Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Preventif Journal

PEMBUANGAN SAMPAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP MASYARAKAT DI KOTA BAU-BAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA Jumakil, Jumakil; Sabilu, Yusuf; Tina, Lymbran; Yuslina, Yuslina; Majid, Ruslan; Zainuddin, Asnia
Preventif Journal Vol 4, No 1 (2019): Preventif Journal
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.782 KB) | DOI: 10.37887/epj.v4i1.9430

Abstract

AbstrakKota Bau-Bau menghasilkan sampah mencapai 80-100 ton per hari, setiap tahunnya mengalami peningkatan.Timbulan sampah yang terus mengalami peningkatan akan mmenimbulkan kerusakan lingkungan. Selainlingkungan dampak yang ditimbulkan sampah dapat dirasakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui cara pembuangan sampah di Kota Bau-Bau dan dampaknya terhadap masyarakat. Jenis penelitian iniadalah observational study dengan jumlah sampel 2.630 yang diambil dengan teknik propotional randomsampling, responden adalah ibu rumah tangga umur 25-65 tahun. Hasil penelitian menunjukkan 53,8% sampahdibuan ke TPS, 32,9% dibakar 5,9% dibuang ke sungai, 5,2% dibuang ke halaman, 0,8% dibuang ke lubang tanahtidak ditutup, 0,7% dikumnpulkan kolektor pendaur ulang, 0,5% dibuang ke lubang tanah dan ditutup, 0,2%dibiarkan membusuk. Dampak yang ditimbulkan 44,1% sampah berserakan, 22,1% banyak lalat berada di , 21,9%banyak tiku, 20,9% banyak nyamuk, 10,7% anjing dan kucing mencari makan, 3,8% merasakan bau busuk yangmenyengat, dan 4,1% terjadi penyumbatan saluran air/drainase. Kesimpulan Sebagian besar masyarakat KotaBau-Bau membuang sampah pada Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), namun masih ada yangmembakar, membuang di sekitar halaman rumah, sungai, membiarkannya sampai membusuk. Dampak yangditimbulkan dari pembuangan sampah di Kota Bau-bau adalah sampah yang berserahkan, keberadaan vektorpembawa penyakit, bau busuk yang mengganggu serta terjadi penyumbatan drainase.Kata kunci:dampak sampah; pembuangan sampah, sampah rumah tangga 
ANALISIS KETIDAKAKTIFAN POSYANDU DI KABUPATEN MUNA Tisnawati, Dewi; Yusran, Sartiah; Zainuddin, Asnia; Suhadi, Suhadi
Preventif Journal Vol 5, No 1 (2020): Preventif Journal
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/epj.v5i1.15578

Abstract

AbstrakPosyandu merupakan salah satu bentuk upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh untuk, dan bersama masyarakat, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar terutama bagi ibu, bayi dan balita. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2016, Indonesia memiliki 263.964 Posyandu yang tersebar di seluruh daerahdiIndonesia, yang meliputi Posyandu Pratama sebanyak 32.439 Posyandu,Madya sebanyak 90.138 Posyandu, Purnama sebanyak 108.681 Posyandu dan mandiri sebanyak 32.131 Posyandu. Kinerja Posyandu di Kabupaten Muna saat ini masih sangat rendah, terlihat dari jumlah Posyandu secara keseluruhan yakni 294 dengan jumlah posyandu yang aktif hanya 42 atau 14,29 % sedangkan posyandu yang tidak aktif sebanyak 152 atau sekitar 85,71 %.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan posyandu serta analisis  ketidakaktifan Posyandu di Kabupaten Muna.MetodePenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Pendekatan ini mementingkan penguraian fenomena yang teramati dan konteks makna yang melingkupi suatu relalitas.Hasil Keaktifan pelaksanaan kegiatan posyandu belum terselenggara dengan baik dimana tidak semua program dilaksanakan. Kegiatan penimbangan balita sudah dilakukan tetapi frekuensi penimbangan masih rendah, PMT tidak rutin dilaksanakan karena pembiayaan yang kurangprogram kesehatan ibu dan anak belum dilaksanakan dengan baik karena petugas puskesmas yang datang di posyandu tidak selalu bidan dan tidak ada tempat atau gedung yang disediakan sehingga ibu hamil merasa malu untuk periksakan kehamilan, sedangkan kegiatan penyuluhan tidak rutin dilaksanakan karena kurangnya pelatihan yang dilakukan terhadap kader, SDM, Dana dan sarana prasarana yang tersedia belum memadai serta belum di manfaatkan dengan optimal. Puskesmas kurang melakukan koordinasi lintas sektoral dalam kegiatan posyandu. Kata Kunci: Sarana prasarana, keaktifan posyandu
PENGARUH PERENCANAAN DAN PENGAWASAN TERHADAP PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KESEHATAN DI PUSKESMAS SE-KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN 2019 Silondae, Tri Zulhijriana; Yusran, Sartiah; Ruslan, Ruslan; Tosepu, Ramadhan; Zainuddin, Asnia; Suhadi, Suhadi
Preventif Journal Vol 5, No 2 (2021): Preventif Journal
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/epj.v5i2.18314

Abstract

AbstrakStandar Pelayanan Minimal merupakan ketentuan terkait kualitas dan jenis pelayanan dasar yang menjadi urusan pemerintahan yang wajib diberikan secara minimal kepada setiap warga negara. Puskesmas menjalankan tugas dinas kesehatan kabupaten/kota yang diberikan kepadanya. Tugas tersebut antara lain pelayanan terkait Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan dan kegiatan kesehatan lainnya yang secara khusus dibutuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan data sekunder dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan terlihat bahwa pencapaian SPM secara keseluruhan belum sesuai dengan target. Rendahnya capaian indikator SPM bidang kesehatan di Kabupaten Konawe Selatan perlu mendapat perhatian. Jika indikator SPM tidak tercapai, maka masyarakat belum mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Artinya masalah kesehatan belum terkontrol dan membebani pelayanan tindak lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perencanaan dan pengawasan terhadap pencapaian SPM bidang Kesehatan. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data regresi logistik binner. Sampel penelitian ini sebanyak 80 responden yang terdiri dari pengelola program puskesmas di Kabupaten Konawe Selatan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel perencanaan dan pengawasan secara simultan mempengaruhi pencapaian SPM, sedangkan secara parsial variable perencanaan mempengaruhi pencapaian SPM dengan nilai signifikansi 0,020 dan nilai kooefisien regresi 2,008 dan variable pengawasan mempengaruhi pencapaian SPM dengan nilai signifikansi 0,017 dan nilai koofisien regresi 2,330.Kata Kunci : SPM, Perencanaan, Pengawasan
GAMBARAN HYGIENE PENJAMAH, SANITASI TEMPAT PENGOLAHAN DAN KEBERADAAN BAKTERI Salmonella typhi PADA MINUMAN THAI TEA YANG DIJUAL PEDAGANG KAKI LIMA DI KECAMATAN ABELI KOTA KENDARI TAHUN 2023 Anoamo, Wa Ode Rahmadani; Jafriati, Jafriati; Zainuddin, Asnia
Preventif Journal Vol 8, No 2 (2024):
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/epj.v8i2.48073

Abstract

ABSTRAK Hygiene penjamah makanan adalah seorang tenaga kerja yang menjamah makanan, tindakan penjamah dapat mempengaruhi kualitas makanan yang disajikan. Minuman Thai tea merupakan minuman khas Thailand berbahan dasar teh hitam yang ditambahkan dengan gula, kental manis/krimer dan es. Kesalahan persiapan dalam produksi minuman ini dapat menyebabkan kemungkinan pencemaran Bakteri Salmonella Typhi. Keberadaan Bakteri Salmonela typhi pada makanan/minuman dapat menyebabkan penyakit Demam Tifoid. Menurut WHO, Demam tifoid menjadi penyebab angka morbiditas dan mortalitas pada banyak negara. Laporan Data Dinas Kesehatan Kota Kendari Tahun 2020 menunjukkan bahwa demam tifoid menempati urutan ke-6 dari 10 kasus terbesar dengan jumlah 4.467 kasus. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran hygiene penjamah, sanitasi tempat pengolahan dan keberadaan bakteri Salmonella Typhi pada minuman Thai tea yang dijual pedagang kaki lima di Kecamatan Abeli Kota Kendari Tahun 2023. Penelitian ini merupakan kajian kuantitatif deskripsi dengan menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Higiene sanitasi penjamah telah memenuhi syarat sesuai dengan Peraturam Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942/MENKES/SK/VII/2003 tentang pedoman persyaratan higiene sanitasi makanan jajanan. Kata kunci: Deman tifoid, higiene penjamah, sanitasi, salmonella typhi, thai tea ABSTRACT Hygiene A food handler is a worker who handles food, the handler's actions can affect the quality of the food served. Thai tea is a typical Thai drink made from black tea which is added with sugar, sweetened condensed cream and ice. Preparation errors in the production of this drink can cause possible contamination with Salmonella Typhi bacteria. The presence of Salmonella typhi bacteria in food/drinks can cause Typhoid Fever. According to WHO, typhoid fever is a cause of morbidity and mortality in many countries. The 2020 Kendari City Health Service Data Report shows that typhoid fever ranks 6th out of the 10 largest cases with a total of 4.467 cases. The aim of the research is to determine the description of handlers' hygiene, sanitation of processing places and the presence of Salmonella Typhi bacteria in Thai tea drinks sold by street vendors in Abeli District, Kendari City in 2023. This research is a descriptive quantitative study with univariate analysis . The results of the research show that the sanitation hygiene of handlers has met the requirements in accordance with the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 942/MENKES/SK/VII/2003 concerning guidelines for sanitation hygiene requirements for snack foods. Keywords: Typhoid fever, Handler hygiene, Salmonella typhi, Thai tea
IDENTIFIKASI BAKTERI Escherichia coli, GAMBARAN HIGIENE PENJAMAH DAN SANITASI TEMPAT PENGOLAHAN MINUMAN ES TEH PADA WARUNG MAKAN DI KECAMATAN KADIA KOTA KENDARI Cahyani, Nabila Indah; Tosepu, Ramadhan; Zainuddin, Asnia
Preventif Journal Vol 8, No 2 (2024):
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/epj.v8i2.48061

Abstract

ABSTRAK Es teh adalah minuman tradisional yang diminati banyak orang dan sering dijumpai di warung makan. Jika tidak diolah dengan baik, es teh dapat terkontaminasi oleh bakteri, yang dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi manusia. Salah satu bakteri yang menjadi kontaminan dalam minuman adalah Escherichia coli. Menurut laporan dari UPT BPOM, kasus KLB paling umum, dengan total 55 kejadian, terdiri dari 50 (69,44%) kejadian yang diduga dan 5 (6,95%) kejadian yang terkonfirmasi disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Pada tahun 2022, terdapat 2.614 kasus diare berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Kendari, dengan 95 kasus tercatat di puskesmas Mekar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan bakteri Escherichia coli serta gambaran higiene penjamah dan sanitasi tempat pengolahan minuman es teh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif observasional, dimana data diperoleh melalui observasi dan uji laboratorium. Dari 11 sampel ditemukan 8 (72,7%) minuman es teh mengandung bajteri Escherichia coli. Sebanyak 11 pedagang minuman es teh tidak memenuhi syarat dalam penerapan higiene penjamah dengan presentase 100%. Hasil observasi menunjukkan sanitasi pemilihan bahan baku tidak memenuhi syarat (45,5%), sanitasi penyimpanan bahan baku tidak memenuhi syarat (36,4%), sanitasi peralatan tidak memenuhi syarat (27,3%) dan sanitasi tempat penjualan tidak memenuhi syarat (100%). kualitas minuman es teh tidak memenuhi syarat karena teridentifikasi bakteri Escherichia coli (>0 per 100mL sampel) dan seluruh pedagang minuman es teh di warung makan tidak memenuhi syarat dalam menerapkan higiene dan sanitasi. Kata kunci: Echerichia coli, Es teh, Higiene Penjamah, Sanitasi Tempat Pengolahan ABSTRACT Iced tea is a popular traditional beverage enjoyed by many people and often found in eateries. It can become contaminated by bacteria if not processed properly, posing health risks when consumed by humans. One such contaminant is Escherichia coli. According to a report from the UPT BPOM, the most common outbreak cases, with a total of 55 incidents, consisting of 50 (69.44%) suspected and 5 (6.95%) confirmed cases, were caused by Escherichia coli bacteria. In 2022, there were 2,614 reported cases of diarrhea according to data from the Kendari City Health Office, with 95 cases recorded at the Mekar health center. This study aims to determine the presence of Escherichia coli bacteria as well as to describe handler hygiene and sanitation conditions in the processing of iced tea beverages. This research utilized an observational descriptive research method, where data were obtained through observatios and laboratory tests. Out of 11 samples, it was found that 8 (72.7%) iced tea beverages contained Escherichia coli bacteria. Furthermore, all 11 iced te vendors did not meet the requirements for handler hygiene implementation, with a compliance rate of 100%. Observational results indicated that ingredient selection sanitation did not meet the requirements (45,5%), raw material storage sanitation did not meet the requirements (36,4%), equipment sanitation did not meet the requirements (27,3%), and sales area sanitation did not meet the requirements (100%). The quality of iced to beverages did not meet the requirements due to the identification of Escherchia coli bacteria (>0 per 100mL sample), and all iced tea vendors in the eateries did not meet the requirements for implementing hygiene and sanitation. Keywords: Escherichia coli, Iced tea, Handler Hygiene, sanitation of the processing area