p-Index From 2021 - 2026
12.068
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Jurnal Teologi Berita Hidup Manna Rafflesia SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Jurnal Teologi Praktika Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Jurnal DIDASKO Jurnal Teologi Amreta Jurnal Kadesi : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Predica Verbum TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sabda : Jurnal Teologi Kristen ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Dunamos: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Shema : Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Kristen MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen ALUCIO DEI DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Voice of HAMI Theologia Insani: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Lentera Nusantara Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Ap-Kain ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia Hymnos : Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen
Paulus Kunto Baskoro
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 100 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Metode Pendekatan Pemberitaan Injil yang Efektif Menurut Injil Matius dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Paulus Kunto Baskoro; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.191

Abstract

Penginjilan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan setiap orang percaya dan ini merupakan pesan amanat agung yang Tuhan Yesus nyatakan dalam Matius 28:19-20. Penginjilan selalu indentik dengan konsep pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil seharusnya selalu menjadi gaya hidup setiap orang percaya. Sebab sadar atau tidak sadar pemberitaan Injil menjadi kunci pertumbuhan gereja dan juga penambahan murid Yesus yang diperlengkapi dan memperlengkapi setiap orang percaya. Ketika penginjilan tidak menjadi prioritas, yang terjadi gereja akan terjadi kelambatan dalam pertumbuhan dan pemuridan tidak berjalan secara efektif. Perlu dilakukan metode pendekatan tentang pemberitaan Injil, sehingga memberitakan Injil menjadi hal yang menyenangkan serta menggairahkan bagi setiap orang percaya. Karena beberapa orang percaya beranggapan bahwa pemberitaan Injil hanya tugas kaum misionaris dan terkadang sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Penulisan ini menggunakan metode deskritif literatur. Tujuannya supaya lewat penulisan yaitu Pertama, menyadarkan setiap orang percaya betapa pentingnya esensi pemberitaan Injil bagi orang yang belum percaya Yesus. Kedua, orang percaya memiliki metode yang terbaik dalam pemberitaan Injil, sehingga pemberitaan Injil menjadi hal yang menyenangkan. Ketiga, banyak jiwa yang dimenangkan dan siap untuk dimuridkan. 
Peranan Alkitab Sebagai Otoritas Tertinggi dan Aplikasinya Dalam Misi Gereja Masa Kini Paulus Purwoto; Suhadi Suhadi; Paulus Kunto Baskoro
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.284

Abstract

The Bible is the Word of God has an inerrancy that cannot be wrong and has a position as the highest authority. The Church is an institution founded by the Lord Jesus who has roots in the Old Testament having a duty and a call to mission. The question is how the Bible plays the role of the Bible as the highest authority in the ministry of the church's mission. The method used in this research is qualitative descriptive with a library research approach. The conclusion in this study is that the Bible as the highest authority in the ministry of the church's mission plays a role in determining the motivation of the church's mission and formulating various methods of mission approaches that are sensitive to context and do not come out of the corridors of the Bible.Alkitab adalah Firman Allah memiliki sifat inerrancy tidak mungkin salah serta memiliki kedudukan sebagai otoritas tertinggi. Gereja merupakan lembaga yang didirikan oleh Tuhan Yesus yang telah memiliki akar dari Perjanjian Lama mempunyai tugas dan panggilan untuk bermisi. Persoalannya adalah bagaimanakah peranan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam pelayanan misi gereja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan library research. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam pelayanan misi gereja berperan untuk menentukan motivasi misi gereja serta merumuskan berbagai metode pendekatan misi yang peka terhadap konteks serta tidak keluar dari koridor Alkitab.
Konsep Imam dan Jabatan Imam pada Masa Intertestamental Paulus Kunto Baskoro
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.50

Abstract

ABSTRACTThe intertestamental period is a Protestant term, while the deuterocanonical period is a Catholic and Orthodox Christian term to refer to the time gap between the period covered by the Hebrew Bible or "Old Testament" and the period covered by the Christian "New Testament". Traditionally, this period is thought to cover about four hundred years, from the time of Malachi's ministry (420 BC) to the advent of John the Baptist in the early 1st century AD, a period that is almost the same as the Second Temple period (530 BC to 70 M). It is known by members of the Protestant community as "400 Silent Years" (400 Silent Years) because it is believed to be a time period in which God did not reveal anything new to His people.However, it is undeniable that in the intertestamental times there are many parts of history that are sometimes questioned and are being sought for truth. Because after all, even though 400 years of God's silence did not speak to humans, the world's history continues. Although the context is mostly in the form of ruling kingdoms. And religious history also continues, with a tradition built. Among them about the journey of the concept of the priesthood in tradition in Israel as the concept of worship for the Jews. The question which is still being debated and becoming a conversation is First, what are the duties and responsibilities of the high priest during the intertestamental period? Second, are priesthood rules in the Torah still enforced during the intertestamental period, or are there changes and adjustments?Through this paper, the author will give a little understanding of what happened during the intertestamental period in connection with the priestly ministry in Israel. ABSTRAKPeriode intertestamental (bahasa Inggris: Intertestamental period) merupakan suatu istilah Protestan, sedangkan periode deuterokanonikal (bahasa Inggris: deuterocanonical period) adalah istilah Katolik dan Kristen Ortodoks untuk menyebut kesenjangan waktu antara periode yang dicakup oleh Alkitab Ibrani atau "Perjanjian Lama" dan periode yang dicakup oleh "Perjanjian Baru" orang Kristen. Secara tradisional, periode ini dianggap mencakup kira-kira empat ratus tahun, sejak masa pelayanan Maleakhi (420 SM) sampai kepada munculnya Yohanes Pembaptis pada awal abad ke-1 Masehi, suatu periode yang hampir sama dengan periode Bait Suci Kedua (530 SM hingga 70 M). Dikenal oleh anggota komunitas Protestan sebagai "400 Tahun Sunyi" (400 Silent Years) karena diyakini merupakan kurun waktu di mana Allah tidak menyatakan apa-apa yang baru kepada umat-Nya.Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dimasa-masa intertestamental banyak sekali bagian-bagian sejarah yang terkadang banyak yang dipertanyakan dan sedang dicari kebenarannya. Sebab bagaimanapun juga meskipun 400 tahun masa Allah diam tidak berbicara kepada manusia, manusia sejarah dunia tetap berjalan. Meskipun konteksnya banyak berupa kerajaan-kerajaan yang berkuasa. Dan sejarah keagamaan juga tetap berjalan, dengan sebuah tradisi-tradisi yang dibangun. Diantaranya tentang pejalanan konsep keimaman dalam tradisi di Israel sebagai konsep penyembahan bagi orang-orang Yahudi. Pertanyaan yang masih menjadi perdebatan dan menjadi perbincangan adalah Pertama, bagaimanakah tugas dan tanggung jawab imam besar pada masa intertestamental?  Kedua, apakah aturan keimaman dalam Taurat tetap ditegakkan pada masa intertestamental, ataukah ada perubahan dan penyesuaian?Lewat makalah ini, penulis akan sedikit memberikan pemahaman tentang apa yang terjadi di masa intertestamental sehubungan dengan perjalanan pelayanan keimaman di Israel.
Metode Pendekatan Pemberitaan Injil yang Efektif Menurut Injil Matius dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Paulus Kunto Baskoro; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.191

Abstract

Penginjilan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan setiap orang percaya dan ini merupakan pesan amanat agung yang Tuhan Yesus nyatakan dalam Matius 28:19-20. Penginjilan selalu indentik dengan konsep pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil seharusnya selalu menjadi gaya hidup setiap orang percaya. Sebab sadar atau tidak sadar pemberitaan Injil menjadi kunci pertumbuhan gereja dan juga penambahan murid Yesus yang diperlengkapi dan memperlengkapi setiap orang percaya. Ketika penginjilan tidak menjadi prioritas, yang terjadi gereja akan terjadi kelambatan dalam pertumbuhan dan pemuridan tidak berjalan secara efektif. Perlu dilakukan metode pendekatan tentang pemberitaan Injil, sehingga memberitakan Injil menjadi hal yang menyenangkan serta menggairahkan bagi setiap orang percaya. Karena beberapa orang percaya beranggapan bahwa pemberitaan Injil hanya tugas kaum misionaris dan terkadang sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Penulisan ini menggunakan metode deskritif literatur. Tujuannya supaya lewat penulisan yaitu Pertama, menyadarkan setiap orang percaya betapa pentingnya esensi pemberitaan Injil bagi orang yang belum percaya Yesus. Kedua, orang percaya memiliki metode yang terbaik dalam pemberitaan Injil, sehingga pemberitaan Injil menjadi hal yang menyenangkan. Ketiga, banyak jiwa yang dimenangkan dan siap untuk dimuridkan. 
Konsep Komsel Three Party Sebagai Implementasi Gaya Hidup Kelompok Sel Menurut Kisah Para Rasul 2:46-47 Paulus Kunto Baskoro
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v3i1.103

Abstract

Church growth is an important part of church history. One the important pillars in church growth is the cell group. The early church became a serious church in working on cell group principles as in Acts 2:46-47. The Covid-19 pandemic has made changes and shifts in the arrangement of cell groups. Before Covid 19 cell groups coulds be held in large numbers, but when the Covid 19 pandemis hit the world, cell groups could not be held in meetings with many people. The researcher is giving an explanation about the concept of cell group with the name of three party which is a simple implementation according to the principle of cell group Acts 2:46-47, especially in the present. This writing uses a descriptive literature method. The goal is that trough writing, namely : First, every believer understands the important principle in church growth through cell groups according to Acts 2:46. Second, every believer understands one of the newer models of effective cell grouping principles today. Third, every believer can implement the comsel three party concept, so that the local church experiences significant congregational growth.
Prinsip-Prinsip Penginjilan yang Efektif Menurut Kisah Para Rasul 13:1-12 Bagi Pertumbuhan Gereja Masa Kini Paulus Kunto Baskoro
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 2 No 2 (2022): Jurnal Predica Verbum Vol. 2 No. 2 (December) 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v2i2.42

Abstract

The power of an evangelism is an important key to church growth. Evangelism is a step in preaching the gospel of Christ Jesus to every person and all nation. Because when people accept Jesus as their Lord and Savior, their lives change. The church must understand that the most important thing in a ministry is that many souls are saved and discipled. That’s why to understand the principles of effective evangelism the author reliaes on the understanding an Acts 13:1-12 which is a strong reference from the example of the early church. The method used is descriptive literature method. This research will discuss about effective ways of evangelism, so that evangelism is more effective and can be apllied in all ages. The purpose of this writing is First, to explore effective principles in evangelism according Acts 13:1-12. Second, apply or aplly the principles of evangelism that are effective for the growth of the church today. Third, help equip every church leader to continue to be faithful in carrying out evangelism, according to the great commission.
Peran Pemuridan bagi Kebangkitan Pemimpin Rohani Baru dalam Gereja Masa Kini Paulus Kunto Baskoro; Ester Yunita Dewi; Yonatan Alex Arifianto
THEOLOGIA INSANI: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Vol. 1 No. 1 (2022): Januari
Publisher : STAK Reformed Remnant Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.217 KB) | DOI: 10.58700/theologiainsani.v1i1.9

Abstract

Kepemimpinan merupakan kunci sebuah kegerakan. Kepemimpinan yang maksimal akan membuat kegerakan yang luar biasa. Khususnya dalam kepemimpinan gereja. Gereja menjadi tempat yang paling esensi untuk setiap orang percaya bertumbuh dewasa rohani dan maksimal dalam karunia-karunia rohani. Itu sebabnya pemimpin-pemimpin dalam gereja harus pemimpin-pemimpin yang memahami sebuah kegerakan gereja Tuhan. Gembala sidang menjadi sentral kepemimpinan yang akan memunculkan pemimpin-pemimpin baru dalam sebuah gereja. Munculnya pemimpin-pemimpin baru akan mempercepat kegerakan gereja lokal dan membawa dampak yang besar bagi gereja. Namun tidak bisa dipungkiri ada beberapa masalah yang terjadi dalam kepemimpinan gereja, yaitu terlambatnya sebuah regenerasi kepemimpinan, kebesaran hati pemimpin gereja untuk mendelegasikan kepemimpinan, dan strategi pemuridan yang tidak terlaksana dengan baik. Untuk mendapatkan data-data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penulisan deskriptif literatur. Tujuan penulisan adalah; Pertama, untuk memberikan terobosan baru bagi setiap gereja agar menjadi maksimal dalam membangkitkan pemimpin-pemimpin rohani yang baru; Kedua, menyediakan strategi yang efektif dalam pemuridan gereja lokal; Ketiga, menjadikan gereja menjadi maksimal dalam kegerakan rencana Allah.
Studi Sastra Narasi Tentang Konsekuensi Ketidaksetiaan Abraham dalam Menantikan Perjanjian Allah Menurut Kejadian 16:1-16 Dina Kristiani; Paulus Kunto Baskoro
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 1: Desember 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v4i1.55

Abstract

Abraham is a figure of faith. Abraham is also called a friend of God. But in his life, Abraham failed to wait for God’s promise about getting offspring. Abraham’s obedience and disloyality in deciding are two very contrasting things. God’s design never fails, even though humans experience failure in waiting for God;s covenant. The researscher uses a descriptive qualitative method using hermeneutics in the form of a narrative genre as a particular study and exposition method using several general methods of interpretation, namely literal or standard interpretation. The aims of this research are: First, to examine as part of a narrative study of Abraham’s unfaithfulness in Genesis 16:1-16. Second, studying and providing the principles contained in the narrative study of Abraham’s disloyality for today’s believers. So the conclusion is that when humans make mistakes and try to find solutions to their problems by not asking God, God will often leave things as if He doesn’t care, but what He has said will indeed be fulfilled.  AbstrakAbraham adalah seorang tokoh orang beriman. Abraham juga disebut sebagai sahabat Allah. Namun dalam kehidupannya, Abraham mengalami kegagalan untuk menantikan perjanjian Allah tentang mendapatkan keturunan. Ketaatan dan ketidaksetiaan Abraham dalam membuat sebuah keputusan merupakan dua hal yang sangat kontras. Rancangan Allah tidak pernah gagal sekalipun manusia mengalami kegagalan dalam menantikan perjanjian Allah. Metode yang peneliti gunakan adalah  metode kualitatif deskritif dengan cara hermeneutika dalam bentuk genre narasi sebagai kajian khusus dan metode eksposisi dengan menggunakan beberapa metode penafsiran yang bersifat umum yaitu penafsiran literal atau normal. Tujuannya lewat penelitian ini adalah: Pertama, mengkaji sebagai bagian studi narasi dari ketidaksetiaan Abraham dalam Kejadian 16:1-16. Kedua, mempelajari dan memberikan prinsip-prinsip yang terkandung dalam studi narasi ketidaksetiaan Abraham bagi orang percaya masa kini. Sehingga kesimpulannya adalah saat manusia melakukan kesalahan dan berusaha mencari jalan keluar untuk masalahnya sendiri dengan tidak bertanya kepada Tuhan, maka seringkali Tuhan akan membiarkan seperti seolah-olah Dia tidak peduli, tetapi apa yang sudah difirmankan-Nya pasti akan dipenuhi. 
Allah Berperan di Belakang Layar dalam Penderitaan Orang Percaya Anon Dwi Saputro; Paulus Kunto Baskoro
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 12 No 2 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v12i2.158

Abstract

Suffering is a topic that is often discussed. The suffering that often afflicts humans raises human arguments about the absence of God. They think that if God exists, suffering should not exist. Looking at Exodus 1-2, the narrative does not mention God's name in the suffering the Israelites faced. Through this article, the author will explore how God's role works behind the scenes in people's suffering. The author uses a qualitative method with a narrative interpretation approach to assessing the text. The research question in this study is how is the role of God behind the scenes in the suffering of believers according to theodicy in the narrative of Exodus 1-2? This study aims to find the part of God behind the scenes in the suffering of believers by examining theodicy in the description of Exodus 1-2. This study found that God works behind the scenes for the people through His providence in suffering. Chapter 1 describes God's providence to Israel, and Chapter 2 God's providence to the deliverer. This providence is proof of God's faithfulness to His covenant and shows that His plan must be fulfilled, and nothing can thwart God's plan for His people. It can be concluded that the analysis of the narrative structure of Exodus 1-12 confirms that God works behind the scenes of the people's suffering by organizing the flow of the people's life scenarios in the suffering they face.
Karya Pertukaran yang Mulia dari Efesus 1-2: Pemahaman Teologi Keselamatan dan Implikasinya dalam Penginjilan Paulus Kunto Baskoro; Irma Widiyanti
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v3i1.56

Abstract

Abstract: Christians who go to church have made a decision to follow Christ, but they may not really understand or be unable to explain what the decision to follow Jesus means. Many respond to the altar call to salvation but are unable to articulate the gospel or what it means to be saved, other than knowing God's love for them. Some (if not most) have a partial or incomplete understanding of safety. They may think of salvation as an insurance policy to heaven and still think of good works as a way to get right with God. When everyone surrenders their life to God and accepts Christ as Lord and Savior, a great exchange takes place: Jesus bore the guilt of every believer and forgave him, He paid the price for sin and died for everyone and gave life. The method used in this study is a descriptive qualitative method using extracting text from the literature. And the purpose of this writing is First, to explain the principle of exchange work from the text of Ephesians 1-2. Second, find important principles in exchange works according to Ephesians 1-2. Third, it provides an explanation of the logical implications of evangelism.Abstrak: Orang-orang Kristen yang pergi ke gereja telah membuat keputusan untuk mengikut Kristus, tetapi mereka mungkin tidak benar-benar mengerti atau tidak dapat menjelaskan apa arti keputusan mengikut Yesus. Banyak yang menanggapi panggilan altar untuk keselamatan tetapi tidak dapat mengartikulasikan Injil atau apa artinya diselamatkan, selain mengetahui tentang kasih Allah bagi mereka. Beberapa (jika tidak sebagian besar) memiliki pemahaman keselamatan sebagian atau tidak lengkap. Mereka mungkin menganggap keselamatan sebagai polis asuransi ke surga dan masih memikirkan perbuatan baik sebagai cara untuk menjadi benar dengan Tuhan. Ketika setiap orang menyerahkan hidup kepada Allah dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, terjadi pertukaran yang besar: Yesus menanggung kesalahan setiap orang percaya dan mengampuninya, Dia membayar harga dosa dan mati untuk setiap orang dan memberi hidup. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskritif dengan menggunakan penggalian teks dari pustaka. Dan tujuan dari penulisan ini adalah Pertama, menjelaskan prinsip karya pertukaran dari teks Efesus 1-2. Kedua, menemukan prinsip-prinsip penting dalam karya pertukaran menurut Efesus 1-2. Ketiga, memberikan penjelasan implikasi logis dalam penginjilan.