cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
JURNAL INTEGRASI PROSES
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal integrasi proses (JIP) diterbitkan oleh Jurusan Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dua kali dalam setahun. JIP menerima artikel dalam bidang teknik kimia berupa original research papers, reviewed papers dan short communications dari para peneliti, akademisi, industri dan praktisi.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
OPTIMASI DISTILASI EKSTRAKTIF CAMPURAN METILAL-METANOL MENGGUNAKAN PELARUT DIMETILFORMAMIDA (DMF) DAN ETILEN GLIKOL Hartanto, Yansen; Valentino, Steven; Tangka, Adithya Margif Reinhard; Santoso, Herry
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.33117

Abstract

Dalam industri kimia tidak semua campuran dapat dipisahkan menggunakan distilasi biasa karena memiliki titik azeotrop. Salah satu campuran azeotrop, yaitu metilal-metanol yang dijumpai pada industri farmasi dan kosmetik. Penelitian ini meliputi perancangan dan optimasi distilasi ekstraktif menggunakan pelarut dimetilformamida (DMF) dan etilen glikol. Optimasi dilakukan secara bertahap dengan fungsi objektif yang digunakan, yaitu Total Annual Cost (TAC). Untuk pelarut DMF, desain optimal diperoleh saat jumlah tahap kolom pertama (N1) = 21, letak masukan umpan kolom pertama (NF1) = 11, letak masukan pelarut kolom pertama (NS1) = 4. jumlah tahap kolom kedua (N2) = 13 dan letak masukan umpan kolom kedua (NF2) = 6. Untuk pelarut etilen glikol, desain optimal adalah jumlah tahap kolom pertama (N1) = 20, letak masukan umpan kolom pertama (NF1) = 7, letak masukan pelarut kolom pertama (NS1) = 6, jumlah tahap kolom kedua (N2) = 6 dan letak masukan umpan kolom kedua (NF2) = 3. Setelah dilakukan optimasi, diketahui bahwa pelarut DMF merupakan pelarut yang lebih ekonomis dengan TAC sebesar $27.099,86/tahun dibandingkan dengan pelarut etilen glikol yang menghasilkan TAC sebesar $28.567,92/tahun.
PENGEMBANGAN BIODEGRADABLE FILM BERBASIS CAMPURAN PATI BIJI NANGKA DAN ALPUKAT DENGAN PENAMBAHAN PLASTICIZER SORBITOL Ramjani, Muhammad Rifki; Labib, Ahmad Nauval; Siswati, Nana Dyah; Suprihatin, Suprihatin
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.31952

Abstract

Biji nangka dan alpukat dianggap sebagai limbah, padahal biji tersebut mengandung kadar karbohidrat dan pati yang tinggi, yaitu sekitar 56 gram per 100 gram biji nangka dan sekitar 80% dari kadar biji alpukat. Kedua biji ini dapat digunakan sebagai jaringan pembentuk polimer dalam pembuatan biodegradable film. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan biodegradable film terbaik yang meliputi parameter kuat tarik, persen elongasi, ketebalan, dan persen biodegradasi yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Japanese Industrial Standards (JIS). Penelitian ini menggunakan rasio massa pati biji nangka dan biji alpukat sebesar 10:0, 7:3, 5:5, 3:7, dan 0:10 gram, dengan penambahan sorbitol sebesar 10, 11, 12, 13, dan 14 mL. Proses diawali dengan penepungan biji nangka dan alpukat, lalu dilanjutkan dengan pembuatan larutan biofilm yang kemudian dicetak dan dikeringkan. Hasil biofilm dianalisis menggunakan metode ASTM D638. Kondisi terbaik berdasarkan parameter kuat tarik, nilai elongasi, ketebalan, dan biodegradasi terdapat pada rasio pati biji nangka dan alpukat 10:0 gram dan penambahan sorbitol 14 mL yang menghasilkan nilai kuat tarik sebesar 36,45 MPa, persen elongasi sebesar 88,1%, ketebalan 0,15 mm, dan persen biodegradasi 86%.
PENURUNAN KANDUNGAN ASAM LEMAK BEBAS (ALB) PADA CRUDE PALM OIL (CPO) MELALUI METODE GLISEROLISIS UNTUK BAHAN BAKU BIODIESEL Akbar, Addin; Supriadi, Eko; Jayanti, Regna Tri; Fauzan, Adrian
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.28057

Abstract

Crude palm oil (CPO) adalah minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Namun, pembuatan biodiesel dari CPO terkendala kandungan asam lemak bebas (ALB) yang cukup tinggi. Rata-rata kandungan ALB pada CPO adalah 3-5%. Selain itu proses pemurnian CPO yang cukup panjang menambah biaya produksi biodiesel. Gliserolisis adalah metode pemurnian CPO yang sekaligus menurunkan kandungan ALB dengan menggunakan gliserol sebagai prekursor utama. Pada penelitian ini telah dilakukan reaksi gliserolisis CPO dengan tujuan menurunkan ALB hingga < 2%, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Gliserol yang digunakan berasal dari gliserol mentah produk reaksi transesterifikasi dan juga gliserol komersial sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan pada rasio molar CPO:gliserol mentah 1:0,5, 1:0,75, 1:1, dan 1:1,5 pada waktu reaksi 60 menit dan 1% katalis terjadi penurunan ALB sebesar 78,7%, 81,5%, 84,0%, dan 94,0%. Sedangkan untuk gliserol komersial dengan variasi yang sama, terjadi penurunan ALB sebesar 87,4%, 89,3%, 90,6%, dan 96,7%. Telah dilakukan juga gliserolisis pada rasio molar 1:1 untuk waktu reaksi 30 menit dan katalis 0,5% dan 0,75% terjadi penurunan ALB 39,5% dan 55,3%. Kemudian untuk rasio molar dan konsentrasi katalis yang sama pada waktu reaksi 45 menit didapatkan penurunan ALB 47,2% dan 60,2%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gliserolisis menggunakan gliserol mentah dapat menurunkan ALB CPO sesuai dengan standar bahan baku biodiesel.
PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI LIMBAH KULIT SINGKONG DENGAN PELEBURAN ALKALI Magfiroh, Aldilah Dian; Isnayyah, Wanda Nur; Triana, Nurul Widji; Sutiyono, Sutiyono
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.31607

Abstract

Pemanfaatan singkong di Indonesia sejauh ini masih berfokus pada bagian umbinya, sementara kulit singkong sering kali hanya menjadi limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, kulit singkong memiliki kandungan selulosa yang tinggi, sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan asam oksalat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh asam oksalat dengan kadar tertinggi serta menentukan nilai pH yang stabil berdasarkan variasi suhu dan waktu terbaik dalam proses peleburan alkali. Proses pembuatan asam oksalat dari kulit singkong diawali dengan peleburan alkali, di mana serbuk kulit singkong dicampur dengan larutan KOH. Filtrat yang dihasilkan kemudian ditambahkan dengan larutan CaCl₂ 10%, lalu endapan yang terbentuk diasamkan menggunakan H₂SO₄ dan disaring untuk memperoleh filtrat asam oksalat. Filtrat tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan metode titrasi permanganometri dan pH meter. Penelitian ini menerapkan variasi suhu sebesar 100, 120, 140, 160, dan 180 °C serta waktu peleburan selama 70, 75, 80, 85, dan 90 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik diperoleh pada suhu 160 °C dengan waktu peleburan selama 85 menit, menghasilkan kadar asam oksalat sebesar 15,7% dari 5 gram serbuk kulit singkong yang memiliki kadar selulosa sebesar 48,17%.
PEMISAHAN ION Ca2+, Mg2+, SO42- DARI BITTERN DENGAN NANOFILTRASI UNTUK PRODUKSI GARAM KONSUMSI Berliana, Putri Dwi; Sari, Amelia Puspita; Kurniati, Ely
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.31624

Abstract

Produksi garam menghasilkan bittern sebagai produk samping yang masih mengandung mineral berharga, termasuk natrium klorida (NaCl). Kadar NaCl dalam bittern dari PT Garam Dua Musim Lamongan mencapai 456.620 ppm, sehingga masih layak untuk diolah kembali. Namun, keberadaan pengotor seperti ion kalsium (Ca²⁺), magnesium (Mg²⁺), dan sulfat (SO₄²⁻) membatasi pemanfaatannya secara langsung. Kurangnya pemanfaatan bittern menyebabkan potensi mineral yang terkandung di dalamnya belum termanfaatkan secara optimal. Jika bittern dibuang langsung kembali ke laut tanpa melalui proses pengolahan, hal ini berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti hipersalinitas, terganggunya keseimbangan ekosistem laut, serta perubahan komposisi ionik air laut yang dapat berdampak negatif terhadap biota akuatik. Oleh karena itu, pengelolaan bittern menjadi sangat penting untuk mengurangi dampak ekologis serta mendukung pemanfaatannya sebagai sumber senyawa bernilai tambah. Dalam upaya mengurangi limbah cair serta meningkatkan nilai ekonomi bittern, pemurnian menggunakan nanofiltrasi dapat diterapkan. Membran nanofiltrasi mampu memisahkan bittern dari padatan terlarut, bakteri, virus, serta ion-ion multivalen seperti Ca²⁺, Mg²⁺, dan SO₄²⁻. Penelitian ini mengolah bittern menggunakan membran nanofiltrasi berukuran pori 0,001 μm untuk meningkatkan kemurnian garam. Metode ini dilakukan dengan menggunakan dua kondisi operasi yang divariasikan, yaitu tekanan nanofiltrasi 4, 5, 6, 7, dan 8 atm, dan waktu kontak 40, 60, 80, 100, dan 120 menit. Hasil menunjukkan bahwa pada tekanan 8 atm dan waktu operasi 120 menit, persentase rejeksi ion mencapai 71,77% dengan fraksi massa garam sebesar 84,35%. Nilai ini masih di bawah standar mutu SNI 4435:2017 kualitas K3 sebesar 85%, sehingga diperlukan optimasi lebih lanjut agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik.
OPTIMASI KONSENTRASI POLIETILEN GLIKOL UNTUK KUAT TARIK, ELONGASI, DAN BIODEGRADASI DALAM TANAH PADA EDIBLE FILM SELULOSA ASETAT Rahmayetty, Rahmayetty; Ramadani, Putri Dwi; Astari, Raisa; Nuryoto, Nuryoto; Adiwibowo, Muhammad Triyogo; Yulvianti, Meri; Hendra, Hendra
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.33264

Abstract

Plastik konvensional yang digunakan sebagai kemasan makanan menimbulkan permasalahan serius karena ketahanannya terhadap panas yang rendah, serta potensi migrasi monomer ke dalam bahan yang dikemas. Permasalahan ini mendorong pencarian alternatif pengganti plastik dari sumber terbarukan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Salah satu polimer alam yang menjanjikan untuk produksi bioplastik adalah selulosa asetat, yang dikenal ramah lingkungan, tidak beracun, bersifat antimikroba, dan biokompatibel. Untuk meningkatkan kekuatan mekanik edible film berbahan selulosa asetat, digunakan polietilen glikol (PEG) sebagai plasticizer. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi PEG yang optimal dalam menghasilkan edible film dengan kekuatan terbaik dari segi kuat tarik, elongasi, dan biodegradasi tanah. Metode yang digunakan yaitu melarutkan 3 gram selulosa asetat ke dalam 30 mL aseton hingga larut sempurna, kemudian menambahkan PEG dengan variasi konsentrasi (1–5% v/v) dan diaduk hingga homogen. Larutan kemudian dicetak dalam cawan petri dan dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan kuat tarik tertinggi (22,29 MPa, ketebalan 0,13 mm) diperoleh pada penambahan PEG 2%. Nilai elongasi tertinggi (66,8%, ketebalan 0,19 mm) dan tingkat biodegradasi terbaik dengan kehilangan berat 36% pada hari ke-14 diperoleh pada PEG 5%. Konsentrasi PEG optimal berada pada 2% dengan nilai tensile strength paling mendekati standar minimal SNI.
PENGOLAHAN AIR LIMBAH LAUNDRY UNTUK MENURUNKAN PARAMETER PENCEMAR MENGGUNAKAN METODE FOTO-FENTON Rinilam, Arrum; Fatimura, Muhrinsyah; Masriatini, Rully; Fitriyanti, Reno
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.31271

Abstract

Air limbah laundry perlu ditangani secara serius karena mengandung senyawa organik kompleks seperti detergen dan pewarna yang sulit terurai secara alami dan berpotensi mencemari lingkungan. Salah satu metode untuk mengolah limbah tersebut adalah foto-Fenton yang dipilih karena memiliki waktu reaksi yang singkat, menggunakan reagen yang mudah diperoleh dan ramah lingkungan, serta prosesnya sederhana dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode foto-Fenton dalam menurunkan kandungan polutan pada air limbah laundry. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan pengujian terhadap beberapa parameter pencemar, yaitu TSS (total suspended solids), COD (chemical oxygen demand), BOD (biochemical oxygen demand), minyak dan lemak, serta surfaktan anionik. Hasil terbaik diperoleh pada rasio FeSO4:H2O2 1:20, dengan penurunan TSS sebesar 74,58%, COD sebesar 66,88%, BOD sebesar 72,41%, minyak dan lemak sebesar 93,64%, serta surfaktan anionik sebesar 76,69%. Air hasil pengolahan limbah laundry telah memenuhi baku mutu untuk TSS, COD, BOD, minyak dan lemak, serta surfaktan anionik sesuai Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 8 Tahun 2012.
OPTIMIZATION OF REMAZOL RED DYE REMOVAL PERFORMANCE USING AEROBIC GRANULAR SLUDGE IN A SEQUENCING BATCH REACTOR Sanjaya, Andri; Achmad, Feerzet; Robianto, Bagus; Ihsan, Ahyatul; Nugroho, Andreas Dwi; Alfares, Nelson; Damayanti, Damayanti; Fahni, Yunita; Deviany, Deviany; Saputri, Desi Riana
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.28880

Abstract

Textile wastewater pollution, mainly containing azo dyes such as Remazol Red, presents an environmental challenge in developing countries, including Indonesia. Although various wastewater treatment methods have been extensively studied, biological treatment efficiency at high dye concentrations remains challenging. In this context, aerobic granular sludge (AGS) technology in sequencing batch reactors (SBR) offers a potential solution. However, the existing knowledge gap lies in optimizing operating conditions for optimal dye degradation. This study demonstrates the use of response surface methodology (RSM) with a Box-Behnken design (BBD) to model the effects of independent variables such as aeration time, dye concentration, and COD on decolorization efficiency. Experimental results show that increasing aeration time and COD concentration significantly improve dye degradation, with an optimal decolorization value of 77% achieved at a COD concentration of 1000 mg/L and an aeration time of 24 hours. These findings imply that AGS-SBR technology can be further optimized for effective textile wastewater treatment on various industrial scales. 
A REVIEW OF DEEP EUTECTIC SOLVENTS IN GREEN EXTRACTION OF CHITOSAN: COMPOSITION, EFFICIENCY, AND RECYCLABILITY Kanani, Nufus; Wardalia, Wardalia; Kustiningsih, Indar; Adiwibowo, Muhammad Triyogo; Rusdi, Rusdi; Hartono, Rudi; Heriyanto, Heri
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.32299

Abstract

Chitosan, a biopolymer derived from chitin-rich biomass such as crustacean shells, has garnered attention for its biodegradability, biocompatibility, and wide-ranging applications. However, conventional chemical extraction methods relying on strong acids and bases pose significant environmental and safety concerns, often leading to molecular degradation and low product quality. This study explores the use of deep eutectic solvents (DESs) as a green alternative for chitosan extraction. DESs, formed from combinations of hydrogen bond donors and acceptors, offer tunable properties, lower toxicity, and recyclability. The article highlights the structural advantages, extraction efficiency, and environmental benefits of DESs over conventional methods. It also examines the integration of process intensification technologies, such as microwave and ultrasound-assisted extraction, to enhance yield and reduce energy consumption. The findings underscore DESs’ potential to produce high-purity chitosan while supporting sustainability goals and industrial scalability, offering a viable pathway toward eco-friendly biopolymer processing.
KERTAS ANTI RAYAP BERBAHAN LIMBAH KULIT KACANG TANAH DAN BULU AYAM DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN SIRSAK Nurmalitasari, Aldila Laksmi; Angelina, Maya; Redjeki, Sri
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.32347

Abstract

Kertas dengan bahan baku selulosa kerap kali dijadikan santapan oleh rayap, dalam mencegah hal tersebut tercipta sebuah inovasi berupa kertas anti rayap. Daun sirsak memiliki kandungan senyawa acetogenin 49% yang berfungsi sebagai racun perut untuk membunuh rayap. Tujuan penelitian ini adalah membuat kertas anti rayap dari kulit kacang tanah dan bulu ayam dengan penambahan ekstrak daun sirsak sesuai dengan standar SNI 01.7207-2006, meliputi parameter penurunan berat kertas, lethal time, dan mortalitas rayap. Pembuatan kertas anti rayap dilakukan dengan penambahan ekstrak daun sirsak konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 % dengan waktu pengamatan terhadap kematian rayap selama 1 hingga 5 hari. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun sirsak pada kertas efektif meningkatkan ketahanan terhadap rayap sesuai standar SNI. Konsentrasi 8% menunjukkan hasil terbaik, dengan mortalitas rayap 100% dalam empat hari dan LT₅₀ tercapai dalam tiga hari pada konsentrasi 6%, 8%, dan 10%. Analisis RSM menunjukkan titik optimum pada konsentrasi 8% dan waktu 5 hari, dengan mortalitas 95,22% dan penurunan berat kertas 0,23%. Ekstrak daun sirsak terbukti efektif sebagai bahan anti rayap dalam pembuatan kertas dengan konsentrasi optimal 8%.