cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No.7, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sawerigading
ISSN : 08544220     EISSN : 25278762     DOI : 10.26499/sawer
SAWERIGADING is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in SAWERIGADING have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SAWERIGADING is published by Balai Bahasa Sulawesi Selatan twice times a year, in June and December. SAWERIGADING focuses on publishing research articles and current issues related to language, literature, and the instructor. The main objective of SAWERIGADING is to provide a platform for scholars, academics, lecturers, and researchers to share contemporary thoughts in their fields. The editor has reviewed all published articles. SAWERIGADING accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 383 Documents
Naming Coffee Shops in Makassar City: Linguistic Landscape Study Muh. Bahly Basri; Jufri Jufri; Sakaria Sakaria; Iin Nur Yasinta
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1685

Abstract

This study aimed to describe language contestation in naming coffee shops in Makassar City. This study used a qualitative approach with a descriptive design. Data collected by photographing data objects using a device by tracing along the streets of Makassar City and digital space via Google Maps. Data analysis was carried out through the stages of scanning the photos into an Excel data matrix, classification based on language contestation patterns, frequency calculations, pattern interpretation, and drawing conclusions. The research results show that in the monolingual domain, English occupies the most dominant position (52.94%), followed by Indonesian (43.13%), while Makassarese and Turkish each appear in only one shop name (1.96%). In the bilingual domain, the Indonesian–English combination is the most frequently used pattern (78.26%), followed by Indonesia–Makassar (17.39%) and Makassar–English (4.34%) patterns. This finding shows that coffee shop owners in Makassar City tend to use English as a representation of urban areas. The implications of the findings of this research are as a basis for formulating policies for local governments to increase the visibility of local languages in public spaces. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kontestasi bahasa dalam penamaan kedai kopi di Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Pengumpulan data melalui pemotretan objek data menggunakan gawai dengan menelusuri sepanjang jalan Kota Makassar dan ruang digital melalui google maps. Analisis data dilakukan melalui tahapan pemindaian hasil potretan ke dalam matriks data excel, klasifikasi berdasarkan pola kontestasi bahasa, penghitungan frekuensi, interpretasi pola, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ranah monolingual bahasa Inggris menempati posisi paling dominan (52,94%), disusul bahasa Indonesia (43,13%), sedangkan bahasa Makassar dan bahasa Turki masing-masing hanya muncul pada satu nama kedai (1,96%). Pada ranah bilingual, kombinasi Indonesia–Inggris merupakan pola yang paling banyak digunakan (78,26%), diikuti Indonesia–Makassar (17,39%) dan Makassar–Inggris (4,34%). Temuan ini menunjukkan bahwa pemilik kedai kopi cenderung menggunakan bahasa Inggris di Kota Makassar sebagai representasi wilayah urban. Implikasi temuan penelitian ini yaitu sebagai dasar perumusan kebijakan kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan visibilitas bahasa lokal di ruang publik.
Senyapan dan Selip Lidah dalam Produksi Ujaran Pada Debat Capres dan Cawapres Tahun 2024 Agus Mulyanto; Uswah Sakinah; Moh. Rakhmat
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1423

Abstract

This study analyzes the forms of silence, slips of the tongue and public perception at the presidential and vice-presidential debates in 2024. Using a qualitative approach with descriptive methods with data sources in the form of video recordings of presidential and vice-presidential debates in 2024 located on Najwa Shihab's YouTube account, the perceptions of each character and the perceptions of the audience who directly watched the debate from beginning to end. Based on the research that has been done, 136 times of silence and slippage data were found. Silence data amounted to 69 times and slips of the tongue 67 times. Silence is divided into two, namely 42 filled silences and 27 silent silences. While the slips of the tongue were found 36 times of anticipation errors, 21 times of transposition errors, five nervous errors, one time malapropism errors and five times perseveration errors. The presidential candidate who often makes language errors in silence is Prabowo Subianto by making mistakes 37 times, while Anies Baswedan tends to slip his tongue 20 times. In the final results, the researchers concluded that the slips of the tongue and slips of the tongue made by each presidential and vice presidential candidate did not affect the results of the vote during the election.  AbstrakPenelitian ini menganalisis bentuk-bentuk senyapan, selip lidah serta persepsi publik pada debat capres dan cawapres tahun 2024. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dengan sumber data berupa rekaman video debat capres dan cawapres tahun 2024 yang berada di akun YouTube Najwa Shihab, persepsi dari masing-masing tokoh serta persepsi dari penonton yang turut langsung menonton jalannya debat dari awal sampai akhir. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan 136 kali data senyapan dan selip lidah. Data senyapan berjumlah 69 kali dan selip lidah 67 kali. Senyapan terbagi menjadi dua yaitu senyapan terisi berjumlah 42 kali dan senyapan diam sebanyak 27 kali. Sedangkan pada selip lidah ditemukan sejumlah 36 kali kekeliruan antisipasi, 21 kali kekeliruan transposisi, lima kekeliruan grogi, satu kali kekeliruan malapropisme dan lima kali kekeliruan perseverasi. Capres yang sering melakukan kesalahan berbahasa dalam senyapan yakni Prabowo Subianto dengan melakuka kesalahan sebanyak 37 kali, sedangkan Anies Baswedan cenderung sering melakukan selip lidah sebanyak 20 kali. Pada hasil akhir peneliti menyimpulkan bahwa senyapan dan selip lidah yang dilakukan oleh masing-masing capres dan cawapres tidak mempengaruhi hasil dari perolehan suara pada saat pemilu.
Literasi Digital dalam Konten Edukasi Kebahasaan dan Kesastraan di Instagram @dutabahasariau Restira My Syahputri; Atwar Bajari; Edwin Rizal
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1637

Abstract

This study analyzes the practice of digital literacy in the production and curation of linguistic and literary educational content on Instagram @dutabahasariau. The focus is directed at examining how the components of digital literacy proposed by Hague and Payton are implemented and integrated into content production strategies. This research employs a descriptive qualitative approach through content analysis of seven Instagram reels selected purposively based on thematic variation and audience engagement, complemented by in-depth interviews with the account administrator. The results of the study show that digital literacy is not applied as separate skills, but as an integrated practice consisting of three main dimensions: technical (functional skills), strategic (creativity, collaboration, and effective communication), and reflective (information evaluation, critical thinking, and socio-cultural awareness). The integration of these dimensions plays a crucial role in shaping the quality and reach of educational content on social media. However, the implementation remains suboptimal in terms of technical skill distribution, sustainability of collaboration, and the development of interactive spaces that encourage critical audience engagement. This study highlights digital literacy as a strategic capacity in content production and contributes to the advancement of digital literacy studies in social media contexts. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik literasi digital dalam produksi dan kurasi konten edukatif kebahasaan dan kesastraan pada akun Instagram @dutabahasariau. Fokus penelitian diarahkan pada implementasi dan integrasi komponen literasi digital menurut Hague dan Payton dalam strategi produksi konten. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis isi terhadap tujuh konten reels yang dipilih secara purposif berdasarkan variasi tema dan tingkat keterlibatan audiens, serta wawancara mendalam dengan pengelola akun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital terwujud sebagai praktik yang terintegrasi dalam tiga dimensi utama, yaitu teknis (keterampilan fungsional), strategis (kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi efektif), serta reflektif (kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, dan pemahaman sosial budaya). Integrasi ketiga dimensi tersebut berperan dalam menentukan kualitas dan jangkauan konten edukatif di media sosial. Namun, implementasinya belum sepenuhnya optimal, terutama pada pemerataan keterampilan teknis, keberlanjutan kolaborasi, serta pengembangan interaksi yang mendorong partisipasi kritis audiens. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital berfungsi sebagai kapasitas strategis dalam produksi konten kebahasaan serta berkontribusi pada pengembangan kajian literasi digital di media sosial.
Pendidikan Karakter dalam Mitos Yogyakarta: Analisis Moral Knowing, Moral Feeling, dan Moral Action Khalifatun Saudah; Muhammad Saleh; Hajrah Hajrah; Usman Usman; Anita Candra Dewi
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1687

Abstract

This study aims to analyze character education in Yogyakarta myths through the framework of moral knowing, moral feeling, and moral action. The method employed is a qualitative descriptive-analytical approach using narrative analysis of three myths from Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta by Dhanu Priyo Prabowo, namely Tombak Baruklinting, Raksasa Penjaga Gunung Merapi, and Mbok Randa Bintara dan Lurah Cakrajaya. The findings reveal that myths not only represent character values but also construct the process of character formation through narrative structures that connect norms, conflicts, and consequences. Three patterns of character formation are identified: normative-repressive, deliberative-collective, and transformational, reflecting the integration of cognitive, affective, and behavioral dimensions. These findings affirm that myths function as pedagogical mechanisms that support the holistic internalization of values, thereby holding potential as contextually grounded sources for character education based on local wisdom. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis pendidikan karakter dalam mitos Yogyakarta melalui kerangka moral knowing, moral feeling, dan moral action. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan analisis naratif terhadap tiga mitos dalam Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta karya Dhanu Priyo Prabowo, yaitu Tombak Baruklinting, Raksasa Penjaga Gunung Merapi, dan Mbok Randa Bintara dan Lurah Cakrajaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos tidak hanya merepresentasikan nilai karakter, tetapi juga membangun proses pembentukan karakter melalui struktur naratif yang menghubungkan norma, konflik, dan konsekuensi. Ditemukan tiga pola pembentukan karakter, yaitu normatif-represif, deliberatif-kolektif, dan transformasional, yang mencerminkan integrasi dimensi kognitif, afektif, dan perilaku. Temuan ini menegaskan bahwa mitos berfungsi sebagai mekanisme pedagogis yang mendukung internalisasi nilai secara holistik, sehingga berpotensi menjadi sumber pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang kontekstual.
Dari Etika Air ke Kewargaan Ekologis dalam Novel Anak-Anak Sungai Sondong: Kajian Ekokritik Ari Ambarwati; Aisyah Romadhoni Salsabila; Frida Siswiyanti
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1721

Abstract

This article analyzes the novel Anak-Anak Sungai Sondong by Ramajani Sinaga (2023) using an ecocritical approach sharpened by ecojustice pedagogy to trace the representational shift from water ethics to ecological citizenship. The method is qualitative-descriptive with close reading strategy. Data collection was conducted through repeated reading and coding of eight operational ecological citizenship indicators. Data analysis involved four stages: data reduction, theory-driven coding, narrative pattern mapping, and analytical interpretation. Results show that the novel constructs ecological cause-and-effect logic and produces the child subject as a public agent connecting local experience to demands for social change through collective action and advocacy. The river is positioned as a living space mediating health, economy, and solidarity, while opening water issues as matters of justice and civic participation. This study affirms children's literature as public pedagogy for water literacy and the SDG 6 agenda. AbstrakArtikel ini menganalisis novel Anak-Anak Sungai Sondong karya Ramajani Sinaga (2023) dengan pendekatan ekokritik yang dipertajam oleh ecojustice pedagogy guna menelusuri pergeseran representasi dari etika air menuju kewargaan ekologis. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan strategi close reading. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan berulang dan pengodean delapan indikator operasional kewargaan ekologis. Teknik analisis data melibatkan empat tahap: reduksi data, pengodean terbimbing teori (theory-driven coding), pemetaan pola naratif, dan penafsiran analitik. Hasil penelitian menunjukkan novel berhasil membangun logika sebab-akibat ekologis dan memproduksi subjek anak sebagai agen publik yang menghubungkan pengalaman lokal dengan tuntutan perubahan sosial melalui aksi kolektif dan advokasi. Sungai diposisikan sebagai ruang hidup yang memediasi kesehatan, ekonomi, dan solidaritas, sekaligus membuka pembacaan isu air sebagai persoalan keadilan dan partisipasi warga.
Jangjawokan sebagai Sastra Lisan Sunda: Bentuk, Fungsi, dan Tantangan Pelestarian Annisya Disa Astrina; Ute Lies Siti Khadijah; Edwin Rizal
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1711

Abstract

Jangjawokan is an oral literature that is still alive in the community. However, its existence is currently facing serious challenges from both internal and external factors. Although a number of studies have discussed jangjawokan as a cultural practice or ritual function, studies that comprehensively integrate aspects of linguistic form, social function, and preservation challenges are still limited. This study aims to describe the form, function, and challenges of preserving jangjawokan in Pasirbiru Village. This study uses a qualitative-descriptive method with an ethnolinguistic approach. In-depth interviews with informants and literature studies were the data collection techniques chosen. The results of the study show that jangjawokan can be considered oral literature because it has an unstandardized structure, word repetition, and word flexibility that is adapted to the expected benefits. The function of jangjawokan in community life is as a ritual language used in the context of daily activities, medicine, and traditional ceremonies that reflect the Sundanese community's way of life. However, the preservation of jangjawokan faces serious challenges, starting from its limited inheritance, dependence on the memories of elders, and declining interest and dominance of formal prayers among the younger generation, which could potentially lead to its disappearance. Therefore, it is important to carry out systematic inventorying (documentation, determination, data updating) as part of the preservation of jangjawokan, which is an intangible cultural heritage. AbstrakJangjawokan merupakan sastra lisan yang masih hidup dalam kehidupan masyarakat. Akan tetapi, keberadaannya saat ini mengalami tantangan serius baik dari faktor internal maupun eksternal. Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji jangjawokan sebagai praktik buday atau fungsi ritual, kajian yang menghubungkan aspek linguistik, fungsi sosial, dan tantangan pelestariannya secara komprehensif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan tantangan pelestarian jangjawokan di Desa Pasirbiru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan etnolinguistik. Wawancara mendalam dengan informan dan studi pustaka menjadi teknik pengumpulan data yang dipilih. Hasil penelitian menunjukkan jangjawokan dapat dikatakan sebagai sastra lisan karena memiliki struktur yang tidak baku, adanya repetisi kata, serta terdapat modifikasi makna yang disesuaikan dengan manfaat yang diharapkan. Fungsi jangjawokan di kehidupan masyarakat sebagai bahasa ritual yang digunakan dalam konteks aktivitas sehari-hari, pengobatan, dan upacara adat yang merefleksikan cara pandang hidup masyarakat Sunda. Namun, pelestarian jangjawokan mengalami tantangan yang serius dimulai dari pewarisannya yang terbatas, bergantung pada ingatan sepuh, serta penurunan minat dan dominasi doa-doa formal dalam generasi muda sehingga berpotensi hilang. Oleh karena itu, penting dilakukannya inventarisasi (dokumentasi, penetapan, pemutakhiran data) secara sistematis sebagai bagian pelestarian jangjawokan yang merupakan warisan budaya takbenda.
Hermeneutic Reading of Paul Ricoeur's Suspicion in Ujub Mantra Ganti Langse Ceremony Function Higher Education Dwi Rohman Soleh; Panji Kuncoro Hadi; Etik Retnaningsih; Muhammad Binur Huda
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1673

Abstract

This study aims to reveal the symbolic meaning and mythologization of Prabu Brawijaya in the ujub mantra text of the Ganti Langse traditional ceremony at Palenggahan Ageng Srigati. This research uses a qualitative descriptive method. Data were collected through document analysis of the ujub mantra text written by Suwardi. Data analysis employed Paul Ricoeur’s hermeneutics of suspicion, including stages of data segmentation, coding, interpretation, and synthesis. The results show that the ujub mantra contains symbolic structures that function to mythologize and mystify the figure of Prabu Brawijaya as a center of cultural authority, constructed through literary narratives and collective beliefs rather than historical facts. These findings indicate that the mantra operates as a medium of ideological representation and cultural legitimation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan proses mitologisasi tokoh Prabu Brawijaya dalam teks mantra ujub pada upacara adat Ganti Langse di Palenggahan Ageng Srigati. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen terhadap teks mantra ujub yang ditulis oleh Suwardi. Analisis data menggunakan hermeneutika kecurigaan Paul Ricoeur, yang meliputi tahap segmentasi data, pengodean, interpretasi, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra ujub mengandung struktur simbolik yang berfungsi untuk memitologisasi dan memistifikasi tokoh Prabu Brawijaya sebagai pusat otoritas kultural, yang dikonstruksi melalui narasi sastra dan kepercayaan kolektif, bukan sebagai fakta historis. Temuan ini menunjukkan bahwa mantra berfungsi sebagai media representasi ideologis dan legitimasi budaya.
Diksi dalam Syair Dero Tradisional “Kajian Stilistika” Siti Aminah Lapangandong; Moh. Tahir; Yunidar Yunidar; Ruhaliah Ruhaliah
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1710

Abstract

The research aims to describe the classification of diction and to explain the linguistic, social, spiritual, and philosophical meanings reflected in Dero poetry. This study employed a stylistic approach using a descriptive qualitative method. The data consisted of 30 Dero poetry texts collected through interviews, observation, documentation, and note-taking from Pamona community informants. Data were analyzed through the stages of data reduction, classification, interpretation, and conclusion drawing. The findings show that the diction in Dero poetry can be classified into several categories, namely religious diction, kinship and brotherhood, nature and agriculture, romantic and affectionate expression, praise and respect, advice and wisdom, struggle and life spirit, sorrow and separation, customs and rituals, as well as symbolic and metaphorical diction. These word choices contain denotative, connotative, and philosophical meanings that reflect the Pamona worldview concerning the relationship between humans, God, fellow human beings, nature, and customary values. In addition, Dero poetry functions as a medium of moral education, reinforcement of social solidarity, emotional expression, and a marker of local cultural identity. Therefore, Dero poetry represents a cultural heritage that integrates language, art, and the life values of the Pamona people. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan klasifikasi ragam diksi serta menjelaskan makna linguistik, sosial, spiritual, dan filosofis yang tercermin dalam syair Dero. Penelitian menggunakan pendekatan stilistika dengan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa 30 teks syair Dero yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan pencatatan dari informan masyarakat Pamona. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diksi dalam syair Dero terbagi ke dalam beberapa kategori, yaitu religius, kekerabatan dan persaudaraan, alam dan pertanian, romantis dan kasih sayang, pujian dan penghormatan, nasihat dan kebijaksanaan, perjuangan dan semangat hidup, kesedihan dan perpisahan, adat dan upacara, serta simbolik dan metaforis. Diksi-diksi tersebut mengandung makna denotatif, konotatif, dan filosofis yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Pamona tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam, dan adat. Selain itu, syair Dero berfungsi sebagai media pendidikan moral, penguat solidaritas sosial, ekspresi emosional, dan penanda identitas budaya lokal. Dengan demikian, syair Dero merupakan warisan budaya yang memadukan bahasa, seni, dan nilai kehidupan masyarakat Pamona.
Subordinasi dan Otonomi Tubuh Perempuan dalam Kumpulan Cerpen L.A Underlover: Feminisme Radikal Kate Millet Ridwan Ridwan; Nensilianti Nensilianti; Lulyastuti Lulyastuti
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1591

Abstract

This study aims to analyse and uncover the forms of subordination of women’s bodies in the short stories Gimbol by Budi Darma and Penafsir Kebahagiaan by Eka Kurniawan, which are governed by patriarchal power, using the perspective of radical feminism developed by Kate Millett. This analysis highlights how women experience subordination in the biological, coercive, economic, mythical, and ideological dimensions of patriarchy. The research method employed is qualitative descriptive, utilising text analysis and meaning interpretation based on the radical feminist theory. The findings reveal that women in these short stories are portrayed as objects of violence and sexual exploitation controlled by the patriarchal system. This analysis affirms the relevance of Millett’s thinking in unravelling the gender inequalities that persist today. The implications of this research suggest that radical feminist analysis can be used to expose practices of gender injustice in literature. These findings also provide insight into patriarchal power relations. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengungkap bentuk-bentuk subordinasi tubuh perempuan dalam cerpen Gimbol karya Budi Darma dan Penafsir Kebahagiaan karya Eka Kurniawan yang dikendalikan oleh kuasa patriarki menggunakan perspektif feminisme radikal yang dikembangkan oleh Kate Millett. Analisis ini menyoroti bagaimana perempuan mengalami subordinasi dalam aspek biologis, paksaan, ekonomi, mitos, dan ideologi patriarki. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis teks dan interpretasi makna berbasis teori feminisme radikal. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa perempuan dalam cerpen-cerpen tersebut digambarkan sebagai objek kekerasan dan eksploitasi seksual yang dikendalikan oleh sistem patriarki. Analisis ini menegaskan relevansi pemikiran Millett dalam membongkar ketimpangan gender yang masih berlangsung hingga kini. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa analisis feminisme radikal dapat digunakan untuk mengungkap praktik ketidakadilan gender dalam karya sastra. Temuan ini juga memberikan pemahaman tentang relasi kuasa patriarki.
Trauma dan Ingatan Perempuan dalam Korpus Uterus: Analisis Psikoanalisis Freud Winda Novianti; H. Halimah; S. Sumiyadi; Rudi Adi Nugroho
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1674

Abstract

This study examines the representation of women’s trauma and memory in Sasti Gotama’s novel Korpus Uterus through Sigmund Freud’s psychoanalytic perspective. The novel presents the female body, particularly the uterus, not merely as a biological entity but as a symbolic space in which pain, repression, fear, and resistance are articulated. This study employs a descriptive qualitative method with close reading as the main technique of data collection. The data consist of narrative, monologue, and dialogue units that reflect traumatic experience, the re-emergence of memory, intrapsychic conflict, and ego defense mechanisms. The analysis focuses on the dynamics of id, ego, and superego in explaining how traumatic experience is repressed, negotiated, and brought back into consciousness. The findings indicate that trauma in the novel is closely related to power relations, moral stigma, and reproductive pressure imposed on women’s bodies. Memory appears as a psychological mode through which unresolved traumatic experience returns in emotional, symbolic, and behavioral forms. Thus, Korpus Uterus portrays the uterus as a symbolic site where bodily experience, psychic conflict, and social control intersect. AbstrakPenelitian ini mengkaji representasi trauma dan ingatan perempuan dalam novel Korpus Uterus karya Sasti Gotama melalui perspektif psikoanalisis Sigmund Freud. Novel ini menghadirkan tubuh perempuan, khususnya rahim, bukan semata-mata sebagai entitas biologis, melainkan sebagai ruang simbolik tempat luka, represi, ketakutan, dan perlawanan dimaknai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa close reading. Data penelitian berupa satuan narasi, monolog, dan dialog yang memperlihatkan pengalaman traumatis, kemunculan kembali ingatan, konflik intrapsikis, serta mekanisme pertahanan ego. Analisis difokuskan pada dinamika id, ego, dan superego untuk menjelaskan bagaimana pengalaman traumatis ditekan, dinegosiasikan, dan dimunculkan kembali ke dalam kesadaran tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma dalam novel ini berkaitan erat dengan relasi kuasa, stigma moral, dan tekanan reproduktif yang bekerja atas tubuh perempuan. Ingatan tampil sebagai bentuk psikologis yang menghadirkan kembali pengalaman traumatis yang belum terselesaikan melalui gejala emosional, simbolik, dan perilaku tokoh. Dengan demikian, Korpus Uterus merepresentasikan rahim sebagai ruang simbolik tempat pengalaman tubuh, konflik psikis, dan kontrol sosial saling berkelindan.

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026 Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025 Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025 Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024 Vol 30, No 1 (2024): Sawerigading, Edisi Juni 2024 Vol 29, No 2 (2023): Sawerigading, Edisi Desember 2023 Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023 Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022 Vol 28, No 1 (2022): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2022 Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021 Vol 27, No 1 (2021): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2021 Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020 Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020 Vol 25, No 2 (2019): Sawerigading, Edisi Desember 2019 Vol 25, No 1 (2019): Sawerigading, Edisi Juni 2019 Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018 Vol 24, No 1 (2018): Sawerigading, Edisi Juni 2018 Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017 Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017 Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading Vol 20, No 3 (2014): Sawerigading Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading Vol 20, No 1 (2014): Sawerigading Vol 19, No 3 (2013): SAWERIGADING, Edisi Desember 2013 Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013 Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013 Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012 Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012 Vol 18, No 1 (2012): Sawerigading, Edisi April 2012 Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011 Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011 Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011 Vol 16, No 3 (2010): Sawerigading, Edisi Desember 2010 Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010 Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010 Vol 15, No 3 (2009): Sawerigading Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading More Issue