Claim Missing Document
Check
Articles

GRAFITI SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI VISUAL (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Tentang Pesan Moral Di Balik Graffiti Tembok Sekolah Di Kota Kupang) Yohanes K.N. Liliweri; Monika Wutun
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 7 No 1 (2018): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v7i1.2013

Abstract

Penelitian Grafiti Sebagai Media Komunikasi Visual bertujuan mendeskripsikan makna graffiti di tembok sekolah berdasarkan elemen semiotika Peirce dan pesan moral dibalik graffiti tersebut. Observasi dan studi dokumentasi dilakukan untuk menemukan tujuan penelitian dengan merujuk pada trikotomi objek (ikon, indeks dan Simbol) dari Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce. Tim Peneliti menemukan terdapat lima kategori karya grafiti di SDK Santa Familia dan SDK Santo Yoseph sebagai objek penelitian. Kelima kategori itu diantaranya , (1) Grafiti Ajakan Moral Terkait Pendidikan di SDK Santa Familia; (2) Grafiti Terkait Lingkungan Hidup di SDK Santa Familia; (3) Grafiti Terkait Tertib Lalu Lintas di SDK Santa Familia; (4) Grafiti Terkait Mengenal Daerah di NTT pada SDK SantoYoseph; dan (5) Grafiti Terkait Rohani Di SDK SantoYoseph. Sementara pesan moral yang terkandung pada karya grafiti tidak sekedar tampilan kata-kata tetapi penanaman nilai moral yang baik sejak dini agar menghasilkan siswa yang berkarakter kuat, tahu menghargai pendidikan formal, mau mengenal budaya daerah, serta tertib peraturan dan memiliki integritas rohani yang baik. Kata kunci: grafiti, tembok sekolah, pesan moral.
STUDI ETNOGRAFI MAKNA KOMUNIKASI RITUAL ADAT WERUNG LOLONG PADA MASYARAKAT LEWOHALA DI DESA TODANARA KECAMATAN ILE APE KABUPATEN LEMBATA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Margarita I. M. Rutan; Lukas Lebi Daga; Monika Wutun
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 7 No 1 (2018): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v7i1.2019

Abstract

Studi ini mendeskripsikan makna simbolik pada ritual adat werung lolong masyarakat Lewohala Desa Todanara Kecamatan Ile Ape Timur Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur. Teori yang digunakan interaksi simbolik dengan pendekatan etnografi Spradley. Penelitian ini menemukan nilai dan makna simbolik ritual adat werung lolong yang diyakini sebagai bentuk ritual ucapan syukur atas hasil panen tahunan kepada Lera Wulan Tana Ekan (Sang Causa Prima) melalui perantara para Penahulu atau Leluhur lokal. Seluruh rangkaian adat ritual Werung Lolong dilaksanakan secara utuh menyeluruh, rinci dan lengkap dalam semangat kekeluargaan dan ketulusan hati. Ritual dimulai dari doa pembukaan sampai tahapan ritual Sora U’te Lango Bele dan Penu Koke Lera Tena. Seluruh tahapan ritual simbolik sarat makna dan nilai adat komunitas lokal dalam interaksi manusia sebagai makhluk religius, sosial, dan budaya serta makhluk semesta alam. Tahapan ritual dilandasi oleh semangat nilai kekeluargaan dan kebersamaan hidup dengan orang lain, dengan Tuhan Sang Pencipta, dan dengan bumi tempat manusia berkarya.Kata Kunci: Werung Lolong, Etnografi, Komunikasi Ritual, Makna Simbolik
Jurnalisme Empati dalam Berita www.antaranews.com tentang HIV dan AIDS di Kota Kupang Monika Wutun
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 7 No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v7i2.2038

Abstract

Penelitian jurnalisme empati dalam berita www.antaranews.com tentang HIV dan AIDS di Kota Kupang bertujuan mendeskripsikan strategi framing Pan dan Kosicki yang dijalankan LKBN Antara Biro NTT. Strategi framing dalam penulisan berita HIV dan AIDS ini, kemudian dielaborasikan dengan prinsip penulisan dalam paradigma jurnalisme empati yang lebih menekan sisi human interest dalam proses produksi berita sejak dari mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Proses peliputan yang empatik akan tampil dalam berita, sebab berdasarkan hasil analisis dan pembahasan temuan penelitian diperoleh LKBN Antara Biro NTT belum menerapkan jurnalisme empati dalam penulisan berita HIV dan AIDS. Juga masih mengedepankan peliputan peningkatan angka kasus yang terkesan sebagai berita bombastis sebab sudah pasti dari tahun ke tahun temuan kasus akan meningkat akibat kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri dengan adanya lembaga Komisi Penanggulangan AIDS di berbagai tingkatan. Karena itu sebagai saran penelitian, diharapkan media massa di Kota Kupang khususnya LKBN Antara biro NTT untuk mulai menulis berita HIV dan AIDS lewat strategi framing yang tepat seperti menentukan unsur sintaksislewat upaya membuat lead lebih humanis, atau skrip lewat 5W+1H dengan mulai membuat unsur who menjadi 2 orang yakni dari otoritas berwenang serta ODHA atau para pejuang HIV dan AIDS. Tidak lupa strategi tematik lewat pilihan kata sesuai UNAIDS Terminology Guidelines dan retoris yang lebih humanis, serta retoris dengan pilihan gambar/grafis yang tepat.
Makna Standar Kompetensi Wartawan bagi Wartawan Media Online di Kota Kupang Monika Wutun; Yohanes K. N. Liliweri
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 8 No 1 (2019): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v8i1.2050

Abstract

Penelitian Makna Standar Kompetensi Wartawan Bagi Wartawan Media Online Di Kota Kupang memiliki tujuan yakni untuk menemukan dan mendeskripsikan makna standar kompetensi wartawan bagi wartawan media online dalam membentuk diri menjadi wartawan profesional. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomologi digunakan untuk menganalisis temuan lapangan. Dari hasil penelitian ditemukan Wartawan media online di kota kupang menyadari pentingnya bekerja sesuai standar kompetensi. Mereka sering mengikuti sosialisasi dan pelatihan tentang standar kompetensi wartawan, bahkan telah mengikuti ujian kompetensi pada level wartawan pemula dan wartawan utama. Standar kompetensi wartawan dinilai seperti SIM bagi seorang wartawan dalam menjalankan tugasnya. Karena itu mereka memaknai standar kompetensi wartawan sebagai pedoman yang harus ditaati untuk menjadi wartawan professional dan menjadi indikator untuk mengukur profesionalitas wartawan.
Etnografi Komunikasi Penyandang Disabilitas Stefanus O. P. Olga; Blajan Konradus; Monika Wutun
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 8 No 1 (2019): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v8i1.2060

Abstract

This study aims to describe and express the ethnography of communication person with disabilities in speeches children at the Kupang branch of the Bhakti Luhur orphanage. The theory used is the theory of symbolic interaction by George Herbert Mead. Qualitative research paradigm namely ethnography of communication. Data collection techniques and data analysis used are Dell Hyms. The results of research on the type of communication events in the communication process of speechless children at the orphanage consist of two, namely communication events of speech children with nurses, communication events, children with speech impairments and teachers. The components that make up the communication events of the speechless child setting and scene, namely the location or place and time of communication of the child who is speech impaired by the nurse and teachers, participants, anyone who is involved in the communication process between a speechless child nurse and teacher, ends, the purpose of communication is the speechless child nurse and teacher, action sequences, communication forms of nurse and teachers speechless children that include verbal and nonverbal messages, key, tone of voice in the process of communication of children with speech disabilities and teachers, instrumental, the what message was conveyed through verbal and nonverbal messages, norms, regulations apply at the orphanage, genre, delivery forms such as prayer advice and the relationships of the components that make up communication events. The relationship between the communication components that make up the communication event between nurses and teachers speechless children is colored by verbal and nonverbal languages that appear in the form of statement submissions and requests. The conclusions of this study are the communications process that occurs between nurses of speechless children and teachers at the orphanage who use SPEAKING components in forming communication events.
Rutinitas Wartawan dalam Memproduksi Berita Quidora Ledo Soera; Petrus Ana Andung; Monika Wutun
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 8 No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v8i2.2067

Abstract

The rapid development of information and communication technology brings relevant changes in several areas of human life. No exception with the field of journalism. Developments that influence the existence of the media force conventional media to provide new policies that are more efficient and effective for society. One of them is by making an online version of the news portal. Increasingly intense media competition requires online journalistic media workers to work fast from searching to working on news that is a routine for journalists. The purpose of this study was to find out the routines of ANTARA News NTT online media reporters in producing news and to find out the meaning of routines by ANTARA News NTT online media reporters in producing news. The theory used in research is the theory of new media / new media. The method in this study uses ethnographic media methods. Data were collected through in-depth interview techniques, participatory observation, and documentation. While the data analysis uses Cresswell's analysis model, and the data validity technique uses triangulation. The results showed that the routine of ANTARA News's online media reporter NTT in producing news consisted of five stages, including preparing the agenda for coverage, coverage, news script writing, editing by the editor, and dissemination to the general public. ANTARA News NTT online media reporter interpreted his routine in producing news, including journalist rituals, part of a journalist's life, and the demands of the profession.
Peran Komunikasi Organisasi dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan Rhyo R. Dami Dato; Lukas L. Daga; Monika Wutun
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 8 No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v8i2.2068

Abstract

The purpose of this study was to determine the Role of Organizational Communication in improving the performance of employees of the Dutalia Oesapa Supermarket in Kupang City. The theory used in this study is the theory of human relations. This research is a qualitative study with research procedures that produce descriptive data. The informants in this study were determined by the principle of adequacy and conformity. Test the validity of the data using qualitative data analysis of Milles & Huberman. The results of the study found that the role of communication applied to Dutalia Oesapa Kupang went well in improving employee performance. Dutalia Oesapa Kupang employees must know and be able to apply the Guest Service Cycle (GSC) as a standard employee service cycle so that communication between leaders and fellow employees can be well established and each employee still feels valued and cared for by the leadership and fellow employees, and there is no the gap between senior workers and general workers in order to improve good employee performance so that they know about how communication takes place through various stages that are carried out continuously, change, and there is no end in order to deliver messages. Employee Performance at Dutalia Oesapa Kupang is a real achievement achieved by a person both in quality and quantity that an employee achieves in carrying out his duties in accordance with the responsibilities given. Organizational communication in Dutalia Oesapa Kupang should apply the human relations theory that must have work performance evaluations for all employees within the organization, so that the organization can know the extent of achievement levels. This can be used as a benchmark for giving compensation in making innovations that will improve employee performance.
Pengalaman Reporter LPP RRI Kupang Menerapkan Sembilan Elemen Jurnalisme Kovach dan Rosensteil Ananda V.H. Jambak; Monika Wutun; Silvania S.E. Mandaru
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 10 No 2 (2021): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v10i2.3658

Abstract

Radio merupakan media komunikasi modern yang menyiarkan berita atau informasi dengan “bercerita” (storytelling). Informasi terlebih berita yang disampaikan harus berdasarkan etika dalam kerja jurnalistik yang mengacu pada sembilan elemen jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Penelitian bermula dari kesadaran pentingnya menerapkan secara sadar dan bertanggung jawab prinsip jurnalistik yang benar di bidang penyiaran. Karena itu dengan teori fenomenologi Alfred Schutz dalam bingkai penelitian kualitatif ditentukan metode penelitian fenomenologi. Berdasarkan metode ini, ditentukan teknik penentuan informan secara purposive sampling. Lewat wawancara, observasi dan studi dokumentasi serta triangulasi metode dan triangulasi sumber diperoleh temuan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan pengalaman para reporter LPP RRI Kupang dalam proses membuat berita telah menerapkan sembilan elemen jurnalisme Kovach dan Rosenstiel dalam keseharian mencari berita walaupun mereka tidak mengetahui bahwa apa yang selama ini mereka kerjakan merupakan sembilan elemen jurnalisme dari Kovach dan Rosenstiel. Mereka juga memahami kesembilan elemen tersebut merupakan unsur-unsur yang penting dan harus dilakukan oleh reporter dalam tugasnya mencari berita. Karena itu disarankan agar LPP RRI Kupang dapat melakukan pelatihan jurnalistik radio yang menekankan materinya pada pemahaman yang benar terkait penerapan sembilan elemen jurnalistik ini. Dengan diterapkan nilai-nilai ini, diharapkan dapat menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas bagi pendengar.
Pengalaman Profesional Reporter Radio di Kota Kupang dalam Menerapkan Standar Kompetensi Wartawan Monika Wutun; Fitria Titi Melawati
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 10 No 1 (2021): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v10i1.3676

Abstract

Radio Siaran yang dipancarluaskan secara teresterial dengan frekuensi FM masih menjadi pilihan masyarakat NTT khususnya Kota Kupang. Radio FM seakan tidak terganggu meski telah diterpa konvergensi media atau ancaman digitalisasi media. Penelitian ini bertujuan melihat, menemukan dan mendeskripsikan pengalaman fenomenologis para reporter radio di Kota Kupang dalam mengikuti Uji Kompetensi Wartawan beserta dinamika pemaknaannya. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode fenomenologi. Informan penelitian terdiri dari 5 orang yang merupakan Reporter Radio dengan masa kerja lebih dari 5 tahun. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yakni wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi, sementara teknik analisis data mengikuti apa yang dipaparkan oleh Miles & Huberman. Hasil penelitian menemukan, pengalaman komunikasi reporter mengikuti UKW dinilai sangat profesional. Pengalaman menerapkan prinsip jurnalistik radio, mereka dapat menjelaskan konsep dan secara alamiah menuturkan bagaimana konsep itu diterapkan dalam proses produksi dan penyiaran. Dalam melaksanakan aktivitas dari pagi sampai malam adalah menghasilkan karya jurnalistk radio dengan prinsip KISS (keep it short and simple), ELF (Easy Listening Formula), WTYT (Write The Way You Talk), dan satu kalimat satu nafas. Reporter juga menyadari pentingnya penerapan nilai berita radio yakni segera dan cepat, aktual dan faktual, penting bagi masyarakat luas, serta relevan dan berdampak luas.
Pengalaman dan Pemaknaan Kode Etik Jurnalistik Wartawan Media Online swarantt.net Angela Ratna Sari Biu; Monika Wutun; Juan Ardiles Nafie
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 11 No 1 (2022): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v11i1.4127

Abstract

Media online SwaraNTT.Net merupakan salah satu media online yang belum terdaftar dalam webside resmi Dewan pers, namun media ini mewajibkan semua wartawan untuk menerapkan kode etik jurnalistik Dewan Pers. Sementara itu, para wartawan yang direkrut oleh media ini tidak dibekali dengan pengetahuan terkait kode etik jurnalistik sebelum diterima menjadi wartawan. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui pengalaman dan makna kode etik jurnalistik bagi wartawan media online SwaraNTT.Net. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Ada pun informan dalam penelitian ini adalah enam orang wartawan media online SwaraNTT.Net. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman wartawan dalam menerapkan kode etik dan makna terhadap kode etik dari setiap wartawan sedikit berbeda. Ada pun pengalaman wartawan dalam menerapkan kode etik jurnalistik yakni pertama, memperoleh pengetahuan terkait kode etik jurnalistik melalui learning by doing, pelatihan jurnalistik, membaca buku dan berita. Kedua, menerapkan kode etik dalam peliputan dan penulisan berita. Ketiga, mengalami suka dan duka dalam menjalankan profesi wartawan. Keempat, berpegang teguh pada kode etik jurnalistik dalam situasi apa pun. Kelima, wartawan tidak boleh melanggar kode etik. Bagi wartawan yang masih melanggar harus segera menyadari makna kode etik untuk tidak lagi dilanggar. Sedangkan makna kode etik bagi para wartawan adalah kode edik merupakan pedoman dalam menjalankan sebuah profesi, kode etik sebagai kontrol, kode etik sebagai jiwa, kode etik adalah seni, kode etik adalah landasan moral, dan kode etik merupakan dasar dari profesi.