Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Strategi Koping terhadap Tingkat Stres Akademik Pada Fans K-Pop Putri, Asyifa Herdian; Mawarti, Indah; Nasution, Riska Amalya; Yuliana, Yuliana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres akademik merupakan kondisi yang umum dialami mahasiswa sebagai akibat dari tuntutan pembelajaran di perguruan tinggi. Apabila tidak dikelola secara tepat, stres dapat menimbulkan gangguan psikologis serta penurunan kemampuan akademik. K-Pop sering dimanfaatkan mahasiswa sebagai salah satu bentuk strategi koping dalam mengalihkan beban pikiran dan menstabilkan emosi. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan antara strategi koping dengan tingkat stres akademik pada mahasiswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 106 mahasiswa Fakultas Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Universitas Jambi pada tahun 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Gamma. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki strategi koping kategori tinggi (89,6%) dan tingkat stres akademik pada kategori sedang (64,2%). Uji statistik menghasilkan nilai koefisien 0,630 dengan signifikansi 0,009. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan bermakna antara strategi koping dan stres akademik, sehingga pemanfaatan K-Pop dapat mendukung mahasiswa dalam mengelola tekanan akademik.
EDUKASI PENTINGNYA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN CUCI TANGAN 6 LANGKAH DI RUANG RAWAT INAP MARWA RSI ARAFAH JAMBI yusni, yusnilawati; Mawarti, Indah; Mahendra, Syafira Nurliza; Martawinarti, Rts Netisa; Sari, Putri Irwanti; Oktaria, Rina
Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIMAS)
Publisher : STIKES Garuda Putih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52741/abdimas.v3i2.127

Abstract

Background: One important aspect of PHBS is handwashing with soap, which has been proven to be an effective way to prevent various infectious diseases. In the healthcare sector, handwashing with soap is very crucial, especially in preventing nosocomial infections, namely infections that occur in hospitals due to the transmission of bacteria and viruses from the non-sterile hospital environment. Medical personnel and patients' families play a major role in preventing these infections. However, many patients' families still do not pay attention to hand hygiene when visiting patient treatment rooms. Objective: This community service activity aims to increase the understanding of patient families regarding the importance of hand hygiene both before and after carrying out activities while the patient and family are in the treatment room at the hospital. Objective: This community service activity aims to increase the understanding of patient families regarding the importance of hand hygiene both before and after carrying out activities while the patient and family are in the treatment room at the hospital. Method: Education was carried out through lectures and direct demonstrations in the Marwa Inpatient Room, RSI Arafah Jambi with the participation of 15 people, using leaflets and flipcharts. Results: The results of the activity showed an increase in participants' understanding of the six steps of handwashing according to WHO standards and an increase in the understanding of patient families regarding risk factors for falls in patients. Before the education, only 6 out of 15 participants (17.14%) understood the material. After the education, all participants (100%) showed a good understanding. Thus, there was an increase in understanding of 82.86%. Participants also actively discussed and showed high enthusiasm in the activity. With this education, it is hoped that hand hygiene practices using 6 steps can be applied consistently in daily life, so that clean and healthy living behavior (PHBS) by washing hands through 6 steps can be continuously implemented. Keywords: Clean and Healthy Living Behavior (PHBS), 6-Step Hand Washing
Gambaran upaya pencegahan penyakit skabies terhadap pengetahuan dan sikap siswa Rahmatulla, Ahmat Ali; Subandi, Andi; Rudini, Dini; Sari, Lisa Anita; Mawarti, Indah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2068

Abstract

Background: Scabies is a contagious skin infestation often found in densely populated environments such as Islamic boarding schools. Close physical contact between students and limited personal hygiene practices can increase the risk of transmission. Improving knowledge and attitudes regarding scabies prevention is crucial to suppress the spread of this disease. Purpose: To describe the level of students' knowledge and attitudes regarding scabies prevention. Method: This study used a quantitative descriptive design using a cross-sectional approach. Ninety-nine students participated. Data were collected using a structured questionnaire that assessed knowledge and attitudes regarding scabies prevention. Data were analyzed univariately and presented as frequency distributions and percentages. Results: The majority of students (48.5%) had sufficient knowledge about scabies prevention, 32 (32.3%) had poor knowledge, and 19 (19.2%) had good knowledge. Furthermore, the attitude variable showed that the majority of students (62.6%) were in the fair attitude category, while 37 (37.4%) were in the very good attitude category, and no students had poor attitudes. Conclusion: Students' knowledge and attitudes toward scabies prevention were generally in the fair category, but still need improvement, especially in the group with poor knowledge.   Keywords: Attitude; Knowledge; Scabies; Students.   Pendahuluan: Skabies merupakan infestasi kulit menular yang sering ditemukan pada lingkungan padat hunian seperti pondok pesantren. Kontak fisik yang erat antar siswa serta keterbatasan praktik kebersihan diri dapat meningkatkan risiko penularan. Peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan skabies menjadi hal penting untuk menekan penyebaran penyakit ini. Tujuan: Untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan sikap siswa mengenai pencegahan skabies. Metode: Penelitian dengan desain deskriptif kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 99 siswa. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang menilai pengetahuan dan sikap terkait pencegahan skabies. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta persentase. Hasil: Mayoritas siswa memiliki pengetahuan kategori cukup tentang pencegahan skabies sebanyak 48 orang (48.5%), pengetahuan kurang 32 orang (32.3%), dan pengetahuan baik 19 orang (19.2%). Selain itu, variabel sikap menunjukkan sebagian besar siswa berada pada kategori sikap cukup sebanyak 62 orang (62.6%), sedangkan sikap sangat baik sebanyak 37 orang (37.4%), dan tidak ada siswa dengan sikap kurang. Simpulan: Pengetahuan dan sikap siswa terhadap pencegahan skabies secara umum berada pada kategori cukup, tetapi masih perlu ditingkatkan terutama pada kelompok dengan pengetahuan kurang.   Kata Kunci: Pengetahuan; Siswa; Sikap; Scabies.
Pengaruh latihan keseimbangan terhadap penurunan risiko jatuh pada lansia Visabilillah, Ananda Putri; Mawarti, Indah; Mekeama, Luri; Sari, Yulia Indah Permata; Imran, Suryadi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2204

Abstract

Background: The aging process causes a decline in muscle strength, sensory function, and balance in older adults, which leads to postural instability when standing and walking, increasing the risk of falls. Falls in older adults can have negative impacts such as injury, activity limitations, and decreased independence. Therefore, balance training is necessary to improve postural stability and the ability to maintain balance. Purpose: To determine the effect of balance training on reducing the risk of falls in older adults. Methods: This quasi-experimental study used a non-equivalent control group design. The sample size was 36 older adults divided into an intervention group (18 individuals) and a control group (18 individuals). Data were analyzed using the Wilcoxon and Mann–Whitney tests. Results: There was a significant reduction in fall risk in the intervention group after balance training (p < 0.5), while no significant change was found in the control group (p > 0.05). Comparison between groups showed a significant difference after intervention (p < 0.05). Conclusion: Balance training has been shown to provide significant benefits in improving balance ability and reducing fall risk in the elderly. Elderly individuals who regularly engage in balance training demonstrated greater postural stability improvements compared to those who did not receive training, suggesting that balance training can be implemented sustainably as a fall prevention measure in the elderly.   Keywords: Balance Training. Elderly; Fall Risk.   Pendahuluan: Proses penuaan menyebabkan penurunan kekuatan otot, fungsi sensorik, dan kemampuan keseimbangan tubuh pada lansia yang berdampak pada ketidakstabilan postur saat berdiri dan berjalan sehingga meningkatkan risiko jatuh. Kejadian jatuh pada lansia dapat menimbulkan dampak negatif berupa cedera, keterbatasan aktivitas, dan penurunan kemandirian, sehingga latihan keseimbangan diperlukan untuk meningkatkan stabilitas postural dan kemampuan mempertahankan keseimbangan tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh latihan keseimbangan terhadap penurunan risiko jatuh pada lansia. Metode: Penelitian dengan desain quasi-eksperimental menggunakan non-equivalent control group design. Sampel berjumlah 36 lansia yang dibagi menjadi kelompok intervensi (18 orang) dan kelompok kontrol (18 orang). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Hasil: Terdapat penurunan risiko jatuh yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan latihan keseimbangan (p < 0,.5), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang signifikan (p > 0.05). Perbandingan antar kelompok menunjukkan perbedaan yang bermakna setelah intervensi (p < 0.05). Simpulan: Latihan keseimbangan terbukti memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kemampuan keseimbangan tubuh dan menurunkan risiko jatuh pada lansia. Lansia yang melakukan latihan keseimbangan secara teratur menunjukkan peningkatan stabilitas postural yang lebih baik dibandingkan lansia yang tidak mendapatkan latihan, sehingga latihan keseimbangan dapat diterapkan secara berkelanjutan sebagai upaya pencegahan risiko jatuh pada lansia.   Kata Kunci: Lansia; Latihan Keseimbangan; Risiko Jatuh,.
Quality of nursing work life and job stress among nurses working in inpatient units Suci Melani, Poppyana; Mawarti, Indah; Yuliana, Yuliana; Yusnilawati, Yusnilawati; Andini, Febri Tri
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i4.1989

Abstract

Background: Quality of Nursing Work Life (QNWL) plays an important role in maintaining nurses' performance in the quality of health services. If QNWL is low, this can increase job stress, thereby reducing the quality of care and nurses' performance. Purpose: To determine the relationship between quality of nursing work life and job stress among inpatient nurses. Method: A quantitative study. The design was analytical with cross sectional, the research sample consisted of 46 nursing inpatients at Arafah Islamic Hospital, Jambi City. Data was collected using a validated questionnaire. Data analysis included univariate analysis, normality test with Shapiro-wilk, and bivariate analysis with spearman rank correlation. Results: Based on the results of the Spearman rho statistical test, it shows that the overall sub-variables of quality of nursing work life and job stress have a significant relationship with a p-value (<0.05). Conclusion: It is important for nurses to maintain a balance in the quality of their work in healthcare services. A good quality of nursing work life will result in maximum improvement in work quality. The better the quality of nursing work life, the lower the level of job stress experienced. Keywords: Healthcare Service; Inpatient; Nurses; Quality of Nursing Work Life; Job Stress.
Healthy Movement, Strong Heart: Cardio Exercise as an Intervention for Improving Both Cardiorespiratory Fitness and Cardiovascular Health Sari, Putri Irwanti; Subandi, Andi; Meinarisa; Sari, Yulia Indah Permata; Oktaria, Rina; Mawarti, Indah; Yuliana; Nasution, Riska Amalya; Martawinarti, RTS Netisa
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 8 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v8i1.1041

Abstract

Cardiovascular disease remains a major cause of morbidity and mortality in the community. Cardiorespiratory fitness and hemodynamic parameters such as blood pressure, heart rate, and its variability are important indicators of heart health. Cardio exercise as a form of physical intervention has the potential to improve cardiorespiratory fitness and hemodynamic conditions in the community. This Community Service Activity aims to broadcast the effects of exercise on cardiorespiratory fitness and hemodynamic parameters in the community, and to see the extent of changes that occur after regular intervention. The methods used were lectures, interviews, observations and physical examinations (pretest-posttest). Participants totaling 34 people from the local community participated in a 60-minute cardio exercise program. Parameters measured included cardiorespiratory fitness (VO₂max or estimated physical task performance), systolic and diastolic blood pressure, resting heart rate, and heart rate after activity. Results: After the exercise intervention, there was a significant improvement in hemodynamic status. The cardiorespiratory fitness status min-max from 12.93-27.67 ml/kg/min with an average value of 17.11 ml/kg/min. Conclusion: Cardio exercise has been proven to be effective as an intervention to increase cardiorespiratory fitness and improve hemodynamic parameters in the community. Regular cardio exercise programs are recommended as part of a public health strategy for preventing heart disease and improving quality of life.
Hubungan Mutu Pelayanan Keperawatan Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Di RSUD Raden Mattaher Avrita, Mutiara; Mawarti, Indah; Sari, Lisa Anita; Yusnilawati, Yusnilawati; Imran, Suryadi
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 4 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss4.2141

Abstract

Mutu pelayanan keperawatan merupakan aspek penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena tidak hanya berkaitan dengan tindakan medis, tetapi juga mencakup kemampuan perawat dalam memberikan asuhan yang profesional, empatik, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional dan melibatkan 110 pasien rawat inap yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup, terdiri atas 30 pernyataan mengenai mutu pelayanan keperawatan dan 12 pernyataan mengenai kepuasan pasien. Analisis data menggunakan uji Spearman untuk melihat hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai mutu pelayanan keperawatan berada pada kategori cukup (62,7%), sedangkan lebih dari separuh pasien menyatakan tidak puas terhadap pelayanan yang diterima (54,5%). Uji Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi r = 0,839 dengan p < 0,001, menandakan bahwa terdapat hubungan sangat kuat dan signifikan antara mutu pelayanan keperawatan dengan tingkat kepuasan pasien. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik mutu pelayanan yang diberikan perawat, semakin tinggi pula kepuasan pasien. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi perawat, komunikasi terapeutik, serta perbaikan fasilitas pelayanan sangat diperlukan untuk menghasilkan pelayanan keperawatan yang optimal dan berkelanjutan.
RELATIONSHIP BETWEEN CHRONOTYPE AND SLEEP QUALITY AMONG ADOLESCENTS AT JAMBI HIGH SCHOOL Yani Berutu, Rama; Ekawaty, Fadliyana; Anita Sari, Lisa; Mekeama, Luri; Mawarti, Indah
Jurnal Multidisipliner Kapalamada Vol. 5 No. 01 (2026): JURNAL MULTIDISIPLINER KAPALAMADA
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/kapalamada.v5i01.2283

Abstract

Sleep is a fundamental physiological need that supports adolescents’ cognitive, emotional, and physical development. However, poor sleep quality remains common among adolescents and may be influenced by biological factors such as chronotype. This study aimed to analyze the relationship between chronotype and sleep quality among adolescents at SMA Negeri 8 Jambi City. A quantitative cross-sectional design was used with 103 students selected through stratified random sampling. Chronotype was measured using the Morningness–Eveningness Questionnaire (MEQ), while sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using univariate and Chi-square tests. The results showed that most respondents had an intermediate chronotype (54.4%) and poor sleep quality (61.2%). Statistical analysis indicated a significant relationship between chronotype and sleep quality (p = 0.020; Cramer’s V = 0.276). Adolescents with evening chronotype tended to experience poorer sleep quality compared with those with morning chronotype.