Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PEMANFATAAN TANAMAN HERBAL MENJADI PRODUK PANGAN FUNGSIONAL SEBAGAI UPAYA INISIASI PEMBENTUKAN USAHA MANDIRI MASYARAKAT DESA TEGALLINGGAH Rahmayani, Irma; Nurma Linda, Irma; Yuliastuti, Yuliastuti
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 8 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i8.3161-3166

Abstract

Pemanfaatan tanaman herbal menjadi produk pangan fungsional yang memiliki nilai jual dapat menjadi solusi dari beberapa permasalahan masyarakat Desa Tegallinggah dalam mengembangan usaha pertanian produktif, pemanfaatan teknologi tepat guna untuk kemajuan ekonomi, serta pembangunan desa dan produk unggulan desa. Pemberian informasi berupa sosialisasi dengan tahapan persiapan berupa observasi dan wawancara, tahap pelakasanaan berupa pemberian materi dengan metode ceramah, demontrasi dan diskusi, serta tahap evalusi menggunakan soal pre test dan post test untuk mengetahui adanya peningkatan pengetahuan dan minat masyarakat. Hasil yang diperoleh berdasarkan evaluasi yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat terkait tanaman herbal, pangan fungsional dan cara pengolahannya serta adanya peningkatan minat masyarakat dalam membangun usaha mandiri. Melihat antusias yang tinggi dari masyarakat Desa Tegallinggah dalam membangun usaha mandiri diperlukan kegiatan lanjutan berupa pelatihan dan pendampingan tentang analisis strategi pengelolaan usaha mikro.
POTENSI TANAMAN JAMBLANG (Syzygium cumini L) SEBAGAI ANTIDIABETES : LITERATUR REVIEW Rahmayani, Irma; Christi A, G Jeni; Hasnah AR, Nur
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2023): Media Kesehatan
Publisher : Direktorat Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v18i1.438

Abstract

Penggunaan tanaman obat kini direkomendasikan untuk mengatasi berbagai penyakit termasuk diantaranya diabetes. Salah satu tanaman yang diketahui memiliki aktivitas antidiabetes adalah jamblang (Syzygium cumini L.). Penelitian mengenai aktivitas antidiabetes tanaman jamblang masih terbatas, sehingga artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang potensi jamblang sebagai antidiabetes. Literatur yang digunakan bersumber dari database elektronik seperti PubMed dan Google Scholar dengan pencarian kata kunci “Antidiabetic” dan “Syzygium cumin L.”. Bagian morfologi daun dan biji merupakan bagian yang paling banyak digunakan. Skrining fitokimia terhadap tanaman ini menunjukkan adanya senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavanoid dan saponin yang diduga memiliki aktivitas hipoglikemik. Studi in vitro dalam memberikan aktivitas antidiabetes melalui mekanisme penghambatan enzim α-Amylase dan α-Glucosidase sedangkan pada studi in vivo memberikan perbaikan melaui penurunan glukosa darah, perbaikan struktur histopatologi hepar dan pankreas serta menormalkan profil lipid. Kata kunci: Antidiabetes, jamblang, syzygium cumini L.
LITERATUR REVIEW : POTENSI PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNII) SEBAGAI ANTIBIOTIK ALTERNATIF BERBASIS HERBAL Jayachrisna, Komang Satrya Jati; Permasutha, Made Bayu; Rahmayani, Irma
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51656

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri terus menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang. Penggunaan antibiotik sintetis yang berlebihan dan tidak tepat telah berkontribusi besar terhadap munculnya bakteri resisten antibiotik, yang saat ini bertanggung jawab atas sekitar 1,27 juta kematian setiap tahunnya. Kondisi ini menegaskan adanya kebutuhan mendesak akan terapi alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, termasuk pemanfaatan antibiotik berbasis herbal. Salah satu opsi yang berpotensi adalah daun Cinnamomum burmannii, yang kaya akan berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenol. Senyawa-senyawa ini memiliki berbagai mekanisme antibiotik, seperti merusak membran sel bakteri, menghambat sintesis asam nukleat dan protein, menonaktifkan enzim, serta mengganggu metabolisme energi. Sejumlah penelitian in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun Cinnamomum burmannii memiliki aktivitas antibiotik sedang hingga kuat terhadap patogen seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella Typhi. Selain efektivitasnya, penggunaan ekstrak daun Cinnamomum burmannii dianggap lebih aman, ekonomis, dan memiliki risiko lebih rendah dalam memicu resistensi. Namun, penerapan ekstrak ini di lingkungan klinis masih terbatas karena minimnya penelitian in vivo dan studi klinis yang membahas keamanan, toksisitas, farmakokinetik, dan farmakodinamiknya. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk menggali secara menyeluruh potensi terapeutik ekstrak daun Cinnamomum burmannii sebagai agen antibiotik alternatif berbasis bukti.
Yoga for Sleep Quality in Menopausal Women: A Scoping Review Wilwadana, I Putu Dimasatya; Giri, Made Kurnia Widiastuti; Rahmayani, Irma
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.914

Abstract

Introduction: Sleep disturbance is one of the most frequent complaints among menopausal women, strongly associated with hormonal decline and vasomotor symptoms. While pharmacological treatments such as hormone therapy and benzodiazepines are effective, they also carry significant risks, including cardiovascular events, cancer, and cognitive decline. This has led to growing interest in safe, non-pharmacological interventions such as yoga. Method: This scoping review was conducted in accordance with the PRISMA-ScR guidelines. Literature searches were conducted in PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar, encompassing publications from 2015 to 2025. Eligible studies included original research that investigated yoga interventions targeting sleep quality among menopausal or postmenopausal women. Randomized controlled trials (RCTs), quasi-experimental studies, and observational studies were considered if validated measures of sleep quality were reported. Discussion: Yoga interventions, commonly practiced 2–3 sessions per week for 8–12 weeks, consistently demonstrated improvements in subjective sleep quality, sleep latency, and overall well-being. Some studies also reported reductions in anxiety, depression, and vasomotor symptoms. The underlying mechanisms are likely multifactorial, including regulation of the autonomic nervous system, reduction of sympathetic activity, promotion of parasympathetic balance, and hormonal modulation. When compared with other non-pharmacological interventions such as Tai Chi and Qigong, yoga showed comparable benefits. Hormone therapy remains the most effective for vasomotor-related insomnia, yet yoga offers a safer long-term alternative with no reported serious adverse effects. Conclusion: Yoga is a safe, feasible, and effective non-pharmacological intervention to improve sleep quality in menopausal women and may serve as a complementary option alongside conventional treatments.
The Relationship Between Body Mass Index with Uric Acid Levels at Puskesmas Kubutambahan II in 2025 Widana, I Nengah Krisna Murthi Ary; Rahmayani, Irma; Budiawan, Made; Arsani, Ni Luh Kadek Alit
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v4i3.4892

Abstract

Population growth has contributed to gout becoming a global health issue with a significant prevalence rate. According to WHO data in 2017, the global prevalence of gout reached 34.2%. In Indonesia, the prevalence of doctor-diagnosed gout among the population aged ≥ 15 years reached 7.30%, with Bali recording 10.46% and Buleleng Regency reaching 12.93% (Riskesdas, 2018). WHO has recognized Body Mass Index (BMI) as the best epidemiological measure to evaluate overweight or underweight and is a potential risk factor for various metabolic problems, including increased uric acid levels. This study aimed to determine the relationship between BMI and uric acid levels at Kubutambahan II Public Health Center in 2025. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach, aiming to analyze the relationship between variables at a single point in time. Secondary data were used, consisting of medical records with a sample size of 45 patients. Data analysis included univariate analysis to determine the frequency distribution of the independent variable (BMI) and dependent variable (uric acid levels), as well as bivariate analysis using the Spearman correlation test to examine the relationship between the two variables. The results showed a weak positive correlation between BMI and uric acid levels, with a correlation coefficient (r) of 0.344 (0.20-0.399) which Indicated an increase in BMI tends to be followed by an increase in uric acid levels. The results also showed a p- value of 0.021 (< 0.05), indicating a significant relationship between BMI and uric acid levels.
LITERATURE REVIEW: HUBUNGAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA Sista, Erlangga; Rahmayani, Irma; Prabawa, Aditya
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2399

Abstract

Plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan antepartum yang berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu serta janin. Salah satu faktor risiko yang sering dikaitkan dengan kejadian plasenta previa adalah paritas. Paritas diduga kuat sebagai faktor risiko dominan akibat perubahan struktur uterus pasca-persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paritas ibu hamil dengan kejadian plasenta previa berdasarkan studi literatur terkini. Desain penelitian adalah literature review dengan menelaah 8 artikel terpilih (2015–2025) yang diperoleh dari database elektronik utama menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat. Sintesis data menunjukkan 7 dari 8 studi (87,5%) melaporkan hubungan statistik yang signifikan. Ibu dengan status multipara dan grandemultipara memiliki risiko mengalami plasenta previa 2,5 hingga 6,4 kali lebih tinggi dibandingkan primipara. Tingginya risiko ini berkaitan dengan mekanisme atrofi endometrium dan vaskularisasi desidua yang buruk di fundus akibat bekas luka persalinan berulang, yang memicu plasenta berimplantasi di segmen bawah rahim. Terdapat korelasi positif yang konsisten antara peningkatan paritas dengan risiko plasenta previa.
QUALITY CHARACTERISTICS OF HERBAL TEA WITH DIFFERENT RATIOS OF PANDAN (Pandanus amaryllifolius) and STEVIA (Stevia rebaudiana) LEAVES Lestari, Suji; Pato, Usman; Hasnah AR, Nur; Defri, Ifwarisan; Rahmayani, Irma; Yunita, Imelda; Hasibuan, Ahmad Ibrahim Roni Surya
SAGU Vol. 25 No. 1 (2026): SAGU Journal – Agri. Sci. Tech., Maret, 2026, Vol. 25 : No. 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jsg.v25i1.27

Abstract

The primary objective of this study was to evaluate the effect of varying ratios of pandan leaves (Pandanus amaryllifolius) and stevia leaves (Stevia rebaudiana) on the chemical and sensory characteristics of herbal tea, identifying the optimal formulation relative to SNI 3945:2016 standards. Unlike traditional tea derived from Camellia sinensis, herbal infusions utilize diverse plant materials valued for their therapeutic properties. Pandan leaves, in particular, contain essential bioactive compounds—including polyphenols, alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids—that provide significant antimicrobial and antioxidant  benefits. The experiment was conducted using a completely randomized design with four treatments and  four replications. The treatments consisted of different ratios of pandan to stevia leaves: 60:40 (PS1), 65:35  (PS2), 70:30 (PS3), and 75:25 (PS4). The observed parameters included moisture content, ash content,  antioxidant activity, total polyphenols, and sensory evaluation (color, aroma, taste, and overall acceptance).  Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Duncan’s multiple range test  (DMRT) at a 5% significance level. The results showed that the ratio of pandan and stevia leaves  significantly affected moisture content, ash content, antioxidant activity, total polyphenols, and sensory  attributes. The best treatment was PS1 (60:40), which exhibited 6.35% moisture content, 7.08% ash  content, antioxidant activity of 21.75 ppm, and total polyphenols of 84.34 mg GAE/g. Sensory evaluation  indicated that the product had a characteristic pandan aroma, slightly bitter taste, and slightly greenish  color, with acceptable overall preference by panelists.