Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG MIKROALGA Chlorella vulgaris PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) Yusran Yusran; Wa Iba; La Ode Baytul Abidin; Muhaimin Hamzah; Agus Kurnia
Jurnal Media Akuatika Vol 7, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v7i2.24881

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, kelangsungan hidup, efisiensi pakan dan retensi protein kepiting bakau (Scylla serrata) yang diberi pakan komersial dengan substitusi tepung mikroalga C. vulgaris (TMCv). Penelitian ini menggunakan 5 perlakuan yaitu substitusi pakan komersil dengan 0, 25, 50, 75, dan 100% TMCv. Kepiting bakau dengan berat awal berkisar pada 70-90 gram dipelihara selama 45 hari dengan kepadatan 1 ekor/ruang. Parameter yang diukur adalah tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan mutlak, rasio konversi pakan, efisiensi pakan, dan kualitas air. Tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau adalah 100% pada semua perlakuan.  Laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan mutlak, rasio konversi pakan, dan  efisiensi pakan kepiting bakau menunjukkan hasil yang lebih baik pada perlakuan pakan 100% TMCv dibandingkan dengan pakan 0, 25, 50, 75% TMCv. Perlakuan 0% TMCv atau pakan komersil 100% mendapatkan nilai terendah dari seluruh parameter yang diamati. Penelitian ini mengindikasikan bahwa pemberian pakan 100% TMCv sangat efisien dibandingkan dengan menggunakan pakan komersial atau pakan substitusi TMCv untuk pertumbuhan kepiting bakau. Kata kunci: Chlorella vulgaris, kepiting bakau, pertumbuhan
Potensi Pengobatan Ekstrak Daun Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) pada Ikan Lele (Clarias gariepinus) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila La Ode Baytul Abidin; Indriyani Nur; Muhaimin Hamzah
Jurnal Media Akuatika Vol 7, No 3 (2022): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v7i3.26557

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi penggunaan ekstrak daun tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dalam mengobati ikan lele (Clarias gariepinus) yang terinfeksi baktreri Aeromonas hydrophila.  Penelitian ini mengaplikasikan perlakuan perendaman ikan terinfeksi penyakit ke dalam ekstrak daun kumis kucing pada konsentrasi 1, 2, dan 3 ppt serta kontrol atau tanpa perendaman ekstrak tersebut. Parameter yang diukur adalah prevalensi, tingkat kelangsungan hidup, persentase hematokrit, dan jumlah leukosit. Perlakuan perendaman ekstrak daun kumis kucing pada dosis 2 ppt memberikan hasil terendah pada parameter prevalensi dan memberikan hasil tertinggi pada tingkat kelangsungan hidup, persentase hematokrit tertinggi serta signifikan dibandingkan perlakuan lainnya. Pengamatan pada jumlah leukosit menunjukkan dampak perlakuan yang tidak signifikan antar seluruh perlakuan namun nilainya lebih tinggi dibandingkan kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan perendaman ekstrak daun kumis kucing dosis 2 ppt merupakan dosis terbaik untuk mengendalikan penyakit infeksi bakteri A. hydrophila yang menginfeksi ikan lele. Kata kunci: Orthosiphon stamineus, Aeromonas hydrophila, Clarias gariepinus
RENOVASI ALAT SERO UNTUK MENGATASI KELANGKAAN PAKAN PADA BUDIDAYA LOBSTER LAUT DI DESA TAPULAGA KABUPATEN KONAWE Wellem Hendrik Muskita; Agus Kurnia; Rahmad Sofyan Patadjai; La Ode Baytul Abidin; Laode Muhamad Hazairin Nadia; Asriyana Asriyana; Muhaimin Hamzah; Hasnia Arami; Muslim Tadjudah; Abdullah Abdullah
Jurnal Abdi Insani Vol 9 No 4 (2022): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v9i4.814

Abstract

Kegiatan budidaya lobster yang dilakukan oleh nelayan di Desa Tapulaga masih menghadapi kendala utama yakni kelangkaan pakan segar ikan rucah utamanya pada musim angin barat. Kondisi ini sangat menyulitkan untuk penyediaan pakan segar untuk diberikan ke lobster peliharaan nelayan. Oleh karena itu para nelayan mengandalkan hasil tangkapan ikan dari sero sebagai sumber pakan budidaya lobster. Namun dari hasil pemantauan kami di lokasi Desa Tapulaga menunjukkan bahwa alat tangkap sero di desa tersebut sudah banyak yang rusak. Tujuan pengabdian ini adalah membantu nelayan dalam perbaikan alat tangkap sero sehingga hasil tangkapan ikan yang dapat diberikan langsung dan kondisinya segar ke lobster meningkat. Metode kegiatan meliput pengamatan langsung tingkat kerusakan sero di Desa Tapulaga. Kemudian penyuluhan, penentuan waktu renovasi dan kegiatan renovasi sero. Selanjutnya adalah evaluasi perbaikan alat sero melalui jumlah hasil tangkapan ikan. Program kegiatan yang dilakukan mendapat respon yang positif yang ditunjukkan dengan antusiasme dan partisipasi masyarakat yang luar biasa dalam pelaksanaan kegiatan. Renovasi sero diaplikasikan dengan patok kayu yang rusak dengan patok kayu baru sebanyak 244 buah dan panjang jaring baru yang dipasang untuk mengganti jaring lama yang rusak sepanjang 60 meter dengan tinggi 3 meter. Hasil ikan yang tertangkap setelah dilakukannya perbaikan sero menjadi meningkat baik jenis maupun jumlah ikannya. Bahwasanya antusiasme dan respon masyarakat nelayan Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Sulawesi Tenggara sangat tinggi dan sangat terbantu dengan kegiatan pengabdian ini. Hasil tangkapan ikan di sero lebih meningkat baik jumlah maupun spesiesnya dengan kegiatan perbaikan (renovasi) alat tangkap sero dibanding sebelumnya. Ikan yang tertangkap saat fase bulan purnama lebih banyak dibanding ikan yang tertangkap saat bulan gelap.
Histologi Usus Dan Hati Juvenil Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Yang Diberi Pakan Berbahan Tepung Ampas Minyak Biji Kapuk (Ceiba Petandra) Kasrun Ijal; Yusnaini Yusnaini; La Ode Baytul Abidin; Agus Kurnia
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 3 (2021): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.225 KB) | DOI: 10.33772/jma.v6i3.17984

Abstract

Tepung ampas minyak biji kapuk (TAMBK) mengandung protein sebesar 27,32% sehingga dapat menjadi bahan pakan ikan, tetapi biji kapuk mengandung gossypol dan asam siklopropenat yang bersifat antinutrisi. Sehingga penggunaan tepung ini untuk mensubstitusi tepung kedelai dapat menurunkan kualitas pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak substitusi TK dengan TAMBK dengan dosis yang berbeda terhadap histologi usus dan hati pada juvenil ikan bandeng (Chanos chanos). Empat jenis pakan dibuat berdasarkan subtitusi tepung kedelai (TK) dengan tepung ampas minyak biji kapuk (TAMBK) yang terdiri atas :100% TK ; 0% TAMBK (pakan A),  75% TK : 25% TAMBK (pakan B), 50% TK : 50% TAMBK (pakan C), dan 25% TK : 75% TAMBK (pakan D). Sebanyak 120 ekor juvenil bandeng (rata-rata bobot awal: 0,80±1,89 g) dimasukkan ke dalam 12 akuarium (10 ekor/akuarium). Selama pemeliharaan, pakan diberikan 5% dari bobot tubuh per hari selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 25-75% TAMBK dalam pakan menyebabkan abnormal pada organ usus yaitu vili usus menebal dan memendek, nekrosis vili serta peningkatan jumlah dan ukuran sel goblet. Jenis kerusakan pada organ hati yang tampak adalah bile stagnation atau stagnasi empedu, blood congestion dan  melanomarophages centre. Kelangsungan hidup hewan uji adalah 40-60%. Maka disarankan pemberian TAMBK dibatasi (<25%) karena dapat merusak organ usus dan hati juvenile ikan bandeng.Kata Kunci: tepung ampas minyak biji kapuk, histologi, juvenil bandeng.
In Vitro Phytochemical and Inhibitory Potential Test of Bawang Hutan Bulb Extract (Eleutherine palmifolia) on Vibrio harveyi WAODE MUNAENI; ARMAN PARIAKAN; LAODE BAYTUL ABIDIN; MUNTI YUHANA
Microbiology Indonesia Vol. 11 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.507 KB) | DOI: 10.5454/mi.11.3.1

Abstract

The objectives of this study were to analyze phytochemical content of bawang hutan bulbs extract (Eleutherine palmifolia) and to test the inhibitory potential of bawang hutan bulbs extract on the growth of Vibrio harveyi bacteria at different doses. This study was conducted in March-May 2017 in Testing Laboratory of Fisheries and Marine Science Faculty of Halu Oleo University and Laboratory of Fish Health of Aquaculture Department of Fisheries and Marine Science Faculty and Laboratory of Biopharmaca of Bogor Agricultural University. Test parameter included: (1) Phytochemical test through the method of color visualization, (2) Inhibitory potential test using two methods namely agar diffusion and co-culture. Treatment of dose consisted of positive control/K+ (Chloramphenicol 30 mg/ml), negative control/K- (Sterile Aquadest) and treatment of extract included A (20 mg/ml), B (40 mg/ml), C (60 mg/ml), D (80 mg/ml). Qualitatively, result of phytochemical test showed that bawang hutan bulbs extract contained flavonoid, tannin, saponin, quinone, steroid and triterpenoid compounds. Result of inhibitory potential test indicated that treatment D obtained the highest inhibitory potential, while the minimum inhibitory potential was found in treatment A. The best co-culture test result was also found in treatment D, in which 24 hours after co-culture was performed, no V. harveyi colonies (total bacteria of 0 CFU/mL) were found. Bawang hutan bulbs extract in this study was able to inhibit the growth of V. harveyi.
Edukasi Pelestarian Ekosistem Mangrove dan Pelatihan Pembuatan Stik Berbahan Dasar Mangrove di Kelurahan Bungkutoko Kota Kendari Oetama, Dedy; Haya, La Ode Muhammad Yasir; lawelle, Sjamsu Alam; Abidin, La Ode Baytul; Haslianti, Haslianti; Rahmadani, Rahmadani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Terapan (JPMIT) Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Vokasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpmit.v5i2.44854

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan kawasan yang bernilai penting dalam aspek ekologi maupun ekonomi. Pembuatan stik mangrove merupakan teknik pengolahan hasil tanaman mangrove yang dinilai dapat memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekaligus melestarikan tanaman mangrove. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terkait manfaat dan pelestarian ekosistem mangrove serta melatih masyarakat membuat stik mangrove. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Bungkutoko, Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara pada bulan Agustus 2023. Kegiatan dilaksanakan dengan metode sosialisasi/pemaparan materi dan diskusi serta pelatihan/praktik langsung. Kegiatan ini telah berhasil mengedukasi masyarakat tentang manfaat dan pelestarian ekosistem mangrove hingga 85% dari jumlah peserta. Pada kegiatan lainnnya, masyarakat yang telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam membuat stik mangrove mencapai 81% dari total peserta. Berdasarkan hal tersebut maka kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dapat dikategorikan berhasil mengedukasi masyarakat Kelurahan Bungkutoko.
PEMBUATAN SERO UNTUK PENINGKATAN HASIL TANGKAPAN BAGI NELAYAN DI DESA WAWOBUNGI KECAMATAN LALONGGASUMEETO KABUPATEN KONAWE Arsal, La Ode Muhammad; Kamri, Syamsul; Balubi, Abdul Muis; Nurgayah, Wa; Abdullah, Abdullah; Abidin, La Ode Baytul; Patadjai, Andi Besse; Bahtiar, Bahtiar
Bina Bahari Vol 3, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA Universitas Tanjungp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/binabahari.v3i2.61

Abstract

Desa Wawobungi Kecamatan Lalonggasumeeto Kabupaten Konawe memiliki potensi perikanan tangkap yang sangat melimpah, yang belum dimanfaatkan secara optimal, karena keterbatasan teknologi alat tangkap. Alat tangkap yang umum digunakan selama ini adalah pancing, rawai, dan jaring insang, yang diperasikan menggunakan perahu bermotor, dan biaya operasionalnya kurang ekonomis bagi nelayan setempat. Hasil tangkapan yang diperoleh pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga diperlukan alat tangkap ikan yang sederhana namun tetap menguntungkan bagi nelayan. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan solusi melalui program pengabdian kepada masyarakat, dengan memberikan bimbingan teknis pembuatan alat tangkap sero kepada nelayan. Beberapa keunggulan alat tangkap sero adalah mudah dioperasikan karena alat tangkap ini berupa perangkap pasif yang diletakkan di daerah pasang surut. Ikan memasuki perangkap sero sebanyak dua kali sehari setiap air surut. Dibandingkan dengan alat tangkap lain, nelayan harus pergi ke area fishing ground yang jauh dari wilayah pesisir, dan hasil yang diperoleh pun tidak optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan metode demonstrasi. Nelayan secara langsung dibimbing oleh tim pengabdian mempraktikkan teknik pembuatan sero, dan cara pengoperasiannya. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan tradisional yang ada di Desa Wawobungi.
Immunostimulation of Nile Tilapia Through the Provision of Synbiotic Feed (Eleutherine bulbosa and Probiotic) to Prevent Motile Aeromonas Septicemia (MAS) Disease Hasmin; Hamzah, Muhaimin; Abidin, La Ode Baytul
Journal of Fish Health Vol. 5 No. 3 (2025): Journal of Fish Health
Publisher : Aquaculture Department, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jfh.v5i3.7650

Abstract

Motile Aeromonas Septicemia (MAS) is one of the bacterial diseases that attacks and causes mass death of nile tilapia. Disease control in fish farming using synthetic antibiotics has caused problems in aquaculture, such as bacterial resistance to antibiotics, drug residues in fish, and water pollution. Therefore, alternative measures to control MAS that are safe and environmentally friendly, such as the application of immonostimulant that use organic ingredients, are needed. This research aims to determine potency of immunostimulation of nile tilapia trough feeding of synbiotic feed namely prebiotic Eleutherine bulbosa powder (Ebp) and probiotic containing Lactobacillus casei and Saccharomyces cerevisiae as for prevention MAS disease. The fish were reared for 21 days, in reared for the first 14 days, the fish were given synbiotic feed then for the next 7 days they were given feed without synbiotics. The fish were challenged with Aeromonas hydrophila on day 15th. Experimental design used was completely randomized design with four treatments: 0 g Ebp and 0 ml probiotics in 1 kg of feed (synbiotic free feed), 7.5 g, 10 g, and 12.5 g Ebp each with 15 ml probiotics in 1 kg of feed. The results showed that feeding the fish with synbiotic feed, especially the treatment Ebp12.5, give significantly different results on parameters prevalence, fish recovery, survival rate of the fish test. This research concluded that treatment of Ebp 12.5 was the best dosage of immunostimulant to prevent MAS disease in nile tilapia.
Biochemical responses of painted spiny lobster Panulirus versicolor fed with molluscs meal and fish meal Kurnia, Agus; Hamzah, Muhaimin; Idris, Muhammad; Muskita, Wellem Henrik; Abidin, La Ode Baytul; Sabilu, Kadir; Yusnaini, Yusnaini; Balubi, Abdul Muis; La Usaha, La Usaha; Fatmawati, Famawati; Razak, La Ode Abdul; Khairunnisa, Khairunnisa
Aceh Journal of Animal Science Vol 9, No 3 (2024): December 2024
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/ajas.9.3.42131

Abstract

Molluscs are one of the most preferred ingredients for marine lobster feed because the mollusc has a higher protein content. Therefore, this material has the potential to substitute the fish meals and reduce the cost for feeding lobsters. The objective of the present study was to investigate digestive enzyme activities and growth performance of painted spiny lobsters fed with a combination of mollusc meal and fish meal in the diet. Four experimental diets were formulated to contain 20% sardine fish meal and 20% mackerel fish meal (Diet A). 10% Telescopium muscle meal (TMM) + 15% golden snail meal (GSM) + 15% scallops muscle meal (SMM) (Diet B). 15% TMM + 10% GSM + 15% SMM (Diet C) and 15% TMM + 15% GSM + 10% SMM (Diet D). A total of 24 juvenile painted spiny lobsters were distributed into twelve plastic tanks (two lobsters/tank) with a size of 60 45 60 cm and reared in a recirculating system for a 50-day rearing period. The lobster was fed only one time a day (05:00 pm) with a dosage of 3% biomass weight. The results showed that the enzyme activities of lobsters fed with combined mollusc meals were higher than the enzyme activity in the lobsters fed with the fish meal combination diet. The weight gain of the painted spiny lobster fed with mollusc meal was higher than the lobster fed with a fish meal diet. Based on results of enzyme activities and growth performance. It was concluded that the combination of mollusc meal in the formulated diet was more suitable than the combination of fish meal for optimum enzyme activities and growth performance of painted spiny lobster
Amino acid profiles and growth performance of spiny lobster Panulirus ornatus fed on combination of three mollusk meals Kurnia, Agus; Muskita, Wellem Henrik; Hamzah, Muhaimin; Abidin, Laode Baytul; Ruslaini, Ruslaini; Suaida, Suaida; Amanda, Rahel
Aceh Journal of Animal Science Vol 9, No 1 (2024): February 2024
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/ajas.9.1.35793

Abstract

Spiny lobster is an economically important marine fish commodity that has a high price and one of the important protein source for people worldwide. The quality of the protein is strongly depending on the amino acid compositions and concentrations. This study aimed to determine of amino acid profiles and growth of spiny lobster (Panulirus ornatus) fed with the diet contained combination of three mollusk meal. Four experimental diets were prepared to contain of 40% fish meal,FM (Diet A), 15% telescopium meal, + 15% gold snail meal + 10% scallops meal (Diet B), 15% telescopium meal + 10% gold snail meal + 15% scallops meal (Diet C), 10% telescopium meal + 15% gold snail meal + 15% scallops meal (Diet D) in the test diet. A total of 36 spiny lobster juvenile (initial weight : 120 15,38 g) were distributed into twelve plastic tanks (three lobster/ tank ) with sized of 605050 cm. Feeding the lobster two times a day (08.00 a.m and 05.00 p.m) in dosage of 8% total biomass weight for 60 days of rearing period. The experiment was designed by using completely randomized design with four treatments and three replications. Collecting data included of weight gain, survival rate, and amino acid content in the fish body. The results showed that feeding the lobster with different feed test was significantly different in weight gain of spiny lobster. The weight gain of spiny lobster fed with combination of mollusk meal had higher than the feed contain fish meal. The highest amount level of amino acid in the lobster body was leucine , while the lowest one was tryptophan. The types and total number of some amino acid profiles in the fish body was similarly with amino acid profile in the diets which contained mollusk meal. This study concluded that the amino acid profiles in the diet contained mollusk meal were suitable for requirement to improve the growth of spiny lobster.