Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Perceived Organizational Support (POS) terhadap Burnout pada Karyawan di Kabupaten Karawang Rahmawati, Meida; Rohayati, Nita; Pratomo, Yuwono
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 02 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i02.2186

Abstract

Perceived Organisational Support (POS) merujuk pada sejauh mana individu dalam organisasi meyakini bahwa perusahaan menghargai peran yang mereka berikan serta memperhatikan kesejahteraan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak dari Dukungan Organisasi yang Dirasakan Perceived Organisational Support (POS) terhadap seberapa pengaruh Burnout antara pegawai di Kabupaten Karawang. Pendekatan kuantitatif dan desain penelitian asosiatif kausal dipergunakan dalam metode penelitian ini. Pengambilan data penelitian ini sebanyak, 156 responden. Alat yang digunakan untuk menilai Perceived Organisational Support (POS) adalah Survei Dukungan Organisasi yang Dipersepsikan, sedangkan Inventori Burnout Survei (MBI-GS) digunakan untuk mengukur tingkat Burnout. Analisis regresi linear sederhana menunjukkan nilai signifikansi 0,000 dibawah dari 0,05, yang menyebabkan hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwasannya adanya pengaruh yang signifikan dari Perceived Organisational Support (POS) terhadap Burnout antara karyawan  di Kabupaten Karawang.
Tren Pembelian Scarlett Whitening Di Kabupaten Karawang, Bagaimana Social Media Mengubah Keputusan Konsumen? Rahmawati, Vika; Rohayati, Nita; Pratomo, Yuwono
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 02 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i02.2272

Abstract

Pada saat ini kemajuan globalisasi yang terus berlangsung tidak diragukan lagi memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan zaman dan menyebabkan perubahan pada kehidupan manusia. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sociaI media marketing terhadap keputusan pembeIian scarIett whitening di Kabupaten Karawang. Pengambilan sampeI yang diIakukan daIam peneIitian ini menggunakan teknik nonprobabiIity sampIing dengan cara teknik convenience sampling. JumIah sampeI yang digunakan sebanyak 127 orang berdasarkan perhitungan menggunakan rumus lemeshow. Uji hipotesis yang dipakai adaIah uji regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS versi 24 for windows. Berdasarkan hasiI anaIisis data rumusan masaIah menyatakan bahwa ada pengaruh sociaI media marketing terhadap keputusan pembeIian scarIett whitening di Kabupaten Karawang dengan nilai signifikan (Sig.) sebesar 0,000 lebih kecil dari ˂ 0,005, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima H₀ ditolak.  Adapun nilai R Square sebesar 0,731 yang berarti bahwa social media marketing berpengaruh sebesar 73,1% terhadap keputusan pembeIian dan 23,9% dipengaruhi oIeh variabeI-variabeI Iain yang tidak termasuk daIam peneIitian ini.
POSITIVE SELF-TALK: STRATEGI PSIKOEDUKASI UNTUK MENGHADAPI PUBERTAS DAN TANTANGAN EMOSIONAL Nita Rohayati
JURNAL BUANA PENGABDIAN Vol. 7 No. 2 (2025): JURNAL BUANA PENGABDIAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/z4zkzz07

Abstract

Masa pra-remaja merupakan periode transisi penting yang ditandai oleh perubahan fisik, emosional, dan sosial yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis siswa. Artikel ini memaparkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa psikoedukasi yang bertujuan untuk membantu siswa kelas 6 SD mengenali emosi mereka, memahami perubahan pubertas, dan menerapkan positive self-talk sebagai strategi untuk membangun kepercayaan diri dan ketahanan emosional. Program ini terdiri dari tiga sesi utama: memahami pubertas, mengenali emosi dan pengaturan diri, serta latihan positive self-talk. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap perubahan pubertas dan pengelolaan emosi, dengan 85% siswa mampu mengenali perubahan yang dialami dan 90% menggunakan kartu afirmasi positif dalam kehidupan sehari-hari. Program ini memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan emosional siswa, meskipun memiliki keterbatasan pada durasi pelaksanaan. Artikel ini merekomendasikan pengembangan modul pendamping untuk mendukung keberlanjutan program di lingkungan sekolah dan rumah. 
Hidup Berkualitas di Tengah Krisis: Peran Gratitude dan Social Support pada Well-Being Dewasa Awal Rohayati, Nita; Pertiwi, Anggun; Lestiani, Reni
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 03 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i03.2545

Abstract

Masa dewasa awal ialah periode yang rentan mengalami krisis seperempat abad, yaitu krisis kehidupan yang sering dialami oleh individu usia 18 hingga 40 tahun yang dapat berdampak pada penurunan well-being. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran gratitude dan social support terhadap well-being pada dewasa awal yang mengalami krisis kehidupan di Karawang. Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kausalitas dan melibatkan 204 partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Tiga skala psikologi digunakan untuk mengumpulkan data yaitu: Gratitude Questionnaire-Six Item Form (GQ-6) digunakan untuk mengukur gratitude, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) mengukur social support dan PERMA-Profiler mengukur well-being. Analisis data menggunakan regresi linear berganda menunjukkan bahwa gratitude dan social support secara simultan berpengaruh signifikan terhadap well-being sebesar 54,2%. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa gratitude dan social support berperan terhadap peningkatan well-being dewasa awal yang mengalami krisis kehidupan. Tingginya gratitude akan dapat meningkatkan well-being, kemudian social support yang diperoleh dapat meningkatkan well-being pada dewasa awal yang mengalami krisis kehidupan.
Godaan Paylater: Peran Kontrol Diri Dan Fomo Dalam Pembelian Impulsif Pangesti, Galuh Indriya; Rohayati, Nita; Pertiwi, Anggun
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 6, No 3 (2025): J-P3K
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v6i3.830

Abstract

Pembelian impulsif merupakan perilaku berbelanja secara langsung tanpa adanya perencanaan dan pertimbangan yang kuat, disertai perasaan senang dan puas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kontribusi kontrol diri dan FoMO dalam kaitannya dengan kecenderungan pembelian impulsif pada pengguna paylater. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain kausal, data dikumpulkan dari 385 orang dewasa awal dengan rentang usia 18–40 tahun melalui teknik sampling insidental. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah skala Brief Self-Control Scale (BSCS), Fear of Missing Out Scale (FoMOS), dan Impulse Buying Tendency Scale (IBTS). Hasil uji simultan menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berada di bawah batas 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa kontrol diri dan FoMO berpengaruh negatif terhadap perilaku pembelian impulsif pada pengguna paylater. Dengan kata lain, semakin rendah kontrol diri dan semakin tinggi FoMO, maka semakin besar kecenderungan pembelian impulsif. Kedua variabel ini berkontribusi sebesar 37,4% terhadap perilaku tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri dan FoMO dapat memengaruhi secara signifikan terhadap pembelian impulsif dewasa awal pengguna layanan paylater.
Scroll atau Belajar? Tugas Tertunda di Era Digital: Pengaruh Kontrol Diri dan Adiksi Media Sosial pada Prokrastinasi Akademik Remaja Awal Lintang Puspitasari; Nita Rohayati; Devi Marganing Tyas
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 4 No. 4 (2024): Desember: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v4i4.8199

Abstract

The increasing use of social media among adolescents often results in procrastination. Adolescents with low self-control tend to have difficulty managing study time, are easily distracted by social media notifications, and ultimately lead to academic procrastination. This study aims to determine the effect of self-control and social media addiction on academic procrastination in early adolescents. This study involved 400 early adolescents aged 13 to 17 years in Karawang Regency using a quantitative approach and causality design. The instruments used were the Brief Self-Control Scale (BSCS), the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS), and the Academic Procrastination Scale (APS). Data analysis was performed using multiple linear regression with the help of SPSS version 26. The results of the simultaneous test showed that self-control and social media addiction together had a significant effect on academic procrastination (p = 0.000 < 0.05). The partial test results showed that self-control significantly influenced academic procrastination (p = 0.000 < 0.05) and social media addiction also significantly influenced academic procrastination (p = 0.000 < 0.05). These findings emphasize the importance of strengthening self-control and reducing dependence on social media as strategies to reduce academic procrastination in early adolescents.
Gambaran Pet Attachment pada Pemilik Kucing di Karawang: Analisis Statistik Deskriptif Yolanda Alvinly Salim; Nita Rohayati; Anggun Pertiwi
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 4 No. 4 (2024): Desember: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v4i4.8228

Abstract

In the modern era, keeping pets is no longer merely a recreational activity but is also considered to provide significant psychological benefits. Interactions between humans and pets can foster feelings of happiness, a sense of belonging, and improved overall quality of life. One concept that explains this phenomenon is attachment, an emotional bond typically formed between individuals, but which can also occur between pet owners and their animals. This study aims to describe the emotional attachment between cat owners and their pets in the Karawang region. The research employed a quantitative descriptive method with an incidental sampling technique. A total of 110 cat owners residing in Karawang, aged between 18 and 40 years, participated in this study. The instrument used to measure attachment was the Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS). Data analysis included descriptive statistics, cross-tabulation analysis, and an independent samples t-test to identify differences in attachment levels based on gender. The findings revealed that the majority of respondents exhibited a high level of emotional attachment to their cats. Specifically, 98 respondents (89.1%) were categorized as having a high attachment level, while the remaining participants showed a moderate level of attachment. Further analysis on gender differences provided additional insights into patterns of pet attachment among cat owners in Karawang. These findings emphasize that cats are not only pets but also serve as an important source of emotional support and psychological well-being for their owners.
QUARTER LIFE CRISIS PADA DEWASA AWAL DI KARAWANG: PERAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS Virgiawan, Ichsan; Rohayati, Nita; Ibad, M. Choirul
Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam Vol 8, No 3 (2025): November
Publisher : PABKI (Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59027/alisyraq.v8i3.1069

Abstract

Quarter life crisis (QLC) merupakan fase transisi dari remaja ke dewasa awal yang menimbulkan tantangan identitas dan emosional, ditandai oleh perasaan cemas, kebingungan, ketidakpastian, dan ketidakstabilan menghadapi masa depan. Mengidentifikasi pengaruh dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis pada dewasa awal yang mengalami QLC di Karawang, merupakan tujuan penelitian ini. Metode kuantitatif dipakai pada studi ini dengan desain asosiatif. Sebanyak 127 individu berusia 18–40 tahun menjadi sampel pada studi ini dengan melalui purposive sampling. Instrumen pengukuran yang dipergunakan meliputi Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk dukungan sosial dan Ryff’s Scale of Psychological Well-Being (RPWB) untuk kesejahteraan psikologis. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (uji Kolmogorov-Smirnov, p = 0.200) dan hubungan antara variabel bersifat linear (p = 0.896). Dengan nilai F dan p masing-masing 17.750 dan 0.001, uji hipotesis ini menunjukkan pengaruh dukungan sosial yang signifikan pada kesejahteraan psikologis. Koefisien determinasi (R²) dengan nilai 0.124 memperlihatkan bahwa kontribusi dukungan sosial sebesar 12.4% terhadap variabel kesejahteraan psikologis, selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain, khususnya kondisi sosial ekonomi seperti pengangguran, yang dapat memperkuat tekanan psikologis dalam fase QLC.  
Generation Z and Doom Spending: A Predictor Analysis Hedonic Shopping Motivation and Fomo Towards Impulsive Buying in The Digital Era Darojatu Rafiah, Azzahra; Nita Rohayati; Anggun Pertiwi
Psikoislamedia: Jurnal Psikologi Vol. 10 No. 2 (2025): PSIKOISLAMEDIA: JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v10i2.32032

Abstract

Generation Z tends to impulsively due to the influence of social media, digital advertising, and lifestyle pressures. This phenomenon is known as doom spending, which is consumptive behavior triggered by anxiety, pessimism about the future, and negative emotional impulses. Factors contributing to this behavior include hedonic shopping motivation and Fear of Missing Out (FoMO). This study aims to analyze the influence of hedonistic motivation and FoMO on impulsive purchasing. The method used is quantitative with an associative causal design. The research subjects are Generation Z (born between 1997 and 2012), comprising 204 participants selected using Cohen's formula and collected via Google Forms. The instruments used were the Impulse Buying Tendency Scale, the Hedonic Shopping Motivations Scale, and the Fear of Missing Out Scale. Data analysis was conducted using SPSS 26.0 with multiple linear regression tests. The results of the study indicate that hedonistic motivation and FoMO significantly influence impulsive purchasing, contributing 55.7%.  Keywords: Doom Spending, FoMO, Generation Z, Hedonic Shopping Motivation, Impulsive Buying
KESEJAHTERAAN KARYAWAN PADA PEGAWAI DI KARAWANG: PERAN PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DAN PSYCHOLOGY CAPITAL Nita Rohayati; Yulyanti Minarsih; Yusni Wisata
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 9 No. 1 (2024): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v9i1.7750

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Perceived Organizational Support (POS) dan Psychology Capital (PsyCap) dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan di Karawang, sebuah daerah industri dengan jumlah perusahaan yang signifikan. Metode kuantitatif digunakan dengan survei sebagai alat pengumpulan data yang melibatkan karyawan dari berbagai sektor industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychology capital dan perceived organizational support memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kesejahteraan karyawan, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Nilai Rsquare sebesar 0,755; artinya sebesar 75,5% variasi pada kesejahteraan di tempat kerja dipengaruhi oleh psychology capital dan perceived organizational support, sisanya sebesar 24,5% disebabkan oleh variabel lain yang tidak diukur dalam penelitian ini. Karyawan yang merasakan dukungan organisasi yang tinggi dan memiliki tingkat psychology capital yang tinggi cenderung memiliki kepuasan kerja, komitmen yang lebih tinggi, serta tingkat stres yang lebih rendah. Kombinasi antara POS dan PsyCap dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi kesejahteraan karyawan. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan di Karawang meningkatkan dukungan terhadap karyawan dan mengembangkan program-program untuk memperkuat PsyCap guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik dan lebih produktif. This study aims to explore the role of Perceived Organizational Support (POS) and Psychology Capital (PsyCap) in enhancing employee well-being in Karawang, an industrial area with a significant number of companies. A quantitative method used a survey as the data collection tool, involving employees from various industrial sectors. The results indicate that both POS and PsyCap have a significant positive impact on employee well-being, with a significance value of 0.000. R-square value is 0.755, meaning that 75.5% of the variation in workplace well-being is influenced by perceived organizational support and psychology capital, while the remaining 24.5% is due to other unmeasured variables in this study. Employees who perceive high organizational support and possess high levels of PsyCap tend to have higher job satisfaction, and commitment, and lower levels of stress. The combination of POS and PsyCap can create a conducive work environment for employee well-being. This study suggests that companies in Karawang should enhance their support for employees and develop programs to strengthen PsyCap to create a better and more productive work environment.