cover
Contact Name
Fuad Mustafid
Contact Email
fuad.mustafid@uin-suka.ac.id
Phone
+6281328769779
Journal Mail Official
asy.syirah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 08548722     EISSN : 24430757     DOI : 10.14421/ajish
Core Subject : Religion, Social,
2nd Floor Room 205 Faculty of Sharia and Law, State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Marsda Adisucipto St., Yogyakarta 55281
Arjuna Subject : -
Articles 613 Documents
Dualistic Interpretation Toward Plague in Islam: Indonesian Muslim Responses and The Shifting of Worship Practices during Pandemic Try Ramadhani, Moch. Rafly; Tsauro, M. Ahalla
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 1 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i1.1285

Abstract

The Covid-19 pandemic that hit the world some time ago has affected a number of aspects in the life of mankind, including in the social interaction of the community. In Indonesia, Covid-19 has even led to policies on restrictions in worship practices. This article examines and critically evaluates the various interpretations and responses of religious organizations and Indonesian Muslims to the provisions of worship restrictions during the Covid-19 pandemic. Using a literature-based qualitative research method and a sociological approach, this article concludes that the different interpretations of Covid-19 among Muslim communities have played an important role in shaping responses and worship behavior during the pandemic. Some Muslims think rationally and interpret Covid-19 as a disaster and test of humanity. Based on this, they are more adaptive to government policies and regulations in carrying out worship. While some other Muslims who think fatalistically interpret Covid-19 as God’s punishment and destiny so they oppose health protocols. The different interpretations and responses of Muslims to the regulations on restrictions on worship during the Covid-19 pandemic are actually a continuation of the dualistic interpretation of the plague between rationalistic and fatalistic reasoning that has appeared in Islamic history. In today’s modern era, it is necessary to build a new paradigm that respects religious and scientific perspectives in a balanced manner so that it can transform from a dualistic approach to an integrative approach. Pandemi Covid-19 yang beberapa waktu lalu melanda dunia telah mempengaruhi sejumlah aspek dalam kehidupan umat manusia, termasuk dalam pergaulan sosial masyarakat. Di Indonesia, Covid-19 bahkan telah memunculkan kebijakan tentang pembatasan dalam praktik beribadah. Artikel ini mengkaji dan mengevaluasi secara kritis atas ragam interpretasi dan respons organisasi keagamaan serta umat Islam Indonesia terhadap ketentuan pembatasan ibadah selama pandemi Covid-19. Menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis kepustakaan dan pendekatan sosiologis, artikel ini menyimpulkan bahwa perbedaan penafsiran terhadap Covid-19 di kalangan masyarakat muslim telah berperan penting dalam membentuk respons dan perilaku beribadah selama pandemi. Sebagian umat Islam berpikir rasional dan memaknai Covid-19 sebagai bencana dan ujian kemanusiaan. Atas dasar hal tersebut mereka bersikap lebih adaptif terhadap kebijakan dan aturan pemerintah dalam menjalankan ibadah. Sementara itu, sebagian umat Islam lainnya yang berpikir fatalistik dan menafsirkan Covid-19 sebagai hukuman dan takdir Tuhan sehingga mereka menentang protokol kesehatan. Perbedaan penafsiran dan respons umat Islam terhadap peraturan pembatasan beribadah selama pandemi Covid-19 tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari penafsiran dualistik terhadap wabah antara penalaran rasionalistik dan fatalistik yang pernah muncul dalam sejarah Islam. Di era modern saat ini, perlu dibangun paradigma baru yang menghargai perspektif agama dan keilmuan secara berimbang sehingga mampu bertransformasi dari pendekatan dualistik menuju ke pendekatan integratif.
The Legal Framework for Interfaith Marriage in Indonesia: Examining Legal Discrepancies and Court Decisions Bisri, Hasan
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i2.1326

Abstract

Interfaith marriage has been regulated in Law No. 1/1974 on Marriage and various other legal regulations. However, there are several different or even conflicting court decisions regarding cases of interfaith marriage. This continues even after the issuance of Supreme Court Circular Letter No. 2 of 2023 (known as SEMA No. 2 of 2023), which has become a reference for judges in deciding cases of interfaith marriage. This article examines the legal framework of interreligious marriage in Indonesia by focusing on the various judges' interpretations of legal regulations on interfaith marriage. Using normative legal analysis with empirical data and utilizing the theory of legal pluralism developed by Brian Z. Tamanaha, this article concludes that different perspectives on the protection of citizens' human rights in marriage and the role of religion as a state philosophy have significantly contributed to variations in judges' interpretations of several legal regulations on interfaith marriage. The differences in judges' interpretations have ultimately resulted in differences in legal decisions. This has become a recurring dynamic in judges' understanding of legal regulations on interfaith marriage.   Perkawinan beda agama telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan juga berbagai peraturan hukum lainnya. Namun demikian, terdapat sejumlah putusan pengadilan yang berbeda atau bahkan saling bertentangan menyangkut perkara perkawinan beda agama. Hal ini bahkan terus berlanjut pasca keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2023 (dikenal dengan SEMA No. 2 Tahun 2023) yang menjadi acuan para hakim dalam memutus perkara perkawinan beda agama. Artikel ini mengkaji kerangka hukum perkawinan beda agama di Indonesia dengan berfokus pada ragam penafsiran hakim atas peraturan hukum tentang perkawinan beda agama. Menggunakan analisis hukum normatif dengan data empiris dan dengan memanfaatkan teori pluralisme hukum yang dikembangkan oleh Brian Z. Tamanaha, artikel ini menyimpulkan bahwa perbedaan perspektif tentang perlindungan hak asasi warga negara dalam perkawinan dan peran agama sebagai falsafah negara, secara signifikan telah berkontribusi pada variasi penafsiran hakim atas sejumlah peraturan hukum tentang perkawinan beda agama. Perbedaan interpretasi hakim itulah yang pada akhirnya berdampak pada perbedaan putusan hukum. Hal ini telah menjadi dinamika yang berulang dalam interpretasi hakim atas peraturan hukum tentang perkawinan beda agama.
Contestation of Customary and Islamic Law: Mangupa and Tuor in Horja Ritual at Tapanuli Muslim Community Wedding Fatahuddin Aziz Siregar; Ibrahim Siregar; Suheri Sahputra Rangkuti
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i2.1330

Abstract

This article discusses the change from custom to sharia with contestation of discourse between culture and religion in the horja ritual at the wedding of the Tapanuli Muslim community. Horja rituals that were initially based on local customs and traditions have undergone significant changes due to the influence of Islam. This article analyzes how the contestation between tradition and religion occurs and affects cultural identity. This type of research uses qualitative research with an ethnographic approach. This ethnographic approach is used to see how strong cultural and religious practices are attached to the wedding horja ritual of the Tapanuli Muslim community. This study found that cultural and religious contestation in the marriage horja ritual of the Tapanuli Muslim community targeted two cultural contents, namely, mangupa and the determination of tuor (offering). The authority of religious figures who managed to seize the influence of society to create a change in culture, namely from custom to sharia. These changes include replacing cultural practices, mantras, and symbols with Islamic practices and prayers and emphasizing Islamic religious teachings and practices in marriage ceremonies, mangupa, and tuor (offering). Contestation between indigenous and religious leaders arose to maintain control over culture and spiritual values. In addition, the role of Islamic religious figures has also penetrated the cultural domain. Artikel ini membahas perubahan adat ke syari’at menggunakan pendekatan kontestasi wacana antara budaya dan agama dalam ritual horja pada pernikahan masyarakat Muslim Tapanuli. Ritual horja yang awalnya didasarkan pada adat dan tradisi lokal telah mengalami perubahan signifikan akibat pengaruh agama Islam. Artikel ini menganalisis bagaimana kontestasi antara tradisi dan agama berlangsung dan memengaruhi identitas budaya. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini digunakan untuk melihat seberapa kuat praktik kebudayaan dan agama melekat pada ritual horja pernikahan masyarakat muslim Tapanuli. Penelitian ini menemukan bahwa kontestasi budaya dan agama dalam ritual horja perkawinan masyarakat muslim Tapanuli menyasar dua konten kebudayaan, yaitu mangupa dan penetapan tuor (seserahan). Otoritas tokoh agama yang begitu kuat berhasil merebut pengaruh masyarakat sehingga menciptakan perubahan dalam budaya, yaitu dari adat ke syari’at. Perubahan ini mencakup penggantian praktik, mantra dan simbol budaya dengan praktik dan doa-doa Islam serta penekanan pada ajaran dan praktik agama Islam khususnya pada konten mangupa dan tuor dalam horja pernikahan. Kontestasi antara tokoh adat dan tokoh agama muncul dalam upaya mempertahankan kendali atas budaya dan ajaran agama. Selain itu, peran tokoh agama Islam juga sudah merambah domain kebudayaan.
Muslim Politics: The Islamic Politics Model on Adat Societies Nurdiansyah, Rifqi; Witro, Doli
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i2.1343

Abstract

This research aims to analyze the political model of Islamic law within the indigenous community of Kerinci. The idea behind this research is the triumph of the Islamic party in the local, governor, and presidential elections in Kerinci, Jambi Province, between 2009 and 2019. Gradually, Islam acquired substantial political influence inside the customary domain of Kerinci. The study employs a combination of socio-historical and qualitative research. The data is examined utilizing Miriam Budiardjo’s political law approach, encompassing classical, behavioral, post-behavioral, dependence, neo-Marxist, rational choice, and new institutionalism approaches. Our research indicates that the implementation of Political Islamic Law in Kerinci is an integral component of the Islamic Populism movement, which has gained momentum and become deeply rooted in the political conduct of the local Muslim community. These cultural habits originate from the fundamental principles of society, which have emerged as a result of the assimilation of Islamic teachings into daily life. These individuals are involved in the decision-making processes of Adat Institution and Majelis Pengkajian Ulama’ (MPU). These individuals inherently endorse Islamic parties such as PAN (National Mandate Party) and PKS (Prosperous Justice Party). Adat institutions play a significant role in local elections by offering guidance through sectoral delegates in every adat region. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model politik Hukum Islam dalam masyarakat adat Kerinci. Ide dari penelitian ini berasal dari kemenangan partai Islam dalam pemilihan kepala daerah, gubernur, dan presiden di Kerinci, Provinsi Jambi antara tahun 2009 dan 2019. Secara bertahap, Islam memperoleh pengaruh politik yang substansial di dalam wilayah adat Kerinci. Penelitian ini menggunakan kombinasi penelitian sosio-historis dan kualitatif. Data yang ada dikaji dengan menggunakan pendekatan hukum politik Miriam Budiardjo, yang meliputi pendekatan klasik, perilaku, post-behavioral, ketergantungan, neo-Marxis, pilihan rasional, dan institusionalisme baru. Penelitian kami menunjukkan bahwa penerapan Syari’at Islam Politik di Kerinci merupakan komponen integral dari gerakan Populisme Islam, yang telah mendapatkan momentum dan mengakar kuat dalam perilaku politik masyarakat Muslim setempat. Kebiasaan budaya ini berasal dari prinsip-prinsip dasar masyarakat, yang muncul sebagai hasil dari asimilasi ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari. Individu-individu ini terlibat dalam proses pengambilan keputusan di Lembaga Adat dan Majelis Pengkajian Ulama (MPU). Individu-individu ini secara inheren mendukung partai-partai Islam seperti PAN (Partai Amanat Nasional) dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Lembaga adat memainkan peran penting dalam pemilihan kepala daerah dengan memberikan arahan melalui delegasi sektoral di setiap wilayah adat.
Regulating Halal Tourism: The Role of Islamic Organisational Fatwas in the Shariatization of Indonesia Dzukroni, Arisy Abror; Aniq, Ahmad Fathan
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i2.1344

Abstract

This article explores the regulation of halal tourism in Indonesia, focusing on the roles of the main Islamic organizations in Indonesia, namely the Indonesian Ulema Council (Majelis Ulama Indonesia, MUI), Nahdlatul Ulama (NU), and Muhammadiyah. Prompted by the ongoing debates surrounding the relationship between modernity and Islam in the context of halal tourism, this research analyses fatwas issued by these organizations and various local regulations in Indonesia. The study finds that the three organizations respond to halal tourism issues with differing approaches, with MUI dominating the discourse. MUI and NU tend to adopt exclusive stances, while Muhammadiyah demonstrates a more inclusive and flexible approach. The dominance of MUI fatwas is reflected in their frequent citation and integration into various local regulations related to halal tourism, indicating significant influence in shaping regional policies. Drawing on Michel Foucault’s theory of power/knowledge, this article concludes that the dominance of MUI fatwas in shaping the discourse of halal tourism regulation leads to a more exclusive society through the process of shariatization. This phenomenon reflects the influence of knowledge and policy control by Islamic institutions, directly or indirectly impacting the landscape of halal tourism regulation in Indonesia. Artikel ini mengeksplorasi regulasi pariwisata halal di Indonesia dengan memfokuskan pada peran organisasi Islam utama di Indonesia, yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Penelitian ini dipicu oleh kompleksitas perdebatan terkini seputar hubungan antara modernitas dan Islam dalam konteks pariwisata halal. Melalui analisis fatwa dari ketiga organisasi Islam dan sejumlah peraturan daerah di Indonesia, penelitian ini menemukan bahwa ketiga organisasi tersebut merespons isu pariwisata halal dengan pendekatan yang berbeda, di mana MUI mendominasi diskursus tersebut. MUI dan NU cenderung mengadopsi sikap eksklusif, sementara Muhammadiyah menunjukkan pendekatan yang lebih inklusif dan fleksibel. Dominasi fatwa MUI tercermin dalam seringnya fatwa tersebut dirujuk dan diintegrasikan ke dalam berbagai peraturan daerah terkait pariwisata halal. Hal itu menandakan pengaruh yang signifikan dalam pembentukan kebijakan daerah. Dengan merujuk pada teori kuasa pengetahuan Michel Foucault, artikel ini berkesimpulan bahwa dominasi fatwa MUI dalam membentuk diskursus regulasi pariwisata halal mengarah pada masyarakat yang lebih eksklusif melalui proses syariatisasi. Fenomena ini mencerminkan pengaruh kontrol pengetahuan dan kebijakan oleh lembaga-lembaga Islam, yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi lanskap regulasi pariwisata halal di Indonesia.
Konsep al-Ma’ruf dalam Kewarisan: Mewujudkan Harmonisasi dalam Pembagian Waris pada Suku Semende Migran Bengkulu Ahmad Bahauddin AM; Ahmad Rofiq; Agus Nurhadi; Hakim, Ahmad Luqman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i2.1350

Abstract

This article examines the collective inheritance distribution system in the Semende migrant community. This article focuses on two aspects: how the inheritance distribution system works in the Semende migrant community in the Kaur Regency and to what extent this inheritance distribution model creates harmony among family members. The data were obtained from academic works and interviews with community leaders in the field. This article concludes that the inheritance distribution in the Semende migrant community in Bengkulu uses a system called “tunggu tubang,” where the eldest daughter (tunggu tubang) keeps and manages the inherited wealth. Inheritance distribution always emphasizes consensus through deliberation. The inheritance distribution in the Semende tribe with the tunggu tubang system has proven to achieve harmony in both the legal system and among families. The research findings show a concept of al-ma'rūf in the inheritance distribution in the Semende migrant community. The idea of al-ma'rūf in the inheritance customs of Semende migrants reflects values respected and firmly held by the community. This concept forms the basis for maintaining harmony, preserving cultural identity, and regulating the inheritance process based on mutual agreement. Artikel ini mengkaji sistem pembagian warisan kolektif pada komunitas Semende migran yang dikelola secara kolektif dan produktif. Kajian dalam artikel ini difokuskan pada dua hal, yakni bagaimana sistem pembagian harta warisan di komunitas Semende migran yang ada di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu, dan sejauhmana model pembagian warisan tersebut dapat mewujudkan keharmonisan hukum dan keharmonisan di antara anggota keluarga. Data-data dalam artikel ini diperoleh dari literatur ilmiah dan wawancara dengan tokoh masyarakat di komunitas Semende. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan perspektif harmoni hukum, artikel ini menyimpulkan bahwa pembagian harta warisan pada masyarakat Semende migran di Bengkulu menggunakan sistem yang disebut tunggu tubang, di mana harta warisan disimpan dan dikelola oleh anak perempuan tertua (tunggu tubang). Pembagian harta warisan selalu mengedepankan musyawarah mufakat. Pembagian harta warisan yang ada di suku semende dengan sistem tunggu tubang terbukti dapat mewujudkan keharmonisan baik pada sistem hukum maupun keharmonisan di antara keluarga. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat bangunan konsep al-ma'rūf dalam pembagian warisan pada komunitas Semende migran. Konsep al-ma’rūf dalam kewarisan adat Semende migran ini mencerminkan nilai-nilai yang dihormati dan dipegang teguh oleh masyarakat. Konsep ini membentuk dasar untuk menjaga keharmonisan, memelihara identitas budaya, serta mengatur proses kewarisan dengan prinsip kesepakatan bersama.
‘Ulamā,’ Maṣlaḥah, and the Politics of Fatwa: The Shifting of Ali Gomaa's Fatwa Approach during the 2011 Egyptian Revolution Sulaiman, Akhmad; Masrukhin, Mohammad Yunus; Burdah, Ibnu
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i2.1356

Abstract

Numerous scholars have advanced the thesis that rulers in Muslim-majority countries engage ‘ulamā’ to legitimize their political authority. This assertion seems pertinent to the actions of the state mufti of Egypt, Ali Gomaa, who issued a fatwa prohibiting demonstrations during the 2011 Egyptian Revolution. Applying the scholars' thesis to Gomaa's fatwas reveals complexity, as it turns out that Gomaa revised his fatwas, particularly those related to the transition from prohibiting demonstrations to endorsing peaceful assemblies. This research aims to analyze two aspects: exploring the motivating factors behind the changes in Gomaa's fatwas and identifying the inherent substantive shifts in his fatwas. By employing Foucault's discourse theory, the study delves into Gomaa fatwas during the 2011 Egyptian Revolution, meticulously documented on digital platforms. The research findings indicate that Gomaa's shift in fatwas stems from a vested desire for his pronouncements to achieve widespread acceptance and authority among a populace that embraces protest as an expression of freedom of speech. Gomaa modifies his fatwa, transitioning from an outright prohibition of demonstrations to permitting peaceful assemblies while encouraging demonstrators to exercise restraint through a suggestive fatwa allowing for leaving Friday prayer. Gomaa has orchestrated a paradigmatic shift in his fatwa approach, moving away from interpreting demonstrations as opposition to the rulers, grounded in preserving soul and property, toward recognizing them as manifestations of free speech rooted in citizens' rights. Banyak sarjana telah mengemukakan teori bahwa penguasa di negara-negara mayoritas Muslim melibatkan ‘ulamā’ untuk melegitimasi otoritas politik mereka. Pernyataan ini tampak relevan dengan tindakan mufti negara Mesir, Ali Gomaa, yang mengeluarkan fatwa melarang demonstrasi selama Revolusi Mesir tahun 2011. Penerapan teori para sarjana ke fatwa-fatwa Gomaa mengungkap kompleksitas, karena ternyata Gomaa merevisi fatwanya, khususnya yang terkait dengan peralihan dari melarang demonstrasi menjadi mendukung demonstrasi damai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dua aspek: mengeksplorasi faktor-faktor motivasi di balik perubahan fatwa Gomaa dan mengidentifikasi pergeseran substantif yang melekat dalam fatwanya. Dengan menggunakan teori wacana Foucault, studi ini menunjukkan bahwa pergeseran fatwa Gomaa berasal dari keinginan yang kuat agar pengumumannya diterima secara luas dan memiliki otoritas di kalangan masyarakat yang mendukung protes sebagai bentuk ekspresi kebebasan berbicara. Gomaa memodifikasi fatwanya, beralih dari larangan demonstrasi secara mutlak menjadi mengizinkan pertemuan demontrasi yang damai, sambil secara bersamaan mendorong para demonstran untuk menahan diri melalui fatwa yang mengizinkan meninggalkan salat Jumat. Gomaa mengatur pergeseran paradigma dalam pendekatan fatwanya, yakni dari menjauhi interpretasi demonstrasi sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa berdasarkan konsep pemeliharaan jiwa dan properti, menuju pemahaman bahwa demonstrasi adalah manifestasi kebebasan berpendapat yang didasarkan atas hak-hak warga negara.
Modus Masuk Islam sebagai Upaya Mendapatkan Hukum Formal Perkawinan Beda Agama di Jakarta Timur Aziz, Abdul; Hakim, Lukman
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i1.1391

Abstract

This study aims to find out and understand the phenomenon of Islamic conversion mode that occurs in interfaith marriages in Indonesia, focusing on five couples who pretend to convert to Islam to meet the legal requirements for marriage with Muslim women. In five cases, after the marriage, all five couples return to their original religions, thus creating inequality and dilemmas for the couples involved. This research uses field research through a legal anthropological approach to discover how legal norms interact with social and cultural practices. The findings of this study show that there is a practice of pretense, where one of the couples pretends to convert to Islam before marriage to carry out the marriage. After the marriage, one of the couples returned to their original religion. This phenomenon describes a pattern of behavior that causes dilemmas and inequalities in the realm of religion in the context of marriage. This article proposes the need for further research to understand the impact and implications of the mode of conversion to Islam, as well as to design policies that protect women's rights and freedoms in the realm of religion and marriage. Public awareness and policy support supporting equality are essential to create a fair and equitable environment. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami fenomena modus masuk Islam yang terjadi dalam perkawinan beda agama di Indonesia, dengan fokus pada lima pasangan yang berpura-pura masuk Islam untuk memenuhi syarat legal perkawinan dengan perempuan Muslim. Dalam lima kasus, setelah perkawinan terjadi, kelima pasangan kembali ke agamanya semula, sehingga menciptakan ketidaksetaraan dan dilema bagi pasangan yang terlibat. Penelitian ini menggunakan studi lapangan (field research) melalui pendekatan antropologi hukum yakni untuk mengetahui bagaimana norma-norma hukum berinteraksi dengan praktik sosial dan budaya di masyarakat. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa adanya praktik kepura-puraan, di mana salah satu pasangan berpura-pura masuk Islam sebelum menikah agar dapat melaksanakan perkawinan. Setelah perkawinan terjadi, salah satu pasangan kemudian kembali pada agamanya semula. Fenomena ini menggambarkan pola perilaku yang menimbulkan dilema dan ketidaksetaraan dalam ranah agama dalam konteks perkawinan. Artikel ini mengusulkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak dan implikasi dari modus masuk Islam, serta untuk merancang kebijakan yang melindungi hak dan kebebasan perempuan dalam ranah agama dan perkawinan.
The Authority of the Fatwa of the Majelis Tarjih and Tajdid on Fajr Time in Ponorogo East Java: Between Scholarly Authority and Organizational Compliance Abdullah, Fuady; Novi Fitia Maliha; Sari, Ima Frafika
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i1.1399

Abstract

Fatwas are a significant tool in Islamic jurisprudence, regulating human behaviour and shaping society's knowledge and interpretation. In an organization, fatwas have more binding power. However, in responding to it, each faces other societal structures. This research focuses on implementing a tarjih decision (putusan tarjih) by the Tarjih and Tajdid Council (Majelis Tarjih dan Tajdid - MTT) of Muhammadiyah regarding changes in the Fajr time. Using Max Weber's theory of Social Action, this study investigates how the Council's legal-rational authority impacts compliance among followers. The findings show that organisational structure and acceptance of MTT influence Muhammadiyah members' obedience to the fatwa as an authority according to the criteria of Islamic jurisprudence. This study adds to the scholarly understanding of religious authority in contemporary Islamic organizations by focusing on how fatwa-making and its implementation steps affect community behaviour and religious practice. Furthermore, it emphasizes the significance of contextualizing Islamic law in response to local social dynamics, laying the groundwork for future research on the relationship between religious edicts and societal norms in organisational settings. Fatwa memainkan peran penting dalam yurisprudensi Islam dan merupakan alat untuk mengatur perilaku manusia dan membentuk pemahaman dan interpretasi masyarakat. Dalam konteks organisasi, fatwa memiliki kekuatan yang lebih mengikat. Namun, dalam menanggapinya, setiap individu juga dihadapkan pada struktur lain dalam masyarakat. Penelitian ini berfokus pada implementasi putusan tarjih oleh Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Muhammadiyah terkait perubahan waktu subuh. Dengan menggunakan teori Max Weber tentang tindakan sosial, penelitian ini menyelidiki bagaimana otoritas legal-rasional MTT berdampak pada kepatuhan para pengikutnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan anggota terhadap fatwa dipengaruhi oleh struktur organisasi dan penerimaan terhadap MTT sebagai otoritas menurut kriteria yurisprudensi Islam. Studi ini menambah pemahaman ilmiah tentang otoritas keagamaan dalam organisasi Islam kontemporer dengan berfokus pada bagaimana pembuatan fatwa dan langkah implementasinya mempengaruhi perilaku masyarakat dan praktik keagamaan. Selain itu, studi ini menekankan pentingnya kontekstualisasi hukum Islam sebagai respons terhadap dinamika sosial setempat, yang menjadi dasar bagi penelitian di masa depan tentang hubungan antara fatwa agama dan norma-norma masyarakat dalam konteks organisasi.
Integrative-Intersubjective Type of Islamic Law Studies: The Shifting of Paradigms in Epistemology of Islamic Law at the Faculty of Sharī’a and Law, Sunan Kalijaga State Islamic University, Indonesia Riyanto, Waryani Fajar
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 58 No 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v58i1.1426

Abstract

The epistemology of Islamic law studies has shifted from an atomization model towards an integration one. The integration of Islamic law epistemology includes the subjective, objective, and intersubjective types. The epistemological integration model in this field has become a crucial discourse at the State Islamic University (Universitas Islam Negeri – UIN) of Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia. Accordingly, the current article discusses the shifting of paradigms in epistemology of Islamic law studies at the Faculty of Sharī’a and Law (Fakultas Sharī’ah dan Hukum - FSH) UIN Sunan Kalijaga of Yogyakarta, Indonesia. Document study in qualitative research was employed as a research methodology in this study. The sources of data were obtained from the writings of intellectuals at FSH UIN Sunan Kalijaga. The analysis in this article was done by using Ṭāhā ‘Abdurraḥmān’s theory of integrative epistemology, through the integration between philosophical epistemology, i.e., subjective, objective, and intersubjective reasoning, and historical epistemology, i.e., early, middle, and late periods. The research found the integrative-intersubjective type of Islamic law studies as the scientific mentality of a Muslim jurist who is capable of creatively integrating subjective-objective-intersubjective reasonings and early-middle-late periods, to address issues of Islamic law in the contemporary era. This finding has implications in shaping a moderate reasoning of Islamic law studies, which is neither extremely subjective on the one hand nor extremely objective on the other. Epistemologi studi hukum Islam telah bergeser dari pola atomisasi ke arah integrasi. Integrasi epistemologi hukum Islam melingkupi tipe subjektif, objektif, dan intersubjektif. Model integrasi epistemologi di bidang ini telah menjadi diskursus penting di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia. Oleh karena itu, artikel ini mendiskusikan pergeseran paradigma pemikiran epistemologi studi hukum Islam di Fakultas Sharī’ah dan Hukum (FSH) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia. Metode penelitian menggunakan studi dokumen dalam penelitian kualitatif. Sumber data diambil dari tulisan-tulisan para pemikir di FSH UIN Sunan Kalijaga. Artikel ini dianalisis menggunakan teori epistemologi-integratif dari Ṭāhā ‘Abdurraḥmān, melalui integrasi antara epistemologi kefilsafatan (nalar subjektif, objektif, dan intersubjektif) dan epistemologi kesejarahan (nalar periode awal, pertengahan, dan akhir). Penelitian ini menemukan tipe studi hukum Islam integratif-intersubjektif sebagai mentalitas saintifik bagi seorang ahli hukum Muslim yang mampu mendialogkan secara kreatif antara nalar subjektif, objektif, intersubjektif dan nalar periode awal, pertenghan, dan akhir, untuk penyelesaian masalah hukum Islam di era kontemporer. Temuan ini berimplikasi pada pembentukan nalar studi hukum Islam moderat, yaitu tidak ekstrim subjektif di satu sisi dan ekstrim objektif di sisi yang lain.