Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

STRATEGI PENANGKAPAN TUNA (Thunnus spp.) DAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) PADA AREAL RUMPON UNTUK MENDAPATKAN UKURAN LAYAK TANGKAP MENGGUNAKAN PANCING ULUR Rumpa, Arham; Asia, Asia; Krisnafi, Yaser; Syamsuddin, Muhidin; Rasdam, Rasdam; Pontoh, Peggy; Kasim, Muh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.22 - 35

Abstract

Pengetahuan tentang perilaku kelompok jenis tuna dan cakalang pada areal rumpon merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai strategi penangkapan optimal untuk mendapatkan ukuran ikan layak tangkap. Pengumpulan data di mulai tahun 2020-2024 dengan mengacu pada Prosedur Protokol Sampling untuk Pancing Tuna Artisanal Indonesia yang dikembangkan oleh United States Agency for International Development – Indonesia Marine and Climate Support (USAID-IMACS) bekerjasama dengan enumerator dari Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Kriteria ukuran tuna layak tangkap dianalisis berdasarkan length at first maturity (Lm). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosentase hasil tangkapan dan ukuran layak tangkap pada areal rumpon menggunakan pancing ulur didominasi oleh tuna madidihang (Thunnus albacares) 76,32% dengan ukuran yang layak tangkap sebesar 44,27%, tuna mata besar (Thunnus obesus) 10,05% dengan ukuran layak tangkap 55,60%, dan cakalang (Katsuwonus pelamis) 5,09%  dengan ukuran layak tangkap 48,40%.  Sedangkan hasil tangkapan pancing ulur tanpa menggunakan rumpon atau di luar area rumpon berbeda jauh prosentase proporsi ukuran layak tangkapnya, yaitu 87,7%  untuk tuna madidihang; 97,65 %  tuna mata besar; dan cakalang layak tangkap sebesar 90,00%. Untuk mengurangi prosentase tertangkapnya ikan ukuran tidak layak tangkap, selain dengan strategi tanpa menggunakan rumpon juga dapat menerapkan metode pengaturan kedalaman penurunan alat tangkap, pengaturan waktu penangkapan, dan pengaturan ukuran mata pancing. Informasi ini sangat dibutuhkan dalam pengelolaan spesies tuna dan cakalang secara berkelanjutan khusunya untuk penangkapan pada areal rumpon.
THE LEGAL POSITION OF DEPUTY REGIONAL LEADER IN THE IMPLEMENTATION OF REGIONAL GOVERNMENT Jaya, Alwi; Sandra, Gustika; Tarmizi, Tarmizi; Asia, Asia
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 1 (2023): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i1.686

Abstract

The regulation of the legal position of Deputy Regional Heads in the implementation of Regional Government has undergone dynamics. Law Number 32 of 2004 has further clarified the position of Deputy Regional Heads in a more concrete manner. Especially with the election of a single pair with the Regional Head, it shows that the role of the Deputy Regional Head is becoming stronger in the implementation of Regional Government. This research uses a descriptive juridical method. The results of this study show that the regulation of the position and duties of deputy regional heads in the structure of regional government has undergone different regulatory dynamics in several laws. Their position as a local government official elected directly by the people as a running mate with the regional head strengthens their position in the structure of regional government. Although their duties are primarily to assist the regional head in the implementation of regional government, in certain situations, the deputy regional head can replace the regional head when the regional head is unable to perform their duties.
CHALLENGES AND SOLUTIONS FOR LAWYERS AS LEGAL ENFORCERS IN CRIMINAL CASES (A STUDY IN LEGAL PSYCHOLOGY) Jaya, Alwi; Sandra, Gustika; Tarmizi, Tarmizi; Asia, Asia
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 4 (2021): Cerdika : Jurnal ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v1i4.687

Abstract

In reality, lawyers as Legal Enforcers in Criminal Cases still face obstacles, both internally and externally. Therefore, efforts to optimize the role of lawyers in criminal cases involve providing services to the public without discrimination. This research uses a descriptive juridical method. The results of this study indicate that efforts that can be made to optimize the implementation of the lawyer's function in criminal cases are as follows: Lawyers must be aware of and fulfill their primary duties and functions in providing legal assistance to the public without discrimination. Law Enforcement Officials (Police, Prosecutors, Judges) as legal enforcement partners should provide positive support to lawyers so that they can fulfill their primary duties and functions in providing legal assistance to the public without discrimination.
SOCIAL INTERACTION IN THE LEARNING PROCESS ISLAMIC EDUCATION Asia, Asia; Idi, Abdullah; Karoma, Karoma
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.37555

Abstract

This study aims to explore educational interactions in Islamic Religious Education (PAI) learning processes in schools. Using a descriptive qualitative approach, this research analyzed data from various relevant literature sources to examine the components, patterns, and factors influencing educational interactions. The findings reveal that effective educational interactions involve two-way communication between teachers and students, encompassing components such as learning objectives, methods, teaching materials, and evaluation. Teachers play a crucial role in creating a conducive learning environment, both through classroom instruction and religious activities. Educational interactions not only enhance academic understanding but also shape students' character in line with Islamic values. In conclusion, educational interactions in PAI hold significant potential for supporting students' intellectual and spiritual development
Isolasi Fungi Tanah Muara Desa Katialada Gorontalo dan Skrining Aktivitas Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus Zanuba, Nafa Rosyida; Arifin, Muhammad Zainul; Tauladani, Saeful Akhmad; Muharram, Gani Asri; Asia, Asia; Triatmoko, Bawon; Wulandari, Lestyo; Nugraha, Ari Satia
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i2.91460

Abstract

Penyalahgunaan antibiotik sebagai agen terapi pada infeksi dapat memberikan ancaman resistensi antibiotik yang mengakibatkan efektifitas pengobatan menjadi kurang optimal. Untuk mengatasi persoalan tersebut, banyak penelitian dilakukan untuk mencari agen antibakteri baru dari bahan alam seperti fungi tanah sebagai pengujian antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri dari metabolit sekunder fungi tanah terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang ditunjukkan melalui nilai persen penghambatan. Penelitian ini menggunakan metode mikrodilusi untuk mngetahui besaran aktivitas antibakteri pada sampel fungi tanah. Fungi tanah didapatkan dari sampel tanah yang diambil dari desa Katialada, Gorontalo dengan kode lokasi BTG-6 dan dikultur pada media PDA dan diisolasi pada media PDA baru hingga didapatkan 11 isolat tunggal. Skrining awal aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode uji antagonis pada 11 isolat dengan hasil enam isolat diantaraya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Keenam isolat tersebut akan dilakukan fermentasi dan ekstraksi menggunakan etil asetat untuk mendapatkan ekstrak yang akan digunakan pada pengujian antibakteri menggunakan metode mikrodilusi. Hasil pengujian menunjukkan keenam isolat memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji dan direpresentasikan melalui persen penghambatan pada masing-masing isolat sebesar IS2-BTG6- 1-1 sebesar 34,6 ± 2,4%; IS3-BTG6-1-3-2 sebesar 42,8 ± 3,1%; IS2-BTG6-3-3 sebesar 41,1 ± 4,4%; IS3-BTG6-1-2-1 sebesar 41,8 ± 2,9%; IS3-BTG6-1-2-2 sebesar 47,8 ± 2,6%; IS2-BTG6- 3-3 sebesar 59,2 ± 4,8%.