Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Karakteristik Gluten Free Cookies Fortifikasi Hidrolisat Protein Ikan Lele Maulani, Aghitia; Poernomo, Achmad; Lisyana, Heni; Sumandiarsa, I Ketut
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v19i1.991

Abstract

Pada umumnya cookies yang biasa ditemukan terbuat dari tepung terigu. Tepung terigu mengandung 80% gluten dari total protein yang terkandung. Gluten harus dihindari oleh orang yang alergi gluten dan penyandang celiac disease. Penggantian penggunaan tepung terigu dengan tepung modified cassava flour (mocaf) merupakan salah satu cara agar konsumen yang sensitif terhadap gluten dapat mengonsumsi cookies. Namun demikian, tepung mocaf mempunyai kandungan protein yang rendah. Oleh karena itu, diperlukan tambahan sumber protein lain seperti hidrolisat protein ikan (HPI) lele. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui formulasi penambahan HPI terbaik pada gluten free cookies. Sampel cookies dibuat dengan variasi bahan utama tepung terigu sebagai kontrol, tepung mocaf tanpa penambahan HPI, dan tepung mocaf dengan penambahan HPI 1%, 2%, dan 3%. Selanjutnya, dilakukan uji tingkat kesukaan (hedonik) oleh 30 panelis tidak terlatih, uji fisik, proksimat, dan mikrobiologi. Gluten free cookies terpilih yakni cookies dengan penambahan HPI 3%, dengan nilai tingkat kesukaan secara keseluruhan 7,30. Cookies ini memiliki kadar air 2,54±0,00%, abu 1,87±0,00%, lemak 30,55±0,01%, protein 4,38±0,00%, dan karbohidrat 60,66±0,02%. Nilai uji fisik cookies terbaik untuk parameter bake loss sebesar 17,07±0,52% dan spread ratio 7,09±1,01 cm, serta parameter mikrobiologi Angka Lempeng Total (ALT) 2.500 koloni/g.  AbstractCookies which are commonly found are made from wheat flour contains 80% gluten from the total protein contained. Additionally, gluten should be avoided by people with gluten allergies and celiac disease. Replacing the use of wheat flour with modified cassava flour (mocaf) is a way for consumers who are sensitive to gluten to consume cookies. The present research was conducted to find out the best Catfish Protein Hydrolysate (CPH) addition on gluten free cookies. The gluten free cookies were made with variations of the addition of CPH 1%, 2% and 3%, and then tested hedonically by 30 untrained panelists and characterized from the results of physical, proximate, and microbiological properties. Gluten free cookies with the addition of CPH 3% was the best formula with an overall liking value 7.30. Based on physical test for the bake loss of this cookies is 17.07±0.52% and spread ratio 7.09±1.01. Based on proximate test, the moisture content is 2.54±0.00%, ash 1.87±0.00%, fat 30.55±0.01%, protein 4.38±0.00%, and carbohydrates 60.66±0.02%, while the microbiological test showed ALT value of 2.500 colonies/g.
Kandungan senyawa fitokimia dan aktivitas antifungal ekstrak Padina sp. menggunakan ultrasound assisted extraction terhadap Aspergillus flavus: Screening of phytochemical compounds and antifungal activity of Padina sp. extracted by ultrasound assisted extraction against Aspergillus flavus Hidayah, Nur; Sumandiarsa, I Ketut; Alqadiri, Walian Maimun
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 4 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(4)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i4.44634

Abstract

Alga cokelat Padina sp. memiliki komponen fitokimia yang berpotensi sebagai antifungal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pelarut terbaik berdasarkan komponen senyawa aktif dan aktivitas antifungal ekstrak Padina sp. terhadap Aspergillus flavus. Ekstraksi dilakukan dengan metode berbantu gelombang ultrasonik melalui 3 jenis pelarut, yaitu etanol, metanol, dan etil asetat. Parameter yang dianalisis meliputi persentase rendemen, fitokimia, dan aktivitas antifungal. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif dan pengujian aktivitas antifungal terhadap A. flavus menggunakan metode difusi sumuran agar. Perairan Pulau Panggang menjadi lokasi pengambilan sampel Padina sp. dengan pH 9, suhu 28,1-28,9°C, salinitas 31-32 ppm, dan oksigen terlarut (DO) 6,5 ppm. Rendemen ekstrak etanol 20,98±1,54%, metanol 13,71±5,94%, dan etil asetat 6,67±3,30%. Senyawa fitokimia yang terkandung dalam ekstrak Padina sp. dengan 3 jenis pelarut tersebut meliputi alkaloid, saponin, steroid, dan fenol. Aktivitas antifungal tertinggi diperoleh dari ekstrak metanol dengan konsentrasi 30% ditunjukkan dengan diameter zona hambat sebesar 7,21±0,41 mm dan diameter zona hambat paling kecil diperoleh dari ekstrak etil asetat dengan konsentrasi 10% sebesar 1,17±0,09 mm. Ekstrak Padina sp. dari Perairan Pulau Panggang memiliki 4 jenis senyawa fitokimia dengan aktivitas antifungal terhadap A. flavus dengan kategori cukup kuat.
THE EFFECT OF ADDITIONAL SEAWEED FLOUR (Eucheuma cottonii) ON THE QUALITY OF CATFISH (Clarias sp.) ROULADE Maulani, Aghitia; Asriani, Asriani; Maryuni, Narila; Sumandiarsa, I Ketut
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 6 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i6.1917

Abstract

Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu ikan air tawar populer yang mengandung protein lebih tinggi daripada beberapa jenis daging hewan. Rumput laut (Eucheuma cottonii) memiliki kandungan gizi yang tinggi seperti mineral dan serat. Tingginya kandungan gizi Eucheuma cottonii sebagai sumber pangan fungsional yang potensial dalam pengembangan produk pangan, salah satunya diolah menjadi tepung rumput laut yang yang ditambahkan pada produk rolade ikan lele. Tujuan dari penelitian ini yaitu, melakukan analisis mutu rumput laut kering dan ikan lele segar, melakukan pengolahan tepung rumput laut dan rolade ikan lele dan menganalisis mutu tepung rumput laut dan rolade ikan lele, serta menentukan formula terpilih. Hasil uji sensori bahan baku rumput laut kering sebesar 8, CAW 59,65%, dan kadar air 34,19%, Nilai organoleptik ikan lele segar 9. Hasi kadar air tepung rumput laut 6,39%, kadar abu 24,52%, kadar lemak 0,24%, kadar protein 2,72%, karbohidrat 66,13%, serat kasar 22,21% dan dan viskositas 360,27 mPa·s. Hasil rolade ikan lele dengan penambahan tepung E. cottonii meliputi kadar air 65,90%, kadar abu 2,90%, kadar lemak 2,84%, kadar protein 17,79%, karbohidrat 10,57%, serat kasar 0,56%, ALT 5,21 x 101 kol/g, dan uji fisik kekerasan 6562,99 gf. Formula terpilih yaitu rolade ikan lele dengan penambahan tepung rumput laut E. cottonii 3,5%.
Kajian Manajemen Risiko K3 pada Proses Produksi Pemindangan Ikan di Sentra Pengolahan Kusamba Budiadnyani, I Gusti Ayu; Sumandiarsa, I Ketut; Nugraha, I Made Aditya; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Astiana, Ika; Farida, Iftachul; Samanta, Pinky Natalia; Cesrany, Mahaldika; Khairunnisa, Anis; Perceka, Medal Lintas; Masrin, Putri Yuliana
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 3 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i3.625

Abstract

Sentra Pengolahan Ikan Kusamba merupakan pusat industri pemindangan tradisional yang berperan penting dalam perekonomian masyarakat pesisir Kabupaten Klungkung. Namun, proses produksinya masih memiliki berbagai potensi risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), terutama akibat paparan panas, penggunaan peralatan konvensional, serta kondisi kerja yang belum ergonomis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sumber bahaya, menilai tingkat risiko kerja, dan menentukan upaya pengendalian menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC). Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada 15 pekerja pada setiap tahapan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap perebusan memiliki risiko tertinggi (84,42%), diikuti penyiangan (74,03%), sementara pengemasan dan pendinginan tergolong risiko rendah. Sebanyak 73,3% pekerja telah menggunakan APD, namun kepatuhan dan ketersediaannya masih perlu ditingkatkan. Faktor risiko dominan meliputi lingkungan kerja panas dan lembap (60%), keterbatasan APD (26,67%), kerusakan peralatan (20%), serta tata letak kerja yang kurang aman (26,67%). Meskipun seluruh pekerja telah mengikuti pelatihan K3, penerapannya masih bersifat individual. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem K3 melalui penyusunan SOP, peningkatan APD, pengawasan rutin, serta perbaikan fasilitas kerja untuk mendukung keselamatan, produktivitas, dan keberlanjutan industri.
OPTIMIZATION OF COLD STORAGE MAINTENANCE FOR ENHANCING ENERGY EFFICIENCY IN FISHERY PROCESSING: A CASE STUDY OF XYZ COMPANY Nugraha, I Made Aditya; Sumandiarsa, I Ketut; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Samanta, Pinky Natalia; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Astiana, Ika; Farida, Iftachul; Poy, Maria Delastrada; Desnnajaya, I Gusti Made Ngurah
Jurnal Perikanan Unram Vol 16 No 1 (2026): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v16i1.2109

Abstract

The fisheries industry requires an effective cold chain system to maintain product quality and food safety, with cold storage functioning as a critical component in maintaining temperature stability prior to distribution. However, operational problems such as temperature fluctuations, equipment failure, and power outages frequently threaten cold storage performance and may lead to product deterioration and economic losses. This study aims to analyze cold storage maintenance management at XYZ Company and evaluate its effectiveness in supporting cold chain optimization. The research employed a qualitative descriptive approach conducted from October to March 2025 at XYZ Company, Sidoarjo. Data were collected through semi-structured interviews with 10 purposively selected respondents, direct observation, and analysis of maintenance records, SOPs, and temperature data logs. The results indicate that the implementation of scheduled preventive maintenance, IoT-based real-time monitoring, and automated control systems effectively maintained temperature stability within standard limits. These measures reduced the risk of protein denaturation, recrystallization, and microbial growth in fishery products. Energy efficiency improved through inverter technology and better insulation, while backup power systems and emergency SOPs minimize operational risks. In conclusion, optimized cold storage maintenance significantly enhances energy efficiency, operational reliability, and product quality, while supporting HACCP and ISO 22000 compliance and strengthening cold chain integrity in the fisheries processing industry.