Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Model Klinis Prediktor Lama Rawat Inap pada Pasien Fraktur Femur: Analisis Multivariat Berdasarkan Morfologi dan Metode Fiksasi Riza, Ardian; Noverial; Harmi, Muhammad Pramana Khalilul; Sari, Mutia
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.295

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur merupakan cedera muskuloskeletal mayor yang sering memerlukan tatalaksana operatif dan rawat inap. Lama rawat inap (length of stay/LOS) menjadi indikator penting mutu pelayanan dan efisiensi rumah sakit. Berbagai faktor klinis seperti morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, dan komorbid diduga memengaruhi LOS, namun data lokal mengenai model prediktor LOS pada fraktur femur masih terbatas. Tujuan Penelitian : Menyusun dan mengevaluasi model klinis prediktor lama rawat inap pada pasien fraktur femur berdasarkan morfologi fraktur, metode fiksasi, serta karakteristik pasien (usia, indeks massa tubuh/IMT, komorbid). Metode: Studi observasional analitik dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis fraktur femur di  RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH KARTIKA DOCTA periode 2024–2025. Terdapat 98 pasien fraktur femur; 97 pasien dengan data lengkap (termasuk IMT) dianalisis dalam model multivariat. Variabel dependen adalah LOS (hari). Variabel independen utama adalah morfologi fraktur (oblique, transverse, comminuted, lainnya) dan metode fiksasi (open reduction and internal fixation/ORIF, partial hip replacement/PHR, konservatif). Usia, IMT, dan jumlah komorbid dimasukkan sebagai kovariat. Analisis menggunakan regresi linear (ordinary least squares). Hasil: Rerata usia pasien 51,2 ± 24,3 tahun; 51,5% perempuan. Rerata IMT 21,6 ± 3,7 kg/m². Morfologi fraktur terbanyak adalah oblique (42,3%), diikuti transverse (36,1%) dan comminuted (17,5%). Metode fiksasi yang paling sering digunakan adalah ORIF (68,0%), diikuti PHR (19,6%) dan konservatif (12,4%). Sebagian besar pasien tidak memiliki komorbid (78,4%). Rerata LOS adalah 4,3 ± 1,5 hari (rentang 2–10). Rerata LOS berkisar antara 4,0 hari (comminuted) hingga 5,3 hari (morfologi lainnya), dan antara 4,2–4,4 hari pada berbagai metode fiksasi. Rerata LOS meningkat seiring jumlah komorbid (4,2 hari pada 0 komorbid, 4,6 pada 1, dan 5,2 pada 2 komorbid). Model regresi menghasilkan R² = 0,074 dan adjusted R² = –0,012. Tidak ada prediktor (morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, IMT, jumlah komorbid) yang mencapai signifikansi statistik (p < 0,05). Kesimpulan: Dalam dataset ini, morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, IMT, dan komorbid tidak membentuk model klinis prediktor LOS yang kuat pada pasien fraktur femur, dengan daya jelaskan sekitar 7% variasi LOS. Secara klinis terdapat kecenderungan LOS sedikit lebih panjang pada fraktur transverse dan pada pasien dengan komorbid lebih banyak, namun tren ini tidak signifikan secara statistik. Pengembangan model prediktif yang lebih akurat memerlukan penambahan variabel sistemik dan perioperatif serta peningkatan kualitas pencatatan data.
Analisis Jarak Tempuh dan Estimasi Waktu Transportasi Terhadap Penundaan Operasi pada Kasus Fraktur Femur Emergensi: . Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.298

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi sistemik seperti tromboemboli vena dan pneumonia. Dalam sistem rujukan di Indonesia, pasien sering datang dari wilayah terpencil, sehingga jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi dianggap sebagai faktor potensial yang menunda operasi.Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi terhadap durasi antara masuk IGD hingga pelaksanaan operasi sebagai proksi penundaan operasi pada fraktur femur emergensi. Metode: Studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilakukan terhadap pasien fraktur femur emergensi di sebuah rumah sakit rujukan provinsi Sumatera Barat periode Januari 2024–Juni 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis elektronik dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman serta regresi linier ganda.. Hasil: Dari 98 pasien, hanya 31 pasien (31,6%) yang memiliki data lengkap. Rata-rata jarak tempuh adalah 117,8 ± 113,2 kilometer dan estimasi waktu tempuh 3,5 ± 2,4 jam. Median durasi IGD–operasi adalah 9,8 jam (IQR: 3,0–29,0 jam). Tidak terdapat korelasi signifikan antara jarak tempuh (r = 0,21; p = 0,16) maupun estimasi waktu tempuh (r = 0,18; p = 0,22) dengan durasi IGD–operasi. Model regresi linier ganda menunjukkan R² = 0,046 (p = 0,20), tidak bermakna secara statistik. Kesimpulan: Jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi tidak secara signifikan memengaruhi penundaan operasi fraktur femur emergensi. Faktor internal rumah sakit seperti ketersediaan ruang operasi dan sistem triase kemungkinan lebih dominan.
A Analisis Klaim Ilmiah pada Halaman Produk Ankle Brace untuk Cedera Pergelangan Kaki di Marketplace Global Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa; Yetti, Rahmi
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.323

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan e-commerce telah memungkinkan konsumen memperoleh akses langsung terhadap alat ortopedi seperti ankle brace. Namun, informasi medis yang tercantum pada halaman produk sering kali tidak melalui proses verifikasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis klaim ilmiah pada deskripsi produk ankle brace untuk cedera pergelangan kaki di Amazon.com sebagai representasi marketplace global. Metode Penelitian: Studi ini dilakukan melalui analisis konten deskriptif terhadap 30 produk yang dipilih secara purposif berdasarkan popularitas dan relevansi medis. Evaluasi mencakup keberadaan klaim ilmiah, rujukan studi, parameter terukur, penggunaan istilah anatomi spesifik, serta kesesuaian dengan panduan klinis. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa 22 produk (73,3%) memuat klaim valid berbasis bukti, lima produk (16,7%) menyampaikan klaim lemah tanpa dukungan data, dan tiga produk (10,0%) mengandung klaim menyesatkan berbasis pseudosains terkait “ion tembaga”. Kesimpulan: Diperlukan regulasi yang lebih ketat terhadap iklan alat kesehatan di platform digital untuk melindungi konsumen dari informasi menyesatkan. Meskipun demikian, sebagian besar produsen profesional umumnya menyajikan klaim berbasis bukti.
Community Empowerment of Nagari Salimpek in Developing a Herbal Cosmetic Village Based on Family Medicinal Plants (TOGA) Yenny, Satya Wydya; Gustia, Rina; Rahmatini; Usman, Elly; Asri, Ennesta; Akhyar, Gardenia; Ariani, Tutty; Sari, Mutia; Sari, Indah Indria; Yossy, Vesri; Julia, Dwi Sabtika; Ashar, Miranda; Taria, Sari Almira
Warta Pengabdian Andalas Vol 33 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.33.1.67-74.2026

Abstract

Nagari Salimpek in Alahan Panjang, West Sumatra, has a potential for wellness tourism due to its rich biodiversity, especially medicinal and cosmetic plants. However, community awareness in managing Family Medicinal Gardens (TOGA) remain limited, with only three of twenty household groups actively cultivating herbal plants. This condition emphasizes the need for community empowerment to optimize health and economic benefits from local resources. This community service program aimed to enhance local capacity in cultivating and processing TOGA as the basis for developing a Herbal Cosmetic Village. The programme began on 19 July 2025 and was evaluated over six months. Activities included educational sessions on TOGA utilization, training on herbal and cosmetic plant processing, distribution and planting of herbal seeds, and the signing of a Memorandum of Agreement (MoA) with local stakeholders. A pre-test and post-test evaluation involving 31 participants showed significant improvement in knowledge, with understanding of the “herbal center village” concept rising from 29% to 55% and awareness of Nagari Salimpek’s potential increasing from 32% to 77%. Overall, participants gained broader insights into the role of TOGA in health, cosmetics, and economic development. These results highlight the importance of continued education, mentorship, and government support to establish Nagari Salimpek as a model Herbal Cosmetic Village for wellness tourism.