cover
Contact Name
Wheny Utariningsih
Contact Email
lembagarisetm@gmail.com
Phone
+6282213200972
Journal Mail Official
lembagarisetm@gmail.com
Editorial Address
Komplek Firya Mansion, Jl Paya Billi - Panggoi, Dusun A Bahagia, Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara
ISSN : -     EISSN : 31108377     DOI : -
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin published by Lembaga Riset Mandiri Nusantara that published in multidisciplinary fields, covering the fields of Education, Psychology, Law, Economics, Religions, Education, Health, Engineering, Public Policy, Tourism, Social and Politics, Culture and Arts.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 91 Documents
Tindakan Forensik Untuk Mengetahui Kematian Seseorang: Analisis Medis Forensik Berdasarkan Hukum Positif Indonesia Isak Rizetfel Nahusona; Marselinus Goa; Hudi Yusuf
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Juli 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21636861

Abstract

Tindakan forensik merupakan bagian penting dalam penegakan hukum pidana karena menyediakan bukti ilmiah untuk mengungkap penyebab, mekanisme, dan waktu kematian yang diduga berkaitan dengan tindak pidana. Pemeriksaan meliputi olah tempat kejadian perkara, pemeriksaan luar jenazah, autopsi, analisis toksikologi, histopatologi, hingga uji DNA apabila diperlukan. Hasil pemeriksaan didokumentasikan dalam bentuk Visum et Repertum sebagai salah satu alat bukti dalam proses peradilan pidana. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan tindakan forensik dalam mengidentifikasi penyebab kematian, mengkaji dasar hukum penyelenggaraannya, serta menelaah kedudukan hasil pemeriksaan forensik dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, literatur kedokteran forensik, buku hukum, dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan forensik berperan penting dalam proses penyidikan dengan memberikan informasi ilmiah mengenai sebab, cara, waktu, dan mekanisme kematian. Pelaksanaannya memiliki dasar hukum yang jelas, terutama dalam Pasal 55 dan Pasal 56 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP serta Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Melalui Visum et Repertum dan keterangan ahli, dokter forensik mendukung pembuktian yang objektif dan akurat. Penelitian menyimpulkan bahwa tindakan forensik merupakan instrumen medis sekaligus hukum yang berperan dalam mewujudkan kepastian hukum, keadilan, dan kebenaran materiil, sehingga diperlukan penguatan sumber daya manusia, fasilitas laboratorium, dan koordinasi antarlembaga untuk meningkatkan efektivitas penegakan hukum.
Kedudukan Visum et Repertum di Tengah Dinamika Alat Bukti Dalam KUHAP UU No. 20 Tahun 2025 Hudi Yusuf; Hilaliah
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Juli 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21637709

Abstract

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP Nasional 2025) membawa perubahan fundamental dalam sistem pembuktian pidana di Indonesia, salah satunya melalui perluasan jenis alat bukti yang sah dari lima menjadi delapan kategori sebagaimana diatur dalam Pasal 235 ayat (1). Di tengah dinamika tersebut, Visum et Repertum (VeR) sebagai instrumen pembuktian ilmiah yang menjembatani ilmu kedokteran dan hukum menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Artikel ini mengkaji kedudukan VeR dalam kerangka KUHAP baru dengan pendekatan normatif-yuridis, menganalisis perubahan paradigma pembuktian, serta implikasi pengaturan baru terhadap kekuatan dan prosedur penggunaan VeR dalam peradilan pidana. Tulisan ini menemukan bahwa meskipun VeR tidak disebutkan secara eksplisit dalam Pasal 235 ayat (1), keberadaannya tetap diakui melalui dualisme kategorisasi sebagai alat bukti surat sekaligus keterangan ahli tertulis, dengan penguatan signifikan melalui ketentuan autentikasi dan larangan penggunaan alat bukti yang diperoleh secara melawan hukum. Implikasi praktis dari temuan ini menuntut aparat penegak hukum untuk segera menyusun pedoman teknis terpadu guna menjamin kepastian prosedur permintaan, autentikasi, dan penilaian VeR di persidangan, serta perlunya penguatan kapasitas tenaga medis forensik dan fasilitas pemeriksaan guna mendukung optimalisasi VeR sebagai alat bukti ilmiah yang akuntabel
Hak Waris Istri Dari Perkawinan Poligami yang Tidak Tercatat Perspektif KHI (Kompilasi Hukum Islam) Dan Hukum Adat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang AL Raihan Dwijaya; Andi Darmawangsa; Andi Sumardini
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Juli 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21645136

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan hak waris istri dalam perkawinan poligami yang tidak tercatat menurut perspektif Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan hukum adat di Kabupaten Sidenreng Rappang serta menganalisis pembagian harta warisan dalam perkawinan tersebut. Permasalahan penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih adanya praktik perkawinan poligami yang tidak dicatatkan sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum terhadap hak waris istri. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris dengan pendekatan yuridis sosiologis. Data diperoleh melalui wawancara, studi kepustakaan, serta analisis terhadap peraturan perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam, dan literatur yang berkaitan dengan penelitian. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Kompilasi Hukum Islam, istri dalam perkawinan poligami yang tidak tercatat belum memperoleh pengakuan sebagai ahli waris sebelum adanya penetapan isbat nikah. Sementara itu, menurut hukum adat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang, istri tetap dapat memperoleh bagian warisan berdasarkan pengakuan keluarga dan musyawarah yang mengedepankan nilai keadilan dan kekeluargaan
Analisis Aspek Sosial Poligami dalam Islam Perspektif Maqashid Syariah Amran Saiful; Said Syarifuddin Abu Baedah; M. Akil
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Juli 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21647479

Abstract

Praktik kegiatan menikah lebih dari satu bagi seorang laki-laki dewasa atau yang sering disebut dikalangan luas dengan istilah “Poligami” merupakan hal yang cukup banyak di perbincangkan di kalangan luas baik dari para ulama maupun masyarakat umum terkhusus di Negara Indonesia, perspektif maqashid syariah dalam konteks poligami adalah pandangan yang mempertimbangkan prinsip-prinsip maqashid syariah atau tujuan-tujuan Syariah dalam menilai praktik poligami. Poligami juga harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip keadilan dan keadilan antara istri-istri yang terlibat. Dalam konteks Indonesia, menyelesaikan poligami juga dapat dipertimbangkan dari perspektif maqashid syariah, dengan memperhatikan prinsip-prinsip keadilan dan kemaslahatan umum. Kajian terhadap poligami dewasa ini semakin berkembang dan ramai, dimana menuai problematika dalam pandangan sosial masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian penelitian pustaka (library research). Adapun instrument kunci dari penelitian ini adalah sistematis untuk mengumpulkan, mengevaluasi, dan mensintesis literatur yang relevan dengan topik penelitian tertentu. Berdasarkan hasil penelitian pustaka yang dilakukan menunjukkan bahwa: (1) Islam menekankan bahwa keadilan merupakan syarat mutlak dalam poligami, baik dari segi materi maupun non-materi. Tanpa terpenuhinya keadilan, poligami dapat menimbulkan dampak sosial yang bertentangan dengan tujuan awalnya. Oleh karena itu, dari sudut pandang sosial, poligami bukan sekadar hak yang boleh dijalankan, tetapi tanggung jawab besar yang memerlukan kematangan moral, kesiapan ekonomi, dan kesadaran akan dampaknya terhadap keluarga serta masyarakat. (2) Maqashid Syariah tidak secara mutlak mendukung atau menolak poligami. Syariah memberikan ruang bagi poligami, tetapi dengan catatan: harus memenuhi prinsip keadilan, kemaslahatan, dan tidak menimbulkan kerusakan (mafsadat). Apabila poligami dilakukan untuk tujuan yang sesuai dengan Maqashid Syariah seperti menjaga keturunan, melindungi kehormatan, dan memberikan perlindungan, maka dapat dianggap sebagai praktik yang sesuai dengan tujuan syariat. Sebaliknya, jika dilakukan tanpa keadilan, hanya didorong oleh hawa nafsu, dan menimbulkan mudarat, maka praktik tersebut bertentangan dengan ruh Maqashid Syariah.
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tradisi Akkorongtigi dalam Upacara Perkawinan Masyarakat Makassar (Studi di Sumanna Kelurahan Barombong Kota Makassar Muh. Zaid; M. Akil; Rosmiati
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Juli 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21696120

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tradisi Akkorongtigi dalam upacara perkawinan masyarakat Makassar di Sumanna, Kelurahan Barombong, Kota Makassar, dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Akkorongtigi masih dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian adat sebelum akad nikah. Pelaksanaannya diawali dengan kegiatan keagamaan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pengolesan daun pacar (leko' tigi) kepada calon mempelai oleh orang tua, keluarga, dan tokoh masyarakat sebagai simbol penyucian diri, keberkahan, serta harapan agar rumah tangga yang akan dibangun memperoleh kebahagiaan dan keharmonisan. Tradisi ini juga menggunakan berbagai perlengkapan adat yang memiliki makna filosofis dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Makassar yang terus dipertahankan secara turun-temurun. Dalam perspektif hukum Islam, tradisi Akkorongtigi termasuk dalam kategori 'urf shahih, yaitu adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, Sunnah, maupun prinsip-prinsip syariat Islam. Oleh karena itu, pelaksanaannya dihukumi mubah (boleh) karena mengandung nilai-nilai kebaikan, mempererat silaturahmi, serta menjadi bentuk harmonisasi antara adat Makassar dan ajaran Islam tanpa menjadikannya sebagai syarat sah perkawinan.
Efektivitas Terapi Relaksasi Benson dan Terapi Guided Imagery Terhadap Gangguan Pola Tidur Pada Lansia di Desa Maron Kidul Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo Riki Genta Haris; Rizka Yunita; Erna Handayani
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 8 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Agustus 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21791990

Abstract

Gangguan tidur merupakan penyebab morbilitas yang sangat signifikan. Penanganan untuk mengurangi gangguan pada tidurnya adalah dengan menggunakan terapi relaksasi benson dan terapi guided imagery. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis efektifitas terapi relaksasi benson dan terapi guided imagery terhadap gangguan pola tidur pada lansia di Desa Maron Kidul Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo.Jenis penelitian ini adalah Quasy Eksperimental two grup pre test and post test design. Populasi sebanyak 47 penderita gangguan pola tidur pada lansia dengan teknik pengambilan sampling menggunakan purposive sampling yaitu sebanyak 36 responden dibagi 2 18 benson dan 18 guided imagery penderita gangguan pola tidur pada lansia yang memiliki kriteria inklusi lansia yang mengalami gangguan pola tidur buruk dan sangat buruk skor 8-21 dan eksklusi lansia gangguan pola tidur dengan skor < 5 artinya orang tersebut mempunyai pola yang baik. Pengumpulan data menggunakan kuisioner PSQI sebelum dan sesudah terapi relaksasi benson dan terapi guided imagery diberikan kepada responden. Uji statistik menggunakan uji Wilcoxon.Hasil penelitian didapatkan gangguan pola tidur pada lansia kelompok relaksasi benson pre-test sebesar 12 (66,7) buruk post-test 14(77,8) sangat baik. Pada kelompok guided imagery sebesar 11(61,1) sangat buruk post-test 10( 55,6) sangat baik. Hasil uji Wilcoxon didapatkan ada pengaruh kelompok relaksasi benson selama 10 menit dan kelompok guided imagery 15-30 menit terhadap gangguan pola tidur.Nilai p value 0,001 artinya ada perbedaan efektivitas relaksasi benson dan guided imagery terhadap gangguan pola tidur pada lansia. Relaksasi benson dan guided imagery efektiv terhadap gangguan pola tidur.Namun di antara keduanya yang lebih efektiv adalah relaksasi benson Karena relaksasi benson memberikan rasa nyaman, tenang rileks dan mudah dilakukan oleh responden tersebut sehingga dapat mengurangi gangguan pada tidurnya.Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi acuan penerapan terapi non farmakologi sebagai penanganan gangguan pola tidur pada lansia.
Eksistensi Kafa’ah Nasab dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Di Desa Cikoang Kecamatan Laikang Kabupaten Takalar) Ahrianto; Said Syaripuddin Abu Baedah; Maryati Mallongi
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 8 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Agustus 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21806102

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis eksistensi kafa’ah nasab dalam perspektif hukum Islam di Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kafa’ah nasab masih menjadi prinsip penting dalam perkawinan wanita Syarifah di Desa Cikoang. Prinsip tersebut mengharuskan perempuan Syarifah menikah dengan laki-laki keturunan Sayyid sebagai upaya menjaga keberlangsungan nasab Rasulullah saw. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, menjadi bagian dari identitas masyarakat Sayyid, serta diperkuat oleh norma adat yang berlaku, termasuk adanya sanksi sosial berupa ammere bagi pelanggarnya. Selain itu, motivasi wanita Syarifah menjadikan kafa’ah nasab sebagai syarat pernikahan didasarkan pada keyakinan untuk menjaga kemurnian keturunan Rasulullah saw, yang didukung oleh adat, warisan leluhur, serta sistem kekerabatan patrilineal. Kepatuhan terhadap prinsip tersebut juga dipengaruhi oleh sosialisasi keluarga sejak dini dan keberadaan sanksi sosial, sehingga kafa’ah nasab dipahami sebagai bagian dari identitas, kehormatan, dan nilai budaya yang terus dipertahankan. Dalam perspektif hukum Islam, praktik kafa’ah nasab di Desa Cikoang dapat dipahami sebagai bentuk ‘urf (adat kebiasaan) yang hidup dalam masyarakat. Selama tidak dijadikan sebagai syarat sah perkawinan menurut syariat dan tidak menghilangkan hak seseorang untuk menikah sebagaimana ketentuan Islam, praktik tersebut dapat dipandang sebagai tradisi yang berkembang dalam ruang sosial masyarakat dan menjadi bagian dari upaya menjaga identitas keturunan Sayyid.
Analisis Sentimen Ulasan Perplexity AI Menggunakan Multinomial Naïve Bayes dan K-Fold Pipeline Asep Teja Sukmana; Slamet Widodo; Diah Wijayanti
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 8 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Agustus 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21807451

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis sentimen pengguna aplikasi Perplexity AI di Google Play Store dan mengevaluasi efektivitas algoritma Multinomial Naïve Bayes. Data ulasan teks bersifat tidak terstruktur dan memiliki tingkat noise kebahasaan yang tinggi, seperti penggunaan kata tidak baku (slang) dan emoji. Melalui tahapan Knowledge Discovery in Databases (KDD), sebanyak 5.000 ulasan diekstraksi dan diproses menggunakan teknik praproses komprehensif. Setelah penghapusan ulasan ambigu, diperoleh 4.814 data bersih yang didominasi oleh sentimen positif sebesar 89,90% dan sentimen negatif 10,10%. Pembobotan fitur menggunakan metode TF-IDF serta penyeimbangan kelas data dengan SMOTE diterapkan sebelum tahap pemodelan. Hasil pengujian membuktikan bahwa algoritma Multinomial Naïve Bayes sangat efektif dengan tingkat akurasi mencapai 94,49%. Pengujian 10-Fold Cross Validation turut mengonfirmasi stabilitas model ini dengan rata-rata akurasi sebesar 85,20%. Faktor utama pendorong sentimen positif pengguna adalah keakuratan jawaban AI dan transparansi sitasi referensi. Sebaliknya, keluhan pada sentimen negatif umumnya berpusat pada kendala teknis (seperti bug dan force close) serta pembatasan kuota pada versi gratis.
Analysis Catur Dimensional Strategic Da'wah (CDS) From A Sociological Perspective Agung Drajat Sucipto
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Maret 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21891051

Abstract

Human beings do not live in a vacuum; they are born, grow, and interact within a complex social network known as society. It is this network with all its structures, rules, conflicts, and institutions that constitutes the primary field of study for the sociology of da'wah. This study employs a literature review method with a qualitative approach to establish a conceptual foundation and develop both theoretical and practical aspect. Within the CDS framework, this analysis of social interaction deepens the Psycho-Sociological Dimension by incorporating the lens of interactionist sociology. Sociologically, social movements typically emerge from dissatisfaction with the status quo and are mobilized through three key components: an interpretive framework (framing), a resource mobilization structure, and political opportunity. Da’wah effectively provides all three of these components. First, da’wah offers a robust "interpretive framework" by framing social issues such as poverty or corruption not merely as technical problems, but as forms of "wrongdoing" (munkar) that must be collectively opposed. Second, da’wah institutions such as mosques, Islamic organizations, and pesantren (Islamic boarding schools) serve as highly efficient "resource mobilization structures" for gathering funds, volunteers, and mass support. Third, da’wah leaders are often able to identify and capitalize on "political opportunities" to voice the community's aspirations and influence public policy.
Penerapan Catur Dimensi-dakwah Strategis (CDS) dalam Psikologi Dakwah Agung Drajat Sucipto
Jurnal Riksa Cendikia Nusantara Vol. 2 No. 8 (2026): Riksa Cendikia Nusantara - Agustus 2026
Publisher : Jurnal Riksa Cendikia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21891522

Abstract

Psikologi dakwah adalah jembatan yang menghubungkan antara kebenaran wahyu yang bersifat normatif dengan realitas manusia yang bersifat empiris dan dinamis. Catur Dimensi-dakwah Strategis (CDS) merumuskan hal tersebut melalui dimensi psikologi mengajarkan da’i untuk melihat mad'u bukan sebagai "proyek" yang harus diubah, melainkan sebagai manusia utuh yang harus dipahami melalui kejiwaannya. CDS pada psikologi dakwah juga menuntut seorang da'i untuk tidak hanya menjadi seorang orator, tetapi juga seorang pendengar yang baik, seorang pengamat yang jeli, dan seorang teman yang empatik. Penelitan ini merupakan penelitian studi literatur psikologi dakwah dengan pendekatan kualitatif dengan mengkaji dan menganalisis hubungan kejiwaan manusia baik mad’u mauapun objek dakwah dan proses menyampaian pesan dakwah. Analisis yang dilakukan dengan membaca dan menafsirkan konsep jiwa manusia dari sudut pandang ilmu dakwah melalui kerangka CDS dalam buku Studi Ilmu Dakwah. Catur Dimensi-dakwah Strategis yang populer dengan sebutan CDS Dakwah menjalankan kerangka terpadunya dalam tiga hal. Pertama, bagaimana CDS memahami kejiwaan mad’u melalui emosi, motivasi, dan dinamika perubahan. Kedua, bagaimana penerapan persuasif mad’u melalui timbal balik, dorongan sosial, otoritas sumber, hingga daya tarik sumber. Ketiga, bagaimana psikologi masa digunakan untuk membangun opini publik yang baik.

Page 9 of 10 | Total Record : 91