Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengaruh Perendaman Larutan Kapur Sirih terhadap Kadar Asam Sianida pada Biji Karet Ratih Indrawati; Gervacia Jenny Ratnawaty
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.98

Abstract

Abstract: Rubber seeds contain high protein, but there is also toxin called hydrogen cyanide (HCN), with cyanide content of 330 mg of every 100 g. Cyanide levels contained in rubber seeds are quite high. The effort to lower the cyanide level is by immersion in a solution of whiting. The purpose of this research was to determine the influence of dyeing in various concentration of lime betel leaf (0,3%, 0,6%, 0,9%, 1,2% and 1,5%) for 6 hours to cyanide acid level in rubber seed. The method of cyanide acid content determination using ion selective electrode with 30 samples determined by purposive sampling. While the research method used was quasi-experimental with statistical analysis using ANOVA test. Based on the research result, the average of cyanide acid content in the rubber seeds without dyeing was 4666,625 mg/kg, after dyeing in the lime solution for 6 hours with concentration 0,3% equal to 59,60 mg/kg, concentration 0,6% was 33.25 mg/kg, 0.9% concentration was 16.70 mg/kg, concentration of 1.2% was 28.70 mg/kg, and after dyeing in 1.5% concentration was 32.775 mg/kg. Statistically obtained p-value = 0.000 (p <0,05) so that there was influence of immersion of lime betel solution in various concentration to cyanide acid level in rubber seed.Abstrak: Biji karet mempunyai kandungan protein yang tinggi, namun didalamnya terdapat suatu racun yaitu hydrogen cyanide (HCN), dengan kadar sianida 330 mg dari setiap 100 g. Kadar sianida yang terkandung pada biji karet tergolong tinggi. Upaya untuk menurunkan kadar sianida adalah dengan melakukan perendaman dalam larutan kapur sirih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman larutan kapur sirih dalam berbagai konsentrasi yaitu 0,3%, 0,6%, 0,9%, 1,2% dan 1,5% selama 6 jam terhadap kadar asam sianida pada biji karet. Metode penetapan kadar asam sianida menggunakan elektrode selektif ion dengan sampel penelitian sebanyak 30 sampel yang ditentukan secara purposive sampling. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan analisis statistik menggunakan uji Anova. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata kadar asam sianida pada biji karet tanpa perendaman yaitu 4666,625 mg/kg, sesudah direndam larutan kapur sirih selama 6 jam dengan konsentrasi 0,3% sebesar 59,60 mg/kg, konsentrasi 0,6% sebesar 33,25 mg/kg, konsentrasi 0,9% sebesar 16,70 mg/kg, konsentrasi 1,2% sebesar 28,70 mg/kg, dan sesudah direndam konsentrasi 1,5% sebesar 32,775 mg/kg. Secara statistik diperoleh nilai p=0,000 (p < 0,05) sehingga ada pengaruh perendaman larutan kapur sirih dalam berbagai konsentrasi terhadap kadar asam sianida pada biji karet.
Analisis Kadar Asam Sianida pada Rebung Bambu Sebelum dan Sesudah Pengukusan Selama 10, 15, dan 20 Menit Metode Elektroda Selektif Ion Gervacia Jenny Ratnawati; Ratih Indrawati
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.89

Abstract

Abstract: Bamboo shoots is a kind of famous vegetables and consumed by people from various part of the world. Nutritional content of bamboo shoots are good but bamboo shoots also contain HCN (Cyanide Acid) which is dangerous if not treated properly. There are some ways to reduce the level of cyanide acid in the bamboo shoot, one of them is steaming technique. The purpose of this research was to know the difference of cyanide acid level in bamboo shoots before and after 10, 15, and 20 minutes steaming treatment. The research design used was quasi-experiment on 24 chosen samples with purposive sampling. The method used was ion selective electrode method and analyzed with ANOVA test. Based on the result of research obtained that the average of cyanide acid in bamboo shoots before steaming amount as 102,4983 mg/kg, after 10 minutes steaming was 67,8983 mg/kg, after 15 minutes steaming was 51,3617 mg/kg, and after 20 minutes steaming was 40.8283 mg/kg. The result of ANOVA test obtained p = 0.0001 (p <0,05) which showed that there was a difference of cyanide acid level in the bamboo shoot before and after 10, 15, and 20 minutes-steaming.Abstrak: Rebung merupakan salah satu jenis sayuran yang sudah dikenal dan dikonsumsi oleh manusia di berbagai belahan dunia. Kandungan gizi yang dimiliki rebung cukup baik akan tetapi rebung juga mengandung HCN (Asam Sianida) yang berbahaya jika tidak diolah dengan baik. Ada beberapa cara untuk menurunkan kadar asam sianida pada rebung salah satunya adalah teknik pengukusan. Tujuan  penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan kadar asam sianida pada rebung bambu sebelum dan setelah pengukusan selama 10, 15, dan 20 menit. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu pada 24 sampel penelitian diperoleh dengan purposive sampling. Metode yang digunakan adalah metode elektroda selektif ion dan dianalisis menggunakan uji Anova. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil rata-rata kadar asam sianida pada rebung bambu sebelum pengukusan adalah 102,4983 mg/kg, setelah pengukusan selama 10 menit adalah 67,8983 mg/kg, setelah pengukusan selama 15 menit adalah 51,3617 mg/kg, dan setelah pengukusan selama 20 menit adalah 40,8283 mg/kg. Hasil uji anova didapatkan hasil p=0,0001 (p < 0,05) dimana menunjukkan terdapat perbedaan kadar asam sianida pada rebung bambu sebelum dan setelah pengukusan selama 10, 15, dan 20 menit.
PENYULUHAN PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI DARI DAUN KELOR (Moringa oleifera) SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN PADA MAKANAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN NILAI GIZI MASYARAKAT Gervacia Jenny Ratnawaty; Ratih Indrawati; Hendra Budi Sungkawa
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 1 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v6i1.12274

Abstract

Tanaman Kelor telah dikenal selama berabad-abad sebagai tanaman multi guna, padat nutrisi dan berkhasiat obat. Mengandung senyawa alami yang lebih banyak dan beragam dibanding jenis tanaman lainnya yang ada. Tanaman Kelor mengandung 46 anti oksidan kuat yang melindungi tubuh dari radikal bebas, mengandung 18 asam amino (8 diantaranya esensial) yang dibutuhkan tubuh untuk membangun sel-sel baru, 36 senyawa anti inflamasi, serta 90 nutrisi alami seperti vitamin dan mineral . Kelor merupakan bahan pangan yang kaya akan zat gizi makro dan mikro. Kandungan nilai gizi yang tinggi dalam daun kelor dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi pada ibu menyusui dan balita dalam masa pertumbuhan (Aminah et al, 2015). Pemberian daun kelor dapat meningkatkan Indeks Masa Tubuh (IMT) pada balita (Rahayu & Nurindahsari, 2018). Penelitian yang pernah dilakukan oleh Sari,(2019) menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor yang lebih tinggi akan meningkatkan kadar abu, kadar protein dan kadar serat kasar pada tepung komposit. Selain itu daun kelor juga mengandung antioksidan yang tinggi yaitu pada bagian atas atau pucuk daun (SUGIANTO, 2016) . Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah kunjungan ke lokasi mitra, demontrasi pelatihan pembuatan hasil olahan makanan menggunakan daun kelor, dan sosialisasi tentang kandungan gizi daun kelor di Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.
PENYULUHAN DAN APLIKASI PENGGUNAAN ZAT PEWARNA KAROTENOID SEBAGAI PEWARNA MAKANAN DARI BUAH MENTAWAK (ARTOCARPUS ANISOPHYLLUS) DI DESA BINAAN POLTEKKES PONTIANAK Gervacia Jenny Ratnawaty; Ratih Indrawati; Laila Kamila
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 5, No 1 (2023): BUDIMAS : VOL. 5, NO.1, 2023
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v5i1.6963

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi flora yang luas dan paling banyak di dunia. Di dalam tanaman terkandung metabolit primer seperti protein, karbohidrat, dan lemak yang digunakan oleh tumbuhan itu sendiri untuk pertumbuhannya dan metabolit sekunder seperti fenolik, flavonoid, terpenoid, steroid, kumarin, dan alkaloid yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya. Pigmen karotenoid dapat ditemukan dalam tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang potensial sebagai sumber zat warna alami adalah buah mentawa alias mentawak, atau entawak (Artocarpus anisophyllus). Tumbuhan ini merupakan salah satu spesies dari anggota suku Moraceae (kelompok nangka-nangkaan), merupakan salah satu buah lokal unik dan langka khas Kalimantan. Penggunaan pewarna alami dapat menjadi alternatif karena efek keamanannya, dan memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan. Selain sebagai pewarna alami, buah mentawak juga mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antioksidan dan provitamin A. Peneliitian yang pernah dilakukan tentang Kajian fitokimia beberapa spesies Artocarpus menunjukkan jenis ini mengandung senyawa metabolit sekunder seperti terpenoid, dan flavonoid. Sehingga buah mentawak dapat digunakan untuk bahan tambahan gizi masyarakat menggantikan bahan kimia seperti pewarna sintetis dari bahan kimia yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Umbi Talas (Colocasia Esculenta (L) Schott) Metode Dpph (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazil) Purwaningsih, Indah; Yuanti, Julyani; Ratnawati, Gervacia Jenny
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2020): November 2020
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v4i1.939

Abstract

Talas (Colocasia Esculenta (13 Schott) digunakan sebagai bahan pokok beberapa olahan makanan di Indonesia maupun di dunia. Selain itu Talas juga sering dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dalam masyarakat Talas mengandung banyak senyawa kimia yang diperoleh dari proses metabolisme sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, kalsium oksalat, dan senyawa organik lainnya. Metabolisme sekunder yang terdapat di dalam talas berpotensi sebagai antioksidan berdasarkan masing-masing mekanisme dari senyawa tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menghitung nilai IC, ekstrak etanol umbi talas Dengan cara mengukur aktivitas antioksidan metode DPPH Desain penelitian menggunakan eksperimen semu dengan teknik pengambilan sampe menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pelarut etanol sebagai pelarut polar untuk menarik senyawa sesuai dengan sifatnya dan menggunakn metode maserasi. Metode yang digunakan dalam mengukur aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Sampel yang digunakan pada Penelitian ini yaitu ekstrak etanol umbi talas konsentrasi 500, 750, 1000, 1250 dan 1500 ppm dengan pengulangan sebanyak tiga kali sehingga banyaknya sampel adalah 15 sampel. Hasil skrinning fitokimia didapatkan ekstrak etanol umbi talas mengandung senyawa golongan alkaloid, glikosida, saponin, tanin, triterpenoid, flavonoid dan fenol. Dari hasil penelitian didapatkan nilai ICs ekstrak etanol sebesar 763 ppm. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol umbi talas memiliki aktivitas antioksidan meskipun tergolong rendah karena nilai IC su 200 ppm.
ANALISIS KADAR ASAM ASETAT (CH3COOH) PADA BUAH PISANG AMBON YANG DIFERMENTASI SELAMA 7, 10, 14, DAN 21 HARI Triana, Linda; Ratnawati, Gervacia Jenny; Kurniati, Iis; Sari, Emilda
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v5i2.973

Abstract

Banana trees are plants that come from the humid tropics and include herbaceous plants from Southeast Asia, including Indonesian. Several types of bananas are scattered in various parts of Indonesia, namely Ambon bananas, Ambon moss bananas, Barangan bananas, Emas bananas, Kepok bananas, Lampung bananas, jackfruit bananas, horn bananas, and Raja Bulu bananas.One of the food ingredients that can be processed into processed products that have commercial value is bananas. Processing of bananas consists of two processing groups, that is: processing of unripe bananas and processing of ripe (ripe) bananas. One of the processing of ripe bananas can be done by fermentation. The end products of fermentation include energy, carbon dioxide, ethanol, ammonia, lactic acid, and acetic acid. Normally, acetic acid can be consumed after ripe bananas have been fermented for at least 3 days. Making acetic acid with bananas as raw material is called banana vinegar. This study aimed to observe differences in the levels of acetic acid (CH3COOH) in Ambon bananas fermented for 7, 10, 14, and 21 days. The results of the study on average levels of acetic acid in Ambon bananas fermented for 7, 10, 14 and 21 days were 0.59%, 0.68%, 0.77% and 0.84%. And from the results of statistic (p = 0.062 at the 95% confidence level (p > 0.05)).
UJI AKTIVITAS ANTI BAKTERI SEDIAAN SPRAY DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN staphylococcus epidermdis Dj, Herlinda Djohan; Ratnawati, Gervacia Jenny; Sugito, Sugito; D.M.T, Immaculata
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v7i1.1207

Abstract

Daun kemangi merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat salah satunya adalah sebagai anti bakteri. Daun kemangi memiliki senyawa kimia seperti flavonoid, tanin, fenolik, saponin dan minyak atsiri yang dapat berperan sebagai anti bakteri. Sehingga dapat digunakan untuk kesehatan dan  kebersihan kaki, terutama untuk penghilang bau kaki yang disebabkan oleh bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas anti bakteri pada sediaan spray perasan daun kemangi dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus epidermidis. Metode uji yang digunakan ialah metode difusi cakram. Perasan daun kemangi diformulasikan menjadi spray dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 15%, 20% dan 25% setiap konsentrasi dilakukan 9 kali pengulangan sehingga sampel yang digunakan sebanyak 27 sampel. Sediaan spray kemudian di uji evaluasi dan di uji aktivitas anti bakteri terhadap bakteri staphylococcus epidermidis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan spray perasan daun kemangi memiliki aktivitas anti bakteri dalam menghambat pertumbuhan staphylococcus epidermidis dengan luas zona hambat berturut-turut sebesar 9,61 mm (F1=15%) kategori sedang, 10,56 mm (F2=20%) kategori sedang, 12,83 mm (F3=25%) kategori kuat.
Pengaruh Lama Perendaman Arang Aktif Cangkang Kelapa Sawit Terhadap Kadar Cod (Chemical Oxygen Demand) Pada Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Ratnawati, Gervacia Jenny; Triana, Linda; Lia, Sestriana; Salim, Maulidiyah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2022): November 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v6i1.1125

Abstract

Limbah cair dari industri kelapa sawit mengandung Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi, sehingga apabila dibuang ke lingkungan akan memberikan dampak negatif, yaitu berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air. Pengolahan limbah cair kelapa sawit saat ini hanya menggunakan sistem kolam terbuka, akan tetapi sistem kolam terbuka memiliki kekurangan karena memerlukan lahan yang sangat luas untuk pembuatan kolam limbah dan memerlukan waktu yang lama untuk proses pengolahannya, sehingga diperlukan suatu metode yang efektif untuk pengolahan limbah tersebut, salah satunya adalah metode adsorpsi menggunakan arang aktif cangkang kelapa sawit.  Desain penelitian ini berbentuk Pre- experimental design dengan metode close refluks secara spektrofotometri. Hasil penelitian diperoleh pada 100 ml limbah cair pabrik kelapa sawit yang dikontakkan dengan arang aktif cangkang kelapa sawit dengan dosis adsorben 2 gram selama 40, 80, 120, 160 dan 200 menit didapatkan nilai persentase penurunan kadar COD sebesar 40,30%, 49,08%, 46,57%, 13,78% dan 5,84%. Berdasarkan hasil uji Regresi Lininer Sederhana diperoleh nilai signifikan p = 0,002 (p < 0,05) sehingga Ha diterima yang artinya ada pengaruh lama perendaman arang aktif cangkang kelapa sawit terhadap kadar COD (Chemical Oxygen Demand) pada limbah cair pabrik kelapa sawit.
EDUKASI PENYAKIT TB PARU DAN SOSIALISASI PENGUMPULAN SAMPEL SPUTUM DIAGNOSIS TUBERCULOSIS Salim, Maulidiyah; Muhammad Ihsan, Bagus; Nuswantoro, Ari; Indrawati, Ratih; Jenny Ratnawati, Gervacia
MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment Vol. 2 No. 2 (2025): MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment, Maret 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/maju.v2i2.1075

Abstract

Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut biasanya masuk kedalam tubuh manusia melalui udara pernapasan kedalam paru. Kemudian kuman tersebut dapat menyebar melalui udara pernapasan ke dalam paru, kemudian kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfa, melalui saluran pernapasan atau penyebaran langsung kebagian tubuh lainnya. Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Secara global kasus baru tuberkulosis sebesar 6,4 juta. Setara dengan 64 % dari insiden tuberkulosis (10 juta). Tuberkulosis tetap menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia dan kematian tuberkulosis secara global diperkirakan 1,3 juta pasien. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk upaya pencegahan dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat masih sangat jarang dilakukan, sementara lingkungan kehidupan para masyarakat berada dalam kelompok masyarakat dengan kepadatan hunian yang tinggi. Pencegahan penyakit dan promosi kesehatan tentang Tuberkulosis merupakan upaya esensial disaat masih tingginya kejadian penyakit menular juga di iringi dengan semakin tinggi masalah penyakit tidak menular. Metode pengabdian kepada masyarakat ini merujuk pada bagian tujuan diatas, Secara umum sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini banyak melibatkan banyak pihak demi mencapai tujuan diatas. Kegiatan pengabdian ini akan fokus pada pemberian edukasi kepada masyarakat tentang upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit tuberkulosis, cara penularannya serta cara pengambilan spesimen sputum dengan baik dan benar. Kegiatan yang sudah dilakukan adalah Edukasi Penyakit TBC serta Sosialisasi mengenai pengumpulan sampel sputum yang dilakukan di daerah binaan di Desa Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya, kegiatan pengabdian masyarakat ini dihadiri sekitar 35 orang dalam waktu kurang lebih 2 jam dimana pengabdian masyarakat ini dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan diskusi tanya jawab.
The Effectiveness of Kesum Leaves (Polygonum Minus) In Reducing of Free Fatty Acids In Used Cooking Oil Ratnawaty, Gervacia Jenny; Indrawati, Ratih
INTEK: Jurnal Penelitian Vol 7 No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Ujung Pandang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31963/intek.v7i2.2715

Abstract

This study aims to determine the effect of adding kesum leaves (polygonum minus) to used cooking oil on reducing levels of free fatty acids. This type of research is quasi experimental. The population in this study is used cooking oil and the sample used is used cooking oil that has been added with the leaves of kesum with 5 treatments and replicated 5 times so that the total sample is 25.From the results, it was found that the average reduction in free fatty acid levels in used cooking oil before adding the leaves of kesum was 7,12%, which had added kesum leaves as much as 20 grams of 6.93%, 40 grams of 5.36%, 60 gr at 3.93%, 80 gr at 3.26% and 100 gr at 1.62%. The results of the analysis using linear regression test, it is known that the addition of 20 grams and 40 grams of p-value is 0.026 and 0.021 (p <0.05), respectively, so Ha is accepted, that is, there is a relationship between the effectiveness of leaves of kesum (polygonum minus) in reducing levels of fatty acid numbers. free of used cooking oil, namely the addition of 20 and 40 grams. Whereas in the addition of 60, 80 and 100 grams of kesum leaves there was no relationship that was shown with a p value> 0.05.