Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Proses Produksi Gula Aren di Pengrajin Ibrahim Kabupaten Bangka Sebagai Binaan BAPPEDA Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Pribadi, Moch. Fadlal Islamay; Hutami, Rosy; Andarwulan, Nuri; Zuhud, Ervizal A.M.; Sapanli, Kastana; Ichsan, Nurul
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 9 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i9.21460

Abstract

Tanaman aren (Arenga pinnata Merr.) merupakan tanaman palem yang menghasilkan nira sebagai bahan baku utama pembuatan gula aren. Gula aren menjadi produk penting bernilai ekonomi tinggi, namun proses produksinya masih dilakukan secara tradisional sehingga hasil dan mutu seringkali bervariasi. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi langsung dengan pengrajin Ibrahim di Desa Jada Bahrin, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi gula aren terdiri dari beberapa tahapan, yaitu penyadapan nira aren, perebusan nira hingga kental, penghilangan buih dan kotoran selama pemasakan, pendinginan, serta pencetakan menjadi gula aren padat. Proses pengolahan masih sederhana menggunakan peralatan tradisional seperti wajan, tungku, serok, dan cetakan bambu, sehingga konsistensi mutu produk sangat bergantung pada keterampilan pengrajin.
Analisis Persepsi Dan Kelayakan Finansial Pengolahan Sampah Menggunakan Maggot Black Soldier Fly: Analysis of Perceptions and Financial Feasibility of Waste Processing Using Maggot Black Soldier Fly Zuhdirabbani, Genadi; Sapanli, Kastana
Indonesian Journal of Agricultural Resource and Environmental Economics Vol. 2 No. 1 (2023): June 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/ijaree.v2i1.50578

Abstract

Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatanmerupakan daerah penghasil perikanan tangkap dan produksi produk olahan hasil perikanan seperti terasi, otak-otak, kemplang, dan empek-empek. Usaha tersebut pada umumnya menghasilkan limbah ikan dari sisa produksi. Salah satu cara pemanfaatan limbah ikan adalah menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF). Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menganalisis tingkat persepsi masyarakat mengenai pengolahan sampah menggunakan maggot BSF di Perkumpulan Pengusaha Kecil dan Menengah (PPKIM); (2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi minat masyarakat dalam mengelola sampah menggunakan maggot BSF di PPKIM; (3) menganalisis kelayakan finansial mengenai pengolahan sampah menggunakan maggot BSF di PPKIM. Metode analisis yang digunakan dalampenelitian ini yaitu analisis persepsi, analisis regresi logistik biner, dan cost benefit analysis. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi masyarakat mendapatkan hasil persepsi baik mengenai maggot BSF. Faktor yang memengaruhi adalah tingkat pendidikan dan penerimaan. Usaha pengolahan sampah menggunakan maggot BSF di PPKIM layak untuk dijalankan dengan nilai NPV Rp186.849.344, BCR 3,55, IRR 52%, dan Payback Periode selama 1 Tahun 11 Bulan. Toboali District is renowned for its fisheries and various processed fishery products, including shrimp paste, otak-otak, kemplang, and empek-empek. However, these businesses often generate fish waste as a byproduct. Utilizing Black Soldier Fly (BSF) larvae presents an opportunity for fish waste management. This study aims to (1) Analyze the public perception regarding waste management using BSF maggots at PPKIM, (2) Investigate the factors influencing public interest in waste management using BSF maggots at PPKIM, (3) Evaluate the financial feasibility of waste processing using BSF maggots at PPKIM. The research utilizes perception, binary logistic regression, and cost-benefit analyses. Results indicate the positive public perception of using BSF maggots for waste management. Factors influencing interest include education level and income. Moreover, the waste processing business using BSF maggots at PPKIM demonstrates financial viability, boasting an NPV value of IDR 186,849,344, a BCR of 3.35, an IRR of 52%, and a Payback Period of 1 Year 11 Months.
Kerentanan Usahatani Garam Rakyat di Desa Bungko Lor Kabupaten Cirebon: Vulnerability of Salt Farming in Bungko Lor Village, Cirebon Regency Agustya, Nia; Sapanli, Kastana; Nuva
Indonesian Journal of Agricultural Resource and Environmental Economics Vol. 3 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/ijaree.v3i2.57894

Abstract

Desa Bungko Lor merupakan lokasi prioritas pengembangan Sentra Ekonomi Garam Rakyat di Kabupaten Cirebon berdasarkan data dari Kementerian Kelautan Perikanan RI. Terdapat perbedaan metode yang digunakan oleh petani garam rakyat dalam memproduksi garam di Desa Bungko Lor yang sama-sama memiliki kerentanan terhadap variabilitas cuaca. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi petani dalam memilih metode yang digunakan, mengestimasi pendapatan petani garam tradisional dan petani garam geomembran, dan menganalisis kerentanan usahatani garam rakyat di Desa Bungko Lor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis Pendapatan, Regresi Logistik, dan Livelihood Vulnerability Index (LVI). Hasil penelitian menggunakan Regresi Logistik menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam memilih metode bertani yaitu pernah mengikuti sosialisasi, lama bertani, pernah mendapat bantuan, dan harga garam di tingkat petani. Rata-rata pendapatan petani garam tradisional sebesar Rp 20.242.353/tahun dan petani geomembran sebesar Rp 24.196.874/tahun. Hasil tingkat kerentanan usahatani terhadap variabilitas cuaca memperlihatkan bahwa petani dengan kedua metode secara keseluruhan memiliki nilai kerentanan berskala tingkat menengah. Bungko Lor Village has been designated as a priority site for the establishment of the The community's Salt Economic Center in Cirebon Regency, according to data from the Indonesian Ministry of Marine Affairs and Fisheries. Smallholder salt producers in Bungko Lor Village employ differing methods for salt production, both of which exhibit susceptibility to weather variability. The objectives of this study are to determine the factors that influence farmers in selecting the method they use, to estimate the income of traditional salt farmers and geomembrane salt farmers, and to analyze the vulnerability of smallholder salt farming in Bungko Lor Village. This research employs Income Analysis, Logistic Regression, and the Livelihood Vulnerability Index (LVI) as methodologies. Base on Logistic Regression, the price of salt at the farm level, the duration of farming experience, the amount of assistance received, and the presence of socialization are the factors that influence farmers' decisions regarding their farming methods. The mean annual revenue of conventional salt farmers is Rp 20,242,353, while that of geomembrane farmers is Rp 24,196,874. The findings regarding farm sensitivity to weather variability indicate that farmers employing both strategies have an overall medium level of risk.
Membangun Kelembagaan Adil dalam Relasi Patron-Klien Garam Rakyat Madura Kurniawan, Tikkyrino; Kinseng, Rilus A.; Taryono; Purnomo, Agus Heri; Sapanli, Kastana; Yanti, Bayu Vita Indah; Adriana, Galuh; Suryadarma, Sheviyola Denenti
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 7 No. 3 (2025): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0703.1384-1388

Abstract

Relasi patron–klien dalam tata niaga garam rakyat Madura masih menjadi penghambat utama kesejahteraan petambak. Patron berperan sebagai pemberi modal dan pengendali distribusi, sementara negara belum hadir secara efektif untuk melindungi petambak. Akibatnya, petambak bergantung pada patron untuk modal dan akses pasar, sehingga sulit menentukan harga secara mandiri. Kajian ini dilakukan di Kabupaten Sampang dan Pamekasan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa kebijakan teknis pemerintah yang bersifat top-down tidak mampu menjawab realitas sosial ekonomi di tingkat lokal. Meski begitu, muncul inisiatif perlawanan sosial berupa pembentukan koperasi dan jaringan distribusi alternatif yang menunjukkan arah baru menuju kemandirian ekonomi petambak. Policy brief ini menegaskan pentingnya membangun kelembagaan distribusi garam berbasis komunitas, memperkuat koperasi melalui dukungan regulasi dan pembiayaan, serta mendorong transparansi harga dan informasi melalui digitalisasi. Dengan langkah-langkah ini, negara dapat berperan sebagai fasilitator yang memastikan keadilan ekonomi bagi petambak garam rakyat.Â