Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADAT DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL (BATTRA) BERBASIS TRANSCULTURAL NURSING CARE (TNC) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESEHATAN JANTUNG DI DESA LOK BUNTAR Mohtar, M. Sobirin; Meldawati; Rahmadani; Muhammad Rifa'i; Sari, Ririn Anggita; Revi; Nahda Laili Khairizqa; Pratama, Prasetya Putra; Ningsih, Kristiyana Wahyu
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 15 No 1 (2025): Juli 2025
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30999/jpkm.v15i2.3363

Abstract

The Indigenous Community Group and health cadres of Lok Buntar Village are partners in the Community Partnership Empowerment program. This group consists of several traditional medicine experts (BATTRA) for heart attacks. The village community, mostly farmers, tend to choose traditional medicine due to limited internet access and the distance to the hospital. However, the high mortality rate indicates the need for increased knowledge of heart health. Through the assistance of cadres, they are expected to educate the community using the Transcultural Nursing Care approach. (TNC). The goal is to enhance the knowledge and skills of the cadres, as well as empower the indigenous community in addressing heart health issues. The implementation methods are: planning, action, observation, and evaluation. The average level of knowledge among cadres increased from a high category (82.22%) to a higher level (93.33%), while the community's initial low level (43.33%) improved to a moderate level (75%). A culturally-based approach and ongoing support are expected to help the village community achieve better overall heart health. This is a positive step towards community empowerment and sustainable improvement in quality of life.
Manajemen Gigitan Ular Dengan Budaya Betatawar (Getah Daun Pepaya) melalui Pendekatan Culture Care Mohtar, M. Sobirin; Mahmudah, Rifa'atul; Ariani, Malisa; Riyanti, Dewi; Erianti; Putri, Nazilatul Audah Surya
Smart Dedication: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Smart Dedication: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : SMART SCIENTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70427/smartdedication.v1i1.18

Abstract

Daun pepaya merupakan salah satu tanaman yang mengandung saponin. Saponin adalah salah satu senyawa yang memacu dalam pembentukan suatu kolagen, yaitu suatu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Senyawa ini merupakan salah satu senyawa flavonoid yang larut dalam air serta dapat diekstrakkan menggunakan etanol 70% Berdasarkan data Lokakarya Nasional Tanaman Obat pada tahun 2010, dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia, Indonesia telah memiliki 30.000 jenis tumbuhan termasuk di antaranya 940 jenis tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat. Pepaya (Carica papaya L.) adalah tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Salah satu bagian dari tanaman pepaya yang berkhasiat sebagai obat ialah daunnya. Daun Carica papaya merupakan salah satu tanaman yang mengandung saponin, sedangkan kulit batang dan akar dari Carica papaya mengandung flavonoid dan alkaloid, selain itu juga daun serta akarnya mengandung polifenol dan bijinya mengandung saponin. Polifenol dan flavonoid memiliki aktivitas yaitu sebagai antiseptic. Pengobatan tradisional adalah pengobatan atau perawatan menggunakan cara maupun obat – obat atau ramuan tradisional yang mengacu pada pengalaman, keterampilan turun temurun dan diterapkan sesuai norma–norma yang berlaku dalam masyarakat Salah satunya getah daun pepaya sebagai pengobatan tradisional pada gigitan ular.
Perbedaan Siriraj Stroke Score (3S) & Dave and Djoenadi Stroke Score System (3S2D) Terhadap Durasi Penentuan Diagnosa Keperawatan Pasien Stroke di IGD Jamilah, Siti; Mohtar, M. Sobirin; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Santoso, Bagus Rahmat
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 4 No. 3 (2023): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v4i3.598

Abstract

Stroke patient service in the emergency room provided by nurses and must do it quickly, effectively, and efficiently, this can be achieved with the right assessment instrument. Knowing the difference in the assessment of Siriraj Stroke Score (3S) and Dave and Djoenaidi Stroke Score System (3S2D) on the duration of determining the nursing diagnosis of stroke patients in the emergency room. Quantitative research with one group post test only design, and sampling using purposive sampling of 30 respondents. The statistical test uses the Paired Sample T-test test. The results of the Paired Sample T-test test showed that the average difference in the duration of determining nursing diagnoses in 3S and 3S2D assessment was 7.6 minutes. The lowest difference is 7.1 minutes, and the highest difference is 8.1 minutes. It is known that the t value is 29.135> t table 2.045 and Sig. value of 0.000 <0.05. The use of the 3S assessment method is more compatible to be used during emergencies because the assessment method is simple and fast, while the 3S2D assessment is quite time consuming so that this assessment will be easier if it is carried out by 2 nurses
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KUALITAS TIDUR MAHASISWA KESEHATAN TINGKAT AKHIR DI UNIVERSITAS SARI MULIA Ruriyanty.R, Nurul Rizka; ., Subhannur Rahman; Mohtar, M. Sobirin; ., Mohammad Basit
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol. 8 No. 2 (2023): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51143/jksi.v8i2.493

Abstract

Stress impacts the physical well-being of final-year students health, particularly in terms of sleep patterns that affect sleep quality. This study aims to determine the relationship between stress levels and sleep quality among final-year students health at Sari Mulia University, Banjarmasin. Sampel in this study was 162 final year students health dengan simple random sampling technique. The study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. Data analysis was using Spearman Rho. The study findings revealed that 67 respondents (41.4%) experienced moderate stress, 50 respondents (30.9%) experienced mild stress, and 45 respondents (27.8%) experienced severe stress. Poor sleep quality was 104 respondents (64.2%), while good sleep quality was reported by 58 respondents (35.8%). The Spearman's Rho analysis showed a significant relationship between stress levels and sleep quality, with a strong correlation (p-value 0.000 <0.05, correlation coefficient 0.646). Keywords: Students, Sleep Quality, Stress Level
Mobilisasi progresif terhadap status hemodinamik pada pasien kritis di RSUD Ulin Banjarmasin Gaghauna, Eirene Eunike Meidiana; Puteri, Puteri; Hakim, Lukmanul; Mohtar, M. Sobirin
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 9 No. 3 (2025)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v9i3.1416

Abstract

Pasien kritis mengalami keadaan yang mengancam jiwa akibat disfungsi organ yang disertai gangguan hemodinamik. Mobilisasi progresif adalah pemberian tindakan berupa teknik yang berfungsi sebagai penggerakan bertahap dan dilakukan kepada pasien kritis di Ruangan Intensive Care Unit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mobilisasi progresif terhadap status hemodinamik pada pasien kritis di ruang ICU. Metode penelitian ini menggunakan pre-experiment dengan One-grup pretest-posttest design. Pengukuran Tekanan Darah, Mean Arterial Pressure (MAP), dan Heart Rate (HR) sebelum dan sesudah diberikan mobilisasi progresif. Jumlah sampel sebanyak 10 orang dengan teknik Purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan SOP mobilisasi progresif level I dan lembar observasi bed monitor Uji statistik menggunakan uji Paired t-test. Berdasarkan hasil uji Paired t-test p-value pada tekanan darah pre-post yaitu 0,000, MAP pre-post yaitu 0,000, nadi pre-post yaitu 0,000, (P-value < 0,005), sehingga disimpulkan ada pengaruh mobilisasi progresif terhadap status hemodinamik pada pasien kritis.
Manajemen tekanan intrakranial terhadap peningkatan kapasitas adaptif intrakranial pasien Intracerebral Hemorrhage post-op craniotomy Lestari, Lina Rahma; Mohtar, M. Sobirin; Santoso, Bagus Rahmat
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i1.1417

Abstract

Stroke hemoragik merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit serebrovaskular, dengan komplikasi serius berupa peningkatan tekanan intrakranial (TIK), dapat mengancam jiwa dan menyebabkan kerusakan otak permanen. Salah satu intervensi nonfarmakologis adalah posisi head-up 30° untuk meningkatkan aliran vena serebral. Penelitian ini menganalisis asuhan keperawatan pada pasien intracerebral hemorrhage (ICH) post kraniotomi melalui manajemen TIK di ruang ICU RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh. Penelitian ini menggunakan studi kasus pendekatan proses keperawatan sesuai standar PPNI, meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Diagnosa utama adalah penurunan kapasitas adaptif intracranial. Subjek penelitian adalah 1 pasien stroke hemoragik yang terdiagnosa Intracerebral Hemorrhage. Instrumen penelitian yaitu penilaian penilaian B1 (breath), B2 (blood), B3 (brain), B4 (bowel), B5 (bladder), B6 (bone) dan buku standar kualifikasi keperawatan indonesia, buku standar intervensi keperawatan indonesia dan buku standar intervensi keperawatan indonesia. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi langsung ke responden dan keluargannya dengan wawancara, lembar observasi dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa intervensi manajemen TIK mampu mempertahankan saturasi oksigen (SpO? 100%), memperbaiki kesadaran, serta menstabilkan kondisi hemodinamik. Meskipun terjadi perbaikan klinis, hasil gas darah masih menunjukkan alkalosis respiratorik. Manajemen TIK berkontribusi terhadap perbaikan kondisi neurologis pasien, namun masih diperlukan intervensi lanjutan untuk mencapai kondisi optimal.