Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Kajian Kritis Tentang Pemikiran Emanasi dan Hubungannya dengan Sains Modern Kartini, Kartini; Harun, Hamzah; Aderus, Andi
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 5 No. 4 (2024): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v5i4.1516

Abstract

This article aims to find out the thought of emanation and its relationship to modern science. This article uses a qualitative approach with the literature study method. This method is intended to examine various sources relevant to the focus of this research. The main sources of research data are scientific books and articles published in various scientific journals and indexed on the google scholar database. Data analysis is carried out qualitatively consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the analysis show that the philosophical basis of the concept of emanation is the desire to avoid God from the pluralist nature in order to purify the oneness of God from all material things. The creation of the cosmos with the theory of emanation will confirm the opinion that this realm is qadim in the sense that it experiences continuous creation with different faces and shapes. It is not qadim in the sense that it is equal to God the creator who is qadim in nature. The theory of emanation in the world of modern science finds its relevance in the Big Bang theory which says that nature is created from a big bang process that begins with a heating process so that it develops until it emits a loud sound
PUNCAK-PUNCAK CAPAIAN SUFISTIK DALAM PERSPEKTIF METODOLOGIS Juliasti, Evin; Santalia, Indo; Aderus, Andi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 1 (2024): Volume 7 No 1 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i1.25420

Abstract

Penelitian ini menguraikan dan mengkaji ajaran tasawuf sebagai ekspresi keagamaan, menegaskan bahwa tasawuf adalah komitmen moral dan iman bagi individu yang menjalankan ajaran tersebut dengan saleh. Fungsi utama tasawuf adalah untuk menampung dan menstabilkan komitmen moral orang yang beriman, menciptakan ruang bagi kehidupan rohani. Dengan jiwa yang suci dan bersih, seorang sufi dapat mencapai puncak-puncak capaian sufistik, bahkan melakukan komunikasi dan "menyatu" (ittihad) dengan Tuhan. Proses mencapai puncak-puncak capaian sufistik ini melibatkan perjalanan panjang dan melelahkan melalui berbagai maqam dan hal. Makna maqam dalam konteks ini merujuk pada tahap pencapaian ruhaniah yang mendekatkan seorang sufi kepada Tuhan, hasil dari upaya keras yang dilakukan. Sementara itu, hal menggambarkan suasana batiniah yang senantiasa mengelilingi perasaan seorang sufi dalam setiap maqam, bergerak naik setahap demi setahap hingga mencapai tingkat puncak perjalanannya dalam capaian sufistik. Metode perjalanan menuju puncak capaian sufistik mencakup berbagai tingkatan, seperti mahabbah, ma?rifah, ittihad, hulul, dan wahdat al-wujud. Para sufi menggunakan berbagai metodeologis untuk mencapai tingkat-tingkat tersebut, seperti metode qalb-ruh-sirr untuk mahabbah dan ma?rifah, serta metode al-fana dan al-baqa untuk mencapai itihad, hulul, dan wahdat al-wujud.Bagian Atas Formulir
RADIKALISME DALAM ISLAM. MELACAK AKAR PERMASALAHAN RADIKALISME DAN BAGAIMANA PENCEGAHANNYA Iting, Andi; Harun, Hamzah; Aderus, Andi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.42454

Abstract

Berada di titik ekstrim atau melewati batas kewajaran dikenal sebagai radikalisme. Radikalisme dalam Islam dapat didefinisikan sebagai paham atau gerakan yang menginterpretasikan ajaran agama secara ekstrem dan kaku, sering kali tanpa memperhatikan konteks sosial, sejarah, atau kemanusiaan. Radikalisme muncul ketika ajaran Islam diterapkan secara literal dan menolak perbedaan, yang dapat mengarah pada tindakan intoleransi dan bahkan kekerasan terhadap pihak lain yang dianggap tidak sesuai atau "tidak murni" secara keagamaan. Faktor-faktor yang Memengaruhi Timbulnya Radikalismeadalah (a) Faktor Ekonomi dan Sosial, (b) faktor Politik dan Ketidakadila, (c) faktor Ideologis dan Pendidikan, (d) Faktor Globalisasi dan Pengaruh Media Sosia, (e)Faktor Psikologis dan Kebutuhan Akan Identitas, (f) faktor Sejarah dan Konflik Regional. Radikalisme memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan beragama dan bermasyarakat. Dampak ini tidak hanya memengaruhi stabilitas dan keamanan suatu negara, tetapi juga merusak nilai-nilai toleransi dan keberagaman yang seharusnya menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Cara mencegah radikalisme dalam Islam memerlukan kerja sama antara pemerintah, ulama, dan masyarakat karena setiap pihak memiliki peran strategis yang saling melengkapi. Kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat dalam mencegah radikalisme sangat penting. Pemerintah berperan melalui kebijakan dan program, ulama menyampaikan ajaran agama yang moderat, sementara masyarakat memperkuat ketahanan sosial. Kombinasi ini dapat menciptakan lingkungan yang tangguh terhadap radikalisme
Moderasi Beragama Pada Masyarakat Konawe Selatan (Studi Atas Toleransi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Kalosara Masyarakat Konawe Selatan) Awal , Awal; Aderus, Andi; Santalia, Indo
El-Fata: Journal of Sharia Economics and Islamic Education Vol. 2 No. 2: OKTOBER 2023
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Cokroaminoto Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61169/el-fata.v2i2.64

Abstract

Penelitian ini membahas tentang moderasi beragama berbasis kearifan lokal kalosara pada masyarakat Konawe Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) Mendeskripsikan toleransi beragama masyarakat Konawe Selatan perspektif agama-agama, 2) Menjelaskan bagaimana implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal Kalosara pada masyarakat Konawe Selatan. 3) Menjelaskan terkait faktor apa saja yang paling berpengaruh dalam implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal kalosara. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui field research (penelitian lapangan) yaitu mengkaji dan menganalisa literatur-literatur yang berkaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan yaitu pendekatan fenomenologi, pendekatan sosiologis dan pendekatan teologis Adapun metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu melalui tahapan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Semua agama di Konawe Selatan sepakat bahwa toleransi beragama merupakan sebuah konsep yang menggambarkan sikap saling menghormati dan bekerja sama antar kelompok agama, 2) Implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal kalosara dapat diterapkan dengan cara mengambil tiga unsur utama di dalam kalosara yaitu a) Lilitan rotan, mengajarkan kepada masyarakat untuk bisa hidup toleransi sesama agama kita harus mampu menerima perbedaan, dan menjaga rasa persaudaraa, b) Kain putih, melambangkan kesucian dan religius, hidup harus saling tolong menolong sesama manusia, dan hidup rukun dan damai sesama manusia dan c) Talam anyaman, melambangkan kesejaahteraan dan keadilan sosial, mengajarkan bahwa jika ingin hidup tentram dan damai terhadap agama lain maka di perlukan kebebasan dalam beragama, dan keadilan bagi seluruh agama, 3) Faktor yang paling berpengaruh dalam implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal kalosara yaitu faktor agama dan faktor budaya yang memicu timbulnya sikap toleransi beragama. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa kearifan lokal kalosara mempunyai peran yang baik dalam memperkuat moderasi beragama di Konawe Selatan, maka hal tersebut harus tetap dilestarikan dan dijaga sebagai simbol pemersatu dan menjadi jembatan dalam menerima segala perbedaan yang ada serta menumbuhkan sikap toleransi antar penganut agama. Selain itu, dengan penelitian ini diharapkan menjadi bahan bacaan, rujukan dan pijakan agar mampu mengetahui kehidupan moderasi beragama yang ada di masyarakat Konawe Selatan.
The Theory of Balance in Physics and Islamic Governance: Exploring the Convergence of Natural Equilibrium and Social Balance within an Islamic State Context Handayani, Yusri; Aderus, Andi; Santalia, Indo
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 12 (2026): January
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18102702

Abstract

This research examines the relationship between the concept of equilibrium in physics and the implementation of Islamic governance, and how the two concepts relate to each other in the context of an Islamic state. In physics, equilibrium is achieved through the interaction of various forces within a system that continuously strives for stability, both in static and dynamic systems. This parallels the efforts of Islamic governments to maintain a balance between state authority, individual rights, and social obligations. Islamic governments emphasize the importance of social justice, reflected in state policies based on Sharia law, which aim to ensure social welfare by equitably considering individual rights and societal interests. In this study, the authors found that Islamic governance must be able to adapt to changing times and social dynamics, similar to the principle of equilibrium in physics, which always strives to achieve a stable state despite change. Socio-economic policies such as zakat and waqf serve to reduce social inequality, while the moral and ethical principles of sharia play a crucial role in maintaining this balance. This study concludes that the concept of equilibrium in physics provides a useful perspective for understanding the dynamics of Islamic governance, which is not merely static but also dynamic and adaptive to the demands of the times and the needs of society.
Esensi Tuhan dan Manusia dalam Berkehendak dan Berbuat: Otoritas Kun Fayakun dan Sunnatullah Rahmah, Jabal; Aderus, Andi; Santalia, Indo
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 12 (2026): January
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18127610

Abstract

The debate concerning the relationship between divine will and human freedom is a classic theme in Islamic thought that remains relevant to this day. On the one hand, Islam affirms the absoluteness of God’s will, as reflected in the concept of kun fayakun as a symbol of divine authority. On the other hand, the Qur’an also emphasizes human responsibility for actions and efforts through the principles of ikhtiar (human endeavor) and sunnatullah (divine laws). This study aims to critically examine the essence of God’s will and the position of human freedom from the perspective of Islamic thought, while positioning sunnatullah as a framework that bridges the two. This research employs a qualitative approach with a library research design, analyzing primary and secondary sources in the field of Islamic theology. The findings indicate that God’s will is absolute and unlimited, whereas human beings possess a limited yet accountable freedom. Sunnatullah functions as a divine law that enables humans to strive rationally without negating the supremacy of God’s will. Thus, the relationship between divine will and human freedom is complementary, in which human endeavor and divine decree mutually reinforce one another in shaping an ethical and meaningful life.
Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan: Perbandingan Perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah H, Hartinawanti; Santalia, Indo; Aderus, Andi
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 11 (2025): December 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the two largest patterns of Islam in Indonesia, namely Nusantara Islam initiated by Nahdlatul Ulama (NU) and Progressive Islam developed by Muhammadiyah. Both represent the face of Indonesian Islam as moderate, inclusive, and adaptive to the socio-cultural context of the Nusantara. The study focuses on historical background, theological characteristics, da'wah approaches, points of similarity and methodological differences, as well as their relevance to national life. This research method uses a qualitative approach based on literature studies, analyzed descriptively and analytically with a comparative approach. This research method uses a qualitative approach based on literature studies, analyzed descriptively and analytically with a comparative approach.