Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Ontologi Ilmu dalam Perspektif Barat dan Islam Marlina, Silvia; AM, Rusydi; Saputra, Riki
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36862

Abstract

Artikel ini membahas ontologi ilmu dalam perspektif Barat dan Islam dengan tujuan menelaah hakikat keberadaan, struktur realitas, serta dasar metafisik yang membentuk perkembangan ilmu pengetahuan dalam kedua tradisi intelektual tersebut. Penelitian ini menggunakan metode literature review melalui penelusuran komprehensif terhadap karya klasik, modern, dan kontemporer, serta analisis kritis terhadap gagasan para filsuf Barat seperti Plato, Aristoteles, Descartes, dan Heidegger, serta pemikir Muslim seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rushd. Hasil kajian menunjukkan bahwa ontologi Barat lebih berorientasi pada pemisahan antara dunia fisik dan metafisik, serta berfokus pada rasionalitas dan observasi empiris. Sementara itu, ontologi Islam berakar pada prinsip tauhid, memandang realitas secara holistik, dan menempatkan Tuhan sebagai sumber keberadaan dan kebenaran. Perbedaan ini memengaruhi konsep kausalitas, sifat ilmu, dan pendekatan terhadap realitas. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi kedua perspektif dapat memperkaya pengembangan ilmu kontemporer dengan memadukan kekuatan analitis Barat dan kedalaman spiritual Islam sehingga menghasilkan paradigma keilmuan yang lebih utuh, bermakna, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Pemikiran Al-Kindi dan Relevansinya bagi Pendidikan Islam Putra, Rizki Eka; Budi, Budi; AM, Rusydi; Saputra, Riki
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37049

Abstract

Al-Kindi merupakan tokoh sentral dalam tradisi filsafat Islam klasik yang dikenal dengan gelar Faylasūf al-‘Arab. Sebagai pelopor filsafat Islam abad ke-9 M, Al-Kindi berperan penting dalam mentransformasikan warisan filsafat Yunani ke dalam kerangka pemikiran Islam serta membangun fondasi epistemologi yang mengintegrasikan akal dan wahyu. Artikel ini bertujuan menganalisis konstruksi pemikiran Al-Kindi dan relevansinya terhadap pengembangan paradigma pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui penelaahan karya-karya Al-Kindi dan literatur terkait filsafat serta pendidikan Islam, yang dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Kindi berhasil mensintesiskan rasionalitas filsafat dengan prinsip tauhid secara harmonis. Ia menegaskan bahwa kebenaran bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga tidak terdapat pertentangan hakiki antara filsafat dan agama. Filsafat diposisikan sebagai instrumen intelektual untuk memahami kebenaran wahyu, sementara wahyu menjadi sumber kebenaran tertinggi yang membimbing akal. Dengan demikian, akal dipandang sebagai anugerah Ilahi yang berfungsi untuk menyingkap hakikat realitas, namun tetap berada dalam koridor nilai-nilai ketuhanan. Sintesis ini melahirkan paradigma keilmuan yang menempatkan ilmu agama dan ilmu rasional dalam satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi. Implikasi pemikiran Al-Kindi bagi pendidikan Islam sangat signifikan, terutama dalam merumuskan sistem pendidikan yang menyeimbangkan dimensi intelektual, spiritual, dan moral. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan kesadaran tauhid peserta didik. Integrasi akal dan wahyu dalam pemikirannya menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan Islam yang holistik, integratif, dan transformatif. Oleh karena itu, pemikiran Al-Kindi tetap relevan sebagai fondasi epistemologis dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan insan beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.