Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT IBU BALITA DENGAN PNEUMONIA MELALUI PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) PENYULUHAN DI PUSKESMAS KOTA LAMONGAN Eny Sayuningsih; Mujayanto; Nuning Marina Pengge; Erlyna Jayeng
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu( ABDI KE UNGU) Vol. 3 No. 2 (2021): Vol 3 No 2 (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu ( ABDI KE UNGU)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Pneumonia is a respiratory tract infection that affects the lung parenchyma, causing inflammation. It is characterized by high fever, chills, shortness of breath, rapid breathing, coughing and chest indrawing. Mothers play an important role in supporting efforts to overcome nutritional problems, especially in terms of family nutritional intake, starting from food preparation, selection of food ingredients, to food menus. Pneumonia taken under five has 2 categories, namely mild - moderate and severe. The classification of pneumonia under five above shows that the majority of pneumonia under five in the working area of ​​the Lamongan District Health Center includes mild to moderate pneumonia with a total of 42 children (97.7%). From 2013 - 2018 there was an increase from 1.3% to 1.84%. Meanwhile, in the Lamongan Regency, there are still many cases of preumonia in Balia. The objectives of this community service are: 1. To find out the Nutritional Status by conducting anthropometric measurements 2. To increase the ability of cadres by holding training for refreshing cadres on anthropometric measurements 3. To increase the knowledge of the facilitators of providing food for making PMT Extensions made from local food with demonstration method facilitator training . From the results of this activity, there was no difference between before and after supplementary feeding. It is known that 80% of toddlers are classified as normal, 16% of toddlers are classified as short, and 4% of toddlers are classified as very short. ABSTRAK Pneumonia adalah suatu penyakit infeksi saluran pernapasan yang mengenai parenkim paru sehingga terjadi peradangan. Yang ditandai dengan adanya demam tinggi, menggigil, sesak napas, napas cepat, batuk dan tarikan dinding dada ke dalam. Ibu memegang peranan penting dalam mendukung upaya mengatasi masalah gizi, terutama dalam hal asupan gizi keluarga, mulai dari penyiapan makanan, pemilihan bahan makanan, sampai menu makanan. Pneumonia balita yang diambil mempunyai 2 kategori antara lain ringan - sedang dan berat. Klasifikasi Pneumonia balita diatas menunjukan bahwa sebagian besar balita Pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Kota Lamongan termasuk Pneumonia tingkat ringan - sedang dengan jumlah 42 balita (97,7%). Dari tahun 2013 - 2018 mengalami kenaikan dari 1,3% menjadi 1,84%. Sedangkan di daerah Kabupaten Lamongan penderita Preumonia balia masih banyak dijumpai. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah : 1. Untuk mengetahui Status Gizi dengan mengadakan pengukuran antropometri 2. Meningkatkan kemampuan kader dengan mengadakan pelatihan untuk refreshing kader tentang pengukuran antropometri 3. Meningkatkan pengetahuan fasilitator pemberian Makanan pembuatan PMT Penyuluhan berbahan dasar pangan lokal dengan pelatihan fasilitator metode demonstrasi. Dari hasil kegiatan ini, tidak terdapat perbedaan antara sebelum dan setelah pemberian makanan tambahan. Diketahui sebesar 80% balita tergolong normal, 16% balita tergolong pendek, dan 4% balita tergolong sangat pendek.
A EDUKASI GIZI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) DAN STATUS GIZI BADUTA DI DESA SUMBERWUDI KECAMATAN KARANGGENENG KABUPATEN LAMONGAN: PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) DAN STATUS GIZI BADUTA Eny Sayuningsih; Mujayanto; Erlyna Jayeng Wijayanti
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu( ABDI KE UNGU) Vol. 3 No. 1 (2021): Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu ( ABDI KE UNGU)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MP-ASI berupa makanan padat atau air yang diberikan secara bertahap sesuai dengan usia dan kemampuan pencernaan bayi. Pada usia 6-24 bulan ASI hanya menyediakan 1/3 dari kebutuhan gizinya sedangkan kebutuhan untuk energi dan nutrisi mulai melebihi apa yang disediakan oleh ASI sehingga makanan pendamping diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada saat yang tepat sangat bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak. Hasil analisis menunjukkan praktik pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) belum mampu dilakukan dengan benar seperti jumlah, frekuensi dan bentuk yang disebabkan berbagai alasan yang beragam. Oleh karena itu diperlukan suatu solusi yang konkret sebagai upaya untuk meningkatkan pemberian MP-ASI sehingga dapat meningkatkan perubahan status gizi pada baduta. Hasil pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat memberikan pengatahuan kepada fasilitator atau kader, ibu baduta dan keluarga tentang Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dan peningkatan pemahaman dalam pemberian informasi tentang asupan gizi pada balita. Sehingga pembinaan ini diaharapkan dapat melengkapi pengetahuan serta ketrampilan dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI). Metode pelaksanaan kegiatan meliputi pengukuran Berat Badan, Panjang Badan/Tinggi Badan dan status gizi ; Penyuluhan tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI), asupan gizi yang benar pada baduta dan hal-hal yang meningkatkan status gizi; Evaluasi hasil kegiatan.
Joint Action to Prevent Stunting and Obesity in the Tanah Kali Kedinding Health Center, Kenjeran District, Surabaya Riezky Faisal Nugroho; Mujayanto Mujayanto; Nuning Marina Pengge; Nurul Hindaryani; Erlyna Jayeng Wijayanti; Erika Martining Wardani
Surya Abdimas Vol. 6 No. 4 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/abdimas.v6i4.2202

Abstract

Stunting in children is a serious problem because it is associated with the risk of future illness and the difficulty of achieving optimal physical and cognitive development. The prevalence of stunting in Surabaya is found in several working areas of the puskesmas, one of which is at the Tanah Kali Kedinding Health Center at 25.37%. Obesity is a condition in which the accumulation of excess or abnormal fat is bad for health. The World Health Organization (WHO) in 2014 noted that 1.9 billion adults were overweight with a prevalence of 39% having children under five were overweight and obese. The case of obesity in the city of Surabaya itself ranks second highest in East Java Province, which is as many as 98,344 cases. This activity aims to increase knowledge about stunting and obesity prevention for pregnant women and mothers under five. This service method uses increasing knowledge about stunting and obesity in everyday life for pregnant women and mothers of toddlers, measuring nutritional status in Toddlers and cooking demonstrations of healthy snacks using the Risoles menu of Tongkol Ragout Fresh Bread. The results obtained, namely pregnant women and mothers under five experienced an increase in knowledge about stunting and obesity respectively 80% and 82%, both of which were classified as good.
Buang Air Sembarangan dan Stunting Inne Soesanti Soesanti; Dian Shofiya; Winarko Winarko; Mujayanto Mujayanto; Rahmania Rahmania
Media Gizi Indonesia Vol. 17 No. 1SP (2022): Media Gizi Indonesia (National Nutrition Journal) Special Issue: Internation
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v17i1SP.193-199

Abstract

Desa Mergosari, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban mempunyai prevalensi balita stunting sebesar 25,7% pada tahun 2022. Salah satu faktor penyebab stunting adalah rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat di desa mergosari. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Informan dipilih secara purposif. Informan terdiri dari perangkat desa, bidan dan kader Posyandu. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara melalui diskusi kelompok fokus dan observasi terkait penggunaan perilaku hidup bersih dan sehat. Analisa data dilakukan dengan cara triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan masih banyak warga desa yang melakukan buang air besar sembarangan seperti di tanah rerumputan meskipun mereka sudah mempunyai jamban atau closet di rumahnya. Buang air besar di rerumputan sudah dilakukan oleh warga masyarakat sejak dahulu bahkan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan perilaku tersebut sudah menjadi budaya. Buang air besar sembarangan dapat mengakibatkan banyaknya lalat dan cacing. Perilaku ini dapat menimbulkan resiko penyakit cacingan terutama jika anak-anak tidak menggunakan alas kaki ketika bermain di rumah serta tidak mencuci tangan dan kaki setelah bermain di luar rumah. Makanan tidak ditutupi oleh tutup saji akan dihinggapi oleh lalat dan dapat mengakibatkan diare. Perilaku buang air besar sembarangan telah menjadi budaya. Rekomendasi bagi pemerintah setempat supaya mengubah perilaku masyarakat untuk tidak melakukan buang air besar sembarangan sebagai upaya pencegahan stunting.
Komitmen Pimpinan Pada Penurunan Stunting Di Kabupaten Tuban Jawa Timur Dian Shofiya; Inne Soesanti; Rachmaniah; Winarko; Mujayanto; Sa’idah Zahrotul Jannah
Media Gizi Indonesia Vol. 17 No. 1SP (2022): Media Gizi Indonesia (National Nutrition Journal) Special Issue: Internation
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v17i1SP.211-214

Abstract

Stunting menyebabkan lemahnya persaingan sumber daya manusia (SDM) suatu negara, karena selain tampilan fisik juga berdampak pada kemampuan kognitif. Hasil SSGI21 menyatakan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4%. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting tahun 2024 menjadi 14%. Untuk mencapai angka tersebut memerlukan komitmen ditingkat pusat sampai dengan desa. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui komitmen pemerintah dan masyarakat desa dalam percepatan penurunan stunting. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Focus Group Discusion merupakan cara pengumpulan data secara kualitatif. Partisipan dalam FGD adalah kepala desa dan pamong desa, bidan desa, bidan Puskesmas, serta anggota TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) di tingkat desa. Penelitian dilakukan di 10 desa lokus stunting di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen pimpinan telah ada tetapi belum operasional. Komitmen pendanaan masih bersifat umum belum focus pada balita stunting dan keluarga beresiko stunting, sangat bergantung pada dana pemerintah pusat dan bersumber pada dana desa yang sangat terbatas berupa pemberian makanan tambahan di posyandu. Sumberdaya manusia telah banyak melakukan kegiatan tetapi belum semua terlibat dalam kegiatan percepatan penurunan stunting, misalnya bisang pendidikan dalam hal ini adalah PAUD. Saran yang dapat diberikan agar pimpinan desa melakukan sosialisasi kepada seluruh tim percepatan penurunan stunting, memfokuskan sekaligus menambah besarnya anggaran untuk balita stunting dan keluarga beresiko stunting dan melibatkan semua komponen masyarakat untuk melakukan percepatan penurunan stunting. Kata kunci : stunting, komitmen pimpinan, dana desa.
Effectiveness of Official Counseling Practices To Understanding Efforts Of The First 1000 Days Of Life Prospective Brides In The Working Area Of Religious Affairs Office, Bengkulu City: Qualitative Study: Efektifitas Praktek Konseling Petugas Terhadap Upaya Pemahaman 1000 Hari Pertama Kehidupan Calon Pengantin di Wilayah Kerja Kantor Urusan Agama Kota Bengkulu: Studi Kualitatif Anang Wahyudi; Mujayanto
Media Gizi Indonesia Vol. 18 No. 1SP (2023): MEDIA GIZI INDONESIA (NATIONAL NUTRITION JOURNAL) Special Issue: The 2nd Ben
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v18i1SP.33-37

Abstract

Reducing the prevalence of stunting in children needs to involve cross-sectors, one of which is the KUA (Office of Religious Affairs) which has officers who give lectures related to religion. The model for health counselors, especially nutrition, is the empowerment of religious officers in the Office of Religious Affairs who will provide materials to the prospective bride and groom, after the religious officers of the prospective bride and groom receive provision of knowledge on nutritional health, which in this case is the first 1000 days of life to prevent stunting. The purpose of the KUA health counselor is to change the behavior of the prospective bride and groom towards healthy behavior. The working mechanism of this health counselor model is (1) the religious officers of the prospective bride and groom receive health knowledge, especially nutrition, provided by members of the community service, (2) these counselor officers convey their knowledge to the prospective bride and groom in the form of messages accompanied by service members public. The purpose of this study is to analyze the effectiveness of Officer Counseling practices on Understanding Efforts of 1000 HPK Candidate Brides in the Work Area of the Office of Religious Affairs in the City of Bengkulu and how the factors influence it. Qualitative descriptive research method with a focus group discussion approach. 
First 1000 Days of Life Education for Cadres at the Work Area Health Center in Sambikerep District, Surabaya Melina Sari; Dian Shofiya; Ani Intiyati; Taufiqurrahman; Nur Hatijah; Nuning Marina Pengge; Juliana Christyaningsih; Devi Eka Ratnasari; Atika Nuswantari; Mujayanto; Erlyna Jayeng Wijayanti; Khristine Saputri
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022)
Publisher : Peneliti Teknologi Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59247/jppmi.v2i12.192

Abstract

The First 1000 Days of Life Movement (HPK) is also known as Scaling Up Nutrition (SUN) as a state effort to accelerate nutrition improvement, especially handling nutrition from 1000 days from pregnancy to two years of age. Pregnant women, nursing mothers, newborns and children under two years of age (baduta) are the target groups to improve the quality of life for the first 1000 days of humanity. For cadres as the spearhead of health workers who are directly involved with the community, there is still a low level of knowledge of cadres from an academic and technical perspective regarding the implementation of Posyandu. Providing 1000 HPK education is expected to be able to carry out posyandu activities optimally on target. The 1000 HPK cadre education activities showed an increase in scores for general knowledge of posyandu cadres, attitudes and actions of cadres and knowledge of balanced nutrition. The knowledge that the respondents had before being given education & training was good, this is probably due to the age characteristics that are in the range of 30-40 and the education of the respondents who graduated from high school allows the respondents to have good knowledge.
Pengabdian Pendampingan Praktik Pemosisian Kepala Anak dalam Pengukuran Panjang Badan Anak Baduta di Kertajaya, Gubeng. Surabaya - Indonesia Hafid, Fahmi; Rusyadi, Luthfi; Taufiqurrahman; Mujayanto; Soesanti, Inne; Shofiya, Dian; Hatijah, Nur; Pengge, Nuning Marina; Hindaryani, Nurul; Intiyati, Ani; Nugroho, Riezky Faisal; Latifolia, Ergia; Ratnasari, Devi Eka; Halimah, Husnul; Wardana, Endra Tri Kusuma; Prionggo, Anang; Putri, Intan Maulina Alifia; Adhyanti; Sariman, Sarina
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Svasta Harena Vol. 3 No. 2 (2024): Februari 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jpmsh.v3i2.3895

Abstract

Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kader posyandu dalam pemosisian kepala dalam mengukur panjang badan anak di bawah dua tahun (baduta) di Posyandu Kertajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya. Pengabdian dilakukan dengan menggabungkan teori dan praktik untuk meningkatkan akurasi pengukuran panjang badan. Kegiatan ini melibatkan 30 mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Surabaya dan 30 Kader Surabaya Hebat (KSH) posyandu. Hasil menunjukkan bahwa sebelum pengabdian, kader belum semuanya tepat ketika memosisikan kepala anak dan menggunakan alat ukur Length Board Measuring dengan benar. Setelah mengikuti pengabdian, keterampilan kader memosisikan kepala anak dan menggunakan alat ukur Length Board Measuring lebih baik. Penggunaan panduan pengukuran dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan demonstrasi langsung oleh dosen efektif dalam meningkatkan kompetensi kader. Temuan ini mendukung pentingnya pengabdian berkelanjutan untuk kader posyandu dalam rangka mendukung upaya penurunan prevalensi stunting dan peningkatan status gizi anak di Indonesia.
PELATIHAN KOMPETENSI KADER POSYANDU LANSIA ABIMANYU POLKESBAYA Christyaningsih, Juliana; Luthfi Rusyadi; Mujayanto; Inne Soesanti; Minarti; Nuning; Marina Pengge; Riezky Faisal Nugroho; Taufiqurrahman
Edukasi Masyarakat Sehat Sejahtera (EMaSS) : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/emass.v6i1.267

Abstract

Saat ini, negara Indonesia telah memasuki masa dimana mayoritas penduduknya berada dalam kelompok dengan lanjut usia. Dikarenakan adanya keterbatasan fisik pada lansia, sebagian besar lansia di Indonesia tidak mampu hidup sendiri dan memerlukan bantuan orang lain pada setiap aktivitasnya. Dampaknya, semakin rendahnya kualitas hidup lansia di Indonesia telah menyebabkan proses pembangunan negara terhambat. Seiring berjalannya waktu, pemerintah telah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi isu-isu yang dihadapi oleh lansia. Salah satu solusi yang diimplementasikan adalah program posyandu lansia. Dari upaya tersebut masih didapati beberapa kendala seperti kurangnya keaktifan pengurus maupun lansia sekitar untuk mengikuti dan mengaktifkan layanan posyandu lansia. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, peningkatan jumlah pemanfaatan Layanan posyandu lansia dapat dilakukan dengan melakukan upaya pendampingan kader posyandu. Berasal dari masalah tersebut, dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk penyuluhan kader posyandu lansia Abimanyu Polkesbaya. Saat kegiatan dilaksanakan, telah dipaparkan sebuah penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi mengenai pentingnya kesehatan pada lansia dan kepengurusan posyandu lansia.
Hubungan Asupan Makronutrien dan Aktivitas Fisik terhadap Kelebihan Gizi pada Siswa Kelas 5 di Sekolah Dasar Negeri Banjarbendo: The Correlation between Macronutrient Intake and Physical Activity with Overnutrition among Fifth-Grade Students at Banjarbendo State Elementary Mujayanto, Mujayanto; Pratiwi, Echa Rahmalia
Amerta Nutrition Vol. 8 No. 2SP (2024): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v8i2SP.2024.31-40

Abstract

Background: Overweight status, which falls under the category of overweight and obesity, has become a serious and growing global health problem, especially among school-aged children. Unbalanced nutrition and low physical activity are the main factors contributing to the increasing prevalence of malnutrition among children in Indonesia. Objectives: This study aims to analyze the correlation between macronutrient intake and physical activity with nutritional status (overweight and obesity) in fifth-grade students at Banjarbendo State Elementary School, Sidoarjo. Methods: This study employed an observational analytical method with a cross-sectional design. The sample consisted of 64 fifth-grade students who were randomly selected through simple random sampling. Data were collected through anthropometric measurements to determine nutritional status based on body mass index-for-age (BMI-for-age) as well as interviews to assess food intake using a 2x24 hour food recall and physical activity using a 2x24 hour physical activity recall. Data analysis was carried out using Spearman’s correlation test with a 95% confidence level (α=0.05). Results: The results indicated a significant correlation between macronutrient intake, physical activity, and nutritional status. Most students with excessive macronutrient intake and low physical activity were found to be overweight or obese Conclusions: A significant correlation between macronutrient intake, physical activity level, and nutritional status was observed. It is important to raise awareness of balanced nutrition and encourage physical activity in children to prevent overnutrition and its associated health problems in the future.
Co-Authors A.E. Prasetyawan Prasetyawan Adhyanti Ainun Ainun Ainur Wachidah Choirun Niza Alifa Mariyatul Khiftiyah Alisa Oriana Alviony Berliana Aksari Amanda Hamidah Amsal Amsal Anang Wahyudi Andika Ananda Eka Putra Ang Yeow Nyin Anggiani Tetra Putri Harahap Ani Intiyati Annas Buanasita Anvy Aditya Raksesi Aqilah Rahma Pritana Widiyanto Arifah, Jazilah Nur Bella Dwi Kurnia Fitri Binti Yunariyah, Binti Budi Yulianto Darjati Demes Nurmayanti Devi Eka Ratnasari Dhea Martadilla Dinda Maulidiyah Durrotun Nihayah Endang Soelistyowati Ergia Latifolia Erlyna Jayeng Erlyna Jayeng Ervi Husni Evi Pratami Evi Yunita Nugrahini Evy Diah Woelansari Fadila Briliyana Fahmi Hafid Ferry Kriswandana Ginarsih, Yuni Hadi Suryono Halimah, Husnul Hamidah, Amanda Hermiyanti, Pratiwi Hilda Vilatul Rohmin Hindaryani, Nurul Ifta Nur Fadhilah Inne Soesanti Ira Puspita Sari Ira Rahayu Tiyar Ira Rahayu Tiyar Sari Ishak, Sharifah Intan Zainun Sharif Istanto, Wisnu Iva Rustanti Eri Wardojo Jayeng Wijayanti, Erlyna Juliana Christyaningsih Juliana Cristyaningsih Kasiati, Klanting Khambali, Khambali Kharisma Kusumaningtyas Khristine Saputri Kiaonarni O.W Lee Shoo Thien Lembunai Tat Alberta Lembunai Tat Alberta Lembunai Tat Alberta, Lembunai Tat Lucyana Ahda Valeri Lully Hani Endarini Luluk Widarti, Luluk Luthfi Rusyadi Mamik Marina Pengge Marlik Meisya Argia Sisviani Deva DEVA Melina Sari MINARTI Museyaroh, Museyaroh Nabila Dwi Sabita Nabila Firdausi Nugroho, Riezky Faisal Nuning Nuning Marina Pengge Nur Hatijah Nurwening TW Nuswantari, Atika Prasetyawan, A. E. Pratiwi, Echa Rahmalia Prionggo, Anang Putri Arida Ipmawati Putri, Intan Maulina Alifia Rachmaniah Rachmaniyah Rahayu Sumaningsih Rahayu, Teta Puji Rahayuningtyas, Rina Rahmania Rahmania Ratna Sari, Devi Eka Ratno Ratno Rijanto Rina Rahayuningtyas Rizal Wicaksono Agung Rokhmalia, Fitri Rosli, Siti Zaharah Sabita, Nabila Dwi Sariman, Sarina Sarina Sariman Sarina Sariman Sayuningsih, Eny Sa’idah Zahrotul Jannah Setiawan Sharifah Intan Zainun Sharif Ishak Sharifah Intan Zainun Sharif Ishak Sheline, Shelineroos Wananda Putri Shelineroos Wananda Putri Sheline Sherly Rahmawati Shofiya, Dian Sisca Indah Mentari Siti Nur Kholifah Siti Zaharah Rosli Sjamsul Arifin Sri Anggraeni Sri Rahayu, Yayuk Sukesi . Suliati Suliati Sulistyowati, Dwi Wahyu Wulan Sumaningsih, Rahayu Sumasto, Hery Taufiqurrahman Taufiqurrahman Taufiqurrahman Taufiqurrahman Taufiqurrahman Teresia Retna P Thien, Lee Shoo Titi Maharrani Triana, Wahyuningsih Wardana, Endra Tri Kusuma Wardani, Erika Martining Widyastuti, Dwi Utari winarko, winarko Windi, Yohanes Kambaru Wisnu, Nurwening Tyas Wuryaningsih, Sri Hardi Yanfa' Qurrota 'Ayun Sari Yayuk Sri Rahayu Yohanes Kambaru W