cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Terapan Abdimas
ISSN : 25022806     EISSN : 25022784     DOI : https://doi.org/10.25273
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 299 Documents
PELATIHAN PENDEKATAN STEAM TERINTEGRASI TEKNOLOGI BAGI GURU TINGKAT SEKOLAH DASAR Jeffry Handhika; Tri Candra Wulandari; Nugroho Adi Pramono; Kawakibul Kawakibul
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.21743

Abstract

Abstract.The purpose of this training is to improve pedagogical skills (the use of the PbL/PjBL model with the STEAM Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics approach) and technology integration in teacher learning. By increasing these two abilities, it is expected that the quality of learning will increase and have an impact on students' scientific literacy. The activity was carried out at one of the Madrasah Ibtidaiyah in Malang Regency. The training was designed in the form of delivering pedagogical materials, demonstrations, practices using media, and task. The potential for implementing the PbL & PjBL model with a STEAM approach integrated with technology is in the high category and received positive responses from participants based on the questionnaire. The majority of participants said that the training activities carried out were very useful. Abstrak. Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kemampuan pedagogik (penggunaan model PbL/PjBL dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics STEAM) dan integrasi teknologi dalam pembelajaran guru. Dengan meningkatnya dua kemampuan ini diharapkan kualitas pembelajaran meningkat dan berdampak pada literasi sains siswa. Kegiatan dilakukan di salah satu Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Malang sejumlah 15 peserta. Pelatihan dirancang dalam bentuk penyampaian materi pedagogik, demonstrasi, praktek menggunakan media, dan penugasan. Potensi menerapkan model PbL & PjBL dengan pedekatan STEAM terintegrasi teknologi pada kategori tinggi dan mendapatkan respon positif dari peserta berdasarkan kuisioner. Mayoritas peserta menyampaikan kegiatan pelatihan yang dilakukan sangat bermanfaat.
PEMBERIAN EDUKASI PADA INSIDENSI BALITA STUNTING DI WILAYAH KECAMATAN GUNUNG ANYAR KOTA SURABAYA Wahyuni Dyah Parmasari; Emillia Devi Dwi Rianti; Indah Widyaningsih; Candra Rini Hasanah Putri
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.22046

Abstract

Abstract. The stunting case in Indonesia is a negative trend that must be eradicated. One of the causes of the incidence of stunting is due to a lack of nutritional intake before the mother becomes pregnant, during pregnancy, and after the child is born and grows. Toddlerhood is the golden period that determines the quality of a human's growth and development. This is one of the visions of the Indonesian government to eradicate malnutrition, especially during childhood. In Surabaya, the percentage of stunting still exists, although it is not significant. The community service was held in the Gunung Anyar work area, which is one of the marginal areas in Surabaya city planning.  The purpose of this service is to provide education to cadres and mothers of stunted toddlers about the incident of stunted toddlers in the Gunung Anyar District, Surabaya City. The method of this service is to educate cadre mothers and mothers who have pre-stunting and stunting children. There are toddlers whose height is 90 cm at the age of 60 months (5 years) and 95 cm at the age of 48 months (4 years), this condition occurs in male toddlers. So toddlers 4 years old are already in ideal conditions, but toddlers 5 years old are not in ideal conditions. The incidence of stunted toddlers still exists, so it is a concern. The incidence of stunting is not large, but it must be a special concern, especially for the Surabaya city government, in alleviating the stunting problem to make the city of Surabaya zero stunting.   Abstrak. Kasus stunting di Indonesia merupakan salah satu trend negatif yang harus dientaskan. Salah satu penyebab adanya Insidensi Stunting dikarenakan adanya kurangnya asupan nutrisi dari sebelum ibu hamil, selama masa kehamilan, dan setelah anak tersebut lahir dan tumbuh. Masa balita merupakan periode emas penentu kualitas tumbuh kembang seorang maniusia. Hal ini salah satu visi dari pemerintah Indonesia untuk mengentasan malnutrisi khususnya masa balita. Di Surabaya presentase stunting masih ada, walaupun tidak signifikan. Pengabdian masyarakat diadakan di wilayah kerja Gunung Anyar, yang merupakan salah satu wilayah marginal dalam tata kota Surabaya. Tujuan pengabdian ini adalah memberikan edukasi pada kader dan ibu balita stunting tentang  insiden si balita stunting di wilayah Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya.  Metode dari pengabdian ini dengan mengedukasi ibu-ibu kader dan para ibu yang memiliki anak pra-stunting dan stunting. terdapat balita yang memiliki tinggi badan 90 cm di usia 60 bulan (5 tahun) dan 95 cm diusia 48 bulan (4 tahun), kondisi tersebut terjadi pada balita laki-laki. Maka dengan balita yang berusia 4 tahun sudah masuk dalam kondisi ideal, akan tetapi utuk balita yang berusia 5 tahun masuk dalam kondisi tidak ideal. Insidensi balita stunting masih ada, sehingga menjadi perhatian. Insidensi Stunting didapat angkanya tidak besar tetapi harus menjadi perhatian khusus, khususnya pemerintah kota Surabaya dalam mengentaskan masalah stunting sehingga menjadikan Kota Surabaya yang Zero Stunting.
PENINGKATAN KOMPETENSI DIGITAL GURU DAN MAHASISWA MELALUI WORKSHOP "SERU DAN CERDAS! MENGUASAI PECAHAN DENGAN TIKTOK" Rafika Riana Chn; Zulkardi Zulkardi; Yusuf Hartono; Ely Susanti
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.22504

Abstract

Abstract. Digital transformation in education requires teachers and student teachers to master technology skills as an innovative learning medium. The workshop “Fun and Smart! Mastering Fractions with TikTok” was held as part of a community service activity with the aim of improving participants’ digital competence in designing educational content based on social media. This activity used a service learning approach and was carried out online via Zoom and Google Classroom. A total of 207 participants, consisting of teachers and mathematics education students from various levels, attended the training session in the form of presentations, interactive discussions, and assignments to make fraction learning videos using the TikTok application. The results of the questionnaire showed a positive response from participants towards the implementation of the workshop. A total of 63.6% stated that the facilitator mastered the material well and created an interactive learning environment; 59.1% considered the material relevant and applicable in their work; and 50% felt more confident in applying the knowledge from the workshop. Although only 45.5% of participants considered that the workshop directly improved performance or that TikTok was effective for fraction learning, enthusiasm for this approach remained high. Overall, this workshop proved effective in increasing participants' understanding of the use of social media as a learning tool, as well as providing contextual, enjoyable, and relevant digital learning experiences. This activity strengthens the role of teachers and students as adaptive educators in the digital era.   Abstrak. Transformasi digital dalam pendidikan menuntut guru dan mahasiswa calon guru untuk menguasai keterampilan teknologi sebagai media pembelajaran yang inovatif. Workshop “Seru dan Cerdas! Menguasai Pecahan dengan TikTok” diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tujuan meningkatkan kompetensi digital peserta dalam merancang konten edukatif berbasis media sosial. Kegiatan ini menggunakan pendekatan service learning dan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan Google Classroom. Sebanyak 207 peserta, terdiri dari guru dan mahasiswa pendidikan matematika dari berbagai jenjang, mengikuti sesi pelatihan berupa presentasi, diskusi interaktif, dan penugasan pembuatan video pembelajaran pecahan menggunakan aplikasi TikTok. Hasil kuesioner menunjukkan respons positif dari peserta terhadap pelaksanaan workshop. Sebanyak 63,6% menyatakan fasilitator menguasai materi dengan baik dan menciptakan lingkungan belajar yang interaktif; 59,1% menilai materi relevan dan dapat diterapkan dalam pekerjaan; serta 50% merasa lebih percaya diri dalam mengaplikasikan ilmu dari workshop. Meskipun hanya 45,5% peserta menilai bahwa workshop secara langsung meningkatkan kinerja atau bahwa TikTok efektif untuk pembelajaran pecahan, antusiasme terhadap pendekatan ini tetap tinggi. Secara keseluruhan, workshop ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta terhadap pemanfaatan media sosial sebagai sarana pembelajaran, serta memberikan pengalaman belajar digital yang kontekstual, menyenangkan, dan relevan. Kegiatan ini memperkuat peran guru dan mahasiswa sebagai pendidik adaptif di era digital.
PELATIHAN METODE HYBRID LEARNING DAN MEDIA PEMBELAJARAN BAGI GURU SEKOLAH DASAR DAN SEKOLAH MENENGAH DI DESA CANDIREJO KABUPATEN MAGETAN Reza Kusuma Setyansah; Sanusi Sanusi; Davi Apriandi; Restu Lusiana
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.22668

Abstract

Abstract. Training on Hybrid Learning Methods and Educational Media is a strategic initiative to enhance educators’ capacity in the digital era. This activity aimed to strengthen teachers’ understanding of integrating technology into the learning process, while also building their confidence in implementing interactive, adaptive, and effective teaching methods. The training was conducted online on January 23–24, 2025, via the Google Meet platform, involving four qualified speakers and supported by SD Negeri Candirejo 01 and the Candirejo Village Library. The training process comprised coordination, socialization, implementation, and evaluation phases. The results indicated high participant engagement and overwhelmingly positive responses, with most participants giving maximum ratings for the quality of the program, material delivery, and overall usefulness. Although technical issues such as speaker scheduling conflicts and infrastructure limitations were encountered, they did not significantly affect the overall success of the program. This activity also supported teachers’ and students’ adaptive abilities in developing creativity. Evaluation results showed that the training was rated as highly satisfactory, with the highest score (4.75) on the perceived usefulness of the materials. All assessed aspects scored between 4.60 and 4.75, reflecting a high level of satisfaction. The use of Google Meet was considered effective in facilitating full participation. These findings indicate that the training successfully enhanced educators’ capacity to implement Hybrid Learning approaches.   Abstrak. Pelatihan metode Hybrid Learning dan media pembelajaran merupakan strategi penting dalam meningkatkan kapasitas pendidik di era digital. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran, serta membangun kepercayaan diri dalam menerapkan metode yang interaktif, adaptif, dan efektif. Pelatihan dilaksanakan secara daring pada 23–24 Januari 2025 melalui platform Google Meet, melibatkan empat narasumber berkompeten dan didukung oleh SD Negeri Candirejo 01 serta Perpustakaan Desa Candirejo. Proses pelatihan meliputi tahap koordinasi, sosialisasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil pelatihan menunjukkan partisipasi tinggi dan respons positif dari peserta, dengan mayoritas memberikan penilaian maksimal terhadap kualitas kegiatan, penyampaian materi, dan kebermanfaatan pelatihan. Kendala teknis seperti ketidaksesuaian jadwal pemateri dan keterbatasan infrastruktur masih ditemukan, namun tidak mengurangi keberhasilan program secara keseluruhan. Kegiatan ini juga mendukung kemampuan adaptasi guru dan siswa dalam mengembangkan kreativitas. Hasil evaluasi menunjukkan pelatihan dinilai sangat baik oleh peserta, dengan skor tertinggi pada aspek kebermanfaatan materi (4.75). Seluruh aspek berada pada rentang 4.60–4.75, mencerminkan kepuasan tinggi. Pelaksanaan daring melalui Google Meet dinilai efektif dan mendukung keterlibatan penuh peserta. Temuan ini menunjukkan pelatihan berhasil meningkatkan kapasitas pendidik dalam penerapan Hybrid Learning.
PENYULUHAN TENTANG PENANGGULANGAN PERUNDUNGAN DAN KEKERASAN SEKSUAL DI SEKOLAH BAGI CALON GURU PESERTA PENDIDIKAN PROFESI UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA Fransisca Dwi Harjanti; Fatkul Anam; Anik Kirana; Lusy Tunik Muharlisiani
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.22702

Abstract

Abstract. This community service activity aimed to improve the competence of pre-service teachers in preventing and handling bullying and sexual violence in schools. The program was conducted by lecturers of the Teacher Professional Education Program at Universitas Wijaya Kusuma Surabaya and held offline at Pendopo Agung Mojokerto on May 24, 2025, with 107 participants. The method used included structured phases: preparation (participant registration and material development), implementation (lectures, experience sharing, and expert-led discussions), and evaluation. Materials covered types, impacts, and prevention strategies of school-based bullying and sexual violence, delivered by experienced psychologists and education experts. Evaluation was conducted using post-activity questionnaires via Google Forms to assess participant understanding and satisfaction. Results showed increased awareness and readiness among participants to address these issues during teaching practice. Participants were also encouraged to compile reflective case reports based on field experiences as concrete outputs. This activity not only supported lecturers in fulfilling their tri dharma responsibilities but also contributed to equipping future educators with practical strategies to create safe, inclusive learning environments. Follow-up efforts included participant commitment to disseminate anti-violence values and integrate prevention strategies into classroom practices   Abstrak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi calon guru dalam mencegah dan menangani kasus perundungan serta kekerasan seksual di lingkungan sekolah. Program dilaksanakan oleh dosen Program Pendidikan Profesi Guru Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan diselenggarakan secara luring pada 24 Mei 2025 di Pendopo Agung Mojokerto, dengan jumlah peserta sebanyak 107 orang. Metode pelaksanaan mencakup beberapa tahapan, yaitu persiapan (pendaftaran peserta dan penyusunan materi), pelaksanaan (ceramah, diskusi pengalaman lapangan, serta penyuluhan oleh narasumber ahli), dan evaluasi. Materi yang disampaikan meliputi jenis, dampak, dan strategi pencegahan perundungan dan kekerasan seksual di sekolah, dengan pendekatan partisipatif. Evaluasi dilakukan melalui angket online untuk mengukur pemahaman dan kepuasan peserta terhadap kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran dan kesiapan peserta dalam menghadapi isu-isu tersebut selama praktik mengajar. Peserta juga didorong untuk menyusun laporan studi kasus berdasarkan pengalaman di lapangan sebagai luaran nyata kegiatan. Selain memenuhi kewajiban tridharma perguruan tinggi, kegiatan ini turut membekali calon guru dengan strategi aplikatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Tindak lanjut kegiatan dilakukan melalui komitmen peserta dalam menyosialisasikan materi ke rekan sejawat di sekolah masing-masing.
WORKSHOP PEMBUATAN KONTEN DIGITAL UNTUK PUBLIKASI POTENSI NAGARI SARIAK LAWEH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Ulfia Rahmi; Rery Novio; Azrul Azrul
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.22710

Abstract

Abstract. Digital content is not only a means of information but also builds a positive image of the village. Through the presentation of interesting and informative content, the village can attract the attention of tourists, investors, and other parties who have the potential to support village development. Sariak Laweh Village/Nagari has the potential for digital-based services including information centers, social media since, and integrated electronic signature correspondence services from BSRE. Sariak Laweh Village needs strengthening in the development of digital content and information, so that the exposure of the village's potential can also be done by the community through existing websites or social media. For this reason, a Digital Content Creation Workshop was held, a digital content training aimed at ensuring that village officials know how to identify the village's potential and can publish this potential through digital content on the official website and social media. The activity consists of three steps, namely training, guided production, and publication on the website and social media. The results show that most of the devices understand how to identify the village's potential, and all village devices can produce digital content but need to improve the quality of the display to be worthy of publication. Based on these results, it can be concluded that the objectives of the workshop were achieved with the recommendation that the village devices need to improve their content both in quantity and quality.   Abstrak. Konten digital tidak hanya menjadi sarana informasi, tetapi juga membangun citra positif nagari/desa. Melalui penyajian konten yang menarik dan informatif, desa dapat menarik perhatian wisatawan, investor, dan pihak lain yang berpotensi mendukung pengembangan desa. Desa/Nagari Sariak Laweh memiliki potensi layanan berbasis digital meliputi pusat informasi, media sosial sejak, dan layanan persuratan terintegrasi Tanda Tangan Elektronik dari BSRE. Nagari Sariak Laweh membutuhkan penguatan dalam pengembangan konten dan informasi digital, agar ekspos potensi nagari juga bisa dilakukan oleh masyarakat melalui media website ataupun media sosial yang ada. Untuk itu dilaksanakan Workshop Pembuatan Konten Digital Pelatihan konten digital yang bertujuan agar perangkat desa mengetahui bagaimana cara mengidentifikasi potensi nagari dan mempu mempublikasikan potensi tersebut melalui konten digital di website resmi dan media sosial. Kegiatan terdiri dari tiga langkah yaitu pelatihan, produksi terbimbing, dan publikasi di website serta media sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa Sebagian besar perangkat memahami bagaimana mengidentifikasi potensi nagari dan semua perangkat desa mampu memproduksi konten digital namun perlu peningkatan kualitas tampilan untuk layak dipublikasikan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan tujuan workshop tercapai dengan rekomendasi bahwa perangkat nagari perlu meningkatkan kontennya baik secara kuantitas maupun kualitas.
PELATIHAN PENGOLAHAN DATA HASIL SURVEI KEPUASAN KONSUMEN KIOS, KANTIN EUREKA, BANDUNG Melina Hermawan; Arif Suryadi; Christina Wirawan; Indah Victoria Sandroto; Jimmy Gozaly; Yulianti; Rezal Muhamad Alfarizky Iskandar
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v11i2.25031

Abstract

Abstract. Eureka Canteen is a canteen located at Universitas Kristen Maranatha (UKM) Bandung. At that time, the kiosks in Eureka Canteen experienced a decline in sales, raising concerns that PT DSU, as the management of Eureka Canteen, might not continue the business cooperation for these kiosks. The decline in sales was possibly caused by consumer dissatisfaction with kiosk services. Therefore, it was necessary to measure consumer satisfaction through the distribution of questionnaires. The purpose of this community service program was to equip kiosk owners with the skills to create QR Codes from Google Forms questionnaires and to process questionnaire data stored in Google Sheets using Microsoft Excel, so that kiosk owners could identify consumer satisfaction levels and design strategies to improve sales. The training was conducted for 18 kiosk representatives in the computer laboratory of Grha Widya Maranatha. Pretest and posttest results were analyzed using N-Gain to assess training effectiveness and the Wilcoxon Signed Rank Test to determine significant differences between pretest and posttest. The results showed that the average score increased from 2.03 to 2.66 with an N-Gain of 0.65 (medium category). The Wilcoxon test yielded a significance value of p > 0.05, indicating a significant difference between before and after the training on the use of QR Code and processing questionnaire data with Microsoft Excel.    Abstrak. Kantin Eureka merupakan kantin yang berlokasi di Universitas Kristen Maranatha (UKM) Bandung.  Saat ini kios-kios di Kantin Eureka mengalami penurunan penjualan, dikhawatirkan kondisi penjualan tersebut mengakibatkan PT DSU selaku pengelola Kantin Eureka tidak melanjutkan kerjasama perpanjangan usaha kios-kios tersebut di Kantin Eureka.  Penurunan penjualan kemungkinan disebabkan adanya ketidakpuasan konsumen terhadap layanan kios. Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran kepuasan dengan penyebaran kuesioner kepada konsumen.  Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk membekali para pemilik kios dengan keterampilan membuat QR Code dari hasil kuesioner Google Forms, dan mengolah data hasil kuesioner yang tersimpan di Google Sheets dengan Microsoft Excel, sehingga para pemilik kios dapat mengetahui tingkat kepuasan konsumen lalu merancang strategi untuk meningkatkan kembali penjualan.  Pembekalan kepada 18 orang perwakilan kios dilakukan di laboratorium komputer Grha Widya Maranatha. Hasil pretest dan posttest dianalisis menggunakan N-Gain untuk melihat efektivitas pelatihan dan Wilcoxon Signed-Rank Test untuk mengetahui adanya perbedaan signifikan antara pretest dan posttest.  Hasil perhitungan menunjukkan rata-rata skor meningkat dari 2,03 menjadi 2,66 dengan N-Gain 0,65 (kategori sedang).  Hasil uji Wilcoxon menunjukkan signifikansi p value > 0,05, yang menjelaskan adanya perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah pelatihan tentang penggunaan QR Code serta pengolahan data kuesioner dengan Microsoft Excel.  
PELATIHAN PENINGKATAN KOMPETENSI GURU GEOGRAFI KABUPATEN INDRAMAYU PADA MATERI PEMETAAN DENGAN DRONE DAN TEKNIK ANALISIS VEGETASI MANGROVE Sodikin Sodikin; Mirza Permana; Rahmat Hidayat; Agnes Puspitasari Sudarmo; Asep Andri Astriyandi
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v11i2.25068

Abstract

Abstract. The development of geospatial technology requires geography teachers to be able to integrate modern mapping technology into the learning process. However, the use of drones and mangrove vegetation analysis techniques is still relatively limited among geography teachers. This community service activity aims to improve the competence of geography teachers in Indramayu Regency in the use of drones for mapping and mangrove vegetation analysis techniques. The activity was carried out over two days using lectures, demonstrations, field practice, and mentoring methods. Participants in the activity consisted of 18 teachers who are members of the Indramayu Regency Geography MGMP. The activity was evaluated using a Google Form-based questionnaire completed by participants after the activity was completed. The evaluation results showed a very high level of participant satisfaction with an average score of 4.95 out of 5, or a satisfaction index of 99%. Indicators with the highest scores included material quality, resource person competence, field practice, and increased understanding of the mangrove ecosystem. This activity successfully improved teachers' perceived understanding and skills, based on the participants' selfassessments.   Abstrak. Perkembangan teknologi geospasial menuntut guru geografi untuk mampu mengintegrasikan teknologi pemetaan modern ke dalam proses pembelajaran. Namun demikian, pemanfaatan drone dan teknik analisis vegetasi mangrove masih relatif terbatas di kalangan guru geografi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru geografi Kabupaten Indramayu dalam pemanfaatan drone untuk pemetaan dan teknik analisis vegetasi mangrove. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari dengan metode ceramah, demonstrasi, praktik lapangan, dan pendampingan. Peserta kegiatan terdiri atas 18 guru yang tergabung dalam MGMP Geografi Kabupaten Indramayu. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan kuesioner berbasis Google Form yang diisi oleh peserta setelah kegiatan selesai dilaksanakan. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat kepuasan peserta yang sangat tinggi dengan nilai rata-rata 4,95 dari skala 5 atau indeks kepuasan sebesar 99%. Indikator dengan nilai tertinggi meliputi kualitas materi, kompetensi narasumber, praktik lapangan, serta peningkatan pemahaman mengenai ekosistem mangrove. Kegiatan ini berhasilmeningkatkan persepsi pemahaman dan keterampilan guru berdasarkan penilaian mandiri peserta.
PENGUATAN KESIAPAN PSIKOSOSIAL PRA-REUNIFIKASI WARGA BINAAN UNTUK MENDUKUNG REINTEGRASI SOSIAL DI LAPAS NARKOTIKA KELAS II A JAYAPURA Rotua Siringoringo; Fitrine Christiane Abidjulu; Rahmad Andre Ramadhan; Septyan Berliana Sumaki; Eka Nurwahyuliningsih
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v11i2.25299

Abstract

Abstract. Psychosocial readiness is essential in preparing incarcerated persons to return to their families and communities. This community service program aimed to strengthen the pre-reunification psychosocial readiness of incarcerated persons in drug-related cases at the Class IIA Narcotics Correctional Institution of Jayapura. The program was conducted from May to August 2026 and involved 35 participants. Educational, participatory, and rehabilitative approaches were implemented through educational sessions, psychosocial guidance, personal reflection, question-and-answer activities, and motivational reinforcement. Evaluation was conducted qualitatively through observations of participation, participant responses, reflections, and activity documentation. The results showed that participants understood family reunification as a process of restoring communication, trust, responsibility, emotional regulation, and consistent behavioral change. Participants also identified psychosocial barriers, including fear of family rejection, social stigma, difficulty initiating communication, and the risk of returning to harmful social environments. Since family members were not directly involved, the program was positioned as a pre-reunification intervention. Future programs should involve families, provide counseling and communication training, and implement systematic post-release evaluation and monitoring. Abstrak. Kesiapan psikososial merupakan bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan kembali kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memperkuat kesiapan psikososial pra-reunifikasi warga binaan kasus narkotika di Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura. Kegiatan dilaksanakan pada Mei-Agustus 2026 dengan melibatkan 35 peserta. Metode yang digunakan meliputi pendekatan edukatif, partisipatif, dan rehabilitatif melalui sosialisasi, bimbingan psikososial, refleksipengalaman, tanya jawab, serta penguatan motivasi. Evaluasi dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui pengamatan partisipasi, respons peserta, refleksi, dan dokumentasi kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa peserta memahami reunifikasi keluarga sebagai proses pemulihan komunikasi, kepercayaan, tanggung jawab, pengelolaan emosi, dan konsistensi perubahan perilaku. Peserta juga mampu mengenali hambatan berupa kekhawatiran terhadap penolakan keluarga, stigma masyarakat, kesulitan memulai komunikasi, serta risiko kembali pada lingkungan pergaulan lama. Kegiatan ini belum melibatkan keluarga secara langsung sehinggadiposisikan sebagai tahap pra-reunifikasi. Program lanjutan perlu melibatkan keluarga, menyediakan konseling dan pelatihan komunikasi, serta melakukan evaluasi dan pemantauan setelah pembebasan.