Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : GEMA KESEHATAN LINGKUNGAN

HUBUNGAN PERILAKU IBU PEMANTAU JENTIK TENTANG PSN DENGAN ANGKA BEBAS JENTIK Hesti Melinda; Suprijandani .; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 15, No 2 (2017): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v15i2.671

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia pertama kali di Surabaya pada tahun 1968, dengan jumlah penderita sebanyak 58 orang. Wilayah kerja Puskesmas Balas Klumprik penyakit DBD masih menjadi masalah dan nilai ABJ masih dibawah standar. Pada saat pengalaman observasi praktek belajar lapangan ditemukan perilaku Bumantik yang tidak sesuai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara perilaku Bumantik dengan nilai ABJ di wilayah kerja Puskesmas Balas Klumprik Kecamatan Wiyung Kota Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data primer dilakukan dengan kuesioner dan observasi. Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Balas Klumprik dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 198 Bumantik dengan menggunakan rumus dan teknik simple random sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 65 Bumantik. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan uji statistik yaitu uji chi square. Berdasarkan uji chi square didapatkan hasil pengetahuan dan sikap Bumantik tidak ada hubungan dengan nilai ABJ karena nilai p lebih dari α (0,05). Berbeda dengan tindakan dan perilaku Bumantik yang memiliki hubungan signifikan dengan nilai ABJ karena nilai p kurang dari α (0,05). Kata kunci : Perilaku Bumantik dan ABJ.
Perbedaan Jumlah Lalat Tertangkap Sticky Trap Antara Menggunakan Umpan Ekstrak Buah Durian Dengan Umpan Ekstrak Kayu Manis Yayan Wijayanti; Winarko .; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 13, No 3 (2015): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v13i3.101

Abstract

Given the fact that flies are attracted by strong odors, flies controlling  can be carried out by using scent lure trap. However, flies’ most preferred scent has not been known. This study aimsto determine difference in the number of flies caught on sticky traps between using lures of durianfruit extract and cinnamon extract lure. Durian fruit extracts contains alcohol while cinnamon contains eugenol.This is a quasi-experimental design research with Only Control Group Design Post-Test. This research was conducted in TPS of Bukit Barisan. This study covers the extraction with alcohol solvent. The extraction result was then dropped into the sticky trap and subsequently used to catchflies. The results shows that there were higher average number of flies caught on sticky trap ofcinnamon extract lure with 12-21 flies / trap than those in durian fruit extract trap which were only 10-14 flies / trap. The results of the data analysis by T test shows that there were difference in thenumber of flies caught on sticky traps between using lures of durian fruit extract and cinnamon extract (P = 0.033 0.05)It is advisable  to use physical ways of using sticky traps with durian fruit or cinnamon . In addition to their safety and environmentally friendly, they are proven to reduce flies population.
FAKTOR RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI AREA PRODUKSI PABRIK GULA Novra Herlian Rojabiansyah; Rusmiati .; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 19, No 1 (2021): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v19i1.1236

Abstract

Pabrik Gula Kedawoeng Pasuruan memiliki track record terjadinya kecelakaan kerja pada tahun 2014 hingga 2017 di area produksi. Berdasarkan survei, bahaya yang terjadi di Area Produksi Pabrik Gula Kedawoeng yaitu pekerja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri, mesin penggilingan bergerak tanpa pengaman, dan tingkat kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas di stasiun pemurnian, stasiun penguapan, stasiun pemasakan, dan stasiun pemutaran. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi risiko keselamatan dan kesehatan kerja pekerja di Area Produksi Pabrik Gula Kedawoeng Pasuruan.Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif yang mengidentifikasi risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Area Produksi Pabrik Gula Kedawoeng Pasuruan dengan metode Identifikasi Risiko.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemungkinan terjadinya risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Area Produksi Pabrik Gula Kedawoeng Pasuruan paling banyak terdapat pada kegiatan maintenance yakni kemungkinan besar sebesar 23%. Sedangkan tingkat dampak terjadinya risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Area Produksi Pabrik Gula Kedawoeng Pasuruan paling banyak terdapat pada kegiatan maintenance yakni rendah sebesar 41%.Perusahaan disarankan membentuk departemen khusus yang menangani Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan karyawan disarankan untuk mematuhi kebijakan dan peraturan yang berlaku di perusahaan. Kata kunci: Risiko, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Area Produksi
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS MEDIA BIOFILTER PECAHAN GENTENG DAN BIOBALL DALAM MENURUNKAN KADAR DETERJEN LIMBAH LAUNDRY Astrid Retno Hapsari; Hadi Suryono; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 14, No 3 (2016): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v14i3.260

Abstract

Continuous direct discharge of untreated laundry effluent into the streams may cause problems of water pollution and harm to human health. Treatment with biofilter is one chosen among the treatments for the effluent. It had the purpose of comparing the effectiveness of broken roof tiles and bioball as biofilter media in reducing the detergent levels of laundry effluent after aerobic treatment. The study was an analytic experiment using the one-group pretest-posttest design. Methods of analysis to test the differences in the effeciency of reducing detergent levels between broken roof tiles and bioball as biofilter  media combined with activated carbon using statistical test Independent Sample T Test. The parameter to be measured was detergent level by the use of Metylena Blue Active Subtances (MBAs) method.Results showed that the bioball biofilter reactor modified with activated carbon had the largest decrease in the level of detergent in the laundry effluent with efficiency of 1.61% after 160 minutes of flowing. Statistical tests showed that, p = 0,063 so p (sig) 0,05 there was no significant difference in the efficiency of reducing detergent levels for both biofilter media.  Both biofilter media were not effective in reducing the levels of detergent since the effluent remained above the standard value. Utilization of biofilter technology requires a pre-treatment stage, such as coagulation-flocculation due to high levels of pollutants, in order to prevent effluent from polluting surfaces water. In addition, further studies are required which use the acclimatization process and different contact time and biofilter media as well as examining other parameters.   Keywords : Biofilter, Bioball, Broken Roof Tiles, Detergent Levels, Effluent of Laundry
Hubungan Kondisi Fisik Rumah dengan Kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Wilayah Kerja Puskesmas Kadur Tahun 2017 Yeni Rohmatul Istihoroh; Umi Rahayu; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 16, No 1 (2018): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v16i1.812

Abstract

Penyakit ISPA menempati peringkat pertama dengan jumlah kasus 284 menurut data dari Puskesmas Kadur pada tahun 2016. Hasil dari survey pendahuluan di 70 rumah pasien penyakit ISPA yaitu 28% rumah yang lantai rumahnya belum memenuhi persyaratan rumah sehat, dan 78% rumah yang jarang membuka jendela sehingga tidak ada cahaya matahari masuk ke dalam rumah, dan masih ada 57% rumah yang pencahayaannya belum memenuhi persyaratan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ventilasi, pencahayaan alami, lantai rumah, suhu udara, dan kelembaban udara dengan kejadian penyakit ISPA.Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan case control. Populasi di penelitian ini adalah semua rumah penduduk yang terdapat pasien penyakit ISPA yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kadur Kabupaten Pamekasan dengan sampel 72 rumah penduduk diambil dengan metode simple random sampling. Analisis data dengan metode chi square untuk mengetahui hubungan variabel bebas dengan variabel terkait. Dan dilanjutkan ke analisis koefisien kontingensi untuk mengetahui besarnya keeratan hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian penyakit ISPA.Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang lemah antara intensitas pencahayaan (p = 0.012, C = 0.12) dengan kejadian penyakit ISPA, sedangkan luas ventilasi, suhu udara, dan kelembaban udara tidak ada hubungan dengan kejadian penyakit ISPA.Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara intensitas pencahayaan dengan kejadian penyakit ISPA dan tidak ada hubungan antara luas ventilasi, lantai rumah, suhu udara, dan kelembaban udara dengan kejadian penyakit ISPA. Sedangkan saran bagi petugas kesehatan yaitu dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit ISPA, bagi masyarakat yaitu dapat meningkatkan dan melakukan upaya penyehatan rumah untuk menekan terjadinya penyakit ISPA, dan bagi peneliti lain yaitu dapat melakukan penelitian dengan variabel yang berbeda. Kata kunci : kondisi fisik rumah, ISPA.
SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DI RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN Erna Wahyuningsih; Iva Rustanti EW; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 18, No 2 (2020): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v18i2.1427

Abstract

Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang dikeluarkan darikegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimaberacun dan radioaktif berbahaya bagi kesehatan. Pengolahan limbah cair rumah sakitharus memenuhi syarat baku mutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistempengolahan limbah cair di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan yang meliputiSumber-sumber limbah cair, Unit -unit Pengolahan, Proses Pengolahan, dan KualitasParameter.Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran sistempengolahan limbah cair di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan. Obyek penelitianini adalah pemeriksaan terhadap kualitas limbah cair di IPAL RSUD Syarifah AmbamiRato Ebu Bangkalan dengan pengambilan sampel satu bulan sekali.Dari hasil pengukuran parameter limbah cair yang diujikan ke laboratorium DLHProvensi Jawa Timur diketahui hasil uji lab NH3 dan E-coli melebihi baku mutu dan tidaksesuai Pergub Jatim No. 72. Tahun 2017. NH3 = 1.05Mg/l, Baku Mutu (0,1 Mg/l). E-coli =35.000/100ml Baku Mutu (10.000/100ml). Penyebab NH3 melebihi baku mutu disebabkankarena pada proses pengolahan di unit ruang aerob tangki 3 mesin blower mati.Sedangkan penyebab e-Coli tinggi adalah proses klorinasi yang kurang tepat.Kesimpulan dari penelitian pemeriksaan kualitas parameter NH3 dan e-Coli yangberasal dari Outlet IPAL tidak memenuhi syarat baku mutu. Disarankan bagi manajemenRSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan untuk mengganti mesin blower yang barudan penambahan klorin harus disesuaikan dengan takaran dosis yang tepat.
PENURUNAN KADAR BESI (II) PADA AIR BERSIH MENGGUNAKAN AMPAS DAUN TEH DIAKTIVASI Laili Purwaningsih; Rachmaniyah .; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 17, No 2 (2019): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v17i2.1124

Abstract

The production of dried tea leaves and tea consumption in Indonesia has increased from year to year. This condition was directly proportional to the spent tea leaves produced. Spent tea leaves contained 37% cellulose which can adsorb heavy metals in polluted water. Iron (II) metal was often found in high concentrations in ground water, so a treatment process was needed. This study aimed to analyze the removal of iron (II) in water by using activated spent tea leaves.The type of this research was true experiment with a pretest-posttest controlled group design. Spent tea leaves with size 80 mesh was activated with 0.1 N HCl for 36 hours. The method was carried out with a batch system in an artificial iron solution the initial concentration was 9.85 mg / L, with mass of adsorbent was 10 grams, pH = 7, stirring speed 100 rpm, contact time 15 minutes, 25 minutes, and 35 minutes. Measurement of iron levels was carried out before and after treatment using the SSA method. FTIR test carried out before and after activated spent tea leaves were used adsorption. Data analysis was carried out descriptively and analytically (One-way Anova Test and LSD Test).The results showed that activated spent tea leaves can remove iron (II) levels in water. The result of One-way Anova test and LSD test, the higgest removal of iron (II) occurred at 35 minutes contact time with adsorption efficiency was 90.36%. FTIR test results showed that activated spent tea leaves in this study contained functional groups were O-H, C-H, C=O, C=C, and C-N.This study concluded that activated spent tea leaves can remove iron (II) in water. The higgest removal of iron (II) occurred at 35 minutes contact time. Further research is needed to achieve 100% adsorption efficiency and find an effort to reduce turbidity in sample water after treatment.
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN TB PARU Fitrya Ayu Nur Aini AR; Setiawan .; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 19, No 2 (2021): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v19i2.1534

Abstract

TB ditularkan melalui media udara ketika seseorang yang sakit TB batuk, bersin, berbicara atau meludah. Data Litbangkes, perokok mempunyai risiko menderita TB 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Penyakit TB Paru setiap tahunnya masuk kedalam 10 besar penyakit yang sering terjadi di masyarakat mengingat penyebaran penyakit TB Paru juga sangat cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan merokok dari penderita TB Paru.Penelitian ini menggunakan metode studi literatur. Variabel yang diteliti adalah variabel bebas yaitu kebiasaan merokok dan variabel terikat yaitu kejadian TB Paru. Analisa data dilakukan dengan membandingkan beberapa literatur untuk dapat ditarik sebuah kesimpulan yang disajikan dalam bentuk tabel.Hasil studi literatur dapat dijelaskan bahwa kebiasaan merokok berpengaruh terhadap kejadian TB Paru. Menurut studi literatur, responden penderita TB Paru tidak bisa meninggalkan kebiasaan merokok, bahkan ada beberapa responden yang mengaku mengalami kegagalan dalam pengobatan TB Paru yang sudah dijalani selama berbulan-bulan karena tidak bisa berhenti merokok. Uji statistik dari 5 artikel yang menjadi bahan studi literatur menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian TB Paru.Kesimpulan dari studi literatur, terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian TB Paru. Saran yang dapat diberikan kepada petugas kesehatan adalah intensif melakukan penyuluhan terhadap masyarakat tentang efek dari kebiasaan merokok terhadap penyakit TB Paru
BIOFILTER AEROB MEDIA KALDNESS DALAM MENURUNKAN KADAR BOD, COD DAN TSS LIMBAH CAIR RUMAH MAKAN Yuli Sifaul Ummah; Iva Rustanti Eri Wardoyo; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 18, No 1 (2020): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v18i1.1112

Abstract

Restaurant  liquid waste is waste originating from the operational activities of a restaurant which is largely unprocessed, but disposed of directly to the receiving water body. This study aims to reduce Biogeochemical Oxygen, COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid) in restaurant wastewater by processing aerobic biofilter using caldness media.            This type of research is an experiment with pretest-posttest research design. In this design, it is done to find out the initial condition of the subject before being treated so that it can determine the condition of the subject under study before the treatment can be compared or seen changes in the analysis of data used using the Pretest-Posttest test in order to determine the differences in 2 treatment groups.            The results of examination of the levels of BOD, COD and TSS before treatment with the BOD Caldness medium were 333,822,00 mg/ liter, COD was 575,535,00 mg/ liter and TSS was 580,136,00 mg/ liter. After treatment with a medium of Caldness of BOD of 580 mg / liter, COD of 1019 gr / liter, and TSS of 430 gr / liter.            The conclusion of this study is that the results obtained after processing used Kaldnes media were very  in reducing BOD by 99.98%, COD by 99.82% and TSS by 99, 92% in restaurant wastewater treatment.Keywords: Restaurant Wastewater, BOD, COD and TSS
PENURUNAN KADAR BESI (II) PADA AIR BERSIH MENGGUNAKAN AMPAS DAUN TEH DIAKTIVASI Laili Purwaningsih; Rachmaniyah .; Pratiwi Hermiyanti
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 17, No 2 (2019): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v17i2.1060

Abstract

The production of dried tea leaves and tea consumption in Indonesia has increased from year to year. This condition was directly proportional to the spent tea leaves produced. Spent tea leaves contained 37% cellulose which can adsorb heavy metals in polluted water. Iron (II) metal was often found in high concentrations in ground water, so a treatment process was needed. This study aimed to analyze the removal of iron (II) in water by using activated spent tea leaves.The type of this research was true experiment with a pretest-posttest controlled group design. Spent tea leaves with size 80 mesh was activated with 0.1 N HCl for 36 hours. The method was carried out with a batch system in an artificial iron solution the initial concentration was 9.85 mg / L, with mass of adsorbent was 10 grams, pH = 7, stirring speed 100 rpm, contact time 15 minutes, 25 minutes, and 35 minutes. Measurement of iron levels was carried out before and after treatment using the SSA method. FTIR test carried out before and after activated spent tea leaves were used adsorption. Data analysis was carried out descriptively and analytically (One-way Anova Test and LSD Test).The results showed that activated spent tea leaves can remove iron (II) levels in water. The result of One-way Anova test and LSD test, the higgest removal of iron (II) occurred at 35 minutes contact time with adsorption efficiency was 90.36%. FTIR test results showed that activated spent tea leaves in this study contained functional groups were O-H, C-H, C=O, C=C, and C-N.This study concluded that activated spent tea leaves can remove iron (II) in water. The higgest removal of iron (II) occurred at 35 minutes contact time. Further research is needed to achieve 100% adsorption efficiency and find an effort to reduce turbidity in sample water after treatment. Keywords: Clean Water, Iron (II), Spent tea leaves
Co-Authors ., Ngadino Abd. Rasyid Syamsuri Adella Putri Auliah Hapsari Afifa Katerina Juliadita Agustin Dewi Alindia, Hiska Tri Ulan Aminuyati Ani Intiyati Astrid Retno Hapsari Aulia, Iga Putri Awalia Azizah Widyastuti Betryana Agnes Pratiwi Binti Yunariyah, Binti Budi Yulianto Cahyaning, Nimas Elok Cecep Dani Sucipto Clara Intan Pratiwi Clara Intan Pratiwi Darjati Darjati . Darjati Darjati Daryati Demes Nurmayanti Dewi Anggita Dewi Randa Edi, Anggya Rahayu Ervi Husni, Ervi Evi Pratami Evi Yunita Nugrahini Evy Diah Woelansari Fadllullah, Faiqazmiy Fajarwaty, Hylda Pravyta Fauziyah, Nada Ferry Kriswandana Fitri Rokhma Lia Fitria Shella Widyayuningsih Fitrya Ayu Nur Aini AR Fulan Oktaviana Hardi Ginarsih, Yuni Ginarsih, Yuni Hadi Suryono Henny Trisyanti Hesti Melinda I Putu Krysna Anom Putra Ichtiary Shinta Sabrina Ikhris Syafira rengganis Imam Thohari Imam Thohari inayatulillah inayatulillah inayatulillah, inayatulillah Ira Puspita Sari Ira Rahayu Tiyar Irwan Sulistio Istanto, Wisnu Iva Rustanti Eri Wardojo John Peterson Myers Juliana Christyaningsih Kasiati Kasiati, Klanting Khambali, Khambali Kiaonarni O.W Kurnia Wardhani Laili Purwaningsih Lembunai Tat Alberta Lully Hani Endarini Luluk Widarti, Luluk Mahfita Oktafiani Mamik Margono Marlik Milanti Nadia Fitri Muhammad Agus Ainur Rosyid Mujayanto Museyaroh, Museyaroh Nada Fauziyah Narwati Narwati Narwati Narwati Narwati Nerawati Diana A.T Ngadino Ngadino, Ngadino Ngadino, Ngadino Novra Herlian Rojabiansyah Nur Hatijah Nurhaidah Nurhaidah Nurifa Handayani Nurwening TW P, Teresia Retna Putri Arida Ipmawati, Putri Arida Rachmaniyah Rafif, Devina Yunizar Rahayu Sumaningsih Rijanto Rokhmalia, Fitri Rusmiati Rusmiati Rusmiati Sachrul Romadhan S Santoso, Rezki Amalia Sari, Ernita Sari, Ira Rahayu Tiyar SB Eko Warno Setiawan Setiawan Setiawan . Setiawan . Setiawan Setiawan Setiyadi, Fadjar Slamet Wardoyo Sri Anggraeni Sukesi . Suliati Sulistio, Irwan Sulistyowati, Dwi Wahyu Wulan Sumaningsih, Rahayu Sumasto, Hery Swindriaswara Syawalina Putri Fajar Teta Puji Rahayu Thohari, Imam Titi Maharrani Tri Oktaviana, Rosalia Tri Suhartiwi, Yuli Triana, Cecillia Martha Triana, Wahyuningsih Umi Rahayu Widyastuti, Dwi Utari Winarko, Winarko winarko, winarko Windi, Yohanes Kambaru Wisnu Istanto Wisnu, Nurwening Tyas Wulandari, Endang Tri Yayan Wijayanti Yeni Rohmatul Istihoroh Yohanes Kambaru W Yuli Sifaul Ummah Zukrisningtyas, Liza Fajrin