p-Index From 2021 - 2026
8.402
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Between Policy and Practice: Teachers’ Lived Narratives of Deep Learning Implementation, Classroom Interaction, and Learning Transformation in Indonesian Elementary Education Hani Subakti; Nurul Hikmah; Eka Selvi Handayani; Euis Kusumarini; Wiwik Angranti; Abror Nusaf Mujaddid
International Journal of Educational Narratives Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/ijen.v4i3.3771

Abstract

Background. The implementation of deep learning, character-based pedagogy, and digital transformation has become an important agenda in improving the quality of Islamic Religious Education in elementary schools. However, the translation of policy into classroom practice often depends on teachers’ readiness, pedagogical understanding, digital competence, and school-level support. Purpose. This study aims to explore teachers’ experiences in bridging educational policy and classroom practice through the strengthening of deep learning, character-based pedagogy, and the digital transformation of Islamic Religious Education in elementary schools. Method. This study employed a qualitative research design. Data were collected through semi-structured interviews, classroom observations, and document analysis involving Islamic Religious Education teachers at the elementary school level. The data were analyzed thematically to identify patterns related to deep learning practices, character formation, digital integration, and implementation challenges. Results. The findings indicate that teachers understand deep learning as a process of promoting meaningful understanding, reflection, critical engagement, and the internalization of Islamic values. Character-based pedagogy is implemented through habituation, moral exemplification, classroom dialogue, and the integration of religious values into daily learning activities. Digital transformation supports Islamic Religious Education through multimedia resources, interactive learning platforms, and online assessment tools. However, its implementation is constrained by limited infrastructure, varying levels of digital literacy, unequal access to technology, and insufficient professional development. Conclusion. The study concludes that the successful transformation of Islamic Religious Education requires stronger alignment between policy expectations and classroom realities. Continuous teacher training, institutional support, adequate digital infrastructure, and context-sensitive pedagogical strategies are essential to strengthen deep learning, character formation, and digital integration in elementary Islamic Religious Education.
ANALISIS KESULITAN MEMBACA PERMULAAN PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA KELAS I SDN 027 SAMARINDA ULU TAHUN PEMBELAJARAN 2023/2024 Subakti, Hani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.13552

Abstract

Kesulitan membaca permulaan dalam implementasi ialah sebuah tantangan yang sering kali dihadapi oleh siswa kelas I. Latar belakang pada penelitian ini berdasarkan observasi yang telah peneliti lakukan yaitu masih ditemui kesulitan membaca permulaan di kelas I SDN 027 Samarinda Ulu dari 28 siswa hanya 9 siswa yang lancar dalam membaca. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan memberikan solusi sebuah kesulitan membaca permulaan pada implementasi kurikulum merdeka kelas I SDN 027 Samarinda Ulu. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 027 Samarinda Ulu pada bulan Januari-Februari 2024. Subjek penelitian ini yaitu 5 siswa, 5 orang tua siswa dan wali kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif serta teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan beberapa kesulitan membaca permulaan yaitu siswa sulit membedakan huruf vokal dan konsonan, kesulitan membedakan huruf dan belum mampu merangkai kata menjadi kalimat. Adapun beberapa faktor penghambat dalam kesulitan membaca permulaan pada implementasi kurikulum merdeka yaitu dari faktor internal atau dari diri siswa ataupun faktor eksternal dari luar diri siswa atau dari lingkungan siswa. Penelitian ini memberikan pemahaman mengenai kesulitan membaca permulaan pada siswa sehingga ini bisa mengatasi kesulitan membaca sejak dini.