Claim Missing Document
Check
Articles

Penataan Aset dan Penataan Akses Dalam Kegiatan Redistribusi Tanah Untuk Mewujudkan Penyelenggaraan Reforma Agraria di Provinsi Sumatera Barat Afif, Rifqi; Warman, Kurnia; Khairani
UNES Law Review Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/vsewbm55

Abstract

Penataan aset dan penataan akses merupakan salah satu rangkaian Reforma Agraria. Penataan aset yaitu berupa Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria yang dicabut dan diperbarui dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2023 tentang Percepatan Pelaksanaan Reforma Agraria. Pelaksanaan Reforma Agraria ini dilaksanakan melalui tahapan penataan aset dan  penataan akses. Penataan aset yang dimaksud terdiri dari Redistibusi Tanah dan Legalisasi Aset. Penataan aset yaitu berupa Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria yang dicabut dan diperbarui dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2023 tentang Percepatan Pelaksanaan Reforma Agraria. Permasalahan dalam penelitian ini Bagaimana Pelaksanaan Penataan Aset dan Penataan Akses Tanah di Sumatera Barat juga Bagaimana pelaksanaan Redistribusi Tanah di Sumatera Barat, kedua Bagaimana peran dari Notaris/PPAT dalam Penataan Aset dan Penataan Akses dalam penyelenggaraan Reforma Agraria di Provinsi Sumatera Barat. Metode dalam melakukan penelitian ini Yuridis Empiris. Hasil penelitian diketahui bahwa pelaksanaan reforma agraria dibagi ke dalam dua klasifikasi, yakni reforma aset dan reforma akses. Reforma aset meliputi penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan lahan berdasarkan hukum dan peraturan perundangan pertanahan. Pelaksanaan reforma aset dikomandoi oleh Kementerian ATR/BPN. Sedangkan reforma akses mencakup penyediaan kelembagaan dan manajemen yang baik agar penerima redistribusi lahan dapat mengembangkan lahannya sebagai sumber kehidupan yang memakmurkan. Implementasi kebijakan reforma akses dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Penataan aset dalam hal ini adalah pemberian tanda bukti kepemilikan atas tanahnya (sertifikasi hak atas tanah). Notaris dan PPAT berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi aspek hukum yang terkait dengan kepemilikan dan penggunaan tanah. Notaris dan PPAT bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap transaksi pertanahan dilakukan secara sah, serta memberikan jaminan kepastian hukum terhadap penguasaan dan pemilikan tanah. Dengan dukungan PPAT dan Notaris, diharapkan reforma agraria dapat berjalan lebih efektif, menciptakan pemerataan akses terhadap tanah, dan mendukung terciptanya keadilan sosial di Indonesia.
Spiritual Intelligence and Resilience Among Volunteers: A Study of Disaster Volunteers at Indonesian Red Cross Society (PMI) in Bandar Lampung Salwa Chania; Chania, Salwa; Khairani
ANFUSINA: Journal of Psychology Vol. 8 No. 2 (2025): ANFUSINA: Journal of Psychology
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajp.v8i2.28753

Abstract

Volunteers frequently experience high levels of psychological pressure while serving in disaster zones, which may lead to stress and trauma due to demanding working conditions. Resilience is essential in helping volunteers remain strong and adaptive, while spiritual intelligence is believed to enhance life meaning and foster positive attitudes when facing adversity. This study aimed to examine the relationship between spiritual intelligence and resilience among disaster volunteers at Indonesian Red Cross Society (PMI) in Bandar Lampung. A quantitative correlational approach was employed, involving 73 participants selected through purposive sampling. Data were collected using the Spiritual Intelligence Self-Report Inventory (SISRI-24) and the Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Pearson’s Product-Moment correlation analysis revealed a positive and statistically significant relationship between spiritual intelligence and resilience (r = 0.705, p = 0.000, p < 0.05). Furthermore, the Conscious State Expansion dimension of spiritual intelligence demonstrated the strongest correlation with resilience. These findings indicate that volunteers with higher levels of spiritual intelligence tend to exhibit greater resilience, enabling them to manage stress effectively, adapt to change, and recover from challenging experiences in disaster settings. This study highlights the importance of spiritual intelligence as a key internal factor that supports volunteer resilience in carrying out humanitarian responsibilities. Keywords: disaster, spiritual intelligence, volunteers, resilience, stress