cover
Contact Name
Eny Puspani
Contact Email
jurnaltropika@unud.ac.id
Phone
+62361-222096
Journal Mail Official
jurnaltropika@unud.ac.id
Editorial Address
Fakultas Peternakan Universitas Udayana Kampus UNUD, Bukit Jimbaran Badung, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Peternakan Tropika
Published by Universitas Udayana
ISSN : jurnaltr     EISSN : 27227286     DOI : https://doi.org/10.24843/JPT
Core Subject : Health,
Jurnal Peternakan Tropika (JPT) was published by the Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. Jurnal Peternakan Tropika (JPT) is published regularly, three times a year, in January-April, May-August, and September - December. Jurnal Peternakan Tropika (JPT) summarizes various manuscripts in the field of animal husbandry such as nutrition, production, reproduction, post-harvest (processing and technology) and socio-economic fields of livestock. Open manuscripts for lecturers and researchers related to the field of animal husbandry, and open to S1, S2 and S3 students, by following the rules set by Jurnal Peternakan Tropika (JPT).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 718 Documents
PERSENTASE LEMAK ABDOMINAL BROILER YANG DIBERIKAN JUS KULIT BUAH NAGA MELAUI AIR MINUM I M. D. A., Saputra; Candrawati, D. P. M. A; Dewi, G.A.M.K.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 2 (2024): Vol. 12 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus kulit buah naga pada air minum terhadap persentase lemak abdominal pada broiler. Penelitian dilaksanakan di Desa Buahan Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan pada Bulan Nopember sampai Desember 2021. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan tiap ulangan menggunakan 4 ekor broiler. Tiap unit percobaan diisi 4 ekor ayam. Keempat perlakuan tersebut adalah ayam yang diberi air minum tanpa jus kulit buah naga (P0), ayam yang diberi jus kulit buah naga sebanyak 2% melalui air minum (P1), ayam yang diberi jus kulit buah naga sebanyak 4% melalui air minum (P2) dan ayam yang diberi jus kulit buah naga sebanyak 6% melalui air minum (P3). Variabel yang diamati yaitu bobot potong, persentase lemak bantalan, lemak mesenterium, lemak ventrikulus dan lemak abdominal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jus kulit buah naga melalui air minum terhadap perlakuan P1, P2 dan P3 menghasilkan bobot potong lebih tinggi dibanding P0. Pada persentase lemak bantalan, lemak mesenterium dan lemak abdominal perlakuan P1, P2, P3 tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap perlakuan P0. Sedangkan pada persentase lemak ventrikulus perlakuan P1, P2, P3 berpengaruh nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan P0. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian jus kulit buah naga dalam air minum pada broiler umur 35 hari tidak berpengaruh terhadap persentase lemak bantalan dan lemak mesenterium, namun mampu menurunkan persentase lemak ventrikulus dan lemak abdominal dibandingkan dengan pemberian air minum tanpa jus kulit buah naga.
POTONGAN KARKAS KOMERSIAL BROILER YANG DIBERI ULAT MAGGOT SEBAGAI PENGGANTI RANSUM KOMERSIAL N. L. A. K., Pratiwi; Astawa, I P. A.; Sudiastra, I W.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 1 (2024): Vol. 12 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ulat maggot sebagai pengganti ransum komersial terhadap potongan karkas komersial broiler. Penelitian ini dilaksanakan selama 8 minggu berlokasi di Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 4 ulangan yang terdiri dari 64 ekor broiler dengan berat badan homogen. Keempat perlakuan adalah ransum tanpa diganti maggot sebagai kontrol (P0), ransum dengan penggantian 5% maggot (P1), ransum dengan penggantian maggot 10% (P2), ransum dengan penggantian maggot 15% (P3). Variabel yang diamati adalah persentase karkas, dada, paha, sayap dan punggung. Hasil penelitian menunjukkan persentase karkas dan dada broiler dengan pemeberian ulat maggot sebesar 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3) berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan P0. Rataan persentase sayap dan punggung broiler yang mendapatkan pemberian ulat maggot sebesar 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3) tidak berbeda nyata (P>0,05) lebih rendah dibandingkan P0 sedangkan pada persentase paha menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P>0,05) lebih tinggi dibandingkan P0. Pemberian ulat maggot sebagai pengganti ransum komersial dapat meningkatkan persentase karkas dan potongan karkas komersial bagian dada dengan level terbaik pada taraf 5%.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH DALAM AIR MINUM TERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH (Coturnix coturnix japonica) UMUR 1–5 MINGGU M. I., Alghozali; Wirapartha, M.; Dewi, G. A. M. K.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 1 (2024): Vol. 12 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun belimbing wuluh dalam air minum terhadap performa burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) umur 1–5 minggu. Penelitian ini dilaksanakan pada di Teaching Farm Sesetan dan Laboratorium Ternak Unggas Fakultas Peternakan Universitas Udayana, selama 5 minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan yang setiap ulangan terdiri dari 4 ekor burung puyuh. Penelitian ini menggunakan burung puyuh Cotunix coturnix japonica yang berumur 1 minggu sebanyak 64 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian air minum tanpa diberi ekstrak daun belimbing wuluh (A) sebagai kontrol. Pemberian air minum dengan ekstrak daun belimbing wuluh sebanyak 2%, 4%, dan 6% sebagai perlakuan B, C, dan D. Variabel yang diamati meliputi bobot badan awal, konsumsi air minum, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konversi ransum. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, apabila terdapat perbedaan nyata (P<0,05), maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda dari Duncan. Hasil penelitian menunjukkan setiap variabel bobot awal, bobot akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konversi ransum, konsumsi air minum perlakuan 2%, 4%, 6% diperoleh hasil yang tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) dengan pemberian sebanyak 2%, 4% dan 6% pada air minum tidak mempengaruhi bobot badan awal, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konversi ransum, konsumsi air minum pada burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) umur 1-5 minggu.
KOMPOSISI FISIK KARKAS BROILER YANG DIBERI RANSUM KOMERSIAL DISUBSTITUSI LIMBAH ROTI FERMENTASI A., Firman; Oka, A. A.; Suarta, I G.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 2 (2024): Vol. 12 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi fisik karkas broiler yang diberiransum komersial disubstitusi limbah roti fermentasi. Penelitian ini dilaksanakan di FarmFakultas Peternakan Universitas Udayana, Jalan Raya Sesetan, Denpasar. Analisis laboratoriumdilaksanakan di laboratorium nutrisi dan makanan ternak Fakultas Peternakan UniversitasUdayana, Jalan P.B. Soedirman, Denpasar. Penelitian ini berlangsung selama 2 bulan, yaitudimulai dari tanggal 20 Desember 2022 sampai 24 Januari 2023 menggunakan rancangan acaklengkap yang terdiri atas 5 perlakuan 4 ulangan. Tiap unit percobaan diisi 4 ekor broiler yangmemiliki bobot badan homogen berkisar 51,07 ± 5,53g. Kelima perlakuan tersebut terdiri atas P0(ransum komersial 100%), P1 (ransum komersial 90% + tepung limbah roti terfermentasiProbiotik 10%), P2 (ransum komersial 85% + tepung limbah roti terfermentasi Probiotik 15%),P3 (ransum komersial 80% + tepung limbah roti terfermentasi Probiotik 20%), dan P4 (ransumkomersial 75% + tepung limbah roti terfermentasi Probiotik 25%). Variabel yang diamati adalahbobot potong, bobot karkas, persentase karkas, persentase daging, persentase lemak, danpersentase tulang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ransum dengan substitusilimbah roti dan “Probio-BaliTani” berpengaruh nyata terhadap bobot potong, bobot karkas danpersentase daging (P0,05). Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberianransum komersial dengan substitusi limbah roti menurunkan bobot potong, bobot karkas,persentase daging dan tidak berpengaruh terhadap persentase karkas, persentase lemak, danpersentase tulang, namun menurunkan harga ransum.
KECERNAAN RANSUM YANG MENDANDUNG LIMBAH ROTI TERFERMENTASI PROBIOTIK D. N., Sembiring; Sudiastra, I W.; Candrawati, D. P. M. A.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 1 (2024): Vol. 12 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian ransum yang mengandung limbah roti terfermentasi probiotik terhadap kecernaan broiler. Penelitian ini dilakukan di Farm Fakultas Peternakan Universitas Udayana Sesetan dan Lab Nutrisi Ternak di Kampus Sudirman Denpasar. Bali. Penelitian ini dilakukan selama 60 hari, yang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Tiap kandang diisi dengan 4 ekor broiler dengan berat badan homogen yang berkisar 51,07g ± 4,33g. Perlakuan tersebut terdiri dari R0 (ransum komersial 100%), R1 (ransum komersial 90% + 10% tepung limbah roti terfermentasi), R2 (ransum komersial 85% + 15% tepung limbah roti terfermentasi), R3 (ransum komersial 80% + 20% tepung limbah roti terfermentasi). R4 (ransum komersial 75% + 25% tepung limbah roti terfermentasi). Variabel yang diamati yaitu kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan protein kasar, kecernaan serat kasar, kecernaan lemak kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pada R2 memiliki nilai paling tinggi dari setiap variable yang ada. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan tepung limbah roti terfermentasi probiotik pada level 0%, 10%, 15%, 20%, 25% pada ransum memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap kecernaan ransum pada broiler. Kesimpulan yang didapat pada penelitian ini adalah pemberian ransum yang mengandung limbah roti terfermentasi probiotik pada level 10%, 15%, 20%, dan 25% tidak mempengaruhi kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan protein kasar, dan kecernaan lemak kasar, namun pemberian limbah roti pada ransum sebesar 20% dan 25% menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0.05) lebih rendah dan dapat menurunkan kecernaan serat kasar.
BOBOT DAN KOMPOSISI FISIK KARKAS BURUNG PUYUH YANG DIBERI JUS KULIT BUAH NAGA MELALUI AIR MINUM C. M., Christian; Dewi, G. A. M. K.; Umiarti, A. T.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 11 No 3 (2023): Vol. 11 No. 3 Tahun 2023
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi fisik karkas burung puyuh yang diberi level jus kulit buah naga melalui air minum. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu di Banjar Babakan, Desa Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan dimana setiap ulangan terdiri dari 5 ekor burung puyuh. Perlakuan yang diberikan yaitu air minum tanpa diberikan jus kulit buah naga (A), air minum diberikan 3% jus kulit buah naga (B), air minum diberikan 4% jus kulit buah naga (C), air minum diberikan 5% jus kulit buah naga (D). Variabel yang diamati meliputi bobot karkas, bobot daging, bobot tulang, bobot kulit dan lemak. Hasil pelelitian menunjukan bahwa pemberian air minum yang diberikan 4% dan 5% jus kulit buah naga dapat menghasilkan bobot karkas yang berbeda nyata (P<0,05) daripada burung puyuh yang diberi air minum tanpa diberikan jus kulit buah naga. Pemeberian air minum 3%, 4% dan 5% dapat menghasilkan bobot daging, bobot tulang, bobot kulit dan lemak yang berbeda tidak nyata (P>0,05) daripada burung puyuh yang diberi air minum tanpa diberikan jus kulit buah naga. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian jus kulit buah naga level 4% dan 5% dapat meningkatkan bobot karkas tetapi belum mampu meningkatkan komposisi fisik karkas yang berupa bobot daging, tulang, kulit dan lemak, sedangkan level 3% belum mampu meningkatkan bobot karkas dan komposisi fisik karkas burung puyuh umur 1-5 minggu. Kata kunci : Burung puyuh, fisik karkas, jus kulit buah naga
PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI EKSTRAK BUAH BIDARA TERHADAP NILAI SUSUT MASAK, pH, ORGANOLEPTIK DAGING AYAM PETELUR AFKIR T., Rahman; Wibawa, A.A.P.P.; Suranjaya, I G.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 2 (2024): Vol. 12 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang pengaruh lama perendaman dan konsentrasi ekstrak buah bidara terhadap susut masak, ph, organoleptik daging ayam petelur afkir, telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak dan Mikrobiologi Fakultas Peternakan Universitas Udayana pada tanggal 20 Juni 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor yaitu lama perendaman (L1: 1 jam, L3: 3 jam) dan faktor konsentrasi ekstrak buah bidara (K1: 25%, K2: 50%). Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati adalah susut masak, pH dan organoleptik (aroma, cita rasa, keempukan). Hasil analisis menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara lama perendaman dan konsentrasi ekstrak buah bidara (P>0,05) terhadap susut masak, pH dan organoleptik, tetapi faktor lama perendaman menunjukan pengaruh nyata terhadap nilai keempukan daging ayam petelur afkir (P<0,05). Pada faktor konsentrasi terjadi peningkatan susut masak di daging ayam petelur afkir. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi yang nyata antara faktor konsentrasi dan lama perendaman terhadap nilai susut masak, pH, organoleptik (aroma, cita rasa, keempukan). Hasil yang baik diperoleh adalah pada faktor lama perendaman mampu meningkatkan nilai keempukan yaitu, semakin lama perendaman maka nilai keempukan semakin meningkat.
PENGARUH ZONASI BERBEDA PADA SISTEM CLOSED HOUSE TERHADAP KUALITAS KIMIA-FISIK DAGING BROILER S. A. R., Sipahutar; Miwada, I N. S.; Ariana, I N. T.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 11 No 3 (2023): Vol. 11 No. 3 Tahun 2023
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ayam pedaging termasuk jenis unggas yang memiliki sifat homeoterm, yaitu menjaga agar suhu tubuhnya selalu konstan meskipun berada pada temperatur lingkungan yang lebih tinggi daripada temperatur tubuhnya, sehingga kandang closed house digunakan untuk meminimalisir gangguan cuaca dari luar yang mungkin dialami oleh ternak seperti panas dan hujan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh zonasi dalam kandang closed house terhadap kualitas kimia-fisik daging broiler dan menentukan zonasi terbaik pada pemeliharaan ayam broiler di kandang closed house. Penelitian ini menggunakan Day Old Chick (DOC) ayam broiler sebanyak 20.000 ekor yang dipelihara hingga hari ke-29 dalam kandang closed house yang dibagi menjadi empat zona, yaitu Z1 (0 - 30 m dari inlet (bagian depan kandang closed house)), atau Z2 (30 - 60 m dari inlet (bagian depan kandang closed house)), Z3 (60 - 90 m dari inlet (bagian depan kandang closed house)), dan Z4 (90 – 120 m dari inlet (bagian depan kandang closed house)). Pengamatan suhu dan kelembaban udara dilakukan setiap 2 hari pada pukul 09.00 WITA, 14.00 WITA, dan 17.00 WITA mulai hari ke-7 hingga hari ke- 29. Pada hari ke-21, sebanyak 16 ekor ayam dipilih secara acak dari setiap zona untuk dilakukan penelitian pengaruh zonasi terhadap kualitas kimia-fisik daging broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zonasi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai pH, kisaran nilai pH tersebut antara 6,20 – 6,29. Kadar Air yang diamati tidak berbeda nyata (P>0,05) yakni berkisar 78,49% - 81,41%. Susut Masak yang diamati tidak berbeda nyata (P>0,05) kisaran Susut Masak tersebut antara 32,83% - 36,00%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa Kadar Protein tidak berbeda nyata (P>0,05) berada dalam kisaran normal antara 20,89% - 21,63%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa zonasi yang berbeda pada sistem closed house tidak mempengaruhi kualitas kimia-fisik daging ayam broiler. Kata Kunci: zonasi, closed house, kimia-fisik, daging broiler
PENGARUH PEMBERIAN ASAM AMINO LISIN DAN METIONIN MELALUI AIR MINUM TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM RAS V. A. M ., Asmara; Astawa, I P. A.; Suasta, I M.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 2 (2024): Vol. 12 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian asam amino lisin dan metionin melalui air minum terhadap produksi telur ayam ras. Penelitian ini dilakukan di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali selama 4 minggu. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu setiap ulangan yang terdiri dari 10 ekor ayam. Adapun perlakuan tersebut adalah : P0 (ayam yang diberi air minum tanpa pemberian lisin dan metionin), P1 (ayam yang diberi air minum dengan tambahan 0,1% lisin dan metionin), P2 (ayam yang diberi air minum dengan tambahan 0,15% lisin dan metionin), dan P3 (ayam yang diberi air minum dengan tambahan 0,2% lisin dan metionin). Variabel yang diamati diantaranya adalah konsumsi ransum, konsumsi air minum, Hen Day Production (HDP), berat telur total, berat telur rata-rata, dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi ransum, konsumsi air minum, dan Hen Day Production (HDP) pada ke empat perlakuan secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Untuk berat telur total pada P0 458,12 gram, sedangkan P1, P2, dan P3 masingmasing 22,4%, 11,8%, dan 5,21% nyata lebih tinggi (P<0,05). Berat telur rata-rata pada P0 adalah 55,53 gram, sedangkan P1, P2, dan P3 masing-masing 9,13%, 5,47%, dan 2,08% nyata lebih tinggi (P<0,05). Nilai konversi ransum pada P0 adalah 2,13, sedangkan P1, P2, dan P3 masing-masing 15,1%, 6,5%, dan 2,4% nyata lebih tinggi (P<0,05). Berdasarkan hasil pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian asam amino lisin dan metionin melalui air minum menghasilkan hasil yang sama atau tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum, konsumsi air minum, dan Hen Day Production (HDP), meningkatkan berat telur total, dan berat telur rata-rata serta menurunkan angka konversi ransum.
KUALTIAS FISIK DAN KANDUNGAN NUTRIEN DUCKWEED DIFERMENTASI Saccharomyces cerevisiae I N. A. M., Diarta; Suryani, N. N.; Suarna, I W.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 2 (2024): Vol. 12 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan kandungan nutrien duckweed yang difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Materi penelitian adalah duckweed yang diperoleh dengan cara pengambilan di alam, duckweed difermentasi menggunakan starter Saccharomyces cerevisiae yang difermentasikan selama 72 jam (3 hari). Rancangan yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan membandingkan duckweed tidak difermentasi (DNF) dan duckweed yang difermentasi (DF). Variabel yang diamati pada sifat fisik yaitu densitas, daya serap air, daya larut air, dan kandungan nutrien yaitu bahan kering, bahan organik, abu, protein kasar, serat kasar. Hasil penelitian menujukkan densitas DNF dan DF masingmasing 321,58 g/ml dan 456,10 g/ml, daya serap air 3,89% dan 3,49%, daya larut air 8,71% dan 13,69%, bahan kering 90,74% dan 92,90%, bahan organik 68,41% dan 74,29%,abu 31,58% dan 25,70%, protein kasar 22,17% dan 23,87%, serat kasar 17,60% dan 16,24%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa duckweed yang difermentasi mampu meningkatkan densitas, daya larut air, bahan kering, bahan organik, dan protein kasar, namun adanya penurunan terhadap daya serap air, abu dan serat kasar.