Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Workshop Basic Trauma & Cardiac Life Support (BT&CLS) terhadap pengetahuan dokter kecil pelajar SMA di Kota Bengkulu Hidayat, Yance; Sofais, Danur Azissah Roesliana; Hermiati, Dilfera; Pebriani, Emi; Susanti, Meri Epriana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 10 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i10.13176

Abstract

Background: Indonesia is one of the countries that faces a double nutritional problem (double burden). Nutritional problems are an indicator that leads to non-communicable diseases that begin with obesity, especially at a young age. The problem of obesity among teenagers has increased quite significantly with prevalence findings reaching 34%. In other words, teenagers are a group of people who are at risk of developing diseases such as high blood pressure, heart attacks, and so on. Another problem that must be faced is the limited number of health workers. To overcome this, the government created a small doctor program to deal with health problems in schools.Purpose: To utilize a demonstration model involving pediatricians to increase knowledge in basic life support (BT) and cardiac life support (CLS).Method: Experimental study to analyze the effects of each treatment using two experimental concepts, namely small doctors in public and private high schools. Participants were divided into two groups, namely pre and post-test. This study took participants from high school students who had duties as junior doctors in high school and did not have skills in BT&CLS practice. The total number of schools taken was 60 schools, consisting of 30 private and 30 state high schools.Results: The demonstration model was more effective in small private school doctors. This means that this concept can be easily applied in private schools. The 95% Confidence Interval (CI) for public high schools is -12.3 to 2.24 and for private high schools is -15.64 to 2.77.Conclusion: Little doctors in private schools are more skilled than little doctors in public schools. However, overall using demonstration techniques in minor doctor training can increase students' BT&BLS knowledge.Suggestion: Public schools should provide more training to minor doctors to increase the life expectancy of patients in schools. This can help and save the patient's life. Keywords: Basic Life Support (BT); Cardiac Life Support (CLS); Little Doctor; Workshop. Pendahuluan: Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi masalah gizi ganda (double burden). Masalah gizi merupakan indikator yang mengarah pada penyakit tidak menular yang diawali dengan obesitas, terutama pada usia muda. Masalah obesitas di kalangan remaja mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan temuan prevalensi mencapai 34% dengan kata lain, remaja merupakan kelompok masyarakat yang memiliki risiko terkena penyakit seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan sebagainya. Masalah lain yang harus dihadapi adalah terbatasnya tenaga kesehatan. Dalam mengatasinya, pemerintah membuat program dokter kecil untuk menangani masalah kesehatan di sekolah.Tujuan: Untuk memanfaatkan model demonstrasi yang melibatkan dokter kecil untuk meningkatkan pengetahuan dalam basic life support (BT) dan cardiac life support (CLS).Metode: Studi eksperimen untuk menganalisis efek dari setiap perlakuan menggunakan dua konsep eksperimen yaitu dokter kecil di SMA negeri dengan swasta. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pra dan post-test. Penelitian ini mengambil partisipan dari siswa sekolah menengah atas yang memiliki tugas sebagai dokter junior di sekolah menengah atas dan tidak memiliki keterampilan dalam praktek BT&CLS. Total sekolah yang diambil adalah 60 sekolah, terdiri atas 30 SMA swasta dan 30 negeri.Hasil: Model demonstrasi lebih efektif pada dokter kecil sekolah swasta. Artinya, konsep ini dapat dengan mudah diterapkan di sekolah swasta. Confidence Interval (CI) 95% pada SMA Negeri adalah -12.3 sampai 2.24 dan pada SMA Swasta adalah -15.64 sampai 2.77.Simpulan: Dokter kecil di sekolah swasta lebih terampil daripada dokter kecil di sekolah negeri. Namun secara keseluruhan dengan menggunakan teknik demonstrasi dalam pelatihan dokter kecil dapat meningkatkan pengetahuan BT&BLS para siswa.Saran: Sekolah negeri harus memberikan lebih banyak pelatihan kepada dokter kecil untuk meningkatkan harapan hidup pasien di sekolah. Hal ini dapat membantu dan menyelamatkan nyawa pasien. Kata kunci: Basic Life Support (BT); Cardiac Life Support (CLS); Dokter Kecil; Workshop.
Kesadaran kesehatan reproduksi dan kejadian kegawatdaruratan obstetri pada remaja Sofais, Danur Azissah Roesliana; Rustandi, Handi; Suyanto, Jipri; Pebriani, Emi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1176

Abstract

Background: Adolescents are a reproductive health vulnerable group, facing high risks due to limited knowledge and access to essential health information. These deficiencies often lead to high rates of obstetric emergencies, including eclampsia, obstructed labor, sepsis, and postpartum hemorrhage. Purpose: To analyze the relationship between reproductive health awareness and the incidence of obstetric emergencies among adolescents. Method: This quantitative study used a cross-section al method and was conducted from January to May 2025 in Bengkulu. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 150 respondents. The independent variable in this study was reproductive health awareness, while the dependent variable was obstetric emergencies. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using logistic regression. Results: The Age, education, income, health beliefs, health literacy, perception, access to health care, and family support were significantly associated with the level of emergency awareness (p < 0.05). Conclusion: Poor awareness of reproductive health significantly increases the risk of obstetric emergencies in adolescents, along with other sociodemographic and psychosocial factors. Improved education, better access to health services, and family involvement are essential to reduce maternal morbidity and mortality in this age group.   Keywords: Adolescents; Obstetric Emergency Incidents; Reproductive Health Awareness.   Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok rentan dalam kesehatan reproduksi, menghadapi risiko tinggi akibat keterbatasan pengetahuan dan akses terhadap informasi kesehatan esensial. Kekurangan ini seringkali menyebabkan tingginya insiden kegawatdaruratan obstetrik, termasuk eklamsia, persalinan macet, sepsis, dan perdarahan pascapersalinan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kesadaran kesehatan reproduksi dengan kejadian kegawatdaruratan obstetri pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan metode cross-sectional, dilaksanakan pada Januari-Mei 2025 di Bengkulu. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposivel sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 150 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kesadaran kesehatan reproduksi, sedangkan variabel dependen ialah kegawatdaruratan obstetric. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan regressi logistic Hasil: Faktor usia, pendidikan, pendapatan, keyakinan kesehatan, literasi kesehatan, persepsi, akses kesehatan, dan dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan tingkat kesadaran gawat darurat (p < 0.05). Simpulan: Rendahnya kesadaran akan kesehatan reproduksi secara signifikan meningkatkan risiko kegawatdaruratan obstetrik pada remaja, bersama dengan faktor sosiodemografi dan psikososial lainnya. Peningkatan pendidikan, akses layanan kesehatan yang lebih baik, dan keterlibatan keluarga sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas ibu pada kelompok usia ini. Kata Kunci: Kejadian Kegawatdaruratan Obstetric; Kesadaran Kesehatan Reproduksi; Remaja.
Hubungan Kejadian Burnout Dengan Motivasi Kerja Perawat Pelaksana Di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Bengkulu Pebriani, Emi; Ramlis, Ravika
Jurnal Pakar Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2025): June
Publisher : Utami Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jpk.v1i1.808

Abstract

The primary role of a nurse is to care for, advocate for, and support patients through healthcare programs. This can sometimes lead to burnout, especially if the nurse lacks motivation within their work environment, either from their colleagues or superiors. This requires motivation, which plays a crucial role in every nursing job, as motivation is a strong drive, desire, or interest within oneself to achieve a specific desire, goal, or goal. The purpose of this study was to determine the relationship between burnout and nurse work motivation at Bhayangkara Hospital, Bengkulu. This study used a quantitative analytical approach with a cross-sectional approach. The population was 53 and the sample size was 35. The sampling technique used was non-probability sampling with the accidental sampling method. Data analysis used the Chi-Square statistical test. The results of the study showed a relationship between burnout and nurses' work motivation, with a p-value of 0.004 (p<0.005). The conclusion of this study is that there is a relationship between burnout and nurses' work motivation at Bhayangkara Hospital, Bengkulu. Suggestions are that several health promotion efforts are needed to increase nurses' motivation and prevent burnout in the workplace.
Implementation of Brandt Daroff Exercise in Vertigo Patients at Sawah Lebar Community Health Center, Bengkulu City, 2025 Yulita, Wanti Marza; Pebriani, Emi; Aprianti, Delta
Multidisciplinary Journals Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/mj.v2i4.1014

Abstract

Cases of vertigo at Sawah Lebar Community Health Center increased from 68 in 2022 to 84 in 2024, with pharmacological therapy as the main treatment. Brandt Daroff Exercise is a simple and safe technique proven to reduce headache intensity in vertigo patients. This study aimed to determine its effectiveness in lowering headache pain scales among vertigo patients in the Sawah Lebar Community Health Center, Bengkulu City. The research used a descriptive case study on one 38-year-old patient. The intervention was conducted for 10 consecutive days, three times daily, lasting 20–30 minutes per session. Pain intensity was assessed using the Numeric Rating Scale before and after each session. Results showed a consistent reduction in pain scale from 6 on the first day to 1 on the tenth day, with gradual improvement observed in all daily measurements. The findings indicate that Brandt Daroff Exercise effectively decreases headache levels and supports non-pharmacological management of vertigo. This exercise is easy to perform, cost-effective, and suitable for use in primary healthcare settings. It can also be taught as a home-based self-therapy for patients to improve symptom control and enhance their quality of life.
KOMPRES DAUN SIRIH PADA PASIEN SCABIES UNTUK MENGURANGI GATAL DENGAN PENDEKATAN TEORI KEPERAWATAN OREM DI LAPAS KELAS 2A KABUPATEN CURUP TAHUN 2022 Eli Tasni eli; Emi Pebriani Emi Pebriani; Meri Meri
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Edisi Mei 2023
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v5i1.103

Abstract

Skabies adalah penyakit kulit yang menular disebabkan oleh tungau Sarcobtes scabiei, penyakit ini cepat menular dikalangan orang-orang yang hidup berkelompok seperti panti asuhan, rumah-rumah susun, dan pesantren. Tujuan umum studi kasus ini adalah untuk menerapkan teori keperawatan Dorothea E Orem pada Pasien Scabies dengan memberikan kompres daun sirih untuk mengurangi gatal pada pasien. Penelitian ini juga dilakukan agar dapat diketahui apakah teori Orem dapat di Aplikasikan pada pasien Scabies yang diberikan kompres daun sirih. Metode penelitian studi kasus ini adalah metode kualitatif dengan strategi penelitian Case study research, dimana peneliti melakukan asuhan keperawatan pada dua pasien Scabies dengan mengaplikasikan teori model keperawatan Dorithea Orem dan pemberian kompres daun sirih. Hasil asuhan keperawatan pada pasien Scabies yang diberikan kompres daun sirih dengan pendekatan teori Orem antara lain: Diagnosa dan resep, tahapan ini mencakup pengkajian, analisa, menetapkan diagnosa keperawatan dan menyusun intervensi keperawatan. Diagnosa yang ditetapkan adalah ketidakmampuan pasien dalam memenuhi rasa nyaman karena gatal. Sedangkan intervensi keperawatan yang disusun diarahkan pada bantuan untuk menurunkan rasa gatal dengan pendekatan supportive educative. Teori Orem dapat diterapkan dan diaplikasikan dengan baik dalam perawatan berfokus pada kasus Scabies yang diberikan Tindakan kompres daun sirih. Saran untuk pasien dan keluarga agar tetap menjaga kesehatan baik kesehatan fisik, psikologis maupun pola makan untuk menjaga kualitas hidup.
RELAXASI OTOT PROGRESIF PADA PASIEN HYPERTENSI DENGAN MASALAH NYERI MELALUI APLIKASI TEORI KEPERAWATAN OREM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TALANG RIMBO LAMA KABUPATEN CURUP TAHUN 2022 Fitriana fitri; Emi Pebriani Emi Pebriani; Meri Meri
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Edisi Mei 2023
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v5i1.104

Abstract

Hipertensi merupakan pemicu berbagai penyakit apabila tidak ditangani dengan baik hipertensi akan mempunyai resiko yang besar karena dapat menimbulkan komplikasi kardiovaskular seperti stroke, jantung koroner, atau gagal ginjal. Pasien hypertensi sering mengeluh nyeri kepala, latihan relaxasi otot progresif bisa menjadi alternatif untuk mengurangi gejala nyeri dengan pendekatan teori keperawatan Orem. Tujuan umum studi kasus ini adalah untuk menerapkan teori keperawatan Dorothea E Orem pada Pasien Hypertensi dengan memberikan latihan relaxasi otot progresif untuk menurunkan rasa nyeri kepala pada pasien dan memberikan rasa nyaman, agar dapat diketahui apakah teori Orem dapat di Aplikasikan pada pasien hypertensi dengan pemberian latihan relaxasi otot progresif. Metode studi kasus ini adalah metode kualitatif dengan strategi penelitian Case study reseach. Jenis studi kasus saat melakukan asuhan keperawatan adalah Case study reseach dengan mengaplikasikan teori model keperawatan Dorithea Orem pada pasien yang menderita Hypertensi. Hasil asuhan keperawatan pada pasien hypertensi menggunakan teori Orem antara lain: Diagnosa dan resep, tahapan ini mencakup pengkajian, analisa, menetapkan diagnosa keperawatan dan menyusun intervensi keperawatan. Diagnosa yang ditetapkan adalah ketidakmampuan pasien dalam mengatasi nyeri kepala dan intoleran aktivitas. Sedangkan intervensi keperawatan yang disusun diarahkan pada bantuan untuk mengurangi nyeri kepala dengan latihan relaxasi otot progresif dengan pendekatan supportive edicative. Teori Orem ini dapat diterapkan dan diaplikasikan dengan baik dalam perawatan berfokus pada kasus hypertensi. Saran untuk pasien dan keluarga agar tetap menjaga kesehatan baik kesehatan fisik, psikologis maupun lingkungan untuk menjaga penularan kearea lain atau personal lain.
EDUKASI KESEHATAN BERBASIS FAMILY SUPPORT PADA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN PENDEKATAN TEORI OREM DI RUANG RAWAT INAP RSUD KABUPATEN CURUP TAHUN 2022 Meylani Fitriani Meylani Fitriani; Emi Pebriani Emi Pebriani; Meri Meri
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Edisi Mei 2023
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v5i1.105

Abstract

Gagal ginjal kronik merupakan kerusakan ginjal progresif ditandai dengan uremia, Bila ginjal tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya maka akan timbul masalah kesehatan yang berkaitan dengan penyakit gagal ginjal seperti Kelebihan volume cairan. Hemodialisis merupakan salah satu terapi dialisis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan mengeluarkan produk limbah dari dalam tubuh secara akut maupun kronis, Kepatuhan terhadap pengontrol diet dan pembatasan cairan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan tingkat Kesehatan dan kesejahteraan pasien dengan hemodialisis kronis. Intervensi yang dilakukan dalam meningkatkan kepatuhan pada penderita gagal ginjal kronik, diantaranya edukasi Kesehatan. peneliti ingin melakukan intervensi lebih intensif terhadap pasien dengan GGK dalam pembatasan cairan dengan pendekatan edukasi Kesehatan yang melibatkan keluarga di Ruang Rawat Inap RSUD Kabupaten Curup. Tujuan umum studi kasus ini adalah untuk menerapkan teori keperawatan Dorothea E Orem pada Pasien Gagal ginjal Kronik dengan edukasi Kesehatan berbasis keluarga, agar dapat diketahui apakah teori Orem dapat di Aplikasikan pada pasien gagal ginjal kronik yang mengalami kelebihan volume cairan tubuh. Metode studi kasus ini adalah metode kualitatif dengan strategi penelitian Case study reseach. Jenis studi kasus saat melakukan asuhan keperawatan adalah Case study reseach dengan mengaplikasikan teori model keperawatan Dorithea Orem pada pasien yang menderita gagal ginjal kronis. Hasil asuhan keperawatan pada pasien pasca sacbies menggunakan teori Orem antara lain: Diagnosa dan resep, tahapan ini mencakup pengkajian, analisa, menetapkan diagnosa keperawatan dan menyusun intervensi keperawatan. Diagnosa yang ditetapkan adalah ketidakmampuan pasien dalam mengatur diet cairan. Sedangkan intervensi keperawatan yang disusun diarahkan untuk meningkatkan kepatuhan pasien dan keluarga dalam pengaturan atau diet cairan dengan pendekatan supportive edicative. Teori Orem ini dapat diterapkan dan diaplikasikan dengan baik dalam perawatan berfokus pada kasus Gagal ginjal kronik. Saran untuk pasien dan keluarga agar tetap menjaga kesehatan baik kesehatan fisik, psikologis maupun lingkungan untuk menjaga Kesehatan pasien.
LATIHAN BATUK EFEKTIF PADA PASIEN TB PARU SEBAGAI UPAYA BERSIHAN JALAN NAFAS DENGAN PENDEKATAN MODEL TEORI KEPERAWATAN OREM DI RUANG RAWAT INAP RSUD KABUPATEN CURUP TAHUN 2022 Widya Siska Widya Siska; Emi Pebriani Emi Pebriani; Meri Meri
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Edisi Mei 2023
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v5i1.106

Abstract

TB tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Setiap hari, lebih dari 4100 orang kehilangan nyawa mereka karena TB dan hampir 28.000 orang jatuh sakit dengan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan ini. Upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 66 juta jiwa sejak tahun 2000. Pasien TB paru biasanya mengalami gangguan pola nafas karena adanya penumpukan secret di jalan nafas, perawat berperan pada pasien TB paru yakni melakukan tindakan keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar pada pasien dan membantu mengurangi keluhan yang dirasakan, batuk efektif bisa menjadi alternatif untuk mengurangi gejala nyeri dengan pendekatan teori keperawatan Orem. Tujuan umum studi kasus ini adalah untuk menerapkan teori keperawatan Dorothea E Orem pada Pasien TB Paru dengan melakukan dan mengajarkan batuk efektif untuk mengurangi penumpukan secret di jalan nafas dan memberikan rasa nyaman pada pasien saat jalan nafas efektif, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui apakah teori Orem dapat di Aplikasikan pada pasien TB paru dengan pemberian yang diberi tindakan batuk efektif. Metode studi kasus ini adalah metode kualitatif dengan strategi penelitian Case study reseach. Jenis studi kasus saat melakukan asuhan keperawatan adalah Case study reseach dengan mengaplikasikan teori model keperawatan Dorithea Orem pada pasien yang menderita TB Paru. Hasil asuhan keperawatan pada pasien TB Paru menggunakan teori Orem antara lain: Diagnosa dan resep, tahapan ini mencakup pengkajian, analisa, menetapkan diagnosa keperawatan dan menyusun intervensi keperawatan. Diagnosa yang ditetapkan adalah ketidakmampuan pasien melakukan bersihan jalan nafas. Sedangkan intervensi keperawatan yang disusun diarahkan pada bantuan untuk mengurangi penumpukan secret dijalan nafas dengan batuk efektif melalui pendekatan supportive edicative. Teori Orem ini dapat diterapkan dan diaplikasikan dengan baik dalam perawatan berfokus pada kasus TB Paru. Saran untuk pasien dan keluarga agar tetap menjaga kesehatan baik kesehatan fisik, psikologis maupun lingkungan untuk menjaga penularan kearea lain atau personal lain.
INTERVENSI EDUKASI MANAJEMEN NYERI PADA PASIEN HYPERTENSI MELALUI PENDEKATAN TEORI KEPERAWATAN OREM Sri Haryati Sri Haryati; Meri Meri; Emi Pebriani Emi Pebriani
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 5 No. 1 (2023): Edisi Mei 2023
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v5i1.107

Abstract

Gaya hidup sehat merupakan kebutuhan fisiologis yang hierarki, kebutuhan manusia paling dasar untuk dapat mempertahankan hidup termasuk juga menjaga agar tubuh tetap bugar dan sehat serta terbebas dari segala macam penyakit. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang dapat mengakibatkan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Hipertensi berarti tekanan darah didalam pembuluh-pembuluh darah sangat tinggi yang merupakan pengangkut darah dari jantung yang memompa darah keseluruh jaringan dan organ-organ tubuh (Dwi Sapta Aryantiningsih & Silaen, 2018). Data yang diperoleh penulis di Puskesmas Pasar Kepahiang, penyakit hipertensi pada Lansia yang mendapat pelayanan di Puskesmas Pasar Kepahiang tahun 2020 sebesar 3002 Kasus tahun 2021sebayak 2548 Kasus dan tahun 2022 januari s/d juli terdapat 880 Kasus. Salah satu gejala hypertensi adalah nyeri kepala, Nyeri secara umum, diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik atau mental yang terjadi secara alami yang bersifat subjektif dan personal, Nyeri kepala merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan penderita hipertensi karena peningkatan tekanan intra kranial (Potter & Perry, 2009). Tujuan umum studi kasus ini adalah untuk Memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada pasien Hypertensi dengan intervensi edukasi manajemen nyeri melalui pendekatan teori model self-care Orem. Metode penelitian studi kasus ini adalah metode kualitatif dengan strategi penelitian Case study research, dimana peneliti melakukan asuhan keperawatan pada dua pasien hypertensi melalui pendekatan teori model self-care Orem dengan pendekatan teori Orem antara lain: Diagnosa dan resep, tahapan ini mencakup pengkajian, analisa, menetapkan diagnosa keperawatan dan menyusun intervensi keperawatan.