Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kerentanan Usahatani Garam Rakyat di Desa Bungko Lor Kabupaten Cirebon: Vulnerability of Salt Farming in Bungko Lor Village, Cirebon Regency Agustya, Nia; Sapanli, Kastana; Nuva
Indonesian Journal of Agricultural Resource and Environmental Economics Vol. 3 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/ijaree.v3i2.57894

Abstract

Desa Bungko Lor merupakan lokasi prioritas pengembangan Sentra Ekonomi Garam Rakyat di Kabupaten Cirebon berdasarkan data dari Kementerian Kelautan Perikanan RI. Terdapat perbedaan metode yang digunakan oleh petani garam rakyat dalam memproduksi garam di Desa Bungko Lor yang sama-sama memiliki kerentanan terhadap variabilitas cuaca. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi petani dalam memilih metode yang digunakan, mengestimasi pendapatan petani garam tradisional dan petani garam geomembran, dan menganalisis kerentanan usahatani garam rakyat di Desa Bungko Lor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis Pendapatan, Regresi Logistik, dan Livelihood Vulnerability Index (LVI). Hasil penelitian menggunakan Regresi Logistik menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam memilih metode bertani yaitu pernah mengikuti sosialisasi, lama bertani, pernah mendapat bantuan, dan harga garam di tingkat petani. Rata-rata pendapatan petani garam tradisional sebesar Rp 20.242.353/tahun dan petani geomembran sebesar Rp 24.196.874/tahun. Hasil tingkat kerentanan usahatani terhadap variabilitas cuaca memperlihatkan bahwa petani dengan kedua metode secara keseluruhan memiliki nilai kerentanan berskala tingkat menengah. Bungko Lor Village has been designated as a priority site for the establishment of the The community's Salt Economic Center in Cirebon Regency, according to data from the Indonesian Ministry of Marine Affairs and Fisheries. Smallholder salt producers in Bungko Lor Village employ differing methods for salt production, both of which exhibit susceptibility to weather variability. The objectives of this study are to determine the factors that influence farmers in selecting the method they use, to estimate the income of traditional salt farmers and geomembrane salt farmers, and to analyze the vulnerability of smallholder salt farming in Bungko Lor Village. This research employs Income Analysis, Logistic Regression, and the Livelihood Vulnerability Index (LVI) as methodologies. Base on Logistic Regression, the price of salt at the farm level, the duration of farming experience, the amount of assistance received, and the presence of socialization are the factors that influence farmers' decisions regarding their farming methods. The mean annual revenue of conventional salt farmers is Rp 20,242,353, while that of geomembrane farmers is Rp 24,196,874. The findings regarding farm sensitivity to weather variability indicate that farmers employing both strategies have an overall medium level of risk.
Strategi Perluasan Pasar Udang Beku Indonesia ke Negara BRICS Ramadona, Tomi; Budiharsono, Sugeng; Suhana, Suhana; Novindra, Novindra; Sapanli, Kastana; Septya, Fanny
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jksekp.v15i2.16107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan tantangan perdagangan udang beku Indonesia (HS 030617), yang hingga kini masih menghadapi berbagai kendala struktural seperti hambatan tarif dan non-tarif, tingginya biaya logistik, dan keterbatasan penetrasi pasar, sekaligus merumuskan kebijakan yang mendukung pengembangan perdagangan ke negara-negara anggota BRICS.. Penelitian ini menggunakan metode analisis data sekunder yang mencakup analisis tren ekspor time-series selama periode 2013–2023, perhitungan daya saing menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA), dan kerangka Tinbergen untuk merumuskan kebijakan perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspor udang beku Indonesia ke negara BRICS mengalami tren peningkatan, meskipun kontribusinya terhadap total ekspor nasional masih relatif kecil. Namun di sisi lain tren ekspor ke negara di luar BRICS mengalami penurunan. Dengan demikian potensi diversifikasi terbuka lebar melalui pasar Rusia, India, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab yang mulai menunjukkan tren pertumbuhan positif. Nilai RCA Indonesia untuk produk udang beku tercatat konsisten di atas angka 5,0 hingga 10,2, yang menandakan keunggulan komparatif kuat, meskipun belum diikuti dengan strategi penetrasi pasar yang optimal. Hambatan tarif, regulasi SPS, dan tingginya biaya logistik menjadi tantangan utama yang perlu diatasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kerja sama melalui BRICS Seafood Agreement, peningkatan efisiensi logistik rantai dingin, dan diversifikasi pasar ekspor sebagai strategi menuju integrasi pasar perikanan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.Title: Expansion Strategy for Indonesia’s Frozen Shrimp Market Into Brics CountriesThis study aims to analyze the potential and challenges of the Indonesian frozen shrimp trade (HS 030617), which still faces various structural obstacles such as tariff and non-tariff barriers, high logistics costs, and limited market penetration, while also formulating policies that support the development of trade to BRICS member countries. This study aims to analyze the potential and challenges of the Indonesian frozen shrimp trade (HS 030617) and formulate policies to support the development of trade to BRICS member countries. This study uses secondary data analysis methods that include time-series export trend analysis during the 2013–2023 period, competitiveness calculations using the Revealed Comparative Advantage (RCA) method, and the Tinbergen framework to formulate trade policies. The results show that Indonesian frozen shrimp exports to BRICS countries are experiencing an increasing trend, although their contribution to total national exports is still relatively small. However, on the other hand, the export trend to countries outside BRICS is decreasing. Thus, the potential for diversification is wide open through the markets of Russia, India, South Africa, and the United Arab Emirates, which are starting to show a positive growth trend. Indonesia’s RCA for frozen shrimp products has consistently been recorded at between 5.0 and 10.2, indicating a strong comparative advantage, although an optimal market penetration strategy has not accompanied it. Tariff barriers, SPS regulations, and high logistics costs are the main challenges that the government must overcome. This study recommends strengthening cooperation through the BRICS Seafood Agreement, improving cold chain logistics efficiency, and diversifying export markets as strategies towards more inclusive and sustainable fisheries market integration.
Pemanfaatan Limbah Air Seni Kelinci menjadi Pupuk Organik Cair di Desa Widorkandang, Magetan Sapanli, Kastana; Prasetyoningrum, Widya Dwi; Rawina, Qori Siela; Lestari, Ayu; Yusuf, Muhammad; Mayesti, Pawitri Adhistyana; Azizah, Aprilia Ulfatul; Denika, Pendiyan; Prastyaningrum, Garnish Eka; Fitrinuraisyah, Puti; Putri, Milenia Kusuma
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4226.396 KB) | DOI: 10.29244/pim.v4i1.40804

Abstract

Desa Widorokandang, Kabupaten Magetan , Jawa Timur memiliki potensi dalam bidang pertanian dan peternakan. Permasalahan yang dihadapi dalam usaha pertanian tentang harga pupuk dan penggunaan pupuk anorganik dalam jangka panjang. Alternatif mengurangi penggunaan pupuk anorganik dengan menggunakan pupuk organik dapat membantu untuk memperbaiki struktur tanah karena mengandung zat hara yang baik. Hal ini didukung dengan keberadaan peternakan kelinci di desa Widorokandang yang menghasilkan limbah urine kelinci sebagai bahan utama pembuatan pupuk organik cair. Proses pembuatan pupuk organik cair dilakukan dengan cara fermentasi yang mudah dilakukan oleh masyarakat. Mahasiswa KKN-T IPB bersama peternak kelinci di desa Widorokandang membuat produk pupuk organik cair “Growi”. Produk ini diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan pupuk di desa Widorokandang serta meningkatkan perekonomian masyarakat. Nilai keuntungan relative dari usaha pupuk organik cair “Growi” memiliki nilai lebih dari 1 yang termasuk usaha yang layak.