Claim Missing Document
Check
Articles

PENGEMBANGAN DESAIN MICRO HOUSE DALAM MENUNJANG PROGRAM NET ZERO ENERGY BUILDINGS (NZE-Bs) Permana, Asep Yudi; Wijaya, Karto; Nurrahman, Hafiz; Permana, Aathira Farah Salsabilla
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Energy efficiency is a top priority in design, because design errors that result in wasteful energy will impact operational costs as long as the building operates. The opening protection in the facade should be adjusted according to their needs, for optimum use of sky light. Inhibiting the entry of solar heat into the room through the process of radiation, conduction or convection, optimum use of sky light and efforts to use building skin elements for shading are very wise efforts for energy savings. House construction planning must be careful and consider many things, including: physical potential. Physical potential is a consideration of building materials, geological conditions and local climate. Related to the issue of global warming that occurs in modern times, climate is a major consideration that needs to be resolved.The purpose of building design, especially in residential homes aims to create amenities for its inhabitants. Amenities are achieved through physical comfort, be it spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, or visual comfort.Energy waste is also caused by building designs that are not well integrated and even wrong and are not responsive to aspects of function, and climate. This is worsened by the tendency of the designers to prioritize aesthetic aspects (prevailing trends). The issue of green concepts and energy consumption efficiency through the Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) program from the housing sector as a response to tackling global warming is already familiar in Indonesia, although its application has not yet been found significantly. Green concepts offered by housing developers are often merely marketing tricks and are not realized and grow the responsibility of the residents to look after them. Due to the lack of understanding of the green concept, housing developers tend to offer more a beautiful and green housing environment, not the actual green concept.Keyword: Socio-culture, Energy efficiency, Energy consumption, Environment. The green conceptAbstrak: Efisiensi energi merupakan prioritas utama dalam disain, karena kesalahan disain yang berakibat boros energi akan berdampak terhadap biaya opersional sepanjang bangunan tersebut beroperasi. Pelindung bukaan pada fasade sebaiknya dapat diatur sesuai kebutuhannya, untuk pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin. Penghambatan masuknya panas matahari kedalam ruangan baik melalui proses radiasi, konduksi atau konveksi, pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin serta upaya pemanfaatan elemen kulit bangunan untuk pembayangan merupakan upaya yang sangat bijaksana bagi penghematan energi. Perencanaan pembangunan rumah harus cermat dan mempertimbangkan banyak hal, antara lain: potensi fisik. Potensi fisik adalah pertimbangan akan bahan bangunan, kondisi geologis dan iklim setempat. Terkait dengan isu pemanasan global yang terjadi pada masa modern ini, iklim menjadi sebuah pertimbangan utama yang perlu diselesaikan.Tujuan desain bangunan khususnya pada rumah tinggal bertujuan menciptakan amenities bagi penghuninya. Amenities dicapai melalui kenyamanan fisik, baik itu spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, maupun visual comfort.Pemborosan energi juga disebabkan oleh desain bangunan yang tidak terintegrasi dengan baik bahkan salah dan tidak tanggap terhadap aspek fungsi, serta iklim. Hal tersebut diperparah yang kecenderungan para perancang lebih mementingkan aspek estetis (tren yang berlaku). Isu konsep hijau dan efisiensi konsumsi energi melalui program Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) dari sektor perumahan sebagai respon untuk menanggulangi pemanasan global sudah tidak asing di Indonesia, walaupun penerapannya masih belum dapat ditemukan secara signifikan. Konsep hijau yang ditawarkan oleh pengembang perumahan seringkali hanya sebagai trik pemasaran belaka dan tidak diwujudkan serta ditumbuhkan tanggung jawab para penghuni untuk menjaganya. Akibat minimnya pemahaman mengenai konsep hijau tersebut, para pengembang perumahan cenderung lebih banyak menawarkan lingkungan perumahan yang asri dan hijau, bukan konsep hijau yang sebenarnya.Kata Kunci: Sosio-kultur, Efisiensi Energi, Konsumsi energi, Lingkungan, Konsep Hijau
Perancangan Kawasan Kreatif Tekstil Cigondewah Dengan Pendekatan Arsitektur Organik Menggunakan Metode Konstruksi Arsitektur Modular Yazid, Sultan; Permana, Asep Yudi; Siswoyo, Suhandy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Indonesia in 2045 will have a demographic bonus with a population structure of 70% in the productive age group (15-64 years). One of the biggest contributors is the province of West Java. The young generation of West Java is recognized by UNESCO by making the West Java Capital City, Bandung, a creative city. Bandung people's creativity is used as a provision for Bandung's highest export commodity, textiles, to increase its productivity. Textile productivity is poured by accommodating textile players to sell textiles, creating textile ideas, creating textile products, and introducing textile products. The four functions were designed to be designed in the Cigondewah Textile Area. The Cigondewah textile area is listed in the Bandung City RTRW as a textile center. The area is designed along Jalan Cigondewah Kidul with a length of 250 m. The area along Jalan Cigondewah Kidul was designed with output in the form of guidelines for facade improvement and remapping of functions along Jalan Cigondewah Kidul. Along Jalan Cigondewah Kidul, a site of 14,000 m2 of land was chosen to be built for a creative center for textiles consisting of buying and selling functions, collaboration space, exhibition space and workshop space. There are several issues in the design of the Cigondewah Textile Area. that is, the influence of the region to support the City of Bandung as a Creative City, the carrying capacity of the Region to the productivity of textiles, and to create a space that is comfortable to users. The above issue was initiated to be solved using an organic architecture approach that is dynamic and novelty. The nature of organic architecture was conceived to resolve the issue adaptively by using modular construction technology to increase efficiency.Abstrak: Diperkirakan pada tahun 2045 struktur populasi 70% pada kelompok usia produktif antara usia 15 sampai 64 tahun sebagai bonus demografi. Salah satu penyumbang terbanyak adalah provinsi Jawa Barat. Generasi muda Jawa Barat diakui oleh UNESCO dengan menjadikan Ibu Kota Jawa Barat, Bandung, sebagai kota kreatif. Kreatifitas masyarakat Bandung dimanfaatkan sebagai bekal bagi komoditi ekspor tertinggi Kota Bandung, tekstil, untuk meningkatkan produktifitasnya. Produktifitas tekstil dituangkan dengan mengakomodasi pelaku tekstil untuk menjual tekstil, menciptakan ide tekstil, menciptakan produk tekstil, dan mengenalkan produk tekstil. Keempat fungsi digagas untuk dirancang di Kawasan Tekstil Cigondewah. Kawasan tekstil Cigondewah tercantum pada RTRW Kota Bandung sebagai sentra tekstil. Kawasan dirancang sepanjang Jalan Cigondewah Kidul dengan panjang jalan 250 m. Kawasan sepanjang Jalan Cigondewah Kidul di rancang dengan keluaran berupa pedoman perbaikan fasad dan pemetaan ulang fungsi di sepanjang Jalan Cigondewah Kidul. Pada sepanjang Jalan Cigondewah Kidul dipilih satu wilayah tapak seluas 13.000 m2 yang akan dibangun pusat kreatif tekstil yang terdiri dari fungsi jual beli, ruang kolaborasi, ruang pameran dan ruang workshop. Terdapat beberapa isu pada perancangan Kawasan Tekstil Cigondewah. yaitu, pengaruh kawasan untuk mendukung Kota Bandung sebagai Kota Kreatif, Daya dukung Kawasan terhadap produktifitas tekstil, dan menciptakan ruang yang nyaman kepada pengguna. Isu diatas digagas untuk diselesaikan menggunakan pendekatan arsitektur organik yang bersifat dinamis dan kebaruan. Sifat dari arsitektur organik digagas untuk menyelesaikan isu secara adaptif dengan menggunakan teknologi konstruksi modular untuk meningkatkan efisiensi.
Revitalization of nipa thatch as sustainable roofing material at Sekolah Alam Balikpapan Pratyaksa, Adhika Bayu; Barliana, Mokhamad Syaom; Permana, Asep Yudi
Sustinere: Journal of Environment and Sustainability Vol. 9 No. 1 (2025): pp. 1-127
Publisher : Center for Science and Technology, IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/sustinere.jes.v9i1.441

Abstract

Nipa as thatch roofing material originates from leaves of nipa palm tree (Nypa fruticans). Although nipa has a long history in Southeast Asia, it has gradually been replaced by other materials. Nature school (sekolah alam), a relatively new education model established in Indonesia in 1998, offer a different approach to school facilities, one of which is the use of open-air classroom buildings. Balikpapan Nature School, located in island of Borneo, is one of many institutions developing the nature-based school concept. The school has adopted the Dayak Kenyah longhouse design, incorporating nipa thatch roofing in its buildings. However, one of the buildings has had its nipa roofing replaced with bitumen. This research investigates the heat gain characteristics of nipa roofing as a sustainable material in comparison to bitumen roofing. Analysis of the observational data using paired t-test shows a significant difference, with nipa roofing effectively reducing heat gain. These supports findings support previous studies that have identified nipa as an environmentally friendly material capable of providing better thermal comfort in humid tropical climates.
PROTOTYPE DESAIN GEDUNG DAMKAR DALAM MENUNJANG KEGIATAN PROTEKSI KEBAKARAN DI JAKARTA Janizar , Syapril; Yudi Permana, Asep; Akbardin, Juang
JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC) Vol 6 No 2 (2025): July
Publisher : Departement of Civil Engineering, Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51988/jtsc.v6i2.353

Abstract

Penelitian ini mengusulkan rancangan prototipe gedung pemadam kebakaran (Damkar) tingkat kelurahan di Jakarta sebagai solusi terhadap tantangan operasional Damkar di wilayah urban dan sub-urban. Latar belakangnya adalah tingginya intensitas kebakaran, distribusi pos Damkar yang belum merata, serta belum adanya standar desain gedung Damkar skala kecil yang adaptif terhadap kebutuhan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dan komparatif, dengan metode observasi lapangan, studi pustaka, wawancara, serta analisis spasial berbasis data sebaran kebakaran, aksesibilitas, dan karakteristik lingkungan.Rancangan mengadopsi teori Container Activity untuk efisiensi zonasi ruang dan meningkatkan waktu respons. Hasil rancangan mengintegrasikan tiga fungsi utama: (1) operasional – dengan hubungan langsung ruang siaga, garasi, dan jalur keluar kendaraan; (2) edukatif – melalui ruang pelatihan dan simulasi kebakaran bagi masyarakat; dan (3) fleksibilitas – berupa ruang multifungsi yang bisa disesuaikan untuk kebutuhan darurat. Tapak rancangan berada di Kelurahan Mangga Besar, Jakarta Barat, yang dipilih berdasarkan kepadatan penduduk dan keterbatasan akses Damkar.Kesimpulan menunjukkan bahwa desain prototipe ini mampu meningkatkan efisiensi layanan Damkar sekaligus berfungsi sebagai pusat edukasi kebakaran di tingkat komunitas. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap penyusunan standar desain Damkar skala lokal yang adaptif, efisien, dan kontekstual, serta mendorong pembaruan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana perkotaan.
Tapak, Tampak Dan Dampak: Perencanaan Perumahan Di Hillside Cityview Sukabumi Krisnawan, Cecep Ridwan; Permana, Asep Yudi
Action Research Literate Vol. 9 No. 2 (2025): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v9i2.2656

Abstract

Perencanaan perumahan berkelanjutan menjadi tantangan dalam menghadapi urbanisasi dan perubahan iklim. Hillside Cityview Sukabumi mengadopsi konsep Tapak, Tampak, dan Dampak untuk menciptakan kawasan hunian yang selaras dengan lingkungan, estetis, dan fungsional. Konsep ini mengintegrasikan pemanfaatan topografi alami, sistem drainase berkelanjutan, dan arsitektur tropis berbasis kearifan lokal Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas desain ekologis dalam meningkatkan daya dukung lingkungan dan kualitas hunian. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan geospasial berbasis fotogrametri udara. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari dokumen perencanaan dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem drainase hijau seperti kolam retensi dan bio-swale mampu mengurangi risiko banjir dan meningkatkan daya serap tanah. Desain rumah panggung, atap miring, dan fasad berpori meningkatkan kenyamanan termal serta efisiensi energi. Dari sisi sosial dan ekonomi, perencanaan berbasis komunitas dan infrastruktur hijau berkontribusi terhadap peningkatan nilai properti dan kesejahteraan masyarakat. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan Tapak, Tampak, dan Dampak dapat menjadi model perencanaan perumahan berkelanjutan yang adaptif terhadap kondisi geografis dan sosial di kawasan tropis.
Workshop Ketukangan Material Bambu Untuk Inovasi Bangunan Modern Berbasis Kepariwisataan di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Wulandari, Elysa; Widyojatmoko, Andry; Permana, Asep Yudi; Sari, Laina Hilma; Agustina, Sylvia; Djamaludin, Masdar; Sabila, Farisa; Arafat, Pratitou; Mardhatillah, Rizqi; Aditya, Atika
PESARE: Jurnal Pengabdian Sains dan Rekayasa Vol 3, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/pesare.v3i3.50195

Abstract

Bamboo is very abundant in the Gayo Highlands, but locals mostly use it for simple things like temporary shelters in rice fields and fences around houses. In the past, before modern materials became widely available, bamboo played a significant role in traditional Gayo buildings, both structurally and culturally. A three-day bamboo workshop was held to revive bamboo as a versatile, sustainable building material for modern architecture, while preserving its cultural significance. The workshop had two main goals: teaching how bamboo can work with modern materials like steel and cement, and showing new designs for tourism buildings using bamboo. Participants learned how to process bamboo, connect pieces, and preserve it. They also created new building ideas combining bamboo with other materials. The workshop helped the community understand bamboos environmental, cultural, and economic importance, supporting sustainable tourism and contributing to global goals for sustainable cities and responsible use of resources.
Co-Authors Achmad Samsudin Adila, Mutiara Aditya, Atika Agung Setiawan agung setiawan AGUSTINA, SYLVIA Ana Ramdani Sari Andriyana, Deka Arafat, Pratitou Azka Inatsan Ghassani Candra Sapta Permana D Anggoro Dadang Mohammad Dedi Rohendi Djamaludin, Masdar DTP Hutajulu Dudung Jatnika Dwi Wahyu Wamenarno Farisa Sabila Firdaus Dwi Putra Rustiandi Gema Ramadhan Ghassani, Azka Inatsan Hafiz Nurrahman Hanson E Kusumah Heru Wibowo Heru Wibowo Indah Susanti Indah Susanti istiqomah istiqomah Jatnika, Dudung Juang Akbardin Karto Wijaya Karto Wijaya, Karto Kencanasari, R. A. Vesitara Kencanasari, R.A Vesitara krisnawan, cecep ridwan Kusumah, Indra Yudhapratama Laina Hilma Sari Lilis Widaningsih Lilis Widaningsih, Lilis Lucy Yosita Mardhatillah, Rizqi Mohamad, Dadang Mokhamad Syaom Barliana Mustika Nuramalia Handayani Nanang Dalil Herman Nareswari, Puspita Alfira Nitih Indra Komala Dewi Noor Swanto Nugraha, Hari Din Nurcahya, Yan Nyi Raden A Putri Anggiandari Permana, Aathira Farah Salsabilla Permanasari, Diah Cahyani Pratyaksa, Adhika Bayu Puspita Alfira Nareswari Ramadhan, Gema Ramadhan, Muhammad Oka Ramadhan, Try Ratu Sonya Mentari Haerdy Rd. Diah Srihartati Rahayu Rinaldi, Irfan Reihandhiya Riskha Mardiana, Riskha Risya Maryam Al Haq Rohmat Rohmat Rustandi, Wandi Sri Handayani Srihartati, Raden Diah Suhandy Siswoyo Sultan Yazid Sumanta, Vena Ventiany Swanto, Noor Syapril Janizar Syarip Hidayat Syarip Hidayat Tecky Hendrarto Tjahyani Busono Try Ramadhan Usep Surahman Wandi Krisdian Wandi Rustandi Whinda Rofika Arofah Widyojatmoko, Andry Wulan Sari Wulandari, elysa Wulandari, Rosdiana Yudhi Gunardi