cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No.7, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sawerigading
ISSN : 08544220     EISSN : 25278762     DOI : 10.26499/sawer
SAWERIGADING is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in SAWERIGADING have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SAWERIGADING is published by Balai Bahasa Sulawesi Selatan twice times a year, in June and December. SAWERIGADING focuses on publishing research articles and current issues related to language, literature, and the instructor. The main objective of SAWERIGADING is to provide a platform for scholars, academics, lecturers, and researchers to share contemporary thoughts in their fields. The editor has reviewed all published articles. SAWERIGADING accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 383 Documents
Cover Depan Edisi Juni Volume 32 Nomor 1 (2026) Cover Depan Juni Volume 32 Nomor 1
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1810

Abstract

Kritik Representasi Green Economy dalam Film Dokumenter Pulau Plastik: Analisis Wacana Kritis Fairclough Rosita Sofyaningrum
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1415

Abstract

This study aims to examine the deconstruction of the green economy concept in the documentary film Pulau Plastik using Fairclough’s Critical Discourse Analysis. The research employs a qualitative approach. Data are collected through documentation techniques by observing and identifying relevant scenes, dialogues, narration, and visual elements in the film. The data are analyzed using Fairclough’s three-dimensional framework, including textual analysis, discursive practice, and socio-cultural practice. The findings reveal that the film constructs the green economy as a contested concept, highlighting discrepancies between ideal environmental narratives and practical realities shaped by power relations and institutional interests. The textual dimension shows that language and visual elements emphasize environmental crises while subtly questioning mainstream solutions. The discursive practice dimension indicates that the film functions as a medium to influence public discourse and awareness. Meanwhile, the socio-cultural dimension demonstrates the role of government, industry, and society in shaping and contesting the green economy narrative. Overall, the study shows that the film critically challenges dominant environmental discourses and contributes to shaping public understanding of environmental issues.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji dekonstruksi konsep green economy dalam film dokumenter Pulau Plastik menggunakan analisis wacana kritis model Fairclough. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dengan cara mengamati dan mengidentifikasi adegan, dialog, narasi, serta unsur visual yang relevan dalam film. Teknik analisis data menggunakan tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis tekstual, praktik diskursif, dan praktik sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini mengonstruksi konsep green economy sebagai konsep yang problematis dengan menampilkan ketidaksesuaian antara narasi ideal lingkungan dan realitas praktik yang dipengaruhi oleh relasi kekuasaan dan kepentingan institusi. Pada dimensi tekstual, bahasa dan visual menonjolkan krisis lingkungan sekaligus mengkritisi solusi yang bersifat normatif. Pada dimensi praktik diskursif, film berperan dalam membentuk dan memengaruhi kesadaran serta wacana publik. Sementara itu, pada dimensi sosial budaya, terlihat adanya peran pemerintah, industri, dan masyarakat dalam membentuk serta mempertentangkan narasi green economy. Secara keseluruhan, film ini menghadirkan kritik terhadap wacana dominan lingkungan sekaligus membentuk pemahaman publik terhadap isu-isu lingkungan.
Penguatan Wawasan Lokal Masyarakat Bali di Daerah Perantauan (Studi Kasus Nilai Pendidikan Karakter dalam Gending Rare) : Kajian HermeneutikaPenguatan Wawasan Lokal Masyarakat Bali di Daerah Perantauan: Kajian Hermeneutika Gazali Gazali; Juniati Juniati; Moh. Tahir; Gusti Ketut Alit Suputra; Kadek Adi Mahera
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1544

Abstract

This study aims to identify the character education values contained in Gending Rare as well as to understand the meanings embedded within them. A qualitative method was used, with data collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using Palmer’s hermeneutic approach to interpret the meanings found in the lyrics of Gending Rare, which include the songs Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, and Dadong Dauh. The findings indicate that the song Putri Cening Ayu contains six-character education values, namely religiosity, discipline, hard work, curiosity, appreciation of achievement, and responsibility. This song conveys the values of Balinese family life, particularly the relationship between mother and child. The mother’s instruction to her child to take care of the house reflects emotional closeness and the teaching of responsibility. The song Juru Pencar presents seven-character education values, including religiosity, discipline, hard work, appreciation of achievement, friendliness/communication, social care, and responsibility. It reflects the life of coastal communities in Bali who rely on fishing. Through its simple lyrics, the song conveys values of perseverance, cooperation, and environmental awareness. Meanwhile, the song Meong-Meong contains five-character education values: religiosity, hard work, independence, environmental care, and responsibility. It conveys life lessons through the story of a cat trying to catch a mouse. Animal characters are used as metaphors to instill careful, reflective, and responsible thinking in children. The song Dadong Dauh contains six-character education values, including religiosity, discipline, hard work, independence, environmental care, and responsibility. Its meaning portrays an elderly woman patiently caring for chickens as part of Balinese daily life. Through its simple narrative, the song conveys values of perseverance, attentiveness, and respect for the role of elders. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Gending Rare serta memahami makna yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan hermeneutika Palmer guna menafsirkan makna dalam syair Gending Rare, yang meliputi lagu Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, dan Dadong Dauh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Putri Cening Ayu mengandung 6 nilai pendidikan karakter, di antaranya religius, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, dan tanggung jawab. Lagu ini mengandung makna kehidupan keluarga Bali yang sarat nilai, khususnya dalam hubungan antara ibu dan anak. Amanah ibu kepada anak untuk menjaga rumah mencerminkan kedekatan emosional sekaligus pembelajaran tanggung jawab. Lagu Juru Pencar memuat 7 nilai pendidikan karakter, termasuk religius, disiplin, kerja keras, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, peduli sosial, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna kehidupan masyarakat pesisir Bali yang menggantungkan hidup pada aktivitas menjala ikan. Melalui stair sederhana, lagu ini menyampaikan nilai perjuangan, kebersamaan, dan kesadaran lingkungan. Sementara itu, lagu Meong-Meong mengandung 5 nilai pendidikan karakter, yakni religius, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna menyampaikan ajaran hidup melalui kisah seekor kucing yang berusaha menangkap tikus. Tokoh binatang digunakan sebagai metafora untuk menanamkan cara berpikir yang cermat, reflektif, dan bertanggung jawab. Lagu Dadong Dauh mengandung 6 nilai-nilai pendidikan karakter seperti religius, disiplin, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Makna dalam lagu ini menggambarkan sosok nenek yang dengan sabar merawat ayam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Melalui kisah sederhana, lagu ini menyampaikan nilai ketekunan, perhatian, dan penghormatan terhadap peran orang tua.
Text Criticism and Magical Performance of Wifq Musabbi’ in Ażimat Al-Haikal Faqih Sulthan; Heri Dwi Santoso; Rijal Wakhid Rizkillah; Yunus Kholis Alhaqoni
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1719

Abstract

This study aims to identify the dominant scribal characteristics and transcriptional errors affecting the readability of the text Ażimat al-Haikal, and to analyse the function of Qur’anic excerpts within the wifq musabbi’ sequence at the intersection of informational meaning and performative (talismanic) use. It employs a philological method using a standard edition approach, comprising transliteration, normalization, and minimal emendation, followed by a functional reception analysis. Data were collected through close examination of the sole manuscript preserved in the privately owned Baboh Haikal Pandahan collection (Tamansari, Jaken, Pati, Central Java), alongside the identification and classification of Qur’anic quotations from 32 surahs. Data analysis combines textual criticism to identify patterns of variation with reception analysis, drawing on Ibn Kathir’s tafsir to assess thematic correspondences and functional shifts. The findings reveal recurring variants, including addition, omission, dittography, substitution, and saut du même au même, indicating a permissive scribal culture that enables textual augmentation and recontextualization. Furthermore, reception analysis demonstrates partial thematic alignment between cited verses and their attributed functions (protection, healing, provision, and travel safety), while also revealing a shift from exegetical meaning toward pragmatic ritual purposes. This study contributes to Indonesian Islamic manuscript studies by providing a more accessible textual foundation and an analytical framework linking textual criticism with practical Qur’anic application. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik penyalinan serta kesalahan transkripsi yang memengaruhi keterbacaan teks Ażimat Al-Haikal, serta menganalisis fungsi kutipan Al-Qur’an dalam rangkaian wifq musabbi’ pada pertemuan antara makna informasional dan peran performatif (talismanik). Metode yang digunakan adalah filologi dengan pendekatan edisi standar, yang mencakup transliterasi, normalisasi, dan emendasi minimal, dilanjutkan dengan analisis resepsi fungsional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi naskah tunggal yang tersimpan dalam koleksi privat Baboh Haikal Pandahan (Tamansari, Jaken, Pati, Jawa Tengah), serta identifikasi dan klasifikasi kutipan Al-Qur’an dari 32 surah. Teknik analisis data meliputi kritik teks untuk mengidentifikasi varian penyalinan, serta analisis resepsi untuk menelaah keterkaitan antara konteks ayat dan fungsi praktisnya dengan merujuk pada tafsir Ibn Kathir. Hasil penelitian menunjukkan adanya varian yang berulang, seperti penambahan, penghilangan, dittografi, substitusi, dan saut du même au même, yang mengindikasikan budaya penyalinan yang permisif dan memungkinkan terjadinya augmentasi serta rekontekstualisasi teks. Selain itu, resepsi pembaca menunjukkan adanya kesesuaian parsial antara tema ayat yang dikutip dengan fungsi yang dijanjikan (perlindungan, penyembuhan, kecukupan, dan keselamatan perjalanan), sekaligus memperlihatkan pergeseran dari pesan tafsir menuju tujuan ritual pragmatis. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam studi naskah Islam di Indonesia melalui penyediaan landasan teks yang lebih terbaca serta kerangka analitis yang menghubungkan kritik teks dengan praktik penggunaan Al-Qur’an.
Toponymy, Identity, and Place Attachment: Toponym Karawaci and Cina Benteng Community in Tangerang, Banten Sonya Ayu Kumala; Evi Maha Kastri; Winci Firdaus
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1705

Abstract

This article examines the toponym Karawaci as a historically and culturally meaningful place name associated with the heritage of the Cina Benteng community in Tangerang, Banten. The study explores how the name Karawaci functions not only as a geographical marker but also as a linguistic representation of collective identity, historical memory, and emotional attachment to place. In the framework of toponymy studies, place names are understood as socio-cultural symbols that preserve narratives of migration, settlement, ethnicity, and local history. This research adopts theories of identity and place attachment to explain the relationship between language, community, and spatial belonging. The concept of cultural identity proposed by Stuart Hall (1990) explains that identity is continuously constructed through history, representation, and collective memory. Through this perspective, the toponym Karawaci reflects the historical existence and cultural continuity of the Cina Benteng community within the socio-cultural landscape of Tangerang. In addition, the study applies the theory of place attachment which emphasizes the emotional and symbolic bonds formed between individuals, communities, and meaningful places. Using a mixed qualitative and quantitative research design, the article analyzes Karawaci through historical-cultural interpretation, textual sources, interview themes, questionnaire percentages, and visual documentation. The findings reveal that Karawaci is understood through overlapping meanings, including historical settlement memory, Cina Benteng identity, family attachment, administrative address value, and uncertain or mixed etymology. A questionnaire involving 120 respondents shows that 71% associate Karawaci with historical settlement memory, 64% with Cina Benteng identity, 51% with family attachment, 46% with administrative address value, and 37% with uncertain etymology. These findings indicate that the toponym serves not merely as a place name, but as an identity-bearing cultural symbol that embodies memory, belonging, and local heritage. Therefore, the article argues that Karawaci should be documented and preserved as part of the intangible cultural heritage of Tangerang. AbstrakPenelitian ini membahas toponim Karawaci sebagai nama tempat yang memiliki makna historis dan kultural yang berkaitan dengan warisan komunitas Cina Benteng di Tangerang, Banten. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nama Karawacitidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai representasi linguistik dari identitas kolektif, memori sejarah, dan keterikatan emosional terhadap suatu tempat. Dalam kajian toponimi, nama tempat dipahami sebagai simbol sosial-budaya yang menyimpan narasi migrasi, permukiman, etnisitas, dan sejarah lokal. Penelitian ini menggunakan teori identitas dan keterikatan tempat (place attachment) untuk menjelaskan hubungan antara bahasa, komunitas, dan rasa memiliki terhadap ruang. Konsep identitas budaya yang dikemukakan oleh Stuart Hall (1990) menjelaskan bahwa identitas terus dibentuk melalui sejarah, representasi, dan memori kolektif. Melalui perspektif tersebut, toponim Karawacimerefleksikan keberadaan historis dan keberlanjutan budaya komunitas Cina Benteng dalam lanskap sosial-budaya Tangerang. Selain itu, penelitian ini juga menerapkan teori place attachment yang menekankan adanya ikatan emosional dan simbolik antara individu, komunitas, dan tempat yang bermakna. Dengan menggunakan desain penelitian campuran kualitatif dan kuantitatif, artikel ini menganalisis Karawaci melalui interpretasi historis-kultural, sumber tekstual, tema wawancara, persentase kuesioner, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karawaci dipahami melalui berbagai makna yang saling bertumpang tindih, termasuk memori permukiman historis, identitas Cina Benteng, keterikatan keluarga, nilai administratif alamat, serta etimologi yang tidak pasti atau bercampur. Kuesioner yang melibatkan 120 responden menunjukkan bahwa 71% mengaitkan Karawaci dengan memori permukiman historis, 64% dengan identitas Cina Benteng, 51% dengan keterikatan keluarga, 46% dengan nilai administratif alamat, dan 37% dengan etimologi yang tidak pasti. Temuan ini menunjukkan bahwa toponim tersebut tidak hanya berfungsi sebagai nama tempat, tetapi juga sebagai simbol budaya yang mengandung identitas, memori, rasa memiliki, dan warisan lokal. Oleh karena itu, artikel ini berpendapat bahwa Karawaci perlu didokumentasikan dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Tangerang.
Representasi Korban dalam Pemberitaan Media Daring Terkait Kasus Kekerasan Seksual oleh Dokter Residen Salsabila Andiana; Diah Fatma Sjoraida; Centurion Chandratama Priyatna
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1701

Abstract

This study aims to analyze the representation of victims in online media coverage related to cases of sexual violence committed by medical residents. This research employs a qualitative approach within a critical paradigm, using Sara Mills’ discourse analysis model. The data were collected through documentation techniques from three news articles published on BeritaSatu.com, Merdeka.com, and CNBC Indonesia. The data were then analyzed based on four aspects, namely gender power relations, subject-object positions, author-reader positions, and mechanisms of exclusion. The findings indicate that the media tend to represent victims as passive objects who lose authority over their own narratives, while perpetrators are positioned as active subjects who gain legitimacy from institutions. In addition, exclusion mechanisms are reflected in the limited portrayal of the victims’ psychological experiences and the dominance of institutional perspectives. These findings suggest that the representation of victims in online media has not yet aligned with women’s experiences and may contribute to the reproduction of gender inequality in public discourse. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi korban dalam pemberitaan media daring terkait kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh dokter residen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam paradigma kritis dengan model analisis wacana Sara Mills. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi terhadap tiga artikel berita yang dipublikasikan di portal BeritaSatu.com, Merdeka.com, dan CNBC Indonesia. Data kemudian dianalisis berdasarkan empat aspek, yaitu relasi kuasa gender, posisi subjek dan objek, posisi penulis dan pembaca, serta mekanisme eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media cenderung merepresentasikan korban sebagai objek pasif yang kehilangan otoritas atas narasinya sendiri, sementara pelaku ditempatkan sebagai subjek aktif yang memperoleh legitimasi dari institusi. Selain itu, mekanisme eksklusi tampak dari minimnya penggambaran pengalaman psikologis korban serta dominasi sudut pandang institusional. Temuan ini mengindikasikan bahwa representasi korban dalam media daring masih belum berpihak pada pengalaman perempuan dan berpotensi mereproduksi ketimpangan gender dalam wacana publik.
Local Traditions in Digital Format: The “Siraman Gong Kiai Pradah” E-Textbook For Cultural And Ecological Literacy Nur Amalia Balqis; Sri Wahyuni; Abdul Rani; Lilik Wahyuni
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1722

Abstract

This study aims to develop culturally and ecologically oriented digital learning materials by integrating the Siraman Gong Kiai Pradah tradition into Indonesian language learning. The study employed a Research and Development (RD) approach based on the 4D model, limited to the Develop phase. Initially, a needs assessment was conducted through teacher interviews and student questionnaires, alongside observations and interviews with local cultural practitioners. Data analysis utilized a combination of qualitative and quantitative descriptive techniques. The results of the analysis served as the basis for revising and refining the developed instructional materials until they were deemed appropriate for use. The findings indicate that, in the Define phase, teachers expressed the need for learning materials integrated with local culture, while students preferred digital, accessible, and interactive media. In the Design phase, a discourse structure, interactive learning activities, and a digital flipbook supported by text, images, and videos were developed. The Develop phase produced a prototype validated by experts in content, language, and media, achieving an average score of 3.6, categorized as good. Teachers’ evaluation of the material feasibility reached 82.5%, while the limited trial yielded positive responses (73–78%) across all aspects. Therefore, this local wisdom-based digital learning material is considered feasible as an alternative medium for Indonesian language instruction that is contextual, interactive, and capable of enhancing students’ cultural literacy. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan materi pembelajaran digital berorientasi budaya dan ekologi dengan menggabungkan tradisi Siraman Gong Kiai Pradah dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (4D), yang terbatas sampai fase Develop. Pertama, dilakukan penilaian kebutuhan melalui wawancara guru dan kuesioner siswa, sementara pada saat yang sama, observasi dan wawancara dengan praktisi budaya lokal juga dilakukan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan kombinasi analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis tersebut digunakan sebagai dasar untuk melakukan revisi dan penyempurnaan bahan ajar yang dikembangkan hingga dinyatakan layak digunakan. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut. Pada tahap Define, ternyata guru menginginkan materi pembelajaran yang terintegrasi dengan budaya lokal, sedangkan siswa lebih menyukai media yang digital, mudah diakses, dan interaktif. Pada tahap Design, dirancang struktur wacana, aktivitas pembelajaran interaktif, dan buku digital (flipbook) yang didukung dengan teks, gambar, dan video. Tahap Pengembangan menghasilkan prototipe yang divalidasi oleh para ahli di bidang konten, bahasa, dan media, serta mencapai skor rata-rata 3,6 dalam kategori baik. Penilaian guru terhadap kelayakan materi mencapai 82,5%, sementara uji coba kecil menghasilkan reaksi positif (73-78%) dalam semua aspek. Dengan demikian, bahan ajar digital berbasis kearifan lokal ini dinyatakan layak digunakan sebagai alternatif media pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual, interaktif, dan mampu mendukung penguatan literasi budaya siswa.
Representasi Estetika dan Emosi dalam Puisi: Perbandingan Karya Kecerdasan Buatan dan Manusia Mantasiah R; Fathullah Wajdi
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1484

Abstract

This study aims to describe and compare aesthetic and emotional representations in poetry written by humans and poetry generated by artificial intelligence (AI). This research utilizes a qualitative methodology incorporating hermeneutic techniques. The research data include poetry texts derived from two categories: compositions by human poets and those generated by AI systems. Data were gathered by documentation technique from several sources, including digital platforms, poetry anthologies, and online archives. The data analysis was performed in phases by categorizing poems according to topics, identifying aesthetic components such as diction, metaphor, rhythm, and symbolism, and interpreting emotional dimensions through a hermeneutic lens. The research findings suggest that human-authored poetry generally exhibits superior symbolic complexity, reflective depth, and emotional sensitivity, in contrast to AI-generated poetry. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan representasi estetika dan emosi dalam puisi yang ditulis manusia dan puisi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutik. Data penelitian berupa teks puisi yang berasal dari dua sumber, yaitu puisi karya penyair manusia dan puisi yang dihasilkan oleh sistem AI. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dari berbagai sumber, seperti platform digital, buku antologi, dan arsip daring. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui pengelompokan puisi berdasarkan kategori dan tema, identifikasi unsur estetika seperti diksi, metafora, ritme, dan simbol, serta penafsiran aspek emosional menggunakan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi karya manusia cenderung memiliki kompleksitas simbolik, kedalaman reflektif, dan nuansa emosional yang lebih kuat, sedangkan puisi AI lebih menonjol dalam deskripsi yang komunikatif, langsung, dan mudah dipahami. Meskipun puisi AI masih terbatas dalam menghadirkan konteks sosial, historis, dan pengalaman subjektif yang mendalam, teknologi ini memiliki potensi untuk memperluas akses dan audiens seni sastra di era digital.
Menentukan Waktu Terbaik: Etnoastronomi Orang Bugis Berdasarkan Naskah Kutika Abad XIX Rahmatia Ayu Widyaningrum; Priscila Fitriasih Limbong; Mamlahatun Buduroh; Tommy Christomy
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1537

Abstract

This study aims to map the ethnoastronomical structure and analyze the cosmological knowledge of the Buginese as represented in the Kutika Ugi’ Sakke Rupa (KUSR) manuscript. It employs a qualitative method with a philological-astronomical approach to bridge classical texts and the logic of traditional science. Data were collected through literature review and close reading of the Lontara-script manuscript, including stages of description, transcription, and transliteration. The data were analyzed using a descriptive-analytical approach by examining the structure and cosmological meanings of the Kutika Lima and Kutika Tujuh systems, as well as specific tables such as Kanjorona Masuwara and Putika Pa’kulu Jangé. The findings show that the KUSR manuscript presents a time system that functions as a form of social navigation to maintain harmony between the microcosm and macrocosm. This system demonstrates the standardization of local knowledge, integrating practical, symbolic, and spiritual dimensions into a unified framework, while reinforcing the position of Buginese ethnoastronomy as an adaptive and systematic form of traditional science. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memetakan struktur etnoastronomi dan menganalisis pengetahuan kosmologis masyarakat Bugis yang terepresentasi dalam naskah Kutika Ugi’ Sakke Rupa (KUSR). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan filologi-astronomi untuk menjembatani teks klasik dengan logika sains tradisional. Data dikumpulkan melalui teknik studi pustaka dan pembacaan mendalam (close reading) terhadap naskah beraksara lontara’, yang meliputi tahap deskripsi, transkripsi, serta transliterasi teks. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan membedah struktur dan makna kosmologis pada sistem Kutika Lima dan Kutika Tujuh, serta tabel-tabel spesifik, seperti Kanjorona Masuwara dan Putika Pa’kulu Jangé. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah KUSR memuat sistem waktu yang berfungsi sebagai instrumen navigasi sosial untuk menjaga harmoni antara mikrokosmos dan makrokosmos. Sistem penentuan waktu dalam naskah ini membuktikan adanya standardisasi pengetahuan lokal yang mengintegrasikan dimensi praktis, simbolik, dan spiritual dalam satu kesatuan, sekaligus mempertegas posisi etnoastronomi Bugis sebagai bentuk sains tradisional yang adaptif dan sistematis.
Improving Students’ Listening Skills Through a Local Culture-Based Listening Module Using T2s Application Fitri Arini; Widiarini Widiarini
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1650

Abstract

The purpose of this research is to develop a local culture-based intermediate listening learning module using the T2S (Text to Speech) application and to test its effectiveness. The research method used is the Dick Carey RD research method. The research was conducted in the English Language Education study program with a population and sample of second-semester English Language Education students. Data collection techniques were observation, questionnaires, and interviews. The data analysis technique used was descriptive by analysing quantitative data obtained from expert tests and field tests. The developed module consists of four thematically organized chapters: regional overview, historical figures, local folklore, and culinary and tourism, which are designed to support contextual learning and enhance learners’ familiarity with listening content. The module is also complemented by a dual design, including a Teacher’s Guide and a Student’s Activity Book, to ensure effective classroom implementation and promote learner autonomy. Validation results indicate high feasibility, with language validation reaching 95%, content validation 85%, and media validation 75%, with minor revisions applied to audio pacing and layout. Students’ responses to the module were highly positive, with an overall score of 84%, indicating strong engagement and perceived usefulness. Furthermore, the effectiveness test revealed a significant improvement in students’ listening ability, as reflected in the increase of mean scores from 53.07 to 87.20. The findings suggest that the integration of contextual learning, local cultural content, and T2S technology provides an effective, adaptive, and engaging approach to listening instruction. This study contributes to the growing body of research on technology-enhanced language learning and highlights the importance of culturally relevant materials in improving listening comprehension in EFL settings.  AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan modul pembelajaran menyimak tingkat menengah berbasis budaya lokal menggunakan aplikasi T2S (Text to Speech) dan untuk menguji keefektifannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian Dick Carey RD.Penelitian ini dilakukan di program studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan populasi dan sampel mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris semester kedua. Teknik pengumpulan data adalah observasi, kuesioner, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif dengan menganalisis data kuantitatif yang diperoleh dari uji ahli dan uji lapangan. Modul yang dikembangkan terdiri atas empat bab tematik, yaitu gambaran wilayah, tokoh sejarah, cerita rakyat lokal, serta kuliner dan pariwisata, yang dirancang untuk mendukung pembelajaran kontekstual dan meningkatkan keterkaitan materi dengan pengalaman siswa. Modul ini juga dilengkapi dengan desain ganda berupa Buku Panduan Guru dan Buku Aktivitas Siswa untuk mendukung implementasi pembelajaran yang efektif serta mendorong kemandirian belajar. Hasil validasi menunjukkan tingkat kelayakan yang tinggi, dengan validasi bahasa mencapai 95%, validasi isi 85%, dan validasi media 75%, dengan beberapa revisi minor pada aspek kecepatan audio dan tata letak. Respon siswa terhadap modul menunjukkan hasil yang sangat positif dengan skor sebesar 84%, yang mencerminkan tingkat keterlibatan dan kebermanfaatan yang tinggi. Selain itu, hasil uji efektivitas menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan listening siswa, yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 53,07 menjadi 87,20. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi pendekatan kontekstual, muatan budaya lokal, dan teknologi T2S mampu menciptakan pembelajaran listening yang lebih efektif, adaptif, dan menarik. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran bahasa berbasis teknologi serta menegaskan pentingnya penggunaan materi yang relevan secara kultural dalam meningkatkan kemampuan menyimak siswa

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026 Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025 Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025 Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024 Vol 30, No 1 (2024): Sawerigading, Edisi Juni 2024 Vol 29, No 2 (2023): Sawerigading, Edisi Desember 2023 Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023 Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022 Vol 28, No 1 (2022): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2022 Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021 Vol 27, No 1 (2021): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2021 Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020 Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020 Vol 25, No 2 (2019): Sawerigading, Edisi Desember 2019 Vol 25, No 1 (2019): Sawerigading, Edisi Juni 2019 Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018 Vol 24, No 1 (2018): Sawerigading, Edisi Juni 2018 Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017 Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017 Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading Vol 20, No 3 (2014): Sawerigading Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading Vol 20, No 1 (2014): Sawerigading Vol 19, No 3 (2013): SAWERIGADING, Edisi Desember 2013 Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013 Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013 Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012 Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012 Vol 18, No 1 (2012): Sawerigading, Edisi April 2012 Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011 Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011 Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011 Vol 16, No 3 (2010): Sawerigading, Edisi Desember 2010 Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010 Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010 Vol 15, No 3 (2009): Sawerigading Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading More Issue