Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Personal Hygiene dengan Kejadian Pediculosis Capitis pada Santriwati di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda Bohari, Zalfa Aqilah; Zubaidah, Mona; Rahma, Khairunnida
Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM) Vol.5 No.2 Desember (2023) : Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM)
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkmm.v5i2.13761

Abstract

Pediculosis capitis merupakan infestasi oleh Pediculus humanus capitis atau kutu rambut yang bersarang di rambut manusia. Pediculosis capitis dapat menyebabkan gatal pada kulit kepala, insomnia, gangguan konsentrasi, dan komplikasi lainnya yang dapat memengaruhi performa belajar anak di sekolah. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi kejadian Pediculosis capitis salah satunya pengetahuan dan perilaku personal hygiene. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku personal hygiene dengan kejadian Pediculosis capitis pada santriwati di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel berupa total sampling dengan jumlah sampel 99 santriwati yang masuk ke dalam kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner dan pemeriksaan fisik menggunakan instrumen berupa sisir serit, kaca pembesar, dan alas kain putih.Hasil penelitian menunjukkan mayoritas tingkat pengetahuan santriwati terkait Pediculosis capitis yang baik sebanyak 69.6%, dan mayoritas santriwati memiliki perilaku personal hygiene yang kurang sebanyak 54.5%. Hasil analisis uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian Pediculosis capitis (p-value 0.623) dan terdapat hubungan antara personal hygiene dengan kejadian Pediculosis capitis (p-value 0.022). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian Pediculosis capitis, namun terdapat hubungan antara perilaku personal hygiene dengan kejadian Pediculosis capitis.Kata Kunci: pediculosis capitis, personal hygiene, pengetahuan, pondok pesantren.
GAMBARAN GEJALA KLINIS DAN HUBUNGAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN SKABIES PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN HIDAYATULLAH SAMARINDA Qurotu'aini, Jihan Hasna; Zubaidah, Mona; Rahma, Khairunnida
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2024): Volume 11 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i3.13512

Abstract

Abstrak: Gambaran Gejala Klinis dan Hubungan Perilaku Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies pada Santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda. Skabies merupakan infestasi parasit yang dapat menimbulkan ruam dan rasa sangat gatal pada kulit. Skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. Hominis. Tingginya prevalensi skabies disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah praktik hygiene yang tidak benar seperti kurangnya perawatan kebersihan pribadi, kebiasaan tidur bersama, bergantian memakai pakaian dan handuk, seringnya perjalanan ke tempat yang berisiko. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran gejala klinis dan mengetahui hubungan perilaku Personal Hygiene dengan kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis Analitik Observasional dengan pendekatan cross-sectional, total jumlah santri di pesantren ini adalah 149 santri dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Hasil dari penelitian ini yaitu tingkat Personal Hygiene kurang sebanyak 85 responden (66,9%), dan tingkat Personal Hygiene baik sebanyak 42 responden (33,1%). sebanyak 24 responden (18,9%) terdiagnosis skabies. Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan hasil nilai p-value adalah p = 0,003 (p<0,05), dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku Personal Hygiene dengan kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda.
Effectiveness Evaluation of Single-Session Socialization on HIV/AIDS Knowledge among Rural Adolescents in East Kalimantan Fitria Dewi Puspita Anggraini; Zubaidah, Mona; Vera Madonna Lumban Toruan; Nur Khoma Fatmawati; Sholichin, Sholichin
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v4i4.5992

Abstract

Indonesia reports approximately 540,000 HIV cases according to UNAIDS data, with rural adolescents experiencing significant knowledge gaps regarding HIV/AIDS transmission and prevention. Educational interventions are crucial for addressing these deficits, particularly in remote areas with limited healthcare information access. This research to evaluate the effectiveness of socialization interventions on HIV/AIDS knowledge among rural adolescents in East Kalimantan, Indonesia. A quasi-experimental pre-post study design was conducted among 47 adolescents aged 10-17 years in Loa Ulung Village, East Kalimantan. The intervention utilized leaflets and interactive two-way discussions covering HIV/AIDS transmission modes and prevention strategies. Data collection employed a validated 10-item questionnaire administered pre- and post-intervention. Statistical analysis included Shapiro-Wilk normality testing and Wilcoxon signed-rank test for non-parametric comparisons. Pre-intervention knowledge scores averaged 7.43 (SD=1.500), increasing to 7.81 (SD=1.715) post-intervention. The Wilcoxon signed-rank test showed no statistically significant difference (p=0.128), with a normalized gain score of 0.14 indicating low effectiveness. Persistent misconceptions included: 63.8% incorrectly believing all HIV-infected individuals develop AIDS, 23.4% thinking HIV transmits through sharing utensils, and 17.0% believing shared toilets cause transmission. Single-session educational interventions demonstrated limited effectiveness in improving HIV/AIDS knowledge among rural adolescents. Future programs should incorporate age-appropriate, interactive methodologies with extended duration and follow-up sessions for optimal outcomes in rural Indonesian settings.
Prevalensi Kecacingan Soil Transmitted Helminths (STH) Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Sungai Meriam Kecamatan Anggana Ditinjau Dari Feses, Kuku dan Tanah Retnaningrum, Yuliana Rahmah; Zubaidah, Mona; Madonna, Vera; Asfirizal , Verry
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i1.62657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kecacingan Soil Transmitted Helminths (STH) pada siswa sekolah dasar di Desa Sungai Meriam Kecamatan Anggana melalui pemeriksaan feses, kuku, dan tanah sebagai media potensial penularan. Studi ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan studi prevalensi, sehingga mampu memberikan gambaran nyata mengenai tingkat infeksi dan risiko penularan di lingkungan sekolah dasar. Sampel penelitian meliputi seluruh siswa kelas I SD serta sampel lingkungan berupa tanah di pekarangan sekolah sebagai area yang sering berinteraksi langsung dengan anak. Pemeriksaan feses dilakukan menggunakan metode Kato, pemeriksaan potongan kuku menggunakan metode sedimentasi, sementara pemeriksaan tanah menggunakan metode Suzuki untuk memastikan tingkat akurasi identifikasi telur cacing. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat kontaminasi STH pada tubuh dan lingkungan anak usia sekolah. Temuan ini menjadi dasar penting bagi upaya pencegahan kecacingan melalui intervensi kesehatan seperti program pengobatan massal, edukasi kesehatan, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), perbaikan higiene personal anak, serta pengendalian sanitasi lingkungan sekolah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam menurunkan angka kejadian infeksi kecacingan pada anak-anak dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setempat secara berkelanjutan.