Articles
Adversity Quotient dan Kecemasan Menghadapi Dunia Kerja Pada Mahasiswa Tingkat Akhir
Anita Gregah Dewantari;
Christiana Hari Soetjiningsih
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 3 (2022): Volume 10, Issue 3, September 2022
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i3.8631
This research aims to determine the relationship between the adversity quotient and the anxiety of final year students in dealing with the world of work at various universities in Indonesia. This research was conducted using a correlational quantitative method by involving final year students from various universities in Indonesia. The samples in this research were taken by means of non probability techniques, specifically with the type of accidental sampling. The data analysis method used is the Pearson product moment correlation method. The results showed that there was a significant negative relationship between Adversity Quotient and anxiety in dealing with the world of work with r value = -0.731 and significance = 0.000 (p<0.05). Thus, it may be inferred that the higher adversity quotient level will be more likely to reduce the level of anxiety in dealing with the world of work. On the other hand, the lower level of adversity quotient will be more likely able to increase the level of anxiety in dealing with the world of work. Adversity quotient was managed to provide an effective contribution of 50.8% to anxiety in dealing with the world of work. Therefore, this research is expected to be a provision of knowledge to increase or form an adversity quotient in reducing anxiety in facing with the world of work. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 170 mahasiswa dari berbagai Perguruan tinggi di Indonesia dengan menggunakan teknik sampling accidental. Metode analisis data yang digunakan yaitu dengan metode korelasi Product Moment dari Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif yang signifikan antara Adversity Quotient dan kecemasan dalam menghadapi dunia kerja dengan nilai r = -0,731 dan signifikansi = 0,000 (p<0,05). Artinya semakin tinggi Adversity Quotient maka semakin rendah munculnya kecemasan dalam menghadapi dunia kerja, dan sebaliknya jika Adversity Quotient rendah maka kecemasan dalam menghadapi dunia kerja semakin tinggi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi bekal pengetahuan untuk meningkatkan atau membentuk adversity quotient dalam mengurangi kecemasan dalam menghadapi dunia kerja.
Burnout pada Tenaga Kesehatan selama Masa Pandemi: Benarkah Self-Efficacy Memiliki Pengaruh?
Christia Rosmelinda Satyawati;
Christiana Hari Soetjiningsih
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Volume 10, Issue 4, Desember 2022
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.9226
Covid-19 pandemic provides a new situation in health sector. The increasing number of patients in hospital makes health workers have to be able to adapt in order to continue work optimally. Self-efficacy is an individual’s belief in his ability to deal with various situations that occur. If this situation is not followed with high self-efficacy can allow health workers to experience prolonged stress which can lead to burnout. This study is aims to determine the correlation between self-efficacy and burnout in health workers at RSUD Banyumas during the pandemic. Self-efficacy level measured by General Self-Efficacy (GSE) and burnout level measured by Maslach Burnout Inventory (MBI). The participants in this study were 187 professsional caregivers at RSUD Banyumas and have worked during the pandemic. Hypothesis test was analyzed by Spearman technique and the result of correlation coefficient is -0,256 with a significance value 0,000 (p<0,05), which means there is a negative significant correlation between two variables. This means that if the health workers self-efficacy is increase than the level of burnout experience by the health workers will be decreased, and the otherwise.Pandemi Covid-19 memberikan situasi baru di bidang kesehatan. Meningkatnya jumlah pasien di rumah sakit menjadikan tenaga kesehatan harus mampu beradaptasi agar tetap dapat bekerja secara optimal. Self-efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki untuk menghadapi berbagai situasi yang terjadi. Perubahan situasi ini apabila tidak diimbangi dengan self-efficacy yang tinggi dapat memungkinkan tenaga kesehatan mengalami stres berkepanjangan yang kemudian mampu mengakibatkan burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-efficacy dan burnout pada tenaga kesehatan di RSUD Banyumas selama masa pandemi. Tingkat self-efficacy diukur dengan General Self-Efficacy (GSE) sedangkan tingkat burnout diukur menggunakan Maslach Burnout Inventory (MBI). Partisipan pada penelitian ini adalah 187 tenaga kesehatan dengan karakteristik tenaga kesehatan Profesional Pemberi Asuhan (PPA) di RSUD Banyumas dan pernah bekerja selama pandemi covid-19. Uji hipotesis dilakukan dengan teknik Spearman dengan hasil koefisien korelasi sebesar -0,256 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara self-efficacy dan burnout, di mana semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki maka akan semakin rendah tingkat burnout yang dialami, dan sebaliknya.
Hubungan Antara Work Life Balance dan Stres Kerja Pada Karyawan
Maria Angelica Urba;
Christiana Hari Soetjiningsih
Bulletin of Counseling and Psychotherapy Vol. 4 No. 3 (2022): Bulletin of Counseling and Psychotherapy
Publisher : Kuras Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51214/bocp.v4i3.383
Human resource is one of the resources that has an important role in achieving organizational goals. If an organization cannot balance time for work and family time, the individual will feel a conflict that can make an individual experience work stress. The study aims to determine the relationship between work-life balance and work stress on BULOG employees. This research is a quantitative correlational with a sample of 38 employees selected by using accidental sampling technique. The dimensions on the scale correspond to the dimensions desired by William & Cooper (1997), namely aspects of the work itself, role management, interpersonal relationships, organizational style, career development, and work-family conflict. Whereas the work life balance measurement tool in this study was adapted from the scale developed by Yusuf (2018), namely the work life balance inventory with a total of 13 item items and a cronbach's alpha of 0.806. The results obtained prove that there is a significant negative relationship between work life balance and work stress with a correlation coefficient of -0.606 with a significant value of 0.000 (p < 0.05). The findings show that the level of work-life balance and stress work of BULOG staff is in the current category.
Religiusitas dan Psychological Well-Being selama Masa Pandemi pada Anggota Gerakan Pemuda GPIB Tamansari Salatiga
Theo Desiano Winman;
Christiana Hari Soetjiningsih
Philanthropy: Journal of Psychology Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26623/philanthropy.v6i2.4901
Gerakan Pemuda GPIB merupakan persekutuan pemuda-pemudi di GPIB khususnya Tamansari Salatiga yang biasanya mengadakan pelayanan ibadah dan latihan paduan suara bersama di gereja, namun kegiatan-kegiatan tersebut sempat terhambat dan terpaksa diadakan secara online akibat pandemic COVID-19. Situasi dimasa pandemi ini juga berdampak pada psychological well-being khususnya para pemuda. Salah satu faktor yang mempengaruhi psychological well-being adalah religiusitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan religiusitas dengan psychological well-being pada pemuda GP GPIB Tamansari Salatiga selama masa pandemi COVID-19. Responden dalam penelitian ini sebanyak 50 orang pemuda GP GPIB Tamansari. Alat ukur dalam penelitian ini yaitu Ryff s Psychological Well-Being Scale dan Centrality of Religiosity Scale. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang positif antara religiusitas dengan psychological well-being pada pemuda GP GPIB Tamansari Salatiga selama masa pandemi COVID-19 (r = 0,366; p<0,05).Kata Kunci: Psychological well-being, religiusitas, masa pandemi, COVID-19, pemuda, GPIB Tamansari Salatiga
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KECEMASAN MELAHIRKAN PADA IBU HAMIL ANAK PERTAMA (PRIMIGRAVIDA)
Millesia Sukma Christi;
Christiana Hari Soetjiningsih
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia (JIKI) Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Keperawatan Oktober 2022
Publisher : Universitas Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47942/jiki.v15i2.1065
Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan dukungan sosial keluarga terhadap kecemasan melahirkan pada ibu hamil anak pertama (primigravida). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Populasi sebanyak 43 ibu hamil primigravida 3 bulan terakhir dari bulan Agustus sampai November 2021. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala psikologi kecemasan dan dukungan sosial. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment. Hasil uji hipotesis dengan teknik korelasi Pearson terdapat hubungan negatif signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kecemasan melahirkan pada ibu hamil anak pertama (primigravida). Sumbangan efektif variabel dukungan sosial berpengaruh sebesar 51,1% terhadap variabel kecemasan, sedangkan 48,9% dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti kesehatan atau kondisi psikologis dan lingkungan seperti lingkungan keluarga dan masyarakat.
ACADEMIC SELF EFFICACY DAN ADVERSITY QUOTIENT PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI DI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA
Agnes Pasadenia;
Christiana Hari Soetjiningsih
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 2 No. 4: Desember 2022
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v2i4.4309
The investigation aims to determine the relationship between academic self-efficacy and adversity quotient in students working on their thesis at Satya Wacana Christian University, Salatiga. This research untiliez the academic self-efficacy scale by Prianto (2010) based on Bandura’s theory and the adversity quotient scale by Boleng (2019) based on Stoltz’s theory. The participant in this study counted 106 studnts according to the number of student who filled out the scale via the google form. Moreover, the level of academic self-efficacy and adversity quotient in students is categorized low. The correlation test results with an r-value of 0,631 with a significance value of p < 0,05. These results demonstrate a positive relationship between academic self-efficacy and advercity quotient. This results can be used as student effort can feel academic self-efficacy when working on their thesis.
HUBUNGAN PET ATTACHMENT DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA PEMILIK KUCING DAN ANJING DI SEMARANG
Renata Tyrestafani;
Christiana Hari Soetjiningsih
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 2 No. 4: Desember 2022
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v2i4.4312
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan positif antara pet attachment pada psychological well-being pemilik kucing dan anjing di kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif tipe korelasional. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lexington Attachment to Pet Scale (LAPS) untuk mengukur tingkat kelekatan hewan dan Ryff Psychological Well Being Scale (RPWBS) untuk mengukur tingkat psychological well-being. Subjek dalam penelitian ini merupakan 82 orang berusia 20-50 tahun yang telah memelihara kucing atau anjing selama minimal 1 tahun. Hasil dari korelasi product moment yang telah dilakukan menunjukkan nilai koefisien antara kelekatan pada hewan peliharaan dengan psychological well-being dengan nilai r sebesar 0,420 dengan nilai signifikansi 0,003 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan positif antara pet atttachment dan psychological well-being pemilik kucing dan anjing di kota Semarang.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA DALAM KELUARGA TNI-AD
Catharina Nilam K;
Christiana Hari Soetjiningsih
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 2 No. 4: Desember 2022
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v2i4.4327
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan positif signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kecerdasan emosi pada remaja dalam keluarga TNI AD. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan skala dukungan sosial oleh Carina (2016) berdasarkan teori Sarafino (2014) dengan reliabilitas sebesar 0,96 dan skala kecerdasan emosi yang disusun oleh Lidia (2015) berdasarkan teori Goleman (2009) dengan reliabilitas sebesar 0,92. Dalam hal ini dukungan sosial keluarga sebagai variabel bebas dan kecerdasan emosi sebagai variabel terikat. Pengambilan sampel dari penelitian ini adalah remaja yang salah satu orang tuanya berprofesi sebagai TNI AD sebanyak 50 orang. Hasil dari penelitian ini adalah tingkat dukungan sosial keluarga pada remaja dalam keluarga TNI AD berada pada tingkat sedang dengan mean 142,84. Sedangkan tingkat kecerdasan emosi pada remaja dalam keluarga TNI AD berada pada tingkat sedang dengan mean 109,24. Hasil uji korelasi product moment dari Pearson diperoleh koefisien antara dukungan sosial keluarga dengan kecerdasan emosi sebesar 0,744 dan nilai signifikasinya sebesar 0,00 ( p < 0,05 ), Hasil ini menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan kecerdasan emosi pada remaja dalam keluarga TNI AD.
Hubungan Self-Efficacy Dan Komitmen Organisasi Di Perusahaan Manufaktur “X” Di Ungaran
Revike Meirene Tuelah;
Chr. Hari Soetjiningsih
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling: Special Issue (General)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.9973
Komitmen organisasi merupakan penerimaan individu terhadap identitas diri kepada perusahaan, sedangkan self efficacy merupakan salah satu faktor yang berperan dalam tinggi rendahnya komitmen organisasi karyawan yang perlu menjadi sorotan bagi perusahaan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dan komitmen organisasi pada karyawan perusahaan manufaktur “X di Ungaran. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan karyawan produksi departemen Finishing dan B&R dengan jumlah sampel sebanyak 69 partisipan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik Purposive Sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Work Self Efficacy Scale dan Organizational Commitment Scale. Berdasarkan hasil uji korelasi yang didapatkan koefisien korelasi r = 0.240 dengan p = 0.024. (p<0.05), menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self efficacy dengan komitmen organisasi pada karyawan perusahaan “X” di Ungaran. Jadi dapat disimpulkan tinggi self efficacy seorang karyawan maka semakin tinggi pula komitmen organisasinya, begitu pula sebaliknya.
KEMATANGAN EMOSI DAN PERILAKU MELUKAI DIRI PADA MAHASISWA
Vindy Epivania;
Christiana Hari Soetjiningsih
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 3 No 8: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47492/jip.v3i8.2379
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dan perilaku melukai diri pada mahasiswa menggunakan metode kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 34 mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan Alat ukur Emotional Maturity Scale berdasarkan teori Singh dan Bhargave serta Alat ukur Self-harm Inventory (SHI) dari Randy Sansone et al., 2011) digunakan untuk mengungkapkan perilaku melukai diri sendiri yang dilakukan individu. Analisi data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa Universitas kristen satya wacanadengan menggunakan uji Spearman’s Rho menunjukkan hasil koefisien korelasi -0,755engan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) yang berartirdapat hubungan negatif yang signifikan antara kematangan emosi dengan perilaku melukai diri pada remaja akhir, yang berarti makin tinggi kematangan emosi makin rendah perilaku melukai diri dan sebaliknya semakin rendah kematangan emosi maka semakin tinggi perilaku melukai diri.