Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

INJURY AND OSTEOARTHRITIS OUTCOME SCORE (KOOS) DI DESA MARO SEBO, KECAMATAN JAMBI LUAR KOTA, KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI Humaryanto; Iskandar, Mirna; Patrick William Gading; Justitia, Budi; Mulyadi, Deri
Medical Dedication (medic) : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat FKIK UNJA Vol. 7 No. 1 (2024): MEDIC. Medical dedication
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/medicaldedication.v7i1.29889

Abstract

ABSTRACTOsteoarthritis (OA) is a musculoskeletal disorder caused by several changes as a result of metabolic disturbance. Primary OA is idiopathic, mainly degenerative, and occurs with age. Upon establishing the diagnosis of OA renders the condition itself to be irreversible, but it is possible to halt the progress of the current OA from reaching later and more debilitating stage. The knowledge and awareness of an individual to seek out treatment for potential OA and recognition of OA symptoms are therefore essential in catching the disease when it is still in the earler stages. Among the self-assessment tools available for the general public is the Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Score (KOOS), which contains questions that assess the disability of caused by OA specifically of the knee joint. Desa Maro Sebo is a rural area where the majority of residents’ occupation is farming. Musculoskeletal complaints are quite prevalent and troublesome as their day-to-day productivity entails a high level of physical activity and mobility. Enhanced understanding in the symptoms of OA can improve earlier self-awareness about OA particularly of the knee. The method to achieve this is to introduce the KOOS questionnaire and demonstrate how it can be used as a tool for self-assessment by inviting at-risk members of the population to fill the questionnaire with each of their present conditions regarding their knee joints. This community service event was attended by 75 residents, ages 31 – 76 years old, with mean KOOS score of 76,68. The event proved that KOOS is a feasible self-assessment tool to be used for self assessment of symptoms of knee OA.Keywords: Osteoarthritis, self-assessment, knee injury, outcome score ABSTRAKOsteoarthritis (OA) adalah penyakit muskuloskeletal yang terjadi karena beberapa perubahan sebagai akibat dari gangguan metabolisme. OA primer terjadi secara idiopatik, sebagai penyakit degeneratif yang muncul karena penuaan. Apabila diagnosis OA sudah tegak maka OA tidak dapat disembuhkan, namun derajatnya dapat dihambat untuk tidak terjadi progresifitas ke derajat yang makin parah. Maka, peranan dari pengetahuan dan kewaspadaan individu masing-masing sangat penting dalam penilaian sendiri (self-assessment) mengenai kesehatan sendinya. Desa Maro Sebo terdiri atas warga dengan mata pencaharian utama masyarakatnya adalah bertani dan berkebun, maka keluhan nyeri muskuloskeletal adalah permasalahan yang dapat menghambat produktifitas kerja dan kualias hidup sehari-hari. Peningkatan pemahaman cara mengenai cara menilai kesehatan sendi lutut secara mandiri, salah satunya dengan memperkenalkan cara mengisi kuesioner KOOS, diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan warga untuk menghindari terjadinya atau memberatnya OA pada lutut. Metode yang digunakan untuk mencapai peningkatan pengetahuan ini adalah dengan mengundang masyarakat untuk memperkenalkan dan mendemonstrasikan cara mengisi kuesioner KOOS. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dihadiri oleh 75 warga, dengan rentang usia 31 – 76 tahun, dan rata-rata skor KOOS 76,68. Kegiatan ini memperoleh simpulan bahwa penyuluhan kesehatan dengan memperkenalkan kuesioner KOOS cukup efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai gejala awal yang dapat muncul karena penyakit OA, khususnya OA lutut.Kata kunci: osteoarthritis, penilaian diri, skor luaran, sendi lutut
PENYULUHAN DAN PELATIHAN PENCEGAHAN WABAH DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) SERTA PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK DI PONDOK PESANTREN TANJUNG PASIR AL-AWWABIEN JAMBI Wulandari, Putri Sari; Aryanty, Nindya; Siregar, Mara Imam Taufiq; Iskandar, Mirna Marhami
Medical Dedication (medic) : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat FKIK UNJA Vol. 7 No. 1 (2024): MEDIC. Medical dedication
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/medicaldedication.v7i1.32996

Abstract

ABSTRACTDengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus and transmitted through female mosquito vectors of the Aedes aegypti and Aedes albopictus types which are often found in areas with tropical and subtropical climates, especially in urban or semi-urban-areas-and spread quickly and widely. One of the efforts to control dengue fever in Indonesia is Mosquito Nest Eradication (MEN), which is the most effective and efficient strategy to break the chain of dengue transmission by eradicating mosquitoes. The condition of Islamic boarding schools is often associated with an unhealthy environment. When the rainy season arrives, many puddles will appear in the Islamic boarding school environment, both in the inner and outer yards, which can become a breeding ground for mosquitoes. Stagnant water can become a breeding ground for mosquito larvae or larvae which originate from eggs and will grow into adult mosquitoes. The aim of this activity is to increase the knowledge and skills of students at the Tanjung Pasir Al-Awwabien Jambi Islamic Boarding School in an effort to prevent dengue transmission and prevent a dengue outbreak from developing. The method used is outreach in the form of health seminars and training to prevent dengue fever outbreaks. This activity was attended by 93 students consisting of 46 men (49.46%) and 47 women (50.54%). When counseling activities are carried out, activity participants are required to take a pre-test before counseling and a post-test after counseling. The pre-test results showed that most participants had a fair level of knowledge (scores 50-69) at 51.61%, while the post-test results showed that most participants had a good level of knowledge (scores 70-89) at 54.84%. Based on the average results, it was found that participants' test scores increased before and after the counseling activities.Keywords: epidemic, dengue hemorrhagic fever, mosquito larvae, Islamic boarding school, Jambi ABSTRAKDemam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditransmisikan melalui vektor nyamuk betina jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang seringkali ditemukan di wilayah dengan iklim tropis dan subtropis terutama di daerah perkotaan atau semi perkotaan serta menyebar dengan cepat dan luas. Salah satu upaya pengendalian DBD di Indonesia yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang merupakan strategi paling efektif dan efisien guna memutus rantai penularan DBD dengan membasmi nyamuk. Kondisi pondok pesantren sering dikaitkan dengan lingkungan yang kurang sehat. Bila musim hujan tiba akan muncul banyak genangan di lingkungan pondok pesantren baik di halaman dalam maupun luar yang dapat menjadi sarana berkembang biak nyamuk. Genangan air dapat menjadi tempat berkembang biak jentik atau larva nyamuk yang berasal dari telur dan akan tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan santri Pondok Pesantren Tanjung Pasir Al-Awwabien Jambi dalam upaya pencegahan penularan DBD serta menghindari wabah DBD berkembang. Metode yang digunakan adalah penyuluhan berupa seminar kesehatan dan pelatihan untuk mencegah wabah DBD. Kegiatan ini dihadiri oleh 93 santri yang terdiri dari 46 orang laki-laki (49,46%) dan 47 orang perempuan (50,54%). Saat kegiatan penyuluhan dilaksanakan, peserta kegiatan wajib mengerjakan pre-test sebelum penyuluhan dan post-test setelah penyuluhan. Hasil pre-test menunjukkan paling banyak peserta memiliki tingkat pengetahuan cukup (nilai 50-69) sebanyak 51,61%, sedangkan hasil post-test menunjukkan paling banyak peserta memiliki tingkat pengetahuan baik (nilai 70-89) sebanyak 54,84%. Berdasarkan hasil rerata didapatkan peningkatan nilai test peserta sebelum dan setelah kegiatan penyuluhan.Kata kunci: wabah, demam berdarah dengue, jentik nyamuk, pesantren, Jambi
Uji Beda Jumlah Trombosit dan Indeks Trombosit serta Luaran pada Pasien Pneumonia Perawatan Jam 0, 24, 72, 144 di ICU RSUD Raden Mattaher Jambi Bunga Firuzia; Samsirun Halim; Mirna Marhami Iskandar; Rianita Juniati; Fairuz
Journal of Medical Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Journal of Medical Studies
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/joms.v4i1.32086

Abstract

ABSTRACT Background: Pneumonia is the most commonly found acute respiratory infection that causes inflammation of the lung parenchyma. In some cases, pneumonia causes critical illness either as the main diagnosis or as a co-morbid condition in a critically ill patient. Inflammatory factors such as platelet indices have been reported to show differences based on outcome. This study aims to determine the difference between platelet count and platelet indices based on the outcomes of pneumonia patients in the intensive care unit (ICU) of RSUD Raden Mattaher Jambi. Methods: This study used an analytic observational cohort method, with a prospective approach using a consecutive sampling technique. Subjects include critically ill patients admitted to the ICU, data for platelet counts and platelet indices are obtained at 0, 24, 72, and 144 hours. Results: From the 41 samples, the result showed that the incidence was higher in women 21 people (51.2%). The sample output that died was 32 people (78.04%). Based on the analysis results, there was a significant difference between PDW and outcomes at 72 hours (p<0.05). There was no significant difference between platelets and outcomes at 24, 72,144 hours, MPV and outcomes at 24, 72, 144 hours, PDW and outcomes at 24, 144, and PCT and outcomes at 24 hours, 72, 144. Conclusion: There was a significant difference in PDW and outcomes at 72 hours. There was no significant difference between the platelet count and outcomes at 24, 72,144 hours, platelet indices MPV and PCT and outcomes at 24, 72, and 144 hours, and PDW and outcomes at 24 and 144. Keywords: Thrombocyte, Platelet Indices, Outcome, Pneumonia ABSTRAK Latar Belakang: Infeksi saluran napas bawah akut yang paling sering terjadi adalah pneumonia. Pneumonia adalah penyakit infeksi pernapasan akut yang menyebabkan peradangan pada parenkim paru. Dalam rangka menurunkan angka mortalitas kejadian pneumonia, dapat dilakukan diagnosis dan penanganan lebih awal sehingga menghasilkan outcome yang lebih baik yaitu dengan melihat faktor inflamasi seperti trombosit dan indeks trombosit melalui pemeriksaan laboratorium darah rutin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara jumlah trombosit dan indeks trombosit berdasarkan luaran pasien pneumonia di ICU RSUD Raden Mattaher Jambi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional kohort, dengan pendekatan retrospektif dan prospektif yang melibatkan 41 subjek penelitian, menggunakan teknik consecutive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung kadar trombosit dan indeks trombosit pada jam ke-0, 24, 72, dan 144. Hasil: Dari 41 sampel, didapatkan hasil kejadian lebih banyak pada perempuan yaitu sebanyak 21 orang (51.2%). Luaran sampel yang meninggal 32 orang (78.04%). Berdasarkan hasil analisis, didapatkan perbedaan yang signifikan antara PDW serta luaran pada jam ke-72 (p<0.05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah trombosit serta luaran pada jam ke-24, 72, 144, MPV serta luaran pada jam ke-24, 72, 144, PDW serta luaran jam ke-24, 144, dan PCT serta luaran pada jam ke-24, 72, 144. Kesimpulan: Didapatkan adanya perbedaan yang signifikan PDW serta luaran pada jam ke-72. Tidak adanya perbedaan yang signifikan antara jumlah trombosit serta luaran pada jam ke-24, 72, 144 indeks trombosit MPV dan PCT serta luaran pada jam ke-24, 72, dan 144, PDW serta luaran pada am ke-24 dan 144. Kata Kunci: Trombosit, Indeks Trombosit, Luaran, Pneumonia
Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri pada Pasien Fraktur Terbuka Pre-operasi dan Post-operasi Miftahul Jannah; Maria Estela Karolina; Nindya Aryanty; Lipinwati; Mirna Marhami Iskandar
Journal of Medical Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Journal of Medical Studies
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/joms.v4i1.32090

Abstract

ABSTRACT Background: Open fracture is a structural break in the continuity of bone tissue which can relate to the environment of the body that is susceptible to infection. The World Health Organization (WHO) explains that surgical wound infections are infections that occur within 30 days postoperatively. This study aims to compare the number of bacterial colonies in pre and postoperative open fracture patients. Method: This research is a prospective observational analytic with quantitative methods. Sampling was taken by taking pre and postoperative wound swabs of open fracture patients and counting the number of bacterial colonies. Results: The study sample consisted of 23 samples, consisting of men (100%), the largest age range between 20-60 years (73.9%), the most common trauma mechanism was traffic accidents (52.2%) and the most location was the lower extremities (56,4%). The incidence of infection found 20 patients (87%) had preoperative infections and all patients (100%) had no infections 3 days postoperatively. The results of the Wilcoxon test showed a significant difference between the number of bacterial colonies in pre and postoperative open fracture patients (p<0.05). Conclusion: There were differences in the number of bacterial colonies in preoperative and postoperative open fracture patients. Keywords: Bacterial colony count, Open fractures, Surgery ABSTRAK Latar belakang: Fraktur terbuka merupakan terputusnya kontinuitas jaringan tulang secara struktural yang dapat berhubungan dengan lingkungan luar tubuh sehingga rentan terjadi infeksi. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa infeksi luka operasi adalah infeksi yang terjadi dalam 30 hari paska operasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan jumlah koloni bakteri pada pasien fraktur terbuka pre dan post operasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional pendekatan prospektif dengan metode kuantitatif. Pengambilan sampel dengan mengambil swab luka pasien fraktur terbuka pre dan post operasi dan dilakukan penghitungan jumlah koloni bakterinya. Hasil: Sampel penelitian ini berjumlah 23 sampel, terdiri atas laki-laki (100%), rentang usia terbanyak adalah 20-60 tahun (73,9%), mekanisme trauma tersering adalah kecelakaan lalu lintas (52,2%), dan lokasi terbanyak adalah ekstremitas bawah (56,4%). Kejadian infeksi dari total sampel penelitian didapatkan 20 pasien (87%) mengalami infeksi pre operasi dan seluruh pasien (100%) tidak mengalami infeksi 3 hari post operasi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaaan yang signifikan antara jumlah koloni bakteri pasien fraktur terbuka pre dan post operasi (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan jumlah koloni bakteri pada pasien fraktur terbuka pre operasi dan post operasi. Kata kunci: Jumlah koloni bakteri, Fraktur terbuka, Operasi
Literature Review: Patomekanisme, Penatalaksanaan, dan Prognosis pada Keloid Della Lusnita Milioni; Fairuz; Mirna Marhami Iskandar
Journal of Medical Studies Vol. 3 No. 2 (2023): Journal of Medical Studies
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/joms.v3i2.33990

Abstract

ABSTRACT Background: Keloids are a benign fibroproliferative disorder characterized by abnormal collagen deposition in the wound. Keloid recurrence rates range from 20% to 100% depending on the various treatment modalities given. This is also complicated because the factors influencing keloid recurrence have not been determined and the pathophysiology is also unclear. Understanding the pathomechanism of keloid formation is very important in determining appropriate management, thereby reducing or preventing keloid formation or reducing its recurrence rate. Objective: This study aims to determine the pathomechanism, management, and prognosis of keloids based on a literature study. Method: The method used in this research is the scoping review method. The literature sources used in this study are journals published on the internet that were searched through the search engines Google Scholar, Springer Link, ScienceDirect, CambridgeCore, and PubMed. Conclusion: There are increased levels of inflammatory cytokines in keloid scars compared to normal scars, combination therapy is better than monotherapy alone, and pathomechanism and management are factors that influence the prognosis in keloids. Keywords: Keloids, pathomechanism, management, prognosis, recurrence ABSTRAK Latar Belakang: Keloid adalah gangguan fibroproliferatif jinak yang ditandai dengan pengendapan kolagen abnormal pada luka. Tingkat rekurensi keloid berkisar antara 20% sampai 100% tergantung pada berbagai modalitas tatalaksana yang diberikan. Hal ini juga dipersulit karena faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi keloid belum ditentukan dan patofisiologinya masih belum jelas. Patomekanisme terbentuknya keloid sangat penting dalam menentukan tatalaksana yang tepat, sehingga dapat mengurangi atau mencegah terbentuknya keloid atau menurunkan rekurensinya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana patomekanisme, penatalaksanaan, dan prognosis dari keloid berdasarkan studi literatur. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode scoping review dengan sumber literatur yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal yang dipublikasi di internet yang ditelusuri melalui search engine Google scholar, Spinger Link, ScienceDirect, CambridgeCore, dan PubMed. Kesimpulan: Terdapat peningkatan kadar sitokin inflamasi pada bekas luka keloid dibandingkan dengan bekas luka normal, terapi kombinasi lebih baik dibandingkan dengan monoterapi saja, dan patomekanisme dan penatalaksanaan adalah faktor yang mempengaruhi prognosis pada keloid. Kata Kunci: Keloid, patomekanisme, tatalaksana, prognosis, rekurensi
Karakteristik Pasien Stroke Hemoragik Di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2017-2021 Ega Benita; Mirna Marhami Iskandar; Ima Maria; Nidia Suriani; Armaidi Darmawan
Journal of Medical Studies Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Medical Studies
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/joms.v4i2.36433

Abstract

ABSTRACT Background: Hemorrhagic stroke is spontaneous bleeding in the parenchyma or intracerebral brain, subarachnoid space, or intraventricular space due to sudden rupture of intracranial blood vessels. Hemorrhagic strokes account for 15% of total strokes and the burden of disability is greater than ischemic strokes. Aim: To find out the characteristics of hemorrhagic stroke patients at Raden Mattaher Jambi Hospital in 2017-2021. Methods: This type of research uses descriptive research. The sample of this study was hemorrhagic stroke patients at Raden Mattaher Hospital Jambi in 2017- 2021 by looking at the patient's medical records and fulfilling the inclusion criteria. Results: The largest age group was the late elderly (56-65 years), dominated by women. The most common type of bleeding was ICH and the location was deep cerebral. The most common risk factors were emergency hypertension and grade 2 hypertension. Most patients did not have diabetes mellitus, or dyslipidemia, and did not smoke. Conclusion: Hemorrhagic stroke is most common in the late elderly group (56- 65 years), the majority are women, the most common type of bleeding is ICH, the most common location is deep cerebral, and hypertension is the main risk factor. Keywords: Hemorrhagic stroke, Raden Mattaher Hospital ABSTRAK Latar belakang: Stroke hemoragik adalah perdarahan spontan pada parenkim atau intraserebral otak, ruang subarachnoid, atau ruang intraventrikular akibat pecahnya pembuluh darah intrakranial secara tiba-tiba. Stroke hemoragik menyumbang 15% dari total stroke dan beban kecacatan lebih besar daripada stroke iskemik. Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien stroke hemoragik di RS Raden Mattaher Jambi tahun 2017-2021. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Sampel penelitian ini adalah pasien stroke hemoragik di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi tahun 2017-2021 dengan melihat rekam medis pasien dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Kelompok umur terbanyak adalah lansia akhir (56-65 tahun) yang didominasi oleh perempuan. Jenis perdarahan yang paling umum adalah ICH dan lokasinya di serebral dalam. Faktor risiko yang paling umum adalah hipertensi darurat dan hipertensi grade 2. Sebagian besar pasien tidak menderita diabetes melitus, dislipidemia, dan tidak merokok. Kesimpulan: Stroke hemoragik paling banyak terjadi pada kelompok lansia akhir (56-65 tahun), mayoritas wanita, jenis perdarahan tersering adalah ICH, lokasi terbanyak serebri dalam, dan hipertensi merupakan faktor risiko utama. Kata Kunci: Stroke Hemoragik, RSUD Raden Mattaher