Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Respon Pertumbuhan Jagung (Zea mays L.) terhadap Pupuk Kandang dan Urea pada Media Pasir Pramana Putra, Fajrin; Ikhsan, Nur; Virdaus, Milla
AGROSCRIPT: Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 3 No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/agroscript.v3i2.709

Abstract

Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah namun banyak memiliki faktor pembatas dari rendahnya kandungan bahan organik dan rendahnya daya pegang air. Penggunaan pupuk kandang menjadi solusi perbaikan struktur tanah pasir sehingga meningkatkan kemampuan mengikat air meningkat, dan meningkatkan kadar bahan organik pada tanah pasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan tanaman jagung pada media tanam pasir yang diberikan pupuk kandang dan urea. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober-November 2020 di kebun percobaan Politeknik Lamandau, Kabupaten Lamandau. Penelitian merupakan rancangan Faktorial dengan 2 perlakuan dengan 3 ulangan disusun secara Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Perlakuan pertama yaitu pupuk kandang dengan 2 taraf (P0= tanpa pupuk kandang (0 ton. ha-1), P1= menggunakan pupuk kandang (20 ton. ha-1)). Perlakuan kedua yaitu dosis pupuk urea (N1= pupuk urea dengan dosis 200 kg. ha-1), N2 = pupuk urea dengan dosis 300 kg. ha-1, dan N3 = pupuk urea dengan dosis 400 kg. ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang dan dosis pupuk urea berpengaruh secara nyata secara mandiri dan tidak ada interaksi antar perlakuan. Perlakuan dosis pupuk urea hanya mampu meningkatkan pertumbuhan jagung pada variabel tinggi tanaman pada dosis 200 kg. ha-1. Perlakuan pemberian pupuk kandang 20 ton. ha-1 mampu meningkatkan pertumbuhan jagung pada variabel tinggi tanaman, luas daun, bobot segar tanaman, dan bobot kering tanaman. Pemberian pupuk kandang 20 ton. ha-1 mampu memberikan bobot kering tanaman sebesar 20,50 g. Sedangkan yang tidak diberi pupuk kandang mengalami penurunan bobot kering sebesar 91,02%.
MORPHOMETRIC STUDY OF SWANGGI FISH (Priacanthus tayenus ,Richardson, 1846) IN CITUIS WATERS, BANTEN Ruzanna, Arina; Syahrial, Syahrial; Khalil, Munawar; Ayuzar, Eva; A’kla, Cut Meurah Nurul; Agustini, Nella Tri; Ikhsan, Nur
Jurnal Segara Vol 20, No 2 (2025): December
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v20i2.19229

Abstract

Priacanthus tayenus fish, often referred to as Swanggi, were found during fishing activities in the Cituis area, Banten. This indicates that the potential population of this fish remains substantial and has high economic value. A total of 30 fish were obtained, consisting of 11 female fish and 19 male fish. This study used the purposive sampling method. Analysis of the relationship between the length and weight of Swanggi fish from the waters of Cituis showed a correlation coefficient (r) of 0.9305. This figure indicates that the growth of the Swanggi fish is isometric. The length of the Swanggi fish (PB) increases with increasing morphological size. Food availability is thought to influence these correlation results. The availability of food plays a crucial role in the growth process. These correlation results indicate that food availability in the waters is still sufficient to support the life of the Swanggi fish.
Strategi Pengembangan Ekowisata Bahari Pulau Tolandono Kabupaten Wakatobi Ode Mansyur, La; Nasrun, Nasrun; Normayasari, Normayasari; Harudin, Harudin; Ikhsan, Nur; Isman, Khairudin; Sahari, Sariamin; Kusuma Admaja, Alfi; Musrianton, Muhammad; Ferlin, Akhmatul; Utami, Dewi; Hamka, Eddy; Amijaya Husain, Suharta
Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH) Vol. 7 No. 1 (2025): February, Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH)
Publisher : LP3M, Universitas Muhammadiyah Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51454/jimsh.v7i1.1012

Abstract

This study aims to analyze strategies for developing marine ecotourism in Tolandono Island, Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi, to support environmental sustainability and improve the welfare of local communities. A qualitative descriptive method with a SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) approach was employed to identify potentials and challenges in ecotourism development. Data were collected through observations, semi-structured interviews with 55 respondents, and focus group discussions (FGD) involving tourism business actors, local communities, tourists, and relevant institutions. The findings reveal that Tolandono Island possesses high marine biodiversity and conservation status, despite challenges such as inadequate infrastructure, low capacity of local human resources, and threats to marine ecosystems from destructive activities and climate change. Four main strategies were formulated: 1) technology-based promotion and development of tourism facilities (SO); 2) human resource training, institutional strengthening, and infrastructure improvement (WO); 3) resource management to address environmental threats (ST); and 4) conservation education and livelihood diversification (WT). The implementation of these strategies is projected to increase tourist visits by 20% annually, contribute up to IDR 2 billion per year to the local economy, and reduce marine ecosystem damage by 25%. This study highlights the importance of collaboration between the government, local communities, and stakeholders to ensure sustainable community-based ecotourism in Tolandono Island.
Strategi Pengembangan Agrowisata Pesisir Berbasis Partisipasi Komunitas di Desa Liya Togo Harudin, Harudin; Ode Mansyur Makiki, La; Nasrun, Nasrun; Normayasari, Normayasari; Ikhsan, Nur; Isman, Khairudin; Sahari, Sariamin; Kusuma Admaja, Alfi; Musrianton, Muhammad; Ferlin, Akhmatul; Ode Muhammad Norsa, La; Utami, Dewi
Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH) Vol. 7 No. 2 (2025): August, Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH)
Publisher : LP3M, Universitas Muhammadiyah Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51454/jimsh.v7i2.1162

Abstract

Desa Liya Togo memiliki potensi besar untuk mengembangkan agrowisata pesisir sebagai upaya peningkatan ekonomi lokal berbasis pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat partisipasi masyarakat, mengidentifikasi tantangan utama, dan merumuskan strategi pemberdayaan yang adaptif dan berkelanjutan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan secara tematik untuk menggali keterlibatan masyarakat, hambatan, dan peluang yang ada.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Liya Togo, kelompok perempuan dan pemuda berperan aktif dalam budidaya rumput laut, pengolahan singkong menjadi makanan tradisional (Kasoami), minuman herbal (Saraba, Teh Kelor dan Madu Hutan), budidaya bawang merah, serta promosi wisata (Wisata Kebun Edukatif) melalui media sosial. Namun, tantangan seperti infrastruktur jalan yang belum memadai, keterbatasan pelatihan kewirausahaan, dan akses pasar yang terbatas masih menghambat perkembangan agrowisata pesisir. Strategi pemberdayaan yang disarankan meliputi pelatihan rutin berbasis kebutuhan lokal, pembentukan BUMDes wisata, serta integrasi antara agrowisata dan ekowisata bahari.
Optimalisasi pemupukan: sosialisasi best management practice bagi petani binaan RSPO BUM Desa Berkah Mulya Jaya, Kabupaten Lamandau Setiawan, Ihda Andrey Yanuar; Tinduh, Yulio Kristian; Ikhsan, Nur
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30842

Abstract

Abstrak Perkebunan kelapa sawit merupakan sektor utama yang menopang perekonomian masyarakat Kabupaten Lamandau. Namun, pengelolaan yang kurang memperhatikan aspek keberlanjutan, terutama oleh petani mandiri, berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti penurunan kesuburan tanah. Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Usaha Milik Desa Berkah Mulya Jaya, yang telah menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), memfasilitasi peningkatan kapasitas anggota petani baru melalui penerapan Best Management Practice (BMP). Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh tim Politeknik Lamandau dengan tema sosialisasi pemupukan berkelanjutan berbasis RSPO. Kegiatan dilakukan dalam empat tahap, yaitu persiapan, identifikasi kebutuhan, penyampaian materi dan diskusi interaktif, serta evaluasi kegiatan. Materi berfokus pada prinsip pemupukan yang ramah lingkungan, efisien, dan sesuai dengan standar RSPO. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para petani binaan mengalami peningkatan pemahaman dan kesadaran terhadap praktik pemupukan yang berkelanjutan. Respons positif dari peserta dan pengurus BUM Desa menunjukkan bahwa kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dan membuka peluang kerja sama jangka panjang antara BUM Desa Berkah Mulya Jaya dan institusi pendidikan dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Kata kunci: Pemupukan; best management practice; RSPO; BUM Desa Berkah Mulya Jaya Abstract Oil palm plantations serve as a key economic driver for communities in Lamandau Regency. However, poor management practices, especially among independent farmers, have raised environmental concerns such as soil fertility decline. To address this, Badan Usaha Milik Desa Berkah Mulya Jaya, a registered member of the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), facilitates the adoption of sustainable farming practices through the implementation of Best Management Practices (BMP). This community service activity, conducted by the Politeknik Lamandau team, focused on the dissemination of sustainable fertilization methods aligned with RSPO standards. The program was carried out in four stages: preparation, needs identification, knowledge delivery through presentations and interactive discussions, and evaluation. The material emphasized environmentally friendly fertilization techniques that are both efficient and practical for farmers. The results showed a significant improvement in farmers’ understanding and awareness of sustainable fertilization practices. Positive responses from participants and BUM Desa officials indicate that the activity had a tangible impact and holds potential for long-term collaboration between BUM Desa Berkah Mulya Jaya and academic institutions in promoting sustainable agriculture. Keywords: fertilization; best management practice; RSPO; BUM Desa Berkah Mulya Jaya
The Conservation Management Model For Mangrove Forest Management And Ecotourism On Wangi-Wangi Island, Wakatobi, Indonesia: A Moderated-Mediation Approach Involving Community Empowerment And Institutional-Motivational Barriers Sahari, Sariamin; RUMPA, ARHAM; FERLIN, AKHMATUL; ADMAJA, ALFI KUSUMA; ASUHADI, SUNARWAN; Musrianton, Muhammad; ISMAN, KHAIRUDIN; MANSYUR, LA ODE; NORMAYASARI, NORMAYASARI; Ikhsan, Nur; NASRUN, NASRUN; HARUDIN, HARUDIN; JABBAR, MEUTHIA AULA
Proceedings of The Vocational Seminar on Marine & Inland Fisheries Volume 3 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/voc_seminar.v3i1.20776

Abstract

The management of mangrove conservation and ecotourism on Wangi-Wangi Island in Wakatobi employs a Moderated-Mediation approach using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to understand the complex mechanisms between conservation and ecotourism efforts, community empowerment, and the sustainability of ecotourism. This study also examines the moderating role of institutional barriers and motivation. Mangrove ecosystems are threatened by anthropogenic factors and the lack of management institutions, particularly in Wakatobi, which possesses the local wisdom of its indigenous communities but faces challenges related to infrastructure and community participation, often limited to a tokenistic level. The research method involved a survey with a 5-point Likert questionnaire administered to 100 respondents from various stakeholders across four coastal villages. Data analysis was performed using SEM-PLS 4.0 software to test for validity, reliability, and model hypotheses, alongside descriptive qualitative data interpretation. Results indicate that although the direct impact of conservation and ecotourism on sustainability is not significant, community empowerment significantly mediates this relationship with an indirect effect of 0.587. Furthermore, institutional barriers and motivation were not found to be significant moderators, even though they remain contemporary issues. Thus, the sustainability of mangrove ecotourism in Wangi-Wangi largely depends on effective community empowerment as a key mediator, rather than direct conservation and ecotourism efforts. Consequently, policy recommendations should focus on strengthening community empowerment, particularly through political and participatory dimensions, enhancing citizen oversight, and improving structural governance, including infrastructure and regulations, to address existing barriers
Strategi Pengembangan Ekowisata Bahari Pulau Tolandono Kabupaten Wakatobi Ode Mansyur, La; Nasrun, Nasrun; Normayasari, Normayasari; Harudin, Harudin; Ikhsan, Nur; Isman, Khairudin; Sahari, Sariamin; Kusuma Admaja, Alfi; Musrianton, Muhammad; Ferlin, Akhmatul; Utami, Dewi; Hamka, Eddy; Amijaya Husain, Suharta
Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH) Vol. 7 No. 1 (2025): February, Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH)
Publisher : LP3M, Universitas Muhammadiyah Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51454/jimsh.v7i1.1012

Abstract

This study aims to analyze strategies for developing marine ecotourism in Tolandono Island, Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi, to support environmental sustainability and improve the welfare of local communities. A qualitative descriptive method with a SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) approach was employed to identify potentials and challenges in ecotourism development. Data were collected through observations, semi-structured interviews with 55 respondents, and focus group discussions (FGD) involving tourism business actors, local communities, tourists, and relevant institutions. The findings reveal that Tolandono Island possesses high marine biodiversity and conservation status, despite challenges such as inadequate infrastructure, low capacity of local human resources, and threats to marine ecosystems from destructive activities and climate change. Four main strategies were formulated: 1) technology-based promotion and development of tourism facilities (SO); 2) human resource training, institutional strengthening, and infrastructure improvement (WO); 3) resource management to address environmental threats (ST); and 4) conservation education and livelihood diversification (WT). The implementation of these strategies is projected to increase tourist visits by 20% annually, contribute up to IDR 2 billion per year to the local economy, and reduce marine ecosystem damage by 25%. This study highlights the importance of collaboration between the government, local communities, and stakeholders to ensure sustainable community-based ecotourism in Tolandono Island.
Strategi Pengembangan Agrowisata Pesisir Berbasis Partisipasi Komunitas di Desa Liya Togo Harudin, Harudin; Ode Mansyur Makiki, La; Nasrun, Nasrun; Normayasari, Normayasari; Ikhsan, Nur; Isman, Khairudin; Sahari, Sariamin; Kusuma Admaja, Alfi; Musrianton, Muhammad; Ferlin, Akhmatul; Ode Muhammad Norsa, La; Utami, Dewi
Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH) Vol. 7 No. 2 (2025): August, Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH)
Publisher : LP3M, Universitas Muhammadiyah Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51454/jimsh.v7i2.1162

Abstract

Desa Liya Togo memiliki potensi besar untuk mengembangkan agrowisata pesisir sebagai upaya peningkatan ekonomi lokal berbasis pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat partisipasi masyarakat, mengidentifikasi tantangan utama, dan merumuskan strategi pemberdayaan yang adaptif dan berkelanjutan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan secara tematik untuk menggali keterlibatan masyarakat, hambatan, dan peluang yang ada.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Liya Togo, kelompok perempuan dan pemuda berperan aktif dalam budidaya rumput laut, pengolahan singkong menjadi makanan tradisional (Kasoami), minuman herbal (Saraba, Teh Kelor dan Madu Hutan), budidaya bawang merah, serta promosi wisata (Wisata Kebun Edukatif) melalui media sosial. Namun, tantangan seperti infrastruktur jalan yang belum memadai, keterbatasan pelatihan kewirausahaan, dan akses pasar yang terbatas masih menghambat perkembangan agrowisata pesisir. Strategi pemberdayaan yang disarankan meliputi pelatihan rutin berbasis kebutuhan lokal, pembentukan BUMDes wisata, serta integrasi antara agrowisata dan ekowisata bahari.
Analisis Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Wakatobi: Ekonomi Biru, Resiliensi Penghidupan, dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Ode Mansyur, La; Taswin Munier, Muh.; Rumpa, Arham; Nasrun, Nasrun; Ikhsan, Nur; Harudin, Harudin; Hindi, Patta; Robin, Robin
Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH) Vol. 8 No. 2 (2026): August, Jurnal Ilmu Manajemen Sosial Humaniora (JIMSH)
Publisher : LP3M, Universitas Muhammadiyah Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51454/jimsh.v8i2.1679

Abstract

Study findings on seaweed cultivation commonly examine production feasibility, livelihood contributions, or blue economy governance in isolation; consequently, the mechanisms connecting policy support, community participation, technology adoption, economic resilience, and wellbeing in small-island sea-grape systems remain insufficiently explained. This study assesses the feasibility and development mechanisms of seaweed (Caulerpa sp.) cultivation and develops a Policy Participation Technology Resilience Wellbeing Framework (PPTRW) for community based blue economy implementation. A convergent mixed-methods design was employed. Quantitative data were collected through a purposive survey of 150 respondents comprising 56 fishers, 62 seaweed farmers, and 32 marine-tourism actors, while qualitative evidence was obtained from observation, in-depth interviews, and documentation. The analyses included descriptive statistics, the revenue–cost ratio, household-income contribution, Pearson correlation, break-even sensitivity analysis, thematic analysis, TOWS, and data integration using a joint display. The business recorded an R/C ratio of 1.72, an average reported income of IDR 3,150,000 per production cycle, a 22% contribution to household income, and a positive association between business experience and income (r=0.61; p<0.05). Ceteris paribus, the enterprise remains at break-even until revenue falls by approximately 41.86% or costs rise by 72%. Qualitative findings indicate that experience improves site selection, quality control, efficiency, and market access, whereas local institutions, post-harvest technology, and ecotourism integration create pathways toward resilience. The study’s novelty lies in the PPTRW framework, which integrates Blue Economy, Sustainable Livelihoods, and Community Empowerment perspectives at the small island village level. Policy implications include cultivation clusters, marketing cooperatives, cold-chain technology, educational ecotourism packages, and ecological carrying-capacity monitoring.