cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Antihiperpigmentasi Serum Biji Alpukat (Persea americana Mill.) sebagai Inhibitor Enzim Tirosinase Zahra, Fatimah; Khaerunnisa, Arini; Jayantie, Dhyneu Dwi; Vauziah, Eva; Iryana, Irfan
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.21458

Abstract

Melanin merupakan pigmen utama yang memiliki fungsi melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet. Sintesis melanin berlebih dapat menyebabkan terjadinya hiperpigmentasi. Kandungan utama dalam biji alpukat (Persea americana Mill) adalah katekin yang berpotensi sebagai inhibitor enzim tirosinase. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk membuat formulasi sediaan serum ekstrak biji P.americana Mill dan mengetahui bagaimana aktivitas penghambat enzim tirosinase. Sampel Biji P.americana di maserasi dengan etanol 70%. Diformulasi dengan tiga formula yaitu F0 sebagai basis, F1 formula dengan 50x nilai antioksidan, dan F2 formula dengan 100x nilai antioksidan. Uji stabilitas sediaan dilakukan selama 28 hari uji stabilitas sediaan meliputi uji organoleptis, viskositas, pH, daya sebar, dan homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan %rendemen ekstrak sebesar 13,168%. Hasil skrining fitokimia ekstrak Biji P. americana mengandung flavonoid, tanin, saponin, steroid dan alkaloid. Ekstrak biji P. americana memiliki nilai IC50 sebesar 22,26 ppm. Pengujian stabilitas sediaan serum ekstrak biji P. americana memiliki stabilitas yang baik. Aktivitas inhibisi enzim tirosinase F0, F1, F2 dan serum komersial memiliki nilai IC50 masing-masing sebesar 3274, 3585, 2809 dan 2165 ppm. Aktivitas inhibisi enzim tirosinase sediaan serum ekstrak biji P. americana mempunyai nilai IC50 yang paling baik berada pada sediaan serum dengan formula 100x nilai antioksidan. Kata Kunci: Alpukat, Antioksidan, Hiperpigmentasi, Serum, Tirosinase  Melanin is the main pigment that has the main function of protecting the skin from damage due to ultraviolet exposure, excess melanin synthesis can lead to the occurrence of hyperpigmentation. The main ingredients in Avocado Seeds (Persea americana Mill) are catechins which have potential as tyrosinase enzyme inhibitors. The aim in this study was to create a formulation of P. americana Mill seed extract serum preparation and to find out how tyrosinase enzyme inhibitor activity in P. americana seed extract serum preparations. A sample of P. americana seed was macerated with 70% ethanol. It is then formulated with three formulas namely F0 as the base, F1 formula with 50x the antioxidant value, and F2 formula with 100x the antioxidant value. A preparation stability test was performed over a 28-day preparation stability test covering organoleptic, viscosity, pH, dispersibility, and homogeneity assays. The tyrosinase enzyme inhibition assay was analyzed in vitro. Results of phytochemical screening of P. americana seed extract contain flavonoid group compounds, tannins, saponins, steroids and alkaloids. P. americana Seed Extract has an IC50 value of 22.26 ppm. Stability testing of serum preparation P. americana Seed extract has good stability. The inhibitory activity of tyrosinase enzyme F0, F1, F2 and commercial serum had IC50 values of 3274, 3585, 2809 and 2165 ppm respectively. The inhibitory activity of tyrosinase enzyme of serum preparation of P. americana seed extract had the best IC50 value in serum preparation with formula 100x antioxidant value.
Formulasi Lip Tint Alami Ekstrak Stroberi: Peran Tween 80 dan Propilen Glikol Dalam Optimasi Stabilitas dan Aktivitas Antioksidan dengan Menggunakan Design Expert Software Iskandar, Benni; Azkiyah, Revina Tasya; Suhery, Wira Noviana; Hendra, Rudi
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.23810

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan formulasi sediaan lip tint berbasis ekstrak buah stroberi (Fragaria x ananassa) sebagai antioksidan alami melalui variasi konsentrasi Tween 80 dan propilen glikol. Optimasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Design Expert versi 13 dengan metode Box-Behnken Design yang menghasilkan 17 formula. Evaluasi mencakup parameter pH, daya sebar, daya lekat, homogenitas, organoleptis, aktivitas antioksidan, uji stabilitas, serta uji iritasi. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak stroberi mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan terpenoid, dengan nilai IC₅₀ sebesar 188,29 µg/mL yang tergolong antioksidan kategori sedang. Formula optimum diperoleh pada konsentrasi Tween 80 sebesar 8% dan propilen glikol 5%, dengan prediksi pH 5,64, daya lekat 0,67 detik, daya sebar 5,65 cm, serta nilai desirability 1,00. Hasil verifikasi menunjukkan kesesuaian dengan prediksi dan memenuhi persyaratan mutu sediaan lip tint, baik dari aspek fisik, stabilitas, maupun keamanan. Studi ini membuktikan bahwa ekstrak stroberi berpotensi sebagai pewarna alami sekaligus antioksidan dalam formulasi lip tint yang stabil dan aman digunakan. Kata Kunci: Lip Tint, Fragaria X Ananassa, Pewarna Alami, Antioksidan, Box- Behnken Design This study aimed to optimize the formulation of a lip tint preparation using strawberry (Fragaria x ananassa) extract as a natural antioxidant by varying the concentrations of Tween 80 and propylene glycol. Optimization was carried out using Design Expert version 13 with the Box-Behnken Design method, resulting in 17 formulations. Evaluations were conducted on pH, spreadability, adhesion, homogeneity, organoleptic properties, antioxidant activity, stability, and irritation tests. Phytochemical screening revealed that strawberry extract contains alkaloids, flavonoids, phenolics, and terpenoids, with an IC₅₀ value of 188.29 µg/mL, classified as a moderate antioxidant. The optimum formula was obtained with 8% Tween 80 and 5% propylene glycol, predicting a pH of 5.64, adhesion of 0.67 seconds, spreadability of 5.65 cm, and a desirability value of 1.00. Verification results showed consistency with predictions and met the requirements of a lip tint preparation in terms of physical properties, stability, and safety. These findings demonstrate that strawberry extract has potential as a natural colorant and antioxidant in the formulation of stable and safe lip tint products. 
Analysing Factors Contributing to Length of Stay (LoS) Among Patients with COVID-19 in Indonesian Hospital Setting Edbert, Sonny; Wibowo, Yosi Irawati; Setiadi, Adji Prayitno
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.22557

Abstract

Penyakit COVID-19 masih menjadi ancaman konstan bagi kesehatan masyarakat global. Penggunaan obat dan lama rawat inap (LoS) merupakan indikator utama kualitas pelayanan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati LoS dan faktor yang mempengaruhinya (termasuk karakteristik pasien dan penggunaan obat) pada pasien rawat inap COVID-19 di Rumah Sakit X di Surabaya, Indonesia. Penelitian observasional dilakukan dengan menggunakan rekam medis pasien rawat inap COVID-19 di Rumah Sakit X selama tahun 2022. Data karakteristik pasien dan profil obat dianalisis secara deskriptif. Kesesuaian terapi obat ditentukan berdasarkan pedoman terapi. Uji korelasi dilakukan untuk hubungannya dengan LoS. Total terdapat 203 pasien rawat inap COVID-19, meliputi: neonatus/anak/remaja (12,32%), dewasa (66,5%), dan lanjut usia (21,2%). Sebagian besar pasien laki-laki (54,2%) dengan keparahan sedang (80,8%), dan 36,4% memiliki komorbiditas. Kesesuaian terapi pada pasien neonatus/anak/remaja, dewasa, dan lanjut usia adalah: 12% (3/25), 76% (103/135), 60% (26/43), secara berurutan. Rata-rata LoS adalah 7,0±3,11 hari, dimana LoS terendah pada neonatus/anak/remaja (6,1±2,43 hari) dan tertinggi pada lansia (7,4±3,02 hari). Faktor yang secara signifikan mempengaruhi LoS adalah status vaksinasi (p= 0,000) dan tingkat keparahan COVID-19 (p= 0,002), namun tidak dipengaruhi oleh kesesuaian terapi (p= 0,864). Hasil penelitian merupakan data awal tuntuk mengembangkan strategi perbaikan kualitas layanan untuk pasien COVID-19 rawat inap. Kata Kunci: COVID-19, Faktor Risiko, Penggunaan Obat, Lama Rawat Inap, Rumah Sakit  ABSTRACT COVID-19 disease remains a constant threat to global public health. Drug use and Length of Stay (LoS) are among main indicators of service quality in hospitals. Object of this research were understanding of LoS and the contributing factors (including patient characteristics and drug use) among COVID-19 inpatients at Hospital X Surabaya, Indonesia. Observational research was conducted using medical records of COVID-19 inpatients at Hospital X in 2022. Data on patient characteristics and drug profiles were analyzed descriptively. Drug therapy conformity was determined based on guidelines. Correlation tests were used to determine factors associated to LoS. The results were 203 COVID-19 inpatients, including: neonate/child/adolescent (12.32%), adults (66.5%) and elderly (21.2% ). Most patients were males (54.2%) with moderate severity (80.8%), and 36.4% had comorbidities. Therapy conformity in neonate/child/adolescent, adult and elderly patients were: 12% (3/25), 76% (103/135), 60% (26/43), respectively. The average LOS was 7.0±3.1 days, where neonate/child/adolescent was the lowest (6.1±2.43 days), and elderly was the highest (7.4 ± 3.02 days). Significant contributing factors to LoS included vaccination status (p= 0.000) and COVID-19 severity (p= 0.002), but not with therapy conformity (p=0.864). The study findings provide a preliminary data to guide the development of strategies to improve service quality for hospitalised patients with COVID-19.
Standarisasi dan Uji Aktivitas Penangkapan Radikal Bebas Fraksi Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) Wahdaningsih, Sri; Najini, Robby
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.20860

Abstract

Penangkapan radikal bebas memiliki peran utama dalam melindungi sel dari radikal bebas yang berbahaya. Penelitian terus dikembangkan untuk menemukan sumber penangkapan radikal bebas alami, hal ini dikarenakan penangkapan radikal bebas alami memiliki toksisitas yang rendah. Tanaman ketapang merupakan salah satu contoh tanaman yang memiliki sifat penangkapan radikal bebas. Penelitian menunjukkan bahwa daun ketapang mengandung berbagai komponen, termasuk alkaloid, terpenoid, tanin, saponin, dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa efektif fraksi n-heksan, etil asetat dan metanol daun ketapang sebagai penangkapan radikal bebas. Nilai IC50 penangkapan radikal bebas dari  daun ketapang digunakan untuk mengevaluasi aktivitas penangkapan radikal bebas. Pelarut yang digunakan dalam fraksinasi meliputi metanol, n-heksana, dan etil asetat. Setelah memastikan data fraksinasi konsisten (kadar air dan susut pengeringan), teknik DPPH digunakan untuk menguji aktivitas penangkapan radikal bebas. Sebanyak tiga fraksi digunakan dalam penelitian ini yaitu n-heksan (6,38% air, 5% susut pengeringan, dan nilai IC50 sebesar 163,47 µg/ml), etil asetat (1,14% air, 1,76% susut pengeringan, dan nilai IC50 sebesar 15,5 µg/ml), dan metanol (3,14% air, 5,67% susut pengeringan, dan nilai IC50 sebesar 15,72 µg/ml). Etil asetat dan metanol menunjukkan tingkat aktivitas penangkapan radikal bebas yang sangat kuat, dan semua fraksi daun ketapang memenuhi kriteria kadar air dan susut pengeringan. Kata Kunci: Fraksinasi, Fitokimia, DPPH, Antioksidan, IC50 Free radical scavenging plays a key role in protecting cells from harmful free radicals. Research continues to explore natural sources of free radical scavenging, as natural free radical scavenging agents have low toxicity. The ketapang plant is one example of a plant with free radical scavenging properties. Research shows that ketapang leaves contain various components, including alkaloids, terpenoids, tannins, saponins, and flavonoids. The purpose of this study was to determine the effectiveness of n-hexane, ethyl acetate, and methanol fractions of ketapang leaves as free radical scavenging agents. The IC50 value of free radical scavenging from the percentage of ketapang leaves was used to evaluate free radical scavenging activity. The solvents used in the fractionation included methanol, n-hexane, and ethyl acetate. After ensuring consistent fractionation data (water content and drying loss), the DPPH technique was used to test free radical scavenging activity. A total of three fractions were used in this study, namely n-hexane (6.38% water, 5% drying loss, and IC50 value of 163.47 µg/ml), ethyl acetate (1.14% water, 1.76% drying loss, and IC50 value of 15.5 µg/ml), and methanol (3.14% water, 5.67% drying loss, and IC50 value of 15.72 µg/ml). Ethyl acetate and methanol showed very strong levels of free radical scavenging activity, and all ketapang leaf fractions met the criteria for water content and drying loss.
Integrated LC-HRMS Analysis, Network Pharmacology, and Molecular Docking to Predict the Potential of Syzygium polyanthum in Alleviating Rheumatoid Arthritis Nurlely, Nurlely; Nurrochmad, Arief; Fakhrudin, Nanang; Widyarini, Sitarina
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.23762

Abstract

Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun kronis dengan hasil terapi yang terbatas dan efek samping yang signifikan terkait dengan pengobatan saat ini. Studi ini menggunakan LC–HRMS, farmakologi jaringan, dan docking molekuler untuk menganalisa senyawa bioaktif dan mekanisme dasar Syzygium polyanthum sebagai terapi komplementer potensial untuk RA. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 90% selama 2x24 jam  Profiling metabolit menggunakan LC–HRMS mengidentifikasi tujuh senyawa kandidat dengan kelimpahan relatif lebih dari 1%, di mana 2,6-dimethylquinoline memiliki kelimpahan paling tinggi (5,77%). Farmakologi jaringan mengungkapkan 121 target tumpang tindih antara target RA dan senyawa-senyawa ini, dengan PTGS2 dan MAPK14 dipilih untuk docking molekuler terhadap tiga ligan representatif: 2,6-dimethylquinoline, 6-methylquinoline, dan myricetin. Myricetin menunjukkan afinitas ikatan terkuat terhadap PTGS2 dan MAPK14, dengan energi ikatan masing-masing –8,915 dan –7,849 kcal/mol. Studi menemukan bahwa ekstrak etanol S. polyanthum (EESP) memiliki potensi terapeutik untuk mengurangi inflamasi pada RA. Kata Kunci: Daun Salam, Inflamasi, Penyakit Autoimun, Siklooksigenase 2, Hasil Terapi  Abstract Rheumatoid arthritis (RA) is a chronic autoimmune disease with limited therapeutic outcomes and considerable adverse effects associated with current treatments. This study employed LC–HRMS, network pharmacology, and molecular docking to investigate the bioactive compounds and underlying mechanisms of Syzygium polyanthum as a potential complementary therapy for RA. The extract was obtained by maceration using 90% ethanol for 2x24 hours. Metabolite profiling by LC–HRMS identified seven candidate compounds with relative abundance greater than 1%, of which 2,6-dimethylquinoline was the most abundant (5.77%). Network pharmacology revealed 121 overlapping targets between RA and these compounds, with PTGS2 and MAPK14 selected for molecular docking against three representative ligands: 2,6-dimethylquinoline, 6-methylquinoline, and myricetin. Myricetin exhibited the strongest binding affinity to PTGS2 and MAPK14, with binding energies of –8.915 and –7.849 kcal/mol, respectively. These findings suggest that S. polyanthum ethanol extract (EESP) possesses therapeutic potential in attenuating RA-related inflammation.
Tinjauan Sistematik terhadap Penerapan HOT-Fit sebagai Framework Evaluasi Keberhasilan Sistem Informasi Rumah Sakit Rahman, Fathur; Lazuardi, Lutfan; Widayanti, Anna Wahyuni
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.21542

Abstract

Framework HOT-Fit merupakan salah satu model evaluasi yang digunakan untuk menilai keberhasilan implementasi sistem informasi kesehatan melalui tiga dimensi utama yaitu manusia, organisasi, dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau penerapan framework HOT-Fit dalam evaluasi keberhasilan sistem informasi di rumah sakit. Tinjauan sistematik dilakukan menggunakan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analyses (PRISMA) dengan pencarian artikel terbitan 2014-2023 pada database PubMed, Scopus, dan ScienceDirect menggunakan kata kunci “Hospital” AND “HOT-Fit” AND “Human Organization Technology-Fit”. Sebanyak sembilan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dianalisis dalam tinjauan ini. Hasil menunjukkan bahwa framework HOT-Fit telah diterapkan dalam berbagai jenis sistem informasi seperti EMR, HRIS, CDSS, dan sistem cloud, serta di berbagai negara dengan kondisi geografis dan institusional yang berbeda. Ketiga dimensi HOT-Fit tetap relevan digunakan, meskipun tingkat penekanannya bervariasi tergantung pada konteks lokal dan tujuan evaluasi. Beberapa studi juga mengombinasikan HOT-Fit dengan framework lain seperti TOE, TAM, dan FITT untuk memperluas cakupan analisis. Kesimpulannya, HOT-Fit merupakan framework yang fleksibel, dapat berdiri sendiri maupun dikombinasikan, serta tetap relevan dalam mengevaluasi sistem informasi kesehatan di berbagai konteks pelayanan. Kata Kunci : Teknologi, Pelayanan Kesehatan, Sistem Informasi Kesehatan, Data, Evaluasi Sistem The HOT-Fit framework is one of the evaluation models used to assess the success of health information system implementation through three key dimensions: human, organization, and technology. This study aims to review the application of the HOT-Fit framework in evaluating the success of hospital information systems. A systematic review was conducted using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) method, with articles published between 2014 and 2023 retrieved from the PubMed, Scopus, and ScienceDirect databases using the keywords “Hospital” AND “HOT-Fit” AND “Human Organization Technology-Fit.” This review includes nine articles that met the inclusion and exclusion criteria. The results show that the HOT-Fit framework has been applied to various types of information systems, including EMR, HRIS, CDSS, and cloud-based systems, across countries with diverse geographical and institutional contexts. All three dimensions remain relevant, although their emphasis varies depending on local context and evaluation objectives. Several studies also integrated HOT-Fit with other frameworks such as TOE, TAM, and FITT to broaden the scope of analysis. In conclusion, HOT-Fit is a flexible framework that can be applied independently or in combination, and remains relevant in evaluating health information systems across diverse healthcare settings.
GC-MS Profiling and Inhibitory Effect on UV-C Exposure Induced Eryrhrocyte Damage of Sungkai Leaf: A Potential Novel Antioxidant Agent Mashuri, Mashuri; Suhartono, Eko; Muthmainah, Noor; Hayatie, Lisda; Assyfa, Nadia Salma Nazwa; Husna, Hanna Dwi Aprilia; Febrianti, Helma
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.23081

Abstract

Daun sungkai (Peronema canescens Jack.) meruapakan tumbuhan yang dikenal memiliki berbagai manfaat farmakologis, termasuk sebagai antiinflamasi, antimikroba, dan antioksidan.  Tumbuhan ini mengandung senyawa fenolik, flavonoid, tanin, dan saponin yang dapat berperan seabagai antioksidan. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil fitokimia dengan GC-MS. Selain itu, juga akan membuktikan aktivitas antioksidan ekstrak daun sungkai dalam menhambat kerusakan membran eritorit akibat pajanan sinar UV. Daun Sungkai diperoleh dari KHDTK Mandiangin diektrak dengan pelarut methanol dengan metode maserasi. Hasil ektrak dilakukan uji GC-MS dan uji penghambatan kerusakan eritrosit akibat sinar UV. Pengujian terdiri atas 2 kelompok, yani 2 kelompok control dan 3 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan menggunakan ektrak metanol daun sungkai masing-masing 10 ppm, 15 ppm, dan 25 ppm. Sementara itu, pemajanan eritrosit dilakukan selama 2 jam. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan  analisis GC MS menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun sungkai mengandung senyawa 4-Metoksi-3-trimetilsilil)metil-1-oktena, D-Limonen, Asam tridekanoat, 12-cis-oktadekanoat, asam 13-oktadesenoat, metil ester, asam oleat, dan Glisidil (Z) -9-heptadekanoat yang dapat mengurangi kerusakan eritrosit akibat paparan sinar UV. Selain itu, ektrak metanol daun sungkai dapat menghambat kerusakan membrane eritrosit yang ditandai oleh penurunan %Hb dan kadar MDA pada kelompok yang diberikan ekstrak methanol daun insulin. Kata Kunci: Pajaanan UV, antioksidan, Daun Sungkai, Membrane Eritrosit, Peroksidasi Lipid Sungkai leaf (Peronema canescens Jack.) is a plant known to have various pharmacological benefits, including as anti-inflammatory, antimicrobial, and antioxidant. This plant contains phenolic compounds, flavonoids, tannins, and saponins that can act as antioxidants. In this regard, this study aims to analyze the phytochemical profile by GC-MS. In addition, it will also prove the antioxidant activity of sungkai leaf extract in inhibiting erythrocyte membrane damage due to UV exposure. Sungkai leaves obtained from KHDTK Mandiangin were extracted with methanol solvent by maceration method. The extracts were subjected to GC-MS test and UV light-induced erythrocyte damage inhibition test. The test consisted of 2 groups, 2 control groups and 3 treatment groups. The treatment groups used methanol extract of sungkai leaves at 10 ppm, 15 ppm, and 25 ppm, respectively. Meanwhile, erythrocyte exposure was carried out for 2 hours. The results of this study can be concluded that based on GC MS analysis shows that the methanol extract of sungkai leaves contains compounds 4-Methoxy-3-trimethylsilyl)methyl-1-octene, D-Limonen, Tridecanoic acid, 12-cis-octadecanoic, 13-octadesenoic acid, methyl ester, oleic acid, and Glycidyl (Z)-9-heptadecanoic which can reduce erythrocyte damage due to UV exposure. In addition, sungkai leaf methanol extract can inhibit erythrocyte membrane damage characterized by a decrease in %Hb and MDA levels in the group given insulin leaf methanol extract.
Uji Aktivitas Antioksidan, Fenolik Total, dan Flavonoid Total dari Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Pandan (Pandanus Amaryllifolius) dan Daun Jeruk Purut (Citrus Hystrix) Mentari, Ika Ayu; Wahyudi, Jundy Eko
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.20426

Abstract

Radikal bebas merupakan molekul yang tidak stabil diakibatkan elektron yang berpasangan dan dapat menyebabkan kerukan molekul disekitarnya. Akumulatif dari radikal bebas dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit kardiovaskular, neurodegeneratif dan penyakit kronis lainnya.Radikal bebas dapat dinetralkan dengan menggunakan sumber antiokasidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dari Aktivitas antioksidan, total phenolic content (TPC) dan total flavonoid content (TFC) dari kombinasi ekstrak etanol daun pandan (Pandanus amaryllifolius) dan daun jeruk purut (Citrus hystrix). Metode uji pada aktivitas antioksidan (DPPH), TPC, dan TFC dari kombinasi ekstrak etanol daun pandan (P. amaryllifolius) dan daun jeruk purut (C. hystrix) dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol daun pandan dan daun jeruk purut dengan kombinasi perbandingan 1:1, 1:2, dan 2:1 memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 47,67; 111,63; dan 28,34 µg/mL, serta dengan nilai dari TPC masing-masing sebesar 106,377; 561,449; dan 561,449 mg GAE/g ekstrak, serta 20.833, 279,166 dan 270.833 mg CE/ g ekstrak untuk nilai TFC. Kata Kunci : Antioksidan, Citrus hystrix, Pandanus amaryllifolius, TPC, TFC Free radicals are unstable molecules due to paired electrons and can cause damage to the surrounding molecules. Accumulative free radicals can cause various diseases such as cardiovascular disease, neurodegenerative and other chronic diseases. Free radicals can be neutralized by using antioxidant sources. This study aims to determine the value of antioxidant activity, total phenolic content (TPC) and total flavonoid content (TFC) from a combination of ethanol extracts of pandan leaves (Pandanus amaryllifolius) and kaffir lime leaves (Citrus hystrix). The test method for antioxidant activity (DPPH), TPC, and TFC from a combination of ethanol extracts of pandan leaves (P. amaryllifolius) and kaffir lime leaves (C. hystrix) was carried out using a UV-Vis spectrophotometer. The results showed that the combination of ethanol extracts of pandan leaves and kaffir lime leaves with a combination ratio of 1: 1, 1: 2, and 2: 1 had antioxidant activity with an IC50 value of 47.67; 111.63; and 28.34 µg/mL, and with TPC values of 106.377; 561.449; and 561.449 mg GAE/g extract, respectively, and 20.833, 279.166 and 270.833 mg CE/g extract for TFC values.
Acne Fighter Microemultion Gel mengandung Basil Oil (Ocimum sanctum) Noridafi, Noridafi; Zainah, Alya; Nahdiya, Nahdiya; Rusda, Salsabila Azzahra; Cahyani, Syifa Nur; Fitriana, Mia
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.23773

Abstract

Jerawat adalah masalah kulit yang ditandai inflamasi pada folikel rambut dan kelenjar sebaceous kulit. Infeksi bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes) dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya jerawat. Basil oil telah terbukti memiliki potensi sebagai obat jerawat yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri P. acnes dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 2% v/v dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) sebesar 3,5% v/v. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi mikroemulgel basil oil dan menguji karakteristik fisik sediaan. Mikroemulgel diformulasikan dengan konsentrasi basil oil 2, 3, dan 4%. Karakterisasi yang dilakukan yaitu uji organoleptis, pH, viskositas, transmitan, sentrifugasi, dan uji daya sebar. Hasilnya, semua formulasi menunjukkan karakteristik organoleptis yang baik. pH sediaan sebesar 7,77; 7,60; dan 7,53. Viskositas berada pada rentang 2,5-6,75 cPs serta transmitan mikroemulgel basil oil sebesar 99,80; 99,33; dan 91,60%. Sediaan juga stabil setelah disentrifugasi dan daya sebar 5,50; 5,83 dan 5,83 cm. Kesimpulan penelitian ini yaitu mikroemulgel basil oil menunjukkan karakteristik fisika dan kimia yang baik. Kata Kunci : Basil Oil, P. acnes, Jerawat, Mikroemulgel, Minyak Acne is a skin condition characterized by inflammation of the hair follicles and sebaceous glands of the skin. Infection with the bacterium Propionibacterium acnes (P. acnes) can be one of the causes of acne. Basil oil has been proven to have potential as an acne treatment with the ability to inhibit the growth of P. acnes bacteria at a minimum inhibitory concentration (MIC) of 2% v/v and a minimum bactericidal concentration (MBC) of 3.5% v/v. This study aims to formulate basil oil microemulsions and test the physical characteristics of the preparations. Microemulsions were formulated with basil oil concentrations of 2%, 3%, and 4%. Characterization was performed using organoleptic tests, pH, viscosity, transmittance, centrifugation, and spreadability tests. The results showed that all formulations had good organoleptic characteristics. The pH of the preparations was 7.77, 7.60, and 7.53. The viscosity was in the range of 2.5-6.75 cPs and the transmittance of the basil oil microemulsions was 99.80, 99.33, and 91.60%. The preparations were also stable after centrifugation, with spreading power of 5.50, 5.83, and 5.83 cm. The conclusion of this study is that basil oil microemulsions exhibit good physical and chemical characteristics.
Tinjauan : Antielastase dari Berbagai Tumbuhan untuk Kosmetik Handayani, Retty; Arlina, Delin; Ekaputri, Syifa Nurisma; Nurajijah, Siti; Sopiana, Siti Nurmulyanti; Fadilla, Farisha Rahma; Urfa, Aghna
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.21963

Abstract

Antielastase adalah senyawa yang menghambat aktivitas enzim elastase, yang berperan dalam mencegah kerusakan jaringan elastin di dalam tubuh. Tujuan review jurnal ini yaitu merangkum berbagai jenis senyawa bioaktif dari tumbuhan yang berkhasiat sebagai antielastase. Metode review yang digunakan mencakup berbagai pendekatan literatur yang dilakukan melalui tahapan pencarian artikel, seleksi, penentuan artikel, dan ekstraksi data. Proses pencarian artikel dilakukan pada database bereputasi seperti Google Scholar, OpenAlex, Pubmed, Sciendirect, Sinta, dan Scopus. Hasil dari 50 literatur menunjukkan bahwa semua tanaman yang diteliti mempunyai senyawa yang berpengaruh besar sebagai inhibitor enzim elastase alami dengan nilai IC50 kurang dari 50ppm. Senyawa dari tanaman tersebut yaitu golongan polifenol, flavonoid, α-tocopherol, biflavonoid, fenol, epigallocatechin gallate (EGCG), epicatechin gallate (ECG), antosianin, katekin, α-pinene, limonene, likopen, quercetin, dan safranal. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak literatur yang mendukung pemanfaatan tanaman sebagai agen antielastase. Kata Kunci: Anti-Aging, Fitokimia, IC50, Inhibitor Elastase, Senyawa Bioaktif Antielastase is a compound that inhibits the activity of the elastase enzyme, which plays a role in preventing damage to elastin tissue in the body. The purpose of this journal review is to summarize various types of bioactive compounds from plants that are efficacious as antielastase. The review method used includes various literature approaches carried out through the stages of article search, selection, article determination, and data extraction. The article search process was carried out on reputable databases such as Google Scholar, OpenAlex, Pubmed, Sciendirect, Sinta, and Scopus. The results of 50 literatures showed that all plants studied had compounds that had a major effect as natural elastase enzyme inhibitors with IC50 values of less than 50 ppm. The compounds from these plants are polyphenols, flavonoids, α-tocopherol, biflavonoids, phenols, Epigallocatechin Gallate (EGCG), Epicatechin Gallate (ECG), anthocyanins, catechins, α-pinene, limonene, lycopene, quercetin, and safranal. This study shows that there is a lot of literature supporting the use of plants as antielastase agents.