cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 18 No 2 (2017)" : 20 Documents clear
Karakteristik Protein Plasma Sapi Bali (CHARACTERISTICS OF BALI CATTLE PLASMA PROTEINS) Wahyu Tri Utomo; I Nyoman Suarsana; I Gusti Ayu Agung Suartini
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.944 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.232

Abstract

An study was carried out to determine the physiological data on plasma protein characteristics of Bal cattle. A total of 24 plasma samples of male and female bali cattle were characterized by using sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS PAGE). The data were presented descriptively. The results showed that on the basis of their estimated molecular weights, at least 14 protein bands (1st to band 14th) were identified with the molecular weights of 963,50 kDa, 530 kDa, kDa 346,82, 124,84 kDa, 89,85 kDa, 68,67 kDa, 54,71 kDa, 37,77 kDa, 20,78 kDa, 16,95 kDa, 16,18 kDa, 15,46 kDa, 12,56 kDa and 10,46 kDa, respectively from the highest to the lowest. Furthermore, plasma protein bands of 14 bali cattle were grouped into five fractions, namely albumin, globulin a1, a2, b, and g. Albumin fraction shown by the band 6th to 14th with a molecular weight of 68,67 to 10,46 kDa respectively. Globulin fraction a1 and a2 shown by the band 5th and 4th with a molecular weight of 89,85 kDa and 124,84 kDa respectively. b- globulin fraction shown by the band 3rd with a molecular weight of 346,82 kDa. g-globulin fraction was shown by the band 1st and 2nd with a molecular weight of 963,50 kDa and 530 kDa respectively. The percentage of area band Bali cattle plasma protein fraction consists of 92% albumin, globulin fraction a2 of 3%, g-globulin of 2%, globulin a1 and b of 1%. It can be concluded that the plasma protein band Bali cattle male and female calves (aged 0-1.5 years), puberty (ages 2-2.5 years) and adults (aged 3-5 years) amounted to 14 protein bands with varying thickness comprises of the five fractions are albumin, globulin a1, a2, b, and g. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik protein plasma sapi bali. Sebanyak 24 sampel plasma sapi bali jantan dan betina dikarakterisasi menggunakan metode sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS PAGE). Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan bobot molekul pita protein ke-1 sampai pita ke-14 secara berurutan memiliki bobot molekul yaitu 963,50 kDa, 530 kDa, 346,82 kDa, 124,84 kDa, 89,85 kDa, 68,67 kDa, 54,71 kDa, 37,77 kDa, 20,78 kDa, 16,95 kDa, 16,18 kDa, 15,46 kDa, 12,56 kDa, dan 10,46 kDa. Selanjutnya, 14 pita protein plasma sapi bali dikelompokan menjadi lima fraksi yaitu albumin, globulin a1, a2, b, dan g. Fraksi albumin ditunjukan oleh pita ke-6 sampai pita ke-14 dengan bobot molekul 68,67-10,46 kDa. Fraksi globulin a1 dan a2 ditunjukan oleh pita ke-5 dan ke-4 dengan bobot molekul 89,85 kDa dan 124,84 kDa. Fraksi globulin b ditunjukan oleh pita ke-3 dengan bobot molekul 346,82 kDa. Fraksi globulin g ditunjukan oleh pita ke-1 dan ke-2 dengan bobot molekul 963,50 kDa dan 530 kDa. Persentase luas pita protein plasma sapi bali terdiri dari fraksi albumin 92%, fraksi globulin a2 3%, globulin g 2%, globulin a1 dan b 1%. Dapat disimpulkan bahwa pita protein plasma sapi bali jantan dan betina pedet (umur 0-1,5 tahun), pubertas (umur 2-2,5 tahun), dan dewasa (umur 3-5 tahun) berjumlah 14 pita protein dengan ketebalan bervariasi terdiri dari lima fraksi yaitu albumin, globulin a1, a2, a, dan g.
Status DNA dan Karakteristik Spermatozoa Kauda Epididimis Domba Pascapenyimpanan pada Suhu 4oC (DNA STATUS AND CHARACTERISTIC OF SPERM CAUDA EPIDIDYMAL RAM AFTER STORAGE AT 4oC) Ummul Masir; Mohamad Agus Setiadi; Ni Wayan Kurniani Karja
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.669 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.167

Abstract

The aim of this study was to evaluate the deoxyribonucleic acid (DNA) status and characteristics of ram spermatozoa, maintained within epididymides stored at 4ºC. A total of 12 pairs of ram cauda epididymis were kept by means that one of the pair in a tube contain media (isotonic NaCl solution) and the other pair into a clean ziplock without medium then stored at 4ºC for three days. Following this, the motility and viability and DNA status of spermatozoa was observed using halomax sperm method, prior and post freezing process. The results showed a decreased in the percentage of motility and viability of spermatozoa from cauda epididymis which were kept in and without media, before or after cryopreservation (P <0.05). Based on the storage method, a significant difference in motility percentage occurs at day two and day three of the storage. Storage using media had a lower percentage of motility (23%; 10%) than without using media (50%; 37%) (P <0.05). The DNA status following storage at 4ºC for three days, descriptively showed impaired of spermatozoa DNA less than 1%. The percentage of impairment increased following the cryopreservation of spermatozoa due to the freezing process. This condition was especially observed on the third day of storage of cauda epididymis which were kept in media (10.16%). The characteristics of spermatozoa from cauda epididymis which were kept in the media were lower compared to without medium. The DNA status of cauda epididymis spermatozoa is not affected by the storage method. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status DNA dan karakterisik spermatozoa asal kauda epididimis domba yang disimpan pada suhu 4ºC. Sebanyak 12 pasang kauda epididimis domba disimpan dengan cara salah satu dari setiap pasang kauda epididimis dimasukan ke dalam tabung berisi media (NaCl fisiologis) dan pasangan yang lain ke dalam ziplock bersih (tanpa media). Penyimpanan dilakukan selama tiga hari pada suhu 4ºC kemudian dilihat motilitas dan viabilitasnya serta status DNA spermatozoa dengan metode sperm sus halomax, sebelum dan setelah pembekuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa asal kauda epididimis baik yang disimpan dengan atau tanpa media mengalami penurunan, sebelum atau setelah kriopreservasi (P<0,05). Berdasarkan metode penyimpanan, perbedaan persentase motilitas yang nyata terjadi pada hari ke dua dan ke tiga penyimpanan. Penyimpanan menggunakan media memiliki persentase motilitas yang lebih rendah (23%; 10%) dibandingkan dengan tanpa menggunakan media (50%; 37%) (P<0,05). Status DNA spermatozoa setelah dilakukan penyimpanan pada suhu 4ºC selama tiga hari, secara deskriptif memerlihatkan kerusakan DNA spermatozoa kurang dari 1%. Persentase kerusakan kemudian meningkat setelah kriopreservasi spermatozoa akibat dari pembekuan, terutama pada hari ke tiga penyimpanan kauda epididimis dengan media (10,16%). Karakteristik spermatozoa dari kauda epididimis yang disimpan dengan media lebih rendah dibandingkan tanpa media. Status DNA spermatozoa kauda epididimis tidak dipengaruhi oleh metode penyimpanan.
Aluminosilikat Berpotensi Menekan Gangguan Reproduksi Mikotoksin Zearalenon Berdasarkan Pengamatan Jumlah Folikel dan Ekspresi Caspase-9 Ovarium Muhammad Thohawi Elziyad Purnama; Imam Mustofa; Tri Wahyu Suprayogi; Abdul Samik; Ragil Angga Prastiya; Amung Logam Saputro
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.997 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.175

Abstract

Zearalenone is a resorcylic acid lactone produced by fungal Fusarium graminearum in contaminated edible grains and can cause reproduction disorder in animals by binding to estrogen receptors on target cells. The aim of this study was to assess the potential use of aluminosilicates as mycotoxin binders to eliminate the adverse effect of zearalenone by examining the number of follicles and caspase-9 expression in the ovary of mice. The study adopted a completely randomized simple design using 20 mices which were randomly divided into five group each of which consisted of four mices. Five treatment groups consisted of K+ (without zearalenone and aluminosilicates); K- (treated with zearalenone 0.1 mg/mice/day); P1 (treated with zearalenone 0.1 mg/mice/day and aluminosilicates 0.5 mg/mice/day); P2 (treated with zearalenone 0.1 mg/mice/day and aluminosilicates 1 mg/mice/day); and P3 were treated with zearalenone 0,1 mg/mice/day and aluminosilicates 2 mg/mice/day) with gastric tube daily for 10 days. The data obtained from this study were analyzed by analysis of variance and proceeded with Duncan test. The result showed that the primary follicles, secondary follicles, tertiary follicles and de Graaf follicles increased significantly on P3 treatment group. Caspase-9 expressions decreased significantly in all of aluminosilicates groups as compared to positive control. The treatment of mice with zearalenone and aluminosilicates increases the number of follicles and decreased caspase-9 expression in the ovary of mice. ABSTRAK Zearalenon merupakan senyawa resorcylic acid lactone yang diproduksi oleh jamur Fusarium graminearum dan dapat mengakibatkan gangguan reproduksi pada ternak dengan membentuk ikatan pada reseptor estrogen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi aluminosilikat terhadap mencit yang telah dipapar zearalenon pada aspek jumlah folikel dan ekspresi caspase-9 organ ovarium. Penelitian ini menggunakan 20 ekor mencit yang dibagi menjadi lima kelompok perlakuan dengan masing-masing empat ulangan, yakni K+ tanpa dipapar zearalenon dan aluminosilikat; K- dosis zearalenon 0,1 mg/ekor/hari; P1 dosis zearalenon 0,1 mg/ekor/hari dan aluminosilikat 0,5 mg/ekor/hari; P2 dosis zearalenon 0,1 mg/ekor/hari dan aluminosilikat 1 mg/ekor/hari; P3 dosis zearalenon 0,1 mg/ekor/hari dan aluminosilikat 2 mg/ekor/hari dengan sonde lambung selama sepuluh hari. Data hasil skoring dan perhitungan dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah folikel primer, sekunder, tersier dan de Graaf pada P3 terjadi peningkatan yang signifikan. Ekspresi caspase-9 ovarium menunjukkan penurunan pada semua perlakuan aluminosilikat. Simpulan penelitian ini adalah mencit yang dipapar zearalenon dan kemudian diberi aluminosilikat mengalami peningkatan jumlah folikel dan penurunan ekspresi caspase-9 pada organ ovarium.
Profil Darah, Performans dan Kualitas Daging Ayam Persilangan Kampung Broiler pada Kepadatan Kandang Berbeda (BLOOD PROFILE, PERFORMANS AND MEAT QUALITY OF CROSSED KAMPUNG BROILER CHICKEN IN DIFFERENT STOCKING DENSITY) Andi Tenri Bau Astuti Mahmud; Rudi Afnan; Damiana Rita Ekastuti; Irma Isnafia Arief
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.109 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.247

Abstract

This research objective was to analyze the effect on stocking density on performance, blood profile’s and meat quality of crossed kampung broiler chicken. Ninety day old chick of crossed kampung broiler chickens were maintained in three cages that had same size of 1x1 m2. Commercial feed was given for the chickens’ feeding. Productivity parameter was recorded since day old chick to 12 week. As many as 30% of the total chickens were taken randomly and used as samples to analyze the blood profile in 10 week old and another 30% of the chickens aged 12 weeks were also taken randomly and used to analyze the meat quality. This study used Randomized Complete Design with different cage density treatments: 8 heads/m2, 10 heads/m2, and 12 heads/m2. Each treatment was repeated three times. Result showed that different cage density (8 heads, 10 heads and 12 heads/cage) had no significant affect on performance (temperature humidity index, feed intake, water consumption, body weight, feed conversion, and mortality), blood profile’s (erythrocyte, leukocyte, hemoglobin, hematocrit, difenrensiasi leukocyte, heterofil/limfosit and glucose) and meat quality (physical, chemical and sensory). In conclusion, the stocking density does not effect on the performance, blood profile’s and meat quality of crossed kampung broiler chicken. The chickens can be maintained with density up to 12 heads/cage. Kampung broiler chicken aged nine weeks may reach higher growth than kampung chicken. Cholesterol meat of kampung broiler chicken is lower than the broiler and kampung chickens. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepadatan kandang terhadap performans, profil darah dan kualitas daging pada ayam persilangan kampung broiler. Sebanyak 90 day old chick hasil persilangan ayam kampung dengan ayam broiler dipelihara di dalam petak kandang yang berukuran 1 x 1 m2. Ayam diberikan pakan ayam pedaging komersial. Pengambilan data performans dimulai pada umur satu hari sampai 12 minggu. Sebanyak 30% ayam diambil secara acak pada minggu ke-10 dari setiap petak kandang kemudian dilakukan pengujian profil darah. Sebanyak 30% ayam diambil secara acak pada minggu ke-12 untuk dikorbankan nyawanya dengan cara disembelih, kemudian dilakukan pengujian kualitas daging. Data dianalisis dengan sidik ragam. Perlakuan yang diberikan ialah kepadatan kandang, yaitu 8 ekor/m2, 10 ekor/m2 dan 12 ekor/m2. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan tingkat kepadatan ayam kampung broiler dalam kandang tidak berpengaruh nyata terhadap performans (temperature humidity index, konsumsi pakan, konsumsi air minum, bobot badan, pertambahan bobot badan, konversi pakan dan mortalitas), profil darah (eritrosit, leukosit, hemoglobin, hematokrit, diferensiasi leukosit, heterofil/limfosit dan glukosa) dan kualitas daging (kimia, fisik dan organoleptik). Simpulan penelitian adalah kepadatan kandang tidak memengaruhi performans, profil darah, dan kualitas daging ayam silangan kampung broiler sehingga dapat dipelihara sampai pada kepadatan 12 ekor/m2 dan ayam tersebut tumbuh optimal sampai umur sembilan minggu dengan kadar kolesterol daging ayam kampung broiler lebih rendah dibandingkan ayam broiler dan ayam kampung.
Variasi Genetik Trenggiling Sitaan di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan Berdasarkan Control Region DNA Mitokndria (GENETIC VARIATION ON CONFISCATED PANGOLIN OF SUMATRA, JAWA, AND KALIMANTAN BASED ON CONTROL REGION MITOCHONDRIAL DNA) Wirdateti Wirdateti; Gono Semiadi
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.693 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.181

Abstract

High levels of illegal trading on Java pangolin (Manis javanica, Desmarest. 1822) for the basic ingredient of Traditional Chinese Medicine have caused sharp decline in its wild population. The purposes of this study were to assess the level of quality and genetic diversity, and to identify the origin of the confiscated individuals by molecular analysis. The original species used as a control were obtained from known areas in Java, Kalimantan, and Sumatera. Molecular analysis was carried out using non-coding region control region (D-loop) of mitochondrial DNA (mtDNA). The results of phylogenic tree analysis showed that 44 confiscated pangolins were from Kalimantan (24 individuals), from Sumatra (seven individuals), and from Java (13 individuals). As many as 19 haplotypes were found on the basis of their base substitutions consisting of nine from Kalimantan, seven from Java and three from Sumatra. Average genetic distance (d) between those from Kalimantan-Java was d = 0.0121 ± 0.0031; those from Borneo-Sumatra was d =0.0123 ± 0.0038 and those from Sumatra-Java was d = 0.0075 ± 0.038, respectively. Overall genetic distance between populations was d = 0.0148 ± 0.0035, with the nucleotide diversity (ð) of 0.0146. These results indicate that over 50% of pangolins seized came from Kaimantan, and Kalimantan populations show a separate group with Java and Sumatra with boostrap 98%. ABSTRAK Tingginya tingkat perburuan trenggiling (Manis javanica; Desmarest 1822) Indonesia untuk diperdagangkan secara illegal sebagai bahan dasar obat terutama di China, menyebabkan terjadinya penurunan populasi di alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat tingkat kualitas dan keragaman genetik trenggiling serta mengetahui asal usul satwa sitaan berdasarkan analisis molekuler. Sebagai kontrol asal usul trenggiling sitaan digunakan sampel alam berdasarkan sebaran populasi yang diketahui pasti yang berasal dari Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Analisis molekuler menggunakan daerah non coding control region (D-loop) mitokondrial DNA (mtDNA). Hasil analisis dari pohon filogeni menunjukkan bahwa dari 44 sampel trenggiling sitaan terindikasi berasal dari Kalimantan sebanyak 24 individu, asal Sumatera tujuh individu, dan dari populasi Jawa 13, sementara rataan jarak genetik (d) antara Kalimantan-Jawa d= 0,0121±0,0031; Kalimantan-Sumatera d= 0,0123±0,0038; dan Sumatera-Jawa d=0,0075±0,038. Jarak genetik secara keseluruhan di antara populasi adalah d= 0,0148±0,0035, dengankeragaman nukleotida (ð) 0,0146. Hasil ini menunjukkan bahwa lebih 50% trenggiling sitaan berasal dari Kalimantan, dan populasi Kalimantan menunjukkan kelompok terpisah dengan Jawa dan Sumatera dengan boostrap 98%.
Pengimbuhan Fraksi Heksana Daun Katuk Varietas Zanzibar dalam Pakan Meningkatkan Produksi Susu, Tampilan Induk dan Anak Tikus Fachruddin Fachruddin; Agik Suprayogi; Novriyandi Hanif
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.231 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.289

Abstract

The research purpose was to examine the potential of hexane fraction from Sauropus androgynus (SA) leaves of Zanzibar variety as a substance for increasing milk yield and performance of female and rat pups. The experiment was conducted on the fifteen pregnant-lactating rats that divided into five groups, such as control, hexane fraction (HF) of Zanzibar, Bastar, Paris, and Kebo. The administration of hexane fraction was executed by feeding and it was consumed after the state of rat pregnancy on three days up to ten days after parturition. The average consumed dose by pregnant rat was 69.07 mg/day/rat. The treatment for 16 days showed no significant effect on the average daily feed consumption, body weight gain of female rats, pups number, and birth weight of pups between treatment groups. The administration of hexane fraction from SA leaves of Zanzibar veriety showed significant effect on the milk yield and body weight gain of pup compared with control group (P<0.05). The results suggested that SA leaves from Zanzibar variety had a better potential to be developed as a substance for increasing milk yield and performance of female and rat pups compared to SA leaves from the other varieties. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi fraksi heksana daun katuk (Sauropus androgynus) varietas Zanzibar sebagai substansi yang dapat meningkatkan produksi susu dan tampilan induk dan anak tikus. Penelitian dilakukan pada 15 ekor tikus bunting-laktasi yang dibagi dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol, fraksi heksana (FH) daun katuk varietas Zanzibar, Bastar, Paris, dan Kebo. Pemberian fraksi heksana dilakukan melalui pakan setelah umur kebuntingan tiga hari dan diteruskan sampai sepuluh hari setelah beranak. Rataan dosis konsumsi fraksi heksana sebesar 69,07 mg/hari/ekor. Pemberian perlakuan selama 16 hari tidak menunjukkan adanya perbedaan nilai rataan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB) induk tikus bunting, jumlah anak, dan bobot lahir anak tikus antar kelompok perlakuan. Pemberian fraksi heksana daun katuk varietas Zanzibar memberikan pengaruh nyata terhadap produksi susu dan PBB anak tikus dibandingkan dengan kelompok Kontrol (P<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa daun katuk varietas Zanzibar memiliki potensi yang lebih baik dalam meningkatkan produksi susu dan tampilan induk dan anak tikus dibandingkan dengan varietas lainnya.
Bakteri Legionella pneumophila Terdeteksi pada Air Kolam Renang di Kota Surabaya dengan Nested Polymerase Chain Reaction (LEGIONELLA PNEUMOPHILA BACTERIADETECTED IN SWIMMING POOL WATER OF SURABAYA BY USING NESTED POLYMERASE CHAIN REACTION) Eduardus Bimo Aksono; Ana Adelina Farahdiba; Eka Pramyrtha Hestianah
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.466 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.221

Abstract

Legionella pneumophila is a Gram-negative bacillus that causes nosocomial and community-acquired pneumonia. The aim of this research was to detect the presence of bacteria of L. pneumophila species in the swimming pools water of Surabaya city by using nested Polymerase Chain Reaction (PCR) assay of a specific gene for L. pneumophila (mip gene). This study used purposive sampling method. A total of 10 water samples were collected from five swimming pools consisting of 200 mL water for each swimming pool. The results showed that of 10 samples tested by nested PCR, one sample was positive for L. pneumophila, and nine samples were negative. L. pneumophila were found in pool water samples with a higher temperature (>30ºC).Serogrouping analysis of positive sample that L. pneumophila bacteria detected in the water sample of swimming pool in Surabaya was L. pneumophila serogroup 9 (98%) and serogroup 10 (98%). L. pneumophila detection of bacteria is expected to raise the awareness of physician and microbiologists about the transmission of L. pneumophila and will also be useful for controlling the agents. ABSTRAK Legionella pneumophila adalah bakteri Gram-negatif berbentuk batang yang dapat menyebabkan penyakit nosokomial dan pneumonia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan bakteri L. pneumophila pada air kolam renang di Kota Surabaya dengan menggunakan nested Polymerase Chain Reaction (PCR) berbasis gen spesifik L. pneumophila (mip gene). Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak sepuluh sampel diambil dari lima kolam renang. Sampel diambil sebanyak 200 mL dari air kolam renang di setiap lokasi. Hasil dari 10 sampel yang diuji menggunakan nested PCR, satu sampel menunjukkan hasil positif untuk L.pneumophila, dan sembilan sampel menunjukkan hasil negatif. Bakteri L. pneumophila ditemukan pada sampel air kolam dengan suhu yang lebih tinggi (>30ºC). Satu sampel positip tersebut ketika dilanjutkan terhadap analisis serogrup terlihat bahwa bakteri L. pneumophila yang terdeteksi pada air kolam renang di Kota Surabaya termasuk L. Pneumophila serogrup 9 (98%) dan serogrup 10 (98%). Terdeteksinya bakteri L. pneumophila ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dokter dan ahli mikrobiologi tentang penyebaran L. pneumophila dan juga bermanfaat untuk mengontrol agen Legionellosis.
Pemberian Whey-Dangke dalam Air Minum Menekan Kadar Kolesterol, Trigliserida dan Lipoprotein Darah Ayam Broiler Sulmiyati Sulmiyati; Ratmawati Malaka
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.362 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.257

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan whey dangke terhadap kadar kolesterol, trigliserida, LDL (low density lipoprotein), HDL (high density lipoprotein), VLDL (very low density lipoprotein) darah ayam broiler dan mengukur konsentrasi pemberian whey dangke dalam air minum yang diberikan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam perlakuan pemberian whey dangke dalam air minum dengan empat ulangan. Konsentrasi P0 adalah kelompok kontrol 0%; P1=pemberian whey dangke dengan konsentrasi 10%; P2 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 20%; P3 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 30%; P4 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 40%; dan P5 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 50%. Pemberian whey dangke pada ayam broiler strain cobb SR 707 dilakukan selama 15 hari (umur 20–35 hari). Parameter yang diamati adalah kadar kolesterol, trigliserida, LDL, HDL, dan VLDL darah ayam broiler. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam, dan jika menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian whey dangke dalam air minum tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap parameter kolesterol, trigliserida, dan lipoprotein. Namun, terlihat kecenderungan penurunan kadar kolesterol seiring dengan peningkatan konsentrasi pemberian whey dangke. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil uji in vivo menunjukkan pemberian whey dangke dalam air minum pada ayam broiler pada konsentrasi 50% memperlihatkan penurunan kadar kolesterol hingga 15%. Abstract The purposes of research is to determine the effect of whey dangke against cholesterol levels, triglycerides, LDL, HDL, and VLDL broiler blood and measuring the concentration of whey dangke in water provided. The research was conducted using a completely randomized design with six treatments and four replications. P0 is the control group 0%; P1 = whey dangke added with a concentration of 10%; P2 = whey dangke added with a concentration of 20%; P3 = whey dangke added with a concentration of 30%; P4 = whey dangke added with a concentration of 40%; and P5 = whey dangke added with a concentration of 50%. The sample in this research is the broiler cobb strain SR 707. Variable measured in this study were lower cholesterol, triglycerides, LDL (low density lipoprotein), HDL (high density lipoprotein) and VLDL (very low density lipoprotein) blood broiler.Each variable were determined after 15 days post treatment. Data were analyzed by analysis of variance, and if it shows the real effect followed by Least Significant Difference Test. The results showed that administration of whey dangke in water does not provide significant effect (P> 0.05) on the variable of cholesterol, triglycerides, and lipoprotein, but it looks downward trend in cholesterol levels along with increased concentration of whey dangke. It can be concluded that in vivo test results demonstrate that administration of whey dangke in water for broilers at concentrations of 50% showed a decrease in cholesterol levels up to 15%.
Identifikasi Keragaman Gen Kalpastatin (CAST) pada Ayam Lokal Indonesia (IDENTIFICATION OF POLYMORPHISM CALPASTATINE GENE IN LOCAL CHICKEN) Ahmad Saleh Harahap; Cece Sumantri; Niken Ulupi; Sri Darwati; Tike Sartika
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.216 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.192

Abstract

Calpastatin (CAST) gene is one of the genes that play a role in the process of tenderization of meat. CAST gene serves as an inhibitor of meat tenderness. The purpose of this study was to identify Single Nucleotide Polymorphisms (SNP) in the CAST gene of kampong chickens. A total of 61 kampong chickens used were used in the study including strain cobb, F1 of strain cobb-kampong, merawang, sentul, nunukan, and pelung, respectively. The method used is extracted DNA from blood samples, then amplified by Polymerase Chain Reaction (PCR) and then genotyping by DNA sequencing. The results showed that SNP was identified at position g.42988G> T in the intron 11 CAST gene of merawang chicken with genotype GG and GT. SNP was not identified in kampong chicken, strain cobb, F1 of strain cobb-kampong, sentul, nunukan, and pelung chicken, respectively. In conclusion, the intron 11 CAST gene region with 482 of product length of merawang chicken is polymorphic, whereas the other chicken species is monomorphic. ABSTRAK Gen Calpastatin (CAST) merupakan salah satu gen yang berperan dalam proses keempukan pada daging. Gen CAST berfungsi sebagai inhibitor (penghambat) keempukan daging. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi Single Nucleotide Polymorphisms (SNP) gen CAST pada ayam kampung. Jumlah ayam yang digunakan 61 ekor ayam kampung, ayam strain cobb, F1 ayam strain cobb-kampung, ayam merawang, ayam sentul, ayam nunukan, dan ayam pelung. Metode yang dilakukan adalah ekstrasi DNA dari sampel darah, kemudian dilakukan amplifikasi menggunakan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) dan selanjutnya dilakukan genotiping melalui DNA sequencing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen CAST intron 11 pada ayam pengamatan ditemukan SNP posisi g.42988G>T pada ayam merawang dengan genotip GG dan GT, sedangkan pada ayam kampung, ayam strain cobb, F1 ayam kampung dengan strain cobb, ayam sentul, ayam nunukan, ayam merawang dan ayam pelung tidak ditemukan SNP. Simpulan dari penelitian ini memperlihatkan gen CAST daerah intron 11 dengan panjang produk 482 pada ayam merawang bersifat polimorfik, sedangkan jenis ayam yang lain bersifat monomorfik.
Restriksi Pakan yang Diikuti dengan Refeeding Menurunan Level Fosfat Inorganik dan Kalsium pada Kambing Kacang Jantan Dewasa (FEED RESTRICTION FOLLOWED BY REFEEDING DECREASED THE INORGANIC PHOSPHATE AND CALCIUM LEVELS IN ADULT KACANG GOATS) Sarmin Sarmin; Irkham Widiyono; Pudji Astuti; Prabowo Purwono Putro
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.34 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.297

Abstract

The objective of this research was to evaluate metabolism of inorganic phosphat (Pi) and calcium (Ca) in kacang goats subjected to 60-d feed restriction and 60-d full feeding (refeeding). Nine adult male goats were divided into three groups used in this study. Restrictions include 40% (group I), 50% (group II), and 60% (group III) of the ration of dry fodder. To obtain the baseline all animals from all groups were fullfeeding from the start of the study (day 0) to day 60 then followed by restriction stage on day 61 to day 120. The next stage is refeeding from day 121 to 180. Pi and Ca levels were analyzed on days 60, 120, and 180, respectively. The results showed that restriction followed by refeeding decreased Ca levels in all three groups and Pi of animals in groups II and III was below the baseline. The level of Pi reach above the baseline were seen only in animals in group I following restriction and refeeding, although there was a tendency to decrease after refeeding. Based on the results of the study it is concluded that the restriction followed by refeeding decreases the level of Pi and Ca in adult male kacang goats. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengkaji metabolisme fosfat inorganik (Pi) dan kalsium (Ca) selama 60 hari restriksi (pembatasan) pakan yang diikuti dengan 60 hari pemberian pakan kembali secara fullfeeding (refeeding) pada kambing kacang jantan dewasa. Sembilan ekor kambing kacang jantan dewasa terbagi menjadi tiga kelompok digunakan dalam penelitian ini. Restriksi meliputi 40% (kelompok I), 50% (kelompok II), dan 60% (kelompok III) dari 3,5% bahan kering dari bobot badan. Tahap awal sebagai baseline dimulai dengan pemberian pakan fullfeeding pada hari ke-0 sampai hari ke-60 dilanjutkan dengan tahap restriksi dimulai pada hari ke-61 sampai hari ke-120. Tahap berikutnya adalah refeeding mulai hari ke-121 sampai dengan hari ke-180. Level Pi dan Ca dianalisis pada hari ke-60, 120, dan 180. Hasil penelitian menunjukkan bahwa restriksi yang diikuti refeeding menurunkan level Ca pada ketiga kelompok dan Pi kelompok II dan III di bawah baseline. Level Pi berada di atas baseline hanya pada kelompok I setelah restriksi dan refeeding, meskipun cenderung menurun setelah refeeding Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa restriksi yang diikuti dengan refeeding menurunkan level Pi dan Ca pada kambing kacang jantan dewasa.

Page 2 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2017 2017