Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles
18 Documents
Search results for
, issue
"Vol 12 No 3 (2023)"
:
18 Documents
clear
Alternative Tourism: Implementasi dan Dampak Negatif Potensial Pariwisata Pesisir di Desa Temukus
I Putu Ananda Citra;
I Gde Pitana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.65297
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lebih mendalam terkait alternative tourism yang menjawab kejenuhan dari mass Tourisms atau pariwisata konvensional. Kejenuhan tersebut menjadi potensi pilihan kedua atau sebagai destinasi alternatif di Kabupaten Buleleng. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis implementasi pariwisata pesisir sebagai pariwisata alternatif, dan dampak penerapan pariwisata alternatif di Desa Temukus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan teknik survey dan observasi partisipatif dengan wawancara mendalam dengan informan kunci, serta menggunakan studi literatur. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan hasil wawancara dengan responden. Akurasi data berdasarakan teknik triangulasi dengan proses verifikasi dan konfirmasi hasil observasi, wawancara, dan berdasarkan konsep serta teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kegiatan pariwisata di Desa temukus secara konseptual sudah termasuk pariwisata alternatif, yaitu dengan jumlah wisatawan minat khusus (kategori kecil), menekankan pada keberlanjutan (budidaya terumbu karang, pengolahan sampah), interaksi host and quest sangat besar. Dampak negatif potensial dari penerapan pariwisata alternative di wilayah pesisir diantaranya adalah wilayah yang rentan kerusakan, kontribusi ekonomi yang sangat dipengaruhi sedikitnya wisatawan, dan rentan terjadi perubahan idealime pariwisata berkelanjutan dari pengelola wisata. Hal ini menjadi karakteriktif dari pariwisata alternatif. Penelitian ini menguraikan sisi lain pariwisata alternatif yang menjadi soolusi dari dampak negatif dari pariwisata konvensional juga tidak luput dari kelemahan. Kelemahan tersebut berdasarkan hasil kajian dari penerapan yang telah dilakukan yang disebut dampak negatif potensial.
Adopsi Teknologi Digital dan Kinerja Wirausaha: Apakah Eks Pekerja Migran Lebih Adaptif dan Produktif?
Jamhul Haer;
Tri Mulyaningsih
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.65470
Pengalaman bekerja di negara-negara maju dengan teknologi yang canggih seharusnya bisa menjadikan eks pekerja migran menjadi lebih adaptif dengan penggunaan teknologi digital dan bisa meningkatkan keterampilan. Penelitian ini bertujuan mengkaji faktor penentu pengusaha eks pekerja migran mengadopsi teknologi digital dan pengaruh adopsi teknologi digital terhadap kinerja usaha yang dilihat dari beberapa faktor yakni factor demografi, factor bisnis, dan factor COVID-19. Studi ini meneliti 638 pelaku usaha yang masuk dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Kabupaten Cilacap periode Agustus 2022 menggunakan metode regresi logistik. Temuan penelitian ini adalah pelaku usaha eks pekerja migran lebih adaptif dalam penggunaan teknologi digital dan adopsi teknologi digital berpngaruh signifikan terhadap kinerja wirausaha. Temuan lainya ialah pelaku usaha eks pekerja migran tidak lebih produktif dibandingkan pelaku usaha non eks pekerja migran. Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah penguatan kemampuan penggunaan teknologi digital melalui literasi singkat terutama kepada pelaku usaha eks pekerja migran yang masih berpendidikan rendah. Selain itu pemberdayaan eks pekerja migran tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi pentingnya regulasi agar terjadi transfer pengetahuan dan teknologi digital khususnya dari negara tujuan migran.
Tindakan Pemerintah Daerah Terhadap Rumah Apung Suku Dayak: Kajian Pustaka: Tindakan Pemerintah Daerah Terhadap Rumah Apung Suku Dayak: Kajian Pustaka
Cahyoko Edi Tando;
Nurul Hikmah
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.65795
Keberadaan rumah apung milik masyarakat Dayak tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Dayak yang mendiami sepanjang aliran sungai dan menjadi kearifan lokal hingga saat ini. Namun keberadaan rumah apung ini menimbulkan beberapa permasalahan yaitu rusaknya lingkungan, menurunnya baku mutu air, bahkan pencemaran akibat aktivitas rumah tangga. Oleh karena itu perlu adanya tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi masalah ini. Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian tinjauan pustaka (SLR). Hasil penelitian ini berdasarkan artikel dalam bentuk jurnal melalui database berupa Scopus, Science Direct dan Taylor and Francis Group yang memiliki kredibilitas internasional. Adapun hasil penelitian yakni pemerintah dapat merefleksikan semua aktivitas masyarakat lokal sebagai kearifan lokal dan harus dipertahankan eksistensinya. Kemudian dilakukannya pembuatan regulasi yang saat ini belum nampak dalam pelestarian ataupun tata cara pendirianrumah apung di Pulau Kalimantan. Kemudian hasil ketiga adalah dengan tata kelola wilayah perairan dengan ketentuan pelibatan masyarakat lokal yang bisa saja menjadi sebuah opsi dalam pelestarian rumah apung masyarakat Suku Dayak. Terakhir adalah dengan pemberian bahan baku yang murah dan berkualitas, dimana selama ini pembuatan rumah apung hanya mengandalkan pada kayu, adanya hasil penelitian terdahulu menunjukkan terdapat beberapa bahan murah dan berkualitas serta sudah tersertifikasi yang menjadikan rumah apung masyarakat Suku Dayak dapat dilestarikan dengan lebih baik.
Modality of Strengthening Cooperation Relationship Riau Island (Indonesia) with Terengganu (Malaysia)
Anastasia Wiwik Swastiwi;
Herry Wahyudi;
Rizqi Apriani Putri;
Sayed Fauzan Riyadi;
Wanofri Samry;
Vioni Dwi Saswi;
Linggo Prabowo
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.66000
Historical and cultural backgrounds mutually influence the cooperation between the Riau Islands (Indonesia) and Terengganu (Malaysia). The relationship between the Riau Islands (Indonesia) and Terengganu (Malaysia) leaves cultural heritage such as manto hoods, copper household items, gamelan, and others. Close relations between the two can be enhanced in cooperation through cultural diplomacy and public diplomacy. This research uses historical research methods with cultural and public diplomacy theories. The study results show that the modality for strengthening the cooperation relations between the Riau Islands (Indonesia) and Terengganu (Malaysia) is in the socio-cultural and economic field. Therefore, each country always has the same socio-cultural strength and the opportunity to develop the economic potential of the existing historical and cultural heritage.
Effect of Influencer Marketing and Green Marketing on Brand Awareness of Traditional Culinary SMEs in West Java
Asep Muhamad Ramdan;
Leonita Siwiyanti;
Kokom Komariah;
Muhamad Arief Ramdhany
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.66147
The brand awareness of traditional culinary Small Medium Enterprises (SMEs) in West Java can arise from green marketing initiatives triggered by influencer marketing and company commitment. In this article, we explore the effect of influencer marking and green marketing moderated by consumer trust in influencers on SMEs' brand awareness. The population framework in this study is more than 26,000 traditional culinary SMEs in West Java. The representative sample is 380 based on the calculation. Inferential analysis employed Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM). The results find that influencer marketing positively affects both green marketing initiatives and brand awareness. Green marketing initiatives positively influence brand awareness, and consumer trust in influencers enhances brand awareness. Consumer trust in influencers also moderates the effects of both influencer marketing and green marketing initiatives on brand awareness. Additionally, green marketing initiatives mediate the relationship between influencer marketing and brand awareness, serving as a channel through which influencer marketing impacts brand awareness. These findings highlight the importance of influencer marketing, green marketing initiatives, and consumer trust in shaping brand awareness in a sustainable context.
Mapping Local Potential of Coastal Communities to Support Sustainable Empowerment
Ligar Abdillah;
Fadli Afriandi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.66181
Coastal communities are very close to natural wealth in the form of ample marine resources. In reality, coastal communities are positioned as groups that are socially, economically, and ecologically vulnerable. This vulnerability is motivated by the non-participatory empowerment of fishermen. This research aims to map the local potential of the fishing community in Pulo Sarok Village, Singkil District, Aceh Singkil Regency. This research is supported by qualitative methods to explore local communities' dynamics and map their resources. Data collection techniques used observation, in-depth interviews, and FGD (focus group discussion). Determining informants used the snowball sampling technique. Data were analyzed using the concept of local community empowerment initiated by Jim Ife and Frank Tesoriero. The findings from this research show that fishing communities consist of human resources that rely on local knowledge and local culture to utilize and preserve natural resources. The fishing community also has the skills to establish synergy with the village government to accommodate all their needs. The local community-based empowerment model is very suitable for fishermen who need traditional markets to distribute their catch. Fishermen must be positioned as the main actors in empowerment who best understand their problems and needs. Further research is highly recommended to analyze external parties who can facilitate fishing communities in implementing empowerment to achieve prosperity.
Dissociative Social Interaction of Plasma Farmers and Palm Oil Companies in East Kotawaringin
Rinto Alexandro;
Anyualatha Haridison;
Orbit Thomas;
Simpun Simpun;
Fendy Hariatama
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.66325
This study aims to analyze the forms of social interaction between plasma farmers and the Sarawak Damai Estate (SDE) Sawit Company in Pundu Village, Cempaga Hulu District, East Kotawaringin Regency. For the objectives to be answered, a qualitative approach was used to withdraw purposive sampling informants with data collected from oil palm farmers (primary) and documentation (secondary). The data collection techniques used are observation, interview, and documentation. The results showed that social interaction between the plasma farmers community and the SDE Company in Pundu Village, namely dissociative social interaction, occurred during the entry phase of the SDE Palm Oil Company and the management of the oil palm plantation. In this dissociative interaction, the plasma farmer community strengthens its solidarity in fighting against companies that are considered to be doing things that are detrimental to farmers. Therefore, social interaction between the plasma farmer community and the SDE Palm Oil Company in Pundu Village is dissociative.
Kearifan Lokal Mecula Haroano Laa dan Mewuhia Limano Bhisa sebagai Perwujudan Kohesi Sosial
Syahrun Syahrun;
Muhamad Chairul Basrun Umanailo;
Halim Halim;
Alias Alias
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.66633
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kearifan lokal mecula haroa ano laa dan mewuhia limano bhisa sebagai perwujudan sosial kohesi komunitas petani jambu mete untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Buton Utara. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, di mana peneliti melakukan pemilihan secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Informan berjumlah 36 orang yang tersebar pada 10 Desa Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dan pengamatan partisipatif. Hasil penelitian ini menunjukkan mecula haroa ano laa dan mewuhia limano bhisa telah menjadi praktik tradisi pertanian serta memiliki daya dukung yang kuat untuk memperkokoh kohesi sosial antar sesama anggota komunitas petani jambu mete. Praktek ini mencerminkan semangat solidaritas, gotong royong, dan saling menghormati lingkungan. Komunitas petani jambu mete terlibat aktif dalam pelaksanaan mecula haroa ano laa dan mewuhia limano bhisa sebagai bentuk partisipasi dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan. Penelitian ini memberikan kontribusi untuk pemahaman pentingnya kearifan lokal dalam membangun kohesi sosial dan jaringan sosial dalam masyarakat. Implikasi penelitian meliputi perencanaan berkelanjutan dan upaya pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan pertanian di Kabupaten Buton Utara.
Kohesi dan Jaringan Sosial dalam Tradisi Kai Wait Komunitas Pertanian di Kabupaten Buru
Hamiru Hamiru;
Muhamad Chairul Basrun Umanailo;
Idrus Hentihu
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.66636
Persediaan lahan dan tenaga kerja untuk pertanian semakin terbatas bahkan cenderung berkurang sebagai konsekuensi perkembangan daerah serta dinamika kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang akan menimbulkan masalah krusial terkait pengembangan dan keberlanjutan pertanian yang berimbas pada masalah kemiskinan. Keberadaan tradisi Kai Wait sebagai ruang komunikasi yang d idalamnya terdapat kohesi dan jaringan sosial menyebabkan potensi komunitas pertanian untuk selalu bisa berkembang, namun faktanya Kai Wait hanya sekedar masih berada pada kondisi yang cukup memprihatinkan. Penelitian ini disetting untuk mengeksplorasi sumberdaya komunitas pertanian berupa jaringan sosial dan kohesi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, di mana peneliti melakukan pemilihan secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Informan berjumlah 86 orang yang tersebar pada 10 Desa. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan empat langkah. Langkah pertama adalah melakukan reduksi data. Reduksi data digunakan untuk mengetahui pola perubahan untuk memetakan data yang diperoleh secara efisien. Langkah kedua adalah proses menampilkan data. Penyajian data dilakukan dengan memilah data dilanjutkan dengan langkah ketiga yaitu proses pemahaman data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi Kai Wait memiliki kandungan kohesi yang kuat dimana rasa percaya sesama warga menjadi kekuatan dalam menghadapi persoalan yang mereka hadapi begitu juga jaringan sosial yang mereka miliki mampu mendukung usaha mereka dalam memenuhi nafkah sehari-hari.
Transformasi Gender pada Pembangunan Pariwisata berbasis Masyarakat di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung
Ermayanti Ermayanti;
Yevita Nurti;
Edi Indrizal;
Ade Irwandi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jish.v12i3.66871
Penelitian ini membahas bagaimana pariwisata berbasis masyarakat (CBT) telah mentransformasi peran gender di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung. Melalui pembangunan homestay, CBT telah memperjuangkan dan membentuk para perempuan untuk menegosiasikan peran gender, baik diranah domestik maupun publik. Sehingga, pembangunan homestay yang memanfaatkan Rumah Gadang berpengaruh dalam transformasi gender bagi perempuan tradisional yang selama ini tumpang tindih antara ranah domestik dan ranah publik. Di masa lalu, para perempuan mengalami keterbatasan mobilitas yang tidak dialami oleh laki-laki, terutama pada etnis Minangkabau. Perempuan ditempatkan dalam ruang Rumah Gadang yang bersifat domestik, namun laki-laki memiliki kuasa dan relasi atas keduanya, baik di luar maupun dalam Rumah Gadang dengan peran dan status yang dimilikinya sebagai Ninik Mamak (pemimpin kaum). Pengumpulan data melalui teknik wawancara serta observasi partisipasi dengan 15 perempuan pengelola homestay di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, sehingga mendapatkan realitas dan sudut pandang dari perempuan pengelola homestay. Hasilnya menujukkan perempuan telah mereproduksi peran gender tradisonal, dimana perempuan sebagai ibu maupun istri di ranah domestik dan sebagai pekerja rumah tangga, petani dan pengelola homestay merupakan identitas gender dan menyulap hal itu dengan perjuangan ganda. Melalui CBT, kegiatan rumah tangga sebagai pekerjaan yang tidak bernilai, telah berubah menjadi pekerjaan bernilai secara ekonomis. Melalui pariwisata homestay, menggeser tenaga non-pasar menjadi tenaga kerja pasar. Maka telah mengaburkan batas antara ranah domestik dan publik dalam hal reproduksi sosial peran gender. Terkait kinerja gender, perempuan mengalami peningkatan agensi dan secara positif mengubah cara pandang masyarakat luas terhadap mereka.