Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

Identification and Characterization of Marine Debris on Teluk Penyu Beach, Cilacap Lady Ayu Sri Wijayanti; Gilar Budi Pratama; Andini N.A.; Raziq Aldin; Ismail Maqbul; Mochamad Ramdhan Firdaus
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61978

Abstract

This study was conducted at Teluk Penyu Beach, Cilacap Regency, with the aim of analyzing the composition, density, and primary sources of marine debris in the area. Sampling was carried out from October to November 2024 using a 5×5 m quadrat transect method along the shoreline, with a 20 m distance between transects. The results showed that a total of 2,021 debris pieces were collected, with the main composition consisting of wood debris (1,485 pieces; 62.80%), plastic (469 pieces; 19%), other materials (294 pieces; 14.58%), plastic foam (42 pieces; 2.60%), fabric (10 pieces; 1.12%), and rubber (7 pieces; 0.17%). The highest debris density was found in the wood category, with 12 pieces/m², followed by plastic (3.752 pieces/m²), plastic foam (0.336 pieces/m²), other materials (0.16 pieces/m²), fabric (0.133 pieces/m²), and rubber (0.14 pieces/m²). Based on the Clean-Coast Index (CCI) calculation, the beach cleanliness index score of 8 indicates that Teluk Penyu Beach falls into the "moderate" category. These findings suggest that the primary source of debris in the area originates from wood waste transported from Segara Anakan through the Nusakambangan Strait, as well as tourism and fishing activities. Sustainable coastal environmental management efforts are necessary to mitigate pollution impacts, including increasing public awareness and implementing ecosystem-based waste management strategies. Keywords: anthropogenic pollutants, Clean-Coast Index, coastal debris, lagoon, wood ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap dengan tujuan untuk menganalisis komposisi, kepadatan, dan sumber utama sampah laut di kawasan tersebut. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Oktober–November 2024 menggunakan metode transek kuadrat 5x5 m di sepanjang garis pantai dengan jarak 20 m antar transek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total sampah yang terkumpul sebanyak 2.021 potongan dengan komposisi utama berupa sampah kayu (1.485 potongan; 62,80%), plastik (469 potongan; 19%), bahan lain (294 potongan; 14,58%), busa plastik (42 potongan; 2,60%), kain (10 potongan; 1,12%), dan karet (7 potongan; 0,17%). Kepadatan sampah tertinggi ditemukan pada kategori kayu dengan 12 potongan/m², diikuti plastik (3,752 potongan/m²), busa plastik (0,336 potongan/m²), bahan lain (0,16 potongan/m²), kain (0,133 potongan/m²), dan karet (0,14 potongan/m²). Berdasarkan perhitungan Clean-Coast Index (CCI), nilai indeks kebersihan pantai sebesar 8 menunjukkan bahwa Pantai Teluk Penyu masuk dalam kategori “sedang.” Temuan ini mengindikasikan bahwa sumber utama sampah di kawasan ini berasal dari limbah kayu yang terbawa dari Segara Anakan melalui Selat Nusakambangan, serta aktivitas wisata dan perikanan. Upaya pengelolaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan diperlukan untuk mengurangi dampak pencemaran, termasuk melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan pengelolaan limbah berbasis ekosistem. Kata kunci: antropogenik polutan, Clean-Coast Indeks, debris pesisir, kayu, laguna
Exploring the Composition and Diversity of Handline Fishery Catches in Pulau Panggang Nurani Khoerunnisa; Hanif Dzulpikah Darojat; Lady Ayu Sri Wijayanti; Mochhamad Ikhsan Cahya Utama; Nora Akbarsyah
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62369

Abstract

Handline fishing is a traditional fishing method widely used by small-scale fishers in Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, due to its efficiency, selectivity, and environmentally friendly nature. This study aims to evaluate the species diversity and catch composition of handline fisheries in Pulau Panggang based on production data from 2021 to 2023. The analyzed data include catch volume, production value, and species composition. The results indicate that narrow-barred Spanish mackerel (Scomberomorus commerson) was the dominant species caught over the three-year period, comprising approximately 30–33% of the total catch, followed by frigate tuna, snapper, and emperor fish. The Shannon-Wiener diversity index revealed a moderate level of species diversity (ranging from 1.411 to 1.960), reflecting a relatively stable community structure. Catch volume and production value fluctuated over the study period, peaking in 2022 and declining in 2023. These findings highlight the importance of data-driven management and policies that account for seasonal variability and fishing pressure to ensure the sustainability of the handline fishery in the region. Keywords: catch, fish diversity, handline fishing, Pulau Panggang   Abstrak Pancing ulur merupakan alat tangkap tradisional yang banyak digunakan nelayan skala kecil di Pulau Panggang Kepulauan Seribu karena efisien, selektif, dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keanekaragaman dan komposisi hasil tangkapan pancing ulur di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, berdasarkan data produksi tahun 2021 hingga 2023. Data yang dianalisis mencakup volume tangkapan, nilai produksi, serta jenis spesies hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) merupakan spesies dominan selama tiga tahun berturut-turut dengan persentase sekitar 30–33%, diikuti oleh tongkol, kakap, dan lencam. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener menunjukkan tingkat keragaman sedang (nilai 1,411-1,960), yang mencerminkan struktur komunitas yang cukup stabil. Produksi dan nilai hasil tangkapan mengalami fluktuasi, dengan puncak tertinggi pada tahun 2022 dan penurunan pada 2023. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan berbasis data dan kebijakan yang mempertimbangkan musim serta tekanan penangkapan untuk menjaga keberlanjutan perikanan. Kata kunci: hasil tangkapan, keanekaragaman ikan, pancing ulur, Pulau Panggang