 4 (2022): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 28 No. 3 (2022): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, danSosial Budaya Vol. 28 No. 2 (2022): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 28 No. 1 (2022): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 27 No. 2 (2021): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 27 No. 1 (2021): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 26 No. 2 (2020): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 25 No. 2 (2019): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya More Issue