Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Ekowisata Dalam Perancangan Resort di Kabupaten Ciamis Azka Inatsan Ghassani; Asep Yudi Permana; Indah Susanti
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i1.3359

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Ciamis merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat yang memiliki 10 prioritas rencana pembangunan, dimana salah satunya adalah pembangunan di sektor pariwisata oleh karena itu, sarana akomodasi berupa jasa penginapan pun semakin dibutuhkan. Keberadaan alam Ciamis yang masih asri, perancangan resort dengan tema ekowisata dibutuhkan , dimana diharapkan mampu memberikan kesadaran kepada pengunjung akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, budaya setempat, dan hubungan sosial .Perancangan ini menampilkan bentuk bangunan yang mencirikan ciri khas bangunan di Kabupaten Ciamis.Tidak hanya pada bentuk bangunan, ciri khas Kabupaten Ciamis pun diperlihatkan pada penggunaan material batu kali bulat dan material yang menjadi potensi alam disana seperti bambu dan kayu.Hasil studi ini diharapkan pembaca dapat memperoleh informasi dan pengetahuan terutama mengenai penerapan tema ekowisata pada resort. Kata Kunci : Ciamis, Resort, Ekowisata
ANALISIS KONFIGURASI RUANG PONDOKAN MAHASISWA DI KAWASAN TAMAN HEWAN BALUBUR - TAMANSARI, BANDUNG Asep Yudi Permana; Karto Wijaya
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1882.602 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i1.209

Abstract

Abstract: In simple terms, space can be interpreted as a container of activity. The complexity of an urban environment begins with a variety of activities which then affect the arrangement of space. The variety of activities requires an effective and efficient space configuration that is determined by the formation of spatial structures. As part of a configuration, space is not only a node, but also a path or path that is generally public. This node and path connects the fields and binds them in a relationship system (lingkage system). The research method uses a space configuration analysis approach through calculation of total depth, mean depth, and RA. Next is a descriptive analysis. The research parameters consisted of: connectivity, integrity, intelligibility, and axial line. The results of the study showed that space configuration occurred resulting in 7 (seven) spatial configurations.Keyword: Connectivity, integrity, intelligibility, lingkageAbstrak: Secara sederhana, ruang dapat diartikan sebagai wadah aktivitas. Kompleksitas yang dimiliki lingkungan perkotaan dimulai dengan beragamnya aktivitas yang kemudian berdampak pada susunan ruang. Beragamnya aktivitas membutuhkan konfigurasi ruang yang efektif dan efisien yang ditentukan dari pembetukan struktur ruang. Sebagai bagian darisebuah konfigurasi, ruang tidak hanya berbentuk node, tetapi juga path atau jalur yang umumnya bersifat publik. Node dan path ini menghubungkan lahan-lahan dan mengikatnya dalam suatu sistem hubungan (lingkage system). Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis konfigurasi ruang melalui perhitungan total depth, mean depth, dan RA. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif. Parameter penelitian terdiri dari: cennectivity, integrity, intelligibility, dan axial line.  Hasil penelitian menunjukkan konfugiransi ruang yang terjadi menghasilkan 7 (tujuh) konfigurasi ruang.Kata Kunci: Konektivitas, integritas, kejelasan, keterkaitan
Kajian Spasial Penempatan Fasilitas Sosial di Pemukiman Padat Kota Bandung: Analisis Space Syntax Studi Kasus : Wilayah Kelurahan Burangrang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung Try Ramadhan; Gema Ramadhan; Karto Wijaya; Asep Yudi Permana
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.895 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v2i2.58

Abstract

Abstract:. Burangrang Urban Village is one of the densely populated residential areas in the center of Bandung. The density of settlements in the center of the city must be supported by the availability of social facilities to develop the social, economic, and cultural quality of the population. Nevertheless, the residential area still lacks an integrated social facility to accommodate the social activities of the community for the entire settlement. Social facilities have an important role to play in increasing the social values of the population by providing space for interaction. Such social facilities should be located in easily accessible areas to accommodate social interaction for all dispersed community settlements. This paper aims to determine the potential placement of social facilities to strengthen social interaction in the neighborhood of the burangrang urban village. The method used is qualitative method with explorative approach through space syntax analysis, to see the connectivity, integration and level of potential destinations of space that can be achieved by the settlement in the area. The data were taken by non-participant observation and secondary data related to the road network and its achievement from settlement in the area.Keyword: social facilities, housing, space syntax Abstrak: Wilayah Kelurahan Burangrang merupakan salah satu daerah pemukiman padat yang berada di tengah Kota Bandung. Padatnya permukiman di tengah kota tersebut harus didukung oleh ketersediaan fasilitas sosial untuk mengembangkan kualitas sosial, ekonomi, dan budaya penduduk. Meskipun begitu, wilayah pemukiman tersebut masih belum terdapat fasilitas sosial yang terintegrasi untuk mewadahi kegiatan sosial masyarakat untuk seluruh pemukiman tersebut. Fasilitas sosial memiliki peran penting untuk meningkatkan nilai-nilai sosial penduduk dengan menyediakan ruang untuk interaksi. Fasilitas sosial tersebut harus ditempatkan di area yang mudah dijangkau agar dapat mewadahi interaksi sosial untuk semua komunitas di pemukiman yang tersebar. Tulisan ini bertujuan untuk menentukan potensi penempatan fasilitas sosial untuk memperkuat interaksi sosial di lingkungan wilayah kelurahan burangrang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif melalui analisis space syntax, untuk melihat konektivitas, integrasi dan tingkat potensi destinasi ruang yang dapat digapai oleh pemukiman di area tersebut. Data diambil dengan cara observasi non-partisipan dan data sekunder terkait dengan jaringan jalan dan ketercapaiannya dari permukiman di wilayah tersebut.Kata Kunci: fasilitas sosial, pemukiman, space syntax
PEMANFAATAN URBAN FARMING MELALUI KONSEP ECO-VILLAGE DI KAMPUNG PARALON BOJONGSOANG KABUPATEN BANDUNG Karto Wijaya; Asep Yudi Permana; Syarip Hidayat; Heru Wibowo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.364 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.354

Abstract

Abstract: Bojongsoang Village as one of the areas in Bojongsoang District is a densely populated area, where there is a shift and transfer of green functions to built up land (such as: new housing, industry / factories and others). Land for the green lane has become built up land (built into a house), this makes what should be productive land become unproductive land. In addition, with the increasing pressure of green land into developed land, demanding the community to optimize the land they have as productive land.The understanding of space which is only understood as a horizontal plane as land that can be used as productive land must be changed. Space is not only implemented in the horizontal plane but can also utilize the vertical plane to have high flexibility as land that can be processed as productive land. The urban farming model as an urban agriculture program that has long been developing is a potential activity in supporting the sustainability and survival of a district.The purpose of this study is to determine the Eco Village model in the Paralon village area as an Eco-Architecture concept in supporting the development of Sustainable Cities, as one of the eco-architecture models in urban villages by utilizing their respective land and space.Keyword: Eco-Architecture, Eco Village, Green SettlementAbstrak: Desa Bojongsoang sebagai salah satu wilayah di Kecamatan Bojongsoang merupakan kawasan yang padat penduduk, di mana terdapat pergeseran dan pengalih fungsilahan hijau menjadi lahan terbangun (seperti: perumahan baru, industri/pabrik dan lain-lain). Lahan-lahan untuk jalur hijau menjadi lahan terbangun (dibangun menjadi rumah tinggal), hal inilah menjadikan yang seharusnya menjadi lahan produktif menjadi lahan yang tidak produktif. Di samping itu dengan semakin tertekannya lahan hijau menjadi lahan terbangun, menuntut masyarakat untuk mengoptimalkan lahan yang dimiliki sebagai lahan produktif. Pemahaman ruang yang hanya dipahami sebagai bidang horizontal sebagai lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan produktif harus sudah mulai dirubah. Ruang tidak hanya diimplementasikan ke dalam bidang horizontal akan tetapi juga bisa memanfaatkan bidang vertikal menpunyai fleksibilitas yang cukup tinggi sebagai lahan yang bisa diolah sebagai lahan produktif. Model urban farming sebagai salah satu program pertanian perkotaan yang sudah lama berkembang merupakan aktivitas yang cukup potensial dalam menunjang keberlanjutan (sustainable) dan kebertahanan (survival) dari sebuah kabupaten.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan model Eco Village di wilayah desa Paralon sebagai konsep Eco-Architecture dalam mendukung pengembangan Kota Berkelanjutan, sebagai salah satu model eco-architecture di desa-desa perkotaan dengan memanfaatkan lahan dan ruang masing-masing.Kata Kunci: Arsitektur Ramah Lingkungan, Desa Ramah Lingkungan, Permukiman hijau  
Perancangan Kawasan Kreatif Tekstil Cigondewah Dengan Pendekatan Arsitektur Organik Menggunakan Metode Konstruksi Arsitektur Modular Sultan Yazid; Asep Yudi Permana; Suhandy Siswoyo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i1.655

Abstract

Abstract: Indonesia in 2045 will have a demographic bonus with a population structure of 70% in the productive age group (15-64 years). One of the biggest contributors is the province of West Java. The young generation of West Java is recognized by UNESCO by making the West Java Capital City, Bandung, a creative city. Bandung people's creativity is used as a provision for Bandung's highest export commodity, textiles, to increase its productivity. Textile productivity is poured by accommodating textile players to sell textiles, creating textile ideas, creating textile products, and introducing textile products. The four functions were designed to be designed in the Cigondewah Textile Area. The Cigondewah textile area is listed in the Bandung City RTRW as a textile center. The area is designed along Jalan Cigondewah Kidul with a length of 250 m. The area along Jalan Cigondewah Kidul was designed with output in the form of guidelines for facade improvement and remapping of functions along Jalan Cigondewah Kidul. Along Jalan Cigondewah Kidul, a site of 14,000 m2 of land was chosen to be built for a creative center for textiles consisting of buying and selling functions, collaboration space, exhibition space and workshop space. There are several issues in the design of the Cigondewah Textile Area. that is, the influence of the region to support the City of Bandung as a Creative City, the carrying capacity of the Region to the productivity of textiles, and to create a space that is comfortable to users. The above issue was initiated to be solved using an organic architecture approach that is dynamic and novelty. The nature of organic architecture was conceived to resolve the issue adaptively by using modular construction technology to increase efficiency.Abstrak: Diperkirakan pada tahun 2045 struktur populasi 70% pada kelompok usia produktif antara usia 15 sampai 64 tahun sebagai bonus demografi. Salah satu penyumbang terbanyak adalah provinsi Jawa Barat. Generasi muda Jawa Barat diakui oleh UNESCO dengan menjadikan Ibu Kota Jawa Barat, Bandung, sebagai kota kreatif. Kreatifitas masyarakat Bandung dimanfaatkan sebagai bekal bagi komoditi ekspor tertinggi Kota Bandung, tekstil, untuk meningkatkan produktifitasnya. Produktifitas tekstil dituangkan dengan mengakomodasi pelaku tekstil untuk menjual tekstil, menciptakan ide tekstil, menciptakan produk tekstil, dan mengenalkan produk tekstil. Keempat fungsi digagas untuk dirancang di Kawasan Tekstil Cigondewah. Kawasan tekstil Cigondewah tercantum pada RTRW Kota Bandung sebagai sentra tekstil. Kawasan dirancang sepanjang Jalan Cigondewah Kidul dengan panjang jalan 250 m. Kawasan sepanjang Jalan Cigondewah Kidul di rancang dengan keluaran berupa pedoman perbaikan fasad dan pemetaan ulang fungsi di sepanjang Jalan Cigondewah Kidul. Pada sepanjang Jalan Cigondewah Kidul dipilih satu wilayah tapak seluas 13.000 m2 yang akan dibangun pusat kreatif tekstil yang terdiri dari fungsi jual beli, ruang kolaborasi, ruang pameran dan ruang workshop. Terdapat beberapa isu pada perancangan Kawasan Tekstil Cigondewah. yaitu, pengaruh kawasan untuk mendukung Kota Bandung sebagai Kota Kreatif, Daya dukung Kawasan terhadap produktifitas tekstil, dan menciptakan ruang yang nyaman kepada pengguna. Isu diatas digagas untuk diselesaikan menggunakan pendekatan arsitektur organik yang bersifat dinamis dan kebaruan. Sifat dari arsitektur organik digagas untuk menyelesaikan isu secara adaptif dengan menggunakan teknologi konstruksi modular untuk meningkatkan efisiensi.
KAWASAN BANTARAN SUNGAI CIKAPUNDUNG SEBAGAI PERMUKIMAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH (MBR) DI KOTA BANDUNG Karto Wijaya; Asep Yudi Permana; Noor Swanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.601 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v1i2.7

Abstract

Abstract: The city of Bandung has always been a tourist attraction with various activities every year. Bandung population growth rate in the last 5 years reached 0.89% per year and in the expansion area reached 6.79% per year. With an area of only about 17,000 ha, Bandung is now inhabited by ± 2.481.901 inhabitants. The rate of population growth above the average growth rate of the population of West Java province. No wonder the average population density is 145 people / ha. Though ideally the population density of Bandung is 50-60 people / Ha. There are 657 districts and 57,687 homes that experience environmental degradation and 67 areas identified as urban slums. The implication of the high urbanization of Bandung City in Metropolitan scale to the scale of the region emerged the problem of integration of settlements with surrounding functions. The problem of settlement of Bandung City also includes segmentation of residential objects such as Low Income Community (MBR), non MBR, immigrants, local residents, students and workers of various Sectors. Thus the problems of the settlement of Bandung City include low level of fulfillment of adequate housing needs, limited access of Low Income Community to housing resources, unfinished system of financing and housing market, decreasing the quality of housing and settlement environment and not yet integrated development of area Housing and settlements with the construction of housing and settlement infrastructure, facilities and utilities. This research method to find out how far the level of slum settlement contained in Cihampelas Bandung Settlement and recommendations that can be done for the improvement of the settlement of the kampong. Keyword:Urbanization, Integration, Human settlement, Metropolitan Abstrak: Kota Bandung selalu menjadi daya tarik pendatang dengan berbagai aktivitas setiap tahunnya. Laju pertumbuhan penduduk Kota Bandung dalam 5 tahun terakhir mencapai 0,89% per tahun dan di wilayah perluasan mencapai 6,79% per tahun. Dengan luas wilayah hanya sekitar 17.000 Ha, Bandung kini dihuni oleh ± 2.481.901 jiwa. Laju pertambahan penduduknya diatas laju pertumbuhan rata-rata penduduk provinsi Jawa Barat. Tidak heran jika tingkat kepadatan penduduk rata-rata 145 jiwa/Ha. Padahal idealnya tingkat kepadatan penduduk Kota Bandung adalah 50-60 jiwa/Ha. Terdapat 657 kawasan dan 57.687 rumah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan dan 67 kawasan diidentifikasi sebagai kawasan kumuh perkotaan. Impilikasi dari tingginya urbanisasi Kota Bandung dalam skala Metropolitan hingga skala kawasan muncul masalah integrasi permukiman dengan fungsi sekitarnya. Permasalahan permukiman Kota Bandung juga meliputi segmentasi objek hunian seperti masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), non MBR, pendatang, penduduk lokal, mahasiswa dan pekerja berbagai sektor. Dengan demikian masalah-masalah yang permukiman Kota Bandung meliputi rendahnya tingkat pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak, terbatasnya akses Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) terhadap sumber daya perumahan, belum mantapnya sistem pembiayaan dan pasar perumahan, menurunnya kualitas lingkungan perumahan dan permukiman dan belum terintegrasinya pengembangan kawasan perumahan dan permukiman dengan pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas perumahan dan permukiman. Metode penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana tingkat kekumuhan pemukiman yang terdapat di Permukiman Cihampelas Bandung dan rekomendasi yang dapat dilakukan demi perbaikan pemukiman kampung tersebut. Kata kunci: Urbanisasi, Integrasi, Pemukiman, Metropolitan
KAJIAN OPTIMALISASI FASAD BANGUNAN RUMAH TINGGAL DALAM MENUNJANG PROGRAM NET ZERO ENERGY BUILDINGS (NZE-Bs) Asep Yudi Permana; Indah Susanti; Karto Wijaya
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.332 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v1i1.11

Abstract

Abstract: The house is one of the primary needs of man, so planning the construction of houses should be careful and consider many things. Some of them, namely the potential physical and socio-cultural potential. Physical potential is considered to be the building materials, the local climate and geological conditions. Mean while, social and cultural potential consists of local architecture and way of life. Related to the issue of global warming that occurred in modern times, the climate becomes a major consideration that needs to be resolved.Energy waste is also caused by the design of the buildings are not well integrated and not even one responsive to aspects of functionality, wet tropical climate of Indonesia. This is compounded designers are more concerned with aesthetic aspects (the prevailing trend). Issues green concept and the efficiency of energy consumption through the program Net-Zero Energy Buildings (NZE-Bs) of the housing sector as respon to tackle global heating-an already familiar in Indonesia, although its application can not be found significantly. Green concept by houses an developers often only as a mere trick and not realized and grown the responsibility of residents. Key word: socio-culture, Net-Zero Energy Buildings, energy consumption. Abstrak: Rumah merupakan salah satu kebutuhan utama manusia, sehingga perencanaan pembangunan rumah harus cermat dan mempertimbangkan banyak hal. Beberapa di antaranya, yaitu potensi fisik dan potensi sosial budaya. Potensi fisik adalah pertimbangan akan bahan bangunan, kondisi geologis dan iklim setempat. Sedangkan, potensi sosial budaya terdiri atas arsitektur lokal dan cara hidup. Terkait dengan isu pemanasan global yang terjadi pada masa modern ini, iklim menjadi sebuah pertimbangan utama yang perlu diselesaikan.Pemborosan energi disebabkan oleh desain bangunan yang tidak terintegrasi dengan baik bahkan salah dan tidak tanggap terhadap aspek fungsi, iklim tropis basah Indonesia. Hal tersebut diperparah kecende­rungan para perancang yang lebih mementingkan aspek estetis (tren yang berlaku). Isu-isu konsep hijau dan efisiensi konsumsi energi melalui program Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) dari sektor perumahan sebagai res­pon untuk menanggulangi pemanas­an global sudah tidak asing di Indo­nesia, walaupun penerapannya ma­sih belum dapat ditemukan secara signifikan. Konsep hijau yang dita­warkan oleh pengembang perumah­an seringkali hanya sebagai trik pe­masaran belaka dan tidak diwujudkan serta ditumbuhkan tanggung jawab para penghuni untuk menja­ganya. Akibat minimnya pemaham­an mengenai konsep hijau tersebut, para pengembang perumahan cen­derung lebih banyak menawarkan lingkungan perumahan yang asri dan hijau, bukan konsep hijau yang sebenarnya. Kata Kunci: Sosial budaya, Net-Zero Energy Buildings, Konsumsi Energi
PENGUKURAN KINERJA APARTEMEN SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MAHASISWA Analisis Kepuasan Pengguna di Kawasan Edutown, Jatinangor, Indonesia Asep Yudi Permana
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 1 (2022): Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i1.47879

Abstract

Abstract, The development of educational areas in Indonesia is not followed and prepared with policies that accommodate adequate infrastructure, so that the existence of rental housing facilities such as boarding houses, rented houses is increasingly mushrooming, all of which are left to the community around the campus. The phenomenon of apartments as student residences is increasingly stretched along with the increasing level of economy and lifestyle. The purpose of the study was to assess the level of student satisfaction with accommodation facilities. The study adopted a literature review related to the level of student satisfaction with apartment facilities using a questionnaire instrument. A total of 90 students who live in Easton, Pinewood, and Skyland apartments become research respondents. The data collected were analyzed using the average score, chi-square test (χ2), and space syntax analysis. The results revealed a total average satisfaction level of 3.55 (on a 5-point Likert scale), which indicates that students are satisfied with apartment accommodation facilities. The indicators of privacy, security, and accessibility are indicators that show the highest level of satisfaction compared to the other 12 indicators. Further research shows that age, marital status, and regional origin have a significant effect on overall student satisfaction with accommodation facilities provided by apartment managers. The implication is that this study provides valuable feedback for developers/investors in determining the type of apartment room that students are interested in as a residence in the edutown area, it also helps universities in developing and providing dormitories and facilities according to student needs. The indicators in this study have been tested significantly in assessing the level of student satisfaction about apartment accommodation facilities and can be used to assess user satisfaction with similar facilities in other locations or countries. Keywords: Education Area, Infrastructure, Phenomenon, Accommodation, Space syntax analysis Abstrak, Perkembangan kawasan pendidikan di Indonesia tidak diikuti dan dipersiapkan dengan kebijakan yang mengakomodasi infrastruksi yang memadai, sehingga keberadaan fasilitas hunian sewa seperti kost, rumah kotrakan semakin menjamur yang semua pemenuhannya diserahkan kepada masyarakat sekitar kampus. Phenomena apartemen sebagai hunian mahasiswa semakin menggeliat seiring semakin meningkatnya tingkat ekonomi dan gaya hidup. Tujuan penelitian adalah untuk menilai tingkat kepuasan mahasiswa terhadap fasilitas akomodasi. Penelitian mengadopsi tinjauan pustaka terkait dengan tingkat kepuasan mahasiswa terhadap fasilitas apartemen dengan menggunakan instrument kuesioner. Sebanyak 90 mahasiswa yang tinggal di Easton, Pinewood, dan Skyland apartment menjadi responden penelitian. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan skor rat-rata, uji chi-kuadrat (χ2), dan space syntax analysis.  Hasil, mengungkapkan adanya tingkat kepuasan rat-rata total 3,55 (pada skala likert 5 poin), yang menunjukkan bahwa mahasiswa puas dengan fasilitas akomodasi apartemen. Indikator privasi, keamanan, dan aksesibilitas menjadi indikator yang menunjukkan tingkat kepuasan yang paling tinggi dibandingkan dengan 12 indikator lainnya. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa usia, status pernikahan, dan asal daerah berpengaruh siginfikan terhadap kepuasan mahasiswa secara keseluruhan terhadap fasilitas akomodasi yang disediakan pengelola apartemen. Implikasi, studi ini memberikan upman balik yang berharga bagi pengembang/investor dalam menentukan tipe kamar apartemen yang diminati mahasiswa sebagai hunian di kawasan edutown, juga membantu bagi perguruan tinggi dalam pengembangan dan penyediaan asrama dan fasilitasnya sesuai kebutuhan mahasiswa. Indikator dalam penelitian ini sudah diuji secara signifikan dalam menilai tingkat kepuasan mahasiswa tentang fasilitas akomodasi apartemen dapat digunakan untuk menilai kepuasan pengguna dengan fasilitas serupa di lokasi atau negara lain. Keywords:  Kawasan Pendidikan, Infrastruktur, Fenomena, Akomodasi, Space syntax anaysis.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEDESAAN DALAM PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR JALAN BERDASARKAN STRUKTUR KELOMPOK MASYARAKAT PENYELANGGARA Juang Akbardin; Asep Yudi Permana; D Anggoro; DTP Hutajulu
Lentera Karya Edukasi Vol 1, No 3 (2021): Jurnal LENTERA KARYA EDUKASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengembangan dan Kajian Sarana dan Prasarana Pendidikan (P2K Sarprasdik)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.288 KB)

Abstract

Pembangunan infrastruktur pedesaan berkembanga cukup masif dengan adanya program pemerintah tentang pembangunan dari desa. Kelompok masayarakat penyelenggara kegiatan usaha maupun penyelenggara pemerintahan desa sangat memerlukan kemampuan manajemen dalam sistem pemeliharaan infrastruktur pembangunan desa. Sistem infrastruktur yang dikelola dengan sistem kearifan lokal mendorong terbangunannya sistem sosial yang peduli dalam menciptakan pembangunan yang efisien dan efektif sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang mandiri. Pembentukan  dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan infrastruktur desa mempunyai tujuan membangun masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan pembungan wilayahnya yang baik. Pemberdayaan masyarakat dalam pemeliharaan dan perawatan infrastruktur mendorong pembangunan wilayah desa yang berkelanjutan sesuai dengan kearifan lokal. Metode dalam pengabdian masyarakat ini menggunakan PRA (partisipatori Rural Aprisial) yang didasarkan sesduai dengan struktur kelompok masyarakat dan membentuk masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan sosial masyarakatnya dalam memelihara dan mengembangkan pembangunan infrastruktur pedesaannya secara kolaboratif swadaya masyarakat dengan oemerintah. Dengan terwujudnya Comunitte development penyelenggaraan infrastruktur pedesaan maka pembangunan berdasarkan kebutuhan masyarakat desa dalam diselenggarakan secara berkelanjutan dan mendorong sosial masyarakat desa yang lebih maju.
PELATIHAN TECHNOPRENEUR CALON ARSITEK DALAM MEMBANGUN JIWA WIRAUSAHA Asep Yudi Permana; Rd. Diah Srihartati Rahayu; Juang Akbardin; Agung Setiawan; Dudung Jatnika; Rohmat Rohmat; Wandi Rustandi
Lentera Karya Edukasi Vol 1, No 1 (2021): Jurnal LENTERA KARYA EDUKASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengembangan dan Kajian Sarana dan Prasarana Pendidikan (P2K Sarprasdik)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.402 KB)

Abstract

Abstract: Economic globalization and the information age have encouraged the development of IDUKA to use competent human resources who have an entrepreneurial spirit who are not only job seekers but also create job opportunities. Technology development, continuous and efficient technological innovation requires mastery of competence and scientific authority in its implementation. For this reason, qualified human resources are needed as experts-practitioners in the scientific field and their applications. Architecture and Civil Engineering students are required not only to be capable of engineering skills alone but also to be able to open job opportunities related to consulting services and construction services. PkM Entrepreneurship Development Program / PPK is a form of lecturer contribution to develop entrepreneurial spirit among students.Abstrak: Globalisasi ekonomi dan era informasi telah mendorong perkembangan IDUKAmenggunakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan memiliki jiwa wirausaha yang tidak hanya sebagai pencari kerja akan tetapi membuat peluang kerja. Pengembangan teknologi, inovasi teknologi yang kontinu dan tepat guna membutuhkan penguasaan kompetensi serta otoritas ilmiah dalam implementasinya. Untuk itu diperlukan SDM yang berkualitas sebagai ahli-praktisi dalam bidang keilmuan dan aplikasinya. Para mahasiswa Arsitektur maupun Teknik Sipil dituntut tidak hanya mampu dalam skill keteknikan semata akan tetapi harus mampu membuka peluang kerja yang terkait dengan jasa konsultansi maupun jasa konstruksi. PkM Program Pengembangan Kewirausahaan/PPK ini sebagai salah satu bentuk kontribusi dosen menumbuhkembangkan jiwa wirausaha dikalangan mahasiswa.mencari
Co-Authors Achmad Samsudin Adila, Mutiara Aditya, Atika Agung Setiawan agung setiawan AGUSTINA, SYLVIA Ana Ramdani Sari Andriyana, Deka Arafat, Pratitou Azka Inatsan Ghassani Candra Sapta Permana D Anggoro Dadang Mohammad Dedi Rohendi Djamaludin, Masdar DTP Hutajulu Dudung Jatnika Dwi Wahyu Wamenarno Farisa Sabila Firdaus Dwi Putra Rustiandi Gema Ramadhan Ghassani, Azka Inatsan Hafiz Nurrahman Hanson E Kusumah Heru Wibowo Heru Wibowo Indah Susanti Indah Susanti istiqomah istiqomah Jatnika, Dudung Juang Akbardin Karto Wijaya Karto Wijaya, Karto Kencanasari, R. A. Vesitara Kencanasari, R.A Vesitara krisnawan, cecep ridwan Kusumah, Indra Yudhapratama Laina Hilma Sari Lilis Widaningsih Lilis Widaningsih, Lilis Lucy Yosita Mardhatillah, Rizqi Mohamad, Dadang Mokhamad Syaom Barliana Mustika Nuramalia Handayani Nanang Dalil Herman Nareswari, Puspita Alfira Nitih Indra Komala Dewi Noor Swanto Nugraha, Hari Din Nurcahya, Yan Nyi Raden A Putri Anggiandari Permana, Aathira Farah Salsabilla Permanasari, Diah Cahyani Pratyaksa, Adhika Bayu Puspita Alfira Nareswari Ramadhan, Gema Ramadhan, Muhammad Oka Ramadhan, Try Ratu Sonya Mentari Haerdy Rd. Diah Srihartati Rahayu Rinaldi, Irfan Reihandhiya Riskha Mardiana, Riskha Risya Maryam Al Haq Rohmat Rohmat Rustandi, Wandi Sri Handayani Srihartati, Raden Diah Suhandy Siswoyo Sultan Yazid Sumanta, Vena Ventiany Swanto, Noor Syapril Janizar Syarip Hidayat Syarip Hidayat Tecky Hendrarto Tjahyani Busono Try Ramadhan Usep Surahman Wandi Krisdian Wandi Rustandi Whinda Rofika Arofah Widyojatmoko, Andry Wulan Sari Wulandari, elysa Wulandari, Rosdiana Yudhi Gunardi