cover
Contact Name
-
Contact Email
zainsarnoto@ptiq.ac.id
Phone
+628129731518
Journal Mail Official
zainsarnoto@ptiq.ac.id
Editorial Address
https://abdimas.jurnalmadani.or.id/index.php/madaniabdimas/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
ISSN : 2776978X     EISSN : 2303145X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
The Madani Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, welcomes high-quality manuscripts resulted from a research project in the scope of Education, which includes, but is not limited to the following topics: Education, Islamic Education, Law, political and Social Science. Macroprudential Regulation, and Other topics related to this area. The manuscript must be original research, written in English or Indonesian, and not be simultaneously submitted to another journal or conference
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 104 Documents
Sosialisasi dan Penyuluhan Sampah Organik dan non Organik di Desa Sukaratu kecamatan Bojongpicung Kabupaten Cianjur Ahmad zain Sarnoto; Windy Dian Sari; Siti Fatimah
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sukaratu merupakan desa yang terletak di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Sukaratu merupakan desa yang makmur dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya meliputi pertanian dan peternakan. Kesadaran dan kepedulian untuk menangani sampah oleh masyarakat desa terlihat masih sangat kurang. Kebiasaan membakar sampah dan membuang ke sungai masih di lakukan oleh masyarakat. Disamping itu dengan membakar sampah dirasa masyarakat adalah cara yang paling cepat dalam menangani permasalahan tersebut. Bukan cuma itu, masih ada masyarakat yang membuang sampahnya langsung ke badan air tanpa memikirkan bertumpuknya sampah di hilir badan air tersebut dan juga pencemaran di badan air tersebut akibat sampah yang mereka buang. Hal tersebut di khawatirkan akan di tiru oleh anak-anak desa sebagai penerus dari desa tersebut dan juga dikhawatirkan daya dukung lingkungan akan semakin lemah dikarenakan pencemaran yang terjadi. Kekhawatiran tersebut dapat dikurangi dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan pemilahan sampah. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah masyarakat mulai memahami pentingnya mengelola sampah. Karena bukannya akan membantu melestarikan lingkungan tetapi juga dapat membantu perekonomian warga dengan adanya pelatihan mengenai kreasi-kreasi yang dapat dibuat dari sampah dan memiliki nilai jual. Serta pendekatan pengendalian sampah kepada anak-anak melalui kegiatan pembuatan prakarya dari sampah membuat mereka senang karena ada sesuatu yang dapat mereka buat dari sampah dengan usaha mereka sendiri dan harapannya kreatifitas mereka kedepannya dapat terasah dalam menangani masalah sampah dan muncul kader-kader peduli lingkungan di desa mereka. Juga dengan adanya pengadaan tempat sampah di Desa Sukaratu, masyarakat dapat melakukan kegiatan nyata dalam pengelolaan sampah dengan cara pemilahan sampah, baik organik maupun non organik
PEMBERDAYAAN SANTRI PESANTREN AL-BIDAYAH DALAM MEMANFAATKAN SUMBER BELAJAR BERBASIS LINGKUNGAN DI DESA MULYASARI KECAMATAN MANDE KABUPATEN CIANJUR Ahmad Zain Sarnoto; Windy Dian Sari; Siti Fatimah
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional yang memiliki peran sentral sebagai lembaga pendidikan dalam pemahaman agama sehingga dapat memberikan peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam perkembangannya Pesantren sekarang sebagai sebuah lembaga pendidikan formal seperti sekolah. Oleh karena itu di pesantren, disamping diajarkan dasar dasar pembelajaran, juga sekaligus diajarkan praktek, baik dalam beribadah maupun dalam berbagai bidang lainnya. Memperhatikan hal ini, dalam prakteknya maka pondok pesantren Al-Bidayah sebagai salah satu Pendidikan no formal sangat diharapkan peran dan fungsinya untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pendidikan santri yang belajar di pesantren dengan pelatihan memanfaatkan sumber belajar berbasis lingkungan. Sehingga dengan hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan seluruh santrinya, agar bukan hanya secara materi saja mereka memahaminya dan menguasainya akan tetapi lebih jauh mereka secara paraktik maupun pengaplikasiannya. Adapun permasalahan yang dibahas dalam program pengabdian kepada masyarakat ini adalah Pemberdayaan Santri Pesantren Al-Bidayah Dalam Memanfaatkan Sumber Belajar Berbasis Lingkungan Di Desa Mulyasari Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur
ORIENTASI INTERPRETASI MAKNA JIHAD DALAM PANDANGAN HAMKA DI YAYASAN BALQIS, JAKARTA Anwar , Hamdani; Zulki , Ahmad; Sudarmono, Sudarmono; Lubis, Zakaria; Budiman, Ikhlas; Hakim, Fikri
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Talking about Jihad is a natural thing in modern times, because jihad has always been a constant debate, never ending and has given birth to many scientific works. And jihad is a very unique and interesting theme to research and study.The purpose of this studying to find out more deeply what the meaning of jihad put forward by Hamka in the book of Tafsir Al-Azhar and to find out how jihad is physical and mental according to Hamka in Tafsir Al-Azhar.The method in this research is library research, namely by using the maudhu'i interpretation method (thematic interpretation), which is a discussion of the verses of the Qur'an in accordance with the themes and titles that have been set. The things that are done in this research to identify the verses of the Qur'an that are related to jihad. And only examined one Modern Mufassir, namely Hamka's essay in his book Tafsir Al-Azhar.According to Hamka Jihad is: fighting, sincerity and activities that are driven by the heart with a sincere and sincere feeling, doing amar ma'ruf, nahi munkar, preaching, educating, and nurturing people to religious awareness. As for physical jihad, it is war if ordered by the authorities in a country. While non-physical Jihad is all good deeds that are positive for religion
PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI PEMIKIRAN MODERAT MUHAMMAD QURAISH SHIHAB DALAM TAFSIR AL MISHBAH PADA KAJIAN TAFSIR WALI MURID DI TK MUSLIMAT II, BEKASI Tamam, Badru; Muhiba, Lalu; Nawawi, Abd. Muid; Hakim, Ahmad Husnul; Hidayat, Saiful
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moderation is fair and balanced thinking to avoid extreme behavior in its implementation. The principles that are important to understand and practice in moderation are justice, balance, and tolerance. People who always think moderately, have an open perspective on every difference, are gentle, calm in preaching, always provide convenience to others, eliminate difficulties, are not excessively fanatical so as to harm others towards one thought or group, and understand religious teachings comprehensively. Muhammad Quraish Shihab's thinking cannot be separated from the influence of his teacher at Al-Azhar Egypt, namely Sheikh Abdul Halim Mahmud, who is his exemplary teacher. His progressive views on life and diversity as well as a simple lifestyle also color the attitudes and views of Muhammad Quraish Shihab. The research methodology used is a qualitative method and is a library research by describing the views, understanding and interpretation of Muhammad Quraish Shihab regarding the basis of religious moderation obtained directly from his work, namely Tafsir al-Mishbah, with the theoretical framework of maudhu'i interpretation. The strategy is by collecting data through primary references, namely the book of Tafsir al-Mishbah which is the main reference. The second strategy is to process data using descriptive analytical method
PENINGKATAN PEMAHAMAN METODE TAFSIR BI AL-MA’TSÛR PADA MAHASISWA UNIVERSITAS PTIQ JAKARTA Kerwanto, Kerwanto; Apandi , Rahman; Ismail, Azmi; Sastradiharja, EE Junaedi; Fitriyah, Zakiyatul
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir bi al-ma’tsûr is said tobe the most correct and safest interpretation methode to stay awake from slipping because it adheres to authoritative sources of interpretation. In its use, the term interpretation bi al-ma’tsûr is often used as an opponent for the interpretation of bi al-ra’yi (with reason). However, the dichotomy between the two becomes ambiguous, because of the overlap in the use of the two terms. This can be seen from the influence of the reasoning of the interpreters who are always present in interpreting the Qur'an even though they adhere to the traditions of interpretation, and the use of the term interpretation bi al-ma’tsûr does not yet have a clear procedur
PENYULUHAN PRAKTIK ZIKIR AL-GHAZALI DAN IBNU QAYYIM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DI MASJID AN-NUR, BABELAN BEKASI Hariyadi , Muhammad; Maslul , Isep Saepul; Lubis , Zakaria Husin; Sarnoto, Ahmad Zain; Munir, Misbahul
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah sama-sama mengartikan zikir merupakan suatu ibadah hati yang dilakukan dengan mengingat Allah Swt dan menyebutkannya di dalam hati yang diucapkan oleh lisan. al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah sama-sama membagi zikir sesuai dengan tingkatan zikirnya, al-Ghazali mengatakan didalam kitab nya tingkatan zikir tersebut dengan lisan, hati dan ketiadaan (fana). Sedangkan ibn Qayyim mengatakan tingkatan zikir itu dengan zhahir, tersembunyi, dan hakiki. Disamping itu al-Ghazali dan ibn Qayyim al-Jauziyyah berbeda dalam hal tujuan zikir, al-Ghazali menyatakan tujuan dari zikir itu agar menuju kesempurnaan ma’rifah kepada Allah Swt, sedangkan ibn Qayyim al-Jauziyyah menyatakan dalam kitab nya madârijus sâlikîn tujuan zikir kepada Allah itu agar mendapatkan ketenangan hati/Thu’maninah sesuai firman Allah dalam surah al-Rad/13:28. Penulisan jurnal ini juga dilatar belakangi oleh munculnya individualistis egoistis, dan materialistis yang akan mendatangkan dampak berupa kegelisan, kecemasan, stress, dan depresi. Melihat kenyataan seperti itu yang mencapai puncak kenikmatan materi justru berbalik dari apa yang diharapkan, yakni mereka dihadapi rasa cemas. Beragam permasalahan tersebut sering berakibat buruk pada kesehatan mental individu yang akan berujung pada adanya gangguan mental atau jiwa serta hatinya tidak tenang dan zikir merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini di dasarkan pada Riset Pustaka (Library Research) yakni proses pengidentifikasian secara sistematis penemuan-penemuan dan analisa dokumen-dokumen yang memuat informasi berkaitan dengan masalah penelitian. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisa deskriptif yaitu sebuah analisa dengan menceritakan secara mendalam tentang zikir dalam Pandangan al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah serta perbandingan pendapat pada keduanya baik dari perbedaan maupun persamaan nya
PENINGKATAN PEMAHAMAN JILBAB DAN KONSTRUKSI KESALEHAN PERSONAL DAN SOSIAL DI MASJID USWATUN HASANAH SUKAHATI CIBINONG KABUPATEN BOGOR Febriani, Nur Arfiyah; Tamsyur , Nurkhafifah; Shunhaji, Akhmad; Tholhah, Tholhah; Kholilurrohman, Kholilurrohman
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the concept of piety in Islam comprehensively by positioning the jilbab as one of the symbols situated between personal dimensions and social demands. In Islam, piety is not merely understood as individual ritual practices such as prayer, fasting, zakat, and pilgrimage, but also encompasses social, biological, aesthetic (appearance-related), and spiritual dimensions of piety. Grounded in the principle of tawhid as its primary foundation, this study affirms that piety represents an integration between the vertical relationship (ḥablum minallāh) and the horizontal relationship (ḥablum minannās). Within this framework, the jilbab is not solely perceived as a normative obligation or a symbol of religious identity, but also as a social construct rich in historical, cultural, and ideological meanings. Historically, the practice of head covering was known in various ancient civilizations prior to Islam, and was later adopted and reconstructed within the ethical and spiritual framework of Islamic teachings. From the perspective of symbolic interactionism, the jilbab functions as a medium of social communication that both shapes and is shaped by the collective meanings within society. In Indonesia, the dynamics surrounding the use of the jilbab demonstrate a shift in meaning—from merely a symbol of ritual piety to a marker of social identity, lifestyle, and even cultural expression. Nevertheless, reducing piety to its symbolic aspects risks creating an imbalance between outward (external) and inward (spiritual) piety. Through a descriptive-analytical approach supported by Islamic literature review and historical-sociological analysis, this article concludes that authentic piety is holistic in nature, integrating ritual, social, biological, aesthetic, and spiritual dimensions in a balanced manner. As a representation of piety, the jilbab should not be confined to an external symbol, but should instead manifest spiritual consciousness, moral integrity, and social responsibility in communal life
PENGUATAN PEMAHAMAN SIFAT 20 MENURUT AL-QUR`AN DI SD AL-AZHAR SYIFA, CIBINONG Rofiah, Nur; Sihabudin , Puput; Afif , Nur; Azkiya, Ulfa Mina; Juraidi, A
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In understanding the nature of 20 Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah have different views even though the founder of Nahdlatul Ulama Hasyim Asy'ari and the founder of Muhammadiyah Ahmad Dahlan have the same teacher, namely Kiyai Shaleh Darat, but they both have different understandings in terms of branch or furu' worship.Compulsory the Characteristic of 20 according to Nahdlatul Ulama does not limit the majesty and perfection of Allah without limits. Precisely the 20 obligatory attributes are the basic characteristics of the perfection of Allah subhanahu wata'âlâ which are unlimited in number, human reason cannot reach to discuss the Majesty and Perfection of Allah, but the inability to know the characteristics that are not explained by the propositions of 'aqli and naqli makes humans not get punished for it, thanks to the grace of Allah subhânahu wata'âlâ.The characteristic of 20 according to Muhammadiyah, the points of monotheism guided by Muhammadiyah are similar to the concept of 13 or 20 obligatory attributes for Allah, typical of Asy'ariyah. However, with the note that Muhammadiyah avoids talking about things that cannot be understood by reason, so it is enough to think about His creatures to prove His power and wisdom. Muhammadiyah also considers that the nature of Allah subhânahu wata'âlâ is unlimited, because Allah is Absolute without any limitations.This research is motivated by the phenomenon of differences of opinion in the community regarding the characteristic of 20 due to mutual blame between one another. This research is intended to present the issue of the characteristic of 20 in the Qur'an according to the views of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, as well as a comparative analysis between Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah by finding points of similarities and differences in views in understanding the characteristic of 20 which is based on the Qur'an. This thesis will also discuss the history behind the founding of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah and their contribution to the Unitary State of the Republic of Indonesia.This type of research is qualitative research thematic studies, with a library research approach that collects data related to the title and discussion in this thesis
PENDAMPINGAN WAWASAN GENDER DALAM DIALEKTIKA AL-QURAN DAN BUDAYA PATRIARKI PADA SISTEM WARIS 2:1 PERSPEKTIF HISTORIS HUMANISTIK DI MAHAD AL-QURAN UNIVERSITAS PTIQ JAKARTA Nurbaiti, Nurbaiti; Syamsuri, Syamsuri; Sholichah, Aas Siti; Rohim , Abd.; Hasan, Hamka; Jarudin, Jarudin
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze verses regarding the inheritance system stipulated in 2:1 between men and women. The underlying issue of this research is the interpretive polarization between feminism and androcentrism, often grounded in their respective ideologies. By conducting objective and in-depth analysis, this research is expected to address such interpretive polarization and open up space for a more holistic understanding of the messages of the Qur'an. This study employs a historical approach with the religious humanistic theory perspective of Muhammad Thalbi. The historical context encompasses cultural values and social conditions, both pre-revelation and post-revelation. The historical data is analyzed using two analytical models, descriptive and explanatory. The findings indicate that the pre-revelation period, particularly the era of Jahiliyyah, serves as a key element in clarifying the influence of time periods, social conditions, and historical events that shape the Qur'anic paradigm. The inheritance provisions for women in the Qur'an provide a concrete conceptual and normative basis for protecting, respecting, and empowering women in various aspects of life. Analysis using the historical humanistic approach in the inheritance provision of 2:1 between men and women demonstrates that the justice initiated by the Qur'an is distributive justice. This is because the policy in inheritance division cannot be separated from the obligation of men to provide dowry and sustenance for women in family life
PEMBINAAN KONTEKSTUALISASI STABILITAS NEGARA DI INDONESIA MENURUT M. QURAISH SHIHAB DALAM TAFSÎR AL-MISHBÂH DI HIMPUNAN MAHASISWA YAYASAN KAHFI Nawawi , Abd. Muid; Hakim , Arief Rahman; Lubis , Zakaria Husin; Anwar, Hamdani; Anwar , Khoerul
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berkesimpulan besar bahwa,”Stabilitas negara akan terwujud jika negara mampu menyeimbangkan aspek politik dan pemenuhan hak-hak warga negara, serta terlaksananya praktek beragama dengan baik. Karena agama yang dibawa para nabi dan yang isinya digambarkan dalam Kitab-kitab suci adalah “serangkaian tuntunan Tuhan untuk pembinaan dan pembangunan manusia serta dunianya”. Dan mengacu pada pembangunan dalam Islam adalah bersifat menyeluruh, menyentuh dan menghujam ke dalam jati diri manusia, sehingga dengan demikian terlebih dahulu ia membangun manusia seutuhnya, material dan spiritual secara bersamaan. Juga, tujuan terakhir setiap negara ialah menciptakan kebahagiaan bagi rakyatnya (bonum publicum, common good, common wealth). Penelitian ini adalah kualitatif dilakukan secara kepustakaan atau library research, dan penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan sejarah (Sejarah klasik, Pertengahan, Kegelapan, dan Kontemporer) yaitu dengan membaca dan mempelajari secara kritis buku-buku terkait stabilitas negara pada Tafsîr Al-Mishbâh yang kemudian dikorelasikan dengan pemikiran ulama baik klasik maupun kontemporer

Page 6 of 11 | Total Record : 104