Claim Missing Document
Check
Articles

Dampak Pola Asuh Otoriter Terhadap Perkembangan Kepribadian Anak Di Desa Simorangkir Simorangkir, Joel; Simbolon, Elvri Teresia
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 1 (2024): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i1.121

Abstract

Dalam pembentukan karakter, pola asuh adalah hal yang mendasar. Contoh Otoriter: Pola perilaku orang tua yang baik sangat diperlukan guna mendukung pertumbuhan anak karena anak-anak melaksanakan imitasi maupun modeling dari lingkungan. Degradasi moral anak yang akhir-akhir ini marak ditemukan mencerminkan kualitas didikan dari keluarga yang buruk. Lebih lanjut lagi, pola asuh yang salah dapat berdampak menjadi penyebab pemahaman pada anak menjadi negatif, sehingga condong tidak semangat untuk mengejar cita-citanya. Kejadian tersebut juga dapat terjadi akibat dari pola asuh otoriter yang diterapkan orangtuanya. Keluarga adalah lingkungan pertama yang menghasilkan dampak atas bermacam unsur tumbuh kembang anak, khususnya pertumbuhan sosialnya. Tata cara serta kondisi dalam keluarga adalah lingkungan yang sesuai untuk sosial anak. Tujuan penelitian ini ialah untuk memahami dampak pola asuh otoriter atas kepribadian anak, metode penelitian yang dimanfaatkan ialah studi literatur dengan mengkaji dan menganalisis hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter berdampak buruk terhadap kepribadian anak, anak dengan didikan pola asuh otoriter orang tua cenderung menutup diri, tidak percaya diri dan malu untuk menghadapi dan berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Analisis Makna Tari Maena dalam Pesta Adat Falőwa (Pernikahan) pada Masyarakat di Kecamatan Hiliduho Kabupaten Nias Agus Tri Darman Laoli; Maringan Sinambela; Roida Lumbantobing; Elvri Teresia Simbolon; Sudirman Lase
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/sgswwb67

Abstract

This study aims to Analysis of the Meaning of the Maena Dance in the Falőwa Traditional Feast (Wedding) in the Community in Hiliduho District, Nias Regency” Clifford Geertz's symbolism theory. The Maena dance is a traditional dance that is still preserved and has social, cultural, and spiritual values. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were obtained through observation, in-depth interviews with traditional leaders, Sanutunő Maena, and the community, as well as documentation. The results of the study indicate that the Maena dance has a social meaning that is reflected in the togetherness and brotherhood that are established among residents in its implementation. Solidarity is realized through collective participation, mutual assistance, and community cooperation in preparing and ensuring the success of the Falőwa (wedding) procession. The cultural meaning is seen in the preservation of elements of Nias tradition that have been passed down from generation to generation, while the spiritual meaning is seen in the expressions of gratitude, prayers, and blessings conveyed to the bride and groom. From Clifford Geertz's symbolism perspective, the movements, lyrics, dancer formations, and festive atmosphere of the Maena dance are cultural symbols conveying messages of togetherness, respect for tradition and ancestors, and hopes for a harmonious household life. Despite adaptations to changing times, the Maena dance in Hiliduho District maintains its traditional essence and values. In conclusion, the Maena dance serves not only as entertainment but also as a medium for transmitting values, strengthening social relationships, and symbolizing the cultural identity of the Nias people.
FAMATORO TOI ONO NIHALO: KONSTRUKSI IDENTITAS DAN STATUS SOSIAL MELALUI PRAKTIK PEMBERIAN NAMA BARU DALAM PERKAWINAN ADAT NIAS (STUDI SOSIOLOGIS PADA RITUAL PENGANTIN PEREMPUAN DI DESA BARUZO KECAMATAN IDANOGAWO KABUPATEN NIAS) Zebua, Okirdayanti; Simbolon, Elvri Teresia; Purba, Omta; Firmando, Harisan Boni; Sinambela, Maringan
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 8 No. 2 (2025): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 8 No 2 Juli 2025
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik Famatoro Toi Ono Nihalo, dalamupacara adat pernikahan masyarakat Nias, sebagai konstruksi identitas dan statussosial melalui praktik pemberian nama baru dalam perkawinan adat nias di DesaBaruzo Kecamatan Idanogawo Kabupaten Nias. Metode yang digunakan adalahdeskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancaramendalam, dan dokumentasi. Informan terdiri dari pengantin perempuan, tokohadat, tokoh agama dan masyarakat. Analisis data dilakukan melalui reduksi data,penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemberian nama baru seperti Za'uso, Balaki, dan Barasi tidak hanya sekedarmerefleksikan identitas individu, tetapi juga menunjukkan posisi sosial keluargadalam masyarakat. Tradisi ini melahirkan nilai-nilai patriarki dan sistem hierarkismelalui simbol budaya yang diwariskan turun-temurun. Meskipun mengalamiadaptasi seiring perkembangan zaman, makna simbolik dari praktik ini tetapbertahan dan menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas sosialperempuan Nias.
TRANSFORMASI SOSIAL DALAM PERKAWINAN SERUMPUN MARGA (MARGA-MARGA BERASAL DARI KECAMATAN MUARA DAN KECAMATAN PARMONANGAN) PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI TARUTUNG KABUPATEN TAPANULI UTARA Siregar, Ista Yuliana Ria; Firmando, Harisan Boni; Lase, Sudirman; Simbolon, Elvri Teresia; Panjaitan, Ade Putera Arif
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 8 No. 2 (2025): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 8 No 2 Juli 2025
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Transformasi Sosial Dalam Perkawinan Serumpun Marga(Marga-Marga Berasal Dari Kecamatan Muara Dan Kecamatan Parmonangan)Pada Masyarakat Batak Toba Di Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Perkawinanserumpun (marsibuatan) merupakan praktik yang dilarang secara adat dalambudaya Batak Toba karena dianggap sebagai perkawinan sedarah. Namun, dalamkonteks perantauan dan perubahan sosial, norma-norma tersebut mengalamipergeseran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana masyarakatBatak Toba dari kedua kecamatan tersebut beradaptasi terhadap norma perkawinanserumpun ketika merantau ke Tarutung. Penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif dengan metode deskriptif-komparatif. Data dikumpulkan melaluiwawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan pendekatan teorifungsional struktural Talcott Parsons dan teori identitas sosial. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa masyarakat dari Kecamatan Parmonangan cenderung lebihmenerima praktik perkawinan serumpun karena pengaruh perubahan nilai, normaadat, modernisasi, pendidikan. Sebaliknya, masyarakat dari Kecamatan Muara tetapmempertahankan larangan adat tersebut di perantauan. Transformasi sosial jugaberdampak pada struktur kekerabatan, peran marga, dan identitas sosial. Perubahanini mencerminkan proses adaptasi terhadap lingkungan sosial baru, khususnyadalam kehidupan masyarakat urban seperti di Tarutung. Perbedaan sikap terhadappraktik perkawinan serumpun antara dua kelompok marga ini menunjukkan bahwaidentitas budaya Batak tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan kontekstual.Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika sosialbudaya masyarakat Batak Toba di era modern.
EKSISTENSI PENGOBATAN TRADISIONAL AEK SIPANGOLU DI KALANGAN MASYARAKAT BERAGAMA DI DESA SIMANGULAMPE KECAMATAN BAKTIRAJA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN Munthe, Gina Yuli Sonia; Lase, Sudirman; Sitindaon, Wensdy; Sinambela, Maringan; Simbolon, Elvri Teresia
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 8 No. 2 (2025): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 8 No 2 Juli 2025
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Eksistensi Pengobatan Tradisional AekSipangolu di Kalangan Masyarakat Beragama di Desa Simangulampe KecamatanBaktiraja Kabupaten Humbang Hasundutan. Adapun rumusan masalah dalampenelitian ini adalah bagaimana pandangan masyarakat beragama terhadappengobatan tradisional Aek Sipangolu di Desa Simangulampe, KecamatanBaktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Dalam penelitian ini Metodepenelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan datamenggunakan Teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan daripenelitian ini adalah pengelola Aek Sipangolu, pengguna Aek Sipangolu, tokohadat, tokoh agama, masyarakat desa simangulampe, dan aparat desa. Hasilpenelitian ini adalah pengobatan tradisional Aek Sipangolu digunakan olehmasyarakat karena memiliki khasiat yang dapat menyembuhkan penyakit sehinggamayarakat mengsakralkannya. Namun disisi lain masyarakat juga menganggapbahwa pengobatan tradisional Aek Sipangolu tidak ada khasiat penyembuhannyadan menganggap bahwa pengobatan tradisional Aek Sipangolu merupakan tempatyang biasa. Masyarakat menggunakan pengobatan tradisional Aek Sipangoludidasarkan oleh kepercayaan dan pengalaman mayarakat. Kemudian masyarakatjuga merasa bahwa pengobatan tradisional Aek Sipangolu merupakan bagian daribudaya mereka karena sudah digunakan turn-temurun.
POLA PENGGEMBALAAN PENDETA DALAM MENINGKATKAN KEHADIRAN JEMAAT KAUM PRIA DI GEREJA HKBP PANSURNAPITU KECAMATAN SIATAS BARITA Simangunsong, Nopri Damai Yanti; Sinambela, Maringan; Simbolon, Jupalman W; Simbolon, Elvri Teresia; Sembiring, Feriel Amelia
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 8 No. 2 (2025): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 8 No 2 Juli 2025
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis polapenggembalaan yang dilakukan oleh pendeta terhadap jemaat kaum pria di GerejaHKHP Pansurnapitu, Kecamatan Siatas Barita Latar belakang penelitian iniberangkat dari kenyataan bahwa kehadiran kaum pria dalam ibadah cenderungmengalami fluktuasi, dan perlu adanya strategi penggembalaan yang tepat untukmeningkatkan keterlibatan mereka secara aktif dalam kehidupan bergereja.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan datamelalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian initerdiri dari pendeta, jemaat pria aktif maupun tidak aktif, serta pengurus gerejalainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penggembalaan pendeta bersifatdialogis (membangun komunikasi dua arah yang memungkinkan pendeta danjemaat saling bertukar pandangan), partisipatif (melibatkan jemaat secara aktifdalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan seperti Perheheon Ama), dan personal(memperhatikan kebutuhan dan kondisi tiap individu melalui kunjungan rumah dandoa khusus). Untuk memahami hubungan tersebut, digunakan pendekatan teoriinteraksi sosial, yang menekankan bahwa hubungan sosial, tindakan individu, danstruktur sosial membentuk perilaku anggota masyarakat, termasuk dalam konteksgerejawi, teori tindakan sosial Max Weber yang melihat tindakan pendeta sebagaiupaya bermakna untuk mempengaruhi partisipasi jemaat, teori modal sosialFukuyama yang memandang jaringan relasi sebagai sumber dukungan dankepercayaan, serta teori struktur sosial yang menunjukkan peran pendeta sebagaiaktor kunci dalam mengatur posisi dan fungsi jemaat dalam komunitas gereja.Dalam kehidupan bergereja, pola penggembalaan pendeta menjadi titik awal yangsangat penting ada dua bentuk yaitu PHD (Patanakhon Hata Ni Debata) danParheheon Ama, Salah satu bentuk konkret dari penggembalaan ini adalahpelaksanaan Program Parheheon, yaitu program pembinaan khusus untuk kaumpria yang memadukan kegiatan rohani, kebudayaan, dan kebersamaan jemaat.Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kehadiran serta peran aktif kaumpria dalam ibadah dan pelayanan gereja Kesimpulan dari penelitian ini adalahbahwa pola penggembalaan yang mengedepankan pendekatan relasional danrelevan dengan kebutuhan jemaat pria mampu menciptakan dampak positifterhadap pertumbuhan spiritual dan keaktifan mereka di gereja. Oleh karena itu,pendekatan ini dapat menjadi model bagi penggembalaan jemaat di gereja yang laindengan kondisi serupa. penggembalaan jemaat di gereja lain dengan kondisi serupa
KONSTRUKSI INTERAKSI ANTAR BUDAYA DALAM MEWUJUDKAN HARMONI SOSIAL (STUDI FENOMENOLOGIS TENTANG RELASI SOSIAL MASYARAKAT BATAK DAN NIAS DI KECAMATAN GAROGA, KABUPATEN TAPANULI UTARA) Pasaribu, Hartamuti; Simbolon, Elvri Teresia; Firmando, Harisan Boni; Sihaloho, Martua; Sembiring, Feriel Amelia
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 8 No. 2 (2025): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 8 No 2 Juli 2025
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Konstruksi Interaksi Antar Budaya Dalam MewujudkanHarmoni Sosial (Studi Fenomenologis Tentang Relasi Sosial Masyarakat BatakDan Nias Di Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara). Penelitian inibertujuan untuk menganalisis : 1). bentuk-bentuk interaksi sosial yang terjadi antaramasyarakat Batak dan Nias. 2). konstruksi interaksi antarbudaya masyarakat Batakdan Nias dalam mewujudkan harmoni sosial. 3). faktor apa saja yang menghambatdan mendukung proses konstruksi interaksi antarbudaya dalam masyarakat Batakdan Nias. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodefenomenologi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial terjadi secara aktifdalam berbagai aspek kehidupan seperti kegiatan ekonomi, pendidikan, keagamaan,dan acara adat. Proses konstruksi interaksi antarbudaya berlangsung melalui limafaktor utama dalam teori konstruksi sosial, yaitu: interaksi sosial, pengalamanindividu, kepentingan tertentu, wacana sosial, dan kebudayaan. Keberhasilan dalammenciptakan harmoni sosial bergantung pada kemampuan masyarakat dalammengelola perbedaan dan membentuk kesadaran kolektif bahwa keberagamanadalah kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama. Penelitian ini memberikankontribusi dalam memperkuat pemahaman teoretis tentang bagaimana konstruksiinteraksi antarbudaya dapat mewujudkan tatanan sosial yang damai danberkelanjutan
GOTILON FEAST AND SOCIAL IDENTITY: ACTUALIZATION AND INCULTURATION AT THE ONAN BARU RESORTS CHURCH, SAMOSIR, NORTH SUMATERA Silaban, Priska Natalia; Simbolon, Elvri Teresia; Firmando, Harisan Boni; Simbolon, Rusmauli; Lumbantobing, Roida
Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial Vol. 11 No. 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jsds.v11i2.21494

Abstract

This research aims to examine how social identity is actualized during the Gotilon Feast at the HKBP Onan Baru Resort Church in Samosir Regency, North Sumatera. Gotilon Feast is understood as a space of inculturation that combines Batak Toba culture and Christian values, serving as a medium of expressing the cultural, personal, and communal identity of the Batak Toba-Protestant Christian congregation. The research employs a qualitative-descriptive approach, collecting data through interviews, and documentation,  analyzed using social identity theory, Pierre Bourdieu's habitus theory, and Habermas's public sphere. The results show that the celebration reflects strong symbolic practices such as the use of ulos, tortor, Batak music (gondang), and the giving of silua. In addition to being a Thanksgiving ritual, the celebration also reveals social dynamics, including a shift in meaning toward a symbol of prestige and social status. The study also found generational differences in perception and variation in practice between rural and urban churches. Through the lenses of social identity theory, Pierre Bourdieu's concept of habitus, and Habermas' public sphere theory, the Gotilon Festival is seen as a cultural-religious event that constructs social identity through the intersection of faith and tradition. Thus, the celebration serves as both a religious practice and a public space where cultural and spiritual negotiations occur.
Integrating Boru Ni Raja Values into Character and Contextual Education in Silindung Simbolon, Elvri Teresia; Lumbantobing, Roida; Firmando, Harisan Boni; Panjaitan, Ade Putera Arif
EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 2 (2024): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v5i2.1739

Abstract

This study addresses the urgent need to strengthen character education in response to the moral degradation caused by globalization, which has weakened students’ connection to local cultural values. It specifically aims to analyze the integration of Boru Ni Raja, a Batak Toba cultural concept that honors women as symbols of family dignity and moral integrity, into character and contextual education in the Silindung region. Using a systematic literature review guided by the PRISMA framework, 42 relevant articles published between 2015 and 2025 were analyzed to identify theoretical patterns, challenges, and opportunities for cultural integration in education. The findings reveal that Boru Ni Raja embodies values of respect, responsibility, loyalty, and social solidarity that align with the goals of 21st-century character education. The study is novel because it introduces a gender-based cultural framework, a perspective rarely discussed in previous educational literature on Batak Toba local wisdom. Academically, it contributes to expanding the theory of culture-based and gender-responsive education, while practically, it provides guidance for teachers to design contextual learning rooted in local culture. The study recommends future empirical research to validate this conceptual model in schools across Silindung and to compare it with other cultural contexts in Indonesia.
Boru ni Raja: Agency and Social Transformation of Toba Batak Women in Inclusive Rural Development in Silindung, North Tapanuli Firmando, Harisan Boni; Teresia Simbolon, Elvri; Lumbantobing, Roida
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 13 No. 1 (2025): Sosiologi: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/13202563983

Abstract

This study examines how Boru ni Raja (women of royal descent) in Toba Batak society exercise agency to drive inclusive rural development in Silindung, North Tapanuli, Indonesia. Grounded in the social action theory of Max Weber and the structuration theory of Anthony Giddens, the study fills a crucial knowledge vacuum regarding how indigenous women navigate patriarchal systems through culturally embedded strategies. Using a 16-month multi-site ethnography (2023–2024), comprising 45 informants' interviews, document analysis, and participatory observation, the study reveals four key strategies: (1) leveraging cultural capital (82% efficacy), (2) building transgenerational networks (68%), (3) innovating local economies (57%), and (4) negotiating political spaces (39%). Findings demonstrate that Boru ni Raja reinterpret traditional values like Dalihan Na Tolu (kinship philosophy) and hasangapon (dignity) to legitimize leadership, resulting in a 320% increase in women’s institutional representation (2020–2023) and a 45% rise in average income. Despite resistance from male elites (60% of cases), their incremental approach transforms patrilineal structures without overt conflict, highlighting the potential of indigenous knowledge in fostering hybrid modernity. The study contributes to sociological debates on gender, development, and cultural change by theorizing subaltern agency in rigid hierarchies. Practical implications emphasize culturally sensitive empowerment programs for traditional societies.
Co-Authors Ade Putera Arif Panjaitan Agus Marito Saragi Agus Tri Darman Laoli Bengkel Ginting Berliyanta K. Samosir Claudia Irene Panggabean Danila Mendrofa David Fero David Mandobar Devina Mendrofa Elisamark Sitopu Febriyani Nurcahaya Tinambunan Feriel Amelia Sembiring Feriel Amelia Sembiring, Feriel Amelia Firmando, Harisan Boni Frainskoy Rio Naibaho Henry Sitorus Humaizi, Humaizi Ifo Siska Sigalingging Joel Simorangkir Jupalman W. Simbolon Jupalman Welly Simbolon Jupalman Welly Simbolon Lase, Sudirman Lewina Karine Tampubolon Liyus Waruwu Lumbantobing, Roida Maria D. Panggabean Maringan Sinambela Maringan Sinambela Martua Sihaloho Masniar H Sitorus Masniar Hermawati Sitorus Masniar Hernawaty Sitorus Mery Silalahi Mery Silalahi Michael Sirait Munthe, Gina Yuli Sonia Nova Simbolon Panjaitan, Ade Putera Arif Panjaitan, Ade Putra Arif Pasaribu, Hartamuti Priska Silaban Purba, Omta Rasi Dewinta Berutu Ratna Saragih Ratna Zebua Rinaldi Sihotang Ritha Tarigan Robert Sibarani, Robert Robert Sitio Roida Lumban Tobing Rusmauli Simbolon Rusmauli Simbolon Rusti Kurnia Mora Sinamo Sandra Ronauli Sihombing Sanovida Tamba Senida Harefa Silaban, Priska Natalia Simangunsong, Nopri Damai Yanti Simbolon, Jupalman W Simbolon, Rusmauli Simorangkir, Joel Sinambela, Maringan Siregar, Ista Yuliana Ria Sismudjito . Sitindaon, Wensdy Sitio, Robert Juni Tua Sudirman Lase Sudirman Lase Tambunan, Mida Rotua Telaumbanua, Eben Haezarni Tio Minar Panjaitan Tio R J Nadeak Tiurma Berasa Untung P Simanjuntak Untung P Simanjuntak Vivi Hutabarat Wensdy Sitindaon Wensdy Sitindaon Yesika Paulina Purba Yulia Kurnia Sari Sitepu Zebua, Okirdayanti